Everybody Hurts

Title : Everybody Hurts

Author : Ssiskha

Cast : Lee Seungyub [A-JAX]

        : Shin Eun Soo [OC]

Length : Ficlet

Rating : General

BGM : Avril Lavigne-Everybody Hurts

Cuap-cuap : Kembali lagi dengan ficlet A-JAX yang entah apa maksudnya. LOL

182097_411238405582137_2096824589_n

Don’t know, Don’t know if I can do this on my own, why do you have to leave, me.

It seems, I’m losing something deep inside of me. Hold on, onto me.

Eun Soo masih berusaha mengatur napas saat tatapan laki-laki penuh luka itu menatapnya kaget, sama dengan dirinya yang tidak menyangka bahwa sudah ada orang lain di tempat itu. Eun Soo masih berdiam di tempatnya, memperhatikan laki-laki penuh luka itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tanpa sadar, ia mengernyit melihat ekspresi laki-laki itu.

Tidak mendapatkan reaksi dari laki-laki itu secara refleks Eun Soo berbalik, memastikan keadaan sudah aman dan memutuskan untuk pergi, meninggalkan laki-laki penuh luka itu tanpa kata.

Now I see. Now I see

Seketika Eun Soo merasa ragu, menggenggam kantung belanjaannya erat berusaha memutuskan dengan cepat apakah ia harus menolong laki-laki itu apa tidak. Ia menoleh dan mendapati laki-laki penuh luka itu masih menatapnya, ia tidak tahu apakah itu tatapan minta tolong apa bukan tapi ia merasa sangat iba melihat tatapan laki-laki itu. Eun Soo menoleh cepat dan berlari. Ia tidak mau terlibat dengan orang asing yang bisa saja berniat jahat padanya.

Seungyub menghela napas. Ia merasa kecewa. Melihat seseorang datang tiba-tiba , hanya menunjukkan ekspresi terkejut dan kemudian pergi meninggalkannya begitu saja tanpa sebuah kata, tanpa sebuah pertanyaan. Tidak ada yang mau melihatnya, tidak ada yang mau berada didekatnya, tidak ada yang mau tetap tinggal di sampingnya.

Everybody hurts some days. Its okay to be afraid

Seungyub kaget saat melihat gadis itu datang lagi. Ia tetap tidak memberikan banyak reaksi, hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu dengan langkah takut-takutnya.

“Apa perlu bantuan?” Tanya gadis itu takut. Seungyub terkesiap. Sudah lama ia tidak mendengar seseorang menanyakan hal itu padanya. Ia berusaha memperbaiki posisi duduknya. Tanpa sengaja lengannya yang penuh luka menyentuh pasir, membuatnya meringis tertahan.

Eun Soo ikut meringis melihat lengan penuh luka itu terkena pasir. Eun Soo meletakkan kantung belanjaannya dan mencari sesuatu dari dalam tasnya, kemudian mengambil sebotol air mineral dari dalam kantung belanjaannya.

“Aku tidak punya alcohol.” Ujar Eun Soo sambil membuka botol air mineral dan membasahi sapu tangan miliknya. “Setidaknya ini bisa digunakan untuk membersihkan lukamu.” Eun Soo mendekati Seungyub dan mulai membersihkan luka di lengan Seungyub.

Seungyub meringis perih. Gadis ini, gadis yang datang tiba-tiba, pergi dan kemudian kembali lagi untuk membersihkan lukanya. Seungyub masih sibuk dengan pikiranya saat ia merasakan sensasi perih di ujung bibirnya. Ternyata gadis itu sedang membersihkan luka di bibirnya.

“Apa tidak sebaiknya kau pergi ke klinik? Lukamu sangat banyak.”

Seungyub masih memperhatikan gadis itu. Masih tidak percaya pada apa yang baru saja dialaminya. Tidak pernah ada yang mau berada di dekatnya, tidak ada yang pernah mau berada di sampingnya, tapi gadis ini bahkan membersihkan lukanya.

Eun Soo menggerutu saat tidak mendapat jawaban dari Seungyub. “Kau bisa berbicara kan?” Ujar Eun Soo sedikit kesal. Refleks Seungyub mengangguk. Seungyub menjadi salah tingkah. “Ahh, sudahlah.” Eun Soo mengibas-ngibaskan tangannya, mengambil kantung belanjaannya buru-buru dan pergi meninggalkan Seungyub. Ia terlanjur kesal dengan tingkah Seungyub.

Everybody screams. Everybody feels this way. And its okay

Eun Soo hanya ingin memastikan apakah laki-laki penuh luka yang belum ia ketahui namanya itu hari ini ada lagi di tempat itu. Apakah masih dengan tubuh penuh luka. Apakah masih dengan tatapan tidak percayanya.

Eun Soo mengintip dari balik ilalang, ia hampir saja terjengkang saat tiba-tiba sebuah kepala berbalik. Laki-laki itu. Masih dengan banyak luka tapi kali ini tidak dengan tatapan tidak percaya melainkan tatapan lega.

Eun Soo mendekati laki-laki itu dan duduk di sampingnya.

“Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku sengaja membeli kotak p3k.” Eun Soo membuka pembicaraan dan mengeluarkan kotak p3k dari tasnya. Yakin Seungyub tidak akan menjawab pertanyaannya, ia kembali berbicara dengan cepat. “Kau bisa bicara bukan –“

“Seungyub, orang tuaku memberikan nama Seungyub padaku.” Potong Seungyub cepat. Ia tidak mau gadis ini kesal lagi padanya. Ia tidak mau gadis ini pergi lagi meninggalkannya. Eun Soo terkekeh. “Kau boleh memanggilku Eun Soo.”

Apakah mereka baru saja berkenalan. Tidak pernah ada yang mau menanyakan namanya, tidak pernah ada yang peduli.

Eun Soo mulai membersihkan luka Seungyub. Kali ini ia punya alcohol, obat merah dan perban. Entah kenapa ia sengaja membeli peralatan itu. Ia yakin Seungyub akan ada di tempat ini lagi masih dengan tubuh penuh lukanya.

It feels like nothing really matters anymore. When you’re gone I can’t breathe and I know you never meant to make me feel this way. This can’t be happening

Hampir satu bulan Eun Soo selalu datang ke tanah lapang itu. Di sudut tanah lapang yang tertutupi ilalang ia selalu menemukan Seungyub dengan lukanya. Ia yang selalu membersihkan luka itu. Semakin banyak kisah yang keluar dari bibir Seungyub semakin ia tidak bisa untuk tidak datang ke tempat itu.

“Menjadi siswa yang tidak populer memang sangat mengerikan.”

“Tidak ada yang mau berteman denganku..”

“Mungkin tidak ada alasan khusus. Hanya kepuasan saat menindas yang lemah.”

“Aku hanya tinggal bersama nenek dan seorang adik yang masih SMP. Aku tidak tega menceritakan hal ini pada mereka.”

“Aku takut, bukankah itu lumrah?”

Now I see, now I see

Eun Soo menghela napas kecewa. Sudah tiga hari ini ia tidak menemukan Seungyub dan luka-luka di tubuhnya. Ia selalu menunggu sampai matahari terbenam tapi Seungyub tetap tidak ada. Satu bulan tidak banyak yang ia dengar dari Seungyub selain penindasan yang didapatnya di sekolah.

“Ternyata memang ada ya.”

Eun Soo menoleh cepat, ia berharap itu adalah suara Seungyub tapi ternyata ia salah, itu bukan suara Seungyub.

Everybody hurts somedays. Its okay to be afraid. Everybody hurts, everybody screams, everybody feels this way. And its okay

Eun Soo hanya diam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Semuanya terlalu cepat baginya. Semuanya begitu sia-sia baginya. Pertemuan selama satu bulan ini tidak pernah membantu Seungyub, ia tidak pernah membantu Seungyub, ia hanya selalu menyembuhkan luka untuk didapatkannya lagi. Ia tidak pernah berusaha mencegah luka itu.

“Besok, sepulang sekolah datanglah kemari. Aku akan mengantarkanmu ke sana.”

So many questions so much on my mind. So many answers I can’t find

“Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu disesali.” Wanita paruh baya itu memeluk Eun Soo saat gadis itu mulai menangis. Bahunya berguncang hebat. Jika ini pertemuan yang diperolehnya ia lebih suka jika tidak harus bertemu lagi dengan Seungyub. Tidak apa-apa tidak bertemu asal tidak dengan pertemuan seperti ini.

I wish I could turn back the time. I want to…

“Aku guru bimbingan konseling Seungyub. Ia pernah bercerita bahwa Ia memiliki seorang teman yang selalu muncul dari balik ilalang sambil membawa kotak p3k.”

“Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menganggung luka itu.”

“Ia sempat koma selama dua hari karena didorong dari tangga. Bocah-bocah nakal itu sedang manjalani proses hukum saat ini.”

Now I see, now I see

Everybody hurts some days

Everybody hurts some days

Everybody hurts some days

Its okay to be afraid

Everybody hurts

Everybody screams

Everybody feels this way

And its okay

“Mungkin ini yang terbaik untuk Seungyub, ia tidak akan pernah merasakan luka itu lagi.”

Kalimat itu terulang lagi. Kalimat yang menghancurkan harapannya. Tidak apa-apa jika tidak bertemu lagi, tidak apa-apa jika harus terus menunggu hingga matahari tenggelam, tidak apa-apa asal bukan pertemuan seperti ini.

It feels like nothing really matters anymore. When you’re gone I can’t breathe and I know you never meant to make me feel this way. This can’t be happening

FIN

2 comments

  1. jung Ji Eun · March 24, 2013

    Keren😀

  2. @elsssttt · March 25, 2013

    Astaga!
    seungyub mati ._. nyesek bacanya😥

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s