[Freelance] The Unexpected (Part 1)

the unexpected cover

• Title/Judul : The Unexpected – A Zayn Malik Love Story

• Main Cast/Pairing : Zayn Malik and you as Lia

• Author : RAR. [@rurimadanii]

• Genre : Romance

• Rating : PG-13

• Length : 6 chaptered

• Disclaimer :
Original buatanku sendiri tapi, zayn dan 1D punya ibu mereka masing-masing😆 Terpublish di blog saya dan Alhamdulillah banyak yang ngaku nangis baca ceritaku ini. Sebelnya, sempet diplagiat sama orang dan sampai sekarang belum izin sama sekali sama saya. Ohya, setel lagu yang sedih-mellow-galau ya biar suasanya semakin mendukung buat menitikkan air mata. Komen/mention ke twitter saya gimana reaksi kalian baca ini. Saya butuh kritikan untuk mengukur gimana kemampuan saya😀

(—-0—-)

“No matter it’s glad or bad, the unexpected one is always waiting for us in the next lines which teaches you the lesson of your life. And make you stronger to facing future.”

(—-0—-)

31 Desember 2011 | 11.00 a.m

“Where is Zayn?” tanyamu dalam hati sembari menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri. Dengan balutan sweater putih bermotif bunga-bunga musim semi, jeans hijau lumut yang nampak pas pada kakimu serta beralaskan sepatu boot coklat.. Sukses membuat setiap orang melirikmu iri karena fashion-taste yang kau punya. Yeah, ini berkat lelaki yang kau nanti sekarang. Lelaki telah merubah dirimu menjadi seseorang yang sekarang. Kau merapatkan ikatan syal biru yang tergantung manis di lehermu. Semilir angin musim dingin menerpamu lembut. Memainkan ujung-ujung rambut panjangmu yang diikat ke samping menari dalam hembusannya. Membisikkan irama ringan yang tengah dialunkan oleh seorang violinist jalanan.
Sekarang kau duduk di salah satu bangku panjang depan taman bermain yang cukup terkenal di pinggiran Kota London. Sudah sekitar setengah jam lebih kau menunggu seseorang yang amat kau sayangi. Sepertinya, hari ini kau akan menyatakan cintamu kepadanya. Meskipun kau tahu, kini ia seorang artis besar yang mungkin tak peduli akan perasaan sahabat kecilnya. Sahabat kecil yang ternyata memendam perasaan itu sejak lama. Saat kau belum lancar membaca, rperasaan itu muncul. Saat kau masih berfikir bahwa negeri dongen itu nyata, perasaan itu berkembang. Hingga saat kau telah mencapai umurmu yang ke-19 tahun. Perasaan itu terus bersemi, memekarkan bunga-bunga hati yang amat kau nikmati setiapnya bersemai.
‘Disney Land.’ Dua kata yang terpahat apik di depan gerbang taman telah kau baca berulang-ulang selama menit terakhir ini. Untuk yang kesekian kali, kau tersenyum menatap kata itu. Mengingat masa-masa indahmu bersama cowok yang kini sedang kau nanti kehadirannya. Saat-saat pertamamu bertemu cowok itu.

(—-0—-)

31 Desember 2000 | 10.57 p.m.

Malam gelap ini terasa kelam. Angkasa luas itu tak berbintang. Menyendukan langit kota London yang kini tengah bergembira ria menanti datangnya tahun baru. Kau melangkahkan kakimu mengelilingi Disney land. Terkagum-kagum akan permainan cahaya dari setiap wahana yang mewarnai malam sunyi ini. Sunyi untuk dirimu. Suasana hatimu.
Orangtuamu baru saja bertengkar hebat. Saling meneriaki satu sama lain, tak ada yang mau mengalah apalagi berdamai. Kondisi rumahpun kacau. Pembantumu sedang pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tahun baru bersama sanak saudara. Dan kau, memilih pergi dari rumah untuk menenangkan diri sejenak. Bagi anak yang belum genap berumur 8 tahun sepertimu, melihat pertengkaran orangtuamu merupakan hal biasa. Tapi kali ini, kau menemui titik jenuhmu. Titik jenuh akan kebosanan yang selalu kau dapatkan di rumah. Bahkan sepertinya, kau tidak ingin kembali ke rumah itu lagi.
Seharusnya malam ini kau tersenyum. Bukan murung dengan menampakkan muka kaku-mu. Seharusnya kali ini kau berkumpul bersama keluargamu. Bukan berjalan sendiri tanpa tujuan di antara kebahagiaan orang-orang asing di sekitarmu. Seharusnya malam tahun baru ini berkesan. Karena orangtuamu telah berjanji merayakannya di sini. Di tempatmu berdiri sekarang. Tapi apa yang terjadi? Mereka mengacuhkanmu. Layaknya kau tak ada dan lenyap dari bumi ini. Mereka hanya memikirkan kepentingan mereka. Tanpa pernah tahu yang kau inginkan. Yang kau mau hanya satu. Satu dan itu sangat sederhana. Kau hanya ingin…
“Watch out!”

BUUK

Sesaat matamu berkunang. Kau terjerembap karena tersandung skateboard yang melintas cepat di depanmu. Kejadian itu berlangsung amat cepat. Ditambah dengan lamunanmu akan orangtuamu, membuatmu tak sempat menyelamatkan diri. Matamu masih terpejam. Hitam di kelopakmu masih menampakkan kunang yang membuat kepalamu sedikit pusing. Kepeningan itu membuatmu tak sadar akan kerumunan kecil yang mengelilingimu.
“Sorry,” bisik seseorang di telingamu dengan suara seperti.. Anak laki-laki? Si empunya suara membantumu duduk, berdiri dan berjalan ke arah bangku di pinggiran taman hiburan. Bangku yang paling dekat dengan kalian yang terletak permanen menghadap langsung pada bentanagan laut. Kau masih menutup mata, rasa pusing itu masih ada. Bahkan sekarang, sepertinya lututmu terluka. Karena ketika berjalan, langkahmu tertatih sampai harus dituntun oleh seseorang. Mungkin.. Seorang empunya suara tadi. “I’m really sorry. I don’t mean that. Sorry.” Katanya lebih jelas. Dan kau menebak dengan amat yakin bahwa seorang yang kini tengah menggenggam tanganmu adalah anak laki-laki. Kini, kalian sudah duduk dan kau merasa ia panik melihatmu yang terluka ini.
Sudahlah terluka hati, jiwa bahkan sekarang tubuhmu juga ikut terluka. Benar-benar tahun baru yang buruk.

article-0-1231E62B000005DC-66_306x505

Ia menolehkan kepalamu mengarah padanya. Menyentuh pipimu dengan tangan hangatnya. “Look! Your chin’s getting blooded! Oh, no.. I’m really-really sorry! I don’t mean to do that. Can you open your eyes? Or maybe.. your eyes get blinded too? Oh no! Plea-” ucapannya langsung terhenti ketika kau buka matamu. Ia menggumamkan sesuatu yang tak bisa kau dengar-sepertinya kelegaan. Kau melihat muka anak laki-laki yang sedari tadi meminta maaf kepadamu. Ternyata ia anak seusiamu. Dengan muka yang terlihat seperti orang timur dan sepasang bulatan besar mata coklat yang nampak berbinar cemas. Rautnya bahagia, bibirnya terlihat tak pernah berhenti tersenyum menampakkan barisan gigi-gigi kecilnya. Ditambah dengan kata-kata lucu yang terlontar spontan dari mulutnya, membuatmu otomatis berfikir bahwa hidupnya tak semuram hidupmu.
“Aah,” ringismu kecil saat kau menyentuh dagumu dan mendapati darah menempel pada ujung jemarimu. Melihatmu meringis, anak laki-laki di sampingmu kembali panic.. Tapi sejurus kemudian, ia mengeluarkan plester kuning dari saku celananya dan menempelkan plester luka itu pada dagumu. Sejenak kau bisa menatap mata coklatnya lekat. Mata indah yang kala itu menyorot kekhawatiran dan kecemasan.
“I’m really-really sorry. I don’t mean to do that..” ucapnya menyesal.
“It’s okay.” Jawabmu sekenanya. Jujur, kepalamu masih terasa pusing dan fikiranmu masih kemana-mana.
“Zayn.” Ucapnya memperkenalkan diri sembari mengangkat tangannya ke arahmu. Kau meraih tangannya dan menggoyangkannya canggung. Ia tersenyum. Senyum yang tiba-tiba saja membuat sesuatu di hatimu meloncat tiba-tiba.
“Lia.” Jawabmu malu. Zayn. Zayn. Zayn. Itukah namanya? Entah mengapa sepertinya malam itu kau akan terus mengingat rangkaian huruf tersebut.
“Wanna play with me? I’m alone now. My friends.. yeah, they’re leaving me to celebrate in their own house. Mm, maybe they’re not. But, I’m alone now.” Pintanya padamu.
“I want. But.. I can not.. Play skateboard.. Zayn..” Jawabmu terputus-putus. Kau memang tak bisa bermain skateboard. Menyentuh papannya saja mungkin tak pernah. Ditambah dengan kakimu yang lecet kini, mungkin ketika kau pulang nanti harus ada seseorang yang menggendongmu.
“Haha! You’re funny! I like you!” Ia tertawa sendiri. Apa katanya? Ia suka denganmu? Suka? Entah mengapa kata-kata itu semakin membuat sesuatu di hatimu meloncat kegirangan dari sebelumnya. Memunculkan perasaan aneh yang tak kau ketahui sebelumnya. Perasaan yang membuat hatimu hangat seketika. Sejenak kau merasa canggung. Bingung ingin mengatakan apa.
“There’s nothing funn-”
“Let’s go!” Ia menyelamu cepat. Kebahagiaan tersirat jelas pada mukanya Kemudian anak laki-laki itu menarik tanganmu dan berjalan santai untuk berkeliling dan menikmati wahana. Malam ini kau bahagia. Malam ini kau punya teman lelaki. Malam ini hidupmu tak kesepian lagi. Mendadak berwarna karena seorang anak kecil lelaki yang telah melukai dagumu, mengajarkanmu sesuatu yang belum pernah kau ketahui sebelumnya. Sesuatu itu amatlah abstrak, tak berbentuk, tak berupa, tak terdengar.. Tapi anehnya sesuatu itu terus berkembang seiring dengan semakin dekatnya hubungan kalian yang terjalin malam ini.
Fikiranmu berubah, persepsimu salah. Kau mendapatkan hadiah saat itu. Seoarang malaikat yang mengisi kekelabuan hidupmu, mewarnai lembaran kosong riwayatmu, memberimu arti kehidupan bermakna yang menjadi peganganmu. Yang lebih penting lagi ia mengajarimu sesuatu abstrak itu. Sesuatu yang tulus yang belum kau mengerti pada umurmu yang ke-8 tahun.

Yeah, sebuah malam tahun baru terindah yang pernah kau dapat.

~END OF THIS CHAPTER~

One comment

  1. DG · February 7, 2013

    Thor , nextnya kapan ?

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s