[Freelance-ONESHOT] Venice Love Story

Author: Kim Joo Hyun
Main Cast : Yesung SUJU & Taeyeon SNSD
Title : Venice Love Story
Genre: Romance, Hurt, life.
Lenght: Oneshoot yang kepanjangan😀

Author Kim Joo Hyun balik lagi. Setelah lama banget hiatus dari dunia fanfic saya balik lagi menepati janji saya. Saya bawa ff oneshoot taesung couple.

Karna pada ff oneshoot pertama saya banyak yang bilang kependekan jadi saya buat panjang deh^^

Sebuah TaeSung fiction dengan latar belakang pemandangan Kota Romansa Venice. Jadilah saksi kisah cinta antara dua anak manusia ini.

Happy reading!

Malam bulan purnama dengan udara dingin mencekam, berlari dua pasang kaki bersepatu lusuh di sepanjang jalan di tepi kanal, melintasi jembatan-jembatan kecil yang menghubungkan antar jalan sempit itu, berlari tak tentu arah.

Salah seorang dari mereka berlari jauh lebih cepat, sehingga meninggalkan yang satunya cukup jauh. Yang tertinggal berlari tergopoh-gopoh, berusaha keras menyusul temannya, hingga akhirnya dia jatuh tersandung. Dia bangkit duduk, menepis butiran-butiran pasir dan debu yang menempel di celana kumalnya, sambil menahan tangis.

Beberapa detik kemudian, temannya datang kembali.

“Apa yang kau lakukan?” Dia berusaha mengangkat pundak temannya, untuk membuatnya berdiri, tapi yang dibantu tak mau bangkit. Dia malah menunduk dan meneteskan air mata. “Ayo, cepatlah! Tidak ada waktu untuk menangis, Taeyeon!”

Anak yang dipanggil Taeyeon itu masih terus tertunduk. “Aku tidak sanggup lagi,” gumamnya. Kemudian wajahnya mendongak, menatap anak lelaki tinggi berambut hitam di depannya. “Tinggalkan saja aku, Yesung!”

Teman Taeyeon itu kelihatan tidak sabaran. Dia memutar tubuhnya, membelakangi Taeyeon, lalu berjongkok. “Cepat naik!” perintahnya. “Kita harus tetap bersama.”

Taeyeon menghapus air matanya, bangkit perlahan menuju punggung anak lelaki bernama Yesung itu, lalu menggantung dalam gendongannya.

Dengan seolah tanpa beban, Yesung berlari di sepanjang jalan sempit di tepi kanal, Taeyeon masih dalam gendongan di punggungnya. Dia sedikit tergopoh-gopoh. Hingga akhirnya mereka sampai di jembatan besar, yang melintas di atas sungai besar.

Yesung berhenti, menurunkan Taeyeon dari punggungnya. Dengan napas terengah-engah dia menatap gadis kecil berambut coklat itu serius. “Taeyeon, pelarian ini kurasa tidak akan berhasil,” ucapnya dengan napas masih tersengal-sengal.

“Sudah kukatakan, kau saja yang pergi. Aku tidak apa-apa di sini.”

Yesung menggeleng. “Aku punya rencana supaya kita bisa meninggalkan kota ini bersama. Dengar! Malam ini kita berpisah di sini. Tapi besok sore, temui aku di atas jembatan ini. Dan kita pergi dari kota ini.”

Taeyeon menatap Yesung ragu. “Kenapa kau tidak lari sendiri saja?” tanyanya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu,” jawabnya, dengan tatapan langsung pada mata Hazel Taeyeon “Meskipun kau tertangkap, aku yakin kau akan bebas karena kau tidak terlibat. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini caranya.”

Taeyeon meraih tangan Yesung. “Kau benar akan datang?”

“Ya. Aku janji,” jawabnya mantap. “Ingat! Sore, tepat saat matahari terbenam, aku akan menunggu di atas jembatan ini.”

Bersamaan dengan itu, suara keramaian semakin terdengar. Sepertinya orang-orang yang mengejar mereka sudah semakin dekat.

Yesung merogoh sakunya, mengeluarkan kalung berantai keperakan dengan bandul menyerupai potongan berlian berwarna kebiruan. Dia meletakkan kalung itu di atas telapak tangan Sakura, dan mengatupkan jari-jemarinya. “Simpan ini!” pintanya.

Mata hazel taeyeon terbelalak. “Tapi dari mana kau mendapatkannya?”

“Tidak penting. Simpan saja! Karena aku akan mengambilnya kembali,” dia mengerlingkan sebelah matanya. “Karena itu aku ingin kau percaya bahwa aku akan datang, taeyeon.”

Taeyeon, dengan berat hati, enggan melepaskan tangan yesung. Dengan tatapan penuh janji yang diberikan anak lelaki itu padanya, dia menanamkan rasa percaya, sehingga perlahan-lahan genggaman mereka terlepas.

Gadis kecil berambut coklat yang nampak kumal itu terpaku menatap kepergian yesung. Dia terus menatap punggung lelaki itu sampai menghilang dari pandangan mata. Setelah sosoknya menghilangpun, dia tak mengalihkan pandangannya, sehingga hanya udara kosong yang ditatapnya.

Besok sore, tepat saat matahari terbenam, yesung menunggunya di atas jembatan besar itu. Hanya hal itu yang berputar di kepalanya. Sampai-sampai dia tidak sadar akan kedatangan orang-orang. Bahkan mereka telah mendapatkan lengannya, dan menariknya pergi, menjauh dari jembatan besar, menjauh dari yesung…

Venice Love story ♥♡♥

By

©Kim Joo Hyun©

10 tahun kemudian…

Kereta Eurostar tiba di Stasiun Santa Lucia, stasiun kecil di Kota Venice, salah satu kota romansa nan indah di negeri Italia. Pintu-pintu gerbong kereta membuka secara otomatis. Para penumpang, yang kebanyakan terdiri dari turis asing, keluar beraturan dari dalam kereta.

Tampak seorang penumpang yang paling mencolok, turun ke peron dengan diikuti seorang pria bercambang tipis–yang nampak seperti pelayan–menyeret koper besar di belakangnya.

Dia seorang wanita muda yang terlihat seperti wanita bangsawan: tubuhnya dibalut dress terusan warna biru toska tanpa lengan dengan rok lebar yang menutupi kakinya sebatas lutut, menampakkan kulit putihnya yang berkilau bagai mutiara; pinggangnya yang ramping dililit ikat pinggang lebar berwarna hitam; jari-jemarinya dibungkus sarung tangan putih; kepalanya ditutupi topi bertepi lebar yang juga berwarna putih–di salah satu sisinya menancap bulu-bulu angsa berwarna hitam, menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang yang melihatnya, sehingga yang terlihat hanya bibir tipisnya yang dipoles dengan gincu merah cerah, sangat menggoda!

Dia melangkah anggun di atas sepatu hitam mengkilap berhak tinggi, yang menimbulkan suara ‘tok-tok’ setiap kali alas sepatunya menapaki bumi. Perempuan itu sungguh mengalihkan setiap mata yang memandang, khususnya para lelaki. Gayanya yang luar biasa memukau mampu membuat mata tidak berkedip.

Namun sebagaimana gaya seorang wanita terhormat, dia tidak mengacuhkan tatapan-tatapan itu. Dia terus melangkah, seolah hanya ada dirinya di sana.

Langkahnya terhenti begitu dia, juga pelayannya, keluar dari stasiun. Sepasang mata hazel memandang berkeliling dari bawah topi bertepi lebar itu, menjelajahi bangunan-bangunan dengan arsitektur kuno nan antik, serta kanal-kanal kecil yang dihubungkan dengan jembatan pendek yang melengkung hampir seperti setengah lingkaran.

Kemudian dia membuka topi yang sejak tadi menutupi wajahnya itu, rambutnya coklatnya terurai, mata hazelnya yang indah nampak berbinar terkena pantulan sinar matahari.

Perhatiannya beralih pada pelayan setianya. “Donghae, aku ingin jalan-jalan sebentar.”

“Kenapa tidak menunggu Tuan—”

“Sebentar saja, 30 menit,” katanya lagi, kali ini dengan tatapan memohon.

Donghae menghela napas. Dia memang paling tidak bisa menolak keinginan majikan mudanya itu, apalagi kalau sudah diserang dengan tatapan seperti itu. Dia lalu mengangguk pelan.

Sang majikan cantik bersorak kecil. “Kau tunggu saja di stasiun, sambil istirahat. Sejak tadi di kereta kulihat kau tidak tidur.”

“Nona Taeyeon akan pergi sendiri?” matanya terbelalak.

Wanita itu kembali memperlihatkan tatapan memohon. “Aku akan baik-baik saja. Sungguh!”

Si pelayan menghela napas lagi. “Baiklah. Tapi sungguh saya tidak tahu apa yang akan Tuan lakukan pada saya bila Nona—”

“Iya, iya. Aku mengerti,” sahut wanita muda yang tadi dipanggil Taeyeon itu. “30 menit lagi aku kembali. Janji!” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang masih terbungkus sarung tangan.

Begitu berhasil meyakinkan si pelayan, Taeyeon–yang sudah kembali memakai topi bertepi lebarnya–berjalan riang di sepanjang jalan sempit di tepi kanal. Dia tidak terlalu menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang–seperti yang diketahui bahwa Kota Venice selalu ramai dikunjungi turis.

Taeyeon sampai di sebuah jembatan besar, yang disebut dengan Rialto Bridge, jembatan besar yang melintang di atas sungai besar bernama Grand Canal. Dia beruntung mendapat tempat di tepi pagar jembatan, karena hampir sepanjang tempat itu dipenuhi orang.

Dari atas sana, Taeyeon bisa melihat indahnya salah satu sisi Kota Venice yang dibelah oleh kanal besar di bawahnya. Pikirannya menerawang, teringat kembali dengan anak lelaki yang pernah berjanji di atas jembatan itu padanya, berjanji untuk menemuinya di sana. Namun, yang ditunggu tidak pernah datang.

‘Apakah aku akan bertemu lagi denganmu, Yesung?’ batinnya. Dalam benaknya, dia masih percaya, tepatnya masih ingin percaya bahwa anak lelaki yang ditunggunya itu akan datang.

Namun, 10 tahun telah berlalu. Harapan dan kepercayaan itu pelan-pelan terkikis oleh waktu. Hanya kalung dengan bandul yang menyerupai berlian pemberian Yesung yang masih memberinya kekuatan untuk percaya.

Taeyeon terlalu asik bergumul dengan pikirannya tentang masa lalu, sehingga tidak memperhatikan bahwa sejak tadi seseorang bertopi mengincar tas tangannya. Dia baru sadar begitu tas–yang berwarna senada dengan gaunnya, yang dihiasi dengan manik-manik kecil berwarna putih–itu telah jatuh ke tangan orang tadi, dan dibawa lari.

“Tunggu!” teriaknya. Taeyeon kemudian berlari mengejar pencopet itu, lari tergopoh-gopoh dikarenakan sepatu hak tinggi yang dipakainya. Akhirnya dia melepas sepatu, dan berlari dengan kaki telanjang. Dia bahkan tidak memedulikan topi bertepi lebarnya yang terbang terbawa angin saat berlari kencang.

Bukan uang yang dikejarnya. Tapi sesuatu yang berharga, peninggalan Yesung satu-satunya yang dimilikinya, ada di dalam tas itu. Baginya tidak masalah jika pencopet itu mengambil seluruh uangnya, asal tas itu mau dikembalikan.

Taeyeon masih berlari, meskipun telapak kakinya yang mulus itu mulai terasa lecet. Si pencopet semakin jauh, dan akhirnya menghilang dari pandangannya. Taeyeon kehilangan jejaknya.

Dia berhenti di sebuah jalan yang sepi. Sepatu hak tinggi yang sejak tadi digenggamnya, jatuh berdebam di atas jalan aspal. Satu per satu tetes air jatuh dari pelupuk matanya, Taeyeon menangis, menyesal. Dia kehilangan kenangan terakhir Yesung. Dia gagal lagi mengejar Yesung. Kini dia benar-benar kehilangan anak lelaki itu.

Tak ada lagi yang bisa dilakukannya, dia putus asa. Dia memutuskan untuk kembali ke stasiun, mungkin pelayannya yang setia itu sudah menunggunya dengan sangat cemas.

Matanya terbelalak lebar setelah memutar tubuhnya, dan menemukan sosok lelaki perpakaian lusuh, wajahnya terhalangi topi. Itu si pencopet!

“Kau…” gumam Taeyeon yang masih tidak percaya melihat orang itu. “Kumohon kembalikan tasku!”

Si pencopet tidak bergeming. Tas tangan Taeyeon ada dalam genggamannya.

“Kau boleh ambil semua uangku. Tapi kumohon, ada sesuatu yang berharga dalam dompet itu. Kumohon kembalikan!”

Lelaki kumal itu menjulurkan tas tangan Taeyeon. Tapi dia tidak bicara apapun, wajahnya masih tersembunyi di bawah topi lusuhnya.

Dengan langkah perlahan, Taeyeon mendekatinya, kemudian meraih tas tangannya. Tanpa peringatan, lelaki itu malah menggenggam tangannya. Taeyeon tersentak.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Taeyeon takut-takut.

Bukannya menjawab, lelaki itu malah menarik tubuhnya, membuat jaraknya dengan taeyeon semakin dekat. Dia tidak peduli dengan gadis muda yang mencoba melepaskan diri itu. Kemudian dia membuka topinya, tampaklah wajahnya. Kulit pucat dengan sedikit corengan debu, rambut hitam membingkai wajahnya, mata hitam onyx menatap taeyeon tajam bak mata elang.

“Yesung…”

Taeyeon menghambur dalam pelukannya, merangkulnya erat, seolah tak ingin melepaskannya. Dia menangis, menangis sejadi-jadinya di dada bidang lelaki itu. Harapannya selama ini, rasa percaya yang masih dipertahankan, akhirnya terbayar.

“Aku sungguh tidak menduga ini kau, yesung,” ucap taeyeon setelah acara memeluk itu selesai. Mereka kini duduk di tepi kanal, dengan kaki terendam air.

“Aku juga,” gumam yesung. Dia menatap gadis berambut coklat di sebelahnya. “Kau bukan lagi gadis 10 tahun yang kumal. Kau… cantik.”

Taeyeon mengalihkan matanya dari wajah yesung ke air mengalir yang merendam kakinya. Dia berharap lelaki itu tidak melihat semburat merah yang muncul di kedua tulang pipinya.

“Kelihatannya sekarang kau hidup bahagia,” yesung melanjutkan. “Sudah bukan penjual ikan lagi rupanya?” guraunya.

Taeyeon sama sekali tidak tertawa, dia menghela napas. “Seorang tuan baik hati mengadopsiku, dan membawaku tinggal di Milan,” taeyeon bicara seolah ingin menyinggung yesung. Pandangannya kembali pada yesung, dengan tatapan menuntut. “Kenapa kau tidak datang saat itu? Kau berjanji, yesung!”

Lelaki yang tetap terlihat tampan meskipun dengan wajah tercoreng debu itu melempar pandangan ke angkasa, matanya menerawang. “Maafkan aku. Saat itu aku tertangkap oleh bandit-bandit di pelabuhan. Lalu aku dijual, dan dibawa ke Roma. Di sana, aku dijadikan budak pekerja kasar. Setelah hampir satu tahun, akhirnya aku bisa melarikan diri, dan kembali ke kota ini. Beruntung tidak ada lagi yang mengenaliku saat aku kembali. Mungkin mereka sudah melupakan kasus pencurian ikan itu.” Dia tertawa kecil.

Kemudian matanya beralih pada wajah taeyeon, menatapnya dalam. “Aku kembali ke Venice hanya untuk menemuimu, taeyeon. Aku masih berusaha menepati janjiku. Tiap sore, tepat saat matahari terbenam, aku menunggumu di jembatan Rialto. Tapi tak pernah kulihat dirimu di sana.”

Taeyeon menunduk. “Saat itu aku sudah di Milan,” gumamnya.

“Aku tidak putus asa,” yesung melanjutkan. “Aku masih terus menunggumu di jembatan itu. Meskipun aku harus menunggumu sampai akhir jaman, aku tidak peduli. Maka aku bertahan di kota ini. Dan menjadi pencuri untuk bertahan hidup. Hanya supaya aku bisa kembali bertemu denganmu, taeyeon!”

“Maafkan aku,” taeyeon terisak.

“Tidak. Jangan salahkan dirimu!” Yesung membelai lembut rambut panjang gadis itu. “Takdir yang memisahkan kita. Dan kini, takdir pula yang mempertemukan kita,” ucapnya dalam.

Taeyeon menghapus air matanya. Dia mengangguk, lalu tersenyum. “Kau benar.”

“Taeyeon…” yesung meraih tangan taeyeon, dan menggenggamnya erat, “ayo kita pergi bersama, pergi dari kota ini, dan memulai hidup baru yang bahagia,” matanya menatap mata hazel taeyeon lekat-lekat.

Taeyeon perlahan melepaskan genggaman tangan Yesung. Matanya menatap sedih. “Maaf, Yesung. Aku tidak bisa.”

Mata Yesung melebar. “Kenapa? Bukannya kau ingin pergi bersamaku?”

“Kau terlambat. Aku sudah bertunangan dengan seorang pria dan akan menikah dua hari lagi.”

Yesung bak tersambar petir. Matanya memerah, marah, kecewa. “Apa kau mencintai orang itu?”

Taeyeon diam seribu bahasa selama sepersekian detik. Dia enggan menatap langsung mata yesung. “Dia mencintaiku,” gumamnya.

Tatapan yesung melemah. Dia tahu dirinya tidak mungkin memaksa kehendak taeyeon. Seperti yang dikatakannya tadi, ‘takdir yang memisahkan, takdir pula yang mempertemukan mereka’. Sekarang takdir benar-benar memisahkan mereka. Hatinya benar-benar kecewa. Namun, dia senang karena masih bisa bertemu dengan taeyeon. Penantiannya selama ini tidak sia-sia.

“Yesung,” taeyeon meraih tangan lelaki itu, lalu meletakkan kalung yang dikenalnya di atas telapak tangannya. “Ini kalung yang kau titipkan padaku,” lanjutnya.

Tapi yesung melakukan hal yang sebaliknya, mengembalikan kalung itu. “Tidak, taeyeon. Kalung ini sudah jadi milikmu. Simpanlah!”

Sebelum taeyeon berkomentar lagi, yesung bangkit berdiri, diikuti taeyeon kemudian.

Lelaki bermata onyx itu menatap taeyeon. “Ini hari yang luar biasa. Penantian panjangku selama ini akhirnya terwujud, aku bisa menemukanmu, taeyeon,” dia tersenyum. “Selamat untuk pernikahanmu! Selamat tinggal!” katanya sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi menjauh.

“Yesung,” teriak Sakura. “Apa kita masih bisa bertemu lagi?”

“Mungkin,” jawabnya tanpa menoleh pada taeyeon. “Aku selalu di jembatan Rialto, memandang matahari terbenam.”

Sama seperti malam bulan purnama 10 tahun yang lalu, Taeyeon hanya bisa menatap punggung Yesung sampai dia benar-benar menghilang dari pandangan.

‘Yesung, maafkan aku…’

Taeyeon melangkah tanpa semangat menuju Stasiun Santa Lucia. Entah dia harus merasa senang atau sedih setelah bertemu Yesung. Setelah dipikir-pikir, mungkin sebaiknya dia tidak bertemu dengan teman masa kecilnya itu. Dengan begitu Yesung tidak perlu kecewa, dan dia pun tidak perlu merasa serba tidak enak seperti saat itu.

“Ah! Nona Taeyeon!” pria tinggi dengan wajah yang dihiasi cambang tipis menghampirinya. Mimiknya nampak sangat khawatir. “Saya mencemaskan, Anda.”

Taeyeon memasang wajah menyesal. Dia sama sekali lupa dengan janjinya soal 30 menit itu. “Maaf, aku lupa waktu,” gumamnya penuh sesal.

“Tuan sangat khawatir sampai menghubungi polisi untuk mencari Nona.” Dia menunjuk seorang pria yang sedang sibuk bicara di telepon di sebelah sana, pria dengan pakaian berkelas, rambut hitamnya ditata rapi dengan poni miring.

Taeyeon segera menghampiri pria itu, dan merebut telepon genggamnya tanpa aba-aba. “Jangan berlebihan, leeteuk!” gumam taeyeon. “Aku sudah di sini,” tangannya merentang, memperlihatkan dirinya sejelas-jelasnya.

“Astaga, taeyeon!” Pria itu langsung memeluknya. “Kau membuatku cemas setengah mati.”

Taeyeon tertawa kecil, lalu menatapnya menyesal begitu pria bernama leeteuk itu melepaskan pelukannya. “Venice terlalu indah sampai-sampai membuatku lupa waktu.”

Leeteuk membelai pipi taeyeon. “Itulah alasannya aku memilih tempat ini sebagai saksi pernikahan kita.”

Gadis berambut coklat itu tersenyum, berusaha terlihat seperti bukan senyum yang dipaksakan. “Terima kasih,” gumamnya. Seharusnya dia bahagia dengan pernikahan itu. Tapi hatinya berkata lain. Bukan ini yang seharusnya dialaminya. Wajah yesung terus berputar di kepalanya.

“Oh, ada apa dengan sepatumu?” tanya leeteuk saat matanya menangkap kaki telanjang taeyeon, sepatu yang seharusnya menopang kaki itu malah menggantung di tangan calon istrinya.

“Sepatu ini membuatku terlalu lelah untuk menjelajahi seluk-beluk kota ini, jadi kulepas saja,” taeyeon mengarang alasan.

Leeteuk tersenyum. “Kau harus mencoba gondolanya. Besok aku akan menemanimu seharian melihat-lihat kota cantik ini. Kau mau?”

“Tentu saja!”

“Kalau kau lelah, aku bisa jadi tumpanganmu,” lanjutnya disertai tawa kecil.

Melihat wajah ceria leeteuk, taeyeon semakin tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin takdir sudah menetapkan bahwa pria itu yang akan menjadi pendamping hidupnya, bukan yesung. Meskipun tak pernah ada cinta yang dirasakannya untuk Ieeteuk, namun taeyeon cukup bahagia karena leeteuk sangat mencintainya. Dan itulah yang membuatnya tak kuasa meninggalkan lelaki yang sudah mengadopsinya itu.

Venice Love story

Malam itu malam bulan purnama, persis seperti 10 tahun yang lalu. Sakura tak bisa menepis kenangan itu.

Setelah makan malam di restoran hotel tempat mereka menginap, rupanya leeteu mengubah rencana. Dia mengajak taeyeon enikmati suasana romantis Kota Venice dari atas gondola. Tentu saja taeyeon tidak menolak. Dia ingin semuanya berjalan normal, seolah dia tak bertemu yesung siang tadi, seolah yesung tidak pernah ada dalam hidupnya.

“Kau tahu, taeyeon,” leeteuk mulai bicara, setelah mereka menaiki salah satu gondola yang berpelitur hitam mengkilap, “kota ini dulunya hanyalah endapan lumpur yang terbawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke laut.”

“Wow! Aku belum pernah mendengar sejarah kota ini sebelumnya.”

“Dulu tempat ini diapit oleh laguna yang menjadi lalu lintas perdagangan bangsa-bangsa Eropa. Saat terjadi penyerbuan orang barbar terhadap penduduk di pemukiman utama, mereka mengungsi ke tempat ini. Kemudian membangun rumah-rumah dan bangunan megah di sini. Bersamaan dengan berbagai pergolakan yang memperebutkan wilayah ini, akhirnya Venice menjadi bagian dari Italia.

“Semua bangunan indah ini adalah warisan dari arsitektur Imperium Bizantium. Luar biasa bukan? Makanya kota ini dijuluki dengan ‘La Serenissimo’, Kota Termegah,” ucapnya penuh kekaguman.

Taeyeon menatapnya bangga. “Kau tahu banyak tentang kota ini.”

Leeteuk tersenyum. “Aku terlanjur jatuh cinta pada kota ini. Jangan cemburu, taeyeon!” guraunya, lantas tertawa kecil.

“Kita sampai di Grand Canal,” ucapnya sambil menatap jembatan besar di depan mereka. Pandangannya kembali pada Sakura. “Kau ingat pertemuan kita di Rialto Bridge?”

Senyum taeyeon mengembang. “Mana mungkin aku lupa,” ucapnya.

Taeyeon masih mengingat jelas pertemuannya dengan lelaki tampan itu. Di saat dia hampir putus asa menanti kedatangan yesung di atas Rialto Bridge, Itachi datang. Saat itu taeyeon tengah menangis, leeteuk menghapus air matanya, dan menghiburnya. Dia menanyakan di mana taeyeon tinggal. Tapi begitu tahu taeyeon tinggal di panti asuhan, besoknya dia datang dan meminta pada pengurus panti untuk mengadopsinya.

“Sampai sekarang kau tidak memberitahukanku apa penyebabmu menangis saat itu,” leeteuk membuyarkan lamunannya.

“Itu…” pikiran taeyeon mengambang, “aku sudah lupa,” jawabnya sekenanya.

Leeteuk menatapnya dalam diam selama sepersekian detik, lalu ikut tersenyum. “Wajar saja, itu sudah lama sekali.”

Lelaki itu kemudian merogoh saku jasnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berukuran kecil berwarna hitam. Begitu membuka tutupnya, nampaklah sebuah kalung berantai perak dengan sebuah bandul yang menyerupai berlian biru.

“Sebenarnya kalung ini akan kuhadiahkan padamu setelah upacara pernikahan selesai, tapi aku sudah tidak sabar lagi memakaikannya di lehermu,” ucap leeteuk.

“Indah sekali,” komentar taeyeon. Dia membiarkan leeteuk melingkarkannya di lehernya. Sepintas saja dia ingat pada kalung pemberian yesung. Kalung itu sama persis dengan kalung yang melingkar di lehernya sekarang. Apa itu hanya kebetulan?

“Memang cocok sekali untukmu,” ucap leeteuk, yang terlihat puas sekali memandang Sakura dengan kalung pemberiannya. “Itu adalah kalung yang khusus dipesan dari Pulau Murano, hanya dipakai oleh wanita-wanita Kim. Dan sebentar lagi kau menjadi wanita Kim.”

Hanya dipakai oleh wanita Kim, keluarga besar leeteuk. Lalu mengapa Yesung memilikinya? Semua itu terus berputar di kepala Sakura. Saat memberikannya, Sasuke tidak bilang dari mana dia mendapatkan kalung itu. Jadi apa hubungannya yesung dengan kim?

“Taeyeon,” leeteuk membuyarkan lamunannya.

“Hn?”

“Pernah dengar soal cinta abadi di bawah Rialto Bridge?”

Taeyeon menggeleng. Dia memang besar di kota itu, tapi tidak pernah tahu hal-hal macam itu di tengah kehidupannya yang bisa dibilang kurang beruntung.

Pandangan leeteuk dialihkan pada jembatan besar itu. “Ada yang bilang, bahwa sepasang kekasih akan mendapatkan cinta abadi,” perhatiannya kembali pada taeyeon, “jika mereka berciuman di bawah Rialto Bridge.”

“Kau percaya itu?”

“Aku tidak pernah percaya pada mitos. Tapi aku selalu punya keinginan, suatu saat akan mencium seseorang yang kucintai di Venice.”

Taeyeon menjatuhkan diri dalam dada bidangnya, dan memeluknya. “Mungkin kau akan mendapatkannya.”

Leeteuk membelai lembut rambut Sakura. Suasananya benar-benar romantis saat itu. Suara musik klasik terdengar pelan dan mendayu-dayu, sedikit tertutupi oleh suara kecipak air dari gondola yang melintas. Terlebih lagi hanya ada beberapa gondola di kanal besar itu, jaraknya pun berjauhan.

Mungkin leeteuk sudah mencium taeyeon, jika telepon genggamnya tidak berdering. Wajahnya nampak sedikit kecewa saat itu. Tapi mimiknya kembali normal setelah pembicaraan dengan orang di telepon itu selesai.

“Ayah,” katanya pada taeyeon yang menatapnya penasaran. “Ini soal pernikahan kita esok lusa.”

“Apa semua baik-baik saja?”

“Ya. Tapi kita harus kembali ke hotel. Ada yang perlu ayah katakan.”

Gondola merapat ke tepi kanal setelah Itachi meminta pengayuh untuk menepi.

“Leeteuk,” kata taeyeon yang masih duduk di atas gondola, sementara Itachi sudah melompat turun, “bolehkah aku di sini dulu? Aku masih ingin menikmati pemandangan ini.”

Leeteuk melempar senyum. “Tentu saja,” jawabnya. “Tapi jangan kembali terlalu malam ya!” katanya sebelum melangkah pergi.

“Anda ingin berputar kembali ke rute awal, Nona?” tanya si pengayuh.

“Aku mau turun saja.” Taeyeon lalu bangkit, dan bersiap melangkah ke daratan.

“Tunggu, taeyeon!”

Suara yang dikenalnya membatalkan langkahnya. Pemuda berambut hitam dengan pakaian lusuh menaiki gondola itu.

“Yesung…”

Gondola kembali ke tengah dan mulai lagi menyusuri kanal setelah yesung memintanya pada si tukang kayuh.

“Kukira kau tidak mau menemuiku lagi,” ucap taeyeon.

Yesung menatapnya dalam. “Aku sungguh menyesal karena tidak bisa datang menemuimu waktu itu.”

Taeyeon mengangguk. “Iya, aku mengerti. Aku juga menyesal atas semua yang telah terjadi. Tapi kita tidak bisa memutar waktu. Aku tidak pernah bisa mengejarmu, yesung”

“Sudahlah,” ucap yesung. “Aku maupun kau, atau siapa saja di dunia ini, tidak bisa menentang takdir.”

Kemudian mata onyx-nya menangkap benda yang melingkar di leher taeyeon. “Kau memakainya?” tanyanya. Sepertinya dia mengira kalung itu adalah kalung yang diberikannya.

Taeyeon menggenggam bandul kalung barunya. “Ini pemberian calon suamiku,” gumamnya. “Yesung, kalung yang kau berikan padaku, dari mana kau mendapatkannya?” dia menatap lelaki yang duduk di sebelahnya dengan tatapan menuntut jawaban.

“Aku… mencurinya,” jawab yesung setelah diam beberapa saat.

“Benarkah?” Taeyeon agaknya tidak percaya, karena yesung tidak menatapnya saat menjawab.

“Sudahlah! Aku datang bukan untuk membahas kalung itu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

“Apa itu?”

Mata onyx yesung menatap lekat mata hazel taeyeon. “Apa kau mencintaiku?”

“Aku…” tatapan taeyeon beralih.

Taeyeon berusaha menahan air matanya, wajahnya tertunduk. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak ingin memberikan harapan pada yesung, juga tidak ingin mengkhianati leeteuk yang selama ini sudah berbuat banyak untuknya.

“Kenapa kau tidak mau menjawabnya?” Sasuke mengangkat wajah Sakura. “Tatap aku, Sakura!”

Gadis berambut coklat itu tak kuasa lagi menahan tangisnya. Air mengalir dari pelupuk matanya, meluncur di pipinya. Yesung menghapus air matanya. Kemudian menciumnya, tepat saat gondola mereka melintas di bawah Rialto Bridge.

Everlasting love, cinta abadi, apakah mereka akan mendapatkannya?

“Ya, aku mencintaimu,” gumam taeyeon, kemudian memeluk yesung erat, tidak ingin melepasnya. Air matanya masih mengalir, bahkan lebih deras. Hangatnya tubuh yesung membuat gemetar tubuhnya mereda. Tangisannya yang menjadi-jadi perlahan surut.

Taeyeon baru melepaskan Sasuke saat gondola merapat ke tepi kanal. “Maafkan aku,” katanya, dia mengecup bibir yesung sekali lagi, kemudian melompat turun dari gondola, dan berlari menjauh.

Yesung hanya bisa menatap punggungnya yang semakin jauh, seperti yang biasa taeyeon lakukan saat menatap kepergiannya.

~Venice’mansa~

Pagi yang cerah, langit biru dengan awan cumulus menggantung indah bak lukisan, angin bertiup tidak juga terlalu kencang.

Taeyeon melewatkan sarapan bersama Itachi di kafe terbuka di Piazza San Marco, sebuah alun-alun besar yang diapit oleh bangunan-bangunan megah dan mewah, yang menjadi salah satu simbol keindahan Kota Venice. Mereka menyantap menu ringan: beberapa potong croissant dan segelas cappuccino.

Suasana di tempat itu sungguh luar biasa. Makan dengan beratapkan langit, hiruk-pikuk orang-orang yang berkumpul di sana, serta suara burung-burung merpati kelabu yang bertebaran di lapangan menjadi nilai tambah untuk sebuah kota antik seperti Venice.

Hal itu membantu taeyeon melupakan kejadian tadi malam. Dia memutuskan untuk memulai hidup baru dengan leeteuk. Meskipun harus mengorbankan perasaannya, dia siap menikah dengan lelaki itu. Inilah takdir. Yesung adalah masa lalu.

Taeyeon mengelap bibirnya dengan cara wanita bangsawan menggunakan sehelai kain putih yang disediakan di atas meja.

“Kau ingin bermain dengan merpati?” tanya leeteuk kemudian.

“Tapi aku belum pernah melakukannya,” ucap taeyeon malu-malu.

“Tidak perlu ragu!”

Leeteuk bangkit dari duduknya, dan menarik taeyeon ke tengah alun-alun. Dia membeli sekantung kecil jagung pipilan untuk menarik perhatian si merpati.

“Kemarilah!” Leeteuk berjongkok, yang diikuti taeyeon. “Kemarikan tanganmu, buka telapaknya,” dia menginstruksikan.

Saat taeyeon membuka telapak tangannya, leeteuk menebar biji-biji jagung itu di atasnya. Tidak sampai 10 detik saja, merpati berdatangan mendekati taeyeon, dan mematuk-matuk biji jagung di tangan taeyeon.Senyum taeyeon terukir di wajah cantiknya. “Hebat!” serunya girang.

Leeteuk tertawa kecil. “Kelihatannya mereka menyukaimu, taeyeon! Bahkan merpati menyukai gadis cantik,” ucapnya gombal.

Nampak senyum tersipu di wajah taeyeon.

Setelah puas bermain-main dengan merpati, mereka menjelajahi Basillica San Marco, yang letaknya di sebelah selatan Piazza San Marco itu.

Basillica merupakan bangunan gereja yang bentuknya seperti masjid besar, bergaya ala arsitektur Bizantium, Romawi, dan Ghotic. Catnya berwarna putih dengan kubah-kubah yang seolah dilapisi berlian.

Begitu taeyeon dan leeteuk melewati pintu masuk, mereka dapat melihat lukisan mural dan ornamen indah di sepanjang dinding, langit-langitnya berbentuk kubah. Sungguh arsitektur luar biasa yang hanya bisa mereka lihat di Venice.

Sayangnya, mereka tidak bisa berlama-lama menjelajah bangunan itu. Mereka harus mencari kostum dan topeng, untuk festival topeng yang akan dihelat siang nanti.

Setelah menjelajahi berbagai toko souvenir, taeyeon mendapatkan kostum yang indah untuknya. Sebuah gaun ala wanita Eropa abad pertengahan, dengan korset menyesakkan dada dan rok mengembung dengan ujung yang penjuntai panjang, warnanya kuning keemasan, di setiap tepinya dihiasi dengan renda putih nan cantik.

Dengan rambut coklatnya yang dibuat keriting menggantung seperti tatanan rambut wanita Prancis, taeyeon siap dengan gaunnya. Salah satu tangannya memegang topeng gypsum berwarna keemasan, dan tangannya yang satu lagi menggandeng lengan leeteuk. Mereka seperti pasangan raja dan ratu Venice sekarang!

Melangkah penuh percaya diri, juga anggun dan berkelas, mereka bergabung dengan orang-orang bertopeng lain yang telah memenuhi alun-alun Piazza San Marco. Musik telah diputar, acara berdansa pun dimulai.

Semua peserta berdansa berpasangan–masih dengan wajah tertutup topeng. Mereka berputar dengan anggun, bertukar pasangan bergantian, hingga kembali pada pasangan awalnya masing-masing.

Taeyeon sangat menikmati pesta dansa itu. Berputar seolah tanpa beban, hingga tak sadar pasangannya kali ini membawanya menjauh dari kerumunan peserta. Orang itu lalu menarik tangan taeyeon, pergi menjauhi Piazza San Marco.

“Lepaskan aku!” pekiknya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman orang itu. “Lepaskan! Apa yang kau—yesung?!” matanya melebar begitu orang itu melepas topengnya.

“Ya. Ini aku, taeyeon.”

“Kenapa kau di sini? Dan kenapa—”

“Ayo kita pergi bersama, taeyeon!”

Taeyeon berdiri terpaku. “Kau tahu aku tidak bisa.”

“Kau bisa! Kita bisa!” Yesung bersikeras. “Kita memang tidak pernah bisa menentang takdir. Untuk itu, aku akan mengubahnya.”

Gadis di hadapannya mulai menangis.

“Taeyeon,” yesung menggenggam tangannya, “kita saling mencintai. Apa salahnya jika kita berusaha meraih kebahagiaan kita?”

“Ya. Tidak ada salahnya,” ucap seseorang yang kedatangannya sama sekali tidak disadari yesung maupun taeyeon. Perhatian mereka pun tertuju pada orang yang berucap tadi, seorang lelaki berambut hitam yang ditata rapi dengan poni miring.

“Leeteuk…” gumam taeyeon, matanya terbelalak. Dia buru-buru menghampiri lelaki itu. “Ini sama sekali tidak seperti yang kau lihat,” katanya, berusaha membela diri.

Leeteuk menghela napas. “Persis seperti dugaanku.” Dia lalu menatap taeyeon penuh pengertian. “Kau sudah menemukan cintamu, taeyeon, di kota ini, Venice, kota yang membuatku jatuh cinta. Tapi juga di luar dugaanku, orang itu adalah adikku.” Mata onyx-nya kemudian beralih pada yesung.

Taeyeon tak mengerti dengan ucapan yang baru saja didengarnya. Dia menatap leeteuk dan yesung bergantian. “Apa maksudnya ini? Adik? Siapa—”

“Dia kakakku,” gumam yesung akhirnya.

Taeyeon melemparkan pandangan bingung padanya. “Kau tidak punya orang tua, yesung. Kau tinggal denganku di panti asuhan!”

“Aku bukan yatim piatu. Aku kabur dari rumah,” yesung mengaku. Matanya kemudian beralih pada leeteuk. “Aku punya prinsip hidup yang tidak sesuai dengan keluargaku. Matanya kemudian beralih pada leeteuk. “Aku punya prinsip hidup yang tidak sesuai dengan keluargaku. Lagi pula mereka tidak membutuhkan diriku.”

“Kau salah, yesung!” sahut leeteuk. “Ayah dan ibu, juga aku, sangat menyayangimu. Kami mencarimu semenjak kau meninggalkan rumah. Tapi akhirnya kami putus asa karena tidak juga menemukanmu. Kemudian aku bertemu gadis kecil malang yang sedang menangis di atas Rialto Bridge.”

Yesung ingat cerita itu, taeyeon sudah menceritakan padanya, soal bagaimana dia diadopsi oleh seorang ‘tuan baik hati’ dan dibawa ke Milan, menjauh dari kota itu, menjauh darinya.

Sementara itu, taeyeon masih berkutat dengan pikirannya. Kini dia tahu jawabannya mengapa yesung memiliki kalung yang sama dengan kalung pemberian leeteuk. Sudah tentu karena yesung memang berasal dari keluarga Kim. Kalung itu mungkin milik ibunya, atau kakak perempuan jika dia punya.

Setelah diperhatikan, yesung dan leeteuk memang mirip, rambut mereka sama hitam, kulit mereka sama pucat, dan mereka sama-sama memiliki mata onyx setajam sorot mata elang. Taeyeon tidak menyadari itu sampai kakak-beradik itu berdiri di satu tempat yang sama, dalam waktu yang sama.

Namun masih sulit baginya menerima kenyataan bahwa yesung dan leeteuk adalah kakak-beradik, sulit menerima bahwa lelaki yang selalu dinantinya adalah adik dari tuan baik hati yang telah mengadopsinya–yang satu hari lagi menjadi suaminya.

“Taeyeon,” leeteuk membuyarkan lamunannya. “Apa kau mencintai yesung?”

Lidah taeyeon terasa kaku. “Aku…” dia tidak sanggup menatap langsung mata onyx itu.

“Kau tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu jawabannya,” leeteuk melanjutkan, membuat taeyeon terperangah. “Aku juga ingin mengakui sesuatu.” Matanya memandang taeyeon lekat-lekat. “Aku tahu sejak dulu, bahwa kau tidak pernah mencintaiku. Kau menanti seseorang, orang yang kau cintai. Itu juga alasan kau menangis di sana saat kita bertemu 10 tahun yang lalu, iya kan?”

Taeyeon tidak mau menjawab, dia juga tidak mau menatap leeteuk.

“Makanya kuputuskan untuk merencanakan pernikahan ini di Venice,” leeteuk melanjutkan tanpa menunggu jawaban Sakura. “Kuberi waktu dua hari sebelum hari pernikahan, untukmu menemukan lelaki itu. Jika kau tidak menemukannya, maka aku yang akan menggantikan posisinya di sisimu.”

Akhirnya taeyeon memberanikan diri menatap wajahnya. “Aku akan menikah denganmu,” ucapnya mantap, tidak terlihat keraguan sedikitpun dari raut wajahnya. “Sudah banyak yang kau lakukan untukku. Dan pernikahan ini adalah impianmu. Aku tidak ingin menghancurkannya.”

Leeteuk menggeleng pelan. Dia menyentuh dengan lembut kedua pipi taeyeon, dan menatap mata hazel itu lekat-lekat. “Impianku adalah melihatmu bahagia,” ucapnya dalam. “Dan kini, kau sudah menemukan kebahagiaanmu, taeyeon, bukan aku, tapi yesung.”

Sang adik tak bisa berbuat apa-apa. Dia pun tidak menyangka akan kembali bertemu dengan kakaknya, dalam situasi seperti ini, terjebak dalam cinta segitiga.

“Hidup bahagialah dengan yesung,” lanjutnya.

Air mata taeyeon bergulir. “Tapi kau mencintaiku,” ucapnya lirih.

“Cinta tidak harus memiliki,” timpal leeteuk. “Kita sering dengar kalimat itu kan?” dia lantas tertawa kecil, tawa garing.

Taeyeon tidak kuat lagi, tangisnya pecah. Dia menghambur dalam pelukan leeteuk. Perasaan serba salah itu masih menghantuinya. Dari lubuk hatinya, dia ingin pergi bersama yesung. Tapi dia tak sanggup melakukan itu karena tidak ingin mengkhianati leeteuk yang sudah terlanjur begitu mencintainya. Namun beberapa menit yang lalu, lelaki itu melontarkan pernyataan bahwa dia merelakan perasaannya demi kebahagiaan taeyeon. Dia tuan baik hati yang terlalu baik untuk disakiti.

Yesung pun terlihat merasa serba salah. “Hyung, kau—”

“Aku ingin membayar kesalahanku,” ucap leeteuk. “Dulu aku membawanya menjauh darimu. Sekarang aku membawanya kembali padamu.”

Taeyeon melepaskan pelukannya, dan menatap mata onyx milik leeteuk. “Maafkan aku. Dan terima kasih banyak.” Dia mengecup lembut pipi lelaki itu, sementara tangannya menaruh kalung–yang diberikan leeteuk semalam–dalam genggamannya. Kemudian dia beranjak bersama yesung.

“Terima kasih,” ucap yesung, hanya itu yang bisa diucapkannya, sebelum menggandeng tangan taeyeon, kemudian beranjak menuju waterbus di tepi kanal.

“Yesung,” leeteuk mencegah. “Pernikahan besok, bisakah pernikahan itu menjadi pernikahanmu dengan taeyeon?”

Yesung dan taeyeon saling bertukar pandang. Kemudian lelaki itu menatap mata onyx yang sama, milik kakaknya. “Aku punya pilihan hidupku sendiri. Bersama taeyeon, aku akan menikah dan tinggal jauh dari kota ini,” katanya.

Leeteuk tak bisa berkata apa-apa lagi. Dari dulu, adiknya memang selalu punya pandangan sendiri, dan tidak suka dunianya diusik oleh orang lain, kendati pun oleh kakaknya sendiri. Itu pulalah salah satu alasan yang diyakini leeteuk sebagai penyebab perginya yesung dari keluarga mereka.

Yesung dan taeyeon telah menaiki salah satu waterbus. Setelah mulai menjauh, taeyeon menoleh leeteuk, lelaki itu masih memasang senyumnya, senyum tuan baik hati yang tidak akan pernah dia lupakan.

Leeteuk merasa lega. Meskipun keputusan ini mengorbankan perasaannya, itu tak menjadi masalah untuknya. Dia telah bertekad untuk membahagiakan taeyeon. Dengan itu pula, kesalahannya pada yesung dapat ditebus. Dia memang tidak pernah bisa menyakiti adiknya, bagaimanapun caranya.

Kini leeteuk hanya bisa menatap kepergian mereka, pergi dari kota yang membuatnya jatuh cinta… Venice.

♥♡♥♡♥♡Venice Love Story♡♥♡♥♡♥

~~~END~~~

Gimana ff nya? Kepanjangan ya? Wah…. Maaf yah. Jadinya males baca ff ini seoalnya kepanjangan hehehe😀

Moga suka ya?
Mind to coment?

10 comments

  1. siwi · February 21, 2013

    keren abiz…
    tapi…
    kenapa ada sakura,sasuke dan itachi dalam ff ini…
    aku jadi bingung..!!!o_o

  2. deewookyu · February 26, 2013

    hooohh………………..

  3. AZcool · March 1, 2013

    daebak

  4. exotaeyeon · March 2, 2013

    just one word… daebak

  5. lasmisparkyu · March 26, 2013

    ff’a bangus banget…
    bayangin semuanya,,romantis bgt🙂
    lox bs d buat sequel married life na… kkk~

  6. Soojin Dae · April 11, 2013

    Ini fanfic nya naruto ? Aku gatau ini copas atau apa ? Kalo copas diperhati’in dulu ya kakak🙂 .. Jangan asal🙂 .. Aku tau versi aslinya🙂

  7. yura · April 21, 2013

    Eh min.. Kenapa ada sakura, itachi sama sasuke?

    ???

  8. 3424 · May 11, 2013

    miin,bagus ceritanya,happy endingnya dappet banget!!min,klg dibuat chapter bagus tu???ditunggu ya!!!

  9. putriiiiii · May 23, 2013

    aku suka sama ceritanya…..lagi dong thor…..^_^

  10. chaseorin17 · July 15, 2013

    speechless…

    ceritanya romantis berat! feelnya dapet! endingnya ngga terduga dan yang jelas happy ending!

    aku suka banget sama ceritanya. keren!

    keep writing ^^

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s