[Part 2] Midnight Sun

Title
Midnight Sun

Author
Ichen Aoi

Length
Chaptered

Rating
Random

Genre
Romance, Friendship

Cast
Jessica Jung
Tiffany Hwang
Kim Taeyeon
Seo Johyun
Wu Yifan
Xi Luhan
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Oh Sehun

Disclaimer
this story is mine and all cast is my biased Hhaaa

Backsound
J Min – STand Up

Author Note
fanfiction ini sangat pendek karena saya menulisnya disela jam kerja atau disela waktu saat saya sedang mengerjakan tugas kuliah

Taeyeon melangkahkan kakinya dengan cepat sambil sesekali melirik jam digital dismartphone –nya. Pagi – pagi sekali jam tangan miliknya sudah hilang dari tempatnya dan disana tertinggal note yang berisi permintaan maaf dari Jessica yang meminjam jam itu. Taeyeon sampai harus menggelengkan kepalanya menghadapi anak yang satu itu. Rasanya seperti ia seorang kakak yang harus mengurus seorang anak SMP yang baru saja menjalani masa pubertas. Ia memasuki sebuah mini market dan ia merasa sakunya bergetar.

geudaeman bomyeo seo itneun georyo
i sarang huen nan jal moreugesseoyo
aju eorin aiga hangsang geureoha deusi
jigeum i sungan ttaseuhi ana jullaeyo [Taeyeon-Closer]

Taeyeon melirik smartphone miliknya yang sudah bernyanyi riang itu dan disana tertera dengan sangat jelas nama seorang Jessica Jung. Ia langsung mendengus kesal kalau ingat betapa cerobohnya makhluk satu itu.

“Ne, Ann…” kalimatnya terasa langsung menggantung di udara begitu saja ketika ia mendengar diseberang sana Jessica sudah sibuk berbicara panjang lebar yang sebenarnya inti dari permasalahannya adalah… Jessica kehabisan uang karena dompetnya hilang dan ia butuh bantuan untuk pulang ke apartemen dengan cara dijemput. Namun tampaknya Taeyeon memiliki sebuah ide brilian dalam benaknya untuk membiarkan gadis itu belajar dari kesalahannya dan menerima akibatnya sendiri.

Sementara itu Kyungsoo tengah sibuk menunggu Chanyeol yang akan membantunya untuk menjemputnya. Ia dan Chanyeol mendapat tugas piket hari ini dan mereka harus menjadi sukarelawan untuk membeli beberapa kebutuhan sekolah seperti spidol papan tulis dan semacamnya. Ia sekali lagi membaca list yang diberikan oleh sekolah, ia yakin semua sudah lengkap. Kyungsoo melihat ada sesuatu terjatuh dan menggelinding lalu berhenti tepat didepan kakinya. Kyungsoo mengambilnya lalu menatapnya sejenak, sebuah lipstik dengan merk mahal. Kyungsoo mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang wanita tengah menelepon dengan ekspresi campuran antara kesal dan menahan tawa.

“Aku-tidak-mau”
“…”
“Jangan teriak – teriak! Aku tidak mau, aku sibuk!”
“…”
“Tolong Jessica, kau bisa membuat aku tuli!”
“…”
“Dompet bodoh itu punya mu kan? Kau sama bodohnya dengan dompet itu kalau begitu. Lebih baik kau pulang dengan usaha sendiri, jalan kaki misalnya”
“…”
“Tidak akan ada yang mau menjual mu Nona Jung, karena aku yakin tidak ada yang mau membeli mu”
“…”
“Ok! Aku tahu kau cantik, kalau begitu berjuanglah. Annyeong~~”

Ia tahu diseberang sana Jessica pasti masih menggerutu dan berbicara dengan ponsel yang ada dalam genggamannya namun ia sama sekali tidak peduli, setidaknya Jessica bisa belajar dua hal yaitu belajar mandiri dan tidak ceroboh.

“Mian, noona?”

Taeyeon langsung menoleh dengan cepat ketika ia merasa ada seseorang memanggilnya dari belakang. Taeyeon tersenyum saat melihat ada seorang pelajar tengah menatap kearahnya dengan sedikit canggung.

“Ada apa?”
“Ku rasa ini milik anda”

Pelajar itu menyodorkan sebuah lipstik ber –merk. Taeyeon langsung mengecek isi tasnya dan mengangguk kemudian mengambil lipstik itu.

“Gomawo, ini memang milik ku”
“Gwaenchana, kalau begitu aku permisi duluan”

Rasanya tidak enak kalau tidak memberikan imbalan atas sebuah kebaikan. Makanya Taeyeon langsung merogoh isi tasnya dan menarik dompetnya keluar.

“Tunggu, ini ada beberapa lembar won untuk mu sebagai ucapan terimakasih ku”

Taeyeon mengeluarkan beberapa lembar won dengan nilai yang tinggi dan memberikannya kepada pelajar itu. Sejenak palajar yang tak lain adalah Kyungsoo itu memandangi bergantian antara Taeyeon dan uang itu. Kemudian ia tersenyum.

“Maaf, siapa nama anda, noona?”
“Eh? Nama ku?”

Taeyeon sedikit bingung, ia tidak mengerti kenapa pelajar itu memerlukan namanya bukan malah mengambil uangnya dengan senang hati lalu pergi dan membeli banyak hal dengan uang yang ia berikan.

“Taeyeon”
“Ok! Taeyeon noona, ada beberapa hal yang tidak perlu dan tidak bisa dibeli didunia ini. Kebaikan dan cinta yang tulus. Aku membantu karena aku ingin melakukkannya, bukan karena aku mau mendapatkannya. Noona mengerti maksud saya?”

Taeyeon tercengang. Ini adalah yang pertamakali baginya. Pelajar itu tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan Taeyeon yang membatu. Sepertinya tidak semua orang didunia ini bersikap baik karena uang, itulah yang selama ini ada dalam pikirannya. Taeyeon menarik nafas pelan lalu tersenyum. Anak yang baik.

Seohyun beberapa kali mengecek ponselnya, berharap ada pesan atau telepon yang masuk kesana. Rasanya ia sudah bosan dan ingin cepat – cepat berada di apartemen lalu menghabiskan sisa waktu dihari itu dengan beristirahat. Tugas kuliahnya sudah seperti gunung, setidaknya begitulah perumpamaannya.

Gadis itu membetulkan letak kacamata cokelatnya, ia melirik kekiri dan kekanan. Rasanya menunggu warna lampu lalu lintas itu berubah sudah cukup lama. Ia sampai merasa kalau sudah beberapa belas menit ia berdiri disana.

Sementara itu disampingnya berdiri Sehun dengan seragam sekolahnya sambil sesekali menguap lebar. Rasanya ia jadi kurang tidur karena semalam Luhan dan Chanyeol menginap dikamar asramanya untuk memainkan sebuah games sampai pagi. Sehingga tidak ada waktu baginya untuk tidur dengan nyenyak karena teriakan mereka berdua.

“Hufht~~”

Sehun menggelengkan kepalanya dengan kesal. Matanya seolah tidak mau berkompromi. Masa iya sih dia harus berjalan sambil tidur? Bisa – bisa besok ia tidak bisa berangkat ke sekolah dengan utuh. Sehun melirik seorang gadis dengan kacamata cokelat disampingnya kemudian kembali menatap lurus kearah jalan raya didepannya.

“Hoamm~~”

Lagi – lagi Sehun menguap, matanya mulai berair. Ia merogoh saku celananya lalu mengambil MP3 dan memasang earphonenya lalu ia mulai merasuki dunia musiknya sendiri. Ia sesekali tersenyum saat mendengarkan lagu itu, ia jadi ingat bagaimana awal pertemuannya dengan ke –empat hyung yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu. Sehun tidak memiliki siapapun di Seoul, keluarganya berada jauh di Busan.

Lampu lalu lintas berubah. Ia dan ebebrapa pejalan kaki yang lain mulai menyeberangi jalanan tersebut diatas trotoar. Sehun melirik kearah kiri dan mendapati sebuah motor tengah melaju cepat. Matanya terbuka seketika. Ia langsung menarik tangan gadis berkacamata cokelat disampingnya dengan gerakan cepat.

*bruk!*

Sehun menahan gadis itu dan menyebabkan tubuh bagian belakangnya terhempas cukup keras dijalanan aspal itu. Beberapa orang disekitarnya mulai berkerumunan untuk membantu sedangkan pengemudi motor itu jatuh. Rupanya pengemudi motor itu adalah perampok yang tengah lari dari kejaran polisi.

Sehun pingsan.

Seohyun, gadis yang ditolong Sehun, mulai panik. Seharusnya ia tidak membuat pelahar itu pingsan begini. Seohyun langsung berdiri dan meminta bantuan kepada polisi untuk membawa Sehun kerumah sakit.

Pada akhirnya Jessica harus berjalan kaki dengan sangat perlahan dari kampusnya menuju apartemen, untung saja jaraknya memang tidak terlalu jauh. Jessica terlalu malas untuk pergi jauh dari tempat tinggalnya dan sekarang yang ia butuhkan adalah tidur.

Jessica memasuki lobi apartemen itu lalu ia melihat ada seorang pelajar berseragam tengah bicara serius dengan resepsionis disana. Jessica menggelengkan kepalanya dengan heran, bagaimana bisa seorang pelajar sudah mewarnai rambutnya menjadi blonde begitu. Menyebalkan! Sok kebarat – baratan! Tapi… Bukankah ia juga blonde?
Jessica langsung menggelengkan kepalanya, setidaknya ia lahir di California jadi tidak ada masalah dan lagi bahasa Inggrisnya sudah sangat fasih. Tentu saja! Karena ia menetap disana dalam waktu yang cukup lama.

“Nothing? But…”
“Im sorry, sir”

Jessica bisa mendengar kalau pelajar itu tengah berdebat kecil dengan sang resepsionis. Merasa diperhatikan, wanita itu menoleh lalu melambaikan tangannya ke arah Jessica. Ya, Jessica dan resepsionis itu sudah sangat dekat. Kadang Jessica yang ceroboh melupakan kuncinya hingga ia harus menunggu salah satu dari teman – teman sekamarnya datang, jadi waktunya ia habiskan untuk mengobrol dengan resepsionis itu.
Jessica balas tersenyum dan ia bisa melihat wajah pelajar itu tampak sangat kecewa dan sedih. Apa mungkin ada masalah penting yang harus ia dapatkan di apartemen semewah ini?

Remaja lelaki itu langsung berbalik dan melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan tempat itu, namun sang resepsionis yang terlalu senang mendapatkan teman ngobrol itu akhirnya memanggil Jessica dengan suara yang cukup bisa didengar olehnya.

“Ya! Jessica Jung! Untung kau datang, aku nyaris saja mati kebosanan disini”
“Jinjja? Kau tahu? Aku jalan kaki dari kampus kesini”
“M-Mwo? Bagaimana bisa?”

Lelaki blonde yang tak lain adalah Kris itu langsung menoleh kebelakang. Entah kenapa otaknya dan mulutnya sangat ingin menjawab pertanyaan resepsionis itu dengan dengan lantang dan pasti.

“Karena gadis itu kehilangan dompetnya” bisik Kris pelan dan beberapa detik kemudian ia bisa mendengar suara riang Jessica yang bicara, “Ne, karena aku kehilangan dompet ku entah dimana. Taeyeon sangat marah pada ku karena hal ini”

Kris terdiam.

Ia memandangi Jessica yang mengenakan kaos putih polos, jeans biru dan tas kecil serta bebepa buku lainnya, sepertinya buku mata kuliah. Sangat berbeda dengan gadis yang ia lihat kemarin malam dengan nuansa full merah. Lelaki itu menarik nafas pelan lalu pergi.

*

Chanyeol merapikan beberapa seragam sekolahnya dan memasukkan pakaian kotor kedalam sebuah keranjang cucian. Ia akan pergi keruang cuci. Pakaiannya sudah banyak yang tidka bisa dipakai karena kotor. Ia melirik kelantai atas dan melihat kalau Kris sedang tidur sambil membaca buku.

“Hyung? Tidak keruang cuci?”
“Sebentar lagi”

Chanyeol diam sejenak lalu ia tampak memikirkan sesuatu. Tampaknya ia mengerti masalah Kris. Chanyeol langsung meraih karet penghapus terdekat dan melemparnya keatas, tepat mengenai buku yang sedang dibaca Kris. Lelaki itu mengalihkan perhatian dari bukunya lalu menatap Chanyeol dengan ekspresi yang datar.

“Jangan katakan pada ku kalau kau mencarinya lagi, ne?”
“Aku harus menemukannya Chanyeol. Aku tidak bisa terus hidup dalam keadaan seperti ini kan? Tidak ada tujuan lain selain mencarinya”
“Kau tidak sendiri, hyung. Ada aku, Luhan hyung, Sehun dan Kyungsoo”
“Aku tahu dan aku sangat berterimakasih karenanya”

Chanyeol tersenyum mendengar ucapan Kris. Kemudian ia langsung memberi kode agar Kris mau ikut untuk pergi keruang cuci. Setidaknya melakukan sebuah kegiatan bisa membuatnya lupa akan hal itu, meski hanya untuk sementara waktu.

Sehun mengerjapkan matanya untuk beberapa kali. Ia bisa merasakan sakit dibekalang kepalanya dan sedikit pusing. Sehun memandang berkeliling dan ia menemukan seorang gadis yang tampak sedang melakukan sesuatu dengan tablet pc –nya.
“Mian…” ucapnya lemah.

Seohyun langsung beralih dari tablet pc –nya dan menatap Sehun dengan penuh rasa syukur. Setidaknya lelaki itu tidak mengalami hal – hal yang serius. Seohyun langsung berdiri dan menghampiri Sehun yang masih terbaring disana. Ia menggeser kursi dan duduk tepat disamping tempat tidur rawat Sehun.

“Seharusnya aku yang minta maaf. Kalau kau tidak membantu ku, mungkin aku sudah meninggal dengan bersimbah darah sekarang”

Sehun bisa melihat kalau cahaya dimata gadis itu menunjukkan kalau ia menyesal dan semacamnya. Tampaknya ia benar – benar seorang gadis yang baik, tidak banyak menuntut dan… mungkin sedikit pendiam. Seohyun tersenyum lembut dan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu nama.

“Aku sudah membayar perawatan rumah sakit ini. Tapi kalau masih terjadi sesuatu yang buruk terhadap mu, kau bisa menghubungi aku. Aku sedang ada urusan jadi aku akan pergi sekarang, bagaimana?”

Sehun mengangguk dengan bingung, mau bicara apalagi? Toh dia memang tidak punya hak untuk melarang dan apapun itu untuk mencegah gadis itu pergi. Ia juga sama sekali tidak mengenalnya. Benar – benar tidak ada alasan yang jelas.

“Ok, sampai nanti… Sehun?”
“Bagaimana anda tahu nama ku?”
“Kartu Pelajar mu”

Sehun mulai mengerti, ia bisa melihat gadis itu berbalik dan pergi meninggalkan dirinya dengan sebuah kartu nama. Sehun membacanya sekilas…

Seo Jo Hyun
No. HP +821072220849

Sehun kembali membaca nama yang tertera disana dengan alis berkerut.
“Kok rasanya pernah mendengar nama ini ya?”

Namun ia merasa pusing dan kepala belakangnya masih terasa sakit sehingga ia memutuskan untuk menikmati perawatan rumah sakit itu sebelum benar – benar pulang dan kembali ke asrama.

… TBC

3 comments

  1. Adel Gameli · May 29, 2013

    wow….seru!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. Aan's L-hope · November 2, 2014

    Pertemuan yg unikk…^^

  3. christiejaena480 · November 2, 2014

    Semakin seru, semakin penasaran dengan para pria tampan itu.

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s