Just Pain

            Title                 : Just Pain

            Author           : Ssiskha

            Cast                 : Lee Seungyub [A-JAX]

                                      : Shin Ri Young [OC]

            Length             : Ficlet

            Rating             : General

          Cuap-cuap      : Ini cuma ficlet numpang lewat karena author udah kangen banget sama nulis tapi sayang tugas kuliah tidak mengizinkan.

tumblr_mdroazo3S61rgdefxo1_1280

Riyoung melangkah ragu, berusaha bersikap setenang mungkin. Ia mengangkat dagunya lagi, ingin memberikan kesan bahwa ia menerima semua ini, menerima hari ini. Datang dengan penuh keikhlasan. Selama ini ia selalu pintar menyembunyikan, tentu kali ini pun akan semudah sebelum-sebelumnya. Tanpa ia sadari ia semakin erat memeluk lengan Hana, kakaknya. Hana menoleh sekilas namun tidak berkata apa-apa. Ia tahu yang Riyoung rasakan dan tahu apa yang disembunyikan gadis itu. Mungkin Riyoung bisa membohongi siapa saja, tapi tidak dengan dirinya. Ia terlalu mengenal gadis itu.

            Riyoung melangkah angkuh. Angkuh, ia memang angkuh. Bahkan Seungyub pun mengakuinya. Seungyub mengatakan bahwa ia begitu angkuh dan tak tersentuh. Riyoung tidak membantah namun tidak juga mengiyakan. Tiba-tiba kenangan hari itu terulang lagi. Seperti kaset lama yang terputar ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan Seungyub saat itu, mendengar semua kalimat perpisahan yang keluar dari bibir Seungyub.  Ia juga ingat bahwa ia tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan.

            “Aku tidak sanggup lagi.” Seungyub menghela napas, mengusap pelipis kanan dan tampak  berpikir. Ia takut menyakiti perasaan gadis yang saat ini duduk di hadapannya. Gadis yang tidak akan pernah mau menunjukkan air matanya. “Kau semakin jauh.” Diam. lagi. Riyoung bahkan tidak memberikan reaksi. “Kau semakin tidak tersentuh. Aku takut, aku takut semakin jauh hubungan ini semakin jauh pula kita.” Seungyub menghela napas putus asa. Ia tahu tindakannya begitu pengecut. Dulu ia yang berjanji pada Riyoung akan selalu berusaha tapi nyatanya ia lah yang menyerah. Menyerah pada Riyoung.

            Seungyub melirik Riyoung yang belum memberikan reaksi apa-apa. Hal ini sudah diprediksinya. Gadis itu bukan pemberi reaksi yang baik. Ia selalu menyembunyikannya. Ia lelah dengan semua yang disembunyikan gadis itu. Riyoung mengangkat kepala, menatap Seungyub. Justru Seungyub yang takut melihat tatapan Riyoung. Ia benar-benar tidak bisa masuk ke dalam dunia Riyoung. Gadis itu sudah terperosok terlalu dalam pada masa lalunya.

            Riyoung mengangguk, masih menatap Seungyub. Seungyub menatap Riyoung tanpa kedip. Tiba-tiba air matanya jatuh. Ia sudah bisa menduga jawaban Riyoung tapi tetap berharap gadis itu mau menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Tapi tidak. Shin Riyoung tidak akan pernah membiarkan orang lain masuk dalam zonanya, bahkan pada laki-laki yang telah tiga tahun menjadi kekasihnya. Tiga tahun masih belum cukup bagi Riyoung menyembuhkan lukanya. “Gadis itu, gadis itu benar-benar tidak akan tersentuh.” gumam Seungyub.

            Melihat Seungyub menangis Riyoung membuang muka. “Apa kau tidak pernah mencintaiku?” Tanya Seungyub sambil menggenggam tangan Riyoung, memaksa gadis itu untuk menatapnya.

            Riyoung mengernyit. Pertanyaan bodoh. Jelas ia mencintai Seungyub. Tapi ia bisa apa jika Seungyub meminta berpisah. Ia tidak pernah mau memperjuangkan apa-apa. Termasuk hubungan ini.

            “Kau begitu angkuh dan tidak tersentuh. Bisakah sedikit saja kau menunjukkan kelemahamu di hadapanku? Bisakah sekali saja kau tidak menyembunyikan perasaanmu. Aku ini kekasihmu. Kau bisa bercerita apa saja padaku. Kau bisa berbagi bebanmu padaku. Tapi apa yang kau lakukan. Kau hanya diam. Kau selalu menyembunyikannya. Selama ini aku selalu berusaha. tapi sekarang aku terlalu lelah, maaf.”

            Riyoung tersenyum. Shit! Seungyub mengumpat dalam hati. Ia benci saat gadis itu tersenyum disaat dimana seharusnya ia menangis. Ia terlihat kuat namun sangat rapuh. Ia sangat berharap gadis berlesung pipi itu mau mengatakan jangan pergi, meski hanya sekali dalam hidupnya. Ia mencintai gadis ini, masih mencintainya tapi gadis itu membuatnya tidak tahu bagaimana cara memperlakukannya.

            “Aku mencintaimu, masih mencintaimu.” Tiba-tiba Seungyub seolah mendapat pencerahan saat mendengar jawaban Riyoung. Apakah Riyoung akan melarangnya. “Tapi aku tidak suka beralasan. Kalau memang ingin berpisah, berpisah saja.” Lagi-lagi Riyoung tersenyum. Seungyub mulai merasa bahwa selama ini Ia berpacaran dengan pembunuh berdarah dingin.

            “Aku selalu berusaha—”

            “Tidak apa-apa, terima kasih. Mungkin aku saja yang kurang berbesar hati.

            Pernikahan ini, mungkin yang tebaik.

            Riyoung bisa merasakan tatapan tidak bersahabat dari orang itu. Jaehyung dan Hyeongkon. Ia tidak terlalu mengenal kedua laki-laki itu. Ia hanya tahu mereka adalah teman baik dari gadis yang hari ini akan mengikat janji suci dengan Seungyub, mantan kekasihnya. Mungkin mereka khawatir Riyoung akan merusak pernikahan temannya.

            Jaehyung menatap Riyoung tajam. Riyoung yang dari luar tampak begitu angkuh selalu bisa membuat orang membencinya pada pandangan pertama. Namun ia tidak pernah peduli, ia tidak pernah peduli pada pikiran orang-orang yang tidak dikenalnya.

            Hana menariknya untuk duduk. Riyoung hanya menurut. Melakukan gerakan anggun dengan tatapan angkuh. Ia melihat Seungyub duduk sendirian di depan altar, menunggu tambatan hatinya. Seungyub menoleh. Seperti gerak lambat mata mereka saling beradu seolah saling berbicara. Riyoung yang terlebih dahulu membuang muka.

            Setelah perpisahan itu, enam bulan kemudian Seungyub mengantarkannya undangan pernikahan. Sama seperti sebelumnya, tidak memberikan banyak reaksi dan hanya tersenyum sambil berjanji akan datang. Hanya itu. Ia tidak tahu akan secepat itu Seungyub melupakannya, atau mungkin sudah sejak lama Seungyub ingin melupakannya. Ia belum bisa melupakan Seungyub, Ia juga belum bisa melupakan masa lalunya. Semuanya terlalu sulit untuk dilupakan tapi ia selalu tidak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya.

            Seungyub masih menatap Riyoung. Ia masik menyimpan harapan pada gadis itu. Tapi ia tidak akan bisa meraih gadis itu kalau bukan gadis itu yang datang padanya. Gadis berlesung pipi yang tidak pernah menangis di hadapannya itu kini hanya boleh ia kenang.

One comment

  1. reechullpetals · March 4, 2013

    rinyoung gue bgt.nth knp amat sangat sulit menunjukkan perasaan.sangt tabuh menunjukkan perasaan untk org lain.lebih suka menyimpnny sendiri

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s