A Painful Marriage [Part 1]

Title                : A Painful Marriage [Part 1]

Author           : Siskha Sri Wulandari/@SiskhaSri/ssiskha.wordpress.com

Cast                 : Do Kyung Soo [EXO K]

                          : Shin Riyoung [OC]

                          : Kim Jongin/Kai [EXO K]

                         : Park Chanyeol [EXO K]

Genre            : Angst

Length          : Chapter

Backsound  : A-JAX-Never Let Go

                           Heo Young Saeng [SS5O1]-MARIA

Just Says      : Kakaka#Ketawa setan. Author kembali lagi dengan FF galau#Plaak. Entah kenapa pengen banget bisa buat FF angst yang nyesek terus bikin reader nangis-nangis#sarap. Sebenernya, rada nggak suka nulis yang genrenya angst, auranya suram gimana gitu. beberapa kali nyoba angst pasti di tengah jalan ditinggal karena nggak sanggup ngelanjutinnya. Semoga ini bisa sampai akhir. Hohoho. Jangan lupa RCL ya. Gomawo🙂

Lagi-lagi ponselku berdering, dengan terburu-buru aku segera mengambil ponsel yang tergeletak di jok penumpang. Dengan satu tangan aku berusaha untuk tetap menyetir sekencang mungkin.

            “Oppa gwenchana? Kau sudah terlambat satu jam.” Suara di seberang sana terdengar sangat cemas. Hari ini adalah hari paling penting bagiku dan dirinya. Hari ini tidak seharusnya aku terlambat seperti biasanya. Seharusnya dihari ini pula aku tidak mengecewakannya. Tapi karena terlalu lelah merayakan pesta lajangku tadi malam, aku bangun kesiangan, dan dengan bodohnya aku meminta keluargaku untuk berangkat duluan. Ya, Tuhan! Bodohnya aku.

            “Nee, aku baik-baik saja. Sebentar lagi aku akan segera sampai di sana.” Jawabku lembut. “Mianhee.” Sambungku dengan nada penuh penyesalan.

            “Ahh, arraso. Menyetirlah dengan baik.” Ia memutuskan telepon. Aku menghela napas pelan dan segera mencampakkan ponsel ke kursi belakang. Aku harus hanya memfokuskan diri pada jalanan di depan.

            “CKIIIT” Aku segera membanting stir saat hampir saja menabrak truk pengangkut barang yang melaju dari arah yang berlawanan. Belum lagi sempat menghela napas lega karena baru saja selamat dari kecelakaan, aku merasa hantaman yang sangat keras. Ternyata ketika aku menghindar ada sebuah mobil yang juga tengah melaju kencang dari arah kanan. Kecelakaan itu tidak terelakkan. Kepalaku terbentur stir dan aku merasa cairan hangat mengalir deras dari puncak kepalaku. Dengan sisa-sisa tenaga, aku berusaha meraih ponsel yang tergeletak di jok penumpang, berusaha menelepon seseorang yang bisa menolongku sebelum kesadaranku hilang.

            Setelah berhasil mengambil ponsel, aku berusaha membuka pintu. Setelah dorongan-dorongan yang hampir tidak bertenaga, akhirnya aku berhasil keluar dari mobil. Aku menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan, seorang laki-laki berjas tengah tergeletak di seberang sana. Astaga, jangan-jangan dia adalah orang yang ku tabrak. Kepalaku terasa pusing. Tidak mau membuang-buang waktu, segera ku sentuh layar ponsel, dengan sisa-sisa tenaga aku berusaha untuk mendial nomor ayah. Sekarang yang lebih penting adalah memastikan bahwa aku harus tetap bertahan demi calon istriku. Hanya itu. Aku butuh pertolongan sesegera mungkin.

            Belum lagi sempat menekan angka dua, aku merasa tidak memiliki tenaga lagi. Ponselku tergeletak di atas tanah, diikuti tubuhku yang limbung. Wajah Riyoung tiba-tiba muncul, aku harus kuat, aku tidak boleh mati demi dirinya. Setidaknya tidak hari ini.

***

            Aku merasa ada sebuah tangan yang menggenggam tanganku begitu erat dan hangat. Genggaman siapa lagi kalau bukan genggaman Riyoung. Meski masih merasa sangat pusing aku berusaha untuk membuka mata, aku harus memastikan bahwa gadis itu tidak sedang menangis. Aku mengerjapkan mata berkali-kali agar bisa melihat dengan lebih jelas. Aku menghela napas putus asa saat mendapati Riyoung tengah menatapku dengan tatapan khawatir dengan mata basah masih lengkap dengan gaun pengantinnya. Melihat gaun tersebut aku segera melihat pakaian apa yang sedang aku kenakan. Pakaian rumah sakit! Astaga, aku benar-benar merasa bersalah padanya. Pernikahan kami hari ini telah gagal.

            Tiba-tiba Riyoung berhambur ke pelukanku, meski merasa sedikit ngilu karena efek dari kecelakaan yang baru saja aku alami aku tetap membiarkannya. Pelukannya setidaknya bisa membuatku benar-benar merasa yakin bahwa aku masih hidup dan dia tetap akan menjadi istriku.

            “Mianhee.” Ujar Riyoung lirih.

            Aku tertawa pelan. Gadis ini, dia benar-benar tidak tahu kapan kata maaf harus diucapkan. Aku mengelus puncak kepalanya lembut. “Seharusnya aku yang meminta maaf.”

            “Kalau aku tidak terus-terusan menelepon, pasti oppa tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini.”

            “Anio, jika aku tidak bangun kesiangan mungkin saat ini kau sudah resmi menjadi istriku.” Aku terkekeh kecil, meski itu sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya.

            Tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar, refleks Riyoung segera melepaskan pelukannya dan melihat ke arah pintu dengan kaget. Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar dengan mata yang berkilat, sepertinya amarah sedang menguasainya, tapi aku tidak mengenal siapa wanita itu. Dia juga bukan keluarga dari pihak Riyoung.

            Setelah wanita tersebut masuk, kemudian masuk pula ayah dan ibuku, Chanyeol sahabatku, Kai adikku dan beberapa orang yang tidak ku kenal.

            “Pembunuh! Harusnya kau saja yang mati!” Wanita paruh baya itu menarik Riyoung dengan paksa agar menjauh dariku dan memukul-mukul dadaku. Aku terbatuk, pukulannya tepat megenai luka di dada. Aku yang masih lemah hanya bisa menatapnya bingung.

            “Kau harus bertanggung jawab!” Teriaknya lagi. Aku terdiam. Pembunuh. Jangan-jangan orang yang tadi aku tabrak adalah keluarganya dan dia. Astaga, jangan bilang kalau nyawanya tidak bisa diselamatkan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika hal itu memang benar.

            Wanita paruh baya itu semakin menatapku garang saat tidak mendapatkan reaksi apa-apa dariku. Ia kembali memukulku.

            “Hentikan!” Riyoung menghalangi wanita itu untuk tidak memukulku lagi. Ia menatap Riyoung sinis, namun ia terlihat sangat terkejut saat melihat apa yang dikenakan oleh Riyoung. Ia menatap Riyoung dari atas sampai bawah. Tiba-tiba ia berteriak histeris dan terduduk. Laki-laki paruh baya yang sepertinya adalah suaminya segera memeluknya, berusaha untuk meredakan tangis wanita paruh baya tersebut.

            Ibu menatapku nanar. Aku menatapnya, meminta penjelasan. Tapi ibu malah menangis.

            “Ada apa ini?” Tanyaku tidak sabar.

            Tidak ada yang menjawab.

            “Kai?” Tanyaku pada adikku. Ia melengos. Hubungan kami memang kurang baik. Ia hanya mengangkat bahu tanpa mau menatapku.

            “Chanyeol?” Tanyaku lagi kini dengan nada yang sedikit tinggi.

            Bukannya menjawab pertanyaanku Chanyeol malah membuang muka.

            “Astaga, ada apa sebenarnya? Aku baru saja siuman kenapa tiba-tiba.” Kata-kataku terhenti saat aku merasa pipiku memanas. Tangan ayah yang kekar baru saja mendarat di pipiku. Aku menatapnya tidak percaya. Terakhir kali ayah menamparku ketika aku masih duduk di bangku SMA, ketika aku di skors selama satu minggu karena berkelahi. Ya itu yang terakhir. Setelah itu rasanya aku begitu membanggakan baginya. Tapi kenapa kali ini ia menamparku.

            Ayah menghela napas, menatapku dengan tatapan tegasnya.

            “Kau, bukanlah orang yang berhak untuk protes di sini.” Kata ayah pelan, kemudian menatap Riyoung dan lagi-lagi menghela napas.

            “Ada apa paman?” Tanya Riyoung bingung.

            “Karena perbuatan yang tidak kau sengaja, kau telah menghilangkan nyawa seseorang.” Jawab ayah pelan sambil menatapku kasihan.

            Menghilangkan nyawa seseorang? Itu artinya orang yang aku tabrak itu benar-benar, Astaga, tidak terselamatkan. Disatu sisi aku sangat menyesal dan merasa bersalah, tapi di sisi lain aku merasa harus membela diri.

            “Kami sama-sama melaju dengan kecepatan tinggi, bagaimana bisa aku yang disalahkan?” Protesku tidak terima. Mobil kami sama-sama melaju kencang, kematiannya tidak murni atas keteledoranku saja, laki-laki itu juga bertanggung jawab atas kematianya sendiri.

            “Tapi kau selamat Kyung Soo, sedangkan dia tidak. Siapapun akan menyalahkanmu. Dia korban dan kau pelakunya, semua orang akan menempatkanmu dalam posisi itu.” Ayah memijit-mijit dahinya frustasi.

            Ibu segera menghampiriku, memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku. Apakah aku akan masuk penjara? Apakah Riyoung akan meninggalkanku dan tidak mau menikah denganku? Aku lihat Chanyeol mendekati Riyoung, meremas pundaknya dan menggenggam tangannya, berusaha menguatkan Riyoung.

            “Chagi, kau tidak akan meninggalkanku bukan? Kau akan tetap mau bersamaku bukan? Kau akan tetap menungguku jika aku harus masuk penjara kan?” Tanyaku pada Riyoung dengan panik.

            Riyoung baru saja akan membuka mulut saat ayah lagi-lagi menamparku. Aku terperangah. Tamparan untuk apa lagi ini.

            “Kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri Kyung Soo?” Tanya ayah gusar.

            “Kau bukan hanya telah membunuh menantuku, tapi kau juga telah membunuh ayah dari cucuku!” Wanita paruh baya itu kembali berdiri dan menatapku sinis.

            “Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Baekhyun dan Hana. Seharusnya mereka telah resmi menjadi suami istri. Tapi kau telah membunuh Baekhyun! Kau harus bertanggung jawab pada putriku!”

            Aku meringis mendengar nama laki-laki yang aku tabrak tersebut. Aku benar-benar merasa bersalah, tapi kenapa aku harus bertanggung jawab pada putrinya, aku tidak melakukan apapun terhadap putrinya, mengenalnya saja tidak.

            “Kau pikir laki-laki mana yang mau menikahi wanita yang sedang mengandung anak dari laki-laki lain!” Wanita paruh baya itu menamparku.

            “Kumohon, jangan bersikap kasar lagi padanya, keadaannya belum pulih.” Tanpa kuduga-duga Kai membelaku. Entah karena masalah apa selama ini Kai merasa aku adalah saingannya. Ia selalu bersikap dingin terhadapku, membuatku merasa bahwa ia membenciku.

            “Aku tidak mengerti.” Tanyaku bingung.

            “Orang yang kau tabrak itu bernama Baekhyun. Calon suami Hana dan saat ini Hana tengah mengandung anak Baekhyun.” Kata Kai dingin.

            Astaga, aku merasa jantungku saat ini sudah lepas. Nada bicara Kai yang dingin semakin membuatku terpojok. Aku telah membunuh seorang ayah. Astaga, apa itu artinya aku harus menikahi gadis tersebut? Menggantikan posisi Baekhyun untuk menjadi ayah dari anak mereka. Tanggung jawab yang dimaksud oleh wanita paruh baya tersebut tentulah tanggung jawab seperti itu. Menikahi putrinya.

            “Bwoo?” Tanya Riyoung dengan bergetar. “Anio!” Teriak Riyoung.

            Akan lebih baik jika aku menghabiskan hidupku di penjara daripada harus menikahi gadis lain selain Shin Riyoung.

            Riyoung tiba-tiba limbung, untungnya Chanyeol langsung menahannya.

            “Sebaiknya kita keluar.” Kai menarik tangan Riyoung lembut. Riyoung menggeleng pelan. “Riyoung, aku yakin kau tidak akan sanggup melihat akhir dari semua ini.” Bujuk Chanyeol.

            Aku segera melepas impus yang ada di tanganku, aku tidak akan pernah membiarkan semua ini berakhir dengan perpisahanku dengan Riyoung. Tidak akan pernah. Bagaimana bisa, dihari di mana seharusnya aku dan Riyoung bersatu kami malah dipisahkan. Setelah melepas impus, aku berusaha berdiri, namun kepalaku masih sangat pusing, hampir saja aku terjatuh. Aku memegang keningku dan berusaha menguatkan diri namun akhirnya aku terjatuh juga.

            “Riyoung.” Panggilku lirih. “Jebaal, jangan pergi.” Sambungku hampir tidak terdengar, kepalaku benar-benar pusing. Riyoung menatapku nanar. Aku benar-benar tidak tahan melihat air matanya. Rasanya ingin sekali aku memeluk dan menghapus air matanya. Ada sedikit kekesalan saat aku melihat malah Chanyeol yang menghapus air mata Riyoung. Meski dia adalah sahabatku tetap saja aku tidak bisa melihat dia memperlakukan Riyoung seperti itu, apalagi ia melakukannya tepat di depan mataku.

            “Sudahlah, hyung! Kenapa kau selalu menyakiti perasaan banyak orang.” Tiba-tiba Kai menarik paksa tangan Riyoung. Aku berusaha berteriak tapi ternyata tidak ada suara yang keluar, kepalaku semakin pusing dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Aku takut tidak bisa bertemu dengan Riyoung lagi. Kumohon, jangan pergi.

***

 TBC…

 

 

 

11 comments

  1. ismakhrnsa · August 6, 2012

    Aaaaa baru juga part 1, udh sedih gini huhu T.T
    Lanjut thor..

  2. Vally · August 7, 2012

    Boleh juga ffny, lanjut aja ke next part biar para reader makin penasaran

  3. Natasa Kim · August 7, 2012

    lanjut thor…!! wahhh seru tapi sedih…. hihi ayoooooo lanjuuuut….!! ^^

  4. Verin · August 8, 2012

    Waduh..

  5. shara · August 23, 2012

    like

  6. Bellinda · August 24, 2012

    Seru2..😀 Ada D.O lg😄 Next min =D

  7. jessicanurin · August 25, 2012

    Menyedihkan. Tp Riyoung tetep nikah sama Kyung Soo kan?? Pliiss

  8. Detya's · March 11, 2013

    Part 1’a udh bnyak konflik’a nih thor…

    Seru kyak’a nih bkln…

  9. robiatul · August 5, 2013

    waah.. ddaebak..!!
    hiks.. hiks..
    diksi nya lumayan..
    hehe

    #sokbgt

  10. putryamalia · January 7, 2015

    Aaaaaa bru aja mau nikah dan hidup bhagia tpi malah kbhgiaan itu memutar arah mnjadi sbuah kepiluan. 😦
    Keep writing thor

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s