Sixth Sense [Part 1]

Title                 : Sixth Sense

Author           : Siskha Sri Wulandari/@SiskhaSri/ssiskha.wp.com

Cast                 : Park Eun Soo [OC]

                          : Do Kyung Soo [EXO K]

                          : Byun Baekhyun [EXO K]

                          : Wu Yifan/Kris [EXO M]

Support cast : EXO

Genre              : Romance, School Life, family, angst, mistery

Rating            : NC 17 (General)

Length            : Chapter/Threeshoot

Cuap-cuap    : Sebenernya ini FF-nggak ada serem-seremnya sama sekali, tapi karna emang dasar authornya penakut tingkat kecamatan, jadi takut sendiri pas lagi nulis FF ini –. FF ini terinspirasi dari film “SIXTH SENSE”. Meskipun tuh film nggak seserem film horor Asia karena hantunya jarang nongol tapi ceritanya mengharukan sekali#lap ingus. Film lama sih, tapi recomended film dah ini🙂

Maaf kalo FF-nya kacau, nulisnya pas bulan puasa sih. Paling nggak bisa mikir kalo lagi kelaperan#Pingsan. Happy Reading🙂

NB : Ini bukan Horor fanfiction


            Semuanya menjadi panik saat Eun Soo yang berada di posisi puncak tiba-tiba bergerak-gerak tidak seimbang dan terjatuh. Untungnya saat itu teman-temannya bergerak cepat sehingga bisa menangkap Eun Soo. Semuanya bertambah panik saat menemukan Eun Soo tidak sadarkan diri.

            Jihyun, ketua cheerleader berteriak panik meminta tolong pada anak-anak basket yang juga sedang berlatih di lapangan. Mendengar teriakan Jihyun, Kris sang ketua basket segera berlari menuju tempat mereka. Ia sangat terkejut saat melihat Eun Soo yang tergeletak di lantai. Ia segera memeriksa kening Eun Soo, badannya sangat panas dan sekujur tubuhnya berkeringat.

            Tanpa perlu diperintah Kris segera menggendong Eun Soo dan membawanya ke ruang kesehatan.

            “Jangan panik, Eun Soo pasti baik-baik saja.” Seru Jihyun kepada teman-temannya. Semuanya tidak memberi respon, tidak mungkin mereka tidak panik. Eun Soo, tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia selalu bisa menjaga keseimbangannya dengan baik. Lagipula sebelum latihan Eun Soo tampak baik-baik saja, tidak ada yang berbeda darinya. Mereka sangat yakin bahwa Eun Soo sudah menyantap makan siangnya. Tiba-tiba jatuh dan pingsan. Bahkan ia mendadak demam, bagaimana mungkin mereka tidak panik.

            Sesampainya di ruang kesehatan Kris segera membaringkan Eun Soo di atas tempat tidur dibantu oleh Dokter Kang.

            “Apa yang terjadi padanya?” Tanya dokter Kang sambil memeriksa Eun Soo.

            “Dia terjatuh saat latihan cheerleader tadi.” Jawab Kris masih panik.

            “Terjatuh? Tapi sepertinya tidak ada luka sama sekali. Dia demam. Mungkin karena demam daya tahan tubuhnya menurun.”

            “Anio, tadi sebelum latihan dia baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan terserang demam.” Tiba-tiba Jihyun dan yang lainnya sudah berada di ruang kesehatan.

            Dokter Kang terdiam dan menatap Jihyun kaget. Jadi maksudnya adalah Eun Soo demam tepat sesudah ia jatuh? Bagaimana bisa. Dokter Kang merasa ada yang janggal.

            “Baiklah, kalian tunggu saja di luar. Biar aku yang menjaga Eun Soo.”

            “Tapi dokter.—“

            “Kris, kembalilah berlatih, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

            Kris mengangguk pasrah. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu sampai Eun Soo sadar, hanya itu.

            “Astaga Kris! bukankah sudah aku katakan kau tidak usah khawatir. Eun Soo baik-baik saja.” Dokter Kang mengangkat kepalanya dan terkejut saat mendapati ternyata bukan Kris yang masuk ke dalam ruang kesehatan melainkan Kyung Soo.

            “Eun Soo belum sadar?” Tanya Kyung Soo sambil melirik ke belakang Dokter Kang.

            “Kyung Soo? Ahh, belum. Tapi tidak usah khawatir dia baik-baik saja, pasti sebentar lagi dia sadar.” Jawab Dokter Kang sambil tersenyum.

            “Boleh aku melihatnya?”

            Dokter Kang menatap Kyung Soo jengkel. “Aku tidak akan berisik.” Jawab Kyung Soo cepat. Dokter Kang sangat tidak suka jika siswa yang sedang beristirahat dikunjungi.

            “Baiklah, kalau aku mendengar suara berisik sedikit saja, kau langsung ku usir.” Tegas Dokter Kang.

            Kyung Soo menggangguk-angguk bahagia. Ia berjalan perlahan dan menyingkap tirai penutup tempat Eun Soo sedang berbaring. Dengan sangat perlahan Kyung Soo menarik kursi, meletakkan buku-bukunya di atas meja kecil di samping tempat tidur dan duduk di samping tempat tidur Eun Soo.

            Kyung Soo menatap Eun Soo khawatir. Ia berharap teman sekelasnya itu cepat sadar dan tidak menderita demam yang parah. Hampir setengah jam Kyung Soo menunggu Eun Soo, tapi Eun Soo belum juga sadarkan diri. Kyung Soo menjadi panik dan memutuskan untuk memanggil Dokter Kang sebelum akhirnya ia melihat Eun Soo mulai membuka matanya perlahan.

            Eun Soo memperhatikan sekitarnya dengan takut dan memaksakan diri untuk duduk sehingga ia merasa sangat pusing. Kyung Soo segera membantu Eun Soo untuk kembali berbaring namun Eun Soo tetap memaksa untuk duduk.

            “Kau pasti masih sangat pusing, berbaring saja dulu.” Ujar Kyung Soo.

            Eun Soo yang baru menyadari keberadaan Kyung Soo menoleh dengan cepat dan menatap Kyung Soo dengan takut. “Kyung Soo?” Tanya Eun Soo. Ia tiba-tiba menangis. Kyung Soo menjadi semakin panik.

            “Kau tidak akan meninggalkan aku sendirian kan?” Eun Soo mencengkeram erat pundak Kyung Soo.

            Kyung Soo mengangguk, tanpa perlu diminta pun ia tidak akan pernah meninggalkan Eun Soo. Mungkin selama ini Eun Soo tidak sadar bahwa Kyung Soo diam-diam selalu memperhatikannya.

            Mendengar keributan, Dokter Kang segera masuk dan langsung tersenyum saat melihat Eun Soo telah sadarkan diri.

            “Kau baik-baik saja?” Dokter Kang segera memeriksa suhu tubuh Eun Soo, panasnya masih belum turun.

            “Dokter Kang, aku tidak sakit.”

            “Kau demam Eun Soo.”

            “Aku, aku mendengar seseorang berbisik saat tadi aku sedang latihan.” Eun Soo menjadi panik.

            “Tenanglah Eun Soo, kau hanya demam. Pikiranmu belum jernih.”

            Eun Soo menatap Kyung Soo, memohon agar Kyung Soo mempercayainya. Kyung Soo tersenyum. “Aku akan mengantarkanmu pulang.” Ujar Kyung Soo lembut.

            Eun Soo mendesah, ia bahkan tidak benar-benar mempercayai apa yang tadi didengarnya. Eun Soo merasa usapan lembut di puncak kepalanya, ternyata Kyung Soo sedang merapikan rambutnya.

 Eun Soo memperhatikan gerak-gerik teman sekelasnya itu. Mereka tidak dekat, di kelas hanya berbicara seperlunya saja. Kyung Soo orang yang sangat pendiam dan terlalu menutup diri. Ia hanya mau bergaul dengan buku-buku dan beberapa teman kutu buku lainnya. Mungkin jika mereka bukan teman sekelas, Eun Soo tidak akan pernah mengetahui wajah sang juara umum tersebut.

            “Aku benar-benar yakin kalau ada yang berbisik padaku.”

            “Eun Soo, aku rasa kau belum terlalu sehat.”

            “Kris, kau tidak percaya padaku?”

            “Eun Soo, anggaplah yang kau katakan itu adalah benar, lantas siapa yang melakukannya? Kau berada di posisi puncak, siapa pula yang berbisik padamu, Eun Soo?”

            “Terserah padamu sajalah.” Kesal Eun Soo sambil meninggalkan Kris. Ia akui ia memang belum percaya terhadap apa yang menimpanya semalam. Ia membenarkan kata-kata Kris, siapa pula yang berbisik padanya dalam posisi seperti itu. Tapi ia yakin, suaranya begitu jelas, bahkan ia bisa merasakan hembusan napas orang yang berbisik padanya.

            Eun Soo masuk ke dalam toilet. Ia membasuh wajahnya di wastafel. Ia merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia mendongak dan mendapati tidak ada bayangan apapun di kaca. Eun Soo mengabaikannya, berpikir mungkin hanya perasaannya saja ada yang menepuk pundaknya. Baru saja Eun Soo akan membasuh wajahnya lagi saat ia merasakan pundaknya kembali ditepuk. Dengan cepat Eun Soo segera menoleh dan mendapati seorang gadis berwajah pucat berdiri di sampingnya.

            “Aaaaaaaaa!” Refleks Eun Soo berteriak melihat seorang gadis berwajah pucat yang tidak dikenalnya sedang menatapnya. Ia menutup mata, berharap gadis berwajah pucat itu segera pergi. Kemudian ia mendengar langkah kaki yang mendekat, Eun Soo semakin panik.

            “Eun Soo, gwencahana?”

            Eun Soo buru-buru membuka mata karena mengenal suara orang yang berbicara padanya. Jihyun kini sudah berdiri di depannya. Eun Soo menghela napas lega, namun kemudian ia kembali melihat gadis berwajah pucat itu berdiri tepat di belakang Jihyun.

            “Jihyun awas!” Eun Soo menarik Jihyun.

            Jihyun menjadi panik saat tiba-tiba Eun Soo menariknya. “Wae?” Tanya Jihyun setengah berteriak karena kaget.

            “Kau tidak melihatnya?” Tanya Eun Soo sambil menunjuk gadis berwajah pucat itu. Gadis itu tersenyum sedih melihat Eun Soo yang begitu histeris, dan kemudian berjalan mendekati Eun Soo perlahan.

            “Kau tidak melihatnya?” Teriak Eun Soo saat gadis berwajah pucat itu semakin dekat dengannya. Saat gadis berwajah pucat itu sampai di samping Eun Soo, ia berbisik. “Tolong.”

            “Pergi! Pergi kau! Pergi.” Histeris Eun Soo sambil memeluk Jihyun yang hanya bisa tercengang melihat tingkah temannya itu.

            “Apa kau menyuruhku pergi?” Tanya Jihyun takut. Ia merasa temannya ini tidak waras.

            Setelah gadis berwajah pucat itu menghilang, Eun Soo melepaskan pelukannya. “Kau benar-benar tidak melihatnya?”

            Jihyun melihat ke sekeliling. “Siapa? Hanya ada kita berdua di sini Eun Soo.”

            Eun Soo menatap Jihyun tidak percaya. Bagaimana mungkin hanya dia saja yang bisa melihat gadis berwajah pucat itu. Eun Soo merasa kepalanya pusing dan tanpa berkata apa-apa lagi segera berlari ke luar toilet.

            “Eun Soo.” Seseorang memanggil Eun Soo namun Eun Soo mengabaikannya. Saat ini yang ingin ia lakukan hanyalah berlari dan berlari. Hanya itu.

            “Eun Soo, gwenchana?” Panik Kyung Soo sambil menahan lengan Eun Soo. “Tadi aku mendengar kau berteriak di toilet. Apa ada masalah?”

            Eun Soo baru saja akan menceritakan apa yang ia lihat pada Kyung Soo, tapi ia mengurungkannya. Jihyun saja yang berada di toilet tidak mempercayainya apalagi Kyung Soo yang tidak berada di sana. Ia tidak terlalu akrab dengan Kyung Soo, jadi ia juga terlalu malas harus berdebat dengan Kyung Soo nantinya karena Kyung Soo tidak mempercayai ceritanya.

            “Ani, tidak apa-apa.” Eun Soo segera menghempaskan tangan Kyung Soo dan pergi. “Pasti semua orang akan berpikir kalau aku tidak waras.” Batin Eun Soo.

            Biasanya Kris akan meminta Eun Soo untuk pulang bersama, tapi hari ini ia memutuskan untuk pulang sendiri. Ia butuh menyendiri untuk menenangkan diri.

            Eun Soo duduk di halte sendirian, jika siang seperti ini halte memang selalu sepi.

            “Menunggu bus?” Eun Soo kaget dan dengan refleks berdiri, berpikir bahwa kali ini hantu tadi muncul lagi.

            “Apa aku begitu menakutkan?”

            Eun Soo mundur secara perlahan, ia benar-benar takut bahwa laki-laki tersebut tidaklah nyata.

            “Hey, kau membuatku tersinggung. Kau menatapku seperti melihat hantu saja.” Ujar laki-laki itu sambil tersenyum.

Melihat Eun Soo yang masih menatapnya takut, laki-laki itu buru-buru menambakan. “Mana ada hantu muncul siang bolong seperti ini.” Tambah laki-laki itu lagi.

            “Ada, tadi aku baru saja bertemu dengannya.” Gumam Eun Soo dalam hati.

            “Ya Tuhan! Aku ini manusia. Namaku Byun Baekhyun.” Laki-laki itu menarik-narik wajahnya untuk meyakinkan Eun Soo.

            Eun Soo menggeleng-gelengkan kepala, merasa bodoh atas tindakannya sendiri. Bagaimana mungkin hanya karena kejadian di toilet tadi pagi membuatnya tidak bisa membedakan mana hantu dan manusia. Byun Baekhyun jelas tidak berwajah menyeramkan seperti gadis di toilet tadi.

            Eun Soo akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempatnya, ia memutuskan untuk diam, tidak mau memulai obrolan dengan laki-laki yang mengaku bernama Byun Baekhyun itu.

            “Apa kau tidak punya nama?” Baekhyun memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Eun Soo dengan jelas.

            Eun Soo masih diam, tidak mempedulikan celotehan Baekhyun. “Ooh, Park Eun Soo.” Kata Baekhyun lagi.

            Eun Soo melirik badge namenya, ia menggerutu. Benda ini tidak seharusnya dipakai di luar sekolah.

            “Aku bersekolah di SMA Yonggi.”

            “Lantas apa peduliku?” Kesal Eun Soo di dalam hati.

            “Apakah kau murid kelas tiga juga?”

            “Apa kau tidak bisa diam?” Kesal Eun Soo akhirnya, ia pusing mendengar Baekhyun yang terus berceloteh tanpa henti.

            “Mianhe, habisnya kau terlihat sangat kesal, jadi aku hanya ingin menghiburmu.”

            “Menghibur katamu? Kau justru semakin membuatku kesal!”

            “Kalau ada masalah cerita saja padaku.” Baekhyun tersenyum lembut, persis seperti saat Kyung Soo menenangkannya tempo hari.

            “Kau tidak sadar kalau kau itu orang asing bagiku?” Gerutu Eun Soo.

            “Kalau orang asing ini ingin mendengarkan ceritamu, tidak apa-apa kan?” Lagi-lagi Baekhyun tertawa.

            Eun Soo tertegun, saat ini ia memang membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan ceritanya dan mempercayainya. Ia tidak peduli siapapun orangnya,  ia merasa benar-benar harus membagi masalahnya pada orang lain, karena kalau tidak, mungkin dalam hitungan minggu orang tuanya akan memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Jika Baekhyun mau mendengarkan ceritanya mungkin akan sedikit membuatnya lega.

            Eun Soo pun memutuskan untuk menceritakan apa yang ia alami saat sedang berlatih cheer dan juga kejadian di toilet tadi pagi. Baekhyun mendengarkannya dengan saksama, tidak pernah menyela sekalipun dan bersikap seolah apa yang telah dialami oleh Eun Soo adalah hal yang biasa.

            “Mungkin kau memiliki Sixth Sense.” Ujar Baekhyun saat Eun Soo selesai bercerita.

            “Maksudmu aku memiliki indera keenam?” Tanya Eun Soo.

            “Yup! Aku rasa orang yang berbisik padamu itu adalah gadis yang menemuimu tadi pagi.”

            “Hey, hey, jangan menggunakan kata ‘menemui’, kesannya kami sangat akrab.” Gerutu Eun Soo.

            “Mungkin tanpa sengaja kau telah mengusiknya.” Tutur Baekhyun. “Bukankah biasanya orang-orang yang diganggu oleh makhluk halus selalu karena alasan seperti itu?”

            “Rasanya aku tidak melakukan sesuatu yang salah.”

            “Mungkin kau tidak menyadarinya.”

            “Anio, aku yakin kalau aku tidak melakukan apapun yang aneh-aneh.” Eun Soo bersi keras.

            Baekhyun terkekeh. Baru beberapa menit yang lalu Eun Soo bersikap begitu acuh padanya, tapi sekarang Eun Soo menjadi lebih cerewet dari dirinya. “Hey, busmu datang!” Seru Baekhyun saat melihat bus menuju halte.

            Eun Soo berdiri. “Kau tidak naik?” Tanya Eun Soo saat melihat Baekhyun masih duduk.

            “Ani, aku harus pergi les dulu.” Jawab Baekhyun santai.

            “Arassso. Aku pulang dulu.” Pamit Eun Soo sambil tersenyum. “Jangan terlalu memaksakan diri untuk belajar, nanti kau bisa sakit.”

            “Kata-kamu seperti nenek-nenek saja. Besok aku tunggu kau di sini ya.” Tawa Baekhyun.

            Eun Soo hanya tersenyum sekilas dan masuk ke dalam bus.

            Bicara? Apakah dengan berbicara dengannya hantu itu akan berhenti mengganguku? Sixth Sense? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang kalau aku punya kemampuan seperti itu? Menyusahkan saja. Batin Eun Soo.

            Kris menyeruput minumannya sampai habis. Setelah menghabiskan minumannya ia memfokuskan diri lagi pada Jihyun, Chanyeol dan Suho.

            “Tidakkah kalian merasa kalau akhir-akhir ini Eun Soo bersikap semakin aneh?”

            “Benar, benar. Kejadian di toilet waktu itu benar-benar membuatku shock, dia terus berteriak histeris. Bahkan dia menyuruhku pergi di saat ia masih memelukku. Apa jangan-jangan ini efek dari terjatuh beberapa hari yang lalu.” Jawab Jihyun.

            “Aku perhatikan dia juga sering tiba-tiba merasa takut.” Tambah Suho.

            “Aku jadi ragu untuk menyatakan perasaanku padanya, ia terlalu aneh.” Ujar Kris lagi.

            “Aku juga jadi takut dekat-dekat dengannya, dia sangat aneh.” Jihyun bergidik ngeri.

            “Bukankah akhir-akhir ini Kyung Soo selalu mendekatinya? Jangan-jangan Eun Soo menjadi aneh karena dekat-dekat dengan si kutu buku itu.” Chanyeol memperbaiki posisi duduknya.

            “Bisa jadi.” Jawab Suho.

            “Sial, sudah kuduga pasti orang-orang menganggapku aneh. Mereka mulai meragukan kewarasanku. Andai mereka bisa sedikit saja mempercayaiku pasti tidak akan serumit sekarang. Tapi siapa pula yang mau mempercayai ceritaku. Kris, aku tidak menyangka kau hanya menilaiku dari luar, dan Jihyun? Kau takut berdekatan denganku? Sudah berapa lama kita berteman? Sial! Kyung Soo? Astaga, kenapa mereka juga membawa-bawa Kyung Soo. Dia tidak mendekatiku, hanya saja mungkin akhir-akhir ini kami lebih sering berkomunikasi dari sebelumnya. Cih, teman macam apa mereka.”

Eun Soo yang tidak sengaja mendengar obrolan teman-temannya itu merasa dikhianati. Apakah ini yang dinamakan teman? Seharusnya mereka tidak membicarakan yang buruk-buruk di belakangku, seharusnya jika keadaanku sedang seperti ini mereka memberikan dukungan padaku. Eun Soo semakin kesal karna ternyata dengan begitu mudahnya Kris berhenti menyukainya.

            Eun Soo menimbang-nimbang apa yang dikatakan Baekhyun tempo hari. Ia tidak pernah tahu kalau ia memiliki kemampuan itu. Orang tuanya juga tidak pernah bercerita apa-apa padanya. Bahkan selama ini ia tidak pernah melihat makhluk-makhluk halus. Gangguan pertama berawal dari bisikan dan gadis di toilet. Hanya itu, dan sekarang tiba-tiba ia harus menerima kenyataan bahwa ia memiliki kemampuan seperti itu, rasanya seperti tidak nyata.

            Setelah mengumpulkan keberanian, Eun Soo memutuskan untuk ke gedung olahraga sendirian. Banyak gosip yang mengatakan bahwa gedung tersebut banyak penunggunya. Selama ini Eun Soo tidak berani ke gedung itu sendirian, ia akan selalu meminta Jihyun untuk menemaninya. Tapi kali ini ia merasa harus membuktikan bahwa ia memang memiliki kemampuan tersebut. Jika ia tidak melihat apa-apa, maka bisikan dan kejadian di toilet hanyalah kebetulan atau mungkin hantu itu yang sengaja memperlihatkan wujudnya kepadanya. Bukan karena ia memiliki indera keenam.

            Eun Soo berjalan perlahan masuk ke dalam gedung olahraga. Suasanya begitu sepi, ia berjalan berkeliling mencari sesosok hantu yang bisa membuktikan kebenaran indera keenamnya. Eun Soo tercekat saat melihat sesosok bayangan hitam di ujung ruangan. Itu bukanlah gadis di toilet waktu itu. Entahlah, tapi ia seperti sesosok bocah berpakaian olahraga.

            Eun Soo menahan napas, dadanya terasa sesak. Ternyata ia memang tidak cukup berani untuk membuktikannya seorang diri. Eun Soo segera berbalik dan berteriak histeris saat gadis di toilet waktu itu sudah berdiri di hadapannya. Eun Soo ingin berlari tapi ia sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Rasanya ia ingin pingsan saja, berharap setelah terbangun semuanya akan baik-baik saja.

            “Kau masih takut padaku?” Tanya Gadis berwajah pucat itu.

            Eun Soo tersengal-sengal. Oh, hantu itu berbicara lagi padanya. Eun Soo panik, apakah ia harus menjawab pertanyaan hantu itu.

            “Aku tidak akan menyakitimu. Pergilah jika kau ingin pergi.” Gadis itu tiba-tiba berbalik meninggalkan Eun Soo.

            Eun Soo tidak mengerti pada dirinya sendiri, hati kecilnya memaksanya untuk tidak pergi. Ia yakin bahwa gadis itu sedang butuh pertolongan. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Eun Soo berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya.

            “Kau butuh bantuanku?” Tanya Eun Soo hampir tidak terdengar.

            Gadis itu segera berbalik dan menatap Eun Soo penuh terima kasih. Ia yakin bahwa Eun Soo akan membantunya. Mungkin Eun Soo baru menyadari kemampuan yang ia miliki, tapi ia yakin Eun Soo pasti bisa menyelesaikan masalahnya.

            Kyung Soo memperhatikan Eun Soo yang baru saja masuk ke dalam kelas. Tidak seperti hari-hari sebelumnya saat Eun Soo sedang sakit, sekarang Eun Soo terlihat lebih santai dari biasanya.

            Kyung Soo masih terus memperhatikan Eun Soo yang sedang sibuk mengeluarkan alat-alat tulisnya dari dalam tas. Tidak lama setelah itu guru matematika mereka masuk, suasana kelas yang tadinya berisik langsung hening karena kedatangan guru killer itu.

            Saat pelajaran sedang berlangsung, lagi-lagi Kyung Soo memperhatikan Eun Soo. Ia khawatir karena sejak insiden jatuhnya Eun Soo, ia jadi bersikap sedikit aneh. Eun Soo juga jadi jarang sekali berkumpul bersama teman-temannya. Ia merasa Eun Soo mulai dijauhi oleh teman-temannya.

            Eun Soo tampak sibuk dengan catatannya, entah ia sedang mencatat apa. Setahu Kyung Soo, Eun Soo sangat lemah dipelajaran matematika. Gadis itu juga sama sekali tidak tertarik pada matematika. Ia jarang sekali memperhatikan kelas matematika. Melihat Eun Soo yang sibuk dengan catatannya tentu ia tidak sedang mencatat ocehan guru matematika killer itu.

            Tiba-tiba Eun Soo menegakkan kepala dan menoleh ke belakang, Kyung Soo menjadi panik dan langsung berpura-pura mencatat. Karena terlalu panik, Kyung Soo sampai menjatuhkan buku paketnya. Saat memungut bukunya, Kyung Soo merasa Eun Soo sedang melihat ke arahnya dan gadis itu tengah tersenyum. Kyung Soo semakin panik, ia takut ketahuan sedang memperhatikan Eun Soo.

            Kyung Soo terkejut saat melihat Eun Soo yang sudah berdiri di depan mejanya. Di saat yang bersamaan ia juga merasa senang karena gadis itu mendatanginya. Melihat Eun Soo yang tersenyum padanya membuat Kyung Soo ikut tersenyum. Ia selalu tersenyum secara diam-diam ketika sedang memperhatikan Eun Soo dan kini ketika ia diberi kesempatan untuk tersenyum secara terang-terangan tentu menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya.

            “Kyung Soo.” Eun Soo tersenyum canggung. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, ia hanya berbicara pada Kyung Soo seadanya aja. Bukan karena Eun Soo yang sombong tapi karena Kyung Soo yang terlalu pendiam.

            “Nee.” Kyung Soo menyimpan bukunya di dalam laci, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berbicara dengan Eun Soo.

            “Katanya kau pintar memasak ya?”

            Kyung Soo diam, yang tahu bahwa ia bisa memasak hanyalah teman-teman dekatnya saja. Itu karena ketika mereka belajar bersama selalu Kyung Soo yang menyiapkan makanan untuk mereka. Kyung Soo pun hanya menjawabnya dengan anggukan pelan. Ia belum bisa menduga apa yang diinginkan Eun Soo darinya.

            “Kau bisa memasak bibimbap?

            Kyung Soo mengangguk lagi.

            “Bagus! Bisakah kau membantuku membuat bibimbap?” Eun Soo bersorak bahagia.

            “Bwooo?” Kyung Soo tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Eun Soo meminta tolong padanya untuk membuat bibimbap, harus dengan cara apa ia mengekspresikan rasa senangnya.

            “Tolonglah Kyung Soo, aku mohon bantu aku.” Eun Soo mengatupkan kedua tangannya,  khawatir Kyung Soo tidak mau membantunya.

            “Tentu saja aku bersedia membantumu.” Kyung Soo tersenyum pada Eun Soo. Tidak perlu diminta dua kali pun ia akan dengan senang hati menolong Eun Soo, gadis yang disukainya.

 To Be continued

4 comments

  1. yungsoosgilrl · September 6, 2012

    Seru!!dio is my biased moga aja akhirnya happy ending ya ga kaya a painful marriage jarang”neh temanya mistery gini exo lg cast nya can’t wait next part
    ^^

    • idolfanfiction · September 6, 2012

      Kakaka, karena genrenya juga angst kemungkinan sad ending sangat besar#Plaaak
      Ditunggu part selanjutnya ya😄

  2. Song So Hyun · January 23, 2013

    Nice story..🙂
    Langsung baca part selanjutnya y..

  3. shinji · February 14, 2014

    next part

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s