Game Over [Part 2]

Title                            : Game Over [Part 2]

Author                      : Siskha Sri Wulandari/ssiskha.wp.com

Main Cast                 : Kim Yunha [OC]

                                    : Oh Sehun [EXO K]

                                    : Shin Eun Soo [OC]

Support Cast          : Wu Yifan (Kris) [EXO-M]

                                    : Do Kyung Soo [EXO-K]

                                    : Seo Jaehyung [A-JAX]

Genre                       : Thriller, angst, romance

No Bashing!

               Yunha memberanikan diri untuk mendekati teman satu kelompoknya. Ia berharap Eun Soo segera datang dan bisa sedikit membuatnya merasa nyaman berada di dekat iblis-iblis tersebut. Belum lagi Yunha benar-benar sampai di tengah-tengah Jiyeon dan teman-temannya, ia langsung disambut dengan ejekan Jiyeon.

            “Eoh, masih punya keberanian untuk mendekat? Apa urat malumu sudah putus?” Sindir Jiyeon sambil mengunyah permen karet.

            “Ck, sudahlah. Toh sekarang dia adalah bagian dari kita.”

            Luna baru saja akan memarahi Jiyoung saat Jiyoung buru-buru menambahkan kalimatnya. “saat ini, hanya saat ini.” Ia bukannya tidak menyukai Yunha, tapi ia tidak suka dengan gadis lemah. Entah kenapa ia selalu kesal melihat Yunha yang tidak pernah melakukan perlawanan ketika ditindas. Ia juga malas harus menjadi pahlawan kesiangan seperti yang terkadang dilakukan oleh sahabatnya, Eun Soo dan teman sekelasnya Sehun. Orang lemah tentu saja akan menjadi bahan penindasan.

            “Kemari.” Jiyoung mengisyaratkan agar Yunha berdiri di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa Yunha segera mematuhinya. Jiyoung memang tidak pernah mengganggu Yunha, tapi juga terlalu acuh terhadapnya.

            Yunha memperhatikan pantulan dirinya di cermin besar yang ada di hadapannya saat ini. Ia melirik Jiyoung yang saat ini sedang melakukan peregangan kecil. Ia menghela napas. Ia terlihat semakin buruk rupa ketika berdiri berdampingan dengan Jiyoung. Jiyoung cantik. Tanpa harus berdiri di sampingnya pun ia sudah merasa terintimidasi oleh kecantikan Jiyoung. Sekarang, ketika ia bisa melihat sendiri pantulan dirinya dan Jiyoung membuatnya benar-benar merasa buruk rupa.

            Merasa diperhatikan Jiyoung melirik Yunha.”Kenapa?”

            “Ahh, anio!” Jawab Yunha gugup sambil buru-buru mengambil posisi untuk melakukan peregangan.

            Jiyoung memperhatikan Yunha. Ia sadar bahwa tadi gadis itu sedang membandingkan dirinya sendiri dengan dirinya tapi ia tidak berniat untuk membahasnya, ia tidak cukup peduli untuk melakukan hal itu.

            “Kau tidak latihan?”

            “Astaga, kau mengagetkanku saja.” Eun Soo mengelus-elus dadanya karena kaget dengan kemunculan Sehun yang tiba-tiba. “Kenapa selalu muncul tiba-tiba sih?” Gerutu Eun Soo.

            “Ck, jawab pertanyaanku.” Tuntut Sehun. Ia paling tidak suka jika ada yang mengabaikan pertanyaannya.

            “Aku tadi ke perpustakaan dulu, mengembalikan buku. Yang lainnya sedang menungguku di ruang latihan.”

            “Yunha?”

            Eun Soo memiringkan kepala, menimbang-nimbang dan kemudian menyeringai. Sehun mendadak curiga melihat ekspresi Eun Soo.

            “Ya! Apa-apaan ekspresimu itu! Menyebalkan sekali.”

            “Kau menyukai Yunha?” Eun Soo menyentil hidung Sehun.

            Sehun diam dan merasa kesal. Ia juga tidak suka jika ada orang yang menebak-nebak tentang dirinya. Terlalu banyak hal yang tidak ia sukai.

            “Aku hanya mengkhawatirkannya.” Kesal Sehun.

            “Apa bedanya mengkhawatirkan dan menyukai?” Eun Soo tersenyum puas. Ia sangat suka jika bisa membuat Sehun kesal karena selama ini Sehun lah yang selalu membuatnya kesal.

            Sehun menatap Eun Soo datar, sedang memikirkan cara untuk bisa membalas perbuatan Eun Soo padanya. “Ahh, Kyung Soo Sunbae!” Teriak Sehun sambil melambai-lambaikan tangan. Mendengar nama Kyung Soo refleks Eun Soo menoleh ke belakang dan tertawa dibuat-buat.

            “Ck, kata menyukai lebih cocok untuk gadis sepertimu.” Sehun menjitak Eun Soo dan tersenyum miring. Ia tidak pernah kalah ketika berdebat, lagipula ia tidak suka kalah.

            “Awas kau ya!” Eun Soo mengerucutkan bibirnya. Ia kesal selalu kalah dari Sehun.

            “Tolong, jangan biarkan teman-temanmu mengganggu Yunha.”

            Eun Soo memandang Sehun tidak suka. “Arrasso, aku akan mengatakan padanya kalau ketua kelas kita sangat sangat mengkhawatirkannya.” Eun Soo menyeringai dan melangkah perlahan. Merasa dalam bahaya ia segera berlari kencang dan sesekali menoleh ke belakang sambil menjulurkan lidahnya pada Sehun yang masih menatapnya kesal.

            “Apa susahnya sih mengakui suka.” Eun Soo merasa lucu sendiri mengingat tingkah Sehun tadi.

“Ck! Kau ini membuat susah saja ya. Gerakan dasar seperti ini saja kau tidak bisa!” Jiyeon berteriak di telinga Yunha. Yunha hanya menunduk, berusaha keras menahan tangis. Jiyoung menatap ulah sahabatnya itu dalam diam. Ia sangat sangat menunggu perlawanan dari Yunha, meski hanya satu kata. Setidaknya ia pernah mencoba untuk melawan.

“Itu kan bukan basic Yunha, wajar saja kan kalau dia kesulitan.” Eun Soo mendekati Jiyeon dan Yunha.

“Dia masuk kelompok kita, maka dia harus bisa mengimbangi kita karena tidak mungkin kita harus melambat hanya untuk mengimbangi si bodoh ini.” Jiyeon menoyor kepala Yunha gemas.

“Berhenti bersikap kasar padanya.” Eun Soo menarik Yunha agar berdiri di belakangnya. Ia jarang sekali berdebat dengan Jiyeon kecuali tentang Yunha. Meski Jiyeon sangat jahat terhadap Yunha dan orang-orang yang dianggapnya hanya seperti sampah tapi ia adalah tipe teman yang akan selalu memperjuangkan temannya sampai akhir.

“Kenapa kau harus repot-repot membelanya?”

“Jiyoung, kau—?” Eun Soo tidak percaya mendengar ucapan Jiyoung. Selama ini Jiyoung mungkin sama sepertinya. Sama-sama tidak pernah mempermasalahkan Yunha.

            “Yunha saja tidak berusaha untuk membela dirinya sendiri kenapa kau harus repot-repot membelanya? Dan kau Yunha, kalau kau begini terus maka selamanya kau akan tertindas.” Ujar Jiyoung sedikit kesal. Bukannya ia membenarkan apa yang telah dilakukan Jiyeon terhadap Yunha, tapi ia benar-benar sangat kesal melihat Yunha yang hanya diam saja diperlakukan tidak adil. Benar-benar bodoh.

            Eun Soo menghela napas. Ia juga membenarkan kata-kata Jiyoung. “Sudahlah, ayo kembali latihan lagi.” Putus Luna, ia sudah sangat lelah untuk melanjutkan penindasan Jiyeon. Eun Soo melirik Yunha yang kini sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia paling tidak bisa menghibur seseorang yang sedang menangis. “Jangan menangis. Kau tahu Jiyeon seperti apa.” Eun Soo menepuk-nepuk punggung Yunha.

            Baru kali ini ada yang berusaha menenangkannya. Selama ini ketika ia menangis tidak pernah ada satupun yang berusaha untuk menenangkannya. Ia benar-benar ingin menjadi teman Eun Soo. Ia tidak butuh memiliki teman yang banyak, ia hanya membutuhkan satu orang saja seperti Eun Soo sudah cukup baginya. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya agar bisa menjadi teman Eun Soo. Ia tidak tahu bagaimana gadis kejam seperti Jiyeon dan Luna bisa menjadi sahabat Eun Soo dan ia juga tidak tahu bagaimana orang bodoh sepertinya bisa menjadi teman Eun Soo.

“Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi temanmu?” Gumam Yunha.

            “Sebagai hukuman atas semua kesalahanmu hari ini, kau yang membersihkan ruangan ini.” Perintah Jiyeon. Sendiri!” Ia buru-buru menambahkan kata-katanya saat melihat Eun Soo lagi-lagi berusaha untuk membela Yunha. “Jangan ada yang berusaha membantu!” Jiyeon mendelik ke arah Eun Soo.

            Eun Soo menghela napas. Ia tidak tega harus melihat Yunha membersihkan ruang latihan seorang diri. Lagipula sudah larut malam, sekolah terlihat begitu mengerikan. Dan dengan siapa nanti Yunha akan pulang? Haruskah menghubungi Sehun untuk membantu Yunha. Tapi kalau sudah selarut ini pasti Sehun sudah tidur. Eun Soo sibuk bergumul dengan dirinya sendiri.

            “Tidak usah repot-repot mengkhawatirkan dia.” Luna merangkul pundak Eun Soo dan tersenyum. Luna sudah hapal sifat Eun Soo yang tidak tegaan. Eun Soo menatap Luna dengan tatapan memelas, berharap sahabatnya itu bisa membantu. “Kau tahu betul bagaimana Jiyeon.”

            Eun Soo diam dan membereskan barang-barangnya. “Kami pulang duluan ya. Hati-hati.” Eun Soo berpamitan pada Yunha yang masih berdiri di tempatnya semula. Mendengar Eun Soo yang berpamitan padanya membuatnya merasa nyaman. Mungkin jika memiliki teman akan ada orang yang mengkhawatirkannya. Ia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki teman. Tapi memiliki teman mungkin adalah hal paling indah di dunia.

            Yunha mengelap peluh yang membanjiri wajahnya. Butuh waktu satu jam untuk membersihkan ruang latihan seorang diri. Yunha melangkah gontai keluar dari ruang latihan. Ia bergidik ngeri mendapati koridor yang sangat gelap. Yunha berjalan cepat-cepat. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sesosok bayangan di ujung koridor.

            “Hantu?”  Gumam Yunha ketakutan. Ia mundur perlahan, mencari jalan lain tapi keadaan yang gelap benar-benar menyulitkannya.

            “Siapa itu?”

            Yunha memicingkan mata karena silau diterpa cahaya senter.

            “Ohh, si bodoh rupanya.” Kris berjalan mendekati Yunha. “Apa yang kau lakukan tengah malam begini?”

            Yunha hanya diam dan tertunduk. Ia benci guru ini sangat membencinya. Entah perasan apa ini, tapi saat ini ia merasa seperti dalam bahaya. Ia memiliki firasat bahwa Kris akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya.

            Yunha melompat kaget saat merasakan tangan Kris mengelus pipinya. Belum lagi mengerti apa yang diinginkan Kris ia merasakan rambut-rambut Kris menyentuh lehernya, membuatnya merasa geli. Kris menciumi lehernya. Yunha panik. Ternyata ini arti firasatnya tadi. Kali ini tangan Kris tidak tinggal diam. Ia meraih pinggang Yunha dengan kasar, memaksa merapatkan tubuhnya dan tubuh Yunha.

            Yunha berusaha keras melepaskan diri dari Kris, tapi tenaganya tidak cukup kuat unntuk melepaskan diri. Yunha berteriak, ia tahu tidak ada gunanya. Mungkin saat ini security sedang tidur di pos jaganya, tidak akan ada yang bisa mendengar teriakannya.

            Kris menghentikan aktifitasnya. Ia mendekatkan wajahnya pada Yunha dan menyeringai. Yunha benar-benar takut melihat seringaian guru Bahasa Inggrisnya itu. “Aku tahu kalau kau menginginkan aku sama seperti siswi lainnya.” Tawa Kris merendahkan. “Jangan sok polos. Meskipun kau buruk rupa, tetap saja kau adalah seorang gadis. Kau pasti tertarik pada laki-laki tampan sepertiku.” Kris berbisik di telinga Yunha, membuat  Yunha semakin merasa ketakutan.

            “Nikmati saja.” Ujar Kris dengan nada seductive.

            Yunha menangis histeris, memohon agar Kris segera melepaskannya. Ia terus meronta dan mendorong Kris. Setelah usaha yang kesekian kalinya akhirnya ia bisa melepaskan diri dari cengkraman Kris. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kabur. Namun sayangnya langkah kakinya tidak lebih cepat dari tarikan Kris. Yunha terus meronta dan berusaha melepaskan tarikan Kris. Ia terus menarik-narik dirinya dan menendang-nendang Kris sekuat yang ia bisa.

            Kris semakin ganas, ia benar-benar marah karena perlawanan Yunha. Yunha terus menangis dan berteriak hiseris. Yunha menusuk mata Kris dengan tangan kirinya yang masih terus menarik-nariknya. Kris mengaduh dan refleks melepaskan cengkramannya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Yunha segera berlari, mencari tangga turun. Karena terlalu panik, ia sampai terpleset. Tidak mempedulikan kakinya yang terkilir Yunha berlari dengan susah payah sampai akhirnya bisa menemukan tangga. Saat itu Yunha benar-benar merasa sedikit lega. Namun tiba-tiba ia merasakan rambutnya dijambak. Astaga, ternyata Kris berhasil mengejarnya. “Jalang!” Kris menampar Yunha berkali-kali.

            Yunha meronta-ronta dan mendorong-dorong Kris dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Kris terdorong dan jatuh terguling di anak tangga. Tubuhnya terhempas di setiap anak tangga dan jatuh di anak tangga terakhir. Yunha mematung. Mungkin ia selamat dari pelecehan yang akan dilakukan Kris terhadapnya tapi belum tentu ia akan selamat dari tuduhan pembunuhan.

            Kris jatuh dari tangga. Meski gelap ia yakin bahwa kini tubuh Kris sudah bermandikan darah. Ia tidak tahu apakah Kris masih bernapas di bawah sana. Bagaimanapun keadaan Kris, tetap saja ia berada dalam masalah besar.

            “Jangan tiduuur!” Eun Soo segera duduk tegak saat mendengar teriakan Jaehyung. “Jangan tidur sampai aku selesai mengomelimu!” Jaehyung memalingkan wajahnya dari jalanan yang ada di depan dan menatap Eun Soo dengan tatapan menindas.

            Eun Soo meringis. Ia sudah mengatakan pada ibunya kalau ia akan pulang sedikit terlambat karena harus latihan, tapi ia tidak mengatakan bahwa ia akan pulang selarut ini. Karena itu ibunya meminta Jaehyung untuk menjemputnya. Saat itu Jaehyung yang sudah terlelap terpaksa harus menjemput Eun Soo dengan nyawa yang masih berceceran.

            “Kenapa pulang selarut itu? Kau ini kan perempuan. Harusnya kau tahu jam pulang anak perempuan!”

            “Kan ada Jiyeon yang bisa mengantarkanku pulang.” Eun Soo mengusap-ngusap matanya yang sudah berair karena menahan kantuk.

            “Tapi ibumu memintaku untuk menjemputmu!” Kau tahu ini sudah jam berapa? Apa kau tidak lihat kantung mataku?” Teriak Jaehyung sambil menunjuk-nunjuk kantung matanya.

            “Maaf, aku kan sama sekali tida bermaksud—“

            “Berhenti berkata maaf! Berhenti! Kata maafmu tidak bisa mengembalikan waktu tidurku!” Kesal Jaehyung.

            Eun Soo menggerutu. Diam salah, menjawab juga salah. Lantas apa yang harus ia lakukan. Melihat Jaehyung yang mulai tenang, Eun Soo perlahan menyandarkan dirinya pada jok mobil, mencoba mengambil kesempatan untuk tidur.

            “Ya! Aku bilang jangan tidur! Kalau aku tidak tidur maka kau juga tidak boleh tidur!”

            Eun Soo menghela napas putus asa. Kini ia menyandarkan kepalanya pada kaca mobil sambil melihat jalanan yang sudah sangat sepi. Ia melihat jam tangannya. Pukul 00.20. Pantas saja Jaehyung seperti ibu-ibu yang kehabisan uang belanja. Batin Eun Soo.

            Pengurus sekolah berteriak histeris saat melihat tubuh seseorang yang tertelungkup. Banyak darah kering di sekitarnya. Masih belum bisa mengendalikan dirinya, pengurus sekolah berlari meminta pertolongan. Masih terlalu pagi. Mungkin saat ini hanya ada beberapa pengurus sekolah yang lainnya dan security.

            “Kami tidak bertemu dengan Kris songsaenim saat pulang. Lagipula bukan kami yang pulang terakhir kali tapi Yunha. Ia membersihkan ruang latihan terlebih dulu sebelum pulang.” Jawab Jiyeon sambil menunduk. Ia dan ketiga sahabatnya beserta Yunha kini menjadi tersangka terhadap apa yang terjadi oleh Kris songsaenim. Tidak ada sisi TV di koridor itu dan saat ini beliau sedang koma, tidak bisa memberikan kesaksian apa-apa.

            “Panggil Yunha.” Perintah kepala sekolah kepada Jungmin songsaenim. Tanpa banyak bicara jungmin songsaenim langsung beranjak meninggalkan kantor.

            Eun Soo mendesah. Ia yakin bukan Yunha pelakunya. Ia benar-benar takut ada orang jahat yang sedang berkeliaran di sekolah. Bahkan Jiyeon dan Luna juga tidak bisa mempercayai jika Yunhalah pelakunya. Gadis itu terlalu lemah. Membela dirinya saja ia tidak pernah punya nyali bagaimana mungkin ia bisa mencelakai orang lain. Apalagi orang itu adalah Kris songsaenim, ia terlalu tangguh.

            “Aku tanya sekali lagi padamu Park Yunha. Apakah kau melihat Kris songsaenim sebelum pulang?” Kepala sekolah menyandarkan tubuhnya, sedikit merasa kesal. Ia juga merasa sia-sia harus mencurigai Yunha. Gadis itu sama sekali tidak berpotensi untuk melakukan kejahatan itu. Ia terlalu lemah dan baik.

            Yunha masih menunduk. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencengkeram ujung roknya. Ia takut, benar-benar takut. Ia tidak bisa berbohong dan menutupi kejadian semalam. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Ia takut malah ia yang dipersalahkan. Ingin sekali rasanya ia menangis tapi itu akan semakin menambah kecurigaan orang-orang padanya.

            “Mungkin ia sedikit tertekan, biarkan ia menenangkan diri dulu.” Jungmin songsaenim berusaha mecairkan suasana. Ia mendekati Yunha dan menepuk-nepuk pundaknya. “Aku rasa kau juga tidak tega harus mencurigainya bukan?” Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh kepala sekolah. “Kita selidiki pelan-pelan, jangan membuat para siswa menjadi ketakutan.”

            Kepala sekolah mengangguk setuju. Ia juga tidak tega harus mencurigai siswanya. Ia lebih suka jika harus mendapati kenyataan bahwa orang lain pelakunya atau mungkin semua ini murni kecelakaan.

 

Kim Yunha POV

            Setelah keluar dari ruang kepala sekolah aku buru-buru menuju toilet. Aku harus menenangkan diri. Saat ini posisiku aman, ternyata mendapat predikat sebagai siswi tertindas bisa menguntungkanku juga.

            Aku baru saja akan berbelok saat mendapati tanganku ditarik kasar oleh seseorang. Ia mendorongku dengan kasar ke tembok. Aku baru menyadari siapa orang itu saat melihat senyum miring yang selama ini selalu ia tunjukkan padaku. Entah kenapa saat itu jantungku berdegup kencang, bukan karena takut atau kaget tapi karena terlalu malu laki-laki berwajah tampan itu hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahku. Sial, kenapa disaat seperti ini aku masih bisa berpikir seperti itu.

            “Kau pikir kau aman?” Chanyeol mengunciku dengan kedua tangannya. Karena tinggi kami yang terpaut cukup jauh ia sampai harus membungkukkan tubuhnya.

            “Apa maksudmu?” Aku berusaha membuang muka. Sungguh aku membenci laki-laki ini. Jika aku memiliki death note ia akan berada di urutan kedua. Tapi aku juga membenci diriku sendiri yang tidak bisa menahan diri terhadap pesonanya. Iblis jantan ini terlalu tampan.

            “Alohaaaa! Kau pikir aku bodoh?” Chanyeol mengangkat daguku. “Kau pikir aku tertipu dengan kulitmu sebagai siswi tertindas. Aku melihatnya Park Yunha, aku melihatnya.” Chanyeol tertawa keras. “Aku melihat apa yang Kris lakukan padamu dan apa yang kau lakukan pada Kris. Aku melihat semuanya!” Tawa Chanyeol semakin pongah.

            “Kalau melihat kenapa tidak berusaha menolong?” Tiba-tiba saja aku menangis. Entah karena aku sudah ketahuan entah karena disaat keadanku benar-benar terjepit tetap tidak ada yang sudi menolongku.

            “Maaf, seharusnya aku menolongmu.” Terdengar penyesalan pada nada bicara Chanyeol. “Kau berharap aku menolongmu? Ayolah jangan bermimpi. Selama ini aku adalah orang yang berperan sebagai penindasmu, mana mungkin tiba-tiba aku berubah menjadi pahlawanmu. Kau pikir aku Power Ranger?” Chanyeol meninju dinding tepat di telingaku. Astaga, sejahat itukah dia? Sehina itukah aku sampai-sampai dia tidak sudi menolongku? Dia pikir apa artinya keperawananku? Aku benar-benar ingin membunuhnya.

            “Padahal aku berharap lebih tapi ternyata endingnya tidak semenarik pembukaannya.” Chanyeol tersenyum miring. Mungkin saat ini kau berada di zona aman, tapi bagaimana kalau Kris sadar dari komanya dan menceritakan yang sebenarnya. Memberitahukan kepada semua orang kalau kaulah yang mendorongnya.”

            “Aku hanya berusaha melindungi diri.”

            “Ck, pembunuh.” Chanyeol mengangkat kedua tangannya ke udara dengan wajah puas dan berbalik badan. Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku lakukan padanya sehingga aku begitu hina baginya. Pembunuh? Benarkah aku seorang pembunuh? Aku hanya berusaha melindungi diri. Tapi yang dikatakan oleh Chanyeol benar. Bagaimana kalau nanti Kris songsaenim sadar dari komanya? Bagaimana kalau dia memutar balikkan fakta. Semua orang pasti akan memihaknya, tidak akan ada yang memihakku. Apa yang harus aku lakukan?

            Aku memerosotkan diri, menangkupkan wajahku dengan kedua tangan. Aku benar-benar takut dan tertekan. Apa yang harus aku lakukan? Jika Kris songsaenim mengatakan siapa yang mendorongnya aku pasti akan dikeluarkan dari sekolah, namaku pun akan tercoreng. Aku akan benar-benar menjadi aib sekolah.

            “Siapa saja tolong bantu aku.” Desisku lirih.

END POV

Bagi yang nggak tau Jaehyung A-JAX ini pictnya🙂

4 comments

  1. Kim Baekyeon · November 15, 2012

    Kyaaaaa Wu Yi Fan apa yg kalau LAKUKAN ha?*jitakkepalakris*
    DASAR MESUMMM-_-

    Aigoo ksian skali yunha.poor yunha

    Itu park chanyeol bkin kesal aja mw aku jitak-_- tuch anak.

    Mudah-mudahan itu 2 tiang listrik pada SADAR.

    Critanya KEREN banget ^_^.
    Thehun blum ad?
    NEXT aku tnggu.
    Fightaeng….thorrr

  2. julistyjunghaae · December 1, 2012

    yakkk….

    Kris oppa mau ehem sama Yunha tapi untungnya eh gak untungnya deng kan Krisnya jatuh dari tangga’Kan kasian’

    Chanyeolnya jahat amat yah!! jadi sebel aku sama Chanyeol padahal bias aku Chanyeol…

    seru thoooorrrr………

  3. KaniaFidelia98 · August 21, 2013

    aaa bagussss ><
    reader baru neh '-' hehe

    jarang loh ada ff ,yang chanyeol sifatnya begitu…

    keren" '-')9

  4. Park Nahun · September 28, 2014

    Ddaebbak.. Penderitaan yunha blm kelar krn teman2nya saja ternyata.. Aigoo.. Aigoo.. Itu jaehyung.? Gantengnyooo.. Suka suka suka.. Pengen bawa pulang.. :p

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s