[Oneshoot] Four Seasons

Title                : Four Seasons

Author           : Siskha Sri Wulandari/@SiskhaSri/sshiskha.wordpress.com

Cast                 : Do Kyung Soo [EXO K]

                          : Seo Jaehyung [A-JAX]

                          : Shin Riyoung as you

Genre             : Romance

Length           : Oneshoot

 

Kyung Soo menatap gadis yang duduk di depannya dengan tatapan lucu. Membuat yang ditatap hanya bisa membalas dengan tatapan sebal. Seingatnya ia tidak berbicara sesuatu yang lucu pada laki-laki tersebut. Melihat wajah kesal gadis di depannya, Kyung Soo menyilangkan kaki dan lagi-lagi tersenyum.

            “Apa yang lucu? Apa sudah lama kau mengingankan ini?” Riyoung bertanya sebal pada Kyung Soo.

            Kyung Soo menggeleng cepat dengan senyum yang masih melekat. “Tidak.”

            Riyoung melengos. Wajah tampan Kyung Soo membuatnya sedikit menyesal melakukan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, jika dipaksakan hanya akan semakin membuatnya merasa tidak nyaman.

            “Jadi bagaimana?” Tuntut Riyoung.

            “Kau ingin putus?” Kyung Soo mengelus dagu, menimbang-nimbang. Riyoung menatap Kyung Soo lekat-lekat, suka tidak suka Kyung Soo harus mengiyakan permintaannya ini.

            Kyung Soo mengangguk pelan dan menghela napas. “Aku mengerti, mungkin cara berpikirku memang sangat membebanimu. Tak apalah jika sekarang kita berpisah, tapi pada akhirnya kau pasti akan kembali padaku.” Kyung Soo tersenyum hangat, membuat Riyoung lagi-lagi menyesal telah meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Tapi ia sudah tidak bisa lagi bertahan.

            “Kembali padamu?” Riyoung mengernyit.

            Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Riyoung, Kyung Soo malah mendorong kursinya dan berdiri. “Aku suka alasanmu. Kau bosan dan lelah bersamaku.”

            “Juga karena aku ingin fokus belajar untuk tes masuk Perguruan Tinggi!” Potong Riyoung, mendengar Kyung Soo berkata seperti itu membuat ia terdengar seperti gadis jahat.

            Kyung Soo terkekeh dan mengangguk-angguk. “Kedua alasan itu jauh lebih baik daripada kau mengatakan aku terlalu baik untukmu.” Ujar Kyung Soo dengan mimik yang didramatisir. Riyoung melengos. Kyung Soo berjalan perlahan dan menatap Riyoung yang masih menatapnya sebal. Dengan penuh kasih sayang Kyung Soo mengusap kepala Riyoung, gadis yang selama tiga tahun ini selalu berada di sampingnya, menemaninya dan mendampinginya. Saat itu jantung Riyoung berdegup kencang, kekesalannya menguap begitu saja. Rasanya tidak ingin ia kehilangan kehangatan Kyung Soo. Tapi hubungan ini memang harus berakhir.

            Dengan langkah tergesa-gesa, Jihye menghampiri Riyoung dan dengan penuh napsu menoyor kepalanya. Tanpa mempause Angry Birdnya, ia menoleh dengan ganas, sedikit terkejut melihat Jihye yang berdiri di depannya. Riyoung melirik jam di meja belajar, pukul 10.00 malam.

            “Bagaimana bisa kau sebodoh ini?” Tanpa babibu Jihye langsung memaki-maki Riyoung. “Kenapa kau minta putus darinya?” Jihye menjambak ujung rambut Riyoung dengan gemas.

            “Ck, kan sudah aku bilang. Dia itu terlalu dewasa, tidak tau cara bersenang-senang. Hobi sekali menasehatiku seperti nenek-nenek! Setiap mengajak berkencan dia malah menganjurkan aku untuk belajar bersamanya! Ketika aku minta dibelikan komik dia malah membelikanku buku motivasi. Astaga, kalau kuceritakan satu-satu bisa-bisa tujuh hari tujuh malam tidak akan selesai! Cara berpikirnya tidak sampai ke otakku. Dia memprediksi terlalu jauh, sedangkan aku adalah tipe orang yang mengalir.” Riyoung mengatur napasnya. Menceritakan hal tesebut sama saja mengingat saat-saat Kyung Soo menasehatinya dengan penuh khidmad.

            “Ya! Bukankah itu bagus. Yang benar saja apa kurangnya sih dia. Dia tampan, calon dokter, dari keluarga baik-baik, penyayang dan hangat. Jarang sekali menemukan laki-laki yang berpikiran dewasa seperti dia!” Jihye menarik ujung rambut Riyoung lebih keras. Ia ingat bagaimana dulu ia begitu bekerja keras agar sahabatnya tersebut bisa terlihat oleh Kyung Soo. Dari tahap pengenalan, pendekatan bahkan kencan pertama, ia adalah orang yang paling berjasa. Ia sudah tahu bagaimana sosok Kyung Soo luar dalam. Tidak ada satupun alasan yang bisa menjadikannya untuk diputuskan, kecuali alasan bodoh sahabatnya tersebut.

            “Kau akan mengerti perasaanku jika kau pernah berkencan di Museum, makan malam dengan topik penderita HIV.” Riyoung berteriak frustasi. Kyung Soo, laki-laki sempurna, setidaknya di mata para gadis yang tidak mengetahui betapa membosankannya laki-laki tersebut.

September 2009, Musim gugur

            Selama satu bulan ini Riyoung benar-benar mengamalkan alasannya meminta berpisah dari Kyung Soo. Ingin fokus belajar untuk tes ujian masuk Perguruan Tinggi. Kyung Soo dengan rajin mengiriminya soal-soal untuk ujian masuk tahun-tahun sebelumnya dan tanpa diminta mengajari mantan kekasihnya tersebut. Sebenarnya sudah berulang kali ia menolak, tapi ibu dan ayahnya selalu tidak mengizinkan Kyung Soo untuk pulang sebelum bertemu dengannya.

            “Kau ingin masuk Perguruan Tinggi mana? Apa ingin bersamaku di Universitas Seoul?” Goda Kyung Soo yang hari itu lagi-lagi mengantarkan soal-soal. Riyoung mendelik, memberikan tatapan menindas. Kyung Soo tahu betul dimana batas kemampuannya. Universitas Seoul? Astaga, lihatlah betapa menyebalkannya makhluk  bernama Kyung Soo itu! Gerutu Riyoung.

            Melihat ekspresi sebal Riyoung, Kyung Soo terkekeh. Dengan refleks Kyung Soo mengangkat tangan, hendak mengusap puncak kepala Riyoung. Hal yang biasa dilakukannya ketika Riyoung mulai kesal padanya. Hal yang ia yakin membuat Riyoung selalu merasa hangat dan terlindungi, juga hal yang selalu nyaman dilakukannya, membuat hatinya menjadi tenang karena gadis tersebut masih berada di sampingnya.

            Dengan gerakan cepat, Riyoung menggeser kepala, sengaja menghindar. Kyung Soo menatap Riyoung kecewa. Gadis itu berpura-pura tidak menyadari kekecewaannya, berpura-pura mengerjakan soal fisika. Kyung Soo melengos, ternyata Riyoung tidak main-main dengan perpisahan mereka.

            Sejak kejadian hari itu Kyung Soo tidak pernah lagi datang menemui Riyoung, tidak untuk memberikan soal-soal dan mengajarinya, tidak juga untuk menceramahi Riyoung dengan motivasi-motivasi seperti nenek-nenek. Kyung Soo hanya mengirimkan soal-soal lewat pos. Awalnya Riyoung merasa tidak enak hati. Mungkin Kyung Soo tersinggung atas perbuatannya tempo hari, tapi setelah itu Riyoung mulai melakukan pembenaran atas ulahnya tersebut. Sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, tidak berhak melakukan hal-hal saat masih memiliki hubungan.

            Tibalah hari yang selama ini selalu membuat tidur Riyoung tidak nyenyak. Tes masuk Perguruan Tinggi. Kyung Soo tidak datang untuk menyemangatinya. Tidak ada senyuman hangat yang menenangkan, tidak ada usapan lembut pada puncak kepala dan tidak ada kalimat-kalimat motivasi. Entah kenapa kali ini Riyoung merindukan semua itu. Mungkin karena selama ini Kyung Soo selalu mendukungnya, tapi tidak untuk hari ini, berpikir bahwa Kyung Soo benar-benar sudah bisa menerima perpisahan mereka.

            Hampir saja Riyoung berteriak saat ibunya mengatakan bahwa Kyung Soo tadi datang dan mengantarkan sarapan untuknya. Sudah lama ia tidak makan masakan Kyung Soo. Ternyata Kyung Soo belum melupakannya. Riyoung tidak menyadari bahwa ternyata ia masih mengharapkan Kyung Soo tidak melupakannya. Sarapan yang sengaja dimasak Kyung Soo untuknya menjadi penyemangat terbesar pada hari itu.

November 2009, Musim Dingin

            Riyoung menjalani masa-masa menjadi mahasiswa baru dengan sukacita. Tidak pernah lagi memikirkan Kyung Soo yang menghilang, tidak ada kabar. Menjadi mahasiswa ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang ia duga. Punya banyak teman baru, pengalaman baru dan lebih bebas dalam berpakaian. Yang terpenting, semua teman-temannya tahu bagaimana cara bersenang-senang. Tidak ada secuil pun gen makhluk seperti Kyung Soo mengalir pada darah teman-temannya, semuanya terasa menyenangkan. Terlebih ketika sebuah cinta baru datang menghampirinya.

            Jaehyung, mahasiswa psikolog menyatakan cinta kepadanya, bahkan tepat di hadapan Kyung Soo. Saat itu, Riyoung dan teman-temannya sedang makan malam di sebuah kafe, termasuk Jaehyung yang memang telah menaruh perhatian pada Riyoung sejak satu bulan yang lalu. Tiba-tiba Jaehyung naik ke atas panggung dan menyatakan perasaannya. Riyoung hanya terperangah, tapi tidak menyadari ada seseorang yang jauh lebih terperangah darinya, Kyung Soo.

            Kyung Soo yang hari itu juga sedang berkumpul bersama teman-temannya di kafe tersebut tidak menyangka akan bertemu dengan Riyoung. Terlebih ketika mendengar Jaehyung menyatakan perasaannya pada Riyoung, rasanya saat itu juga ia ingin mengarungi Jaehyung dan membuangnya ke Rusia. Kyung Soo menunggu dengan tegang jawaban apa yang akan diberikan Riyoung. Ia akui ia sedikit kesal terhadap Jaehyung. Cara laki-laki itu menyatakan perasaannya berbanding terbalik dengan dirinya dulu. Dulu, ia hanya mengajak Riyoung ke Museum, berbicara banyak hal mengenai lukisan yang sama sekali tidak diminati Riyoung dan tiba-tiba sebelum pulang meminta Riyoung untuk menjadi kekasihnya. Sudah, hanya begitu. Bahkan setelah Riyoung mengiyakan permintaannya, ia hanya tersenyum hangat dan mengelus puncak kepala Riyoung dengan lembut. Tidak ada pelukan dan juga genggaman tangan yang menghangatkan.

            Riyoung menutup mulut dengan telapak tangan dan mengangguk pelan. Tanpa sadar Kyung Soo mencampakkan garpu yang saat itu sedang dipegangnya. Riyoung menoleh dan mendapati Kyung Soo yang tengah menatapnya. Entah tatapan apa itu. Kyung Soo mendengus kesal saat pandangannya terhalang oleh Jaehyung yang sudah memeluk Riyoung. Seolah tidak ingin kehilangan moment tersebut, Kyung Soo malah terus memperhatikan mereka. Ternyata, Riyoung benar-benar telah bosan dan lelah padanya. Kyung Soo tersentak saat Yun Young, temannya menyodorkan sapu tangan. Bingung, Kyung Soo hanya menatap sapu tangan tersebut, sedetik kemudian ia baru sadar bahwa pipinya sudah basah.

April 2010, Musim Semi

Riyoung dan Jaehyung sedang menikmati Festival Bunga Musim Semi. Jaehyung merangkul pundak Riyoung erat, seolah Riyoung akan hilang. Sesekali mereka tertawa, sesekali Jaehyung menarik hidung Riyoung, mengusap rambutnya dan banyak kali Kyung Soo mengumpat.

Masih diingatnya dulu saat Riyoung harus berurusan dengan polisi karena tertangkap menguntit seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kim Hyung Joong. Laki-laki tidak berdosa yang selalu dikutuk oleh Kyung Soo karena wajahnya terpampang dengan bebas di kamar Riyoung. Ia benci stalker. Tapi sekarang ia mengkhianati kebenciannya tersebut. Kini ia tahu bagaimana perasaan para stalker.

Karena terlalu ramai pengunjung, Kyung Soo kehilangan jejak Riyoung dan Jaehyung. Dengan tergopoh-gopoh Kyung Soo berlari, menerobos kerumunan. Langkah Kyung Soo terhenti saat kepalanya menyundul punggung seseorang. Seperti gerak slow motion saat matanya dan mata orang yang ditabraknya tersebut saling bertemu. Saat itu Kyung Soo merasa otaknya tidak dapat berfungsi. Ia merasa seperti mengenal wajah orang tersebut. Astaga! Jaehyung!

“Oppa? Apa yang kau lakukan?”

Kyung Soo mencibir tidak jelas dan tersenyum kaku. Tidak pernah ia terlihat konyol seperti ini, tapi karena Riyoung ia benar-benar menjadi makhluk paling konyol.

“Menikmati Festival Bunga Musim Semi.” Kyung Soo mengacungkan kameranya.

“Sejak kapan oppa suka memotret?” Tanya Riyoung curiga. Ia ingat betul bahwa Kyung Soo paling anti kamera. Melihat ekspresi panik Kyung Soo, ia sadar bahwa Kyung Soo mengikutinya. Riyoung mendesah.

“Musim semi. Bunga-bunga bermekaran seperti cintaku dan Jaehyung. Oppa harus segera menemukan cinta baru juga.” Riyoung menatap Kyung Soo tulus. Kyung Soo terdiam. Ia yakin Riyoung tahu bahwa ia masih sangat mencintainya. Dengan perlahan Kyung Soo mundur, tertabrak oleh dua anak kecil yang sedang berlarian. Dengan cepat ia berbalik, berusaha berjalan setenang mungkin. Hatinya kacau. Kata-kata Riyoung barusan lebih menyakitkan dibanding kalimat permintaan putus dulu. Riyoung memintanya untuk melupakannya. Mungkin sulit, tapi ia akan mencoba.

Juni 2011, Musim Panas

            Malam itu, saat wajah yang sangat dirindukannya muncul Kyung Soo hanya bisa mematung. Berlumuran darah. Belum sempat ia memberikan reaksi apa-apa tiba-tiba Riyoung berlutut dan berteriak histeris.

            “Tolong selamatkan dia! Tolong.” Teriak Riyoung.

Seorang suster menggamit lengan Kyung Soo, mengisyaratkannya untuk segera masuk ke ruang UGD. Dengan linglung Kyung Soo berjalan sambil sesekali melirik Riyoung yang masih berteriak-teriak histeris.

            Wajah tampan itu. Wajah yang sangat dibencinya. Laki-laki yang seribu kali lebih romantis darinya, kini terbaring pucat bermandikan darah. Kecelakaan. Jaehyung. Tiba-tiba pikirannya menjadi blank, tidak tahu harus bertindak bagaimana. Kejadian ini begitu random. Bertahun-tahun tidak bertemu, dan harus dipertemukan kembali dengan cara seperti ini. Ia memang membenci Jaehyung, tapi ia juga tidak pernah berharap Jaehyung mengalami kejadian seperti ini. Tidak pernah sekalipun meski dalam umpatannya.

            Dengan gemetar, Kyung Soo mulai mengoperasi Jaehyung. Berusaha semampunya. Jaehyung tidak boleh mati. Riyoung tidak boleh menangis. Riyoung tidak boleh merasa kehilangan. Mereka tidak boleh terpisah. Mereka saling mencintai. Tapi Tuhan berkata lain. Kyung Soo terduduk. Tangannya gemetar. Bahkan untuk menolong orang yang dicintai oleh orang yang dicintainya ia tidak bisa. Dadanya terasa memanas. Ia sudah berusaha semampunya, ia sudah berusaha, bukan karena membencinya sehingga ia gagal, tapi memang Tuhan telah menjemputnya. Ia tidak bisa menyelamatkan Jaehyung.

            Di pemakaman Kyung Soo selalu berdiri di dekat Riyoung, sangat mengkhawatirkannya, takut tiba-tiba limbung dan tidak sadarkan diri.  Tidak kuat melihat Riyoung yang terus menangis tanpa henti, Kyung Soo menarik Riyoung ke dalam pelukannya. Membiarkan Riyoung menangis di dadanya yang bidang. Mengusap puncak kepala Riyoung dengan lembut, hal yang sudah lama dirindukannya. Riyoung terus menangis dan menangis. Memang seharusnya begitu. Kehilangan, terpisahkan dan air mata.

Maret 2012, Musim Semi

“Tak apalah jika sekarang kita berpisah, tapi pada akhirnya kau pasti akan kembali padaku.” Kyung Soo tersenyum simpul saat mengingat kata-katanya dulu. Kata-katanya tiga tahun yang lalu saat Riyoung memutuskan hubungan mereka. Kata-kata yang selalu dipercayainya. Kata-kata yang begitu ajaib. Terpisah selama dua tahun dan kembali bersama. Riyoung kembali padanya.

Setelah kepergian Jaehyung, Kyung Soo kembali dekat dengan Riyoung. Kyung Soo selalu berusaha di dekat Riyoung karena ia tahu gadis tersebut sangat rapuh. Berusaha memperbaiki retakan-retakan yang dulu menjadi pemicu perpisahan mereka. Kyung Soo tidak mau lagi Riyoung bersama laki-laki lain. Cukup bersamanya, maka Riyoung akan selalu tersenyum. Itulah janjinya pada dirinya sendiri.

Beberapa bulan memulainya lagi dari awal. Tidak pernah melakukan kesalahan dengan kencan di Museum apalagi sampai membicarakan berbagai macam penyakit saat makan malam. Kyung Soo berjuang keras agar Riyoung mau kembali padanya. Riyoung akhirnya luluh. Ia jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada mantannya tersebut, Kyung Soo.

 

 

 

3 comments

  1. Gie KyuLova · July 29, 2012

    Simple.&jalan ceritanya agak mirip drama gitu y. Chemistry kurang dpet klo mnurut aq. Tp aQ sk bgt kesetian &ktuLusannya KyungSoo..
    Fighting^_^

  2. idolfanfiction · July 31, 2012

    Hihihi, mirip drama ya?
    makasi masukannya😉

  3. satyateru · August 30, 2012

    author nim, pagi2 aq udah sarapan kyungsoo ff,,,lumayan.

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s