Part 2 : Only Tears

Title : Only Tears
Author : Ichen Aoi
Cast : Lee Donghae Super Junior, Kim Seoyeon, Luhan EXO M
Sequel : Dormitory High School, Domus Aurea Romance and another story of Aurea Love
Rating : General
..

..

“Nyonya Lee, kau harus makan. Ingat ma-kan! Kau sedang dalam masa perawatan dan sudah banyak perawat yang mengeluh pada ku”

Luhan mengacak – acak rambutnya dengan frustasi. Entah sudah berapa banyak perawat yang membantunya lalu pergi begitu saja karena mereka tidak berani untuk memaksa seorang istri pengusaha Lee seperti pasien pada umumnya.

“Kalau kau keberatan, kau bisa berhenti menjadi dokter penanggung jawab ku. Kenapa kau harus repot – repot mengurus ku. aku bukan siapa – siapa mu kan? Keadaan ku tidaklah penting untuk mu!” balas Seoyeon dengan kesal.

Luhan menarik nafas dalam lalu menggelengkan kepalanya dengan sedikit putus asa. Baru kali ini ia menjumpai pasien dewasa dengan sikap kekanak – kanakan dan keras kepala seperti ini. Ia sudah mencoba untuk menghubungi suami wanita ini hanya saja ponselnya tidak aktif. Luhan jadi merasa kesal dengan pasangan orang kaya ini.

“Apa? Kamu bukan siapa – siapa ku? Kau lupa Nyonya kalau aku adalah dokter mu dan kau pasien ku. Itu sudah bisa menjadi alasan yang kuatkan? Jadi berhentilah bertindak keras kepala atau semacamnya. Aku tidak terbiasa bersikap keras seperti ini tapi kau memaksa ku Nyonya Lee”

Luhan langsung mengambil mangkuk bubur yang ada ditangan suster peraawat yang sejak tadi berdiri diam mematung menonton pertengkaran mereka. Luhan menyendoknya lalu berharap Seoyeon membuka mulutnya. Seoyeon malah membuang pandangannya ke arah jendela.
*brak!*

“Seo –ah!”

Pintu menjeblak terbuka dengan suara benturan yang keras. Donghae datang dengan terengah – engah dan keringat yang mengalir dipelipisnya. Seoyeon hanya menoleh sekilas lalu menghela nafas pelan dan kembali menatap jendela. Ini pertamakalinya Luhan melihat seorang pengusaha besar secara nyata dan dekat. Tampaknya Donghae mengabaikan keberadaan Luhan.
Ia langsung mendekat kearah Seoyeon dan meraih tangan wanita itu lalu menggenggamnya dengan hangat. Entah kenap sentuhan itu terasa begitu memilukan dan membuat Seoyeon kembali merasa tidak berdaya.

“Oppa… Kenapa kesini?”

Nada bicaranya yang tadi galak dan ketus berubah menjadi lembut dan tatapannya pun melemah. Seolah cahaya yang dulu ada kini mulai meredup. Donghae meraih kepala Seoyeon lalu membenamkannya pada dada bidangnya, lelaki itu memeluknya dengan penuh perasaan bersalah. Ia berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan untuk melupakan semua masalah itu namun nyatanya ia salah dan malah membiarkan Seoyeon sendirian dirumah sakit. Luhan memberi kode pada perawat agar ikut bersamanya untuk keluar ruangan tersebut dan membiarkan Donghae yang menurutnya, setidaknya bisa membujuk Seoyeon untuk makan walau hanya beberapa suap saja.

“Ku dengar kau tidak mau makan. Ada apa?”
“Tidak apa – apa. Aku hanya merasa kosong, aku…”
“Seo –ah, kau harus kembali kerumah dan bersama ku. kita memulai kehidupan yang baru. Mungkin saja memang belum waktunya terjadi”
“Semua salah ku”
“Berhenti menyalahkan diri mu sendiri”

Seoyeon menatap mata Donghae dalam – dalam, berusaha menemukan kekuatan untuknya disana. Entah kenapa ia langsung mengangguk pelan. Donghae tersenyum lalu mulai menyuapi bubur dengan perlahan.

Sementara itu, Luhan yang sejak tadi mengintip dibalik pintu langsung tersenyum kecil. Ia memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku celana, lalu melangkahkan kaki menuju ruangan miliknya. Ia menatap lurus dengan senyuman yang perlahan memudar.

*

Hari ini Donghae mendapat tugas untuk mengontrol cabang perusahaannya yang ada diluar kota Seoul. Ia akan meninggalkan Seoul untuk beberapa hari. Sebelum berangkat, ia menemui Seoyeon yang masih dirawat dirumah sakit.

“Oppa mau pergi?”
“Ne, tidak lama. Dan pastikan setelah aku pulang nanti kau sudah sehat dan berada dirumah”
“Aku…”
“Kau pasti bisa menemukan semangat mu kembali. Karena aku akan berada disisi mu dan menopang mu. jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan”

Ditengah pembicaraan itu Luhan datang. Ia tidak tahu kalau ada Donghae disana. Ia langsung bicara panjang lebar untuk memberitahu Seoyeon soal kegiatannya hari ini untuk pemulihan.

“Nyonya Lee, kau setidaknya harus istirahat lalu minum vitamin dan…”

Luhan berhenti lalu menatap Donghae dengan sedikit terkejut. Donghae membungkukkan sedikit badannya lalu tersenyum dan kembali menatap Seoyeon yang menatap tajam ke arah Luhan. Luhan tidak seperti dokter, terlalu memaksakann jadwal. Sedangkan Hyun Joong lebih santai dan tenang.

“Aku sudah bicara dengan Hyun Joong, ku dengar kau dokter yang menggantikannya untuk merawat istri ku. Benar?”
“Ah iya, saya”
“Tidak perlu kaku begitu. Kalau kau kaku begitu, kau tidak bisa dekat dengan pasien seperti Seoyeon. Ia tidak suka orang kaku dan pemaksa”

Donghae bicara dengan tersenyum tanpa ada maksud namun sukses membuat Luhan canggung dan melirik kearah Seoyeon yang kini malah mengabaikan kedua orang yang sedang saling berbicara itu. Seoyeon lebih memilih melakukan sesuatu pada kelopak bunga lili yang dibawakan oleh Hyo So.

“Eh aku…”
“Aku percayakan istri ku pada mu”

Donghae menepuk bahu Luhan, berusaha mempercayai lelaki itu selain Chunji. Karena kini Chunji sudah berada jauh dinegara lain. Seoyeon menghela nafas berat, ia tahu ketika Donghae bicara seperti itu menandakan kalau lelaki itu akan pergi dalam waktu yang cukup lama.

*

Pagi ini Seoyeon sudah tebangun dari tidurnya dan memilih untuk kembali menatap keluar jendela. Luhan datang dengan langkah teratur dan perlahan, ia tidak ingin merusak mood pasiennya yang satu itu.

“Tidak perlu sungkan. Karena Donghae oppa mempercayai mu maka mau tidak mau aku juga harus mempercayai mu” ucap Seoyeon datar.

Luhan langsung meringis salah tingkah. Entah kenapa semua sikapnya selalu saja salah. Ia langsung melangkahkan kakinya mendekatir anjang rawat itu lalu menatap keluar. Ia tidak mengerti kenapa Seoyeon selalu memandang keluar sana sedangkan yang terlihat hanya bangunan disepanjang Soeul, langit, awan dan burung – burung yang beterbangan.

“Kenapa kau suka sekali memandang keluar?”
“Sudah lama aku tidak keluar dari ruangan ini kan?” balas Soeyeon dengan pertanyaan. Luhan tersenyum kecil lalu menyentuh bahu Seoyeon yang langsung menoleh dengan cepat. Lelaki itu menyiapkan sebuah kursi roda lalu menggendong Seoyeon dengan perlahan dan memindahkannya kekursi roda.

“Aku tidak cacat”
“Aku tahu. Tapi kau belum cukup kuat untuk berdiri”

Seoyeon mengatupkan mulutnya rapat – rapat. Tidak ada yang ingin ia ucapkan lagi. Ia membiarkan Luhan mendorong kursi rodanya dan membawanya keluar dari ruangan itu. jujur saja ia merasa sedikit lega dan senang karena Luhan bsia mengerti kalau ia ingin keluar walau hanya sebentar saja.

Sementara itu di Jeju Island.

Donghae merapikan berkas – berkasnya dengan telaten. Sesekali ia membubuhi tanda tangan pada kertas bermaterai itu. Pandangan matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah kertas kecil yang akan dipakai untuk mempromosikan produk baru perusahaannya. Sebuah keluarga kecil dengan bayi dalam gendongan sang model wanita.

“Seo, seandainya saja hal itu tidak pernah terjadi. Kita pasti sudah mempunyai seorang anak sekarang ini”

*cklek*

“Maaf tuan Lee, ada yang memaksa untuk bertemu dengan anda. Dan..”
“BIARKAN AKU MASUK!!”

Seorang wanita dengan pakaian glamor masuk dengan cara memaksa, membuat sekertaris Donghae diam dan menatap dengan tatapan memelas. Donghae hanya memberikan kode singkat agar sekertarisnya itu meninggalkan dia dan wanita asing yang tampak berisik ini.

“Ah kau tahu oppa? Sekertaris mu benar – benar menyebalkan. Masa melarang ku masuk?”
“Oppa? Kau… siapa?”

Wanita itu langsung menatap tajam kearah Donghae yang menatapnya dengan bingung. Wanita itu langsung duduk dihadapan Donghae dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Ia merapikan tataan rambutnya lalu mengeluarkan sebuah tanda pengenal dari dalam dompetnya. Donghae mengambilnya lalu menatapnya dengan tidak percaya.

“Kau… Park Hana? Kenapa bisa ada disini?”
“Aku mencari mu ke Seoul dan ku dengar oppa pergi ke Jeju jadi ya aku susul saja”

Donghae menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Ia kembali teringat dengan sosok Choi Yeona yang untungnya sekarang ini sudah menjadi gadis yang baik dan sekarang muncul lagi Parkk Hana, putri rekan bisnis ayahnya yang sedari dulu tiada henti mengejar dirinya.

“Kenapa menyusul ku?”
“Ku dengar oppa datang sendiri, jadi ku temani saja. Apa aku salah?”
“Kau salah. Aku kan sudah memiliki seorang istri”

Gadis itu langsung membuat kerucut kecil pada bibirnya sambil mengembungkan pipinya. Ia mendengus kesal. Ia tahu Donghae sudah memiliki istri yang menurut ayahnya dan beberapa rekan lainnya sangat cantik seperti boneka, namun ia masih yakin wanita itu tidak secantik dirinya. Istri Donghae berasal dari keluarga sederhana sedangkan dirinya dari kalangan orang – orang kaya.

“Ne, aku tahu! Tapi aku kan hanya datang untuk menemani oppa saja”
“Sesuka mu sajalah!”

Donghae mendnegus nafas pasrah ia tahu kalau Hana jauh lebih keras kepala daripada Yeona. Dan ia sedang tidak ingin berdebat karena terlalu banyak hal yang harus diselesaikannya saat ini jadi tidak ada waktu untuk meladeni gadis labil satu ini.

*

Hana memutuskan untuk berkeliling perusahaan sambil menunggu Donghae selesai rapat dengan beberapa klien pentingnya. Ia sesekali tersenyum kepada beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar ada orang yang sedang membicarakan Donghae.

“Biar saja! akan ku beri peringatan pegawai satu itu!” desisnya kesal.

“Ah? Jinjja? Nyonya Lee keguguran?”

Langkah Hana langsung terhenti ketika mendengar kalimat yang terakhir itu. Ia memutuskan untuk sembunyi dibalik tembok dulu untuk mendengar beberapa hal yang mungkin menarik nantinya.

“Iya, kau tidak percaya?”
“Bagaimana bisa?”
“Waktu itu Donghae sajangnim dan istrinya mengantarkan Tuan Muda Lee untuk sekolah ke Paris. Nyonya Lee terjatuh dan mengalami benturan keras. Ku dengar sekarang ia sedang dirawat dirumah sakit besar dengan fasilitas no. 1”
“Ah kasihan sekali ya padahal seharusnya mereka sudah memiliki anak pertama”
“Benar sekali! Ku dengar istrinya jadi sedikit depresi dan Donghae sajangnim makin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan karena merasa bersalah”
“Tapi pasti mereka membayar dokter spesialis kan?”
“Tentu saja. Ku dengar Donghae sajangnim kenal dengan dokter terbaik di Korea dan katanya istrinya ditangani seorang dokter muda:”
“Dokter muda? Wahh… Kita kan sama – sama tahu bagaimana parasnya Nyonya Lee. Aku jadi ragu dokter itu bisa bersikap profesional, apalagi seorang dokter muda”
“Semoga saja tidak terjadi apa – apa. Karena Donghae sajangnim dan istrinya memiliki ikatan yang kuat”
“Ne. Semoga saja”

Hana memiringkan kepalanya sebentar untuk berfikir lalu meraih ponselnya dan menelepon seseorang diseberang sana. Tampaknya ia punya sebuah ide menarik.

.. TBC

3 comments

  1. rini mardiani · September 17, 2012

    Aish kenapa harus ada orang ketiga lagi ! ! Siap” mnyiapkan mental untuk mmbaca ff ini kekekekeke , , lnjut yooo hihi

  2. Vally · September 18, 2012

    Oh tdk, jgn sampe hana gunain luhan buat hancurin hub hae ama soe

  3. Chan haehan · October 1, 2012

    Ff aoi emg selalu daebak!!, suka sama pairing.a dua” biasku

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s