Part 12 : Midnight Sun

554165_501920753153862_223769899_n

Title
Midnight Sun

Author
Ichen Aoi

Length
Chaptered

Rating
PG 16

Genre
Romance, Friendship

Cast
Jessica Jung
Tiffany Hwang
Kim Taeyeon
Seo Johyun
Wu Yifan
Xi Luhan
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Oh Sehun

Other Cast
Zhang Yi Xing

Disclaimer
this story is mine and all cast is my biased Hhaaa…

..

.

Jessica terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sedikit berat. Ia samar – samar mengingat kejadian semalam namun ia benar – benar tidak ingat seutuhnya. Gadis itu hendak merentangkan kedua tangannya dan menggeliat diatas tempat tidur hanya saja sesuatu menarik perhatiannya. Luhan yang tidur membelakanginya sambil memeluk bantal guling dan Kris yang tidur tengkurap sambil memeluk bantal dikepalanya. Jessica mengerjapkan matanya dengan bingung, bagaimana kedua orang itu bisa berada ditempat tidurnya.

“Tunggu, ini? Ada apa ini?”

Nada bicara Jessica yang setengah berteriak membangunkan keduanya. Luhan berbalik lalu memandangi Jessica dengan mata sipitnya yang masih mengantuk sedangkan Kris membalik badannya lalu mengambil posisi duduk bersandar pada tempat tidur sambil menguap.

“Kenapa ribut sekali sih? Ini kan hari libur dan masih pagi?” tanya Kris dengan kesal. Luhan hanya sanggup menganggukkan kepalanya. Ia benar – benar mengantuk.

Jessica membuka mulutnya dengan tidak percaya ketika ia melihat kedua lelaki itu tidak mengenakan atasan sama sekali. Ia bergidik ngeri lalu mengintip tubuhnya sendiri didalam selimut dan matanya langsung terbuka dengan lebar.

“Tunggu! Ini?! Ada apa? Kenapa begini?”

Pertanyaan tidak jelas dari Jessica malah mendapat respon heran dari kedua lelaki itu. Mereka kembali berbaring lalu memejamkan mata mereka masing – masing. Jessica sendiri masih mematung karena kebingungan sekaligus shock.

“Noona? Tidak bisakan tenang sedikit, hum?”

Luhan membuka matanya lalu memeluk perut Jessica yang tertutup selimut itu. Ia mendekatkan dirinya dibahu kanan Jessica sedangkan Kris memeluk pinggang gadis itu dan ikut mendekatkan dirinya dengan Jessica. Sedangkan Jessica masih berusaha berfikir secara perlahan sambil menatap langit – langit kamar asing itu.

==

Rumah sakit,

Seohyun sama sekali belum sadar. Ia mengalami kecelakaan kemarin ketika ia mencoba untuk pergi dari ayahnya. Ia belum siap atau tidak akan pernah siap untuk pergi keluar negeri. Ia tidak ingin membayangkan Sehun dekat dengan gadis lain tanpa dirinya. Sehun sama sekali belum datang untuk menjengguk gadis itu. Hanya Taeyeon yang rutin datang sejak kemarin. Sedangkan Tiffany dan Jessica menghilang entah kemana. Ok, Taeyeon tahu keberasaan Jessica namun ia tidak tahu dimana Tiffany sekarang.

“Kau baik – baik saja, noona?”

Kebetulan Lay datang untuk menemani Taeyeon. Meski tidak begitu mengenalnya, Lay tidak ingin gadis itu merasa sendirian. Lay sudah cukup tahu banyak tentang ke-empat putri pengusaha itu. Mr. Kim sendiri yang menceritakan hal itu padanya.

“Lay, aku… entahlah”

Lay memutuskan untuk duduk disamping Taeyeon. Ia menatap gadis itu dengan hati – hati. Taeyeon tampak sangat sedih sekaligus lelah. Lay tahu, kehidupan gadis kaya didepannya ini tidaklah mudah. Selama ini, Lay tidak begitu etrtarik untuk terlibat dengan gadis – gadis sekelas Taeyeon hanya saja Taeyeon berbeda. Ia mandiri dan bertanggung jawab, tidak seperti gadis – gadis kaya yang manja dan egosi lainnya. Lay menghargai itu, atau lebih tepatnya ia mulai menyukai sisi Taeyeon tersebut.

“Semua akan baik – baik saja, Nona Kim”

“Semoga saja”

Lay tersenyum lalu membiarkan kepala Taeyeon bersandar pada bahu kanannya. Ia tahu gadis itu butuh menenangkan dirinya sekarang.

==

Chanyeol memandangi Tiffany yang tampak aneh sejak semalam. Gadis itu terlihat lebih murung dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Ia menarik nafas dalam – dalam lalu mendekati Tiffany yang sedang sibuk memasak dengan hampa. Chanyeol memeluk pinggang Tiffany dari belakang dan itu cukup untuk membuat gadis itu terkejut.

“Kau?”

“Ne. Ada apa?”

“Anieyo”

Tiffany menunduk. Ia masih ingat tindakan Kai semalam yang nyaris saja menjatuhkannya. Namun ada satu hal yang lebih penting dari itu, kalimat Kai sebelum ia pergi meninggalkan Tiffany yang menangis.

“Chanyeol –a, aku harus memastikan sesuatu”

“Tentang?”

Tiffany melepaskan pelukkan Chanyeol lalu berbalik dan menatap lelaki itu sejenak. Ia tahu Chanyeol telah berbuat banyak untuknya. Ia tahu itu. Namun ia juga tahu kalau hatinya masih menginginkan Kai. Tiffany menatap Chanyeol yang kini balas menatapnya dengan penuh tanda tanya. Tiffany menggeleng pelan lalu mencium bibir Chanyeol dengan sedikit berjinjit. Chanyeol membalas ciuman itu dengan panas, tangan kanannya sibuk menahan leher belakang Tiffany sedangkan tangan kirinya melingkar dipinggang ramping gadis itu.

==

Kai menghela nafas kasar. Ia tidak bisa tidur semalaman. Ia masih memikirkan tindakan gila yang ia lakukan kepada Tiffany. Ia benar – benar mabuk saat itu dan ketika melihat serta mengetahui gadis itu tinggal bersama lelaki lain membuatnya semakin frustasi. Bahkan luka lamanya kembali terbuka dengan sempurna ketika melihat Tiffany menangis.

“Argh! Kenapa aku melakukan hal tersebut?!”, teriak Kai frustasi.

Kai memandangi dirinya dicermin. Kejadian semalam benar – benar kembali terbayang nyata didalam benaknya. Bibirnya masih bisa merasakan bagaimana lembutnya bibir gadis itu dan bagaimana lembutnya tubuh gadis itu.

“Ku rasa aku benar – benar sudah gila!”

Kai menghempaskan dirinya diatas tempat tidur lalu memejamkan matanya dan entah kenapa ia bisa merasakan semalam ia sangat menginginkan Tiffany seutuhnya. Hati dan tubuhnya. Semuanya. Ia bisa merasakan gejolak aneh itu.

==

Sehun baru saja bangun tidur dan ia sama sekali tidak menjumpai Luhan ditempat tidurnya. Asrama mereka juga sepertinya sedang dalam keadaan damai. Biasanya Chanyeol dan Kris akan datang pagi – pagi kekamarnya lalu membangunkan Luhan dengan hebohnya. Nyatanya ketiganya tidak ada di asrama, tampaknya begitu.

“STOP SEHUN!! OH SEHUN STOP!!”

Sehun masih berdiri didepan cermin westafelnya dan masih juga berbicara dengan pantulan dirinya sendiri didalam cermin. Ia merasa sudah gila sekarang. Ok! Mungkin belum, tapi bagaimana kalau mendekati kata gila?

“Tidak! Tidak mungkin aku menyukai noona cantik itu” keluhnya lagi.

Sehun membuka keran westafel itu lalu membasuh wajahnya dan berbalik untuk mengambil handuk yang tersusun rapi diraknya. Ia kembali menatap dirinya dicermin. Rasanya sangat aneh, bukan karena ia menyukai seorang yang lebih tua darinya tapi rasanya aneh ketika ia mengetahui kalau ia baru saja menyukai seorang gadis yang –sepertinya- menyayanginya dan memperhatikannya seperti seorang adik.

“Arghhhh~~~ Tapi bagaimana kalau aku memang menyukainya?!!!!” protes Sehun lagi dan kini sudah kembali menatap cermin. Tampaknya ini akan berlangsung lama, berbicara dengan dirinya sendiri dicermin.

#ddrt ddrrtt

Sehun mengalihkan perhatiannya dari cermin dan menatap kearah ponselnya yang bergetar hebat diatas meja belajarnya diluar sana. Ia berusaha mengabaikannya namun tampaknya ssuara getar handphone tersebut benar – benar mengganggunya. Ia keluar dan memandangi layar ponselnya, beberapa panggilan tak terjawab dari Taeyeon dan beberapa pesan singkat lainnya.

From : Taeyeon noona

Sehun –a! Tolong bantu aku untuk menjaga Seohyun dirumah sakit. Sekarang! Karena aku ada sedikit urusan. Dan ingat, jangan sampai ada anggota keluarga kami yang menyadari keberadaan mu disana. Aku masih harus mencari Tiffany yang menghilang entah kemana.

Sehun menghela nafasnya ketika ia membaca pesan itu. Ia kembali teringat kejadian dua hari yang lalu ketika Seohyun berjanji akan menemuinya namun sampai saat ini gadis itu sama sekali belum bertemu dengannya. Sehun nyaris saja marah dan menganggap kalau Seohyun hanya mempermainkkanya sampai ia mendengar kabar dari Taeyeon, kalau gadis itu mengalami kecelakaan mobil. Tidak begitu parah, memang. Namun cukup untuk membuat gadis itu dirawat dirumah sakit. Sehun sendiri sama sekali belum mengunjungi Seohyun dirumah sakit mengingat ia sama sekali tidak diizinkan Taeyeon untuk kesana. Taeyeon tidak ingin ada masalah besar yang menimpa Sehun.

“Aku akan menemuinya. Aku akan menemui putri yang terkurung didalam istananya” bisik Sehun sambil menatap lurus dengan pandangan kosong.

==

Seohyun dengan perlahan membuka matanya. Cahaya segera masuk kedalam pandangannya dan membuatnya merasa silau. Seohyun bangun dari tidurnya lalu memandangi sekelilingnya. Ia masih ditempat yang sama. Rumah sakit. Sikap bodohnya yang mengantarkannya ketempat itu.

Seohyun melirik pergelangan tangannya dan selang cairan infus terpasang disana. Ia tidak ingat sudah berapa lama ia terbaring disana. Yang ia tahu kepalanya terasa pusing. Ia sadar sudah beberapa hari ia tidak makan dan hal itu menyebabkan dirinya terbaring dirumah sakit, namun bukan itu yang disesalinya. Ia menyesali awal pertemuan yang terjadi antaranya dengan seorang lelaki yang bahan tiga tahun lebih muda darinya.

Ia sudah menolak segalanya dan berharap perasaan itu tidak mungkin terjadi namun kenyataan yang sekarang ini berbicara lain. Entah kenapa ia merasakan kekosongan yang ia tidak mengerti.

Pintu ruang rawatnya terbuka dan seorang perawat memberitahukan kalau ada tamu untuknya. Seohyun memberi izin dan berusaha mengatur posisinya agar lebih nyaman.

“Noona… Bagaimana keadaan mu hari ini?”

Seorang lelaki datang sambil membawa setangkai bunga mawar. Seohyun menatapnya dengan tidak percaya, bagaimana bisa lelaki itu bisa berada disini dengan jumlah pengawas yang tidak sedikit?

“Kau… Bagaimana bisa?”

“Aku datang bukan untuk menjengguk mu, noona… Aku datang untuk menjemput mu”

Seohyun terperangah dan memandangi lelaki itu dengan tidak percaya. Sedangkan lelaki itu dengan perlahan dan hati – hati melepaskan semua peralatan rumah sakit yang menempel pada tubuh Seohyun.

“Aku akan menjaga mu dengan baik. Aku yang akan menyembuhkan mu. Kau tidak butuh semua ini” bisik lelaki itu pelan.

Ia meraih tubuh Seohyun dan menggendongnya lalu membawanya keluar ruangan tersebut. Semilir angin dan setangkai mawar merah yang tergeletak ditempat tidur ruang rawat itu membuat segalanya jelas. Cinta.

==

“Taeyeon noona!”

Taeyeon menoleh dan mendapati Lay sedang berlari kecil kearahnya. Lelaki itu menunjukkan senyum ramahnya yang mampu menggetarkan hati gadis manapun. Setidaknya itulah gambaran yang diberikan Sunny, sepupu Taeyeon. Saat ini mereka sedang berada disebuah toko buku untuk membeli beberapa buku petunjuk memasak. Lay memaksa Taeyeon untuk mengajarinya memasak.

“Ne?”

“Ku dengar malam ini ada pesta di kediaman keluarga Kim”

Taeyeon membatu.

Ia bahkan tidak tahu ada pesta malam ini. Mendengar pesta tersebut akan diadakan dikediamannya saja sudah membuatnya merasa takut. Ia takut kembali menjadi boneka kosong yang hanya bergerak mengikuti kemuan pemiliknya.

“Kau…”

Kata – kata Taeyeon terputus ketika tanpa sengaja ia menemukan Kyungsoo sedang menatapnya dari kejauhan. Ia bisa menangkap ada kilatan kesedihan dan kekecewaan disana.

“Kyungsoo?”

Lay menatap Taeyeon dengan bingung. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat kearah Kyungsoo yang masih berdiri ditempatnya. Sementara itu Lay mengikuti Taeyeon dari belakang.

“Kyungsoo –a?”

“Noona? Waeyo?”

Taeyeon menatap Kyungsoo sejenak lalu memeluknya tanpa sebab yang jelas. Lay dan Kyungsoo terkejut dengan sikap Taeyeon. Kyungsoo bisa merasakan kalau tangan Taeyeon yang melingkar dilehernya sedikit bergetar.

“Ada apa?”

“Pesta… Malam ini… Dikediaman ku…”

Bisik Taeyeon dengan terbata – bata. Kyungsoo bisa dengan perlahan mengerti dan membalas pelukan Taeyeon. Lay memandangi keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kyungsoo mengusap lembut punggung Taeyeon dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya sibuk mengusap kepala gadis itu.

“Tenanglah, aku akan datang”

“Tapi…”

“Percayalah semuanya akan baik – baik saja”

Lay sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan keduanya, namun ia tahu satu hal bahwa Taeyeon menganggap lelaki asing dihadapannya itu lebih dari seorang teman.

==

Orangtua Taeyeon sudah mempersiapkan segalanya. Mereka merancang untuk pengumuman tanggal resmi pertunangan antara Taeyeon dan Lay. Sebenarnya itu adalah tujuan utama keluarga tersebut. Tampaknya baik Lay atau pun Taeyeon sama sekali belum mengetahui tetang masalah ini.

“Taeyeon –a, nanti kamu bisa memainkan piano seperti biasa kan?”

“Ne, eomma”

Kali ini Taeyeon mengenakan gaun berwarna putih panjang yang sampai menutupi mata kakinya. Sementara itu pembawa acara tersebut mulai beraksi dengan tenang. Hingga tiba waktunya bagi Taeyeon untuk berada diatas panggung kecil tersebut dengan pianonya. Ia melangkahkan kakinya dengan perlahan sambil menatap kesekelilingnya. Berharap bisa menemukan Kyungsoo disana. Sementara itu Lay menatap Taeyeon dengan kagum.

Taeyeon memainkan pianonya dengan sangat baik dan lembut. Orang – orang disekitarnya, yang tidak lain adalah keluarga besarnya memberikan tepuk tangan dan pujian kepadanya. Taeyeon tersenyum dengan lembut, ibu –nya mengawasinya dari kejauahan. Ia ditadirkan lahir sebagai seorang putri yang sempurna dan dicintai tidak boleh ada celah sedikitpun pada dirinya, hanya itu yang ia tahu.

Taeyeon menuruni tiap anak tangga panggung itu dengan perlahan. Ia berharap kehidupannya akan lebih baik dengan semua ini. Ia akan mengikuti permainan keluarga besarnya itu tidak peduli sesakit apapun perasaannya dan sebesar apapun pengorbanannya. Ia hanya ingin hidup dalam ketenangan dan tanpa masalah.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia membuka pintu itu dan menatap keluar dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya yang indah. Air hujan yang jatuh ke bumi itu seolah menggambarkan air matanya dengan kesedihan dan tekanan yang seolah tak berujung dalam hidupnya.

“Noona…”

Seseorang memanggilnya dengan lembut dan membuatnya menoleh kebelakang dengan cepat. Ia memandangi seorang lelaki asing dengan topeng disana. Taeyeon sama sekali tidak bisa menebak siapa orang dibalik topeng itu sampai lelaki itu membukanya dan tersenyum.

“Aku datang menjemput sang putri kembali” ucap lelaki itu dengan lembut.

Taeyeon tidak bisa menutupi perasaannya lagi. Air matanya jatuh. Ia berusaha tenang namun tidak bisa. Ia bisa saja menjelma rapuh kapan saja namun hanya didepan lelaki itu. Hanya lelaki itu yang mengerti dan tahu seberapa rapuh perasaannya. Hanya dia.

==

Kris dan Luhan sudah rapi dengan pakaian mereka, begitu juga dengan Jessica yang masih merasa kebingungan tentang apa yang terjadi padanya. Bagaimana bisa ia semalaman bersama kedua lelaki aneh itu?

“Kalian tidak ingin menjelaskan apa – apa pada ku?”, tanya Jessica kesal.

Kris tersenyum kecil lalu duduk disamping Jessica dan menatap gadis itu dalam – dalam. Sementara itu Luhan berdiri menatap keduanya dengan bimbang. Sebenarnya bohong jika ia tidak cemburu dengan Kris dan Jessica hanya saja komitmen antara dirinya dan Kris telah mengikatnya sampai sejauh ini.

“Sekarang kau adalah milik ku dan Luhan”

“Maksudnya?”

Kris tersenyum penuh arti lalu meletakkan telapak tangannya diperut rata Jessica kemudian Jessica membuka matanya lebar – lebar.

“Mungkin anak kita bertiga sedang berusaha tumbuh disini”, ucap Kris pelan.

Luhan meikutan terkejut dengan ucapan Kris. Kris sendiri langsung berdiri dan meninggalkan Jessica yang masih mematung. Kris menarik Luhan keluar kamar tersebut. Sedangkan Luhan seperti sedang berusaha mengajukan protes.

“Kenapa membuatnya takut? Kita kan tidak melakukan apa – apa?”, desis Luhan kesal.

“Tidak apa kan? Setidaknya sekarang ia punya alasan untuk tidak mematuhi keinginan keluarganya untuk melakukan perjodohan bodoh lainnya”

“Tapi mana mungkin noona percaya?”

“Dia akan percaya, bukankah semalam kita telah meninggalkan ‘jejak’ hump?”

“Kadang kau terlalu menyeramkan, Kris Wu”

Kris tertawa mendengar ucapan Luhan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dsisi lain Jessica masih berusaha mengingat apa yang terjadi semalam namun gagal. Setidaknya ia bisa merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhnya.

“Mereka itu… argh!! Menyebalkan!!”

==

Tiffany berdiri didepan pintu apartemen Kai dengan penyamarannya yang bisa dibilang sempurna. Ia sudah setengah jam berada disana tanpa melakukan apapun. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menekan bel yang ada disana.

Pintu itu terbuka dan membuat Tiffany sedikit melonjak serta mundur beberapa langkah. Kai keluar dengan hanya sebuah handuk yang menutupi bagian bawahnya dan dengan rambut yang masih basah.

“Siapa? Mau apa?”, tanya Kai tanpa basa – basi. Moodnya sedang buruk.

Tiffany memejamkan matanya dan mematung ditempatnya. Kai melirik kekiri dan kanan. Sepi. Ia memtuskan untuk menarik gadis asing itu agar sedikit mendekat. Dan kembali mengulang pertanyaan namun sama sekali tidak ada jawaban. Kai mulai jengkel dan memutuskan untuk kembali menutup pintu apartemennya.

“Tunggu!”

Kai langsung berhenti dan kembali mengamati gadis itu. Lagi – lagi gadis itu membisu. Namun ada satu hal yang menarik perhatiannya. Gadis itu penuh dengan brand mahal. Ia menyadari sesuatu ketika melihat high heels yang dipakai olehnya.

“Tiffany noona?”

“Kai…”

Dengan segera Kai menarik Tiffany masuk lalu mengunci pintu apartemennya dengan cepat. Tiffany merasa sedikit kesakitan karena tangannya ditarik dengan cukup kuat. Kai langsung melepaskan syal yang menutupi separuh wajah gadis itu dan juga kacamatanya.

“Noona? Kau gila mengunjungi ku sepagi ini? Bagaimana kalau…”

“Mian…”

Suara lemah Tiffany membuat Kai menghentikan kata – katanya. Kai sedikit heran karena sejak tadi Tiffany hanya menunduk dan sama sekali tidak menatapnya. Ia menyadari kondisinya ketika Tiffany mengulurkan syalnya.

“Sorry!”

Kai langsung melesat pergi kekamarnya untuk segera memakai pakaian santainya yang ada. Tiffany menarik nafas lega lalu mengamati sekelilingnya dan memutuskan untuk duduk disofa yang tersedia disana.

.. TBC

Maaf karena tiba – tiba menghilang. Semua karena tiba – tiba saja saya sibuk ketika tahun baru dan awal tahun. Lalu sempat terkena banjir~ Jadi maafkan saya karena tidak bisa menepati janji. Dan sampai ketemu lagi dibeberapa part terakhir.

9 comments

  1. @mickeytichoes · January 21, 2013

    kyaaaa…akhir nya dtang jga part 12 aigoo lm bnget thor nglang nya..😦
    omo Tiffany blik lg sm kai?kn kshan canyeol jjur ak lbih ska sma canyeol^^ part 13 jngan lm2 ya thor?

  2. FanyJongIn · January 21, 2013

    Kyaaa seru!!!! Tiffany-Chanyeol-Kai (ketiga biaku) Chanyeol sama Tiffany aja! Eh,,, terserah deh!!!

    Aku baca part Sica,Kris sama Luhan sampe tegang O_O

    Lanjut thor!!!

  3. Kenzha TaeNy · January 21, 2013

    Kya,,, pany galauuu,,,

    lanjut chingu,.

  4. Siwi Sarmita Sari · January 22, 2013

    salam kenal chingu,
    aku reder baru,,,
    awal membaca ff ini sedikit sulit karena castnya banyak,tapi syukurlah,,,alur ceritanya tidak terlalu cepat,aku bisa memahami ceritanya di part 6.
    baru kali ini bisa coment,walau pun terkena banjir tetap semangat ya,,,
    fighting…!

  5. tiffany1995 · January 22, 2013

    wuaahh. thorr.
    ntar apakah happy ending smua.
    sya brharap gto.😀

  6. Andromeda · January 22, 2013

    ditunggu part selanjutnya ya thor..

  7. misskkab · January 23, 2013

    Cuma bisa geleng” kpala ama klakuan na kris haha
    Kirain mah si kai mau ngapain narik si pany ternyata cuma ditanya mau ngapain dteng pagi” ckck

  8. ChocSONELF Yul "Yuri" · April 12, 2013

    ffnya good, ini klo author mau buat ff lain psti jg bgs. Lanjuuut thor!
    tmbh buat ff y… Biar trknal pembuat ff!

  9. Aan's L-hope · November 2, 2014

    Karna part 11 nya kena PW jadi aku lngsung baca part12… Knpa Fanny menemui Kai lagi apa ia gak tau nanti perasaan chanyeol seperti apa (Kecewa/Cemburu).. seohyun pasti d’bwa kabur sehun… Makin so sweet ajah🙂

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s