The Power of Love (Chapter 1)

tl

author: Kim Key94 (Keyindra)

Genre: Romance, Angst, Sad, Mariage life

Cast:              

Kim Yesung ‘Super Junior’

Jessica Jung ‘SNSD’

Kwon Yuri ‘SNSD’

Choi Minho ‘Shinee’

 

Lenght: chapter Series

Rating: PG 16

 

Annyeong…aku author baru di blog ini. makasih admin yang udah meng-invite aku bwt jadi author tetap.

Kali ini couple adalah YESICAYUL.  Ini FF tercipta gara-gara lihat Yesung milih Jessica di MV-nya I GOT A BOY. Juga gara-gara rambut Yesung yang berubah menjadi hitam kembali..hehehehee….

FF ini tercipta dan terinspirasi dari salah satu author SMTOWNFANFICTION so bwt yang pernah baca ga usah jeran jika ceritanya agak mirip..#bukan plagiat.

Btw silakan comment and RCL-nya.

#untuk Stay With One Love-nya..aku bingung mau nglajutinnya. ..#digeplak reader..

#trus yang My Love Loveliest..aku bakalan publish mungkin awal febuari. Mengingat utang FF-ku yang bejibun..

Selamat membaca….

#mian Typo berserakan dimana – mana

#don’t Bashing couple!.

@@@@@

 

Kau yang memilihku, Kau Juga yang menyakitiku “Jessica Jung”

Hanya satu kata yang dapat kuucapkan ‘maaf’ telah menyakitimu “Kim Jongwoon”

Kesalahan terbesar yang pernah kulakukan adalah mencintaimu, hingga yang kulakukan adalah menyakitimu “Kwon Yuri”

 

Jongwoon tersenyum penuh bahagia taat kala sesosok yeoja yang mengenakan gaun putih berhiaskan kristal  berjalan menuju altar gereja tempatnya berdiri sekarang. Yeoja itu pun tak kalah menyunggingkan senyuman terindahnya saat sang ayah tercinta mendampinginya, ketika berjalan perlahan mendekati sang namja yang kini dicintainya dan sebentar lagi akan menyandang status baru menjadi istri sah-nya.

“Kim Jongwoon apa kau bersedia menerima Jung Sooyeon sebagai istri baik dalam keadaan senang, sedih atau pun susah hingga ajal memisahkan  kalian.”

Suara sang pendeta itu bergema di sebuah gereja beraksitektur klasik. Sepasang mempelai telah berada di hadapannya untuk mengucapkan janji suci mereka.

“ne. Saya bersedia.” Jawab Jongwoon lantang.

“dan kau Jung Sooyeon. Apakah kau mau menerima Kim Jongwoon sebagai suami baik dalam keadaan senang, sedih atau pun susah hingga ajal memisahkan  kalian.”

Pendeta itu mengulangi lagi pertanyaannya yang kali ini ditujukan untuk sang mempelai wanita.

“ne..saya bersedia.” Ucap sang mempelai wanita dengan suara yang terdengar parau namun ditutupi oleh rasa senang yang ada dalam benaknya hingga ia kini tak terlihat sebagai yeoja yang tengah menderita suatu penyakit.

“Dengan ini kunyatakan kalian sebagai sepasang suami istri. Kim Jongwoon sekarang kau boleh mencium mempelai wanitamu.” Ujar sang pendeta.

Dengan perlahan Jongwoon membuka keranda yang kini menutupi wajah yeoja yang sangat dicintainya. Jessica. Ia kecup lembut bibir tipis milik Jessica yang kini resmi menyandang status sebagai istrinya itu.

Lama tak berselang setelahnya, Jongwoon dan Jessica bertemu pandang dan saling tersenyum satu sama lain. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari terindah yang sudah dinantikannya.

“saranghae, Jessica Jung.” Lirih Jongwoon.

“nado.” Balas Jessica.

@#@#@#@#

Semua tamu undangan kini telah pergi meninggalkan gereja tempat mereka berdua mengucap janji suci, tapi tidak untuk Jongwoon dan Jessica. Mereka berdua masih tetap duduk dan berdo’a agar kebahagian mereka berdua abadi selamanya.

“Chagi, kajja kita pulang!. Kau sangat lelah hari ini.” ajak Jongwoon yang menoleh dan memperhatikan sang istri yang tengah memanjatkan do’a dengan mata yang masih terpejam.

“oppa. semoga Tuhan memberi kebahagian ini menjadi kebahagiaan untuk selamanya.” Lirih Sica.

“amin..semoga saja.”

“oppa. bolehkan aku meminta sebuah permintaan.” Panggil Jessica kembali.

“tentu saja.”

“aku ingin oppa membawaku ketempat dimana kenangan diantara kita terjadi, dihari bahagia kita. Aku mohon.” Pinta Jessica lembut, lemah lebih tepatnya.

“tapi keadaanmu tak memungkinkan seperti ini.”

“hari ini Tuhan kembali memberiku sebuah mukjizat-nya. Aku bisa berjalan dan bersanding dengan Namja yang aku cintai selama ini.” lirih Jessica kembali sambil tersenyum.

“aku mohon oppa. Jeball.” Pinta Jessica kembali, yang akhirnya mau tak mau Jongwoon pun menyetujui permintaan itu.

Mungkin kami akan sampai disana sekitar siang menjelang sore. Baiklah tak ada salahnya bukan!. Pikir Jongwoon.

Namun baru beberapa langkah Jessica kembali tak dapat menopang tubuhnya. Ia terjatuh begitu saja.

Bruukk…

“omona!. Sica..” pekik Jongwoon yang melihat Jessica kini tengah terjatuh. Segera ia membantu Jessica berdiri kembali.

“gwenchana oppa. aku masih kuat dan bisa untuk berjalan.”

Sepanjang perjalanan yang dilakukan Jessica hanya tertidur. Wajah cantiknya saat tertidur tampak begitu pucat. Jongwoon pun tak tega melihat raut wajah Jessica yang seperti itu.

“Sica..kau baik-baik saja bukan?. Tenanglah, kita akan sampai ditempat terindah untuk kita berdua.”

 

Beberapa saat kemudian…

“Sica..chagi..kita sudah sampai ditempat ini. bangunlah sayang.” Jongwoon menepuk pelan pipi Jessica mencoba membangunkannya.

“oppa..”

“lihatlah!. Kau tak ingin melihat matahari terbenam dipantai yang menjadi saksi cinta kita?. Kajja kita turun.” Ajak Jongwoon tersenyum senang. Jessica pun mengangguk pelan.

“tunggu sebentar. Kau masih lemah, jangan berjalan dulu.” Larang Jongwoon. Jongwoon pun segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Jessica.

“oppa..tapi..”

“naiklah kepunggungku. Kajja..apa kau tak mau melihat sunset seindah ini.”

Jongwoon berjalan pelan sembari menggendong Jessica. Ia tak mau yeoja-nya sakit kembali, ia hanya ingin melihat Jessica tersenyum bahagia dan melupakan segala macam penyakit yang dideritanya. Meskipun hanya untuk sementara.

“mianhaeyo, aku merepotkanmu lagi. Aku tak pernah membuatmu bahagia, tapi aku justru terus-terusan menyusahkanmu dan membuatmu lelah akan kehadiranku. Mianhae.”

“aniyo, chagi. Aku bahagia bersanding denganmu, aku bahagia bisa menikahimu. Lagi pula bukan hal sulit untuk menggendongmu. Satu-satunya sumber kebahagiaanku adalah bersamamu dan hidup berdampingan denganmu. Cukup hanya itu. Aku tak pernah menyesal jika telah mencintaimu.

Setelah berjalan untuk sekian menit akhirnya mereka berdua tiba ditepi pantai yang menyuguhkan pemandangan pantai yang indah. Deburan ombak tak terlalu tinggi saat sore menjelang malam. Jongwoon menurunkan Jessica untuk duduk dan Jongwoon pun menempatkan posisinya disamping Jessica.

Sejauh mata memandang, hanya laut biru yang mereka lihat, laut yang sangat indah dengan langit yang mulai memerah. Jongwoon duduk disamping istrinya. Secara spontan, Jessica mulai menyandarkan kepalanya di bahu Jongwoon.

“oppa..Jongwoon oppa. kau tahu, aku sangat menyukai posisi seperti ini. Aku bisa bersandar pada orang yang kucintai. Kau tahu oppa hidupku terasa begitu lengkap saat kau hadir dan memberikan warna bagiku. Itu artinya oppa adalah sandaran hidup dan hatiku, aku percaya jika aku bisa menyandarkan hidupku pada oppa.”

Seulas senyum tulus tersungging dari raut muka Jongwoon, bibirnya terangkat keatas dan membentuk sebuah lengkungan senyuman manis karena bahagia atas hidupnya kini. “gowawo, kau sudah mencintaiku dan mempercayaiku chagi.”

“jeongmal gomawoyo oppa. Karena oppa sudah membuatku sadar akan satu hal. Jika kau selalu ada dan menemaniku saat aku membutuhkan. Dan sekali lagi terima kasih banyak karena kau sudah bersedia menerima dan mencintai yeoja berpenyakitan sepertiku.” Lirih Jessica.

Jongwoon terdiam untuk beberapa saat, ia bingung dengan kata-kata apa yang akan ia keluarkan. Ia terlalu mencintai Jessica. Bahagia atau sedihkah?. Sungguh rasa itu berbeda tipis. Dilema diantara kebahagiaan sesaat yang ia rasakan atau kesedihan mendalam yang akan ia dapatkan, mungkin untuk selamanya.

“jika suatu hari nanti aku diizinkan Tuhan untuk memiliki umur yang panjang. Aku ingin berjalan beriringan menikmati suasana pantai yang indah bersama anak-anak kita dan tentunya dirimu oppa. Kita didik anak-anak kita agar menjadi anak yang bisa membanggakan kita berdua oppa. Oppa mau kan?.”

Sedikit terlonjak kaget akan perkataan Jessica yang begitu saja keluar dari mulutnya. Yang bisa ia lakukan hanya terus menatap lurus kedepan melihat garis cakrawala pantai yang membentang. “kau yeoja yang baik. Tuhan pasti mendengar do’a-mu. Kita pasti akan bisa membesarkan anak kita bersama. Kau tahu umur manusia siapa yang tahu. Aku yakin pasti impian kita akan terwujud.”

“aku lelah oppa. bolehkah aku tidur dibahumu lagi. Aku ingin merasakan dekapan hangat suamiku.”

Kembali Jongwoon tersenyum dan mentap lekat Jessica yang kini hampir memejamkan matanya. “Sica..kau harus berjanji untuk bertahan demi aku. Demi cinta kita. Kau mau kan?.” Pinta Jongwoon.

“aku akan berusaha.” Angguk Jessica lemah lalu kemudian tertidur.

Perasaan itu tak boleh muncul kembali. Apapun yang terjadi Sica adalah yeoja yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Jongwoon takut setengah mati jika Jessica terus menerus mengatakan jika hidupnya tak lama lagi. Tidak, itu tak boleh terjadi. Selamanya Jessica akan ada disampingnya dan menemaninya. Tapi Jongwoon yakin, jikalau istrinya harus pergi, maka bukan saat inilah waktunya.

Setetes air mata tak sengaja turun dari pelupuk mata Jongwoon, ia tak sanggup jika harus kehilangan Jessica. Jongwoon yakin jika Jessica tak akan meninggalkannya hari ini. karena ia masih bisa merasakan hembusan napas Jessica yang tengah menerpa lehernya.

“tidurlah chagi!.” Jongwoon semakin mempererat pelukannya pada Jessica yang nampak kedingainan karena masih menggunakan gaun pernikahan yang menampakan bahu putihnya. Dilepaskannya jas hitam yang membalut tubuhnya dan dipakaikannya pada Jessica.

“Sica..kau tahu. Aku sangat suka posisi seperti ini. Aku bisa mendengar detak jantungmu dan merasakan cinta yang telah kau beri. Saranghaeyo, nan anae.” Dikecupnya singkat kening Jessica lalu digenggamnya erat tangannya agar yeojanya itu merasa aman dan nyaman.

@#@#@#@#

Hari sudah beranjak malam meningalkan senja yang telah berlalu. Dengan perlahan Jongwoon melangkahkan kakinya menuju sebuah apartemen yang kini akan ditinggalinya bersama dengan Jessica. Digendongnnya Jessica daam pelukannya dan berusaha setenang mungkin agar yeojanya itu tak bangun. Setelah tertidur, Jongwoon menutuskan untuk membawa Jessica pulang kerumah. Ia tak mau terjadi apa-apa dengan orang yang dicintainya itu.

“Jongwoon..kalian dariman…?.” tanya sang eomma yang melihat Jessica kini tengah tertidur dalam gendongan Jongwoon.

“sssttt..” belum selesai eomma Jongwoon berucap, Jongwoon sudah terlebih dahulu memotongnya.

“eooma. Biarkan Sica tidur. Ia lelah seharian ini.” ujar Jongwoon berbisik pada sang ibu.

Dengan hati-hati ia rebahkan tubuh Jessica pada ranjang king size miliknya. Jongwoon terduduk ditepi ranjang tepat disamping Jessica dan, memandang lekat wajah cantik yang terpancar dari Jessica.

“harusnya malam ini adalah malam membahagiakan untuk kita, dimana aku bisa menjadikan dirimu milikku seutuhnya.” Desah Jongwoon pelan.

Tanpa sadar Jongwoon mendekatkan wajahnya dan mencium dahinya lembut lalu hidungnhya dan turun menuju bibir Jessica yang tengah tertidur. Ia pikir Jessica dalam keadaan tidur seperti ini pasti tak akan merasakannya.

Omona!. Ia bahkan belum mengganti gaun pernikahannya dengan piyama untuk tidur. Tapi keapa ia masih merasa nyaman saja ketika mengenakannya?. Apakak aku yang harus mengganti bajunya?. STOP Kim Jongwoon, kenapa otakmu mendadak seperti ini. Jongwoon berusaha mencoba mengontrol dirinya dari pergulatan nafsu dan pikiran yang tengah beradu dan menjaga penuh kesadaran dirinya.

“tapi Sica adalah istriku sendiri, mungkin ia tak keberatan jika aku yang menggantikan pakaiannya.” Ucap Jongwoon pada dirinya sendiri.

Dengan perlahan dan tangan gemetar Jongwoon mulai memberanikan diri membuka resleting gaun pengantin Jessica. Tapi sebuah sentuhan tangan dari Jessica berhasil menghentikan gerakan tangannya.

“oppa..” terdengar suara lemah Jessica yang masih setengah sadar .

“ne..ne..Sica?.” jongwoon pun terlihat gugup dan tak bisa berkutik saat tangan Jessica berhasil memegangnya.

“apa yang kau lakukan oppa?.”

“aakkku…aku…hannya…aaakku..” jawab Jongwoon kembali yang masih belum bisa melanjutkannya.

“mianhae oppa. aku tak bisa menjadi istri yang baik untukmu, seharusnya aku bisa melayanimu seperti layaknya sepasang pengantin baru. Tapi…”

“sssttt..” jari telunjuk Jongwoon diletakkan dibibir Jessica yang sukses menghentikan semua kata-kata dari Jessica.

“jangan pernah berkata seperti itu. Aku tak akan pernah mmaksamu melakukannya, jika kau belum siap Sica. Aku menikahmu bukan karena nafsu, tapi karena aku memang mencintaimu.” Tukas Jongwoon lalu mendekap erat Jessica yang kini hampir menangis.

“tapi..seharusnya ini adalah malam pertama yang membahagiakan untuk kita oppa.”

“aku tak peduli, mau malam pertama, kedua, ketiga dan seterusnya pun itu sama saja. jangan terlalu memikirkan tentang hal itu, lagipula keadanmu masih lemah bukan?.”

Tanpa sadar Jessica kembali menangis dan mengeluarkan airmata.  “hey, kenapa menangis lagi. Dengan sigap dan sentuhan lembut Jongwoon menyeka air mata yang keluar itu.

“gomawo oppa. oppa adalah suami terbaik yang kumiliki.”

“tersenyumlah. Aku tak mau melihat istriku sedih dihari sebahagia ini.”

“kajja, kita tidur!. Kau pasti lelah seharian ini.” Jessica pun mengangguk setuju.

Dan untuk pertama kalinya bagi mereka tidur bersama dalam satu ranjang, melewati malam pertama mereka dengan Jessica memeluk tubuh Jongwoon, namja yang ia cintai. Tertidur pulas diatas dada bidang Jongwoon.
“aku tak akan pernah memaksamu melakukan kewajiban layaknya seorang istri, karena memang keadaanmu yang tak memungkinkan. Aku rela jika tak bisa memiliki tubuhmu sedikitpun, asalkan kau ada untuk  menemaniku. Merajut kebahagiaan bersama selamanya. Saranghae….” ujar Jongwoon lirih lalu mengecup kening istrinya seingkat.

@#@#@#@#

Jongwoon meraba-raba tempat tidur disebelahnya dan mencoba menacri dimana istrinya berada. Perlahan mata-nya terbuka secara utuh, ia sadar jika pagi sudah menjelang. Tapi sekarang pikirannya berpusat jika kini Jessica sudah tak berada disisinya. Astaga!. Dimana Sica?.

Dengan langkah cepat dan pikiran yang khawatir, Jongwoon beranjak dari tidurnya dan mencari dimana keberadaan Jessica.

“sica..sica..” teriak Jongwoon mencari istrinya itu namun nihil tak ada didalam kamar ataupun dalam kamar mandi.

Cckklleekkk…pintu kamar pun terbuka menampakkan sosok yang Jongwoon cari.

“oppa..gwenchanayo.” sapa Jessica lembut yang baru memasuki kamar.

“Sica..Jessica.” pekik Jongwoon.

Spontan Jongwoon mendekat kearah Jessica yang tengah berdiri dan memeluknya erat. “Sica, kau pergi kemana saja. Kau tahu aku begitu mengkhawatirkanmu dan takut jika kehilangan dirimu.”

“oppa..jangan seperti ini!. aku bukan anak kecil lagi, dan juga masih disini. Aku sedang didapur menemani bibi Nam yang sedang menyiapkan sarapan.”

“tap..tapi..kenapa kau begitu terlihat..”

“pagi ini sekali lagi Tuhan memberikan keringanan atas cobaan yang telah diberikannya, hingga aku bisa bangun dalam keadaan segar dan seperti yang kau lihat.” Jawab Jessica santai sembari meletakkan teh diatas nakas meja kamar mereka berdua. Sementara Jongwoon terenyuh mendengar pernyataan Jessica kembali.

“sica…”

“oppa..lepass. Cepatlah mandi baru setelah itu kau boleh memelukku sepuasnya.” Ujar Jessica yang mencoba mengerucutkan bibirnya,

Jessica melangkan pelan kearah lemari berwarna white milk itu dan mengambil satu stel pakaian untuk dipakai oleh Jongwoon.

“baikalah aku akan segera mandi.” Ucap Jongwoon patuh lalu berjalan menuju kamar mandi.

@#@#@#@#

 “oppa..apa pagi ini oppa tak pergi kekantor?.” Tanya Jessica pelan sambil mengoleskan selai pada roti untuk diberikan pada Jongwoon.

“anii..pekerjaan bisa tunda kapanpun. Untuk hari ini aku ingin seharian penuh bersama istriku tercinta, melanjutkan kebahagiaan kita setelah menikah. Jika pun aku bekerja, maka akan kukerjakan dirumah.”

“makanlah oppa.” ujar Jessica sembari menyerahkan roti tersebut pada Jongwoon.

“gomawo chagi.”

Jessica kembali tersenyum menatap wajah suaminya itu, ia menatap lekat wajah tampan Jongwoon yang sedang mengunyah roti, terpancar jelas kebahagiaan yang kini tengah menghinggapinya. Sungguh sanagt tampan.

Merasa diamati oleh sepasang mata, Jongwoon mengalihkan pandangannya pada Jessica. “wae?.” tanyanya pada Jessica yang serius mengamati wajahnya.

“anii.. sepertinya oppa terlihat lelah.”

“memang iya!. Tapi meskipun lelah dimatamu aku tetap tampan kan?.” Seloroh Jongwoon bercanda mencoba mencairkan suasana.

“tentu saja kau tampan. Kau adalah namja tertampan yang pernah ada.”

“mwo?.” Pekik Jongwoon tak percaya. Semasa menjalin kasih dengnnya pun Jessica bahkan tak pernah mengatai dirinya tampan.

“aniii…lupakan saja oppa.” seketika itu wajah Jessica pun menjadi bersemu merah akibat perkataan yang dikatakannya.

“Sica..apa kau serius tak ingin melanjutkan study-mu. Bukankah kau ingin melanjutkan study-mu jurusan desain grafis?. Jika kau mau, aku akan dengan senang hati membiayaimu.” Ujar Jongwoon.

“anii..oppa. Sebenarnya aku ingin melanjutkan study-ku. Namun, mau bagaimana lagi oppa. keadaanku sendiri tak memungkinkan untuk mendukung pendidikanku. Aku sudah memikirkan baik-baik untuk berhenti kuliah dan fokus mengurus oppa. tapi aku masih punya impian, suatu hari nanti aku ingin membangun sebuah sanggar seni lukis untuk anak-anak kurang mampu yang berbakat dan menjadikan mereka layaknya orang yang berkarya.”

Jongwoon terdiam mendengar semua yang terlontar dari mulut Jessica. Meskipun dalam kondisi sakit pun ia masih bisa memikirkan nasib orang lain. Ia mengerti betul jika Jessica sangat menderita karena berbagai penyakit yang dideritanya. Seandainya bisa ia rela menggantikan posisi Jessica yang sedang sakit.

@#@#@#@#

Jessica terduduk santai dibalkon apartemen-nya. sedari tadi matanya masih berfokus pada sebuah kanvas putih yang kini tengah ia warnai untuk menghasilkan karya yang memiliki arti. Wajah cantik-nya tak ia hiraukan meski terkena cipratan-cipratan cat warna yang bercampur.

Ia menghela napas panjang dan menghembuskan-nya. Akhirnya satu karya lagi dari tangannya telah tercipta. Ia tersenyum seketika saat melihat lukisan buatannya kini telah menjadi sebuah object pelampiasan imaginasinya.

Greb…sebuah lengan dari seorang laki-laki kini memeluk lehernya pelan. Seperti biasa Jessica sudah pasti tahu siapa yang kini memeluknya.

“kau melukis pemandangan kota Seoul saat sore hari?.” Tebak Jongwoon menerka. Dan Jessica pun tersenyum manis mengangguk pelan mengiyakan.

“chagi, apa kau tak bosan berkutat dengan warna-warna itu dan kanvas-kanvasmu?.” Rengek Jongwoon mencoba bermanja pada Jessica.

“lalu apa kau tak bosan juga selalu berkencan dengan laptop kekasihmu itu?.” Balas Jessica yang diiringi sedikit candaan.

“sudah..waktunya masuk dan meninggalkan semua-nya. Ini sudah malam, waktunya untuk tidur nyonya Kim.”

“tapi oppa, sekarang masih jam 7 malam, dan inipun masih sore.”

“tapi aku mengantuk!. Aku ingin kau menemani tidurku mlam ini.”

“arraseo..” pasrah Jessica yang menyetujuinya. Kemudian Jongwoon pun menggandeng tangan Jessica menuju ranjang tempat tidurnya.

“mendekatlah.” Seru Jongwoon. Jessica pun mendekatkan tubuhnya pada Jongwoon.

“aku lelah chagi. Aku ingin tidur memelukmu kembali. Rasanya aku tak ingin berpisah darimu, meski hanya sedetik.”

Jessica pun mengangguk menyetujuinya. Jongwoon segera menariknya dalam pelukan dan mulai sedikit demi sedikit memejamkan matanya. Merasakan hangat saat mendekap sang istri.

@#@#@#@#

2 bulan kemudian…

 

Hari ini merupakan salah satu hari terbahagia Jongwoon setelah hari pernikahannya dengan Jessica 2 bulan lalu. Ia rasa hidupnya semakin lengkap saat ia bisa mendapatkan yeoja yang sangat ia cintai serta sebuah hadiah lagi. Pengalihan direktur utama Kim Coorperation dari sang appa untuk dirinya.

Jongwoon dan Jessica pun bergandengan tangan penuh rasa bahagia. Sepasang pengantin baru ini berjalan beriringan memasuki area gedung tempat diadakannya acara tersebut.

“Chukkae..Kim Jongwoon akhirnya kau bisa menjadi penerus perusahaan milik appa. Semoga kau bisa memajukkannya lebih baik dari pada appa.”

“gomawo appa. Ini semua berkat bantuan dan dukungan dari Sica. Jika tak ada dia, aku tak mungkin seperti ini.”

“menantuku memang hebat bisa menaklukan hatimu.” Ujar sang appa menggoda, sementara Jessca hanya bisa menundukkan kepalan menyembunyikan semburat merah wajahnya.

“Jongwoon, Jessica kemarilah. Kenalkan ini rekan bisnis appa. Tuan dan Nyonya Lee.” Panggil appa.

“bangapseumnida.” Jawab Jessica sambil membungkukkan badan dengan sopan.

“chukkaeyo atas pernikahan kalian berdua. Mianhae, waktu itu ahjussi tak dapat menghadiri pernikahan kalian. Bukankah ini sudah bulan kedua kalian menikah?. Jadi bagaimana apa kalian sudah memberi cucu untuk appamu Jongwoon?. Hahaa…” canda Tuan Lee. Candaan itu pun ditanggapi tertawa oleh Jongwoon tapi tidak untuk Jessica.

Wajah Jessica berubah menjadi lemas menanggapi pernyataan tersebut. Ia rasa dirinya kini tak beguna jika bersanding dengn Jongwoon.

“kau ini!. biarkan mereka berdua menikmati masa-masa indah rasanya menjadi penganti baru tanpa memikirkn anak dulu. Mereka berdua pun masih tergolong muda untuk memikirkan hal tentang anak.” canda appa menanggai.

“mianhae. Tuan, Nyonya, appa. Aku permisi dulu ke toilet.” Pamit Jessica.

Dengan langkah sedikit dipercepat Jessica memasuki toilet dan masuk kedalamnya. Perlahan air matanya mulai keluar dengan sendirinya. Entahlah mengapa ia tiba-tiba ingin menangis, ia merasa dirinya tak beguna menjadi istri dari seorang Kim Jongwoon.

Jessica manatap pantulan dirinya dari cermin besar yang ada ditoilet. Miris sekali. Apakah ia sudah membahagiakan Jongwoon. Jongwoon terlalu baik untuk dirinya. Diusapnya kembali air mata yang sudah turun tersebut dan mencoba tersenyum dihadapan Jongwoon seolah-olah tak terjadi apa-apa dan segera keluar.

Tepat didepan toliet, Jessica tiba-tiba saja dikagetkan oleh kemunculan Jongwoon yang mendadak pula. “Sica. Gwenchana?.” Tanya Jongwoon hati-hati.

“ah, ne. Gwenchana. Aku hanya sedikit pusing.” Tiba-tiba saja Jessica kembali merasakan pusing dan tagannya pun mencoba memegang pintu toilet untuk bersandar.

“pusing?. Kajja kita pulang. Kau tampak pucat kembali.”

“anii..aku masih kuat. Bukankah kau masih ada acara, akan aku temani hingga kau selesai.” Tangan Jessica pun spontan menahan Jongwoon untuk menggandenganya.

“sudahlah tak usah dipaksakan. Acara ini hanya peresmian saja. sekarang yang lebih penting adalah kesehatanmu. Kajja kita pulang, dan kau harus meminum obatmu.” Perintah Jongwoon.

“Sica..kau sedang tak memikirkan perkataan rekan bisnis appa kan?.”

“eeeemmm..aahh..itu..tentu tidak. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”

Semoga ucapannya itu benar. Batin Jongwoon.

@#@#@#@#

Saat ini tepatnya dipagi hari yang cukup indah ini. Jessica dengan telaten mengancingkan kemeja Jongwoon serta memakaikannya dasi. Hari ini untuk pertama kalinya Jongwoon duduk dikursi perusahaan sebagai direktur utama.

“kau sangat tampan oppa. saat akau memimpin perusahaan.”

“jadi biasanya aku tak tampan begitu?.” Goda Jongwoon.

“pejamkan matamu oppa. aku punya sebuah kejutan untukmu.” Perintah Jessica. Jongwoon pun hanya pasrah meenuhinya.

~CHU…sebuah kecupan singkat berhasil mendarat dari Jessca untuk Jongwoon di bibirya. “morning Kiss untuk hari baru oppa.”

Jongwoon tersenyum kecil menanggapinya lalu mengacak pelan rambut panjang Jessica. “Gomawo chagi.”

“kajja kita sarapan. Dan jangan lupa kau harus minum obat pagi ini!.”

Beberapa menit kemudian…

“aigoo, Sica..kau ini masih seperti anak kecil saja.” Ujar Jongwoon yang mengambil tissue untuk mengelap bibir Jessica yang bebrbekas susu coklat.”

Dengan cekatan Jongwoon mengelap bibir istrinya dan melirik Jessica yang duduk dihadapannya.

“nah sudah selesai. Hari ini kau harus menyemangatiku sebagai pempinan perusahan baru agar rapat bisa berjalan dengan lancar.”

“Tentu oppa, semuanya terbaik untukmu oppa. sudah oppa!. waktunya berangkat bekerja. Tuan kim.” Ujar Jessica menyemangati.

“tunggu dulu aku harus memastikan kau harus minum obat dulu baru aku mau berangkat kerja.”

“aisshh..oppa. aku bukan anak kecil lagi. Pasti aku akan meminum obat-ku kembali. Sudah cepat berangkat!.” Perintah Jessica sekali lagi.

Dengan cepat Jongwoon berjalan mengambil 9 macam jenis tablet obat yang disodorkan untuk Jessica.

“oppa. aku bisa meminumnya sendiri.”

“sudah, sekarang cepat minum obatmu. Lagi pula aku tak mau jika kau sakit.” Ujar Jongwoon menyodorkan tablet-tablet obat tersebut pada Jessica.

“gomawo. Oppa.” balas Jessica tulus.

Sebenarnya Jongwoon menahan pilu yang kini menggerogoti tubuhnya ketika melihat sang istri tiada hari tanpa meminum obat. Seolah-olah obat adalah suatu zat yang bisa memperpanjang umurnya. Ia tak ingin melihat keadaan Jessica seperti ini, tapi semua sudah digariskan Tuhan. ini yang terbaik untuknya.

@#@#@#@#

@Kim Coorperation 13.00 KST Time.

 

Langkah demi langkah ia susuri dengan perassan bahagia. Ia menatap kagum gedung perusahaan milik suaminya itu. Jessica menerawang keatas tempat-nya ia turun dari mobil yang dikendarai oleh sopir Jongwoon. Sungguh besar dan luas tempat bekerja suaminya.

Dengan langkah gontai dan membawa sebuah kotak belak makan siang yang dibawanya. Jessica berjalan menyusuri kantor perusahaan Jongwoon. Ia ingin sekali memberi kejutan bagi suaminya itu karena berjanji akan menyemangatinya.

Entah semenjak turun dari lift yang menaiki lantai paling atas untuk menemui suaminya. Jessica tiba- tiba saja merasakan pusing kembali dan sesak napas.  Jessica terduduk sebentar dan mencoba mengistirahatkan badannya. Mungkin benar apa yang dikatan oleh Yunho appa, jika ia lebih baik berhenti kuliah saja karena kondisi badannya tak kuat hanya sekedar untuk kuliah.

Samar-samar ia mendengar beberapa orang yeoja tengah membicarakan suaminya.

“omona!. Kau lihat tadi saat Kim sajangmin melakukan presentasi?. Sungguh aku melihatnya sangat tampan dengan kacamata yang dikenakannya. Dan sikap dinginnya membuatku tak berkonsentrasi saat mendengarkan rapat tadi.” Ujar salah seorang yeoja yang bergaya berlebihan. Sementara Jessica hanya tersenyum mendengarnya karena Jongwoon suaminya  bisa dielu-elukan oleh penghuni kantor.

“gurae?. Aku jadi semakin menyukainya saja. Mungkin saja aku bisa mendapatkan hatinya.” Ujar yeoja yang lain itu dengan percaya diri.

“kau tahu?!. Bahkan sebelum kau bekerja disini. Aku sudah terlebih dahulu meyukai Kim sajangmin. Berarti kau harus bersaing denganku untuk mendapatkan hati dari Kim Sajangmin.”

“Hey kalian!!…jangan percaya diri dahulu kau tahu jika Kim Jongwoon sajangmin telah menikah dan memiliki seorang istri?.”

“mwo?. Menikah?. Jinja?.” Koor ketiga yeoja tersebut.

“yaps..sajangmin Kim menikah tepatnya 2 bulan yang lalu dengan seorang gadis..”

“pasti gadis tersebut adalah gadis kaya yang cantik.” Ujar salah satu yeoja yang tampak kelihatan kecewa.

“kau jangan memotong omonganku dahulu. Sajangmin Kim ternyata menikahi yeoja berpenyakitan. Katanya yeoja itu sakit keras dan sebentar lagi akan mati.” Lancang yeoja bermulut pedas tersebut.

“kau jangan berbicara asal nona?.  Mana mungkin sajangmin Kim mau dengan yeoja yang berpenyakitan?. Mengurus dirinya saja tak bisa apalagi mengirus sajangmin.”

“aku baru saja mengetahuinya setelah aku menghadiri acara penyerahan jabatan oleh direktur besar Kim.”

“kasihan sekali hidup sajangmin Kim. Menikahi yeoja yang berpenyakitan. Pasti ia tak bisa mengurus sajangmin Kim tetapi malah merepotkan hidup Kim Jongwoon. Aku yakin jika yeoja berpenyakitan itu pasti tak bisa memberinya anak untuk sajangmin Kim dan keluarganya. Mengurus hidupnya saja tak bisa apalagi mengurus suami dan anak-anaknya.”

Jessica merasakan sesak yang luar biasa tapi bukan sesak akan penyakitnya melainkan atas semua kebenaran perkataan yeoja yang sedang ada dihadapannya kini. Ia terus berpikir. Apa mungkin perasaan yang dirasakan oleh Jongwoon sama dengan yeoja-yeoja yang tadi katakan. Jujur ia tak kuat.  Ingin rasanya ia menangis dan berteriak sekuat-kuatnya, namun apa daya ia tak mau membuat Jongwoon semakin khawatir dengan keadaannya.

Tanpa sengaja air mata –nya kembali turun. Namun dengan segera ia usap air mata itu.

Dengan langkah berhati- hati Jessica melangkahkan kakinya menghampiri ke 4 yeoja tersebut dan menyapanya. “annyeong.. mianhae..bolehkah aku bertanya?. Dimana ruangan Kim sajangmin?.” Tanya Jessica pelan.

“memang anda ini siapa?. kenapa tak memakai tanda pengenal tamu jika sebagai tamu?. Apalagi ingin menemui sajangmin Kim?.” Sinis salah satu yeoja tersebut menatap Jessica.

“beliau sedang rapat dan tak ingin diganggu.” Sanggah yeoja yang satunya lagi sedikit ketus.

“mianhae..kalau begitu lebih baika aku pulang saja.” pasrah Jessica.

Jessica kini berbalik arah dan berniat untuk pulang. Apa gunanya ia berada disini jika sang suami tak ingin diganggu. Tapi kemudian sebuah suara berhasil mengurungkan Jessica untuk pulang.

“nyonya Kim!.” Panggil sekretaris Jongwoon yang bernama Lee Jinki itu.

“ah..ne.” balas Jessica lembut dan sopan.

“apa anda mencari sajangmin Kim. Beliau sedang ada didalam dan sebentar lagi akan keluar setelah membereskan berkas-berkasnya. Apa anda mau menunggunya sebentar?.” Tawar sekretaris Lee tersebut.

“gomawo. Jinki-sshi.”

Sementara 3 yeoja tersebut menatap tak percaya jika yang baru saja bertanya pada mereka adalah istri dari direktur-nya tersebut. “dan kalian ber 4 harus mempertanggung jawabkan omongan kalian, jika kalian masih ingin bekerja disini.” Tukas Sekretaris Lee tajam.

“Sica..” panggil Jongwoon yang baru saja keluar dari ruangan.

“oppa.. kubawakan kau makan siang. Pasti kau belum makan siang kan?.”

“kau memang mengertiku.”

Jongwoon oppa adalah suamiku. Aku berjanji akan menjadi itri yang baik dan tak merepotkannya. Batin Jessica.

@#@#@#@#

Jam menunjukkan pukul 9 malam tak biasanya Jongwoon tertidur pada jam-jam seperti ini.  Jessica menatap lekat Jongwoon saat tertidur. Ia harus bisa untuk menjadi istri dan pendamping yang bisa membahagiakan Jongwoon. Saat tertidur Jongwoon dapat merasakan ada yang membelai lebut wajahnya, spontan Jongwoon pun terbangun dari tidurnya.

“Sica..?.”

“oppa..” Jessica tampak terkaget saat Jongwoon tiba-tiba mendapati Jessica sedang dalam posisi yang tak menguntungkan untuknya.

“kenapa melihatku seperti intu sayang?.” Jongwoon bingung sendriri dan bangkit adari posisi tidurnya, bersandar di tumpukan bantal pada dashbor ranjang.

“ak..aku..aku..hanya bahagia bisa melihat wajah oppa yang tertidur seperti ini.” jawab Jessica gugup.

“kau ini bisa-bisa saja. bukankah setiap hari kau bisa melihat wajah tampan suamimu ini?.” canda Jongwoon tertawa kecil.

“oppa. Aku sudah berpikir tentang semua ini secara rasional. Ehhmmm…”

“mengenai apa chagi?.”

“selama pernikahan yang kita jalani apa kau selalu merepotkanmu?. Dan apakah aku sudah membahagiakanmu?.”

“hey. Kau mengapa berbicara seperti ini?. Asal kau tahu saja aku bahagia, bahkan sangat bahagia bis menikahimu.”

“tapi aku belum pernah membahagiakanmu dan memberikan apapun untukmu.”

“cukup cinta yang tulus dari hatimu. Itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri darimu untukku.”

“mianhae aku mnegecewakanmu. Aku yeoja lemah, bagaimana jika aku tak bisa memberikan anak untukmu serta cucu untuk appa dan eomma.” Tangis Jessica mulai pecah, hanya penyesalan yang kini datang kepadanya.

“uljima. Sudahlah jangan menangis  lagi. Kita masih muda kau 20 tahun dan aku 24 tahun dan bahkan kita baru saja menikah. Jangan pikirkan itu sekarang ya?.” Hibur Jongwoon yang mencoba menenagkan Jessica.

“tapi..tapi..setidaknya sebelum aku pergi aku bisa memberikanmu sesuatu untukmu jika Tuhan tak memberikanku waktu yang panjang lagi.”

spontan Jongwoon pun terdiam, tak dapat berucap atas penjelasan Jessica baru saja. “sebenarnya apa yang dipikirkan Jessica dalam benak dan pikirannya.” batin Jongwoon

“oppa..Jongwoon oppa. malam ini ku serahkan semuanya untukmu dan kau bisa memiliku secara utuh.”

“eh?. Makk..sudmu?.” tanya Jongwoon bingung.

“jangan khawatir. Aku akan berusaha membesarkan anak kita semampuku dan sekuat tenagaku.”

“Sica..Jess.sica.”

Kedua mata mereka saling memandang penuh cinta. Perlahan Jongwoon mulai mendekatkan wajahnya pda Jessica dan menciumnya lembut. Tak ada nafsu didalamnya, hanya ada cinta yang mengalir. Awalnya hanya sekedar ciuman kering namun semakin lama Jongwoon tak dapat menahannya ia melumat lembut bibir Jessica dan berusaha menciumnya semakin dalam. Dan malam ini ia memiliki Jessica secara utuh…

@#@#@#@#

Jessica tersenyum seketika saat pagi telah datang menghampiri kedua insan yang kini tengah tertidur hanya mengenakan selimut tebal dan tubuh keduanya tak tertutup oleh sehelai benangpun.

Ia mencoba meregangkan ototnya kembali. Sungguh ia sangat bahagia bisa berbut seperti ini.  orang yang pertama ia lihat adalah sang suami yang masih memejamkan matanya. Ia mengerjapkan matanya sejenak lalu tersadar sepenuhnya. Bayangan kejadian tadi malam masih terekam jelas didalam memori otak Jessica. Yang membuat pipinya kini memerah kembali. Segera ia beranjak membersihkan dirinya dan melangkahkan kai kedapur untuk membuatkan sarapan pagi.

Sebulan kemudian….

 

Seperti biasa Jessica harus bangu lebih pagi daripada Jongwoon. Mengingat ia harus menyiapakan semua keperluan suaminya tersebut. Tapi pagi ini Jongwoon melihat aneh dengan keadaan Jessica yang sedari tadi yang masih berbaring.

“chagi kenapa kau belum bangun?.” Tanya Jongwoon pelan sembari menepik pipi Jessica lembut.

“kau sakit chagi?.” Lanjutnya sekali lagi.

“anii oppa. hanya aku sedikit…”

Belum sempat ia melanjutkan omongannya. Jessica sudah terlebih dahulu berlari menuju kamar mandi.

“hoekk…hoekk..hoeek..” terdengar suara muntah. Lekas Jongwoon pun menyusulnya dan mencoba memijat pelan tengkuknya.

“Sica, Gwenchana?.”

“ani..gwenchana. lebih baik oppa segera berangkat kekantor nanti oppa bisa terlambat. Aku tak..”

“hoekk…hoeekk..”

“apa?. Jangan bilang kau tak apa-apa. Apa kau sudah meminum obatmu?.” Tanya Jongwoon kembali.”

“sudahlah oppa. paling aku hanya masuk angin saja.” kilah Jessica.

“lebih baik kita segera pergi kedokter saja. Aku tak mau terjadi apa-apa dengamu.” Paksa Jongwoon.

“ne. Arraseo oppa.” pasrah Jessica.

@#@#@#@#

___TBC__

Bingungkah atau Kecepetankah alurnya?…#hehe..mian

Ide author dadakan and cukup sampai disini.

So tolong hargai karya kami dengan meningalkan jejak melalu komentar.

Komentar panjang justru author suka..karena author bisa merefleksikan diri untuk buat FF lebih baik kedepan.

Gamsha chingundeul……

10 comments

  1. yes.iam · January 29, 2013

    bagus min bagus!!
    aku suka!!
    huaaa terlebih cast nya yesung & jessica.
    itu idola aku min :-*
    lanjut ya minn..
    si jessica pasti hamil deh min. uuhhh~ asyik!! dapat keponakan baru😄
    alurnya udah pas koq min. gak kecepetan gak lelet. wkwkwk

  2. misskkab · January 31, 2013

    Bagus thor (y) cepet update ya thor

  3. misskkab · January 31, 2013

    Bagus thor (y) tpi mana yuri nya ya? hehe
    Cepet udate ya thor

  4. ayunastiti14 · February 11, 2013

    bagus min🙂 meski ada beberapa typo.
    cepet dilanjjut ya thor, I can’t wait for the next chapter. JJang!!!

  5. ayunastiti14 · February 11, 2013

    bagus min🙂 meski ada beberapa typo.
    cepet dilanjjut ya thor, I can’t wait for the next chapter. JJang!!!

    Your comment is awaiting moderation.

  6. choi minri · March 26, 2013

    annyeong..
    aku readers baru disini
    choi minri imnida

    wah… thor ffnya keren…. >.<
    ditunggu next chapternya😉

  7. yura · April 21, 2013

    Annyeong! Wooo.. Keren min!!!

    Semoga aj YeSica cepet2 dpet ank yaa..
    Min, ditunggu chap selanjutnya ne^^ dah gk sabar nih ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

    Annyeong!

  8. INAKUROBA · May 6, 2013

    wuaaaaa…. seru2😀
    emg cocok kok yesung sm jessica ._.v
    ditunggu ya kelanjutannya hehe :v

  9. chatarina · December 3, 2014

    Lanjut thor!!!! Daebak!!!! Fanfic ini bikin aku penasaran… itu jessica hamil ya thor?

  10. Ayu Yulidar Irmawati · July 22, 2015

    iya lanjut donk!! bagus, yesicca!
    Tapi yuri nya belum keluar ya? nanti yuri ngapain ya? “think

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s