A Painful Marriage [Part 3]

Title                 : A Painful Marriage [Part 3]

Author           : Siskha Sri Wulandari/@SiskhaSri/ssiskha.wordpress.com

Cast                  : Do Kyung Soo [EXO K]

                          : Shin Riyoung [OC]

                          : Kim Jongin/Kai [EXO K]

                          : Park Chanyeol [EXO K]

Genre              : Angst

Length             : Chapter

Backsound      : A-JAX-Never Let Go

                             Heo Young Saeng [SS5O1]-MARIA

Cuap-cuap    : Kakaka, akhirnya FF ini tamat juga. Hohoho. Mungkin ceritanya garing & nggak ngena. So, I need your comment  friends  😄

 

Hana’s Side

            Aku menghentikan langkah saat melihatnya. Sama sekali tidak pernah ku bayangkan bahwa ia akan datang kemari. Aku pikir semua masalah ini cukup membuatnya membenciku dan menyalahkan Baekhyun. Aku melihatnya meletakkan bunga di atas makam Baekhyun. Ia seperti mengatakan sesuatu tapi dengan jarak seperti ini aku tidak bisa mendengarnya.

            Gadis yang berdiri di sampingnya meremas pundaknya dan mengatakan sesuatu, mungkin mengajaknya pulang, karena ia langsung berdiri sambil mengusap pipi. Ia menangis? Oh, tentu ia bukan menangisi Baekhyun, ia menangisi dirinya sendiri yang harus berakhir seperti ini. Cintanya yang harus dipisahkan, ia pasti menyesali semua itu.

            Aku gugup saat mereka berjalan ke arahku. Apakah aku harus berpura-pura menjadi peziarah orang lain atau aku harus menghampirinya. Apa yang harus aku katakan jika aku menghampirinya. Apakah terima kasih? Maaf ? atau hanya seulas senyum.

            “Hana.” Panggilnya. Aku menoleh, aku pikir ia belum pernah melihatku. Ahh, tapi jika ia bisa tahu makan Baekhyun ia pasti juga sudah mengetahui siapa aku. Aku hanya tersenyum sekilas, merasa canggung.

            Gadis di samping Riyoung mengamatiku, ia seperti sedang menilaiku. Mungkin membanding-bandingkan aku dengan Riyoung.

            “Aku sangat menyesal.” Ujarku pelan. Aku memang menyesali semuanya. Sebenarnya aku ingin sekali menyalahkan Kyung Soo tapi ia akan bertanggung jawab dan seharusnya aku berterima kasih padanya. Meski Kyung Soo tidak menyetujui pernikahan ini, ayahnya akan tetap memaksa. Aku menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menyesal karena tidak bisa menolong Riyoung. Kami sama-sama kehilangan orang yang kami cintai. Aku tahu bagaimana rasanya, aku tahu persis. Tapi bayi ini butuh seorang ayah.

            “Ini semua salahmu. Kalau saja kau tidak hamil di luar nikah semuanya tidak akan serumit ini.” Aku tersentak mendengar ucapan gadis di samping Riyoung. Terkandung makna tersirat dari nada bicaranya, ia secara tidak langsung mengatakan bahwa aku adalah wanita murahan, hamil di luar nikah.

            Riyoung diam, hanya menunduk, mungkin di dalam hati ia mengiyakan kata-kata temannya itu. Ia pasti menyalahkanku juga. Kyung Soo, aku dan juga Riyoung mungkin sama-sama saling menyalahkan, namun tidak ada yang mau menunjukkanya. Riyoung memilih untuk diam sedangkan Kyung Soo terus berontak sedangkan ia sendiri tahu apa hasilnya.

            “Maaf.” Riyoung menggenggam tanganku. “Jaga anakmu, Kyung Soo akan  menjadi ayah yang baik untuknya.” Riyoung tersenyum, senyum tersakiti. Aku bisa merasakan pedih di dalam senyumnya itu. Ia harus mengikhlaskan calon ayah dari anaknya demi aku, mana mungkin ia bisa tersenyum lembut.

            Aku mengangguk pelan. Riyoung berjalan perlahan, sekilas aku mendengar isakannya, ia menangis? Tentu ia tidak cukup kuat untuk tidak menangis setelah mengatkan hal itu kepadaku. Ia telah benar-benar melepaskan Kyung Soo.

What if our love had never went away?

What if it’s lost behind words we could never find?

(Westlife-What About Now)

Hana’s Side End

Kyung Soo’s Side

How can I forget you?

Can I even forget you?

There are just days more heart-chilling than the cold winter

To me, the sunlight, the wind, the world are all scary

(HYS-Maria)

            Aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Aku melangkah perlahan dan terhenti saat melewati cermin di lemari pakaian. Aku mendesah dan segera memalingkan wajah, tidak mau melihat pantulan diriku sendiri. Dengan gerakan cepat aku segera menekan angka satu, nama Riyoung langsung tertera di layar ponsel. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar suaranya, aku begitu merindukannya, sangat sangat merindukannya.

            “Ya.” Sapa suara di ujung sana hampir tak terdengar, sepertinya ia sedang menahan tangis. Mianhee, mianhee Riyoung-ahh.

            “Akan lebih baik jika kau tidak menahan tangisanmu, hal itu akan sedikit lebih melegakan.” Ujarku lembut.

            Riyoung tidak memberikan respon apapun, mungkin memang tidak ada sesuatu yang ingin ia bicarakan padaku, begitupula denganku, aku hanya ingin mendengar suaranya, hanya itu. Lagipula apapun yang kukatakan padanya tidak akan mengubah apa-apa, kami tetap akan terpisah.

            “Oppa,” Riyoung tercekat, setelah itu terdengar isakannya. Ia menangis. “Semoga kalian hidup bahagia.” Sambung Riyoung.

            Kata-katanya barusan tepat menusuk jantung. Kalian? Bukankah selama ini aku dan dia selalu menggunakan kata ‘kita’. Kita? Kini,  rasanya begitu mustahil. Aku dan Riyoung kini telah terpisah. Aku melangkah menuju jendela, membukanya perlahan dan memperhatikan sekitar. Pekarangan dipenuhi dengan daun-daun yang berguguran, aku sedikit bergidik kedinginan saat angin berhembus.

            “Musim kesukaanmu.” Aku terkekeh. “Dulu, saat musim gugur kita selalu duduk di bangku taman sambil melihat daun-daun yang berguguran. Meski cuaca sangat dingin tapi kita tetap merasa hangat. Itu karena kita menikmatinya bersama-sama. Sekarang.” Aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku.

            “Sekarang?” Tanya Riyoung pelan, ia pasti tahu apa kelanjutannya, tapi tetap sengaja bertanya, mungkin hanya ingin memuaskan diri sendiri dengan mendengarkan aku menyelesaikan kalimat tersebut.

            “Sekarang, setiap melihat daun yang berguguran rasanya perih sekali.” Aku meremas dadaku, menahan air mata yang sudah berada di ujung. “Daun-daun itu.” Lagi-lagi terdiam. “Mereka terlihat seperti kenangan kita. Kenangan kita di masa lalu. Hanya itu yang kita punya, masa lalu, tidak ada masa depan untuk kita.” Kataku cepat. Aku ingin segera menyelesaikan kalimat tersebut. Sakit rasanya harus mengatakan hal itu padanya.

            Hening.

            Aku juga tidak berharap mendengar tanggapannya.

            “Ini adalah takdir kita, kau dan aku dipertemukan bukan untuk bersama.”

            “Riyoung, bagaimana kalau setelah gadis itu melahirkan aku menceraikannya? Ya, aku bisa melakukan hal itu, dan setelah itu kita berdua bisa segera menikah. Kau dan aku. Otte?” Tiba-tiba ide gila itu melintas begitu saja.

            “Apa kau berencana membuat anak Baekhyun dan Hana menjadi yatim?”

            Ahh, aku menepuk dahiku. Riyoung tidak akan tega melakukan hal seperti itu. Ia terlalu baik bahkan untuk merencanakan ide gila itu. Ia bahkan memikirkan anak dari gadis yang telah membuat kami terpaksa berpisah. Ia melupakan rasa sakit pada dirinya sendiri.

            “Rasa sakit yang dialaminya lebih besar dari yang kualami.” Kata Riyoung, seolah mengetahui apa yang sedang ku pikirkan.

            “Oppa pasti sangat tampan hari ini, tidak sabar bertemu denganmu.” Sambung Riyoung berpura-pura ceria. Tampan katanya? Aku bahkan tidak mau melihat pantulan diriku di cermin. Berpakaian seperti ini, namun tidak berpasangan dengannya,  bagaimana bisa aku merasa tampan.

            “Riyoung, dengar!  Aku Mencintaimu. Sela—.” Kata-kataku terhenti saat tiba-tiba telepon terputus. Ia tidak mau lagi mendengar kalimat itu. Pasti ia terlalu sakit untuk mendengarnya. Pernyataan cinta diikuti perpisahan, ia benci hal itu.

Kai yang daritadi duduk tenang, segera berdiri saat melihat kedatangan Riyoung. Tanpa berkata apa-apa Kai segera menghampiri Riyoung dan merangkulnya. Riyoung terkekeh melihat tingkah Kai. “Aku baik-baik saja, benar aku baik-baik saja.” Bohong Riyoung. Ia hampir gila karena memutuskan datang ke pernikahan Kyung Soo.

            “Ck, babo! Mana ada gadis yang baik-baik saja melihat orang yang dicintainya menikah dengan gadis lain.” Kai mengacak-acak rambut Riyoung.

            Riyoung tersenyum sekilas, ya, apa yang dikatakan oleh Kai memang benar. Tidak akan ada gadis yang baik-baik saja ketika menghadiri pernikahan orang yang masih sangat dicintainya, termasuk dirinya.

            Chanyeol segera menarik kursi untuk Riyoung, saat melihat Riyoung dan Kai menuju ke mejanya. “Kau hari ini sangat cantik.” Puji Chanyeol. Riyoung malah membalasnya dengan memukul lengan Chanyeol. Mereka bertiga sama-sama terkekeh tanpa beban, seolah hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi mereka.

            “Annyeong Eonni.” Sapa Riyoung pada Hwayoung yang duduk di samping Chanyeol.

            Hwayoung tersenyum dan memeluk Riyoung sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu. Ia berusaha untuk menguatkan Riyoung. Gadis itu tidak setegar penampilannya, Hwayoung tahu itu.

            Hampir saja aku melompat kegirangan saat mendapati sosok Riyoung. Baru tiga hari tidak bertemu dengannya tapi aku sudah sangat merindukan sosok tersebut. Baru saja aku akan melangkahkan kakiku menuju meja Riyoung saat ia menggeleng pelan kepadaku dan dilanjutkan dengan seulas senyum.

Ia tidak ingin bertemu denganku? Masih tersenyum padaku, ia kemudian menunjuk gadis yang duduk di sampingku dengan dagunya. Ahh, ternyata karena gadis ini. Aku menatap Hana yang terus menunduk, ia pasti sama sepertiku, tidak menerima pernikahan ini. Pernikahan ini semata-mata hanya untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya, tidak lebih. Karena kami sama-sama telah memiliki orang lain.

            Aku dan Hana menjadi canggung setelah janji suci selesai diucapkan. Biasanya setelah ini adalah ritual berciuman oleh pengantin. Tapi kami tidak mungkin melakukannya. Pernikahan kami pun hanya didatangi oleh keluarga dekat. Keluargaku, Hana, Baekhyun dan orangtua Riyoung. Mungkin pihak keluarga Hana malu jika orang kain tahu bahwa anaknya langsung menikah lagi setelah kepergian Baekhyun, hal itu pasti akan menjadi cibiran ibu-ibu penggosip.

            Aku dan Hana telah resmi menjadi sepasang suami istri. Aku akan menjadi ayah dari anaknya. Aku telah melepaskan Riyoung selamanya. Ia mungkin akan menemukan laki-laki lain tapi aku tidak akan bisa melupakannya.

            Aku menatap Riyoung yang duduk di tengah-tengah ruangan. Ia menangis, aku ingin sekali segera berhambur ke pelukannya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa lagi melakukan hal itu. Demi Tuhan, aku membenci pernikahan ini. Aku juga membenci diriku sendiri. Semua orang pantas menyalahkanku.

            Kai terus menarik-narik tangan Riyoung saat prosesi pelemparan bunga oleh pengantin akan segera dimulai. Riyoung terus menolak dan meronta-ronta minta dilepaskan, tapi Kai pantang menyerah. Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah kedua orang itu. Ia terus memperhatikan bagaimana cara Kai menatap Riyoung, sepertinya ia tidak perlu menepati janjinya pada Kyung Soo untuk menjaga Riyoung karena sepertinya sudah ada Kai yang dengan senang hati mau menjaga Riyoung.

            “Aku tidak mau! Kau saja yang pergi.” Riyoung masih meronta-ronta.

            “Ayolaaaah, Riyoung-ahh, mana tahu ini keberuntungan untuk kita.” Kai segera menutup mulut dengan telapak tangan, kaget akan apa yang baru saja dikatakannya, Chanyeol pun sempat terdiam sesaat dan beberapa detik kemudian terkekeh.

            “Sudahlah, tidak ada salahnya dicoba.” Chanyeol mendorong-dorong tubuh Riyoung pelan.

            Dengan malas Riyoung bangkit dari kursinya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut Kai segera menarik tangan Riyoung untuk segera menuju para tamu yang telah berkumpul dan bersiap-siap untuk memperebutkan bunga pengantin.

            Sedangkan Kai sibuk berlari-lari ke sana kemari, Riyoung hanya bisa pasrah mengikuti gerakan Kai karena Kai yang masih terus menggandengnya. “Ahhhh!” Teriak Kai saat ia yang mendapatkan bunga tersebut. Refleks, ia memeluk Riyoung yang berdiri di sampingnya, yang daritadi tangannya masih terus digenggamnya. Riyoung hanya menatap Kai heran. Bingung kenapa temannya tersebut terlihat begitu bahagia. Setahunya Kai belum memiliki kekasih, kenapa harus sebahagia itu memperoleh bunga pengantin? Batin Riyoung.

Kai kembali memeluk Riyoung. Kini Riyoung terasa lebih nyata baginya, kini ia bisa meraih gadis itu.

            Aku terus memperhatikan mereka. Kai dan Riyoung. Aku meremas dadaku, berusaha untuk menahan diri agar tidak berlari dan memisahkan mereka. Kai tertawa begitu lepas. Sudah lama aku tidak melihatnya terlihat begitu bahagia. Aku menatap matanya, berharap tidak menemukan apa-apa di sana. Tapi ternyata aku malah menemukannya. Sorot mata yang sama saat aku memandang Riyoung.

            Astaga, aku menggigit bibir. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Aku baru ingat, terakhir kali Kai tersenyum padaku saat aku mengatakan bahwa aku baru saja menyatakan perasaanku pada teman sekelasnya tersebut sewaktu kuliah dan teman sekelasnya tersebut juga membalas perasaanku.

Sejak itu Kai semakin dingin padaku. Selama ini mungkin karena ayah yang selalu membanding-bandingkan kami membuatnya membenciku. Terlebih ketika aku merebut gadis yang ia cintai maka ia semakin membenciku. Bodohnya aku baru menyadari hal itu sekarang.

Aku baru sadar, Kai memperkenalkan Riyoung padaku karena ia ingin memberitahuku siapa gadis yang dicintainya. Tapi aku malah merebut gadis tersebut. Setelah berkenalan dengan Riyoung aku semakin dekat dengannya, dia gadis baik dan menyenangkan, aku nyaman bersamanya dan aku jatuh cinta padanya.

Tanpa aku sadari itulah awal semakin renggangnya hubunganku dengan Kai. Aku telah merebut Riyoung darinya. Bisa saja ini semua karma untukku. “Yaa, setidaknya tidak semuanya berakhir menyedihkan.” Gumamku. “Kai sangat mencintai Riyoung, itu sudah cukup bagiku.” Selembar daun yang gugur tepat mengenai wajahku, sebelum jatuh ke tanah daun itu sempat terayun-ayun, dipermainkan oleh angin. “Itu adalah kenangan terakhir kita.”  Aku tersenyum getir, mengakhiri kisahku sendiri.

Even if the rough winds fill the days

Even if the thick darkness blinds the eyes

I want to protect my heart without change

Yeah, I love you

Kyung Soo’s Side End

FIN

 

 

 

12 comments

  1. sari · September 7, 2012

    Yaaa kok pendek???nangis nih nangissss huaaaaa:(((((
    Cepat lanjut thorr

  2. kimisaranghae · December 11, 2012

    ha udah end ya
    ada sequel nynggak ya

  3. 13elieve · April 8, 2013

    Dri judul’a z udah nebak bakal sad ending tp ku coba bka yg last part n mdah2n perkiraanku salah eh trnyt bner T_T tp ga sad amat jd ga terlalu mnysakan ^^

  4. Lintang · May 4, 2013

    Aigoooo sweet ^^

  5. Rosari1695 · June 16, 2013

    Ahhhhh..
    Bagus.,🙂

  6. Jung Sang Neul · August 9, 2013

    Daebaaakkk😀
    aigoooo knapa msti sad end😦
    mintaa SEQUEL dongg thor !!!!

  7. ts · September 12, 2013

    please sequel^^

  8. kimsun217 · October 9, 2013

    Lahhhhhhhh,,
    finishhhhhh,,
    need sequel torrrrr,,,
    aduhhhh

  9. dwi yanti · November 11, 2013

    Hukhukhuk huwaaaaaa nangis darah. Kasian do bukan spenuhnya keslahan dia tpi smua nyalahin dia. Takdir yang menyakitkan untukx. Sequel dunk thor.

  10. christiejaena480 · October 28, 2014

    Seperti pepatah cinta tak harus memiliki. Bukankah begitu?

  11. nao nao · December 25, 2014

    sequeeeeel thorrr

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s