[Freelance] The Unexpected (Part 2)

the unexpected cover

• Title/Judul : The Unexpected – A Zayn Malik Love Story

• Main Cast/Pairing : Zayn Malik and you as Lia

• Author : RAR. [@rurimadanii]

• Genre : Romance

• Rating : PG-13

• Length : 6 chaptered

• Disclaimer :
Original buatanku sendiri tapi, zayn dan 1D punya ibu mereka masing-masing😆 Terpublish di blog saya dan Alhamdulillah banyak yang ngaku nangis baca ceritaku ini. Sebelnya, sempet diplagiat sama orang dan sampai sekarang belum izin sama sekali sama saya. Ohya, setel lagu yang sedih-mellow-galau ya biar suasanya semakin mendukung buat menitikkan air mata. Komen/mention ke twitter saya gimana reaksi kalian baca ini. Saya butuh kritikan untuk mengukur gimana kemampuan saya😀

(—-0—-)
31 Desember 2009 | 11.35 p.m.

“I will join X-Factor next year, Li!” seru Zayn senang padamu saat duduk menikmati permen kapas di bangku pinggiran Disney Land yang menghadap langsung pada bentangan laut yang kala itu nampak berkilau tersapu silau purnama. Hubunganmu dengan Zayn setelah 5 tahun ini berjalan dengan amat baik. Bahkan kalian menjadi dekat dan bersahabat. Dan kalian selalu berjanji merayakan tahun baru bersama di taman hiburan ini. Di tempat kalian pertama kali bertemu. Kalimat bahagia yang terlontar spontan dari bibirnya seperti menyambarkan kilat dengan berjuta watt ke kepalamu yang kini penuh dengan kebahagiaan yang kau dapatkan bersamanya. Kalimat sederhana yang sepertinya akan memupus harapanmu dan mengembalikanmu ke masa surammu sebelum kau mengenalnya.
Karena kau tahu, ia pasti akan menjadi penyanyi sukses apabila mengikuti kompetisi itu. Sebagai sahabat, kau sangat tahu potensi menyanyinya tak perlu diragukan lagi. Selain sering meng-cover lagu bersama, Zayn adalah seorang penyanyi solo di tim vokal grup sekolahnya. Ditambah dengan berbagai penghargaan menyanyi yang diterimanya. Akan membuka peluang lebar baginya untuk menjadi penyanyi besar kelas dunia.
“Do you mean tomorrow?” tanyamu dengan suara tercekat dan nada tak percaya.
“Tomorrow is next year. Yeah!” jawabnya semangat. Kau hanya mengangguk sambil bergumam ‘Oh’ untuk memberi respon terhadapnya.
“And I will be alone again..” Gumammu sendiri yang sebenarnya tak kau tujukan pada Zayn. Tapi sepertinya gumaman kecilmu terdengar oleh Zayn.
“What?” tanyanya.meminta kejelasan.
“No. Fighting for that, Zayn. I’m sure you win. The auditon is going to hold next month, isn’t it? Struggling for it, Zayn..” Katamu Lemas dengan menyungginggkan senyum terpaksa. Zayn yang melihat kekecewaanmu terdiam. Ia tahu kondisimu. Ia tahu bahwa kau hanya mempunyainya sebagai sahabat dekat. Dan apabila ia mengikuti audisi itu.. Berarti ia akan meninggalkanmu sendiri menghadapi kerasnya hidup yang tetap kau miliki hingga sekarang.
Cukup lama kalian terdiam, hingga akhirnya kau pamit padanya dan memutuskan untuk pulang sendiri. Menurutmu. cukup sampai di sini pertemanan yang kau jalin dengan Zayn. Kau tak mau membiarkan dirimu meratapi kehilangannya ketika nanti ia benar-benar tak bersamamu lagi. Kau butuh waktu untuk membiasakan diri tanpa kehadirannya. Tanpa senyumnya, tawanya, gurauannya. Tanpa Zayn.
Kau beranjak pergi dan meninggalkan tradisi ‘Ferris wheel’ tepat di pergantian tahun bersamanya. Kau harus meninggalkan kegiatan itu. Harus. Mulai dari sekarang, kau akan kembali ke masa surammu. Menjalani hidup pada lembaran kosong, menyusuri hari-hari kelabu dengan tetap memegang makna dari arti kehidupan yang telah diberikan oleh seorang Zayn kepadamu. Seorang yang sebentar lagi akan…
“Don’t leave me behind, please.” Bisik Zayn padamu. Tiba-tiba ia memelukmu dari belakang. Merengkuhmu erat untuk berbagi kehangatan yang dimilikinya. Rengkuhan itu susah-payah kau tepis untuk melepaskan diri, tapi ia malah memelukmu lebih erat dan membuatmu terlelah untuk melakukan aksi penolakan akan apa yang ia lakukan.
Kau tak berkata apa-apa. Hatimu sesak dan berat. Pandanganmu kabur. Singkatnya kau kecewa. Kecewa karena akhirnya akan harus berpisah dengan Zayn. Dengan orang yang kau sayangi. Dengan orang yang mengajarimu arti hidup yang lebih baik. Dengan orang yang telah menjadi sosok terpentingmu selama kurang lebih sembilan tahun belakangan ini.
Tiba-tiba saja butiran kristal keluar dari sudut matamu. Jatuh perlahan hingga tetesan itu mengenai lengan Zayn yang merengkuhmu. Disusul dengan tetesan lain. Hingga akhirnya kau benar-benar menangis kecewa akan kenyataan yang akan kau dapat. Kenyataan bahwa kau akan kehilangan Zayn.
Ia melepas rengkuhan itu. Melihatmu yang sesenggukan menangis membuat hatinya teriris. Ia tak pernah membiarkanmu menangis selama kalian berteman. Ia selalu menyamankanmu. Ia selalu ada di sampingmu. Ia selalu ada di saat-saat kau butuh seseorang untuk diajak berbagi suka bahkan duka.
Tanpa berkata apapun ia memutar tubuhmu dan melihat muka merahmu karena tangis yang menghiasi wajahmu. Kau tak berani menatapnya. Kau tak berani menghadapi kenyataan itu. Kenyataan bahwa sebentar lagi tatapan teduh yang selalu kau dapatkan darinya akan hilang tak berbekas dengan menyisakan luka yang teramat dalam hatimu.
Ia memelukmu lagi. Lebih erat dan lebih hangat dari sebelumnya. Membiarkanmu mencengkram jaket tebalnya erat, membiarkanmu bersandar di dadanya, membiarkanmu mengadu lewat tangisanmu, membiarkanmu menumpahkan seluruh kekecewaanmu.. Serta mengusap lembut topi rajut-pemberiannya-yang kau pakai. Itulah cara Zayn menenangkanmu. Karena ia tahu, setelah kau puas menangis kau akan merasa lebih baik dengan beradanya ia di sampingmu.
“Feel better?” bisiknya lembut di samping telingamu. Kau mengangguk. Tangisanmu telah mereda. Dengan cara yang Zayn lakukan, kau selalu merasa lebih baik setiap berada di sampingnya. Kalian masih berpelukan. Di antara salju-salju putih yang turun lembut dari langit, di bawah remangan sinar rembulan yang menurutmu berbeda tak seperti-malam-malam sebelum- ini.
Tanpa berkata apa-apa, ia melepas pelukannya, meraih tanganmu lembut lalu memasukkannya ke dalam saku coat tebalnya. Masih menggenggam erat tanganmu, ia menuntunmu berjalan. Menuju wahana terakhir yang akan kalian nikmati malam ini. Ferris wheel.
Kalian duduk berhadapan di dalam ferris wheel warna biru yang kala itu memancarkan sinar kuning apik ke langit terang. Membuat siapapun yang melihatnya terpesona dan berfikir bahwa naik ferris wheel akan terasa amat menyenangkan. Tapi tidak bagimu.
Matamu bengkak, nafasmu masih terasa berat, lidahmu kelu, bahkan kau tak merasakan urat tangan dan kakimu. Semua seperti melayang. Melayang turun untuk jatuh ke dalam lubang hitam terdalam. Seketika hatimu kelabu lagi meskipun ada Zayn di depanmu.
Kau tak berani menatap Zayn. Kau hanya duduk bersender di salah satu sisi tempat duduk dan melihat permainan cahaya di luar yang menurutmu tak indah sama sekali. Kau menatap pemandangan itu lama. Dengan makna kosong yang tersirat di sorotmu dengan amat jelas. Ya, kosong.
“Sorry.” Katanya membuka pembicaraan. Tubuhnya condong ke depan, menggenggam tanganmu lembut dan mata coklatnya.. Mata indah itu menatapmu lekat. Dalam dan penuh arti. Tapi kau tak menatapnya. Pandanganmu tetap ke pemandangan di luar sana. “I’m sorry, Li..”
“There’s no need to apology. You have no fault, Zayn.” Sahutmu singkat. Sekali lagi kau masih menatap kosong pemandangan luar itu. Dengan fikiran yang melayang-layang membayangkan hari-harimu tanpa Zayn.
“Look at me, Lia. Please. Look my eyes.” Pintanya lembut. Kau menghiraukannya. Matamu masih sama memandang permandian cahaya di luar sana. Sadar kau mengacuhkannya, ujung jemarinya menyentuh dagumu lembut. Menggerakkannya menghadap Zayn.
Bola matamu berputar. Kini menatap lurus mata coklat itu. Mata teduh indahnya yang selalu menenangkanmu.
“You’ll leave me, Zayn. Sooner or maybe later.” Gumammu yang masih bisa terdengar olehnya.
“I never have an idea bout that.” Bantahnya cepat. Bantahan yang membuat tatapanmu berpindah dari maniknya.
“But, finally you will-“
“Sstt.” Telunjuknya menyentuh bibirmu lembut. Membuatmu menghentikan kalimatmu. Lalu ia berpindah tempat duduk di sampingmu. Mendekatkan tubuhmu dengan tubuhnya dengan masih menggenggam tanganmu. “Trust me, Lia. Trust me. I’m just going to leave a while. Go to reach a chance. And when that day comes.. I need you, Lia. I need your support. Support for make me strong. Strong like when I’m with you.” Jelasnya panjang lebar dengan sesirat nada memohon.
“You’re always strong, you make me strong, Zayn. I never make you strong.”
“Wrong. You still don’t understand. There’s a time when a man need something from woman. One thing that woman doesn’t understand. And that one thing is.. is you, Li. Ple-”
“You live around beautiful girls whose more talented and more understable than me. I don’t deserve that, Zayn. I’m not.” Selamu cepat.
“But, my heart.. Tells different. Please. Don’t end our bestfriend like this.. I don’t willing it.. I don’t want it..”
“I don’t know, Zayn.. I’m confuse.” Ujarmu putus asa.
“We still can in touch, Li. There are so many things to be used. We still can share everything like usual. There is no barrier. And i.. I ‘m still not sure wether I can be a winner or-“
“No, you will. You’ll win it, Zayn. I’m sure you can.” Selamu cepat melihatnya dengan sekilat rasa yakin pada tatapan dan perkataanmu.
“So, you’ll support me?” Kau mengangguk ragu menanggapinya. Menyungginggkan senyum samarmu yang menyiratkan keraguan akan apa yang terjadi. Tapi hatimu lega, entah mengapa kau percaya dengan Zayn. Dengan semua penjelasannya, keyakinannya, kekukuhannya… Semua membuatmu kuat. Kian kuat hingga dapat menjadi dirimu yang sekarang.
“Thanks” ucapnya seraya mengecup dahimu lembut. Lalu kau bersender di bahunya dan kepalanya menindih ubunmu lembut. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya. Meninggalkan sesuatu padat di telapakmu. Kau heran dan melihat apa yang ia tanggalkan di sana. Kau membuka kepalan jemarimu. Dan mendapati sebuah.. Sebuah..

spin_prod_521228501

“Happy birthday, Li.” bisiknya lembut. Kau tak percaya. Kau terkejut. Kau sama sekali tak menyangka. Kau benar-benar senang. Kehabisan kata tuk diucap. Sebuah benda yang kau inginkan.. Liontin minnie mouse yang sedang kau incar, kini berpindah di atas telapak tanganmu. Hatimu mendadak tersentuh akan pemberian Zayn ini. Matamu berbinar, senyummu merekah, kau teliti kalung itu dari rantai hingga bandulnya. Seuntai liontin perak berbentuk muka minnie dimana pada bagian belakangnya, terukir kata-kata yang sukses membuat hatimu kian berbunga..

Z-BFF-L

“You like it?” Tanya Zayn seraya melihat raut mukamu yang penuh dengan kebahagiaan. Ini sudah lewat dari jam 00.00 dan berarti hari ini adalah hari ulang tahunmu. Letusan indah kembang api di sana-sini semakin menyemarakkan malam kalian. Malam ulang tahunmu. Ulang tahun kecil yang selalu kau rayakan bersama Zayn. Tapi pertambahan umur kali ini.. Puing kecil di hatimu merasa kecewa dengan kata-kata yang.terpahat apik di balik liontin.
BFF. Best friend forever. Dan itu.. Itu berarti hubungan kalian hanya sekedar sahabat. Tanpa ikrar dan tanpa cinta. Tapi kau.. Kau amat mencintai Zayn. Bahkan perasaan itu terus bersemai ramai dalam hatimu. Kau mengharapkannya. Sangat. Tapi saat ini, kau cukup puas dengan apa yang kau jalin dengannya. Jika menjadi sahabat bisa membuatmu terus dekat dan menjadi ‘one thing’ baginya.. Kau ikhlas. Kau akan tetap menjalani itu meskipun kalian tak akan pernah bersatu. Meskipun kalian tak pernah berucap sayang. Meskipun akhirnya kalian akan punya kehidupan sendiri-sendiri.
Tapi hatimu.. Hatimu mantap menjalani itu karena kau tahu. Karena kau tahu ialah malaikat hidupmu. Pewarna hari-harimu, pencerah riwayatmu. Kau akan menyayanginya diam-diam. Secara tulus dan mendalam. Karena kau amat berterimakasih padanya. Dan itulah hal sederhana yang bisa kau lakukan untuk membalas segala perlakuannya terhadapmu.

Sebuah perasaan tulus tak beralasan yang mekar merekah dalam kebisuan.

~END OF THIS CHAPTER~

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s