The Boy Next Door

            Title                 : The Boy Next Door

            Author             : SSiskha

            Cast                   : Zelo [B.A.P]

                                       : Shin Eunsoo [OC]

            Length             : Ficlet

            Rating             : PG 13

            Cuap-cuap      : Ini juga ficlet numpang lewat sebelum ngerjain tugas pemograman objek diiringi The Only Exception Isa Raja & Coma B.A.P #Eaaaaak. Maaf aneh, maklum Cuma dua jam buatnya dan super duper ngebut. Ok, Bye…..

20130214_eyecandy_zelo

          “Noona.”

            Eun Soo masih sibuk dengan sketsanya, malas menanggapi laki-laki yang duduk di belakangnya, entah sedang melakukan apa. Ia terlalu sibuk untuk menanggapi panggilan laki-laki itu.

            “Noona,  kali ini laki-laki itu memanggil dengan suara yang lebih manja.

            “Hmmmb.” Hanya kata itu yang bisa Eunsoo ucapkan, ia berharap kata itu sudah cukup untuk membungkam mulut laki-laki itu.

            “Noona.” Rengek laki-laki itu. Lagi.

            Eunsoo menghapus, menarik garis, menghapusnya lagi.

            “Noona.” Laki-laki itu kini duduk di depan Eunsoo. Eunsoo masih sibuk dengan sketsanya.

            “Noona.” Kali ini rengekan laki-laki itu semakin mengganggu.

            “Ada apa Zelo?” Dengan kesal Eunsoo mengangkat kepala, akhirnya mau menoleh menatap Zelo.

            “Noona ingat kenalanku yang model itu?” Zelo melipat kedua tangannya dan menumpukannya di atas meja.

            Eunsoo memutar bola matanya, saat ini tugasnya tidak punya waktu untuk mengingat orang-orang yang dikenal oleh Zelo. “Kenapa?” Tanya Eunsoo malas, seolah ia sudah mengetahui siapa si model kenalan Zelo itu.

            “Kami sudah resmi berpacaran.”

            Eunsoo terdiam, menatap Zelo cukup lama. Tanpa sadar ia memberikan tatapan are-you-kidding-me –bit*h! pada Zelo. Zelo masih tersenyum penuh arti, menunggu reaksi Eunsoo yang selanjutnya. Eunsoo masih menatap Zelo, mengumpulkan ingatannya tentang si model kenalan Zelo yang kini telah resmi menjadi kekasih Zelo. Kapan Zelo bercerita padanya bahwa ia punya kenalan seorang model. Kapan Zelo bercerita padanya kalau ia sedang dekat dengan seorang model. Kapan Zelo bercerita bahwa ia menyukai seorang model. Kapan Zelo bercerita padanya kalau ia sedang berkencan dengan seorang model. Kapan Zelo menceritakan semua itu, kenapa sekarang tiba-tiba ia mendapatkan kabar bahwa Zelo sudah berpacaran dengan si model. Siapa model itu? Siapa?

                Oh, astaga. Tanpa sadar Eunsoo meremas kertas sketsanya. Ia mulai bisa mengingat hotpants yang dikenakan model itu, ia ingat high heels si model itu, ia ingat baju berleher rendah yang dikenakan si model itu. Ia ingat betapa tebalnya makeup yang menghiasi si model itu. Ia ingat betapa manjanya model itu terhadap Zelo. Ia ingat. Dan kali ini tanpa sadar Eunsoo menatap Zelo dengan tatapan are-you-sure-bit*h!

            “Aku sangat senang, noona.” Zelo tersenyum lebar dan memeluk lengan Eunsoo. Sedangkan Eunsoo merasa insting membunuhnya telah aktif.

             Sepi

            Tahukah kau bahwa aku kesepian?

            Tahukah kau bahwa aku kehilanganmu?

            Mungkin aku bukan kesepian, aku hanya belum terbiasa tanpamu.

            Zelo, apakah saat ini kau sedang bercumbu dengan model hotpants super pendek itu?

            Tidak, tidak. Aku bukannya menjudge model itu. Aku bukannya merendahkan pekerjaan model, aku bukannya berpikiran bahwa model adalah pekerjaan yang buruk, aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kehidupan model terlalu gelap, aku sama sekali tidak bermaksud berkata seperti itu. Hanya saja, hanya saja ia terlalu terbuka untukmu, ia terlalu agresif untukmu, ia terlalu liar untukmu. Aku tidak bisa merelakanmu.

            Eunsoo berhenti cukup lama di depan apartment Zelo. Ia menatap pintu itu nanar, berharap seorang laki-laki jangkung akan keluar dan berteriak ‘nuna’ dengan manjanya. Ia merindukan panggilan itu, ia merindukan laki-laki yang yang selalu memanggilnya seperti itu. Hanya Zelo yang mampu memanggilnya nuna dengan begitu indah. Ia merindukan, merindukan orang yang akan keluar dari balik pintu itu.

            Eunsoo masih terdiam, ia tahu perubahan pemandangan yang sedang ia lihat, hanya saja tiba-tiba otaknya seperti lumpuh. Ia bisa melihat dengan jelas, ia bisa menduga apa yang sedang terjadi namun terlalu takut hal itu adalah benar tapi ia terlalu takut membiarkan pikirannya memikirkan hal lain selain merindukan Zelo.

            Eunsoo bahkan tidak menoleh saat seseorang menepuk pundaknya, ibunya.

            “Noona.”

            Ahh, Eunsoo begitu merindukan panggilan itu. Panggilan nuna yang terdengar begitu manja. Tapi, tapi ia merasa sangat tidak nyaman dengan tangan yang melingkar tidak kalah manjanya dengan cara Zelo memanggilnya nuna di lengan Zelo. Dia, ahh dia. Eunsoo berhasil sadar.

            “Baru pulang kuliah?” Zelo melirik buku sketsa yang dipegang Eunsoo. Ia berniat menarik tangan Eunsoo dan memeluknya manja seperti yang selama ini ia lakukan. Secara spontan Eunsoo menjauhkan tangannya, merasa jijik dengan tangan itu. Bayangannya mulai meliar. Ia tidak tahu apa yang tadi dilakukan oleh Zelo dan kekasih modelnya di dalam kamar dan keluar dengan beberapa koper milik Zelo. Ia tahu Zelo tidak mungkin melakukan hal itu. Zelo dua tahun di bawahnya. Laki-laki itu masih semester empat. Eunsoo merasa sesak. Kali ini ia tidak ingin memikirkan apapun.

            “Zelo akan tinggal bersama Minah.” Suara ibu yang biasanya terdengar begitu menenangkan mendadak seperti teriakan para demonstran. Minah, oh. Eunsoo baru ingat kalau nama model hotpants super pendek itu adalah Minah.

            “Lebih baik kan kalau ada yang mengurus Zelo.” Ibu merangkul pundak Eunsoo, seolah Eunsoo mendukung tindakan Zelo tinggal bersama model hotpants super pendek itu. Diluar saja dia selalu mengenakan pakaian kekurangan bahan, bagaimana kalau di dalam rumah. Ia tidak yakin Zelo yang tidak akan melakukan apa yang tadi ia pikirkan.

            “Minah, kau harus menjadi kakak yang baik untuk Zelo.” Ibu mengusap rambut Minah lembut, Eunsoo malah mau menjambaknya, membotakinya kalau perlu.

            “Kakak?” Kata pertama yang keluar dari bibir Eunsoo.

            Zelo mengerlingkan matanya nakal pada Eunsoo. Zelo berbohong. Membohongi ibunya hanya untuk bisa tinggal bersama, lupakan nama model hotpants super pendek itu.

            “Iya, Minah ini kakak sepupu Zelo yang sengaja dibawa ibunya untuk menjaga Zelo. Karena rumah Minah lebih dekat dengan kampus Zelo, makanya adik kecil kita ini memutuskan untuk pindah.” Ujar ibu bijak, seolah apa yang dikatakannya adalah renrtetan kalimat suci.

            Eunsoo bisa mendengar Zelo dan Minah tertawa. Ibu ikut tertawa. Eunsoo merasa Zelo memeluk lengannya, membisikkan sesuatu entah apa. Sayup-sayup ia mendengar panggilan manja Zelo. Nuna, nuna dan mendadak ia seolah tidak bisa mendengar apa-apa lagi, ia justru melihat Zelo, Minah dan ibunya tertawa seperti iblis. Eunsoo memaksakan dirinya untuk tidak menangis.

            Kau datang tiba-tiba. Menjadi tetanggaku. Tinggal seorang diri di Seoul demi mengejar cita-citamu.

            Awalnya aku bersikap acuh padamu, bagiku kau hanya anak kecil yang terlalu sok dekat.

            Kau selalu menggangguku, menggodaku, bersikap manja padaku.

            Lama-lama aku menjadi terbiasa.

            Terbiasa dengan kehadiranmu, terbiasa dengan tawamu, terbiasa dengan senyum jahilmu.

            Aku mulai merasa aneh. Sepertinya aku mulai menyukaimu. Menyukaimu dalam arti pria dan wanita. Aku berusaha membantahnya. aku tidak mungkin menyukai laki-laki yang lebih muda dariku. Tidak mungkin. Ya, aku tidak menyukaimu. Tapi hari itu aku hancur. Saat kau katakan kau berpacaran dengan kenalanmu yang model itu. Saat kau memutuskan untuk tinggal bersama. Aku hancur. Apakah itu artinya aku menyukaimu atau bahkan lebih dari itu?

11 comments

  1. nadya · March 4, 2013

    Lucunya zelo:3 mau lanjutanyaaaa

  2. @mickeytichoes · March 4, 2013

    kyaaa ak btuh saquel thor😦 gntung bnget ini mh

  3. indojuliapark · March 4, 2013

    thor tolong sequel nya ea !
    Ditunggu lho !!

  4. putri luhannie · March 6, 2013

    Ngantung thot. Padahal cerita nya bagus😀
    .
    Squel tor wajib itu harus ya😛 di tunggu squel nya😀

  5. FannyJongIn · March 14, 2013

    Thor minta sequel

  6. audri · March 17, 2013

    iya tuh, kudu ada lanjutannya thor🙂

  7. Wikyu · March 18, 2013

    Weddewww!!!!….. Daebak bnget nih ceritanya author… Nget nget nget dah…~
    sangat butuh sequel author… Yah yah yah???!!! ~><~
    zelo oppa….. T,T teganya dirimu… Huweee…
    Keep writing, fighting author..
    Terus berkarya, tetep semangat (^.^)9

  8. Choi Han Mun · June 4, 2013

    Huah… Ending nya ngegantung banget ..
    Ini butuh sequel …

  9. Raisa .s · May 10, 2014

    Kak lanjutannya dongg~ bagus banget padahal ini ffnya! Sayangan banget kalo gantung :<

  10. krisy · May 14, 2014

    cuma gitu doang thor, ganttuungg bangettt. lanjut dongg

    • ichenaoi · May 14, 2014

      hehehe, iya. emang cuma sampe galau-galaunya si nuna aja. hahahha. makasih lho udah baca :))

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s