[FREELANCE] Regret

Title : Regret
Author : Ruth Kusuma
Cast : Oh SeHun. Xi LuHan EXO. Jang WooRi (OC).
Genre : Angst, romance
Rating : General
Length : One Shoot
Disclaimer : All story is mine. I Hate plagiat!


Pagi telah kembali dan matahari tak lagi bersembunyi. Pintu gerbang sekolah hampir saja tertutup. SeHun berlari cepat seraya mengaitkan kancing blazernya ketika mendengar bel telah berbunyi. Huf… Selamat. Kali ini ia tidak terlambat. Dan BRUK! Seorang lelaki dari arah belakang dengan sempurna menyerempet bahu SeHun.
“LuHan?” Ujar SeHun kaget. Tak seperti biasanya ia terlambat. Xi LuHan, murid yang dua tahun belakangan ini selalu mendapat prestasi sebagai murid dengan absensi terbaik. Jangankan membolos, terlambat saja baru di lihat SeHun kali ini.
“Oh ternyata kau SeHun. Maaf. Aku buru-buru, pagi ini ada pelajaran bahasa Mandarin. Bisa mati aku jika terlambat masuk ke kelas.” Napasnya masih tersengal-sengal. Baju bagian belakang LuHan telah basah oleh keringat.
“Astaga! Jam pelajaran pertama matematika, aku belum mengerjakan PR dari JiHyun Sosaengnim !” SeHun menepuk jidatnya. Ia baru ingat kalau ada tugas dari guru itu.
“Habislah kau SeHun! Terimalah dengan lapang dada omelan dari guru JiHyun nanti.” Batinnya.
SeHun terlihat bingung ketika sebuah buku tergeletak di mejanya. Ia menengok laki-laki yang duduk di sampingnya. Kim JoonMyun menoleh dan mengalihkan pandangan matanya ke meja WooRi.
“Itu dari WooRi. Ia bilang hari ini kau pasti lupa mengerjakan tugas matematika.” Ucap lelaki berkulit putih teman sebangku SeHun. Kim JoonMyun.
SeHun menghembuskan napasnya panjang. Perasaannya lega, bayang-bayang hukuman dari guru matematika yang terkenal galak seantero sekolah, sirna sudah. Dan itu semua berkat Jang WooRi. SeHun tersenyum saat pandangan WooRi tak sengaja beralih padanya. WooRi membalas senyum SeHun lalu memberi kode kepada SeHun agar segera duduk di bangkunya.
“Terimakasih…” Ucap SeHun. Walau terdengar sangat pelan karna jarak bangku mereka yang cukup jauh satu sama lain dan juga suasana kelas yang riuh ramai tapi SeHun mengerti apa yang diucapkan WooRi dari gerakan bibirnya. Tak lama setelah itu WooRi melanjutkan kegiatan membaca bukunya kembali.
“SeHun awas! BRUK.” Gumpalan kertas besar baru saja di lempar ChanYeol. BaekHyun terkekeh karna serangan yang di luncurkan ChanYeol gagal mengenai dirinya. Tiba-tiba suasana riuh ramai berganti menjadi sunyi senyap ketika JiHyun sosaengnim menginjakkan kaki di kelas dan gumpalan kertas yang tadi ChanYeol layangkan tepat mengenai tatanan rambutnya.
“Perbuatan siapa ini?!” Anak-anak serentak menunjuk ChanYeol. Wajah ChanYeol berubah panik dalam waktu sepersekian detik.
“Kemari dan bawa bukumu keluar!” Mata JiHyun sosaengnim melotot.
“Tapi ini bukan sepenuhnya salahku guru. BaekHyun yang membuatku melakukan itu.” Antara takut dan cemas semuanya jadi satu ketika ChanYeol terkena amuk marahnya.
“Jangan banyak alasan. Cepat keluar dan bawa bukumu!” Hampir seluruh anak-anak yang ada di kelas menahan tawanya melihat ChanYeol terkena amuk marah guru super duper galak itu. Semua orang tahu, termasuk guru-guru di sekolah tahu kalau ChanYeol memang murid yang hyperactive. Saking hiperaktifnya ChanYeol ia sering sekali membuat keributan di kelas. Bolak-balik ruang konseling dan menjadi teman akrab guru BP. Ia memang sering sekali bercanda dengan BaekHyun, lalu dalam waktu yang tak lama mereka akan terlihat saling serang gumpalan kertas kembali seperti tadi, dan jika sudah begitu KyungSoo dan JongIn-lah yang akan menjadi penengah dalam keributan yang dua anak manusia ini buat. Tapi untuk kali ini KyungSoo dan JongIn tak dapat berbuat apa-apa, karna mereka sendiri takut dengan kemarahan guru tersebut.
_____

“Ayo kita pergi ke kantin.” SeHun mengulurkan tangannya di hadapan WooRi. Siang itu bel istirahat baru saja berbunyi dan SeHun sudah siap untuk makan siang bersama WooRi. Perempuan itu menyambut uluran tangan SeHun lalu melangkah bersama menuju kantin. Jang WooRi adalah kekasih Oh SeHun. Dia adalah murid pindahan dari Mokpo, baru satu minggu WooRi menetap di sekolah ini. SeHun dan WooRi sebelumnya sudah saling kenal sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama di Seoul, bahkan telah merenda kisah cinta sejak mereka duduk di kelas satu. Hubungan mereka kandas ketika WooRi pindah ke Mokpo di tahun terakhir sekolahnya. Keduanya saling mencintai tapi belum bisa memaklumi hubungan jarak jauh. WooRi-lah yang meminta untuk memutuskan hubungan saat itu. Namun perumpaan yang berkata kalau jodoh itu tak akan kemana tampaknya benar. Karna pekerjaan ayah WooRi yang sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain membuat WooRi dapat bertemu kembali dengan SeHun dan menyambung tali cinta yang dulu sempat terputus.
Bukan tanpa alasan WooRi memutuskan hubungan itu, WooRi hanya tak ingin melihat orang yang di cintainya menahan rindu yang mendalam untuk jangka waktu yang belum bisa di pastikan. Juga menggantungkan kepercayaan satu sama lain. Bukan WooRi tak bisa, WooRi hanya takut. Takut jika ia tak bisa menjaga kepercayaan yang telah SeHun berikan padanya.
“Aku senang kita bisa kembali bersama lagi.” Mereka berdua baru saja mengambil makan siang di kantin lalu saling duduk berhadapan.
“Jang WooRi… Kekasih dan cinta pertamanya Oh SeHun, selamanyanya akan selalu di hati ini.” ujar SeHun. WooRi tersipu malu.
“Berhentilah merangkai kata-kata seperti itu, kau bukan penyair.” WooRi terkekeh. Keduanya saling menikmati menu makan siang mereka.
“SeHun!” Panggil LuHan yang berada tak jauh dari area kantin. SeHun merasa ada seseorang yang memanggilnya dan LuHan kembali memanggil SeHun.
“LuHan, aku di sini.” SeHun melambai-lambaikan tangannya memberi tanda akan keberadaanya di saat suasana kantin yang ramai.
“Aku baru saja ke kelasmu, tapi kau tidak ada. Kenapa belakangan ini kau sering istirahat sendirian?”
“Oh itu… Maafkan aku, aku bukannya istirahat sendirian dan sengaja menjauhimu tapi akhir-akhir ini aku sering ke kantin dengan WooRi.” LuHan melihat wajah WooRi yang duduk di sebrangnya. Wajah LuHan terlihat bingung seakan menanyakan siapa perempuan ini.
“Dia kekasihku, maaf aku belum sempat menceritakannya kepadamu. Ceritanya panjang, nanti akan ku ceritakan. Sekarang cepat ambil makan siangmu. Oh ya WooRi, perkenalkan dia Xi LuHan, sahabatku yang ada di kelas sebelah.” WooRi mengumbar senyumnya lalu menyapa LuHan.
_____

Malam minggu merupakan malam yang panjang bagi sepasang kekasih. Hal tersebut berlaku juga bagi SeHun dan WooRi. Sepasang kekasih ini menghabiskan waktu di sebuah restoran di daerah Hongdae untuk makan bersama, selesai dari tempat itu mereka pergi ke bioskop dan menyaksikan sebuah film. Tak berhenti sampai di situ, mereka berdua lanjut mengunjungi arena permainan koin di sebuah mall hingga malam tiba. Keduanya sangat menikmati waktu bersama. Sudah lama sekali SeHun dan WooRi tak berkencan semenjak perpisahan mereka tiga tahun yang lalu. Mereka makan bersama, menonton bersama, tertawa bersama dan bersukacita bersama. Persis seperti tiga tahun yang lalu.
“Kenapa?” Tanya SeHun. WooRi menghentikan langkahnya saat SeHun tengah berusaha memenangkan sebuah permainan mengambil boneka dengan penjepit di arena permainan koin tersebut.
“Aku lelah, kakiku terasa pegal sekali.” Keluh WooRi. Tiba-tiba saja SeHun berjongkok membelakangi WooRi.
“Kau mau apa?” Tanya WooRi heran.
“Naiklah, biar aku menggendongmu.”
“Ah tidak. Ini kan mall besar, aku malu jika di lihat orang banyak.” Tolak WooRi
“Kenapa mesti perdulikan apa kata orang? Naiklah ke punggungku.” SeHun telah menoleh ke punggungnya. Walaupun awalnya agak ragu tapi akhirnya WooRi mengaminkan perkataan SeHun. Mereka berdua memutuskan untuk pulang, dan jam sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam.
“Aku berat yah?” Tanya WooRi di tengah perjalanan mereka menuju halte bus untuk pulang.
“Tidak, kalau kau berat tentu saja saat ini aku tak mau menggendongmu.” Canda SeHun. Mereka terhanyut dalam gelak tawa. Sesampainya mereka di halte bus keduanya duduk. WooRi kaget ketika tiba-tiba SeHun kembali berjongkok dan memijit-mijit kaki WooRi.
“SeHun-ah, apa lagi yang kau lakukan?” WooRi dibuat heran lagi oleh sikap SeHun.
“Sssttt. Diam saja. Berikan kakimu padaku, aku tau kakimu merasa pegal. Kalau pegal berarti harus di pijit. Bagaimana jika bus yang tiba nanti penuh dan kau harus berdiri di dalam bus selama perjalanan pulang? Setidaknya setelah kupijit kakimu kau akan merasa lebih baik dari sebelumnya.” SeHun tersenyum dan WooRi menatap sang kekasih terharu.
“Itu busnya sudah datang!” ujar SeHun. Setelah bus itu berdiri di depan mereka masuklah keduanya, dan benar perkiraan SeHun. Busnya penuh penumpang. Keduanya bergelayutan di dalam bus, ketika bus sampai di halte selanjutnya ada beberapa orang yang turun dan menyisakan tempat kosong. Kebetulan satu tempat kosong berada tepat di depan SeHun, sedangkan tempat kosong lainnya sudah di tempati orang lain.
“Duduklah.” Ujar SeHun. WooRi menggeleng.
“Kau bilang kakimu pegal, kalau begitu cepatlah duduk. Kalau tidak tempatnya bisa di tempati orang lain.” Desak SeHun. WooRi menuruti apa kata SeHun dan lagi-lagi WooRi dibuat terkagum-kagum dengan sikap kekasihnya itu. Oh SeHun selalu saja begitu. Selalu membuat WooRi terkesima dengan sikap juga wajahnya.
_____

ChanYeol melengser ke kelas sebelah untuk menemui MinSeok. Apa lagi tujuannya kalau tidak mencari bantuan. Hukuman yang di beri guru JiHyun kemarin benar-benar membuatnya stress. Bagaimana tidak, kemarahan guru matematika itu membuat ChanYeol harus mengerjakal 50 soal matematika di bab tiga dan meringkas materi pelajaran tersebut dari bab awal hingga akhir! Keriting jari ChanYeol.
“Sudah kau kerjakan kan?” ChanYeol mengintip dari balik jendela. Untungnya MinSeok duduk di pojok kelas di barisan kiri dekat pintu keluar dan berdekatan dengan jendela kelas.
“Baiklah, jam istirahat nanti aku akan mentraktir apapun makan siangmu.” Ucap ChanYeol. Bel masuk berbunyi saat ChanYeol tiba di kelasnya. Guru JiHyun datang dan menagih tugas yang ia berikan pada ChanYeol. ChanYeol melenggang menuju meja guru dengan percaya diri.
“Kau mengerjakan semua ini sendiri?” Guru JiHyun menelisik wajah ChanYeol dengan seksama.
“Tentu saja guru.” Di bentangkannya gigi putih itu dan tersenyum.
“Baiklah, kembali ke tempatmu.” Perintah sang guru.
Selama pelajaran matematika berlangsung, semua anak memperhatikan dengan sungguh-sungguh penjelasan yang guru JiHyun berikan. Tak ada suara yang terdengar kecuali suara guru JiHyun dan pandangan mata mereka lurus mengarah ke papan tulis.

JAM ISTIRAHAT

Bel istirahat berbunyi. MinSeok sudah berdiri di depan kelas ChanYeol untuk menagih janjinya. Bersama dengan MinSeok, LuHan berjalan menuju kelas SeHun.
“SeHun-ah, hari ini BoRam memintaku menemaninya istirahat di kantin. Tidak apa-apakan kutinggalkan kau istirahat sendirian?”
“Oh, tidak apa-apa. Pergilah, aku akan pergi ke kantin dengan LuHan nanti.” ketika WooRi keluar dari dalam kelas ia berpapasan dengan LuHan yang berjalan untuk masuk kedalamnya. Mata mereka beradu tanpa ada sepatah katapun keluar. Semburat senyum terlihat dari wajah LuHan tapi WooRi hanya diam tanpa ekspresi dan tak membalasnya. Ketika hampir seluruh anak-anak di kelas sudah keluar, tersisa hanya beberapa orang termasuk SeHun, KyungSoo dan JongIn.
“Apa yang kau bawa KyungSoo?” SeHun penasaran ketika melihat KyungSoo mengeluarkan kotak bekalnya. KyungSoo jarang sekali jajan di kantin, ia sudah biasa membawa bekal makanan seperti itu. Sekalipun waktu istirahatnya tidak ia gunakan untuk mengisi perut ia memilih untuk menyambangi perpustakaan sekolah.
“Ini?” Ditunjukkan KyungSoo kotak bekalnya. “Ini Kimchi Spagethi. Aku sendiri yang membuatnya.”
“Kau sendiri?”
“Ya, kau mau?” SeHun mencicip bekal yang di tawarkan KyungSoo. Ketika lidah SeHun merasakan bekal buatan teman sekelasnya itu, terasa sensasi beda dari kimchi-kimchi lain yang sebelumnya pernah SeHun makan.
“Ah KyungSoo… aku juga mau.” JongIn menimbrung.
“Bagaimana bisa kau membuat makanan selezat ini?” Dengan mulut penuh makanan, SeHun berucap. Saking lezatnya makanan buatan KyungSoo itu ia tak rela menelannya begitu saja.
KyungSoo memberikan botol airnya pada SeHun. “Telan dan minumlah…”
SeHun mencoba menelannya perlahan. “Kau sungguh hebat bisa memasak masakan ini.” Puji SeHun.
“Ah jangan berlebihan. Aku tak sehebat yang kau fikirkan SeHun-ah.” Jawab KyungSoo merendah.
“Kalau begitu bolehkah kau ajariku memasak makanan ini?” SeHun tersenyum dan KyungSoo sedikit heran, yang KyungSoo tahu tentang SeHun selama tiga tahun berteman, anak ini tidak pernah tertarik dengan dunia masak memasak, tapi kelihatannya tidak untuk kali ini. KyungSoo mengangguk dan tersenyum. Tak lama setelah itu datanglah LuHan dan mereka berdua pergi ke kantin. Sepanjang perjalanan ke kantin SeHun menceritakan kelezatan masakan yang KyungSoo bawa tadi.
“Ah SeHun, kau membuatku makin lapar saja…” Keluh LuHan.
_____

Tak seperti biasanya, sore itu ketika SeHun keluar dari kamar ia melihat ayah dan ibunya duduk di ruang keluarga lalu ia menengok jam dinding besar yang menunjukkan pukul lima sore. Biasanya jam segini kedua orangtuanya belum pulang dari kantor.
“Ayah, Ibu? Tumben kalian pulang lebih awal.” Ayah SeHun menoleh dengan wajah sedih, begitu juga dengan ibunya.
“Ayah, Ibu. Ada apa?” SeHun duduk di samping ayahnya dan beliau bercerita bahwa mereka baru saja mendapat kabar dukacita. Nenek SeHun dari pihak ibu yang selama ini tinggal di Jepang baru saja meninggal.
“Lalu?”
“Kita harus berangkat ke Jepang besok pagi.” Wajah ibu SeHun benar-benar terlihat sedih.
“Asisten Ayah akan mengurus semua masalah sekolahmu. Mungkin untuk beberapa hari ini kau tidak dapat masuk sekolah.”
Bukan SeHun tak mau pergi ke Jepang, bukan pula ia tak sedih mendengar kabar dukacita itu. Tapi… “Ah tidak tidak! Apa yang kau fikirkan SeHun?! Semuanya akan baik-baik saja, WooRi tidak akan kenapa-napa.” Batinnya.
“Sekarang kemasi barang-barangmu, kita akan berangkat jam tujuh pagi nanti.” Suara parau ibu SeHun terdengar. SeHun tak tega melihat ibunya sedih seperti itu. Ia peluk ibunya erat-erat lalu berjalan menuju kamar.

“Jepang? Kenapa mendadak sekali?” Tanya WooRi di line telefon saat SeHun sedang sibuk mengemasi pakaiannya. Ia membuka lemari besar yang terletak di kamarnya sembari memilah baju mana saja yang akan ia bawa untuk di kenakan disana.
“Nenekku yang tinggal di Jepang baru saja meninggal, kata Ayah aku wajib untuk datang. Kurang lebih aku akan berada disana untuk dua minggu kedepan. Tidak apa-apa kan kau kutinggal?” Hening sejenak.
“Ya, tentu saja. Aku mengerti, aku mengerti keadaanmu saat ini, aku juga mengerti kesedihan orang tuamu. Baik-baiklah disana. Jaga kesehatanmu, jangan lupa makan. Kau mengerti?” Ucapan WooRi tersebut mampu membuat senyum SeHun mengembang. Seketika perasaan sedih itu sedikit terkikis. “Dan tenang saja, akan kucatat semua materi pelajaran selama kau pergi ke Jepang, dengan begitu kau tidak akan ketinggalan pelajaran.” Cukup lama mereka mengobrol di telepon dan ketika SeHun selesai mengemasi barang-barangnya selesailah pembicaraan mereka.
“Aku mencintaimu SeHun…” Ucap WooRi menutup pembicaraan.
_____

LuHan berjalan santai menuju kelas SeHun. Sesampainya LuHan di tempat tujuan, tak dilihatnya SeHun duduk di bangkunya.
“Apa dia sudah terlebih dahulu menyambangi kantin?” Pikir LuHan. Ditengoknya tas SeHun namun tak juga terlihat. Bangkunya kosong, hanya bangku di sebelahnya yang terlihat tas dan buku di atas meja.
“Kau mencari SeHun?” Tanya WooRi sedikit canggung. Bagi anak baru semacam WooRi, ia masih sulit beradaptasi dengan teman-teman SeHun. Apalagi dari kelas sebelah. Satu-satunya murid lain yang WooRi kenal dari kelas yang letaknya bersebelahan dengan kelasnya itu hanya Wu YiFan, ketua kelas yang kepopulerannya melebihi sang kepala sekolah dan bersaing ketat dengan guru JiHyun. LuHan mengangguk. Ya, SeHun lupa untuk memberitahu pada LuHan tentang apa yang keluarganya alami.
“Untuk beberapa hari ini SeHun tidak masuk,”
“Kenapa?” LuHan terlihat sedang berfikir.
“Neneknya baru saja meninggal.”
“Benarkah?” WooRi mengangguk. Mendengar itu LuHan memilih untuk meninggalkan tempat itu dan WooRi berjalan seorang diri ke kantin karna hari ini BoRam juga tidak masuk. Awalnya LuHan kaget dan heran kenapa SeHun tak mengabarinya tentang peristiwa itu, tapi LuHan tak terlalu mempersoalkannya. Mungin SeHun terlalu sedih mendengar kabar itu sehingga lupa memberitahunya.
Di kantin WooRi bertemu kembali dengan LuHan. Lelaki itu berjalan seorang diri mencari bangku yang kosong.
“Ah itu dia…” LuHan mengarahkan pandangannya ke arah meja ChanYeol dan MinSeok yang tersisa satu tempat, namun belum sempat menempatinya bangku itu telah di sosor oleh BaekHyun. Pandangan LuHan kini berganti ke arah meja WooRi. Hanya itu satu-satunya meja yang tersisa sedangkan area kantin tengah riuh ramai oleh banyak murid yang sedang istirahat.
“Boleh aku duduk di tempat ini Woo…Ri?” Tanya LuHan segan. WooRi terperangah mendengar ucapan LuHan.
“Bo… Boleh, silahkan.” Ucap WooRi terbata-bata.
Awalnya memang sangat canggung, tapi lama kelamaan semuanya berjalan begitu saja ketika LuHan mulai membuka suara. Obrolan awal yang dimulai dari membicarakan masalah SeHun kini berganti menjadi obrolan seputar masalah kelas, guru dan sekolah.
“WooRi tunggu,” Langkah kaki WooRi terhenti ketika ia hendak meninggalkan kantin sesaat setelah bel masuk di bunyikan.
“Terimakasih.” LuHan tersenyum dan WooRi membalasnya.
Esok dan besoknya lagi, dan besoknya lagi hal sama terjadi pada WooRi dan LuHan. Beristirahat bersama, makan siang bersama dan hari ini LuHan mengajak WooRi pulang bersama. Awalnya WooRi menolak namun akhirnya WooRi mengiyakan juga ajakan LuHan.
“Aisssh…” Langkah kaki WooRi terhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya saat ia baru saja diantar oleh LuHan dengan motor besarnya itu.
“Ada apa denganku???” Berkali-kali WooRi menepuk kepalanya. “Ingat SeHun WooRi, ingat SeHun!” Bibirnya boleh saja berkata seperti itu, tapi hati dan pikirannya justru berbanding terbalik. Wajah dan suara LuHan masih jelas terekam di pikiran WooRi. Benar apa kata orang, cinta datang dari hal yang biasa dilakukan bersama. Ada apa ini?
_____

“Tidak… Itu tidak akan bisa. Kita tidak boleh melakukan itu. Dan kau tak boleh jatuh cinta denganku.” WooRi dan LuHan baru saja pulang dari sekolah siang itu, namun keduanya telah sepakat untuk pergi ke suatu tempat. Pergi ke danau buatan yang letaknya tak jauh dari taman belakang sekolah.
“Tapi WooRi, aku mencintaimu.”
“Aku mengerti, tapi SeHun itu sahabatmu. Bagaimana bisa kau…” Kata-kata WooRi terpotong. Di dekapnya WooRi oleh LuHan.
“Bagaimana bisa aku mencintai pacar sahabatku sendiri? Bisa saja, dan aku salah satu contohnya.” Dekapan LuHan makin erat.
“Tapi…”
“Kau masih mau berbohong?” LuHan melepaskan dekapannya.
“Aku tidak berbohong. Sungguh.”
“WooRi dengar,” Di pegangnya erat kedua pundak WooRi dan LuHan menatap kedua mata perempuan itu. “Ketika bibir dan hati mengatakan hal yang bertolak belakang maka ketahuilah, sesungguhnya matamu tak bisa berbohong.” WooRi terhenyak. Darahnya berdesir dan jantungnya berdegup lebih cepat.
“Bagaimana bisa LuHan memperlakukanku seperti ini? Mendekap, menatapku dan membuat jantungku hampir copot tiap kali berada di dekatnya. Ah tidak tidak! Ini hanya perasaan sesaat saja. Ya, aku yakin. Perasaan sesaat. Aku tidak boleh, bukan. Aku tidak bisa mengkhianati cinta SeHun. Baru di tinggal beberapa minggu saja sudah seperti ini. Tidak tidak. Ini tidak boleh!” Batin WooRi seraya terlamun. LuHan memandangi air di danau buatan yang terbentang luas di hadapannya.
“Kita pulang saja.”
“Tapi Woo,”
“Aku tidak bisa LuHan!” WooRi berjalan meninggalkan tempat itu dan LuHan mengejarnya. “Tunggu aku WooRi!” di abaikannya ucapan LuHan tersebut.
“Baiklah,” langkah LuHan terhenti. Di pandanginya perempuan dengan rambut panjang, kulit putih dan tubuhnya yang sintal itu. “Ayo kita berjalan di belakangnya!” kini giliran langkah WooRi yang terhenti. Di tengoknya LuHan dan memandanginya dengan tatapan heran seakan berkata ‘apa kau sudah gila?’
“Hanya kau dan aku yang tahu, kalau begitu apa salahnya?”
“Lalu SeHun?” Hening seketika.
“Jadi kau benar-benar tidak menyukaiku?” tanya LuHan. Dilema sekejap menggerogoti hati dan pikiran WooRi. Kalau sudah saling suka lalu untuk apa lagi menghindar? Jika keduanya tahu perasaan satu sama lain, lalu apa masih perlu alasan dari laki-laki itu?
_____

Dua minggu sudah SeHun berada di Jepang. Hari ini ia pulang ke Korea dan tentunya bertemu kembali dengan WooRi. Setibanya di bandara Incheon SeHun menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya. Tapi… Ah, SeHun pikir langit Korea sabtu pagi ini cerah, ternyata mendung berawan.
SeHun mengambil handphonenya hendak menelpon WooRi.
“Sudah sampai??? Kenapa tidak bilang sebelumnya?” WooRi kaget bukan kepalang ketika ia mendapat telepon dari SeHun, padahal saat itu WooRi dan LuHan sedang berolahraga bersama di taman belakang apartemen LuHan.
“Bertemu?” Tiba-tiba WooRi panik. Dari gelagatnya saja LuHan tau kalau itu telepon dari SeHun.
“Ta… Ta, tapi… Tapi aku ada janji mengantar Ibuku ke dokter.” Dusta WooRi.
“Ibumu sakit? Sakit apa? Kenapa tidak memberitahuku? Biasanya kau selalu cerita tentang Ibumu.” Suara SeHun terdengar khawatir. Karna keduanya telah kenal sejak lama, otomatis ibu WooRi mengenal SeHun dan SeHun telah menganggap ibu WooRi sudah sebagai ibunya sendiri. WooRi bingung ingin jawab apa dan LuHan mengisyaratkan untuk memutuskan saja sambungan telepon itu.
“Apa? Hallo SeHun. Hallo? Aku tidak mendengarmu, suaramu tidak terlalu jelas.” KLIK. Sambungan terputus. SeHun memandangi handphonenya bingung.
“Apa karna cuacanya sedang tidak bagus sehingga jaringannya terganggu?” Gumam SeHun dan ia menengadahkan wajahnya ke langit.
_____

Karna hari ini SeHun sudah mulai masuk maka permainan kucing-kucingan antara WooRi dan LuHan dimulai.
“Tak perduli hubungan ini semu atau tidak. Yang kutahu aku mencintai WooRi.” Gumam LuHan ketika ia baru saja sampai di kelas. Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, LuHan mencuri pandang ke arah kelas WooRi dari jendela-jendela kelas yang terbuka, siapa tahu ia dapat melihat WooRi duduk manis di kelasnya.
Dengan hati riang, wajah bersinar dan senyum merekah, SeHun datang ke sekolah. Apalagi yang membuatnya seperti itu kalau bukan karna WooRi.
“Kau berdiri di hadapanku dan kini gugurlah semua rindu.” Batin SeHun saat ia melihat WooRi masuk kedalam kelas dan menatapnya.
Pelajaran dimulai, mereka kembali membuka buku pelajaran dan memandangi papan tulis yang penuh dengan tulisan. Sesaat guru yang sedang mengajar berdiri menjelaskan materi yang beliau berikan dan setelah itu menyuruh murid-muridnya mencatat kembali. Sesekali SeHun dan Woori mencuri pandang.
Tak terasa empat jam telah berlalu sejak bel masuk sekolah tadi berbunyi. Istirahat kali ini entah kenapa SeHun merasa WooRi sengaja mengulur waktu. Biasanya WooRi paling tidak suka dengan semua hal yang bertele-tele. SeHun tau WooRi termasuk ke dalam golongan siswa yang pandai dan bagi siswa pintar sepertinya mengerjakan lima soal matematika yang baru saja di ajarkan guru JiHyun tadi bukan perkara yang susah. SeHun sendiri sudah selesai mengerjakan soal-soal tersebut sejak tadi, bahkan sekalipun murid yang masuk dalam kelompok nilai terbawah juga sudah selesai dari tadi.
“SeHun-ah!” Ujar LuHan dari balik pintu kelas. SeHun menghampiri LuHan dengan perasaan gembira.
“Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak memberitahuku tentang kejadian itu? Ah, tapi tak apalah. Yang penting sekarang kau sudah kembali dengan selamat.” Ucap LuHan sembari mencuri pandang pada WooRi. Melihat LuHan sudah datang WooRi langsung membereskan buku-bukunya. Sebelum datang ke sekolah keduanya sudah berjanji untuk tetap istirahat di kantin bersama. Walaupun ada SeHun….
“Tentu saja, aku tau kau sangat merindukanku Xi LuHan.” Canda SeHun. Mereka berdua berjalan keluar setelah SeHun mengajak WooRi untuk ikut bersamanya. Suasana canggung menggaung kembali. WooRi hanya diam sedangkan LuHan tampak tak seperti biasanya. LuHan yang di kenal SeHun cukup talkactive jika sedang bersamanya kini terlihat lebih pendiam dan hal itu membuat SeHun sedikit merasa ada keganjilan. Di tengoknya WooRi lalu LuHan bergantian dan tak lama SeHun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak. Tidak mungkin. Pikiran apa itu?” Batin SeHun.

Hari ini tumben sekali WooRi menolak ajakan pulang bersama SeHun. Tapi SeHun tak mempermasalahkan masalah ini. Ketika SeHun berjalan menuju halte bus yang terletak tak jauh dari sekolah ia bertemu dengan ChanYeol, BaekHyun, KyungSoo dan JongIn. Karena rumah mereka satu arah, kelima laki-laki itu pulang bersama. Namun untuk yang kedua kalinya SeHun merasakan keganjilan. Ia tak yakin dan memang tak ingin meyakinkannya.
SeHun melihat WooRi yang berdiri di trotoar jalan tak jauh dari halte bus tempat SeHun menanti bus pulang bersama teman-temannya. WooRi terlihat sedang menunggu seseorang. Tapi siapa? Entahlah.
Bicara soal Xi LuHan, semenjak ia tau bahwa SeHun sering pulang bersama WooRi, Kini LuHan sering pulang sendirian dengan motor besarnya. Dan saat SeHun meminta untuk pulang bersama LuHan tadi, karna WooRi tak dapat pulang bersamanya, LuHan menolak tanpa alasan yang jelas. Bahkan LuHan terlihat menghindar sejak bel pulang sekolah tadi. Padahal saat itu SeHun ingin menjelaskan hubungan antara ia dan WooRi. Lagi-lagi SeHun merasa ada yang aneh.
“Tidak. Konyol sekali jika LuHan melakukan itu padaku.” Beribu dugaan muncul di benak SeHun dan tiap kali dugaannya muncul tiap kali itu juga SeHun menyangkalnya.
_____

Hari ini ada sesuatu yang berbeda dari SeHun. Setelah hari libur kemarin ia menghabiskan waktu bersama KyungSoo di dalam dapurnya untuk mengajari SeHun memasak Kimchi Spagethi, wajahnya terlihat cerah bersinar. Ditentengnya bekal tersebut dengan perasaan sukacita. Senyumnya juga terus mengembang.
“Ini untukmu. Makanlah.” SeHun membuka kotak bekalnya di atas meja WooRi di jam istirahat mereka siang itu. WooRi diam sekaligus heran. Yang ia tahu SeHun paling tidak bisa memasak, jadi ia kira mungkin bekal yang dibawa SeHun itu buatan ibunya.
“Aku sendiri yang memasaknya.” Ujar SeHun. WooRi tercengang tak percaya. SeHun mencuri pandang pada KyungSoo yang masih duduk dibangkunya dan mereka terkekeh.
“KyungSoo yang mengajariku.”
“Benarkah?” pandangan heran itu kini berganti menjadi tatapan kagum. Suasana kelas menjadi sepi ketika KyungSoo dan JongIn, siswa yang masih ada di dalam kelas keluar hingga tersisa hanya SeHun dan WooRi. Mereka menikmati makanan tersebut bersama-sama.
_____

“Kenapa kau tidak datang? Aku menunggumu sejak tadi.” LuHan melipat kedua tangannya di dada dan memandang WooRi sengit.
“Maaf… SeHun membuatkan makan siang untukku tadi, aku benar-benar tak tega menolaknya.”
“Tapi aku telah menunggumu siang tadi di sini.” LuHan memandang riak air danau yang terlihat tenang.
“Tapi aku benar-benar tak tega menolaknya.” Siang itu LuHan dan WooRi telah berencana untuk makan siang di luar, di dekat danau. Tak peduli jika harus melanggar peraturan sekolah karena keluar masuk area sekolah seenaknya, yang penting LuHan dan WooRi dapat menghabiskan waktu siang mereka bersama. Lagipula tak ada warga sekolah yang terlihat di sana selama jam operasional sekolah berlangsung.
“Sekali saja menolak ajakan makan siang bersamanya tak masalah kan? Semenjak dia kembali aku merasa waktu kita untuk bersama semakin berkurang!”
“Berkurang bagaimana?” Kedua mata itu beradu pandang dan akhirnya WooRi memilih untuk mengakhiri adu tatap itu terlebih dahulu. LuHan membuang mukanya.
“Kenapa kau berubah jadi egois begini? Kalau diriku dapat dibagi menjadi dua bagian, satu untukmu dan satu untuk SeHun tentu aku akan melakukannya. Tapi itu tidak bisa! Jadi kumohon, mengertilah LuHan.” WooRi menarik nafas panjang. Suasana menjadi hening untuk waktu yang cukup lama dan tiba-tiba LuHan memeluk WooRi.
“Aku mengerti. Maaf… Aku mengerti kau bukan sepenuhnya milikku dan tak seharusnya aku menuntutmu seperti itu. Tapi… semakin lama aku tak rela jika kau bersamanya.” Di dekapnya WooRi erat.
Sore itu JunMyun, BaekHyun, ChanYeol, KyungSoo, dan JongIn serta SeHun berlatih basket bersama dengan anak-anak dari kelas sebelah menjelang pertandingan basket antar SMA yang akan di helat tak lama lagi. Kebetulan ketika berlatih air minum mereka baru saja habis. ChanYeol menyuruh SeHun untuk membelinya selaku SeHun sebagai pemain cadangan. KyungSoo menawarkan diri untuk menemani SeHun membeli minuman, tapi SeHun menolaknya. “Lanjutkanlah latihanmu, aku bisa sendiri KyungSoo.” Begitu ucap SeHun. Ia berjalan ke mini market yang letaknya tak jauh dari gedung sekolah mereka. Dalam perjalanan SeHun tak sengaja melewati danau buatan yang terletak tak jauh dari taman belakang sekolah dan melihat WooRi dan sahabat karibnya tengah berpelukan mesra.
Hati SeHun sakit tiba-tiba. Dadanya terasa sesak, ia meraba dadanya dan matanya terasa panas seperti akan ada bulir-bulir air mata yang keluar. Hati SeHun baru saja di rajam. Di rajam oleh sebuah pengkhianatan, dan itu lebih sakit dibandingkan di rajam dengan pengertian harafiah.
“SeHun?!” WooRi langsung melepaskan pelukan LuHan ketika ia melihat SeHun memergoki dirinya bersama Xi LuHan.
“Jadi di belakangku kalian seperti ini? Sejak kapan kalian memulai ini? ” SeHun berjalan mundur hendak menghindari WooRi dan LuHan, tapi WooRi malah makin mendekat.
“SeHun tunggu, ini bukan seperti apa yang kau lihat,”
“Ternyata hal yang kutakuti selama ini justru benar-benar terjadi.” SeHun menatap WooRi dalam. Tatapan kecewa dan perasaan yang di khianati jelas terlihat.
“Dan kau LuHan. Kau sungguh menyedihkan!” Tatapan SeHun bergantian menatap LuHan. LuHan sendiri terlihat jadi serba salah.
Dulu selalu LuHan orang pertama yang SeHun datangi tiap kali ia mengalami kesulitan dan butuh pertolongan. Dulu selalu LuHan yang mau berbagi cerita padanya, dulu selalu LuHan yang dengan setia menamani SeHun saat SeHun kesepian. Dan dulu SeHun selalu bilang bahwa LuHan adalah seorang sahabat yang baik. Dulu… Dulu… Dulu, itu dulu. Kini semua hanya tinggal cerita. SeHun kesal, benci melihat kedua orang itu. Tapi ia juga tak mungkin membalas WooRi dengan menyakitinya atau menghajar LuHan karna telah mengkhianti persahabatannya. Itu bukan gayanya. SeHun memilih pergi dan tak masuk sekolah beberapa hari semenjak kejadian itu.
_____

Handphone SeHun tak aktif sejak kejadian sore kelabu itu. Telepon, pesan singkat, pesan suara semuanya berakhir sia-sia. Bahkan jejaring sosial milik KyungSoo terlihat seperti tak berpenghuni. Percuma saja WooRi lakukan itu, dan lagi tiap kali WooRi berkunjung ke rumah SeHun pintu itu selalu tertutup baginya. Kalaupun terbuka mungkin hanya pembantu rumah SeHun yang membukanya dan selalu bilang kalau SeHun tak ada di rumah.
Tapi pagi ini WooRi benar-benar dibuat terkejut dengan kedatangan SeHun. Setelah hampir seminggu ia tidak masuk kini SeHun hadir dengan penampilan berbeda. Benar-benar terlihat seperti bukan SeHun yang sebenarnya. Rambutnya terlihat makin panjang hingga menutup matanya, sesekali ia mengibaskan rambutnya agar dapat melihat lebih jelas. Pakaiannya benar-benar lusuh, wajahnya kini ditumbuhi oleh janggut. Tampaknya SeHun tak berniat mencukur janggut yang tumbuh subur di dagunya itu. Badannya juga terlihat lebih kurus, apa selama tidak masuk ia jarang makan?
“SeHun…” Ucap WooRi dengan senyum khasnya. SeHun berlalu saja dan tak menghiraukan ucapan WooRi.
“Bagaimana kabarmu?” Pertanyaan itu tak juga di gubrisnya.
“Kau siapa?” Tanya SeHun dengan tatapan kosongnya. Tatapan orang kehilangan arah.
Ia menaruh tasnya dan pergi entah kemana. Ketika keluar dari kelas SeHun berpapasan dengan LuHan. Melihat dari kejauhan pun LuHan dapat merasakan perbedaan di diri SeHun. Selama hampir tiga tahun berteman tak pernah dilihatnya SeHun seperti itu dan penampilannya sekarang benar-benar bukan gaya SeHun. LuHan baru saja ingin memanggil SeHun, ingin meminta maaf dan menjelaskan kejadian waktu itu, tapi SeHun berjalan sangat cepat.

Semakin hari rasa penyesalan di hati WooRi makin dalam saja. WooRi merasa ialah yang telah membuat SeHun menjadi seperti sekarang ini. Bukan hanya penampilannya yang urakan, nilai-nilai pelajaran SeHun juga jadi urakan. LuHan sendiri juga ikut merasa bersalah, justru dialah yang telah membuat SeHun seperti ini. Kalau saja ia tidak jatuh cinta pada pacar sahabatnya sendiri mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Sekarang hubungan WooRi dan LuHan terasa tak jelas. Terasa hambar dan tak menarik lagi. Tiap kali LuHan ingin membicarakan masalah ini SeHun selalu menghindar.
“Pukul saja aku!” Teriak LuHan di koridor kelas ketika SeHun baru saja keluar dari kelasnya dan suasana sekolah sudah benar-benar sepi.
“Apa kau tuli? Pukul aku. Habisi aku!” Ucap LuHan lagi. Sedangkan WooRi sedang berjalan menuju kelasnya mengambil buku tulis yang tertinggal di bawah laci mejanya.
“Aku tak ingin mengotori tanganku dengan pengkhianat sepertimu!” Ucap SeHun dingin dengan tatapan sengitnya. “Lebih susah mencari seorang sahabat dari pada musuh. Mempercayaimu adalah sebuah kesalahan terbesar. Aku menyesal. Dan kurasa aku telah salah mempercayaimu sebagai sahabat X i L u H a n.” Di ejanya nama LuHan dan SeHun berjalan kembali.
“Dan kekerasan sama sekali bukan gayaku!” SeHun menoleh dan kata-kata tersebut merupakan kata-kata terakhirnya sebelum SeHun benar-benar pergi. Ketika SeHun berjalan menuruni anak tangga ia bertemu dengan WooRi. Tatapan matanya benar-benar tak bisa digambarkan. “Jika kau dan aku menjadi kita, apa masih perlu dia?” Antara benci, kesal dan sakit hati tapi juga rindu semuanya jadi satu. Tak ada kata yang terucap, SeHun berlalu begitu saja dan sikapnya tersebut makin membuat WooRi merasa bersalah dan sedih. Esoknya SeHun tak masuk lagi. Ia menitip surat untuk WooRi melalui KyungSoo.
“SeHun menitipkan ini untukmu.” KyungSoo baru saja datang di kelas pagi itu. Melihat WooRi yang sedang melamun, KyungSoo memutuskan untuk memberikan surat tersebut saat itu juga. Surat itu sekaligus membawa kabar bahwa SeHun akan pindah ke Jepang bersama kedua orangtuanya. Memang tidak tertulis dalam surat tersebut, karna kabar itu langsung SeHun ucapkan pada KyungSoo malam tadi.
“Apa ini?” Suara WooRi terdengar parau. Matanya juga terlihat bengkak. KyungSoo dapat menebak dengan pasti bahwa ia habis menangis semalam.
“SeHun memberikannya padaku tadi malam. Tak banyak yang ia bilang. Ia hanya ingin aku menyampaikan ini padamu dan juga ia akan pindah ke Jepang mulai lusa.” Cepat-cepat WooRi buka dan tanpa sadar air mata WooRi menetes.

“Semula ku tak yakin kau lakukan ini padaku. Meski di hati merasa kau berubah saat kau mengenal dia…
Bila cinta tak lagi untukku dan bila hatimu tak lagi padaku, mengapa harus dia yang merebut dirimu? Bila aku tak baik untukmu dan bila dia bahagia dirimu, aku akan pergi mesti hati tak akan rela.
Terkadang aku menyesal kenapa ku kenalkan dia padamu saat itu…”
Di remasnya kertas itu dan WooRi berlari pergi menuju danau di halaman belakang sekolahnya. WooRi melihat LuHan berdiri disana. LuHan tertunduk lemas dan semakin lemas melihat WooRi berlari sambil menangis menghampirinya.

The End.

3 comments

  1. egar fransisco · December 9, 2012

    Lanjutin dong penasaran bgt sma crita nya🙂 crita nya kren bgt

  2. Nurul · September 10, 2013

    kasihan sehun, sehun cemungudh. ngemeng ngemeng , nama main cast nya kan ‘woo ri’ , kebtulan sekali kyak nama korea ku kkk~

  3. unamed · September 14, 2013

    Jd si woori sm luhan? Najis

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s