Only Tears [Part 1]

Title : Only Tears
Author : Ichen Aoi
Cast : Lee Donghae Super Junior, Kim Seoyeon, Luhan EXO M
Sequel : Dormitory High School, Domus Aurea Romance and another story of Aurea Love
Rating : General
Note : Sekuel ke-3. Sekuel lain dari trilogi of AUREA. Kalau Aurea Love menceritakan bagaimana kehidupan seorang Lee Myunghae, putra dari pasangan Donghae-Seoyeon. Only Tears adalah kebalikannya. Bagaimana kalau… Lee Myunghae tidak pernah dilahirkan…

Only Tears
By Ichen Aoi (Kim Aoi)

Ini sudah 6 hari Seoyeon berbaring dirumah sakit sambil menatap langit – langit ruang rawatnya dengan tatapan kosong. Matanya sedikit membengkak karena sibuk menangis sejak kehilangan anak dalam kandungannya. Jiwanya seolah kabur dan tidak ingin lagi berada dalam raga yang membuatnya terus menyalahkan dirinya sendiri.

Flashback
Seoyeon mendengar ada suara piano yang merdu diruang tengah. Ia langsung berjalan dengan susah payah sambil menuruni setiap anak tangga dengan perlahan dan hati – hati. Sesekali ia mengusap perutnya yang membesar sambil tersenyum. Ia melirik kearah ruang tengah dan mendapati Chunji sedang memainkan piano dengan alunan nada yang lembut.

“Chunji –a!” panggil Seoyeon dengan antusias.

Rasanya ia sudah lama tidak melihat hoobae yang kini telah menjadi adik ipar –nya. Chunji langsung menoleh dengan cepat dan terkejut melihat Seoyeon yang berdiri didasar anak tangga. Ia langsung bergerak cepat untuk membantu Seoyeon berjalan.

“Kenapa bangun? Hyung bilang noona sedang tidur dan aku diminta datang untuk menjaga mu. sejujurnya kalau aku jadi dia aku tidak akan menitipkan istri ku pada orang yang pernah nyaris merebut istri ku dari ku” jelas Chunji panjang lebar sambil membantu Seoyeon agar duduk dikursi yanga da didekat piano.
Mendengar hal itu, Seoyeon malah tertawa kecil lalu mengusap kepala Chunji dengan tatapan yang lembut.
“Dia itu hyung mu. Dia itu orang baik. Dan mungkin karena alasan yang kau bilang tadi makanya ia percaya pada mu. Karena kau tidak akan menyakiti ku”
“Bagaimana kalau aku menculik mu?”
“Ku rasa tidak akan mungkin. Karena kau sendiri yang menyerahkan ku padanya”

Chunji menghela nafas pasrah lalu menggelengkan kepalanya dengan sedikit kesal. Ia kesal karena Seoyeon benar dan jika Donghae memang berfikiran seperti itu, berarti Donghae juga benar. Tampaknya ia memang ditakdirkan untuk selalu kalah dari pasangan itu.

“Annyeong! Ah! Kebetulan sekali! Chunji, eomma mu meminta ku untuk membawa barang – barang mu dan aku sudah memasukkannya kedalam bagasi mobil. Apa kau akan berangkat hari ini?”

Donghae yang tiba – tiba saja datang langsung berbicara panjang lebar sambil melepaskan dasinya dan melemparnya ke sofa lalu mendekati Seoyeon dan mengecup singkat dahi wanita itu. Chunji langsung menggelengkan kepalanya, mereka berdua senang sekali membuat hal – hal romantis didepan dirinya.

“Ne hyung. Aku sudah menelepon Sooyoung noona untuk kelengkapan berkas ku dan tiket pesawat ku. kalau begitu aku pamitan ya. Dan untuk Seoyeon noona, ku harap ketika kita bertemu lagi nanti anak mu sudah besar sehingga kita bisa melarikan diri bersama dari manusia merepotkan yang entah kenapa menjadi suami mu ini”

Donghae langsung membuat kerucut kecil pada bibirnya sedangkan Seoyeon hanya tertawa. Chunji langsung menepuk bahu Donghae pelan dan tersenyum, memberikan kode dengan matanya agar namja itu bisa menjaga Seoyeon dengan baik. Donghae membalas dengan anggukan pasti.

“Oppa, kenapa kita tidak ikut mengantar saja?”
“Tapi kau kan…”
“Aish… Aku kan hanya mengandung bukan lumpuh! Kajja!”

Seoyeon langsung menggandeng keduanya menuju parkiran. Sang supir pun membawa mereka ke bandara Incheon. Pada akhirnya Chunji berangkat dengan tersenyum dan berharap ia bisa menemukan kehidupan barunya yang bisa membuatnya melupakan masalah perasaannya belakangan ini. Donghae melirik kearah Seoyeon sejenak.

“Kau…”
“Ya, aku seidh dan merasa kehilangan. Oppa tahu? Chunji, Niel dan Youngmin sudah seperti adik ku sendiri. Sekarang mereka bertiga pergi. Biasanya Mereka akan datang ketika kau kekantor dan menceritakan banyak hal – hal lucu, menarik dan aneh. Sekarang… Hanya ada televisi?”
“Mian, aku membuat mu kesepian”
“Tidak apa. Aku mengerti. Jangan dipikirkan, yang penting lakukan yang terbaik lalu buat aku dan Donghae kecil bangga”

Donghae tersenyum kecil lalu mengusap kepala Seoyeon dengan gemas. Seoyeon langsung menyingkirkan tangan besar Donghae yang bisa saja mengacak tataan rambutnya yang sudah ia ikat dengan susah payah. Seoyeon melangkah lebih dulu didepan Donghae, ia tidak ingin lelaki itu melakukan hal menjengkelkan yang lainnya.

“Seo! Perhatikan langkah mu!” ucap Donghae agak kencang sambil tersneyum menatap Seoyeon yang masih seperti anak kecil. Entah sejak kapan yeoja itu berubah menjadi manja begini.

“KYAAA!!”
“SEO!!”

Donghae langsung berlari dengan cepat untuk menolong Seoyeon yang terjatuh. Darah mengalir dengan deras sedangkan Seoyeon mulai memucat menahan sakit namun ia berusaha untuk tidak panik. Orang – orang yang berada disekitar mereka dan petugas bandara langsung membantu Donghae untuk membawa Seoyeon kerumah sakit.

Beberapa jam dirumah sakit tampaknya sudah membuat Donghae cukup stres. Ia menunggu dokter keluar dari ruang tempat Seoyeon berada. Pikirannya sangat kacau. Dokter dengan jubah putih keluar sambil menatap Donghae dengan penuh keprihatinan.

“Dok? Bagaimana istri dan anak saya?”
“Istri anda selamat namun ia kehilangan banyak darah. Sedangkan anak anda… Mohon maaf pak, tapi kami sudah berusaha, namun benturannya sangat kuat sehingga menyebabkan keguguran”

Dokter itu membungkuk sesaat untuk berpamitan sedangkan Donghae masih terpaku ditempatnya. Kristal bening mengalir dari pelupuk matanya. Ia menangis.

“Aku tidak bisa menjaga keduanya”

Donghae menatap kedalam lewat akca kecil pada pintu itu. Ia bisa melihat Seoyeon masih memejamkan matanya dengan wajah yang pucat. Donghae memutar kenop pintu itu lalu masuk dan menggenggam tangan Seoyeon yang dingin. Yeoja itu berusaha membuka matanya dengan perlahan.

“Oppa, dimana anak kita”
“Sudahlah Seoyeon –a, lebih baik kau istirahat dulu. Jangan pikirkan hal yang lain”
“Oppa… Apa… Apa aku membunuh anak ku sendiri?”
“Kau tidak membunuh siapapun, itu hanya kecelakaan”
“tidak… Aku… tidak mungkin… Oppa!! Katakan kalau itu bohong katakan ini hanya mimpi”
“Tenanglah Jagiya, aku bersama mu”

Seoyeon menangis dengan kencang didalam pelukkan Donghae. Namja itu terus berusaha menenangkan istrinya sedangkan ia sendiri sedang meneteskan air matanya, tanpa suara.
Flashback End.

*cklek*

Pintu ruang rawatnya terbuka dan seorang dokter tinggi yang tampan masuk dengan jubah dokter putihnya yang sedikit melambai karena terayun langkah kakinya. Sebuah nametag tertempel rapi didada kirinya dan bertuliskan ‘Kim Hyun Joong’. Ia tersenyum lalu mengambil kursi dan duduk disamping tempat tidur rawat Seoyeon. Ia menatap wanita itu dalam.

“Bagaimana keadaan mu hari ini? Aku dokter yang menangani mu”

Seoyeon menghela nafas sejenak lalu memilih diam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hyun Joong bisa melihat tatapan kepedihan dan kekosongan pada bola mata cokelat wanita itu.

“Aku tahu kau terguncang. Sangat terguncang dan tidak mungkin baik – baik saja” lanjutnya lagi, berusaha membuat Seoyeon bicara. Seoyeon tampaknya tidak peduli. Ia masih bisa merasakan rasa sakit pada perutnya.

“Ok. Aku tahu kau tidak ingin bicara. Setidaknya untuk saat ini. Aku hanya akan mengenalkan mu pada dokter penanggung jawab mu. bukan karena aku tidak bertanggung jawab dan melepaskan mu, namun psikologi bukan keahlian ku”

Seoyeon menarik nafas dalam lalau menatap dokter itu.
“Tidak perlu, aku baik – baik saja”
“Tidak jika dengan keadaan seperti ini” lanjut Hyun Joong sambil tersenyum dan mengacak rambut panjang Seoyeon yang dibiarkan tergerai indah.

*cklek!*

“Ehm.. Mianhamnida aku terlambat”

Seorang dokter muda lainnya masuk dengan terburu – buru dan nafas yang sedikit tersenggal – senggal. Hyun Joong menggelengkan kepalanya lalu memberikan kode pada lelaki itu untuk mendekat.

“Perkenalkan diri mu pada pasien mu!”
“Ne hyung!”

Lelaki itu tersenyum seperti anak kecil. Tidak, wajahnya juga seperti anak kecil. Ia benar – benar tidak pantas berada didalam balutan seragam seorang dokter dengan wajah pelajar SMP seperti itu.

“Aku tidak mau ditangani oleh dokter praktek apalagi seorang anak sekolahan” tolak Seoyeon sambil memandangi dokter muda itu yang kini tampak canggung. Hyun Joong sendiri sedang berusaha menahan tawanya, ia sudah terbiasa mendengar hoobaenya diragukan dan dianggap anak kecil oleh pasien – pasien disana.

“Kau salah, biarkan dia bicara Seoyeon –a”

Hyun Joong menatap Seoyeon, meminta pengertiannya. Seoyeon hanya mengangguk pelan lalu memandang lelaki asing dihadapannya dengan tidak berminat.

“Eh, perkenalkan aku Luhan. Aku baru setahun dirumah sakit ini dan usia ku… 22 tahun”

Seoyeon langsung membulatkan matanya dan menatap dengan tidak percaya. Bahkan lelaki asing didepannya ini hanya 2 tahun lebih tua di atasnya bukan lebih muda darinya.

“Kau…”
“Hhaa.. Ia lebih tua 2 tahun dari mu Nyonya Lee. Kau bisa memanggilnya oppa, seperti kau memanggil Donghae”
“Donghae? Dimana dia?”

Seoyeon kembali teringat suaminya dan ia belum menjumpainya seharian ini. Seharusnya Donghae sudah datang untuk menjengguknya sejam yang lalu.

“Dia tadi menitipkan pesan pada ku, dia akan terlambat karena urusan kantor”
“Aku mengerti” ucap Seoyeon pelan.

Luhan memandangi wanita itu sambil mengerutkan dahinya. Ia sudah dengar semua permasalahannya dari Hyun Joong, sunbaenya yang kelewat disiplin itu. Namun selama ini ia membayangkan sosok istri dari seorang pengusaha besar merupakan seorang wanita glamor yang galak dan suka memerintah seenaknya. Ternyata dugaannya salah. Seoyeon lebih diam dan tidak mengajukan banyak protes kecuali masalah usia yang tadi.
Hyun Joong emmandangi Luhan dan Seoyeon bergantian. Luhan masih tampak fokus memandangi wanita itu sedangkan Seoyeon menunduk dalam diamnya.

“Ok, aku akan meninggalkan kalian berdua karena masih banyak yang harus aku urus”

Hyun Joong berdiri lalu ia berbisik pelan pada Luhan.

“Kau harus hati – hati. Dia istri pengusaha Lee. Jangan sampai kau mempunyai semacam perasaan yang aneh – aneh, meski aku akui dia cantik”

Hyun Joong selesai bciara lalu menepuk bahu Luhan pelan sedangkan Luhan yang terkejut dengan pernyataan sunbae –nya barusan langsung tersadar dan meringis. Ia tidak mungkin menyukai seorang wanita yang sudah memiliki suami. Setidaknya begitu.

… TBC

5 comments

  1. Salma_HaeGirl · September 11, 2012

    Wow keren thor🙂
    gk sabar next nya
    itu luhan nanti jri org ketiga ya?!
    Trus gimana nanti nasib seoyeon sama hae..mereka akan punya baby lagi gk?
    Next ditunggu thor🙂

  2. haebin · September 11, 2012

    always short ff kekeke.tpi itu kelebihanmu.ceritanya laen dripda yg laen.fighting ditgg part selanjutnya

  3. Laeylia Rianichi · September 11, 2012

    I like this FF,DAEBAK admin.. I think the baby face is SONG JONG KI…eh LUHAN…
    waiting next the story thor…don’t take too long..Oke?
    Admin AOI daebak

  4. nindya fristalia-cm · September 11, 2012

    Huah.. Ak tunggu lanjutannya ~ hwaiting !! ^^

  5. Vally · September 12, 2012

    Klau kaya gitu bkalan ada cinta segi3 donk, antara hae, seoyoon, n luhan. Penasaran tingkat dewa

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s