Fanfiction Special [That Smile]

Title                 : That Smile

Author             : Ssiskha/@SiskhaSri/ssiskha.wordpress.com

Cast                 : Lee Seungyub [A-JAX]

                        : Shin Riyoung [OC]

                        : Seo Jaehyung [A-JAX]

                        : A-JAX members

Genre              : Find by yourself

Length             : Oneshoot

            Penuh sesak!

Seungyub menarik kursi yang ada di hadapannya sambil memperhatikan seorang gadis yang sedang makan dua meja di depan dari tempat ia duduk sekarang. Sudah beberapa hari ini ia selalu melihat gadis sombong itu.

“Ayo kita pesan.” Suara Jaehyung mengagetkan Seungyub yang masih terus memperhatikan gadis itu. Seungyub segera berdiri dan mengikuti Jaehyung yang sudah berjalan mendahuluinya.

Seungyub tersentak saat iseng menoleh ke belakang antrian. Gadis sombong itu. Gadis itu sedang melihat ke arah lain sehingga tidak sadar bahwa sedang diperhatikan. Gadis sombong itu menoleh ke arah Seungyub, menatap Seungyub datar dan segera melihat ke arah lain. “Benar-benar sombong.” Batin Seungyub.

“Riyoung-ahh!” Seseorang menepuk pundak gadis sombong itu dari samping. Seungyub refleks menoleh.

“Sungmin, kau baru keluar? Lama sekali.” Riyoung memukul-mukul lengan Sungmin, teman sekelasnya pelan sambil terkekeh. “Kami duduk di sana.” Riyoung menunjuk tempat duduknya dengan Seungjin di ujung sana.

“Kau tadi lupa membeli minuman? Sini biar aku saja yang antri.” Tawar Sungmin.

Riyoung tersenyum, senyumnya persis seperti seorang anak kecil yang baru saja diberikan permen. Seungyub masih terkejut.

“Jinjaa, ahh. Kau memang teman sekelas yang sangat baik Sungmin.” Tawa Riyoung dan keluar dari antrian. Sungmin membalas senyuman Riyoung dan mengacungkan jempolnya.

Sungmin kaget saat melihat Seungyub yang masih memperhatikan Riyoung yang sudah berjalan kembali ke mejanya. Riyoung, tersenyum. Dua hal itu membuatnya terkejut. Mengetahui nama gadis sombong itu dan mendapati gadis sombong itu tersenyum. Sejak melihat gadis itu, inilah kali pertama ia melihat gadis bernama Riyoung itu tersenyum, bahkan tertawa. Ia bahkan pernah berpikir bahwa gadis itu tidak bisa tersenyum atau terlalu sombong untuk tersenyum. Ia bahkan kaget saat merasakan jantungnya berdetak cepat saat melihat Riyoung tersenyum tadi. Senyum itu jelas bukan untuknya, senyum itu untuk teman sekelasnya yang berinisiatif mengantri untuknya, tapi jujur ia suka saat melihat gadis itu tersenyum.

“Maaf, bisa maju?” Sungmin menyadarkan Seungyub yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Seungyub tersentak dan segera menoleh ke depan lagi dan segera berjalan ke depan antrian.

Jaehyung mengambil permen karet dari dalam saku celananya dan mulai mengulum permen karet tersebut. Duduk bersandar sambil memperhatikan Seungyub yang sedang sibuk dengan bukunya.

“Tiba-tiba aku ingin melihat-lihat fakultas Teknik.”

Jaehyung menoleh kepada Hyojun dan disusul Seungyub.

Jaehyung tertawa. “Bosan juga melihat ruangan yang itu-itu saja.

Seungyub memiringkan kepala dan entah kenapa gadis yang selama ini dicapnya sebagai gadis sombong itu muncul di dalam pikirannya. Ia yakin gadis itu adalah mahasiswa teknik mengingat selama ia melihat gadis itu di kantin, ia selalu duduk bersama teman-temannya yang dominan adalah laki-laki.

Hyojun melirik Seungyub yang tidak memberikan reaksi apa-apa. “pasti sedang memikirkan adik kelas itu, siapa namanya? Hyerin? Pantas saja ia tidak tertarik dengan usulku.” Goda Hyojun yang dibalas tawa keras oleh Jaehyung.

Seungyub menatap Hyojun. Hyerin. Ohh, gadis itu. Seungyub tersenyum sendiri saat membayangkan wajah Hyerin.

“Lihat! Lihat. Baru mendengar namanya saja ia sudah tersenyum-senyum sendiri seperti itu!” Hyojun melemparkan kerikil yang berada di dekat kakinya kepada Seungyub. Seungyub hanya melotot.

Ketiganya menoleh bersamaan saat mendengar suara orang yang berbincang-bincang di koridor. Saat ini mereka sedang duduk di taman depan koridor. Seungyub tersentak. Hyerin. Wajahnya memanas seketika. Hyojun dan Jaehyung refleks melihat ke arah Seungyub. Bingo! Sesuai dugaan saat ini Seungyub sedang merona. Hyerin tersenyum kepada Seungyub dan dibalas oleh Seungyub. Mereka tidak bisa mengobrol karena Hyerin sibuk berbincang dengan dosennya.

“Sudah seberapa jauh hubungan kalian?”

“Seberapa jauh? Masih seperti itu saja.”

“Apalagi yang kau tunggu?”

“Jangan terburu-buru. Kami baru dekat dua minggu terakhir ini.”

“Tapi wajahmu selalu memerah setiap kali melihat Hyerin. Apalagi kalau Hyerin sedang tersenyum. Dua minggu itu cuma masalah angka.” Ejek Hyojun.

Senyum, entah kenapa lagi-lagi Seungyub teringat oleh Riyoung. Gadis yang entah bagaimana sangat ia sukai senyumannya.

Sejak kejadian ia melihat Riyoung tersenyum, Seungyub selalu ingin melihat gadis itu. Hari ini, di depan perpustakaan, harapannya terkabul. Ia kembali melihat Riyoung. Ia tersenyum-senyum sendiri saat melihat gadis itu sibuk merapikan poninya saat berlari.

“Permisi.” Ucap Riyoung tanpa memfokuskan diri pada Seungyub yang menghalanginya untuk masuk. Seungyub segera bergeser. “Gadis itu memang sombong, tidak suka tersenyum dan terlalu cuek.” Gumam Seungyub.

“Terlambat tiga hari ya?” Tanya penjaga perpustakaan pada Riyoung.

“Ehh, iya.” Jawab Riyoung yang saat itu sibuk mengetik di ponselnya, mungkin mengetik pesan atau bisa saja mengupdate status. “Terima kasih.” Ucap Riyoung saat menerima uang kembalian atas dendanya dan tersenyum. Seungyub terkesima. Ia sangat suka melihat gadis itu tersenyum.

Jaehyung dan Hyojun muncul dari rak buku dan menghampiri Seungyub yang masih berdiri di dekat pintu. Jaehyung dan Hyojun refleks memberikan jalan ketika Riyoung berjalan ke arah mereka, sedangkan Seungyub masih terus melihat Riyoung. Riyoung yang berjalan sambil menunduk pun terpaksa mengangkat kepala saat menyadari bahwa laki-laki yang berdiri di ambang pintu itu belum bergeser dari tempatnya berdiri.

“Permisi.” Ujar Riyoung, tanpa senyum. Ia tidak mengenal laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Ia bukan tipe orang yang suka tersenyum pada seseorang yang belum dikenalnya dan juga bukan tipe orang  yang ramah pada orang yang tidak dikenalnya.

Hyojun dan Jaehyung heran melihat tingkah Seungyub. Hyojun segera menarik Seungyub ke pinggir agar memberikan jalan kepada Riyoung. Setelah ada celah Riyoung pun segera melanjutkan jalannya tanpa menoleh dan berlari pelan. Sepertinya ia sedang terburu-buru.

Jaehyung memakai jas labnya sambil memperhatikan Seungyub yang juga sedang memakai jas labnya. “Kau mengenal gadis tadi?” Tanya Jaehyung.

“Gadis tadi yang mana?”

“Gadis tadi yang kau halangi jalannya di perpustakaan.” Kesal Hyojun, kadang-kadang sahabatnya ini memang sedikit agak lamban.

“Riyoung? Ahh, tidak.” Seungyub mengibaskan tangannya.

“Riyoung itu namanya? Lantas yang tidak kau kenal itu apanya?” Hyojun semakin kesal.

“Aku hanya tahu namanya, itu juga karena tidak disengaja. Aku tidak mengenalnya, dia juga tidak mengenalku. Kami tidak saling mengenal.” Jawab Seungyub dengan tatapan polos.

“Kau menyukai Riyoung?” Tanya Jaehyung jahil. Ia yakin bahwa sahabatnya itu akan menjawab tidak dengan cepat dan kemudian akan segera dilanjutkan dengan kalimat. “Kau pasti tau siapa gadis yang aku suka”, disusul dengan wajah yang merah merona. Ia sudah hapal ritual Seungyub apabila disinggung mengenai Hyerin.

Namun tidak kali ini. Jaehyung terkejut karena mendapati Seungyub yang tampak berpikir, seolah masih ragu pada jawabannya. “Tidak, tidak.” Jawab Seungyub akhirnya. Jaehyung menghela napas lega. Meski tidak sesuai urutan seperti biasanya tapi ia yakin memang jawaban itu yang akan diberikan oleh Seungyub. “Aku hanya suka saat melihatnya tersenyum.” Lagi-lagi Seungyub mejawabnya dengan tatapan polos, seolah-olah tidak ada yang salah dari jawabannya.

“Senyumannya itu bagian dari dirinya kan.” Tanya Hyojun hati-hati.

Seungyub menatap Hyojun tidak mengerti.

“Senyum itu milik Riyoung bukan? Kau menyukai senyumnya bukankah itu artinya kau menyukai Riyoung?” Tanya Hyojun. Jaehyung menunggu jawaban Seungyub tidak sabar.

“Molla, aku rasa tidak. Aku hanya menyukai senyumnya bukan menyukai pemiliknya.”

Hyojun dan Jaehyung saling tatap. Mereka tahu betul bagaimana sifat Seungyub. Sahabatnya itu tidak pernah main-main dengan perasaan. Jika ia bilang suka itu artinya ia memang menyukainya, tapi jika ia bilang tidak itu artinya ia memang tidak menyukainya. Tapi mereka merasa ada yang janggal dari jawaban Seungyub.

Riyoung tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Yunyoung. Saat ini Riyoung, Seungjin, Yunyoung dan Hana sedang berada di taman belakang. Mereka duduk membentuk lingkaran. Hana sesekali menarik rambut Yunyoung agar berhenti mengeluarkan ekspresi aneh ketika bercerita tapi Yunyoung tetap bersemangat dengan ekspresi anehnya itu. Seungjin bahkan sampai memegangi perutnya karena ulah Yunyoung.

“Lihat! Lihat! Gadis itu tertawa! Riyoung tertawa.” Seungyub buru-buru mencolek Hyojun yang berdiri di sampingnya. Hyojun kaget dan refleks menoleh cepat. Jaehyung pun ikut melihat Riyoung. Ya, gadis itu memang tertawa, lantas apa yang salah.

“Tentu saja! Kau tidak lihat temannya sedang sibuk bercerita dengan eksperi konyol seperti itu!” Jaehyung menjitak kepala Seungyub.

“Ani, ani. Setiap kali aku melihatnya ia jarang sekali tersenyum. Aku baru melihatnya tersenyum sebanyak tiga kali.”

“Kau menyukainya?” Tanya Hyojun.

“Ani, aku hanya menyukai senyumnya saja.” Kilah Seungyub.

“Berhenti menatapnya dengan cara seperti itu.” Cela Jaehyung.

“Bwoo? Memangnya bagaimana cara aku menatapnya?”

“Berbinar-binar!”

Riyoung mengalihkan pandangannya dari laptop saat mendengar bisikan Hana. Ia pun mengikuti bisikan Hana dan laki-laki itu, ia memandang lurus laki-laki yang dibisikkan oleh Hana tadi.

“Dia manis kan, akhir-akhir ini dia sering sekali terlihat. Katanya dia mahasiswa kedokteran, namanya Lee Seungyub. Dia imut sekali.”

Riyoung masih menatap Seungyub,  ya benar. Laki-laki itu memang manis. Riyoung buru-buru mengalihkan pandangannya saat Seungyub menoleh dan melihat ke arahnya. Riyoung menjadi gugup saat merasa bahwa Seungyub masih memperhatikannya. Karena penasaran, Riyoung berpura-pura menoleh dan melihat ke arah Seungyub. Ternyata benar, laki-laki itu masih melihatnya. Riyoung tidak pernah menyangka bahwa Seungyub akan tersenyum kepadanya. Entahlah, mungkin bukan kepadanya tapi yang jelas laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Riyoung hanya mengangkat sebelah alis, tidak mau terlalu percaya diri pada senyuman Seungyub dan kembali berkutik dengan laptopnya.

“Seungyub tersenyum padamu! Astaga, senyumnya!” Jerit Hana tertahan.

Riyoung tidak memberikan reaksi, malas menanggapi sikap Hana setiap melihat laki-laki tampan.

“Riyoung…” Rajuk Hana.

“Apa?” Riyoung tetap serius memainkan angry birdnya.

“Seungyub tersenyum padamu.”

“Argh!” Teriak Riyoung kesal karena mengalami kekalahan. Hana kesal karena Riyoung tidak mendengarkannya dan dengan brutal menutup laptop Riyoung. Riyoung baru saja akan mengejar Hana saat lagi-lagi ia mendapati Seungyub masih melihat ke arahnya.

Seungyub merapatkan mantelnya. Ia melirik jam tangan, sudah tiga puluh menit ia menunggu dan Hyerin belum juga datang. Hari ini, sesuai perintah Hyojun ia mengajak Hyerin berkencan. Seungyub hanya menurut karena memang seharusnya hubungannya dengan Hyerin sudah mulai mengalami kemajuan, tidak hanya jalan di tempat dengan sms, telepon dan saling bertukar senyum, sudah seharusnya mereka menjalani pendekatan lebih dari itu.

Seungyub menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin. Lagi-lagi senyum Riyoung memenuhi pikirannya, ia tidak bisa menahan senyum setiap membayangkan bagaimana cara gadis itu tersenyum dan tertawa. Meski senyum itu bukan untuknya tapi ia sangat menyukainya dan selalu ikut tersenyum setiap melihat gadis itu tersenyum.

Seungyub merogoh saku mantelnya, mencari ponsel dan bermaksud menghubungi Hyerin. Seungyub meringis karena udara dingin yang menusuk. Musim dingin seperti ini tidak seharusnya mereka janjian di tempat terbuka seperti ini. Udaranya benar-benar membunuh. Seungyub mengurungkan niatnya untuk menelepon karena tidak sanggup lagi berdiri. Ia memutuskan untuk meringkuk di bawah pohon di belakangnya karena tidak ada kursi taman di sekitarnya. Hyerin yang ngotot untuk berkencan di sini, Seungyub tidak punya pilihan  untuk menolak, ia tidak ingin mengecewakan gadis itu di kencan pertama mereka.

“Gwenchana?”

Seungyub masih menunduk saat mendengar suara seseorang yang sepertinya pernah ia dengar.

“Kau baik-baik saja?” Suara itu terdengar begitu khawatir, tapi itu bukan suara Hyerin. Seungyub pun menengadah. Gadis sombong itu. Gadis yang baru tiga kali dilihatnya tersenyum. Gadis yang sangat ia sukai senyumnya.

“Kau tidak apa-apa?” Seungyub masih belum bisa melepaskan tatapannya pada Riyoung, ia hanya terlalu kaget.

“Minum ini.” Riyoung memberikan kopi kaleng kepada Seungyub. Ia melihat apa yang sedang dibawa oleh Riyoung, sepertinya gadis itu baru pulang berbelanja.

“Wajahmu tampak pucat. Apa tidak sebaiknya kau pulang saja. Apa sedang menunggu seseorang?” Riyoung membantu membenarkan posisi duduk Seungyub. Saat Riyoung menyentuh lengannya yang berbalut mantel tebal, ia seperti merasakan sengatan listrik, jantungnya pun berdetak sangat cepat. Perasaan yang sama seperti saat pertama kali ia bertemu Hyerin.

“Riyoung.” Akhirnya Seungyub bersuara.

Riyoung tampak terkejut karena Seungyub mengetahui namaya. Riyoung tersenyum kaku. Tadi ia baru berbelanja di supermarket. Ia sangat suka melihat pemandangan taman kota di saat musim dingin untuk itu ia memutuskan pulang lewat taman. Dari kejauhan ia bisa melihat Seungyub, laki-laki manis yang kemarin diperlihatkan oleh Hana padanya. Awalnya ia bermaksud melanjutkan perjalanannya sampai ia melihat Seungyub tiba-tiba meringkuk. Untuk itu ia sekarang ada di sini. Menghampiri laki-laki itu dan menanyakan keadaannya.

“Aku sedang menunggu seseorang.” Ujar Seungyub lagi setelah meminum kopi pemberian Riyoung. “Gomawo.” Seungyub tersenyum manis. Riyoung membalas senyuman Seungyub dan saat itu juga Seungyub tidak bisa untuk tidak tersenyum lagi ketika melihat senyum gadis itu. Ia suka cara gadis itu tersenyum, ia suka saat melihat gadis itu tersenyum dan baru saja gadis itu tersenyum, tersenyum padanya.

“Kenapa tidak menunggu di tempat yang lebih hangat saja?”

“Gadis itu sangat suka pemandangan taman di musim dingin, makanya kami janjian di sini.” Jawab Seungyub polos.

Riyoung mengangguk-angguk. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang menyukai hal itu. Atau mungkin semua gadis menyukai hal itu. “Ahh, kencan ya.” Canda Riyoung sambil terkekeh.

Seungyub lagi-lagi tersenyum melihat Riyoung yang tertawa, ia suka, hanya suka. “Iya, kencan pertama kami.”

Tiba-tiba saja Riyoung merasa iri. Betapa bahagianya pasangan kencan Seungyub karena diperlakukan begitu manis olehnya. Ia juga ingin diperlakukan seperti itu oleh orang yang disukainya. Riyoung tersenyum sendiri memikirkan hal bodoh yang baru saja dipikirkannya tadi.

“Lima kali.” Ujar Seungyub.

“Apanya?”

“Ahh, ani, ani. Sudah enam kali ditambah senyummu yang terakhir tadi.”

Riyoung tersipu, ternyata tadi Seungyub melihatnya ketika tersenyum sendiri membayangkan pikiran bodohnya.

“Untuk apa kau menghitungnya?” Ujar Riyoung sambil berdiri.

“Karena aku masih bisa menghitungnya.”Ujar Seungyub sambil tersenyum polos. Melihat Seungyub dari jarak sedekat ini, melihat senyum Seungyub dari jarak sedekat ini, ia akui membuatnya sedikit kesulitan bernapas.

Riyoung tertawa kaku. “Aku pulang dulu.” Pamit Riyoung sambil mengambil barang belanjaannya yang tadi ia letakkan di bawah. “Kau sudah bisa ditinggal kan?”

“Bisakah aku melihat senyummu lebih banyak lagi?”

Riyoung menoleh tidak mengerti.

“Senyuman yang memang untukku.”

Riyoung menggeleng tidak mengerti, belum lagi ia sempat memberikan jawaban suara seorang gadis yang memanggil Seungyub tidak jauh dari tempat mereka saat ini menyadarkan Riyoung bahwa tidak ada yang perlu dijelaskan dari semua perkataan Seungyub padanya. Semuanya hanya basa-basi sama seperti tujuannya ke sini. Tanpa ada niat lain, hanya khawatir seseorang yang ia kenal mengalami hal buruk karena cuaca yang benar-benar dingin. Senyum itu, percakapan itu dan permintaan itu sama sekali tidak bermakna.

Truth or Dare!

Riyoung melengos saat lagi-lagi ia yang kena. Truth or Dare. Jika ia memilih truth sudah pasti ia harus membongkar rahasianya yang sudah bisa ia pastikan Yunyoung akan membuatnya semakin nista. Dengan terpaksa ia memilih dare.

Otak licik Yunyoung yang memang paling jahil di antara mereka pun bekerja cepat. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjahili teman-temannya. Riyoung hanya bisa berdo’a dalam hati bahwa Yunyoung sedikit memberi belas kasihan padanya meski kecil kemungkinannya.

“Kau lihat tiga orang itu kan?”

Riyoung, Hana, Sungmin dan Seungjin menoleh bersamaan.

“Laki-laki manis itu!” Histeris Hana.

“Seungyub.” Gumam Riyoung. Ia mulai panik. “Siapa saja, asalkan bukan Seungyub.” Pinta Riyoung dalam hati.

“Katakan kalau kau menyukainya.” Ujar Yunyoung licik.

Riyoung kaku. Ia tidak tahu kenapa sejak kejadian kemarin sore membuatnya sedikit merasa ada yang salah pada dirinya setiap melihat Seungyub. “Katakan pada laki-laki yang sedang duduk itu.”

Hana melengos, kenapa harus dia, kenapa tidak yang sedang berdiri saja. Umpat Hana dalam hati.

“Khajja!” Yunyoung menepuk-nepuk punggung Riyoung sambil menyeringai. Riyoung menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia tidak mengenal ketiga orang itu. Ia hanya tahu satu orang saja diantara mereka. Ia hanya tahu Seungyub. Dan sekarang ia harus mengatakan suka pada laki-laki itu. Oh, Ia bertekad akan membalas perbuatan Yunyoung ini lebih kejam lagi.

Seungyub tersenyum saat melihat Riyoung yang tiba-tiba menghampirinya. Kali ini Riyoung tidak membalas senyumannya, gadis itu malah terlihat panik. Sesekali Ia menoleh ke belakang, seolah memohon bantuan pada teman-temannya yang jelas-jelas tidak akan membantunya.

Hyojun dan Jaehyung memandang Riyoung penasaran. Semalam, Seungyub telah menceritakan semuanya. Pertemuan mereka, senyum Riyoung dan sengatan listrik yang dirasakan olehnya. Mungkin setelah mendengar apa yang dikatakan Riyoung saat ini bisa menjelaskan semuanya.

“Nomu Joahe.” Kata Riyoung cepat.

Jaehyung menganga, Seungyub bahkan lebih shock lagi. Jaehyung segera berdiri dan menatap Riyoung tidak percaya. Kemudian ia melirik Seungyub dengan perasaan tidak enak. Riyoung mengatakan bahwa ia menyukainya sedangkan ia sendiri tahu bahwa sahabatnya mulai jatuh cinta pada Riyoung.

Seungyub menahan tangan Riyoung saat gadis itu akan berlari. Sengatan itu, ia merasakannya lagi. Debaran itu, ia merasakannya lagi. Semalam, saat ia berkencan bersama Hyerin ia sama sekali tidak merasakan hal itu. Pasti ada yang salah. Pasti ada yang salah pada dirinya. Pasti ada yang salah pada Riyoung. Pasti ada yang salah pada pernyataan suka Riyoung kepada Jaehyung.

“Kau menyukai Jaehyung?” Seungyub akhirnya mampu mengeluarkan suara. Entah kenapa ia merasa sedikit sesak. Hari ini Riyoung datang menemuinya tanpa sebuah senyuman dan tiba-tiba mengatakan bahwa ia menyukai sahabatnya. Pasti ada yang salah dengan semua ini.

Riyoung berusaha melepaskan tangannya, namun Seungyub mencengkramnya semakin erat. Ia menoleh ke belakang, berharap teman-temannya masih memiliki nurani untuk mau menolongnya dari situasi bodoh ini. “Lupakan! Lupakan semua yang telah terjadi.” Ujar Riyoung setengah berteriak dan menghempaskan tangan Seungyub. Setelah mendengar ucapan Riyoung, Seungyub seolah kehilangan semua tenaganya. Riyoung memintanya untuk melupakan semua yang telah terjadi diantara mereka. Tapi apa yang sudah terjadi diantara mereka. Tidak ada. Hanya obrolan singkat dibumbui senyum yang sangat ia sukai. Dan Riyoung memintanya untuk melupakan hal itu. Riyoung benar-benar menyukai Jaehyung.

Tegang!

“Kau menerima pernyataan cinta Hyerin?” Jaehyung menatap Seungyub sinis.

“Aku tidak enak hati kalau sampai menolaknya.” Ujar Seungyub berusaha sesantai mungkin. Sudah dua hari ini ia sengaja menghindar dari Jaehyung. Ia belum sanggup menerima kenyataan bahwa ia kecewa kepada Jaehyung.

“Tidak enak atau karena kau ingin balas dendam!” Sergah Jaehyung.

Seungyub menatap Jaehyung tidak suka.

“Bukankah kau bilang kalau sepertinya kau mulai jatuh cinta pada Riyoung dan sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Hyerin?” Hyojun akhirnya ikut bicara. Saat ini hanya dirinya lah yang berkepala dingin diantara mereka bertiga.

“Ya.” Seungyub diam. “Mungkin.”

“Aku tidak menyukai Riyoung, aku bahkan tidak mengenalnya!” Jaehyung semakin kesal karena ia lah yang sebenarnya disalahkan oleh Seungyub.

“Tapi dia menyukaimu.” Jawab Seungyub dingin.

“Jadi siapa yang kau sukai?” Hyojun kembali bertanya.

“Hyerin.” Jawab Seungyub mantap.

“Yang kau cintai?” Seringai Jaehyung.

Seungyub diam dan seolah tidak memiliki jawaban yang tepat. Apakah orang yang ia sukai dan yang ia cintai adalah orang yang berbeda.

Riyoung tersenyum manis sambil mengambil selca di bawah pohon yang sudah tertutup salju. Ia menghentikan aktivitasnya saat melihat seseorang yang sudah hampir satu bulan ini tidak pernah terlihat lagi olehnya, Seungyub.

Ia menjadi salah tingkah karena tertangkap basah sedang memotret dirinya sendiri.

“Perlu bantuan?” Tanya Seungyub dengan wajah lucu.

“Tidak usah.” Cibir Riyoung sambil memasukkan ponsel ke dalam saku mantelnya.

“Apakah kau masih menyukai Jaehyung?” Tanya Seungyub tanpa mau melihat Riyoung, ia khawatir melihat kenyataan di mata gadis itu.

“Jaehyung? Aku?” Tanya Riyoung bingung. Ia menepuk keningnya karena baru ingat permainan bodoh yang ia lakukan dengan teman-temannya satu bulan yang lalu. “Kejadian satu bulan yang lalu itu?” Tanya Riyoung memastikan.

Seungyub hanya mengangguk. Satu bulan terakhir ini adalah masa-masa sulit baginya. Masa-masa dimana ia harus belajar bahwa sahabatnya disukai oleh orang yang dicintainya, masa-masa ia mencoba bertahan bersama Hyerin meski pada akhirnya hubungan mereka tetap tidak tertolong dan masa-masa ia menahan diri untuk tidak melihat senyum Riyoung.

Riyoung terbahak. “Astaga, itu hanya permainan. Aku dan teman-temanku bermain Truth of Dare dan aku kena hukuman untuk melakukan dare. Yunyoung memerintahkanku untuk mengatakan suka pada laki-laki itu. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Astaga, kau masih mengingat kejadian itu? Lupakan, lupakan. Aku saja malu mengingatnya. Yunyoung memang keterlaluan.” Riyoung mengusap air matanya karena tertawa terbahak-bahak.

Seungyub terpaku mendengar rentetan kalimat Riyoung. Kejadian satu bulan yang lalu hanya sebuah permainan. Satu bulan yang sangat sulit itu ternyata hanya ulah permainan Riyoung bersama teman-temannya.

“Permainan?” Tanya Seungyub tidak percaya.

“Hanya permainan, kau tidak berpikiran bahwa aku benar-benar menyukai temanmu itu kan?” Tanya Riyoung.

Seungyub merasa kepalanya pusing. Ia menganggap hal itu serius, sangat serius.

“Bagaimana hubunganmu dengan Hyerin?” Tanya Riyoung basa-basi, jujur ia tidak mau mendengar apa saja tentang hubungan Seungyub dan Hyerin.

“Kami sudah putus.”

“Secepat itukah?”

“Mungkin akan lebih cepat kalau kau tidak mengatakan suka kepada Jaehyung.” Seungyub maju selangkah. Ia tahu bahwa Riyoung sangat menyukai suasana taman di musim dingin. Ia yakin hari ini pun ia akan melihat Riyoung sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia sudah tidak sanggup lagi jika tidak melihat senyum itu.

“Kemarikan ponselmu.” Seungyub mengulurkan tangannya.

“Bwoo? Untuk apa?”

“Kemarikan saja.” Pinta Seungyub tidak sabar.

“Anio, kau mau apa dengan ponselku?” Tolak Riyoung.

“Kemarikan saja.” Paksa Seungyub.

Sambil menggerutu Riyoung menyerahkan ponselnya kepada Seungyub. Seungyub segera mengambil ponsel Riyoung dan menghubungi ponselnya dengan menggunakan ponsel Riyoung. Ia menyimpan nomor Riyoung di dalam ponselnya begitu pula sebaliknya.

“Kalau ingin menghubungiku tinggal tekan 1 saja.” Seungyub mengembalikan ponsel Riyoung.

“Kenapa harus satu?” Cibir Riyoung sambil meraih ponselnya dengan kesal. “Ya, apa-apaan namamu—“ Riyoung menghentikan kalimatnya saat Seungyub memeluknya. Riyoung masih diam, tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Seungyub.

“Seharusnya aku melakukan hal ini sejak satu bulan yang lalu, sebelum kau dan permainan bodohmu itu mengatakan bahwa kau menyukai Jaehyung.” Ujar Seungyub sambil mengelus puncak kepala Riyoung. Gadis ini begitu mungil, membuatnya selalu ingin memeluknya agar ia merasa terlindungi.

Riyoung masih diam di dalam pelukan Seungyub. Hangat, ia merasa sangat hangat. Ternyata ia memang menyukai Seungyub dan masih menyukainya. “Kau belum bertanya bagaimana perasaanku. Bagaimana kalau aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu?” Tanya Riyoung.

Seungyub melepaskan pelukannya. Ia menatap Riyoung dalam. Ia lupa, selama ini hanya ia yang merindukan Riyoung, ia tidak pernah tahu apakah Riyoung juga merindukannya. Ia tidak pernah tahu dan tidak mau tahu.

Riyoung melihat kekecewaan di wajah Seungyub, gadis itu tersenyum dan mengecup pipi Seungyub sekilas. Seungyub tersenyum, ternyata bukan hanya ia yang merindukan Riyoung. Seungyub baru saja akan menarik Riyoung dalam pelukannya lagi saat Riyoung berlari dan mulai melemparinya dengan bola salju.

“Awas saja nanti kalau kau sampai tertangkap olehku. Tidak akan aku lepaskan!” Teriak Seungyub sambil membersihkan bola salju dari wajahnya. Riyoung hanya terkekeh dan Seungyub selalu menyukai senyum Riyoung, selalu.

 

2 comments

  1. Lita · December 31, 2012

    Ff’ny bagus thor , tp msh gantung sih (menurut q) ,…

    sequel ya thor ..??

  2. VavaIsElf_07 · January 5, 2013

    FFnya keren tapi perlu sequel nih..🙂

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s