Here We Are

Title                : Here We Are

Main Cast     : Byun Baekhyun-EXO K (SM Ent)

                        : Han Sungyeon-KARA (DSP Ent)

                        : Oh Sehun EXO K (SM Ent)

                        : Park Chanyeol EXO K (SM Ent)

Support Cast   : Do Kyung Soo EXO K (SM Ent)

                        : Kim Joonmyun EXO K (SM Ent)

                        : Kang Jiyoung-KARA (DSP Ent)

                        : Go Woori-Rainbow (DSP Ent)

Genre              : Angst, Friendship, Brothership

Length             : 4890

Abstrak Cerita            : Seorang sahabat yang menyesal karena memutuskan ikatan dengan ketiga  sahabatnya karena sesuatu yang seharusnya tidak ada yang dipersalahkan. Tiga tahun kemudian setelah memiliki kesempatan untuk bertemu ternyata Tuhan berkehendak lain.

 

Author Notes  : Fanfiction ini terinspirasi novel Éclair, tapi bukan plagiat maupun adaptasi. Hanya ingin mencoba menyampaikan arti sebuah persahabatan dan kata maaf dalam versi author. Fanfiction ini termasuk dalam 35 besar lomba fanfiction writing di http://hyeahkim.wordpress.com/2012/10/14/here-we-are/

Baekhyun tergesa-gesa mencari teko berisi air putih di dapur. Setelah meneguk habis minumannya ia memerosotkan diri ke lantai. Mimpi itu, lagi-lagi mimpi itu menghantuinya. Selama tiga tahun ini jika ada yang beranggapan bahwa ia baik-baik saja setelah kejadian itu maka mereka semua salah. Ia menyalahkan tapi disaat bersamaan juga merasa bersalah.

            Setelah merasa sedikit tenang ia beranjak dari dapur dan menuju ke halaman. Berharap bahwa surat-surat yang biasanya selalu ia terima di akhir pekan memenuhi kotak surat. Tidak sabar ia membuka kotak surat. Jantungnya hampir saja melompat keluar ketika ia melihat terdapat tiga buah amplop di dalam kotak suratnya. Selama ini ia hanya dapat dua. Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia selalu mengharapkan orang itu juga mengiriminya surat. Mungkin tidak harus satu minggu sekali, tapi setidaknya ia bisa memastikan bahwa orang itu masih mengingatnya.

            Buru-buru ia mengambil amplop-amplop tersebut, memastikan identitas si pengirim. Ia mencelos saat melihat pengirim amplop ketiga, ternyata bukan surat dari orang itu, melainkan surat untuk ayahnya. Baekhyun menghela napas, melirik rumah bercat hijau daun tepat di samping rumahnya. Cukup lama ia memperhatikan rumah tersebut sekaligus berdo’a bahwa orang itu akan muncul dari balik pintu. Mustahil, dia telah pergi begitu saja dan tidak mungkin akan kembali begitu saja.

            Dengan malas Baekhyun kembali masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan surat-surat miliknya di atas sofa. Ia sudah hapal isi surat-surat yang tidak pernah ia balas itu. Surat-surat yang selalu berisi pertanyaaan mengenai kabarnya dan memberitahukan bahwa mereka semua baik-baik saja.

Baekhyun sadar mereka semua merasa kehilangan, tapi ia tidak yakin bahwa ia-lah bagian yang hilang itu. Kisah mereka sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu, tidak ada sekuel ataupun after story dari kisah mereka. Semuanya telah selesai, itu menurutnya.

            Ia mengambil amplop yang berwarna biru. Surat Sungyeon selalu menjadi surat pertama yang ia buka. Ia suka warna-warna amplop milik gadis itu, selalu berwarna cerah dan membuatnya seolah-olah bisa merasakan kehadiran gadis itu.

            “Aku baru saja menerima pernyataan cinta dari seseorang yang selama ini aku kagumi. Kini kami resmi menjadi sepasang kekasih.” Baekhyun sampai tidak sadar bahwa ia menahan napas saat membaca bagian tersebut. Kalimat-kalimat lain terus ia baca tapi tidak bisa mencernanya, satu-satunya yang bisa ia simpulkan dari beratus-ratus kata yang dituliskan oleh Sungyeon adalah ia telah memiliki kekasih bernama Kim Joonmyun. Dadanya terasa sesak, selama tiga tahun ini ia selalu suka isi-isi surat Sungyeon yang selalu ceria tapi tidak untuk kali ini. Ia merasa resah, amat resah.

            Baekhyun mendesah dan memijit dahinya. Ia sudah tidak punya hak lagi akan hal itu. Sejak tiga tahun yang lalu haknya sudah resmi hilang. Kemudian ia melirik amplop milik Sehun. Tidak ada yang istimewa dari surat milik Sehun. Selalu diawali dengan permintaan maaf dan diisi dengan berbagai ocehan tentang musik. Ia tahu bahwa Sehun hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka masih memiliki sesuatu yang bisa dipersatukan.

            Sehun sama sekali tidak membahas hubungan Sungyeon dengan laki-laki bernama Kim Joonmyun itu. Tangannya sudah gatal untuk menekan nomor Sungyeon dan memastikan bahwa Joonmyun adalah orang yang tepat bahkan bisa saja ia langsung memesan tiket pesawat ke Jepang dan mengkonfirmasi sendiri bahwa laki-laki itu pantas untuk Sungyeon. Ini bukanlah masalah sepele. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menepiskan semua kekhawatirannya. Sejak kejadian tiga tahun lalu seharusnya ia sudah berhenti untuk mengkhawatirkan orang-orang itu.

            Ia kembali melipat surat milik Sungyeon dan Sehun. Kali ini pun ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak membalasnya. Ia punya apapun yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan mereka, yang tidak ia punya adalah kesiapan untuk melakukannya. Sehun, Sungyeon dan orang itu. Ia tidak bisa terus-terusan membohongi dirinya sendiri bahwa ia merindukan mereka. Tapi ia tidak tahu bagian mana yang ia rindukan dari orang-orang yang telah membunuh seseorang yang sama berartinya seperti mereka.

            “Ibu Woori meninggal.”

            Baekhyun meletakkan biola di atas meja saat mendengar Kyung Soo yang baru saja kembali dari ruang dosen.

            “Aku turut berduka cita.”

            “Aku tidak menyangka.”

            “Semoga Woori bisa kuat, dia anak sulung bukan?”

            Baekhyun terpaku, ia merasa sesak mendengar semua ucapan teman-temannya. Ucapan berbela sungkawa, ungkapan tidak percaya, orang-orang yang berusaha menghibur, ia pernah mengalami masa-masa itu. Itu bukan kata-kata tulus, hanya sebuah formalitas di saat mendengar berita duka. Lagipula ia yakin bahwa bukan itu yang Woori butuhkan, Woori hanya membutuhkan ibunya, ia tidak butuh dikasiani ataupun dihibur. Ia tahu betul apa yang dibutuhkan oleh orang yang ditinggal mati oleh orang yang disayanginya.

            “Baekhyun ayo kita pergi.”

            “…”

            “Kita semua sama-sama kehilangan Jiyoung.”

            “…”

            “Apapun yang terjadi kita akan melewati semua ini bersama-sama.”

       “Berhenti menyebutkan kita. Siapa yang kalian maksud dengan kita? Bersama-sama? Kata itu sudah tidak pantas lagi kau ucapkan kepadaku”

            “Aku mengerti bagaimana perasaanmu Baekhi.”

            “Tidak Sehun! Kalian tidak mengerti bagaimana perasaanku.”

            “Jiyoung juga sahabat kami.”

            “Kalian yang membuatnya seperti ini.”

            “Aku juga tidak pernah menduga akan terjadi kecelakaan itu.”

            “Kau yang mengendarai mobilnya, Chanyeol!”

            “Baekhyun, aku minta maaf. Tidak seharusnya kami mengganggu Chanyeol—“

          “Dengar.” Baekhyun membalikkan badannya. “Tidak ada lagi kata kita dan bersama-sama. Aku dan kalian bukan siapa-siapa, lagi! Satu hal lagi, apa dengan mengatakan maaf Jiyoung bisa hidup kembali?”

            “Baekhyun, hati-hati dengan ucapanmu.”

            “Jangan menangis Sungyeon, aku tahu itu air mata palsu.”

            “Baekhyun!”

            “Kau baik-baik saja?”

            Baekhyun terlonjak kaget saat merasakan hentakan pada pundakknya. “Ayo bersiap-siap ke rumah duka.” Kini Kyung Soo sudah membenahi biola milik Baekhyun. Baekhyun hanya diam dan menurut. Ia berusaha untuk tetap tenang, sudah cukup sering kenangan itu muncul tiba-tiba dan ia selalu berhasil untuk mengabaikannya, setidaknya untuk tiga tahun ini.

            Baekhyun mendekati Woori yang duduk di sudut ruangan, menyendiri. Sejak kedatangan mereka ia tidak pernah melihat Woori menangis. Entah karena air mata gadis itu telah kering atau mungkin ia terlalu malu untuk memperlihatkan kelemahannya.

            “Baekhyun.” Sapa Woori saat melihat Baekhyun yang menuju ke arahnya.

            “Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu. Aku rasa bertanya apakah kau baik-baik saja adalah pertanyaan paling bodoh.”

            Woori terkekeh. “Teringat masa lalu?” Woori menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. “Tidak ada yang harus disalahkan dari kematian seseorang.”

            “Kau tidak akan berkata seperti itu jika ibumu mati karena dibunuh.”

            “Menurutmu mereka yang membunuhnya?”

            “Semuanya cukup jelas untuk dikaji kembali.”

       “Menurutmu dengan menangis orang yang sudah mati bisa hidup kembali? Apa dengan menyesalinya orang yang sudah mati bisa hidup kembali? Apakah dengan menyalahkan orang lain orang yang mati bisa hidup kembali? Tidak ada yang bisa hidup kembali Byun Baekhyun. Kematian adalah takdir Tuhan. Bagaimana pun caranya kematian adalah sesuatu yang sudah pasti.”

            “Jadi maksudmu aku harus menyalahkan takdir?”

          “Kenapa kau selalu berusaha mencari sesuatu untuk disalahkan? Apakah itu caramu untuk menghibur diri? Kematian adalah takdir, takdir yang tidak bisa diubah.

            Baekhyun meringis. Ia membenarkan ucapan Woori, teman satu sekolahnya sejak SMA. Selama ini ia selalu mencari sesuatu untuk disalahkan atas kematian Jiyoung. Kematian Jiyoung adalah takdir. Bukan karena Chanyeol yang mengendarai mobil, bukan juga karena Sehun dan Sungyeon yang terus bergurau dan mengganggu Chanyeol. Bukan juga karena debutnya sebagai pemain orchestra pada malam itu. Meskipun bukan karena kecelakaan mungkin Jiyoung akan meninggal dengan cara yang lain. Tidak ada yang harus disalahkan atas kematian Jiyoung, itu semua adalah takdir, mungkin itu semua jauh terdengar lebih baik untuk menghiburnya.

            “Kau yakin orang yang bernama Suho itu adalah laki-laki yang tepat? Dengar. Kau jangan mengambil keputusan sendiri. Aku, Sehun dan orang itu tidak mengenal siapa laki-laki yang bernama Suho tersebut. Jadi bagaimana bisa aku merasa yakin bahwa dia adalah laki-laki baik-baik.”

            “Semua laki-laki akan bersikap manis pada awalnya.”

         Baekhyun memperhatikan punggung seseorang yang duduk membelakanginya. Sejak melihat laki-laki yang ada di depannya ia merasa seperti ada magnet yang menariknya untuk terus memperhatikan laki-laki itu. Ia terkejut saat mendengar laki-laki itu menyebutkan nama Sehun. Ia tidak yakin bahwa Sehun yang dimaksud oleh laki-laki itu adalah Sehun yang selama ini selalu mengiriminya surat permintaan maaf atau Sehun yang lainnya. Tapi mendengar laki-laki itu menyebutkan kata orang itu ia merasa seolah mengetahui siapa orang yang tidak mau disebutkan namanya oleh laki-laki itu.

            “Kau mengenalnya?” Kyung Soo menyandarkan punggung pada kursi dan menunjuk laki-laki tersebut dengan dagunya.

            “Ia mengingatkanku pada seseorang.”

            “Siapa?”

         Baekhyun memalingkan wajah pada Kyung Soo dan tersenyum kecut. “Seseorang yang seharusnya tidak aku ingat.” Baekhyun menggeleng kecewa.

            “Chanyeol!”

      Baekhyun menegakkan kepala saat seseorang yang baru saja memasuki kafe memanggil laki-laki yang duduk di depannya dan menghampirinya. Chanyeol. Mungkin banyak yang memiliki nama Chanyeol dan Sehun, tapi tidak semua orang bernama Chanyeol dan Sehun saling berhubungan.

            Baekhyun mempertajam penglihatan dan pendengarannya. Ia selalu ingin melupakan ketiga orang itu, selalu. Tapi ia selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak mau tahu terhadap sesuatu yang berhubungan dengan ketiga orang itu. Termasuk jika saat ini ia melihat laki-laki yang mirip dengan Chanyeol.

            Baekhyun merasa jantungnya seperti dipompa saat laki-laki itu berdiri dan menoleh ke belakang. Ia yakin mereka sama-sama terkejut, terlihat jelas dari ekspresi laki-laki tersebut yang sama shocknya seperti dirinya. Ia segera memalingkan wajah saat laki-laki itu buru-buru pergi meninggalkan kafe bersama temannya yang tadi memanggilnya.

            Ia masih belum percaya pada apa yang baru saja ia lihat. Mungkin apa yang tadi ia lihat hanyalah efek karena terlalu merindukan orang itu, mungkin saja. Ia tidak pernah mau mengakui bahwa ia merindukan mereka. Chanyeol dan Sehun, mungkin hanya sebuah kebetulan.

            Kyung Soo menatap Baekhyun kesal karena terus sibuk pada ponsel dan mengabaikannya. Sejak menghadiri pemakaman ibu Woori tingkah Baekhyun menjadi aneh. Ia sering melamun dan terkadang berbicara sendiri.

            “Apa ada sesuatu yang akan keluar dari dalam ponselmu?” Sindir Kyung Soo sambil mendekatkan wajahnya pada layar ponsel Baekhyun. Baekhyun menoleh dengan linglung, kejadian tadi sore di kafe membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dan pikirannya selalu dipenuhi oleh ketiga orang tersebut. Ingin sekali rasanya ia menghubungi Sungyeon, memastikan bahwa Joonmyun memang laki-laki yang bisa dipercaya. Ia juga ingin mendengar suara Chanyeol, menanyakan keberadaannya dan benarkah tadi mereka baru saja bertemu.

            “Kenapa?”

            Kyung Soo menganga. “Kau tahu, melihatmu berjalan sambil terus memandangi layar ponsel dan terkadang mengerutu sendiri dan kemudian kau bertanya kenapa terdengar sangat aneh bagiku? Harusnya aku yang bertanya kenapa? Jangan bilang kalau kau tidak apa-apa.”

            Baekhyun menyimpan ponsel ke dalam saku celananya. “Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa yang aku lakukan.”

            Kyung Soo berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terserah padamu sajalah, tapi kau harus menikmati pesta malam ini.” Ujar Kyung Soo sambil menyetop taxi.

            “Kenalkan, dia adalah sahabatku, Kim Joonmyun.”

            Kedua kata itu benar-benar menarik perhatian Baekhyun. Sahabat dan Joonmyun. Sudah lama ia tidak mendengar kata sahabat, dan Joonmyun mengingatkannya pada laki-laki yang diceritakan Sungyeon disuratnya. Ia memijit pelipis sebelah kanan, akhir-akhir ini apapun yang dilakukannya selalu berhubungan dengan ketiga orang itu.

            “Baek.” Kyung Soo menyenggol lengan Baekhyun yang tidak kunjung juga membalas uluran tangan Joonmyun.

            “Kau bisa memanggilku Suho.” Ujar Joonmyun setelah Baekhyun membalas uluran tangannya dan tersenyum.

            “Kau kekasih—” Baekhyun buru-buru menutup mulut. Ia sama sekali tidak berniat untuk menanyakan hal itu, pertanyaan itu keluar begitu saja.

            “Ahh, benar. Aku datang bersama kekasihku.” Suho memanggil seorang gadis yang tengah mengobrol dengan teman-teman wanitanya.

            Baekhyun memperhatikan wajah gadis itu dengan saksama. Gadis itu jelas bukan Sungyeon. Tapi laki-laki ini jelas bernama Kim Joonmyun. Mungkin hanya sebuah kebetulan. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi beberapa hari ini. Mungkin ini semua benar-benar efek karena ia terlalu merindukan orang-orang itu.

            Kyung Soo terkekeh melihat Suho yang sedang berdansa dengan kekasihnya. “Hanya gadis itu yang ia pertahankan.”

            Baekhyun menoleh malas, hari ini ia sama sekali tidak tertarik untuk mendengar cerita mengenai siapapun.

            “Tiga tahun sekolah di Jepang, aku yakin ia punya banyak selingan.”

            “Jepang? Dia kuliah di Jepang?”

            Kyung Soo memutar bola matanya. “Kau harus segera memeriksakan dirimu ke dokter sebelum kau semakin parah. Berapa kali aku katakan padamu bahwa hari ini kita akan berpesta untuk menyambut kepulangan sahabatku yang kuliah di Jepang. Baekhyun, apa yang terjadi padamu?” Kyung Soo meneguk minumannya dengan kesal.

            Tidak mempedulikan kekesalan Kyung Soo, ia malah sibuk mengumpulkan semua clue hari ini. Joonmyun dan Jepang. Jika Sungyeon kuliah di Jepang kemungkinan besar ia juga berpacaran dengan orang Jepang.

            “Aku mau ke toilet dulu.” Kyung Soo menepuk pundak Baekhyun.

            Baekhyun memijit-mijit keningnya. Keadaan ini semakin rumit untuknya. Ia selalu berusaha untuk tidak peduli tapi sayangnya apapun yang ia lakukan untuk bersikap tidak peduli justru semakin memperlihatkan kepeduliannya.

            Ia berjengit kaget saat merasakan getaran pada meja. Ia melirik ponsel tersebut. Ponsel tersebut jelas bukan ponsel miliknya dan Kyung Soo, ponsel milik Suho. Ia memperhatikan Suho dan kekasihnya yang masih menikmati dansa mereka.

            Baekhyun mengambil ponsel Suho dan merasa seperti mengalami gempa lokal saat melihat wajah yang terpampang pada ID penelepon. Ia memegangi pinggir meja, mencari pegangan agar tidak limbung. Ternyata benar, Joonmyun kekasih Sungyeon adalah Joonmyun yang saat ini sedang berdansa bersama gadis yang masih dipertahankannya sampai saai ini.

            “Oppa, pestamu menyenangkan?”

            Baekhyun memegangi dadanya yang terasa ngilu. Tiga tahun ia berusaha untuk melupakan gadis ini. Tiga tahun ia selalu berusaha menjauhkan diri dari segala yang berhubungan dengan gadis ini. Tiga tahun ia menahan diri untuk tidak menanyakan kabar gadis ini. Tiga tahun juga ia tidak melihat wajah gadis ini, bahkan mendengar suaranya. Malam ini, dari sekian malam yang ia lalui untuk menahan diri kini ia bisa mendengar suara gadis ini. Mendengarkan suara yang sangat dirindukannya. Ia merindukan Sungyeon, sangat merindukannya.

            “Oppa? Kau bisa mendengarku?”

            Baekhyun masih terpaku saat lagi-lagi mendengar suara Sungyeon. Ia seperti kembali ke masa lalu.

            “Sungyeon.” Baekhyun tercekat saat akan melanjutkan kalimatnya. Hanya kata itu yang sanggup ia keluarkan, menyebutkan nama seseorang yang sangat ia rindukan.

            Terjadi hening di ujung sana. Ia khawatir Sungyeon tidak mau berbicara dengannya.

            “Bacon oppa?”

            Baekhyun merasa teriris saat mendengar Sungyeon berusaha menahan tangisnya. Ingin sekali ia memeluk gadis itu. Satu detik kemudian ia mendengar isak tangis Sungyeon, gadis itu menangis. Mendengar tangisan Sungyeon membuatnya ikut menangis.

            “Aku merindukanmu.”

            Baekhyun menutup mulut agar Sungyeon tidak mendengar suara tangisannya. Ia sering mendengar Sungyeon mengatakan hal itu di dalam surat-surat miliknya, tapi mendengarnya secara langsung benar-benar membuatnya merasa lega.

            Kali ini pun ia masih tidak memliki keberanian untuk membalas ucapan gadis itu.

            Baekhyun menoleh kaget saat merasakan ada yang menepuk pundaknya. Suho. Mata Baekhyun berkilat marah saat melihat laki-laki yang begitu disayangi oleh Sungyeon saat ini sedang menggenggam tangan gadis lain.

            “Baekhyun memutuskan telepon dengan Sungyeon. “Siapa gadis itu?” Tanya Baekhyun marah.

            “Bukankah sudah kukatakan bahwa dia adalah kekasihku.”

            “Lantas siapa gadis ini?” Baekhyun menunjukkan panggilan terakhir yang masuk. “Sungyeongi, siapa gadis ini?”

            “Dia, hanya temanku saja.” Jawab Suho gugup.

            “Benarkah? Teman seperti apa dia?” Baekhyun melemparkan ponsel Suho dengan kasar di atas meja dan menarik kerah kemeja laki-laki itu.

            “Kau tahu siapa gadis yang bernama Sungyeon itu?” Baekhyun melayangkan tinjunya pada pipi Suho. Belum sempat membela diri, Baekhyun lagi-lagi memukul wajah Suho. “Dia adalah gadis yang jika kau berani menyakitinya maka kau akan habis di tanganku.”

            “Baek, hentikan!” Kyung Soo berusaha melerai tapi tenaga Baekhyun lebih kuat. Kali ini perut Suho yang menjadi sasarannya. “Jangan keterlaluan!” Kali ini Kyung Soo berhasil menjauhkan Baekhyun dari Suho.

            Baekhyun terengah-engah, kekesalannya semakin menjadi-jadi karena Kyung Soo yang membela Suho. “Kau tahu apa yang ia lakukan pada sahabatku? Ia menjadikan sahabatku sebagai salah satu selingannya. Menurutmu aku harus bagaimana ketika mengetahui hal ini? Diam dan duduk manis sambil menunggu dia menghancurkan sahabatku?” Baekhyun berusaha menggapai Suho yang berada di belakang Kyung Soo.

            Kyung Soo menatap Baekhyun ragu. “Dia adalah sahabatku. Jika kau sedang membela sahabatmu maka aku juga melakukan hal yang sama.”

            “Tapi dia brengsek!”

            “Sebrengsek apapun dia, dia tetap sahabatku. Bagaimana bisa aku membiarkan sahabatku sendiri dilukai dihadapanku.”

            Baekhyun terduduk lemas. Ia benar-benar tertohok mendengar ucapan Kyung Soo. Kenangan itu kembali terulang. Saat dimana ia memutuskan persahabatan mereka.

“Berhenti menyebutkan kita. Siapa yang kalian maksud dengan kita? Bersama-sama? Kata itu sudah tidak pantas lagi kau ucapkan kepadaku”

            “Aku mengerti bagaimana perasaanmu Baekhi.”

            “Tidak Sehun! Kalian tidak mengerti bagaimana perasaanku.”

            “Jiyoung juga sahabat kami.”

            “Kalian yang membuatnya seperti ini.”

            “Aku juga tidak pernah menduga akan terjadi kecelakaan itu.”

            “Kau yang mengendarai mobilnya, Chanyeol!”

            “Baekhyun, aku minta maaf. Tidak seharusnya kami mengganggu Chanyeol—“

            “Dengar.” Baekhyun membalikkan badannya. “Tidak ada lagi kata kita dan bersama-sama. Aku dan kalian bukan siapa-siapa, lagi!” ! Satu hal lagi, apa dengan mengatakan maaf Jiyoung bisa hidup kembali?”

            “Baekhyun, hati-hati dengan ucapanmu.”

            “Jangan menangis Sungyeon, aku tahu itu air mata palsu.”

            Ia tidak pernah mempertahankan sahabat-sahabatnya. Ia yang memutuskan ikatan itu, ia yang membiarkan orang-orang itu pergi. Ia memperlakukan mereka seolah tidak kasat mata. Ia yang membuat Chanyeol menghilang tanpa kabar. Sebenarnya ialah orang brengsek itu.

            Baekhyun merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar. Sungyeon. Selama ini pun gadis itu tetap berusaha menghubunginya, tapi tidak ada satupun panggilan yang ia jawab. Jika gadis itu menggunakan nomor lain dan ia terkecoh maka ia akan segera memutuskan sambungannya. Kali ini Sungyeon meneleponnya lagi, ia ingin menjawab panggilan itu. Tapi ia belum sanggup. Ia belum sanggup mendengar suara gadis yang sedang patah hati itu.

            Sehun menghentikan aktifitasnya saat temannya Dann melambaikan tangan sambil menunjuk-nunjuk ponselnya. Ia segera melemparkan bola basket ke sembarang arah dan berlari ke arah Dann.

            Sehun terpaku saat melihat ID yang terpampang di layar. Ia menggeleng-gelengkan kepala, berpikir bahwa saat ini apa yang sedang ia lihat tidaklah nyata.

            “Are you sure?” Tanya Sehun pada Dann yang masih sibuk dengan peralatan olahraganya.

            “What?” Tanya Dann bingung.

            Sehun menghela napas. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan hari-hari dengan perasaan bersalah dan kerinduan yang bahkan begitu menyesakkan ketika hanya mengingatnya. Ini bukan kali pertama ia berkhayal bahwa suatu hari nanti orang itu akan menghubunginya kembali, tapi kali ini semuanya terasa begitu nyata.

            Sehun menekan tombol hijau, mendekatkan ponsel ke daun telinga dengan ragu-ragu. Ia benar-benar takut mendengar suara di ujung sana. Hening, tidak ada yang berbicara sama sekali. Ia benar-benar berharap bahwa kali ini ia tidak sedang berkhayal.

            “Aku tidak tahu harus memulainya dengan kata maaf atau aku merindukanmu.”

            DEEEGG

            Sehun benar-benar terkejut saat mendengar sahutan di ujung sana. Ternyata orang itu benar-benar menghubunginya. Saat ini, dipisahkan oleh benua yang berbeda ia bisa mendengar suara seseorang yang selama tiga tahun ini terus membuatnya resah.

            Sehun membuka mulut, berusaha mengeluarkan kata apa saja yang sanggup ia katakan, tapi tidak ada satu katapun yang keluar.

            “Still remember me?”

            Sehun berjalan menjauh dari lapangan basket. Ia senang bisa kembali medengar suara Baekhyun, tapi di satu sisi ia masih belum bisa mempercayainya, ia takut bahwa ini hanya khayalannya saja.

            “Maaf.” Baekhyun menyahut lagi. Kali ini, berapa kali pun akan ia ucapkan kata maaf demi menyambung ikatan yang telah ia putuskan.

            Sehun merasa pipinya memanas. Ia tidak mempedulikan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Baekhyun, yang ia pedulikan hanyalah kerinduannya terhadap suara teman lamanya itu. Tiga tahun memutuskan ikatan, menjauhkan diri dan tidak mau saling berhubungan lagi kini bisa kembali berbicara adalah salah satu hal yang paling diingankannya. Hal yang selalu menjadi do’anya setiap hari. Sahabat, ia benar-benar merindukan sahabatnya tersebut.

            “Lusa aku akan pergi ke Jepang untuk menemui Sungyeon. Aku harus mengatakan secara langsung bahwa Suho tidak pantas untuknya. Aku harap kita bisa bertemu di sana.”

            Sehun hampir saja pingsan saat mendengar Baekhyun kembali menginginkan pertemuan mereka. Tapi ada apa dengan Suho. Ia memang meragukan pilihan Sungyeon karena tidak mengenal laki-laki itu, tapi apakah Baekhyun sudah mengenal Suho sehingga merasa yakin bahwa laki-laki itu tidak pantas untuk Sungyeon.

            “Aku merindukanmu.” Ada jeda yang cukup lama. “Juga Chanyeol. Lama tidak mendengar kabarnya, apakah ia masih berusaha tidak kasat mata olehku?”

            Sehun menelan ludah. Chanyeol adalah yang paling lama mengenal Baekhyun diantara mereka. Chanyeol adalah orang yang paling disalahkan oleh Baekhyun atas kematian Jiyoung. Chanyeol selalu meminta maaf dan memohon kepada Baekhyun untuk memperbaiki segalanya tapi Baekhyun selalu menganggapnya tidak kasat mata. Baekhyun mengabaikannya dan tidak mau mengakuinya lagi. Ia-lah orang yang paling terluka. Sahabatnya sendiri sudah tidak mau mengakui keberadaannya. Ia-lah orang pertama yang memutuskan untuk pergi dan menghilang sesuai harapan Baekhyun. Ia memutuskan untuk benar-benar tidak terlihat oleh Baekhyun, bahkan oleh mereka berdua.

            “Atau mungkin ia sudah melupakanku?”

            “…”

            “See you later.”

            KLIIIK

            Sehun terpekur saat telepon dimatikan. Ia masih belum bisa mempercayai bahwa tadi ia baru saja mendengar suara Baekhyun. Baekhyun masih mengingat mereka dan Baekhyun masih menginginkan mereka. Ia harus segera memberitahukan Chanyeol dan mengurus keberangkatannya ke Jepang.

            Chanyeol meremas-remas kertas dan membuangnya ke sembarang arah. Ia menyandarkan diri ke tembok, menatap lirih puluhan kertas sketsa yang dibuangnya. Sejak pertemuannya kembali dengan Baekhyun tempo hari membuatnya semakin merasa bersalah.

            Selama tiga tahun ini ia sudah berhasil tidak terlihat oleh Baekhyun meski masih berada di kota yang sama. Ia sengaja pindah dan tinggal di apartment yang jauh dari segala yang berhubungan dengan Baekhyun. Ia cukup berhasil untuk tidak kasat mata oleh sahabatnya tersebut, mungkin sahabat, ia yakin Baekhyun sekarang hanya menganggap dirinya sebagai mantan sahabat. Ia tidak menyangka bahwa setelah perjuangan berat itu, kini ia dipertemukan kembali dengan Baekhyun di kafe itu. Ia takut, ia takut Baekhyun masih menganggapnya sebagai pembunuh Jiyoung.

            Chanyeol membuka lembar demi lembar buku sketsanya. Memandangi sketsa-sketsa lama. Sketsa dirinya dan sahabat-sahabatnya, Sehun, Sungyeon dan Baekhyun. Ia ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa dimana mereka tertawa dan menangis bersama. Masa-masa dimana mereka tidak pernah saling menyalahkan.

            Chanyeol mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ransel, berniat menghubungi Sehun, hal yang selalu dilakukannya ketika merindukan Baekhyun. Ia merindukan semuanya, tapi Baekhyunlah yang paling ia rindukan.

            Belum sempat Chanyeol menekan angka dua, ID Sehun muncul di layar ponselnya.

            “Baru saja aku akan menghubungimu.” Sambut Chanyeol dengan riang.

            “Kau merindukannya lagi?” Kekeh Sehun di ujung sana.

            “Setelah tiga tahun berhasil tidak kasat mata olehnya karena sebuah pertemuan yang tidak disengaja membuatku kembali mengingat kejahatan yang divonisnya terhadapku.”

            “Kau bertemu dengannya? Aku rasa ini pertanda bahwa sudah saatnya kita untuk bersama kembali.”

            “Tidak mungkin.” Chanyeol mengibas-ngibaskan tangan. Ia masih ingat betul bagaimana ekspresi Baekhyun ketika mengusir mereka, mengabaikannya dan memintanya agar tidak pernah muncul lagi dalam kehidupannya. Bagian terpedih dari semua perlakuan Baekhyun terhadapnya adalah, Baekhyun memintanya untuk melupakan semua kenangan tentang mereka. melupakan tentang hubungan sebagai tetangga, teman sejak kecil, sahabat dan saudara. Baekhyun memintanya untuk tidak menjadi apa-apa dalam kehidupannya. Padahal hanya kenangan yang masih tersisa dari hubungan mereka.

            “Tadi dia meneleponku. Dia bilang kalau dia akan ke Jepang untuk menemui Sungyeon. Katanya ia akan mengatakan secara langsung kepada Sungyeon bahwa Suho tidaklah pantas untuknya.”

            “Sudah kuduga laki-laki itu memang tidak pantas untuk Sungyeon.”

            “Dia juga mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan kita.”

            “…”

            “Kau dan aku.”

            “…”

            “Dia merindukanmu Chanyeol, sangat merindukanmu.”

            “Jangan pernah datang ke sini lagi. Tidak perlu repot-repot datang untuk menemuiku dan memohon maaf padaku. Aku tidak butuh kata maaf darimu. Mulai sekarang lupakan aku. Lupakan segala kenangan yang pernah kita alami bersama-sama. Kau, aku.” Baekhyun menunjuk Chanyeol dan dirinya bergantian. “Bukan siapa-siapa lagi. Lupakan kalau kita pernah sama-sama saling melengkapi. Aku tidak mau mengenal seorang pembunuh.

            Chanyeol masih ingat semua perkataan Baekhyun. Semua kata-kata yang ia lontarkan dengan penuh kebencian. Ia tidak akan pernah lupa hari itu. Hari dimana Baekhyun memintanya untuk saling melupakan, hari dimana Baekhyun memutuskan ikatan yang selama ini mereka miliki dan hari dimana ia memutuskan untuk tidak kasat mata di hadapan Baekhyun. Ia yang memulai untuk pergi, menjauh dan berusaha untuk terlupakan. Setelah ia pergi, Sehun dan Sungyeon juga melakukan hal yang sama, berusaha untuk tidak kasat mata oleh Baekhyun.

            Selama tiga tahun ia selalu memimpikan pertemuan mereka kembali, tapi ia tidak bisa mempercayai jika tiba-tiba Baekhyun meminta untuk bertemu, apalagi mengatakan bahwa ia merindukan dirinya. Baekhyun tidak mengingatnya lagi, kalimat itu yang selalu membuatnya tetap bertahan untuk tidak pernah muncul lagi dalam kehidupan Baekhyun.

            Baekhyun menarik kopernya dengan bersemangat. Hari ini, setelah tiga tahun berlalu ia bisa kembali bertemu dengan tiga orang yang selama ini selalu menghantuinya. Sahabatnya, Sehun, Sungyeon dan Chanyeol.

            Selama tiga tahun ia selalu mencoba untuk melupakan dan terlupakan, tapi hasilnya nihil. Justru kenangan-kenangan itu semakin hari semakin kuat. Hari ini, demi menyelamatkan sahabatnya Sungyeon mereka bisa berkumpul kembali. Jika sejak awal mereka selalu bersama-sama maka Sungyeon tetap baik-baik saja.

            Ia melirik jam tangan. Ia ingin memberi kejutan kepada Sungyeon dengan muncul secara tiba-tiba di kampusnya. Ia tidak akan melupakan hari ini. Hari dimana setelah tiga tahun akhirnya ia bisa kembali memeluk sahabat-sahabatnya dan mengatakan bahwa ia merindukan mereka secara langsung.

            Baekhyun menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis tengah sibuk berlari-lari mengejar file-filenya yang berserakan di jalanan. Ketika jalan mulai ramai kendaraan lagi gadis tersebut berjalan ke pinggir dan setelah sedikit lenggang ia kembali mengejar file-file miliknya yang semakin berserakan diterbangkan oleh angin.

            Karena kasihan, Baekhyun memutuskan untuk membantu gadis tersebut. Ia membantu mengumpulakan file-file milik gadis itu yang semakin jauh karena diterbangkan oleh angin. Ketika akan menyeberang setelah berhasil mengumpukan file-file milik gadis tersebut, belum sempat menyadarinya Baekhyun merasa seluruh tubuhnya remuk saat terpelanting cukup jauh di jalanan karena tertabrak sebuah mobil. Kepalanya membentur trotoar. Sayup-sayup ia mendengar suara gadis yang ditolongnya berteriak histeris minta tolong.

            “Sahabat? Kalian yakin kalian adalah sahabatku? Kalian adalah pembunuh”

            “Kalian tahu apa tentang kehilangan orang yang sangat kalian cintai?”

            “Kenapa kau terus menyalahkan kami? Kau juga seharusnya sadar bahwa tidak akan ada persahabatan yang baik-baik saja jika ada yang menjalin hubungan spesial diantaranya. Kalau Jiyoung bukan kekasihmu pasti kau tidak akan menyalahkan kami. Kau seharusnya menyalahkan dirimu sendiri karena mencintai Jiyoung!”

            “Aku selalu berusaha memperbaikinya, tapi kau selalu menghancurkannya.”

            “Tidak ada yang bisa diperbaiki. Diperbaiki seperti apapun juga, luka itu tetap ada.”

            “Kita berpisah, itulah yang terbaik.”

            Baekhyun memejamkan mata berusaha mengurangi rasa sakit ditubuhnya. Semuanya seperti rekaman yang diputar ulang, saat dimana ia memutuskan ikatan mereka. Saat dimana ia meminta teman-temannya untuk pergi.

            Kematian adalah takdir yang pasti, tidak ada yang bisa mengubahnya. Tidak akan ada yang mengetahui kapan kematiannya tiba. Semua orang tidak akan pernah sadar untuk mengucapkan kata-kata yang tidak terselesaikan sebelum kematian, termasuk meminta maaf.

            Kata maaf memang tidak bisa menghidupkan apapun, tapi kata itu setidaknya bisa memperbaiki keadaan. Baekhyun meraba-raba mencari ponselnya yang terlempar. Saat tangannya akan meraih ponsel yang terjatuh tidak jauh darinya tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Hari ini seharusnya adalah hari dimana ia bisa mengatakan bahwa ia merindukan ketiga sahabatnya tersebut setelah tiga tahun berusaha untuk menjadi bagian yang terlupakan. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, ia tidak penah memiliki kesempatan untuk mengucapkan kata itu. Kata yang seharusnya ia ucapkan tiga tahun yang lalu.

Oh ini kisah sedihku
Ku melupakan dia
Betapa bodohnya aku


Dan kini aku menyesal
Melepas keindahan
Dan itu kamu


Tuhan tolonglah aku
Kembalikan dia
Ke dalam pelukku
Karena ku tak bisa
Mengganti dirinya
Ku akui jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa

Dan tlah ku jalani semua
Cinta selain kamu
Tapi tak ada yang sama

Beribu cara kutempuh
Tuk melupakan kamu
Tapi tak mampu

sungguh aku tak bisa
Jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa

Alvin-Jujur Aku Tak Sanggup

            Setelah tiga tahun berpisah akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Sehun memeluk Sungyeon erat, takut gadis itu tiba-tiba limbung. Chanyeol berusaha keras untuk lebih tegar. Ia memang selalu berusaha untuk kasat mata bagi Baekhyun tapi ia tidak pernah berhenti untuk memastikan keadaan sahabatnya tersebut.

            Hari ini mereka bertemu, hari ini pula mereka berpisah. Seandainya dulu mereka tidak memutuskan untuk menghilang dan terus memaksa Baekhyun agar bisa menerima mereka kembali mungkin tidak akan ada kata selamat tinggal pada pertemuan ini.

            Baekhyun telah tiada. Banyak kata yang belum terucap. Semuanya hanya menjadi sebuah penyesalan. Kalimat pengandaian hanya semakin memperburuk segalanya.

            Chanyeol memutuskan untuk pergi dan masuk ke dalam mobil. Ia sudah tidak sanggup lagi melihat gundukan tanah tempat terakhir Baekhyun. Ia mengambil ponselnya dan menekan angka satu. Terdengar nada tunggu dan setelah itu terdengar pesan suara.

            “Ini aku Baekhyun. Maaf aku sedang sibuk. Nanti akan aku hubungi kembali.”

            “Halo, ini aku Chanyeol. Apakah kau masih ingat padaku? Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Maaf, maaf, maaf.” Chanyeol diam sejenak, berusaha menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. “Aku senang melihatmu bisa menjadi pemain biola. Aku sangat bangga terhadapmu. Aku menghilang bukan karena membencimu tapi karena aku ingin membuat semuanya menjadi lebih baik untuk kita. Tidak akan ada yang berubah diantara kita. Selamanya kita adalah sahabat. Selamanya.” Chanyeol tercekat. Kata-kata itu adalah kata-kata yang sudah ia persiapkan untuk bertemu Baekhyun. Ia tidak pernah menduga bahwa mereka akan bertemu di pemakaman.

            Chanyeol menghempaskan ponselnya. Ia tidak menyangka bahwa ia hanya bisa mendengar suara Baekhyun dari kotak suara. Mungkin memang inilah akhir yang paling tepat untuk persahabatan mereka. Chanyeol memijit-mijit keningnya. Tidak ada yang perlu disalahkan atas kematian seseorang. Apapun yang terjadi, selamanya mereka tetaplah sahabat.

            “Tidak, aku tidak suka laki-laki itu, dia terlihat sedikit melambai.” Protes Sehun.

            “Astaga, dia hanya temanku saja, hanya teman, tidak lebih dari teman.” Kesal Sungyeon.

            “Seseorang yang berpacaran itu selalu diawali dengan pertemanan.” Chanyeol mendukung Sehun.

            “Lantas?” Sungyeon berusaha meraih minumannya yang diambil paksa oleh Chanyeol.

            “Kami tidak ingin kau salah pilih lagi. Siapapun teman laki-lakimu atau siapaun yang berusaha mendekatimu kau harus memberitahu kami. Satu lagi, kau juga harus selalu melaporkan siapa yang sedang kau kagumi.” Ujar Sehun panjang lebar.

            “Jangan berlebihan.” Rajuk Sungyeon.

            “Ya sudah kalau begitu kau denganku saja.”

            Sungyeon dan Sehun tersedak berjamaah saat mendengar kata-kata Chanyeol. Sedetik kemudian Chanyeol memamerkan senyum jahilnya. “Hanya memberikan alternative.”

FIN

4 comments

  1. julistyjunghaae · December 1, 2012

    T_T nangis………..

  2. Eko S Priyono · January 28, 2013

    thor gua nangis, saya cowok thor, dan anda sukses membuat saya menangis, ff ini mengingatkan betapa brharganya seorang sahabat

    saya ngefans sama author, ini sumpe bagus sekaleeeee (y)

  3. Rin · April 15, 2013

    Nangis…nyesek banget ceritanya😥

  4. agustinaapm · January 13, 2014

    banyakin ff exonya sih min, terutama luhan.. thanks❤

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s