Sixth Sense [Part 2]

Title                 : Sixth Sense [Part 2]

Author           : Siskha Sri Wulandari/@SiskhaSri/ssiskha.wp.com

Cast                 : Park Eun Soo [OC]

                          : Do Kyung Soo [EXO K]

                          : Byun Baekhyun [EXO K]

                          : Wu Yifan/Kris [EXO M]

Support cast  : EXO

Genre              : Romance, School Life, family, angst, mistery

Length            : Chapter/Threeshoot

 

Kyung Soo menoleh ke belakang saat menyadari Eun Soo tidak ada di sampingnya. Ia tersenyum saat melihat Eun Soo yang tertinggal di belakang. Gadis itu sedang berusaha menghindari becek yang ada di mana-mana.

“Kau tidak pernah pergi ke pasar?” Tanya Kyung Soo saat Eun Soo sudah berdiri di sampingnya.

Eun Soo menoleh dengan ekspresi bingung. “Eoh?” Eun Soo memiringkan kepalanya. “Pernah, sepertinya.” Jawab Eun Soo ragu.

“Kapan terakhir kalinya kau ke pasar?” Kyung Soo berusaha menahan tawa.

“Kalau tidak salah ketika aku SMP.”

Kyung Soo ingin tertawa tapi melihat ekspresi Eun Soo yang begitu polos membuatnya tidak enak hati untuk menertawakan gadis itu.

“Kenapa kita tidak membeli bahan-bahannya di mall saja? Tempatnya lebih bersih.”

“Kalau di sini, kita bisa mendapatkan bahan-bahan yang lebih segar, harganya pun jauh lebih murah.” Jawab Kyung Soo tenang. “Juga karena aku ingin lebih lama bersamamu.” Sambungnya di dalam hati.

Eun Soo hanya mengangguk-angguk berpura-pura mengerti. Ia tidak pernah ke dapur kecuali untuk makan dan mencuci piring dan sama sekali tidak pernah memasak. Ia hanya mengerti bagaimana cara makan saja, bahkan ia terkadang tidak tahu masakan apa yang dimasak ibunya. Yang ia pedulikan hanyalah rasanya saja. Ia juga tidak tahu bahan-bahan apa yang digunakan untuk membuat bibimbap.

Mungkin lebih tepatnya ia meminta Kyung Soo untuk membuatkan bibimbap bukan membantunya membuat bibimbap, karena ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya memasak.

“Khaja.” Ajak Kyung Soo.

Eun Soo mengikuti Kyung Soo yang menuju kios sayur. Ia memperhatikan Kyung Soo yang sedang memilah sayuran. Semua sayuran itu tampak sama saja olehnya, tidak ada bedanya. Melihat Kyung Soo yang begitu serius memilah sayur membuat Eun Soo mengerutkan keningnya. “Ck, ternyata sang juara umum memang orang yang benar-benar teliti.” Celetuk Eun Soo.

“Kau bilang apa barusan?”

“Aaa?” Eun Soo cengengesan, ia tidak sadar kalau Kyung Soo bisa mendengar kata-katanya tadi. “Anio, lanjutkan saja memilih sayurannya.” Ujar Eun Soo cepat sambil berpura-pura ikut memilah-milah sayuran juga.

            “Tidak apa-apa memasak di rumahmu?” Eun Soo menjadi ragu saat sudah berada di depan rumah Kyung Soo.

            “Gwenchana, aku lebih suka memasak menggunakan peralatanku sendiri.” Kyung Soo memasukkan kunci rumahnya dan memutar kenop pintu. “Ayo masuk.”

            Eun Soo masuk dengan ragu, ia memperhatikan sekeliling rumah, sangat sepi.

            “Ayah dan ibuku masih di kantor.” Mengerti apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Eun Soo, tanpa perlu ditanya Kyung Soo segera menjelaskannya.

            “Kau anak tunggal?”

            “Anio, adikku tinggal di asrama. Aku ganti baju dulu, tunggu di sini saja ya.” Ujar Kyung Soo sambil menuju ke kamarnya di lantai dua.

            Eun Soo melepaskan tasnya dan duduk di sofa. Ia melihat ke sekeliling dan tertawa sendiri mengingat bahwa saat ini ia sedang berada di rumah seorang Do Kyung Soo. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia pikir ia hanya akan memiliki kenangan sebagai seseorang yang pernah berada di dalam kelas yang sama dengan  Kyung Soo, tidak lebih.

            “Kau yakin dia bisa membantu?”

            Eun Soo menoleh kaget saat mendapati seseorang tiba-tiba berbicara padanya. “Tentu saja, dia sangat pintar memasak. Kau salah karena meminta tolong padaku. Dan tolong jangan pernah muncul secara tiba-tiba lagi.” Gerutu Eun Soo saat gadis berwajah pucat itu secara mendadak muncul.

            “Jika aku tidak muncul secara tiba-tiba, bukan hantu namanya.” Tawa gadis itu. “Tolong akhiri semuanya dengan kisah yang bahagia.”

            “Kau menyembunyikan ini darinya saja sudah membuatnya terluka.”

            Gadis itu diam, ia sengaja merahasiakan semuanya agar tidak membebani kakaknya. Ia ingin kakaknya pergi dalam keadaan tenang dan pulang dalam keadaan tenang juga. Jika harus berakhir dengan perpisahan maka ia ingin memiliki perpisahan yang indah, untuk itu ia berusaha untuk bertahan. Hanya agar bisa mengucapkan selamat tinggal pada orang yang selama 15 tahun ini telah menjadi ayah dan ibu untuknya di saat yang bersamaan. Ia hanya ingin pergi setelah berpamitan dengan kakaknya, ia tidak cukup kuat harus pergi begitu saja. Terlalu menyakitkan.

            Kyung Soo menghentikan langkahnya saat melihat Eun Soo sedang berbicara sendiri. Ia pikir keanehan Eun Soo sudah hilang sejak ia sembuh dari demamnya. Kyung Soo menuruni tangga perlahan dengan ragu. Mungkin hal ini yang membuat Eun Soo dijauhi oleh teman-temannya, termasuk oleh Kris. Mungkin Eun Soo memang berubah, tapi perasaannya tidak akan semudah itu berubah pada Eun Soo.

            “Bukan begitu cara mencuci sayurnya.” Dengan terburu-buru Kyung Soo menuju wastafel. Eun Soo meringis, mencuci sayur saja ia tidak becus. Kyung Soo segera mengambil alih sayuran yang ada di tangan Eun Soo. Eun Soo menggerutu saat melihat gadis berwajah pucat itu menertawainya.

            Tidak beberapa lama setelah itu Kyung Soo meminta Eun Soo untuk memotong bawang dan cabai. Eun Soo memandang bawang-bawang yang ada di hadapannya, ia tidak mengerti dengan model apa ia harus memotong bawang tersebut. Eun Soo melirik Kyung Soo yang sedang mencoba kuah sup jamur yang sedang dimasaknya. Ia mendecak, kesal karena ia terlihat begitu bodoh.

            “Kau juga tidak bisa memotong bawang?” Eun Soo tidak sadar bahwa kini Kyung Soo sedang menatapnya.

            “Ahh, anio. Aku hanya tidak mengerti harus dipotong seperti apa.”

            Kyung Soo tertawa, ia tidak tahu kalau Eun Soo benar-benar tidak tahu pekerjaan dapur.

            “Sini kuajari.” Kyung Soo melangkah menuju tempat Eun Soo dan memegang tangan Eun Soo yang sedang memegang pisau. Sesaat setelah tangannya menyentuh tangan Eun Soo, Kyung Soo merasa jantungnya seperti dipompa. Ia ingin melepasnya, tapi akan terlihat sangat bodoh jika secara tiba-tiba ia melepaskannya.

            Kyung Soo menghela napas, berusaha menghilangkan rasa canggungnya. Ia menuntun Eun Soo perlahan-lahan. Dengan jarak sedekat ini ia bisa mencium harum parfum Eun Soo, seperti aroma bayi. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia bisa sedekat ini dengan Eun Soo.

            “Arrasso, akan aku coba sendiri.”

            Kyung Soo kaget karena mendengar suara Eun Soo, ia pun segera melepaskan tangannya.

            “Kau sama sekali tidak bisa memasak. Kenapa tiba-tiba mau memasak bibimbap dan sup jamur?”

            “Ya, karena aku harus melakukannya.” Eun Soo masih terus memotong bawang tanpa menoleh pada Kyung Soo.

            “Untuk seseorang yang spesial?”

            “Hmm.”

            Saat itu juga Kyung Soo merasa kesal. Ia tahu ia tidak berhak untuk kesal. Tapi saat ini ia benar-benar merasa cemburu.

            “Untuk Kris?” Hanya berbasa-basi, pastilah masakan ini memang untuk Kris.

            “Anio.” Eun Soo masih tidak menoleh pada Kyung Soo.

            Bukan Kris? Jadi siapa? Yang ia tahu hanya Kris yang sedang dekat dengan Eun Soo. Ia tidak tahu kalau Eun Soo sedang dekat dengan laki-laki lain.

            “Jadi siapa?”

            Eun Soo menoleh pada Kyung Soo. “Ck, kau seperti polisi saja. Pokoknya makanan ini untuk orang yang spesial dan orang itu bukanlah Kris.”

            “Kenapa bukan Kris?” Kyung Soo semakin penasaran.

            “Memangnya kenapa harus Kris?”

            “Bukankah kau menyukainya?” Kyung Soo merasa sakit menanyakan hal tersebut secara langsung pada Eun Soo. Ia tahu kenyataannya. Eun Soo dan Kris saling menyukai dan ia menyukai Eun Soo secara diam-diam. Memastikan secara langsung pada Eun Soo sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

            “Kenapa kita jadi membahas Kris?” Kesal Eun Soo.

            “Jika bukan Kris berarti untuk laki-laki lain?” Kyung Soo mengabaikan kekesalan Eun Soo.

            “Kyung Soo, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kris. Jadi tolong berhenti menyebut-nyebut nama Kris.”

            Baru saja Kyung Soo akan membuka mulut saat melihat Eun Soo kembali  memotong bawang. Ia sadar kalau Eun Soo kesal padanya. Apakah Eun Soo tidak sadar bahwa ia juga kesal karena membantunya menyiapkan makanan untuk seseorang yang spesial baginya? Seseorang yang membuatnya cemburu. Seseorang yang bukan Kris. Siapapun orang itu, Kyung Soo benar-benar ingin berada di dalam posisinya.

            Chen masuk ke dalam apartment sambil mengendap-ngendap. Ia ingin memberikan kejutan pada adiknya. Hari ini program pertukaran pelajarnya di China telah selesai. Ia bisa kembali tinggal bersama adik dan keluarga satu-satunya yang ia punya.

            Tapi ia tidak melihat siapapun di dalam apartment. Ia mendekat ke meja makan saat melihat terhidang sup jamur dan juga bibimbap kesukaannya. Ia yakin itu adalah masakan adiknya. Chen melihat secarik kertas di atas meja, sebuah surat.

            “Welcome back oppa! Mian aku tidak bisa menjemputmu. Aku sudah buatkan makanan kesukaanmu. Semoga kau suka. Saranghee”

            Chen tersenyum, adiknya memang suka memberikan kejutan padanya. Tanpa pikir panjang Chen segera melahap semua makanan yang terhidang. Ia yakin, setelah makanan ini habis pasti adiknya akan muncul, menyambutnya dengan senyuman hangat.

            “Chen, kau sudah kembali?” Chen menoleh saat nyonya Lim, tetangganya masuk tanpa permisi.

            “Nee, lama tidak berjumpa denganmu.” Sahut Chen sambil tersenyum. “Ayo cicipi masakan Hyerin, enak sekali.” Tambah Chen lagi.

            Nyonya Lim menatap Chen prihatin. “Hyerin yang memasaknya?” Tanya Nyonya Lim ragu. Tidak mungkin Hyerin yang melakukannya. Tidak mungkin.

            “Chen, kau harus tahu kalau Hyerin—“

            Chen masih belum bisa mengendalikan emosinya saat mendengar cerita Nyonya Lim. Dan bagian yang paling ia benci adalah Hyerin meminta Nyonya Lim merahasiakannya sampai ia menyelesaikan program pertukaran pelajarnya. Ia tidak habis pikir adiknya tega melakukan hal ini padanya. Ia tidak pernah merasa Hyerin sebagai bebannya, tidak pernah sekalipun. Tapi kenapa Hyerin merasa bahwa ia adalah beban baginya.

            Chen berhenti di depan sebuah ruangan tempat Hyerin dirawat. Ia melihat seorang gadis yang sedang menunduk, Eun Soo.

            Chen berhenti tepat di depan Eun Soo. “Teman Hyerin?” Tanya Chen hampir tidak terdengar. Ia kenal hampir semua teman-teman Hyerin, tapi ia tidak ingat kalau gadis yang saat ini sedang diajaknya bicara adalah teman Hyerin.

            Eun Soo mengangguk kaku. Hyerin? Ia bahkan baru tahu bahwa gadis itu bernama Hyerin dari papan nama di tempat tidurnya. Ia juga baru mengetahui bahwa Hyerin belum meninggal. Hyerin masih menunggu kakaknya datang untuk mengucapkan salam perpisahan. Hanya itu satu-satunya alasan kenapa ia masih berjuang.

            Chen tidak bisa lagi menahan air matanya. Eun Soo adalah teman Hyerin, itu artinya Eun Soo sudah lama mengetahui keadaan Hyerin. Tapi kenapa gadis itu juga tidak memberitahukan keadan Hyerin padanya.

            “Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahukan keadaan Hyerin padaku? Kenapa?” Chen mengguncang-guncang tubuh Eun Soo.

            Eun Soo tidak memberikan respon apa-apa. Ia tahu ini sangat sulit bagi Chen. Sudah satu bulan adiknya koma dan ia baru tahu sekarang. Wajar jika ia ingin menyalahkan siapa saja yang mengetahui keadaan adiknya.

            “Kenapa?” Chen terjatuh dan terduduk di lantai. Eun Soo menatap Chen kasihan, tanpa ia sadari, ia juga ikut menangis. “Mana ada perpisahan yang berakhir bahagia, eoh?” Batin Eun Soo.

            Chen tidak sanggup lagi untuk menuju ke ruangan Hyerin. Ia terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa pertemuannya dengan Hyerin hari ini adalah pertemuan terakhirnya.

            “Dia menunggumu.” Eun Soo menatap Chen lembut. Eun Soo sadar, kata-katanya itu justru semakin membuat Chen terpuruk. Menunggu. Setelah penantian Hyerin selesai, lantas apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hyerin akan berhenti menunggu? Itu hal yang paling ditakutinya. Ia belum siap jika Hyerin berhenti menunggunya.

            Chen langsung berhambur ke pelukan Hyerin saat melihat tubuh adiknya yang mungil terlilit kabel di sekujur tubuhnya. Ia hanya bisa menangis dan menangis. Selalu ada keajaiban, dan ia yakin pasti adiknya bisa selamat. Kapanpun hari itu akan datang ia pasti tetap akan menunggu.

            Eun Soo melihat Hyerin di pojok ruangan mendekati Chen. Ia berusaha memeluk Chen namun ia tidak bisa, ia tidak bisa menyentuh Chen. Satu-satunya alasan Hyerin masih bernapas saat ini adalah karena ia masih ingin bertemu dengan Chen untuk yang terakhir kalinya. Setelah keinginannya terkabul maka itu akan menjadi hembusan napas terakhirnya.

            “Aku tidak akan menyerah. Berapa lama pun aku harus menunggu, aku akan menunggu. Banyak orang yang bangun dari komanya setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Aku rela harus menunggu selamanya.” Histeris Chen.

            “Katakan padanya, aku bertahan hanya untuk mengucapkan salam perpisahan padanya. Hanya itu. Ia tidak bisa menungguku.” Ujar Hyerin pada Eun Soo.

            “Aku tidak mau.” Jawab Hyerin ketus. Ia tidak rela harus mengatakan hal itu pada Chen.

            “Eun Soo, kau berjanji akan membantuku sampai akhir bukan?”

            “Dia mau menunggumu, biarkan sampai keajaiban datang dan kau bisa bangun dari koma.” Teriak Eun Soo.

            Chen terkejut mendengar teriakan Eun Soo.

            “Aku sudah mati. Tidak mungkin aku bangun dari koma. Keajaibannya adalah aku masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengan Chen. Setelah bertemu dengannya maka semuanya berakhir.”

            “Anio! Aku tidak mau!” Eun Soo menutup kedua telinganya.

            “Koma adalah keadaan di mana kau berada di dunia dunia. Terombang-ambing sampai Tuhan memutuskan di mana kita akan dihempaskan. Aku sudah mati Eun Soo, sudah mati.”

            “Lantas apa yang harus aku katakan padanya? Salam perpisahan seperti apa yang berakhir bahagia?” Haaa!” Teriak Eun Soo.

            “Kau berbicara dengan Hyerin?” Tanya Chen sambil menatap Eun Soo penuh harap. Awalnya Chen terkejut melihat Eun Soo yang berteriak-teriak sendiri. Kemudian ia sadar kalau Eun Soo memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus. Itu artinya adalah Hyerin sudah—. Chen tidak tahu harus bagaimana. Jantung Hyerin masih berdetak, Chen yakin saat ini arwah Hyerin sedang terombang-ambing.

            Eun Soo mengangguk terpaksa. Sejak ia menyetujui permintaan Hyerin ia tidak pernah berpikir akan sesulit ini untuk menyelesaikannya. Melihat Chen yang begitu menyayangi Hyerin, bagaimana mungkin ia bisa mengatakan apa yang diinginkan Hyerin darinya, yaitu mengkihlaskannya.

            “Apa katanya?” Tanya Chen tidak sabar.

            “Dia bilang dia menyayangimu.” Bohong Eun Soo. Ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya, tidak akan.

            “Hanya itu?”

            “…”

            “Katakan bahwa aku menunggunya.”

            “Eun Soo, kau tahu aku sudah mati. Tolong, tolong katakan padanya jangan menungguku.

            “Apa katanya?”

            “…”

            “Eun Soo, aku mohon, jangan buat dia berharap. Aku tidak akan pernah bisa mengakhiri penantiannya jika ia menungguku.

            “…”

            “Eun Soo!”

            “Argh, dia bilang jangan menunggu! Percuma! Karena ia tidak akan bisa mengakhiri penantianmu. Dia bertahan hanya untuk memastikan bahwa perpisahan kalian bisa berakhir bahagia!”

            “Puas Kau Hyerin! Puas! Aku sudah mengatakannya!” Eun Soo berlari meninggalkan Chen. Ia tidak sanggup menjadi bagian dari akhir penantian Hyerin.

Perpisahan adalah saat di mana engkau sadar bahwa kau benar-benar menyayanginya.

            “Eh? Di mana Eun Soo?” Tanya Jihyun pada teman-teman sekelasnya saat melihat tas Eun Soo sudah tidak ada di kursinya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk setelah dua hari izin.

            Kyung Soo yang sedang merapikan catatan sejarahnya mengangkat kepala dan melihat ke kursi Eun Soo. Jihyun benar, tas Eun Soo sudah tidak ada. Kyung Soo semakin heran dengan sikap Eun Soo. Setelah ia membantunya membuatkan bibimbap dan juga sup jamur, esoknya Eun Soo izin selama dua hari. Dan setelah ia masuk kembali hari ini ia menjadi sangat pendiam dan sepanjang pagi selalu murung dan bahkan terkesan tidak suka jika ada yang mendekatinya. Ini semua pasti ada hubungannya dengan si penerima bibimbap itu. “Apa cintanya ditolak?”Batin Kyung Soo.

            “Nyawa seseorang berharga karena ada batasnya.”

“Dia datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba. Aku belum siap dengan kepergiannya.” Balas Eun Soo tidak bertenaga. Dua hari meliburkan diri ternyata belum bisa membuatnya mengikhlaskan kepergian Hyerin. Eun Soo tidak suka menjalin hubungan dekat dengan banyak orang. Ia adalah tipe orang yang paling sulit untuk melupakan perpisahan. Jika ia telah menyayangi seseorang dan orang itu pergi meninggalkannya, luka itu akan tetap ada selamanya. Luka itu tidak akan pernah bisa hilang, hanya memudar. Saat ini, inilah yang terjadi pada dirinya karena Hyerin. Ia terlanjur suka berteman dengan gadis itu. Ia terlanjur menganggap gadis itu sebagai temannya. Ia terlanjur menyayangi Hyerin dan ia terlanjur kehilangan Hyerin.

Baekhyun menatap Hyerin. Ia tahu kehilangan teman adalah salah satu masalah terberat dalam hidup. Baekhyun menerawang, ia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan, rasanya seperti terkhianati.

“Sepertinya kau tidak pernah punya masalah dalam hidupmu. Kau selalu terlihat ceria.”

Baekhyun tersenyum simpul. Ini kali pertama Eun Soo mau membicarakan tentang dirinya. Baekhyun merasa sangat senang, sudah lama ia tidak mendengar orang lain menanyakan keadaannya. Ia tidak yakin kesalahan yang telah ia perbuat pada keluarganya, tapi yang ia tahu mereka semua mengabaikannya, menganggap keberadaannya tidak ada.

“Kau tahu bagaimana rasanya diabaikan?”

“Semua orang pasti pernah diabaikan.”

“Tidak dianggap keberadaannya?”

“Teman-temanku saat ini memperlakukanku seperti itu. Aku aneh.”

“Tersandung sebelum sempat berjalan?”

“Kau tidak akan mengalami hal itu kalau kau mau berjuang keras.”

Baekhyun tersenyum simpul. Ia sadar tidak hanya ia mengalami penderitaan. Tidak hanya dirinya yang pernah merasa bahwa di dunia ini hidupnyalah yang paling tidak adil. Diantara senyum sejuta manusia, mereka hanya berusaha untuk tidak memperbesar luka yang mereka miliki. Manusia selalu berusaha tampil kuat di hadapan orang lain.

“Aku berusaha sebaik mungkin, tapi mereka tidak pernah menghargai usahaku.”

“Siapa yang kau maksud mereka?” Eun Soo masih menatap lurus ke depan.

“Orang tuaku.”

“Terkadang aku benci orang tua. Mereka selalu menuntut apa yang tidak bisa dilakukan olek anaknya dan selalu menginginkan anaknya lebih baik dari anak tetangga.”

Baekhyun tertawa, tidak menyangka bahwa gadis yang saat ini berada di sampingnya ternyata sedikit brutal.

“Kau benar.”

Terjadi hening yang cukup lama. Baekhyun memutuskan untuk diam karena Eun Soo tidak memberikan respon apa-apa. Ia pikir gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan kisahnya.

“Kenapa hanya berakhir dengan ‘kau benar’?” Kesal Eun Soo. Ceritakan sampai tuntas. Ia tidak suka dibuat penasaran.

Lagi-lagi Baekhyun tersenyum. “Orang tuaku membenciku. Tapi itu wajar, karena aku tidak bisa membanggakan mereka. Mereka memaksaku untuk melupakan mimpiku dan menggantinya dengan mimpi mereka. Aku sudah berusaha keras, sangat keras sampai rasanya aku hidup hanya untuk itu. Tapi semakin aku berusaha semakin mereka mengabaikanku.”

Eun Soo membuang muka saat melihat Baekhyun menyeka air matanya, ia yakin Baekhyun pasti akan merasa sangat malu jika terlihat menangis di hadapannya.

“Sampai sekarang pun mereka tidak pernah mempedulikan aku.”

Eun Soo menghela napas. “Apa impianmu?”

“Penyanyi.”

“Impian orang tuamu?”

“Pengacara, aku berusaha keras untuk bisa lulus masuk universitas jurusan hukum.”

“Sesuatu yang dipaksakan hanya sia-sia.”

Baekhyun mengangguk. Ia berusaha memaksa dirinya sendiri untuk melupakan mimipinya, tapi akhirnya ia tetap diabaikan.

“Pernah memendam perasaan pada orang yang kau sukai?”

“Aku rasa semua orang pernah merasakannya.”

“Aku tidak bertanya mengenai perasaan semua orang, aku hanya bertanya tentang perasaanmu?”

“Tentu saja pernah. Tapi karena hanya sekedar suka jadi tanpa aku sadari perasaan itu sudah hilang begitu saja. Tapi aku tahu bagaimana rasanya dicampakkan.”

Baekhyun tersenyum miris. “Gadis yang aku sukai menyukai kakak laki-lakiku sendiri. Ia tidak tahu bahwa aku menyukainya. Aku selalu menyembunyikan perasaanku padanya.”

“Lalu?”

“Apa?”

“Lalu kau menyalahkan siapa?”

“Tentu saja diriku, karena aku terlalu pengecut.”

“Kau tidak pengecut. Kau justru sangat berhati besar. Jika aku jadi kau, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Pasti hanya akan ada kecanggungan jika mereka mengetahui perasaanmu.”

“Kau orang yang sangat realistis rupanya. Tidak kusangka kau punya indera keenam.”

“Aku terbebani dengan kemampuan ini.”

“Kenapa?”

“Aku jadi sering melihat makhluk halus. Terkadang ada yang sedikit jahil padaku. Teman-temanku menganggap aku aneh karena tanpa sadar aku berbicara pada makhluk-makhluk itu dan terlihat sedang berbicara seorang diri. Bahkan seseorang yang aku pikir menyayangiku perasaannya menguap begitu saja. Aku juga sering merasa ketakutan.”

“Tapi setidaknya kau telah menemukan orang yang mau menerimamu apa adanya.”

“Eoh?”

Baekhyun menunjuk ke suatu arah dengan dagunya. Eun Soo mengikuti gerak kepala Baekhyun dan mendapati Kyung Soo sedang celingak-celinguk mencari seseorang.

“Dia ketua osis?”

“Ani.”

“Berarti dia bukan sedang mencari siswa nakal yang sedang bolos tapi mencari gadisnya yang menghilang begitu saja dari kelas.” Goda Baekhyun.

“Ia hanya teman sekelasku saja.” Jawab Eun Soo enteng.

“Benarkah?” Ejek Baekhyun. “Sebaiknya aku pergi, aku malas menyaksikan perkelahian suami istri.” Ujar Baekhyun sambil berdiri dari kursinya dan mengedipkan sebelah matanya pada Eun Soo.

Eun Soo meringis. Ia tersentak saat tiba-tiba seseorang memutar pundaknya. Ia sudah bisa menebak siapa orang itu. Itu pasti Kyung Soo, dan hal pertama yang akan dikatakan oleh Kyung Soo adalah. “Kenapa kau membolos?” Batin Eun Soo.

“Kau baik-baik saja?” Kyung Soo menatap Eun Soo dari atas sampai bawah, seperti memastikan bahwa tidak ada satupun yang kurang dari tubuh Eun Soo.

Eun Soo menatap Kyung Soo bingung. Baik-baik saja? Memangnya apa yang terjadi padanya hingga ia harus tidak baik-baik saja. Ia memang sedang ada masalah tapi ia yakin tidak ada satupun temannya yang mengetahui masalahnya.

“Dua hari tidak masuk, setelah masuk kemudian membolos. Sebenarnya ada apa denganmu? Cintamu ditolak? Eoh?” Tanya Kyung Soo kesal. Mungkin dulu ia bisa bersikap berpura-pura acuh pada Eun Soo karena masih ada Kris. Tapi saat ini ia tidak bisa lagi melakukan hal itu. Ia tidak bisa mengabaikan perasaannya.

Eun Soo menatap Kyung Soo tidak suka. Hubungan mereka tidaklah akrab. Kalaupun ia meminta tolong untuk membantu memasak bukan berarti kini mereka sudah menjadi teman akrab. Eun Soo tidak suka nada bicara Kyung Soo yang seolah mereka memiliki hubungan lebih dari teman sekelas.

“Park Eun Soo.” Panggil Kyung Soo sedikit keras.

Eun Soo memutar bola matanya. Kyung Soo pasti tidak akan berhenti bertanya sebelum ia berbicara. Sebentar lagi Kyung Soo pasti akan marah-marah lagi sama seperti saat ia ngotot bahwa ia masak untuk Kris. Setelah itu Kyung Soo pasti akan menasehatinya, entah dalam rangka apa.

“Kau mendengarku kan?” Kyung Soo mengguncang-guncang tubuh Eun Soo. Eun Soo hanya menatap Kyung Soo malas.

To Be Continued

6 comments

  1. Diosmine · September 14, 2012

    Like it cepat d lanjut y penasaran ^^

  2. Natasa Kim · September 15, 2012

    lanjuuut…!! ^^

  3. SOo Ra · September 15, 2012

    en so knp g suka diperhatiin kyung so yya?

  4. auseptiyaa · October 28, 2012

    Next chap ditunggu ‘-‘)b

  5. Song So Hyun · January 23, 2013

    penasaraaaan..
    langsung baca next chap…😀

  6. NdareELFexotic · December 4, 2013

    Kyungsoo
    hahaha
    over!

    Baekhyun,,dia juga pny kemampuan?
    Ato dia juga hantU???

    Sad..hyerin!

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s