A Painful Marriage [Part 2]

Title                : A Painful Marriage [Part 2]

Author           : Siskha Sri Wulandari/@SiskhaSri/ssiskha.wordpress.com

Cast                 : Do Kyung Soo [EXO K]

                          : Shin Riyoung [OC]

                          : Kim Jongin/Kai [EXO K]

                          : Park Chanyeol [EXO K]

Genre             : Angst

Length           : Chapter

Backsound   : A-JAX-Never Let Go

                          Heo Young Saeng [SS5O1]-MARIA

Annyeong, bhahaha, saya hampir kepikiran untuk nggak ngelanjutin FF ini lantaran nggak tahu mau diapain. Pasti Part ini membosankan dan feelnya nggak dapet trus aneh banget. LOL#Ketawa Setan. So, I need your Coment, Thanks ^^


I could stay awake just to hear you breathing. Watch you smile while you are sleeping. While you’re far away and dreaming. (David Cook-I Don’t Wanna Miss a Thing)

*Kyung Soo’s Side

Aku berusaha membuka mata meski masih terasa sangat pusing. Beberapa kali aku mengerjapkan mata agar bisa melihat lebih jelas, tapi tetap saja pandanganku masih gelap. Oh, ternyata lampu ruangan telah dimatikan, berarti malam sudah sangat larut. Aku meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur, mencari ponselku namun hasilnya nihil. Sayup-sayup terdengar suara keributan dari luar, ternyata keluargaku masih menunggu di luar. Kemungkinan Riyoung juga masih menungguku. Mengingat dirinya aku merasa sangat tertekan.

Bagaimana ini? Apakah pernikahanku dan Riyoung benar-benar batal? Apakah Ayah benar-benar tega menikahkanku dengan gadis hamil itu. Siapa namanya? Hana? Andai gadis itu tidak hamil, pasti masalahnya tidak akan serumit ini.

Ya, ampun. Kejam sekali aku. Kenapa aku malah menyalahkan gadis itu. Di sini Ia juga adalah korban. Dia kehilangan ayah dari anaknya. Ia pasti sangat terpukul. Dengan terhuyung-huyung aku berjalan menuju pintu, apapun masalahnya aku harus menghadapinya, tapi yang terpenting saat ini adalah aku harus bertemu Riyoung. Semua orang menatapku kaget saat tiba-tiba aku membuka pintu.

“Di mana Riyoung?” Tanyaku.

Ibu Riyoung yang duduk di samping ibuku sedang menangis. Aku memiliki perasaan yang tidak enak tentang Riyoung. Tidak mungkin ibunya menangis sampai seperti itu kalau bukan karena anaknya.

“Sebaiknya, kau istirahat lagi.” Hwayoung berdiri. Aku baru menyadari keberadaan kekasih Chanyeol itu, tadi pagi spertinya ia belum ada.

“Di mana Chanyeol?” Tanyaku curiga pada Hwayoung. Tidak mungkin Chanyeol meninggalkan kekasihnya sendirian saja di sini jika ia tidak ada keperluan mendadak. “Ayah? Di mana ayah? Kai juga? Kenapa hanya kalian bertiga di sini?” Tiba-tiba aku merasa emosi. Pasti, pasti ada yang tidak beres.

“Tenanglah Kyung Soo, mereka sedang mencarinya.” Jawab ibuku lembut.

“Mencarinya? Mencari Siapa? Mencari Riyoung?”

Hwayoung mengangguk lemah. Sudah kuduga, pasti ada hal buruk yang sedang terjadi dengan Riyoung.

“Kenapa dengan Riyoung?” Aku mencengkram pundak Hwayoung.

“Dia hilang. Setelah Kai mengantarnya pulang, Kai kembali ke sini. Kai pikir ia akan baik-baik saja jika seorang diri karena dengan menyendiri mungkin bisa membantu Riyoung menenangkan dirinya. Tapi nyatanya Riyoung menghilang.” Jelas Hwayoung.

“Kenapa dia malah meninggalkan Riyoung! Ahh!” Aku menjambak rambutku frustasi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari. Mengharapkan mereka untuk menemukan Riyoung? Ohh, aku tidak bisa berdiam diri begitu saja mengetahui kenyataan bahwa calon istriku tidak diketahui keberadaannya di luar sana.

“Kyung Soo!” Hwayoung menahanku.

“Biarkan aku pergi!”

“Serahkan semuanya pada mereka.”

“Ani, aku tidak bisa! Bagaimana kalau mereka tidak menemukan Riyoung!” Bentakku.

“Mereka pasti akan menemukannya.”

“Apa kau akan memilih diam saja dan menunggu kabar tanpa berbuat apa-apa jika Chanyeol yang hilang?”

Aku menghempaskan tangan Hwayoung. Mana mungkin gadis itu akan diam saja. aku juga begitu, aku tidak akan diam saja. Setidaknya aku harus berusaha.

Kai membanting stir saat lagi-lagi hampir menabrak seorang pejalan kaki. Mengetahui batalnya pernikahan Kyung Soo dan Riyoung saja sudah membuatnya begitu stres. Sekarang ditambah lagi dengan menghilangnya Riyoung. Harusnya ia menjaganya, harusnya ia tidak meninggalkan Riyoung seorang diri. Sekarang akibatnya Riyoung hilang di tengah kota Seoul. Tengah malam seperti ini dengan keadaan emosi yang masih labil, ia terlalu takut membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dialami Riyoung di luar sana. Jika sampai sesuatu hal buruk menimpa gadis itu, maka ia akan menyesal seumur hidupnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata dari Chanyeol.

“Hyung menemukannya?” Tanya Kai panik.

“Belum, bagaimana denganmu?”

“Belum juga. Otte? Malam semakin larut. Aku benar-benat takut jika terjadi apa-apa padanya.”

“Kita tidak akan berhenti sampai menemukannya. Kyung Soo sekarang juga sedang mencari Riyoung.” Tegas Chanyeol dan memutuskan telepon. Belum lagi menemukan Riyoung, sekarang ia juga harus mencari Kyung Soo. Laki-laki yang baru saja sadar setelah kecelakaan yang baru saja menimpanya bisa apa? Berjalan saja ia masih merasa pusing. Ia tidak bisa membayangkan jika sahabatnya itu tiba-tiba terkapar di tengah jalan.

Aku menendang pintu taxi saat baru ingat bahwa aku lupa meminta ponselku pada ibu atau siapapun yang telah menyimpan ponselku. Tanpa alat komunikasi apa yang akan aku lakukan untuk mencari Riyoung.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya supir taxi yang pada awalnya tidak mau mengantarkanku mengingat kondisiku seperti pasien yang baru saja melarikan diri.

Aku menatap ragu supir tersebut. “Ponsel?” Tanyaku ragu.

Supir taxi itu mengernyit.

“Maksudku apakah aku boleh meminjam ponselmu?”

Tanpa berpikir panjang, supir tersebut segera memberikan ponselnya. Setelah menerima ponsel pemberian supir tersebut, aku berusaha mengingat-ingat nomor telepon orang yang akan ku hubungi. Tao, teman yang aku harap bisa kuandalkan saat ini. Setelah berhasil mengingat nomor ponsel Tao, aku menekan tombol hijau dan dengan tidak sabar menunggu Tao mengangkat teleponnya.

“Yobboseyo.” Pada panggilan ketiga akhirnya Tao mengangkat teleponnya.

“Tao, ini aku Kyung Soo.”

“Kyung Soo?” Tanya Tao ragu.

“Nee, aku butuh bantuanmu. Riyoung menghilang. Aku mohon tolong cari dia sampai ketemu, hanya kau yang bisa kuandalkan saat ini Tao.”

“Riyoung menghilang?!” Panik Tao. “Di mana?”

“Tao, di saat seperti ini tolong jangan melontarkan pertanyaan bodoh, kalau aku tahu Riyoung hilang di mana aku tidak akan meminta bantuanmu.” Aku memutar bola mataku. Mungkin karena terlalu panik, Tao sampai-sampai melontarkan pertanyaan tidak penting seperti itu.

“Mianhee, arrasoo. Aku pasti akan mencarinya. Kau tenang saja. Eh, bukankah kau masuk rumah sakit?”

“Jika sudah menemukannya, hubungi aku ke nomor ini. Thanks.” Kataku cepat dan segera mematikan ponsel. Saat ini, aku tidak punya banyak waktu menjelaskan semuanya. Aku sangat berharap banyak pada polisi itu. Saat ini hanya dia yang bisa kuandalkan.

“Tuan, kita mau ke mana?”

Aku memiringkan kepala. Memikirkan tempat-tempat yang mungkin akan didatangi oleh Riyoung. Bukankah ketika sedih gadis itu sangat suka datang ke kafe Chonsuk? Mungkin ia ada di sana, meskipun kemungkinannya sangat kecil, tapi setidaknya aku harus memiliki tempat permulaan.

“Ke kafe Chonsuk.” Kataku pada supir tersebut.

Ternyata hasilnya seperti dugaanku, Riyoung memang tidak ada di sana. Orang-orang justru menatapku aneh. Lalu, kemana lagi aku harus mencari Riyoung? Riyoung bukan tipe orang yang suka bepergian, tidak banyak tempat yang biasa dikunjungi oleh Riyoung.

“Maaf, sebenarnya siapa yang Anda cari tuan?” Supir taxi itu bertanya sopan padaku. Mungkin ia juga sedikit khawatir melihat kondisiku yang benar-benar seperti orang gila.

“Calon istriku.” Jawabku singkat. Apa yang bisa diharapkan dengan memberikan informasi pada supir yang sama sekali tidak mengerti permasalahanku.

“Kalian bertengkar? Bagaimana kalau kita coba mencarinya di Jembatan Sungai Han. Bukannya bermaksud buruk, kemungkinan untuk mengakhiri hidup sangat wajar di negara ini tuan.

Aku memandang supir itu tidak suka. Aku yakin Riyoung bukan tipe orang seperti itu. Seterpuruk apapun gadis itu, aku yakin gadis itu tidak akan pernah berpikir untuk bunuh diri. Tapi selalu ada kemungkinan, meskipun ragu dengan kemungkinan itu, tapi aku tetap harus mencobanya, dan semoga hasilnya tetap nihil seperti di Cafe Chonsuk.

*Riyoung’s Side

How can I forget you? Can I even forget you? There are just days more heart-chilling than the cold winter. To me, the sunlight, the wind, the world are all scary. (Heo Young Saeng-Maria)

            Aku mengamati gaun pengantin yang seharusnya menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Gaun ini, ketika memakainya aku merasa sangat bangga. Tapi semuanya terlalu tiba-tiba, aku bahkan belum bisa bernapas dengan leluasa setelah kenyataan itu.

            Aku pikir semuanya akan berjalan lancar hari ini. Kyung Soo datang terlambat seharusnya bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, pasti banyak hal tak terduga yang terjadi. Setelah itu Kyung Soo kecelakaan, menabrak seseorang sampai tewas, dan kini ia harus bertanggung jawab pada Hana.

            Semuanya begitu cepat. Lantas bagaimana denganku? Siapa yang mempedulikanku? Semua orang menyalahkan Kyung Soo dan memaksanya untuk menikahi Hana, termasuk aku. Aku juga perempuan, aku tahu bagaimana perasaan Hana. Tidak mungkin aku membiarkan Hana mengasuh anaknya tanpa sosok ayah. Itu akan menjadi masa lalu yang buruk bagi anaknya kelak. Bukannya sok baik tapi aku juga tidak sanggup melihat Hana harus hidup tanpa pendamping.

            Tapi sekarang bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaan ini? Bohong jika aku mengikhlaskan Kyung Soo. Bohong jika aku mengatakan aku baik-baik saja. Bohong kalau aku tidak menyalahkan kehamilan Hana. Tapi aku bisa apa? Yang bisa kulakukan hanya menangis. Sama sekali tidak mengubah apa-apa, semua ini sudah tidak bisa diperbaiki.

            Apa yang harus aku lakukan setelah ini. Apakah aku harus datang ke pernikahan Kyung Soo dan Hana? Bersikap sok tegar padahal aku hancur. Apa yang harus aku lakukan untuk melanjutkan hidup?

            Aku tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku. Hidup hanya sekali, begitu banyak orang yang berjuang untuk hidup, kenapa aku harus menyia-nyiakan hidupku ketika aku masih dianugrahi kehidupan. Tapi aku tidak sanggup melanjutkan hidup. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk bertahan.

            Dengan berat hati aku mencampakkan gaun pengantinku ke dalam Sungai Han. Biarlah ia hilang terbawa arus, terlalu banyak luka di sana. Aku ingin mengakhiri hidupku, tapi jujur aku takut. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan setelah mati. Aku takut aku belum siap untuk mati. Apakah orang-orang yang sering bunuh diri di sini juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan? Atau hanya aku saja yang terlalu pengecut.

            Aku melangkah perlahan, menutup mata berharap mendapatkan sedikit keberanian. Tapi rasa takut itu tetap ada. Sungguh aku sama sekali tidak siap. Tapi sisiku yang lain seolah menggodaku untuk segera menghanyutkan diri di Sungai ini. Mungkin jika aku mati semuanya akan selesai, mungkin. Orang bunuh diri tidak mungkin mendapatkan tempat yang baik, aku tahu itu.

            Aku berdiam diri, menatap Sungai Han dengan tatapan kosong. Ternyata aku benar-benar belum siap. Tiba-tiba aku merasa ada yang menarik lenganku dengan kasar. Astaga, Kai. Ia menatapku gusar. Belum sempat aku mengatakan apa-apa ia malah memelukku dengan erat. Ia mengusap kepalaku lembut.

            “Jangan bertindak bodoh Riyoung-ahh, jangan.” Kai menangis. Aku bahkan tidak menangis. Air mataku sudah habis sejak aku memutuskan untuk membuang gaun pengantinku. Aku hanya diam, sampai sekarang pun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sama sekali tidak memiliki persiapan jika sewaktu-waktu harus kehilangan Kyung Soo, semuanya terlalu cepat dan aku kalah cepat sehingga aku tertinggal.

            “Babo!” aku merasa ada yang memukul kepalaku pelan. Aku mendongak ternyata Chanyeol. Aku merasa lega, ternyata masih ada orang-orang yang peduli padaku. Kyung Soo? Entah kenapa saat ini aku sangat ingin Kyung Soo juga berada di sini. Aku sadar, pasti saat ini Kyung Soo masih tertidur dengan pulas tanpa tahu bahwa tadi aku hampir saja mengakhiri hidupku.

            “Riyoung!” Aku menoleh. Tao? Ada apa dia di sini?

            “Ya Tuhan, kau tidak berpikir untuk bunuh diri bukan?” Tao memeriksa seluruh tubuhku. Aku hanya tersenyum kecut. Kau salah Tao, aku berniat melakukannya, tapi ternyata aku tidak cukup berani untuk melakukan itu.

            “Aku harus segera menghubungi Kyung Soo.” Tao merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.

            “Hyung juga mencarimu.” Tanpa ditanya Kai langsung mengatakannya padaku.

            “Kyung Soo sudah sadar?” Tanyaku ragu.

            Kai mengangguk. “Apakah dia mencariku seorang diri?” Tanyaku khawatir. Kyung Soo pasti sangat lemah. Baiklah meskipun aku sangat berharap Kyung Soo akan mencariku tapi aku benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ia mencariku. Kondisinya masih terlalu lemah, ia butuh banyak istirahat.

            Aku terbelalak, saat ini di hadapanku sudah berdiri Do Kyung Soo, laki-laki yang seharusnya sudah resmi menjadi suamiku. Ia terlihat sangat lelah. Wajahnya pucat, bahkan ia masih memakai pakaian dan sandal rumah sakit.

            “Baru saja aku akan meneleponmu.” Tao terperangah saat melihat Kyung Soo sudah berada diantara mereka.

            Kyung Soo mendekat secara perlahan. Ia menatapku seolah aku tidaklah nyata. Ia pasti sudah menduga bahwa aku datang ke sini karena berniat untuk bunuh diri. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Astaga, dadaku terasa sesak, bisa saja ini menjadi yang terakhir kalinya ia menelus puncak kepalaku. Setelah ini ia akan menikah dengan Hana, aku dan dia hanya akan menjadi sebuah masa lalu.

            “Jangan pernah berusaha untuk pergi tanpaku.” Ujar Kyung Soo lirih. Tiba-tiba ia limbung dan jatuh tepat di pelukanku. Badannya sangat panas. Pasti ia demam tinggi. Lagi-lagi Kyung Soo tidak sadarkan diri. Jika Kyung Soo sadar, maka aku tidak akan menghilang lagi seperti saat ini. Meski aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini tapi pernikahan Kyung Soo dan Hana akan tetap berlangsung. Setelah ia sadar maka aku harus menjadi gadis yang lebih kuat.

10 comments

  1. axelia aizy · August 10, 2012

    nie ff msih tbc kan?????

  2. Verin · August 11, 2012

    Riyoung..
    Yg tabah ya..

  3. ryu ji hyun · August 13, 2012

    Ya ampun nyesek banget… Nangis aq bacanya😥

    Lanjut thor…🙂

  4. jessicanurin · August 25, 2012

    Hana sama Kyung Soo jgn nikah dong~

  5. kiki agustina · August 26, 2012

    Astaaagaaa~
    Buruan yah ichen eon lanjutan nyaa~
    Penasaran ini, bner” penasaran..
    Huuaaaaaa~
    #pelukchanyeol

    • idolfanfiction · August 26, 2012

      ini authornya Siska (=,=)
      jangan minta buruan sama aku donk~~😦

  6. Giselle Krystallia · March 30, 2013

    Titip ke Siska, yach …
    Aku bener2 minta, tlg buatin Part 3-nya … okay? Soalnya ff ini bagus bgt … sesak bacanya #huufff … hufff … hirup udara dari tabung O2. Krystal lebay bgt, sih … ahahai …. #

    • ichenaoi · April 1, 2013

      Chingu-yaa. Painful Marriagenya udah sampe ending kok🙂
      siskha

  7. putryamalia · January 7, 2015

    So sweet tpi ksihan ya DO mau nikahin orng yng sma sekli tidak ia cintai

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s