Game Over [Part I]

Title                           : Game Over [Part I]

Author                    : Siskha Sri Wulandari/ssiskha.wp.com

Cast                         : Kim Yunha [OC]

                                 : Oh Sehun [EXO K]

                                 : Shin Eun Soo [OC]

                                 : Seo Jaehyung [A-JAX]

                                  : Lee Jiyeon & Luna [OC]

                                  : Kang Jiyoung [KARA]

Genre                     : Thriller, angst, romance

Cuap-cuap        : Annyeong, lama tak bersua. Kali ini author kembali dengan ff chapter & mencoba genre baru. LOL. Maaf ya kalau FF-nya kacau, karena ini pengalaman pertama buat FF thriller. Hehehe. Happy reading J Comentnya sangat diharapkan untuk pembelajaran bagi saya. Kekeke.

Aku melangkah ragu ke dalam kelas. Bahkan setiap hari aku tidak pernah yakin akan eksistensiku di kelas ini. Semua orang menganggapku tidak kasat mata. Mungkin tidak semuanya. Masih ada beberapa yang masih menyadari keberadaanku. Masih meyadari keberadaan seseorang yang selalu menjadi bahan lelucon. Satu-satunya yang boleh diperlakukan tidak adil.

            Aku menoleh saat mendapati punggungku tertabrak oleh seseorang. Oh, gadis ini. Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa ia bisa bergabung bersama duo iblis itu. Ia baik, mungkin saja baik. Kita tidak pernah tahu apakah orang yang terlihat baik benar-benar baik. Manusia cepat berubah dan lingkungan adalah faktor utama. Tidak menutup kemungkinan bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seperti dua teman dekatnya itu, bahkan bisa saja melebihi mereka.

            “Maaf.” Ujar Eun Soo sambil mengelus-ngelus lenganku dan tersenyum ceria. Aku hanya tersenyum simpul dan memberikan jalan untuknya. Tidak lama setelah itu muncul sang ketua kelas. Ia tidak pernah mengganggu tapi tatapannya selalu membuat orang lain merasa terganggu.

            “Apa itu!” Sehun berjalan cepat-cepat menyusul Eun Soo dan menunjuk-nunjuk surat-surat yang sedang dibawa oleh Eun Soo.

            “Apa? Eun Soo tersenyum jahil. Ia sudah tahu kebiasaan Sehun. Ia selalu tidak suka apapun yang berhubungan dengan Jaehyung.

            “Kau mau saja diperalat oleh si playboy itu.”

            “Bukan dia yang memperalatku, tapi fans-fansnya yang melakukannya!”

            Sehun mencibir dan duduk di kursinya dengan kesal sedangkan Eun Soo malah terkikik puas. Ia sangat suka ketika ketua kelas mereka tersebut sedang kesal. Baginya wajahnya terlihat begitu lucu.

            Aku berjalan ke sudut ruangan, menuju tempat duduk yang selama dua tahun ini tidak pernah berubah. Di sudut paling belakang aku duduk diantara 29 siswa yang selalu melupakan keberadaanku. Salah jika aku membenci mereka? Aku rasa hal yang wajar jika aku membenci orang-orang yang mengabaikanku.  When people get hurts, they learn to hate. Kalimat Naruto itu sepenuhnya adalah benar.

            Saat ini aku benar-benar ingin menjadi pemilik Death Note. Aku ingin menuliskan satu-persatu nama makhluk-makhluk keji itu. Mempermainkan kehidupan mereka seperti mereka mempermainkan kehidupanku selama dua tahun ini. Semuanya, tanpa terkecuali.

            “Kim Yunha.” Kris songsaenim memanggilku. Lagi-lagi senyum merendahkan itu. Dia akan berada dalam daftar di death noteku, itu jika aku memilikinya. Ia selalu memandangku sebelah mata. Apa dia pikir karena dia blasteran Bahasa Inggrisnya sebagus yang ia pikirkan? Hey! Harusnya kau sadar kalau kau tidak sehebat yang kau pikirkan selama ini.

            “Tidak ada peningkatan.” Kris Songsaenim menatapku sinis sambil mengibas-ngibaskan kertas ulanganku. Aku hanya tersenyum seadanya. Aku akui aku memang tidak bisa bahasa inggris. Itu adalah salah satu mata pelajaran kelemahanku.

            “Sebenarnya apasih yang bisa kau lakukan?” Cibir Chanyeol saat aku berjalan kembali menuju tempat dudukku. Aku hanya menunduk, tidak berani menatap laki-laki yang jika aku memiliki death note akan kumasukkan di urutan kedua, Park Chanyeol si mulut besar.

            “Kau tahu pasti apa keahliannya Chanyeol.” Celetuk seorang gadis di pojok sana. Lee Jiyeon. Dia adalah salah satu iblis yang tadi aku sebutkan. Salah satu teman dekat Eun Soo yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya. Tidak mau ambil pusing terhadap Chanyeol dan Jiyeon. Mungkin saat ini ia sedang mengupdate status facebook atau blog pribadinya.

            “Bisakah kalian tenang?” Chanyeol melihat Sehun sekilas dan tertawa. “Arachi ketua kelas.” Ujar Chanyeol dengan mimik patuh yang dibuat-buat. Jiyeon hanya menjulurkan lidahnya padaku dan Eun Soo masih sibuk dengan ponselnya. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar menyadari keberadanku. Mereka lebih suka untuk mengabaikanku.

            Tidak ada yang ingin terlahir jelek. Semua orang ingin dilahirkan sempuna. Setiap laki-laki menginginkan tubuh atletis dengan wajah tampan dan setiap wanita selalu ingin memiliki kaki jenjang dengan pinggang kecil dan wajah yang cantik. Semua orang menginginkan hal itu. Termasuk aku. Tapi apa hendak dikata jika memang beginilah fisik terbaik yang diberikan oleh sang pencipta kepadaku. Aku mensyukurinya dan selalu berusaha tetap mensyukurinya tapi orang-orang yang telah diberkahi fisik bagus selalu menghina apa yang selama ini selalu aku syukuri.

            “Siapa yang belum mendapatkan kelompok?”

            Aku mendesah, selalu seperti ini. Selalu aku yang tidak memiliki kelompok. Tidak ada satupun siswa yang mau satu kelompok denganku. Tidak ada. Perlahan aku mengangkat tangan. Sehun menatapku dengan tatapan maklum.

            “Kau bergabung bersama kelompok Eun Soo.” Merasa namanya disebut Eun Soo mengangkat kepala. “Tidak apa-apakan?” Tanya Sehun pada Eun Soo yang terlihat sedikit linglung.  Ia pasti sama sekali tidak mendengar semua ocehan Sehun karena terlalu sibuk dengan twitternya.

            “Yunha bergabung bersama kelompokmu.” Sambung Sehun datar, ia sudah sangat hapal kebiasaan teman sekelasnya itu, terlalu gila internetan.

            “Ahh, baiklah.” Eun Soo mengangguk-angguk. Gadis ini memang tidak pernah mempermasalahkan tentang diriku. Tapi aku yakin teman-temannya akan segera menendangku dari kelompok mereka.

            “Bwooo? Anio! Aku tidak mau.” Kesal Jiyeon.

            “Ini bukan hanya masalah kau tapi juga kau dan kelompokmu.” Jawab Sehun datar.

            “Semua anggota kelompokku tidak ada yang setuju kalau si jelek itu bergabung bersama kami.” Tambah Luna.

            “Bukankah tadi Eun Soo sudah menyetujuinya?”

            Jiyeon mendelik. “Ini bukan hanya tentang Eun Soo. Tapi juga tentang aku, Luna dan Jiyoung.”

            “Sudahlah, kasihan Yunha.” Jiyoung akhirnya bersuara.

            “Kasihan? Justru seharusnya kita yang harus dikasihani. Bagaimana mungkin kita harus satu kelompok dengan gadis jelek, pendek dan bau yang sama sekali tidak memiliki bakat apa-apa itu. Kau ingin mempermalukan kelompok kita sendiri?” Cibir Jiyeon.

            “Yunha memiliki suara yang sangat luar biasa.”

            Jiyeon dan Luna menatap Eun Soo dengan kesal. Luna mengisyaratkan Eun Soo untuk diam.

            “Jangan mengancam teman kalian sendiri.” Protes Sehun.

            “Ada apa ini? Sehun? Kenapa kau tidak duduk di tempatmu? Luna? Apa yang kau lakukan pada uri Eun Soo? Kenapa kau mencubitnya seperti itu.”

            “Yunha belum mendapatkan kelompoknya saem.” Jawab Sehun sopan.

            “Aigooaigoo, bagaimana bisa? Ahh, inilah kenapa aku tidak suka jika kalian membagi kelompok sendiri. Selalu ada yang tertinggal. Kau ingin masuk di kelompok mana Yunha?” Jungmin songsaenim selalu bisa mencairkan suasana.

            Aku hanya menunduk tidak berani menatap Jungmin Songsaenim. Aku terlalu takut untuk memilih.

            “Dia akan bergabung bersama kami saem.” Ujar Eun Soo. Tepat saat itu Jiyeon dan Luna menarik-narik ujung kemeja Eun Soo tidak suka. Eun Soo hanya tersenyum dan kembali sibuk dengan ponselnya.

            “Terima kasih.” Ucapku dalam hati. Kau mungkin tidak selalu menyadari keberadaanku, tapi kau akan menjadi salah satu yang tidak akan kumasukkan dalam daftar death noteku, jika aku memilikinya.

            Sehun menatap Eun Soo sekilas dan mengintip dari balik pundak gadis itu, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

            “Kenapa harus sembunyi-sembunyi?”

            “Apanya?”

            “Ck, aku tahu kau menyukai sunbae itu.” Kesal Sehun.

            “Sunbae? Sunbae yang mana?” Eun Soo masih belum mengerti arah pembicaraan Sehun.

            “Ck, memangnya ada berapa sunbae yang kau sukai?” Sehun memutar kedua bola  matanya.

            “Kyung Soo sunbae? Anio! Aku tidak menyukainya. Tidak menyukainya.” Eun Soo menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

            “Aku malah seperti mendengar, iya aku sangat menyukainya, sangat menyukainya.”

            “Jangan membuat gossip.” Tukas Eun Soo tidak mau kalah.

            “Kalau bukan suka apalagi namanya kalau kau selalu bersembunyi dan wajahmu memerah seperti itu ketika melihatnya.” Sehun menunjuk-nunjuk wajah Eun Soo.

            “Anio, aku tidak seperti itu.”

            “Iya, kau seperti itu.”

            “Anio!”

            “Iya.”

            Eun Soo menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia selalu kalah berdebat dengan Sehun, selalu. Sehun menoleh saat pundaknya ditepuk oleh seseorang. Park Chanyeol, wakilnya. Sehun segera mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Chanyeol padanya.

            “Apa lagi yang kalian lakukan padanya?” Tanya Sehun geram.

            Eun Soo penasaran dan mengikuti arah pandang Sehun. “Eh, kenapa Yunha kotor seperti itu?”

            “Chanyeol, apa yang kau lakukan pada Yunha?” Tanya Sehun lagi.

            “Tidak ada, dia saja yang bodoh.” Kekeh Chanyeol.

            “Ya! Apa yang kau lakukan padanya?” Eun Soo menginjak kaki teman sekelasnya itu.

            “Ya, ya, ya. Kau pasti tahu siapa pelakunya.” Ringis Chanyeol.

            “Jiyeon dan Luna?”

            “Bingo!” Chanyeol menepuk-nepuk kepala Eun Soo seolah ia adalah binatang peliharaan. Eun Soo segera menepiskan tangan Chanyeol dengan kasar.

            “Hey, kau mau kemana Sehun?” Teriak Chanyeol saat Sehun berlari menjauh dari mereka.

            “Seharusnya kau seperti Sehun, berusaha melindungi teman-teman sekelasnya.” Cibir Eun Soo.

            “Aku melakukannya.”

            “Yunha?”

            “Dia pengecualian.”

            Eun Soo menggeleng-gelengkan kepala dan pergi meninggalkan Chanyeol begitu saja. Chanyeol adalah teman yang cukup baik, mungkin padanya ataupun yang lainnya kecuali Yunha.

            Sehun mengetuk pintu toilet dengan ragu. Ia khawatir ada banyak siswi di dalamnya. Tapi karena sudah hampir sepuluh menit Yunha di dalam ia memutuskan untuk memanggil gadis itu.

            “Yunha, kau ada di dalam?” Tanya Sehun di sela-sela ketukannya.

            Tidak ada jawaban. Sepertinya hanya ada Yunha di dalam toilet. Lagipula sejak ia berdiri di sana tidak ada satupun siswi yang keluar.

            “Yunha, ini aku Sehun. Aku hanya ingin memberikan jaket padamu. Setidaknya lebih baik kau memakai jaket ini daripada seragammu yang sudah kotor itu.

            Masih tidak ada jawaban.

            “Cepatlah. Sebentar lagi kelas Kris songsaenim. Kau tahu bukan dia orang seperti apa.”

            Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Sehun tersenyum simpul saat  melihat aku kini sudah berada di ambang pintu.

            “Pakailah.” Sehun mengulurkan jaket miliknya padaku.

            “Tidak apa-apa?” Tanyaku ragu. Aku tahu semua bentuk perlakukannnya padaku selama ini hanyalah karena posisinya sebagai ketua kelas dan bertanggung jawab atas teman-temannya. Tidak lebih dari itu. Dia tidak membantu karena aku adalah orang yang tertindas, ia juga tidak membantu atas dasar perikemanusiaan, dia juga tidak membantu karena kasihan, dia membanu hanya karena posisinya sebagai seorang ketua kelas. Sesimple itu semua kebaikannya padaku selama ini.

            “Ya, pakailah.” Setelah jaket itu berpindah tangan, ia segera berbalik badan. aku hanya menatap punggungnya yang menjauh, tidak berani mengucapkan satu patah katapun. Aku memang begitu menyedihkan.

            Jaehyung menatap tetangganya dengan tatapan bosan. Setiap tetangganya itu datang menemuinya itu artinya dia akan menerima surat-surat dari para gadis yang mengklaim diri mereka sebagai fansnya. Surat-surat yang hanya akan berakhir di tong sampah.

“Ige.” Eun Soo mengulurkan satu kantong surat cinta untuk Jaehyung.

            “Sudah kukatakan bukan kalau semua surat itu hanya akan berakhir di tong sampah.”

            “Nee, aku juga selalu, selalu dan selalu berusaha meyakinkan mereka. Tapi mereka juga selalu, selalu dan selalu menyangkalnya.” Eun Soo memegangi dadanya, mendramatisir kata-katanya.

            Jaehyung mencibir. Ia tidak pernah menyangka bahwa para gadis-gadis itu begitu agresif. Bahkan setelah ia secara terang-terangan membuang surat-surat yang masukkan ke dalam lokernya kini Eun Soo, tetangganya yang dimanfaatkan sebagai tukang pos. Ia yakin gadis ini selalu berusaha menolak tapi para gadis itu tidak cukup jinak untuk menerima penolakan Eun Soo.

            “Dasar, menambah-nambah sampah saja.” Gerutu Jaehyung sambil mengambil kantong surat tersebut. “Nanti mau pulang bersama?” Tawar Jaehyung.

            “Anio, aku masih mau hidup. Jika para fansmu tahu aku pulang bersamamu maka mereka akan langsung memutilasiku.” Eun Soo bergidik ngeri mendengar ucapannya sendiri.

            Jaehyung mengangguk-angguk mengerti. “Ya, setidaknya kau selalu menjadi gadis paling beruntung karena bisa bertetangga denganku.” Ujar Jaehyung pongah.

            “Ahh, jinjaayo? Aku malah selalu merasa kalau aku adalah gadis paling malang di dunia karena harus berurusan dengan laki-laki sepertimu.”

            Jaehyung hanya menatap Eun Soo datar. Inilah kebiasaan mereka. Mereka tidak terlalu akrab, mungkin. Status sebagai tetangga dan bersekolah di tempat yang sama tentu saja mereka sedikit dekat. Tapi ketika bertemu hanya ejekan yang saling terlontar dari mulut mereka.

            Aku mendesah melihat pemandangan itu. Eun Soo dan Jaehyung. Aku adalah salah satu dari sekian banyak penggemarnya yang masih setia memberikan surat cinta di dalam lokernya. Aku tahu ia tidak pernah mempedulikan surat itu, bahkan selalu langsung membuangnya tapi bagiku itulah cara agar aku tetap bisa berhubungan dengannya. Hanya dengan cara itu.

            Apakah tadi aku sudah memperkenalkan diriku? Atau kalian sudah lupa siapa namaku atau mengabaikankanku juga? Aku memang selalu terabaikan. Namaku Kim Yunha. Saat ini aku masih duduk di kelas 11 SMA jurusan seni. Duo iblis, Eun Soo, Sehun dan si mulut besar Chanyeol adalah teman sekelasku. Seo Jaehyung, sunbae yang tadi sedang mengobrol dengan Eun Soo adalah laki-laki yang aku sukai, mungkin lebih dari suka. Cinta mungkin? Entahlah.

            Berbeda dengan siswa lain. Aku memang tidak secantik mereka, bahkan tergolong buruk rupa. Aku juga bertubuh pendek namun sedikit gemuk. Berbeda dengan Eun Soo, meski berbadan mungil tapi berat badannya sesuai dengan tingginya. Ia juga memiliki wajah yang manis. Aku dengar ia masuk ke sekolah ini karena dipaksa oleh orang tuanya. Ia lebih suka dengan dunia tulis-menulis. Tapi karena tubuhnya yang mungil ia bisa melakukan gerakan dance dengan cukup luwes.

            Aku? Selama ini aku selalu merasa bahwa suaraku adalah suatu aset. Tapi tidak ada yang mau mengakuinya. Hanya guru vokalku yang selalu memuji kemampuan bernyanyiku, ya Eun Soo dan Sehun juga terkadang memujiku.

            Banyak para guru yang menganjurkanku untuk melakukan operasi plastik kalau aku ingin debut. Kenapa mereka semua bisa berpikiran semudah itu. Operasi plastik, mengubah bagian wajah, memperbaikinya. Astaga, ayahku bisa menggantungku kalau tahu aku berniat berurusan dengan pisau bedah.

            Selama ini aku hanya bisa diam ketika ditindas, tidak berani melawan karena aku tidak memiliki pendukung dan jujur, aku memang sangat pengecut. Aku tidak pernah berani melawan mereka. Tidak pernah.

            Aku membenci semua orang-orang yang selalu merendahkanku. Tapi yang bisa aku lakukan hanya membenci dan mengutuk mereka. Aku tidak punya cukup keberanian untuk melawan mereka. Setiap berniat melawan justru penindasan yang semakin merajarela yang kuperoleh. Semakin aku berusaha untuk melawan mereka semakin keji dan aku selalu kalah. Tidak ada celah bagiku untuk menghindari mereka.

Chingudeul, boleh kasih comment FF aku yang judulnya “Here We Are” di hyeahkim.wp.com? Alhamdulillah FF yang itu masuk 35 besar. Mohon bantuannya ya. Gomawo🙂

 ini linknya http://hyeahkim.wordpress.com/2012/10/14/here-we-are/

4 comments

  1. lestrina · October 17, 2012

    ceritanya kelihatan seru nieh n menarik untuk dtunggu kelanjutannya.. lanjut ya

  2. julistyjunghaae · December 1, 2012

    hmmm…

    ceritanya seru….

    Daebak thor….

  3. Hyunjae · April 24, 2013

    Seru kayaknya nih ceritanya. Kasian bgt yunha ditindas melulu
    u,u

  4. sooyoungie · November 20, 2013

    alur udah pas, gak kecepetan dan juga gak bertubi tubi hehe. dicerita ini bingung sama sifat sehun. dia itu baik sebenernya, tapi cuek juga pffttt

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s