Game Over [Part 4]

Title                            : Game Over [Part 4]

Author                         : Siskha Sri Wulandari/ssiskha.wp.com

Main Cast                   : Kim Yunha [OC]

: Oh Sehun [EXO K]

: Shin Eun Soo [OC]

Support Cast               : Seo Jaehyung [A-JAX]

: Do Kyung Soo [EXO-K]

: Park Chanyeol [EXO K]

& Other

Genre                          : Thriller, angst, romance

No Bashing!

            Eun Soo tertawa pelan karena membaca chat dari teman lamanya. Ia terus memperhatikan layar ponsel tanpa memperhatikan jalan di depannya. Ia terkejut saat merasa telah menabrak sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Eun Soo melihat barang-barang milik orang yang baru saja ditabraknya menggelinding dekat kakinya. Dengan gerakan cepat ia menyimpan ponsel ke dalam saku rok seragamnya dan memungut benda milik orang itu.

Eun Soo memperhatikan benda tersebut dan tersenyum menggoda, ia bahkan belum tahu siapa pemilik sekotak coklat itu. Tapi ia yakin pemiliknya adalah seorang pengagum rahasia seseorang. Eun Soo tertawa geli karena di jaman seperti ini masih ada orang yang mau repot-repot menitipkan perasaannya pada sekotak coklat.

Ia tidak bisa menyembunyikan keterjutannya saat melihat pemilik sekotak coklat itu. Oh ya ampun. Rasanya ia ingin sekali berteriak histeris saat mengetahui siapa pemiliknya. Ia sama sekali tidak menyangka teman sekelasnya yang hanya bicara dan tersenyum seperlunya itu menyimpan perasaan pada seorang gadis. Eun Soo tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia ingin berteriak. Lihatlah! Seorang Oh Sehun ternyata bisa melakukan hal seperti ini. Keajaiban, sungguh keajaiban.

“Sehun! Astaga! Aku sama sekali tidak menyangka, kau!” Eun Soo tertawa bahagia. Pundaknya terguncang. Ia juga menepuk-nepuk pundak Sehun. “Ya ampun. Kau terlalu kaku untuk melakukan hal seperti ini. Astaga.” Mata Eun Soo sampai berair karena menertawai Sehun.

Sehun belum memberikan reaksi apa-apa, atau lebih tepatnya tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa. Seingatnya Eun Soo belum menerima permintaan maaf darinya. Tapi saat ini, tiba-tiba Eun Soo menertawainya penuh keakraban seolah tidak ada masalah diantara mereka.

“Kau sangat manis Sehun. Astaga, aku benar-benar tidak menyangka. Sungguh!” Eun Soo menggosok ujung matanya yang sedikit basah. “Ini untuk Yunha?” Sedetik kemudian gadis itu terdiam. Nama Yunha yang baru saja ia sebutkan seolah menyadarkan dirinya bahwa apa yang saat ini ia lakukan terhadap Sehun adalah salah. Sangat salah.

Sehun tersenyum simpul. Ia tahu Eun Soo bukan tipe orang yang bisa dengan mudah memusuhi seseorang. Melihat ekspresi gadis itu yang akhirnya sadar bahwa mereka sedang bertengkar membuat Sehun tidak mampu menahan senyumnya.

“Orang itu bukan Yunha.”

Mata Eun Soo memicing, berusaha menunjukkan ekspresi permusuhan tapi sepertinya gagal.

“Aku rasa setelah kau berhenti tertawa masalah kita resmi selesai.” Sehun tersenyum. Senyum tulusnya yang terbatas. “Coklat itu bukan untuk Yunha tapi untuk seseorang yang aku sukai.

Eun Soo memutar bola matanya, tanpa diberitahu pun ia sudah bisa menebak kalau coklat itu untuk orang yang disukai oleh Sehun. Jika bukan Yunha, siapa orang yang disukai oleh Sehun.

“Seorang sunbaenim. Dia sekelas dengan tetanggamu itu, Jaehyung.”

Eun Soo berusaha untuk tidak peduli tapi semua rentetan kalimat Sehun membuatnya sangat penasaran, sangat-sangat penasaran. Kapan lagi seorang Oh Sehun mau mengungkapkan isi hatinya.

“Siapa?” Tanpa sadar Eun Soo bertanya.

Sehun menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya ia tidak mau sampai ada orang lain yang tahu bahwa ia suka memberikan coklat diam-diam pada seorang senior yang sudah lama disukainya. Tapi mungkin hal ini akan membuat Eun Soo tidak marah lagi padanya.

“Ayo ikut aku.” Sehun tersenyum dan menarik ujung lengan blazzer Eun Soo. Tanpa ada penolakan Eun Soo mengikuti Sehun. Sungguh ia malu mengingat apa yang tadi telah dilakukannya. Semalam ia masih bersikap dingin pada Sehun dan seolah meresmikan permusuhan diantara mereka namun tiba-tiba ia tertawa, memukul pundak Sehun dan bicara begitu lepas. Ia benar-benar malu. Namun mendengar pengakuan Sehun benar-benar membuatnya penasaran.

Sehun membuka loker nomor 305 dan memasukkan coklat ke dalamnya dengan hati-hati saat telah sampai di depan loker penerima coklat miliknya. Ia menutup kembali loker tersebut perlahan, melirik Eun Soo yang sepertinya belum mengetahui siapa pemilik loker 305 ini.

“Han Sungyeon.”

Eun Soo memiringkan kepala. Berusaha mencari nama Han Sunggyeon di dalam ingatannya. Sepertinya Jaehyung pernah menyebutkan nama Han Sungyeon, tapi ia ragu.

“Pianis itu?” Tanya Eun Soo ragu.

Sehun mengangguk. Terjadi hening yang cukup lama. Merasa canggung Eun Soo segera berbalik dan bersikap seolah apa yang terjadi setelah ia menabrak Sehun tadi tidak pernah terjadi.

“Ya!” Sehun menarik kuncir kuda Eun Soo. “Apa-apaan kau. Kita sudah tidak bertengkar lagi. Dengar, kita sudah tidak bertengkar lagi. Jangan pernah mengabaikanku lagi! Ingat itu!” Sehun menjitak kepala Eun Soo. Eun Soo menatap Sehun tidak suka tapi yang ditatap malah tersenyum dan menarik ikatan ranbut Eun Soo. “Kau tidak cocok menjadi orang jahat.” Setelah berkata seperti itu Sehun berlari diikuti oleh Eun Soo yang berusaha mengambil kembali ikat rambut miliknya. “Ya! Oh Sehun berhenti! Berhenti, cepat berhenti!”

            Jiyeon menyisir rambutnya dan mencari jepitan rambut di dalam tas tanpa melepaskan pandangannya dari cermin. Tiba-tiba Jiyeon merasa panik dan panas dingin saat merasakan sesuatu yang berkaki menggerayangi telapak tangannya. Ia segera menarik keluar tangannya dan membelalak saat melihat seekor laba-laba di atas punggung tangannya. Jiyeon berteriak histeris. Mengibas-ngibaskan tangan dan mencampakkan tasnya ke sembarang arah. Ia semakin histeris saat tasnya yang terjatuh mengeluarkan laba-laba dengan jumlah yang cukup banyak. Jiyeon merasa pusing, kepalanya terasa berat dan kakinya lemas. Kemudian gadis itu jatuh tidak sadarkan diri.

Yunha keluar dari dalam toilet ketika sudah tidak mendengar suara teriakan Jiyeon lagi. Ia menyeringai saat melihat gadis kejam itu tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi yang basah. Ia membalikkan tubuh Jiyeon yang telentang membelakanginya dengan kaki. Ia tersenyum puas. Laba-laba. Hewan kecil ini sudah cukup untuk menghancurkan seorang Jiyeon. Gadis itu phobia terhadap laba-laba. Informasi Chanyeol benar-benar berguna.

Yunha menampar-nampar Jiyeon yang masih tidak sadarkan diri untuk memastikan bahwa gadis itu benar-benar pingsan. Ia tersenyum miring. Pertunjukkan segera dimulai. “Karena kau mendapat kehormatan sebagai pembuka pertunjukkan ini, maka aku tidak akan bermain kasar padamu, aku akan bermain cepat, sangat cepat!” Yunha meludahi wajah Jiyeon.

            Jiyeon membuka matanya perlahan. Sensasi pusing langsung ia rasakan. Ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar yang eh, bagaimana bisa ada sebuah cermin besar di depannya. Di mana ia saat ini. Bukan hanya di depan, tapi cermin itu mengelilinginya. Dan astaga. Jiyeon berteriak tertahan saat melihat pantulan dirinya di cermin. Ia sedang dalam posisi tergantung. Sedikit saja ia bergerak, kursi yang saat ini menjadi pijakannya akan terjatuh dan tamat, seketika ia akan tamat. Ia baru sadar kalau kedua tangannya diikat. Jiyeon berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ini. Tapi yang bisa ia ingat hanya laba-laba dan hal itu semakin membuatnya ketakutan.

Jiyeon tersentak saat mendengar derap langkah kaki seseorang. Ia melirik dengan waspada. Yunha! Ia hampir saja tertawa bahagia kalau tidak mengingat bagaimana posisinya saat ini. Yunha pasti akan menolongnya.

“Bagaimana perasaanmu?” Yunha tersenyum miring sambil bersandar di salah satu cermin besar yang berada di depan Jiyeon.

Jiyeon mengernyit. Senyum miring itu bukan senyum Yunha. Pertanyaan itu juga bukan pertanyaan Yunha. Posisi angkuh seperti itu juga bukan posisi Yunha. Jiyeon mulai merasa tidak enak. Tapi posisi tergantung seperti ini juga bukan milik Yunha. Yunha terlalu pengecut untuk melakukan tindakan gila seperti ini.

Melihat ekspresi kebingungan di wajah Jiyeon, Yunha terbahak. “Tidak usah repot-repot menyangkal. Apa yang kau duga memang itulah jawabannya. Tidak usah ragu.” Yunha terbahak. Ia yakin Jiyeon tidak akan mau mempercayai bahwa semua ini adalah ulahnya.

Jiyeon masih bergeming, menatap Yunha tidak percaya. Melihat seringaian Yunha membuatnya sedikit takut. Gadis pengecut yang selama ini hanya bisa menangis dan berlindung dibalik rasa belas kasihan Sehun, Eun Soo dan Jiyoung kini terlihat seperi saiko.

“Kau pasti tau alasanmu berada di sini dengan posisi seperti ini.”

“Kau yang melakukan ini?” Jiyeon akhirnya bertanya.

“Apa kau pikir aku datang kemari untuk menolongmu? Kau pikir aku sebaik itu pada seseorang yang selalu menyiksa dan menjadikanku bahan tertawaan? Dunia ini kejam, manusia lebih kejam lagi.”

Jiyeon mulai bisa mengerti. Yunha bermaksud balas dendam.

“Ini adalah hukuman untuk manusia kejam sepertimu. Kau akan menyaksikan kematianmu sendiri. Bukankah itu menyenangkan? Kau bisa mengatur ekspresimu agar tetap terlihat cantik ketika ajal menjemput.”

“Kau gila Yunha! Kau gila!” Jiyeon berteriak sambil menggerak-gerakkan tubuhnya yang bebas. Ia segera terdiam saat menyadari bahwa tadi ia hampir saja membunuh dirinya sendiri karena melakukan pergerakan seperti tadi. “Dasar jalang!”

“Ck, bahkan kau masih sama angkuhnya disaat kematianmu sudah di depan mata. Mari kita perjelas semuanya. Siapa yang jalang? Kau atau aku? Aku tahu semua alasanmu kenapa kau selalu membela Eun Soo mati-matian. Kau benar-benar menjijikkan Jiyeon, sangat menjijikkan. Kau lah yang jalang.”

Jiyeon membelalak. Apa yang diketahui oleh Yunha tentangnya.

“Semua ini sangat pantas didapatkan oleh seorang sepertimu. Semua hujatan yang kau berikan padaku akan dibayar hari ini, semuanya. Lunas!”

“Kau pembunuh!”

Yunha lagi-lagi tertawa. “Ani, ani. Bukan aku yang akan membunuhmu. Tapi.” Yunha sengaja menggantung kalimatnya, tersenyum miring dan berjalan mendekati Jiyeon perlahan.

Jiyeon benar-benar panik. Air matanya menetes. Ia takut, sangat takut.

“Kau yang akan melakukannya sendiri untuk dirimu jalang.” Yunha meletakkan seekor laba-laba di atas kaki Jiyeon. Ia tidak perlu mengotori tangannya untuk membunuh Jiyeon. Jiyeon akan melakukannya sendiri, dengan senang hati.

Jiyeon menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan semua ketakutannya terhadap laba-laba itu. “Aku mohon, lepaskan aku.” Akhirnya Jiyeon memohon.

“Apa? Aku tidak bisa mendengarmu?”

“Yunha, aku minta maaf atas semua yang aku lakukan padamu. Aku berjanji tidak akan menyiksamu lagi. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik. Yunha, aku mohon.”

“Begitu mudah bukan mengucapkan kata maaf? Tapi kau harus tahu, memaafkan tidak semudah mengucapkan kata maaf. Dan aku bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Lagipula apa tujuan kata maafmu itu? Hanya supaya kau selamat atau karena kau benar-benar menyesali semua perbuatanmu selama ini? Apa setelah aku melepaskanmu kau benar-benar akan berubah? Ayolah, kau sudah sering melihat aku memohon tapi kau selalu menikmati ekspresi ketakutanku saat aku memohon. Jadi sekarang ijinkan aku untuk menikmati ekspresi memohonmu.”

Jiyeon diam, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saat ini ia harus mati-matian menahan diri agar tidak pingsan atau bergerak-gerak menjauhkan laba-laba itu. Laba-laba itu kini sudah berada di pundaknya. Ia berdoa di dalam hati, membayangkan wajah teman-temannya tiba-tiba datang dan menolongnya.

“Ohh, sungguh kasihan.” Yunha meletakkan dua ekor laba-laba lagi di ujung kaki Jiyeon. Jiyeon berteriak-teriak histeris. Bergerak-gerak berusaha menjatuhkan laba-laba yang ada di tubuhnya. Ia lupa, pergerakan yang berlebihan akan membunuh dirinya sendiri.

Mata Jiyeon membelalak, kepalanya terkulai dan lidahnya terjulur.

“Game over!” Yunha bertepuk tangan sekali seolah merayakan kematian Jiyeon dan menendang kursi tempat Jiyeon tadi berpijak dan tertawa puas. “Sudah aku katakan bahwa aku serius.”

            Chanyeol berusaha untuk tidak tersenyum saat melihat berita yang ada di mading. Ia berusaha keras untuk menjaga ekspresinya agar stabil. Yunha memanfaatkan informasinya dengan baik. Chanyeol tersentak saat mendengar teriakan Luna.

“Siapa yang berani melakukan ini!” Teriak Luna yang membuat siswa lain yang sedang membaca berita itu menjauh karena ketakutan. Jiyoung segera membuka kaca mading dengan kunci yang telah ia pinjam dari TPS dan Eun Soo hanya bisa memandang berita itu dengan tatapan tidak percaya.

“Aku tanya siapa yang melakukannya!” Luna berteriak-teriak lagi. Jiyoung segera merobek-robek berita itu dan Eun Soo akhirnya menangis. Chanyeol sedikit merasa bersalah karena ia tahu semua ini juga akan menyakiti Eun Soo, gadis yang ia sukai.

Chanyeol menepuk-nepuk punggung Eun Soo, berusaha menenangkan. Tiba-tiba Sehun muncul, membelah kerumunan. Jaehyung dan Kyung Soo hanya memperhatikan dari belakang. “Sepertinya banyak sekali masalah yang menimpa gadis itu akhir-akhir ini.” Ujar Kyung Soo. Jaehyung tidak menanggapi. Mungkin ia harus bertindak. Masalah ini bukan masalah biasa.

“Siapa yang menyebarkan berita sampah seperti ini!” Kali ini Sehun menggantikan Luna. Meskipun ia tidak terlalu suka dengan Jiyeon, tapi Jiyeon tetap teman sekelasnya. Ia tidak akan tinggal diam jika ada yang merusak nama baik teman-temannya. “Aku tanya siapa!” Sehun murka. Berita ini bukan hanya melibatkan Jiyeon tapi juga Eun Soo.

Eun Soo sedikit kaget mendengar teriakan Sehun, membuatnya semakin merasa takut. Chanyeol semakin merasa bersalah. Ia akhirnya memutuskan untuk memeluk Eun Soo. Ia hanya ingin membalas dendam kepada Jiyeon. Ia ingin memberitahukan kepada semua orang siapa Jiyeon sebenarnya. Ia hanya ingin mendapatkan Eun Soo, hanya itu. Berita itu fakta bukan hoax.

“Jika aku menemukan siapa orangnya maka aku tidak akan segan-segan memberikan pelajaran!”

Keadaan masih gaduh dan mendadak hening saat mendengar teriakan seseorang. Semuanya saling pandang dan bergegas mendatangi sumber suara yang berasal dari gudang yang terletak tidak jauh dari mading.

Eun Soo berteriak histeris saat melihat siapa yang ada di depan mereka saat ini. Jiyoung dan Luna hanya bisa menatap penuh ketakutan. Chanyeol membelalak. Semuanya hanya bisa berteriak ketakutan. Di gudang yang entah bagaimana caranya bisa ada empat cermin besar Jiyeon tergantung di dalamnya.

Chanyeol menarik Eun Soo yang masih berteriak histeris ke dalam pelukannya. Gadis itu tidak boleh melihat lagi pemandangan ini. Chanyeol sudah bisa menebak siapa yang melakukannya, tapi ia sungguh tidak menyangka bahwa gadis itu benar-benar melakukannya setelah menyebarkan berita bahwa sebenarnya Jiyeon adalah pecinta sesama jenis, bahwa Jiyeon mencintai Eun Soo.

Jaehyung dan Kyung Soo menerobos kerumunan. Kyung Soo segera membuang muka. Jaehyung mendesis. Ia segera memerintahkan beberapa siswa untuk memberitahukan hal ini kepada para guru. Ia melirik Eun Soo yang masih menangis histeris di dalam pelukan Chanyeol, Luna dan Jiyoung yang terduduk lemas di lantai sambil berpelukan dan juga Sehun yang seolah masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini dengan terus memandangi mayat Jiyeon yang tergantung.

Jiyeon telah tiada

            Eun Soo memandang buku harian Jiyeon yang tadi diberikan oleh ibunya setelah pemakaman. Ia merasa takut untuk membaca buku harian sahabatnya itu. Ia takut menemukan kebenaran berita yang tadi pagi tertempel di mading. Ia lebih suka berita itu hanya perbuatan jahat seseorang. Ia tidak mau persahabatan mereka dikotori oleh hal seperti ini.

Eun Soo membuka buku harian Jiyeon perlahan. Tanpa ia sadari air matanya menetes. Ia tidak pernah tahu kalau ternyata Jiyeon semenderita ini. Selama ini ia hanya mengetahui sosok Jiyeon yang angkuh dan selalu melindunginya mati-matian. Ia tidak pernah tahu bahwa Jiyeon begitu tersiksa batin karena ayahnya yang selalu menyiksa ibunya. Ia tidak pernah tahu bahwa Jiyeon merasa tertekan karena ia tidak memiliki bakat apa-apa yang selain wajah yang cantik. Wajah hasil olahan pisau bedah. Ia telah melakukan perbaikan pada bagian mata dan rahangnya. Ia juga tidak tahu kalau Jiyeon selalu mendapat tekanan dari ayahnya yang memaksa dirinya agar bisa menjadi artis terkenal. Ia tidak pernah tahu itu. Ia hanya tahu Jiyeon yang menyenangkan, angkuh, suka berfoya-foya, selalu membelanya dan tertawa seolah hidupnya tidak pernah ada masalah. Ia tidak tahu apa-apa tentang Jiyeon.

Eun Soo tercekat saat membaca kalimat “Chanyeol menyukai Eun Soo? Ani! Eun Soo hanya milikku. Apa-apaan dia memintaku mendekatkan dia dan Eun Soo. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Eun Soo mendadak merasa panik. Ia mencampakkan buku harian Jiyeon. Ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya.

Ia segera meringkuk di atas tempat tidur. Kali ini ia menangis sejadi-jadinya. Ia kesal karena tidak tahu apa-apa tentang Jiyeon. Ia kesal karena persahabatan mereka selama ini tidak sehat. Ia takut karena Jiyeon menyukainya. Ia takut karena ternyata perlindungan yang selama ini diberikan oleh Jiyeon kepadanya karena Jiyeon menyukainya. Ia takut, sangat takut.

            Yunha mengklik link yang sudah beberapa hari ini ia kunjungi. Website bunuh diri. Website ini benar-benar berguna baginya. Ia bisa mempersiapkan rencana-rencana pembunuhan yang kreatif dan tidak membosankan. Ia tertawa puas. Ia mulai menikmati permainan ini.

Tiba-tiba ia teringat saat tadi pagi Chanyeol memeluk Eun Soo saat menemukan mayat Jiyeon yang tergantung di dalam gudang. Ia bisa melihat kepanikan di dalam diri Chanyeol. Laki-laki itu pasti tidak menyangka ia mampu membunuh Jiyeon dengan cara seperti itu. Chanyeol berada di dalam posisi abu-abu. Ia belum masuk dalam daftar orang-orang yang akan ia bunuh, tapi jika laki-laki itu berbahaya maka ia tidak perlu ragu untuk membunuhnya. Saat ini informasi Chanyeol masih ia butuhkan.

Yunha mengangguk-angguk saat membaca isi website tersebut. Ia menarik salah satu buku catatan dari tumpukan buku di meja belajarnya dan menuliskan rencana selanjutnya. “Luna, urutan yang tepat!” Yunha tersenyum puas. Ia akan memberikan pelajaran kepada orang-orang yang dulu selalu menindasnya, semuanya. Manusia-manusia kejam memang harus diberi hukuman.

To Be Continued

As usual I’ll give Jaehyung’s pict

88wveq

4 comments

  1. julistyjunghaae · December 12, 2012

    wih….

    sadis banget tuh YunHa…
    Jangan Bunuh Sehun yah please…
    Chanyeol juga jangan deh… kacian..
    hehehee…
    FFnya keren thor….

  2. 이타_정 (@Angels_Seomates) · December 13, 2012

    omg … jiyeon lesbian ea ??? knpa yunha jdi sadis gitu sih?? yg pnting yunha gax ngbnuh sehunnie aja ..

  3. elfty · December 26, 2012

    wah makin seru..
    yunha jadi kaya gitu? bener bener ga nyangka..
    lanjut thor, penasaran sama lanjutannya.
    o ya chanyeolnya jangan dibunuh ya..

  4. sooyoungie · November 20, 2013

    shit! ff ini bener bener keren banget. lah thor lanjuting dong ini ff udah dari desember ga dilanjut lanjut hehehe. gacuma bingung sama sifat sehun, tapi bingung juga sama sifat jiyoung. dan, juga aku kira sehun emang beneran suka sama yunha tapi nyatanya…. pengen banget ntar happy ending dan yunha bakal sama sehun :””””””))

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s