Frost and Spring


Title     : Frost and Spring

Author : @Ssiskha

Cast     : Hoya [Infinite]

            : Kim Myung Soo [Infinite]

            : Shin Riyoung [OC]

Genre  : Angst, brothership, family

Length : One shoot

Cuap-cuap      : Setelah sekian lama nggak nulis fanfic Infinite, lahirlah fanfic nista ini. Sebenernya nggak bisa dibilang angst juga sih soalnya ya nggak angt-angst banget. Kakaka. Happy reading.

            myungsoo

            Pernahkah kau mendengar dongeng tentang Snegurochka

            Tentang seorang putri dari pasangan Frost dan Spring

            Raja dan Ratu yang menyimbolkan musim dingin dan musim semi

            Seorang putri yang tahan akan segala musim, meleleh dan menghilang untuk

            selamanya  karena cinta seorang laki-laki biasa.

 

            Aku jauh-jauh kembali ke Seoul bukan untuk mendengar dongeng pengantar tidur seperti itu. Tapi sayangnya, itu bukan sekedar dongeng. Ia memang bukan Snegurochka, bukan juga putra dari pasangan Frost dan Spring. Ia juga tidak tahan pada segala musim, ia lemah. Tapi ia benar-benar meleleh karena cinta. Dan kami semua yang berada di sini berharap ia tidak menghilang untuk selamanya, begitupun aku.

            “Ia sudah tidur.”

            Aku mengangkat kepala, sedikit terkejut mendengar suara itu. Dia pikir aku berdiri di sini karena menunggu laki-laki yang sedang tertidur itu. Aku hanya terlalu terhanyut dalam dongeng itu. Menyambung-nyambungkan kisah Myung Soo dengan Snegurochka.

            Gadis itu menghela napas, mungkin ia terlalu lelah. Tidak kusangka lima tahun aku meninggalkannya ia telah tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Apa segala permasalahan dikeluarga yang entah keluarga siapa ini yang membuatnya harus menjadi dewasa untuk bertahan.

            “Lama tidak berjumpa. Apa kau tidak mau berbagi cerita denganku sambil minum kopi?” Tanpa berkata apa-apa aku hanya mengikuti gadis itu ke dapur. Umur kami hanya terpaut tiga tahun. Secara hukum kami adalah saudara, begitupula dengan Myung Soo. Tapi secara keturunan tidak ada satupun diantara kami yang sedarah.

            “Benarkah ia mengalami apa yang dialami Snegurochka?”

            Aku segera berdehem, sadar tatapan matanya begitu mengolok. Aku sadar itu pertanyaan bodoh. Tapi entah kenapa pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku. Entah kenapa aku begitu penasaran dengan pertanyaan bodoh itu.

            Seperti dugaanku ia tertawa, sudah alamiah. Pertanyaaku terlalu bodoh.

            “Kau tertarik pada kisah Snegurochka?”  Tanyanya sambil meletakkan cangkirnya di atas meja takut tawanya yang begitu lepas akan menjatuhkan cangkir kopi dan mungkin saja akan membangunkan Snegurochka versi laki-laki yang saat ini sedang tertidur lelap.

            “Bukankah dokter tadi berkata seperti itu?” Tetap tidak mau terlihat bodoh, tapi setiap aku menghubungkan Myung Soo dengan gadis dongeng itu semuanya terdengar bodoh.

            “Kapan terakhir kali kau dibacakan dongeng?” Ia masih terkekeh, tatapannya benar-benar mencemoohku.

            “Tidak pernah. Tidak ketika bersama ibuku,  tidak ketika bersama ibumu dan juga tidak ketika kita bertemu Myung Soo.”

            “Tidak perlu mengingat masa lalu. Dongeng itu hanya perumpamaan. Snegurochka  hanya perumpamaan tapi kenyataan yang saat ini sedang kita hadapi bukanlah perumpamaan, Kita harus siap kapan saja.”

            “Siap untuk apa?”

            Hening.

            Aku lupa. Tentu aku sudah tahu apa yang harus aku persiapkan dan aku tidak pernah siap.

            “Harus berapa kali aku peringatkan, dia tidak boleh merasakan hal itu! Ia tidak boleh memiliki perasaan itu!” Seorang dokter muda berdiri di tengah-tengah kami sambil menatap ayah—tiriku sinis.

            “Aku tidak bisa mencegahnya.”

            Baru saja dokter muda itu akan memarahinya lagi ayah—tiriku buru-buru memotong. “Tidak seorang pun bisa melakukannya.” Ia mendesah. Aku hanya berpura-pura tidak peduli. Riyoung sudah menangis di sampingku. Aku tidak tahu kalau keluarga ini benar-benar berubah.

            Bagaimana bisa kau dilarang untuk jatuh cinta        

            Bagaimana bisa ketika kau jatuh cinta semua orang saling menyalahkan

            Bagaimana bisa semua orang berusaha untuk mencegahnya

            Tidak ada yang bisa, tidak akan ada yang mampu

            Bagaimana dulu Snegurochka bisa meleleh, apa yang terjadi pada laki-laki biasa itu?

            “Bisakah kau melukisku?” Aku mengangkat kepala, berhenti mengambar.

            “Bukankah kau seorang pelukis Hoya hyung.” Myung Soo tersenyum. Aku tidak pernah suka ketika ibu tiriku menikah dengan ayah Myung Soo. Aku bahkan tidak pernah suka saat wanita itu menikahi almarhum ayahku. Aku tidak pernah menyukai apapun yang ada di dalam rumah ini, termasuk laki-laki yang saat ini sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tapi ketika melihat ia tersenyum aku merasa lega.

            Aku buru-buru mengangkat tangan, berusaha mengatakan bahwa Riyoung yang memintaku untuk menjaganya selama ia berbelanja. Aku menghela napas saat kini ia sudah duduk di atas tempat tidur.

            Aku membuka lembar baru, memperhatikannya sejenak, mencari dari titik mana aku harus menggambarnya. Ia masih tampan, hanya sedikit pucat dan semakin kurus. Aku harap aku bisa segera menyelesaikan sketsa ini dan Riyoung segera kembali. Aku tidak mau berlama-lama terlibat dalam suasana sentimentil seperti ini.

            “Lima tahun ternyata cukup lama ya.” Myung Soo membuka pembicaraan dan aku memutuskan untuk tidak melanjutkannya.

            “Kau berubah, aku berubah, Riyoung berubah, ayah dan ibu juga berubah. Kita berubah.”

            “Manusia itu makluk dinamis, selalu berubah” Sahutku di dalam hati.

            “Apakah kau pernah mendengar dongeng Snegurochka?”

            Aku hampir saja mematahkan pensilku. Itu adalah pertanyaan yang selalu menghantuiku sejak aku kembali ke rumah ini. Aku diam, tidak mau memberikan reaksi.

            “Apa kau tahu apa yang terjadi pada laki-laki biasa itu?”

            “Ya Tuhan! Apakah ia seorang peramal.” Gumamkku lagi sambil melanjutkan menggambar.

            “Apa kau tidak mau tahu apa yang terjadi padaku dan juga pada gadis itu?”

            Aku semakin mempercepat gerakan tanganku, aku tidak suka suasana seperti ini.

            “Oppa kau sudah bangun?” Akhirnya Riyoung pulang. Di dalam hati aku berteriak terima kasih.

            “Kau melukis Myung Soo oppa?” Riyoung mengambil buku sketsaku. Untuk beberapa detik aku terdiam, sejak kapan ia memanggil Myung Soo dengan panggilan ‘oppa’. Ahh, aku lupa. Kami telah berubah.

            “Tampan.” Puji Riyoung.

            Aku berdiri, mengambil buku sketsa itu dan pergi. Untungnya aku sudah menyelesaikan gambar Myung Soo. Kami telah berubah, dan nampaknya aku yang paling tidak siap dengan segala perubahan di sini.

            Myung Soo merapatkan jaketnya. Memandang seseorang yang sudah satu minggu ini tidak ia lihat. Seseorang yang telah membuatnya hancur dan akan meleleh kapan saja. Ia tersenyum saat melihat gadis itu tertawa. Ia suka, dan akan selalu suka. Tidak pernah ada yang tahu tentang siapa gadis itu. Tidak pernah ada yang tahu tempat ini. Ia merahasiakannya dan akan tetap menjadikannya rahasia.

            Myung Soo memegangi dadanya. Lagi-lagi ia merasa sesak. Ia selalu seperti ini saat ia merasakan emosi yang berlebihan. Saat terlalu senang, sedih, kecewa dan bahkan ketika resah. Tapi ia tersenyum. Tidak peduli betapapun sakitnya, ia tetap tersenyum melihat gadis yang telah melelehkannya tertawa.

            Myung Soo masih memegangi dadanya, berusaha tetap tersenyum disaat bulir-bulir tu jatuh. Ia berusaha berpegangan kuat pada lengan kursi. Laki-laki itu memeluk gadisnya, mencium puncak kepala gadisnya bahkan memainkan rambut indah gadisnya.

            Myung Soo terjatuh. Rasanya semakin sesak. Ia tahu bahwa ia memang tidak boleh jatuh cinta, tidak pada seseorang yang telah memiliki kekasih. Myung Soo mencoba berdiri, menguatkan diri untuk berjalan. Ia tahu sebentar lagi ia akan menghilang untuk selamanya. Ia terus tertatih berusaha sampai di toko musik itu. Gadis itu harus melihatnya, walau untuk yang terakhir kalinya.

            Myung Soo menyebrang meski saat ini sedang lampu hijau. Ia merasa waktunya sudah tidak lama lagi, ia tidak bisa menyia-nyiakan waktu walau sedetik saja. Beberapa mobil berhenti mendadak dan memarahi Myung Soo, tapi ia mengabaikannya. Banyak mobil mengklaksoni Myung Soo. Mengumpat, menyumpahi, meneriakinya untuk minggir. Myung Soo tidak peduli. Gadis itu harus melihatnya.

            Gadis itu keluar bersama laki-laki itu dari toko musik. Myung Soo tersenyum saat melihat tawa gadis itu. Dadanya sesak karena terlalu merasa senang tapi semakin sakit saat melihat tangan yang melingkar di pinggang gadisnya. Sedikit lagi sampai. Sedikit lagi ia bisa bertemu gadisnya.

            Myung Soo kaget saat sebuah mobil hampir menabraknya, ia terjatuh, kertas yang daritadi ia pegang pun terjatuh. Myung Soo merasa sebentar lagi jantungnya akan berhenti berdetak. Ia berusaha berdiri, menggapai kertas yang diterbangkan oleh angin. Lalu lintas menjadi semaki kacau. Saat Myung Soo berdiri dan berbalik saat itulah Snegurochka benar-benar menghilang. Selamanya.

            “Dimana Myung Soo! Cari dia!” Teriak ayah tiriku.

            Aku masih bingung, memandangi buku sketsaku.

            “Cari Myung Soo oppa! Kenapa kau selalu memikirkan dirimu sendiri!” Riyoung mendorongku kasar dan membuang buku sketsaku. “Kenapa disaat seperti ini kau masih saja memikirkan dirimu sendiri. Myung Soo oppa menghilang dan apapun bisa saja terjadi padanya saat ini, dan kau! Brengsek!” Riyoung memukul-mukul dadaku dan pergi.

            Aku hanya bingung dan belum siap, tidak pernah siap.

            Aku memungut buku sketsaku, aku bukan laki-laki cengeng. Tapi saat melihat halaman buku sketsaku yang telah dirobek aku tahu bahwa mau tidak mau aku harus siap. Aku berlari keluar rumah, mencari Myung Soo, mencari gambar yang hilang. Menyumpahi Myung Soo di dalam hati bahwa ia laki-laki bodoh, brengsek.

            Lima tahun meninggalkan Seoul, aku sudah tidak terlalu hapal lagi dengan jalan di sini. Dimana aku harus mencari laki-laki itu. Dimana. Apa semuanya masih bisa dicegah. Apa Myung Soo masih bisa dibekukan.

            “Aku selalu suka melihat tawa gadis itu”

            “Tidak terlihat membuat dadaku semakin sesak.”

            “Aku tidak suka laki-laki yang melingkarkan tangannya di pinggang gadisku.”

            “Dadaku selalu  merasa sesak, tapi aku menikmatinya.”

            Semua kata-kata Myung Soo yang pura-pura tidak aku dengar seperti mengikuti setiap langkahku. Siapa gadis brengsek itu! Siapa kau Myung Soo, beraninya membuatku khawatir, membuatku menangis, membuatkku berlari-lari panik seperti ini demi menemukanmu. Siapa kau!”

            “Hati-hati anak muda!” Seorang kakek tua memarahiku karena hampir saja membuat ia terjatuh. Aku tetap berlari, tiba-tiba ponselku berdering. Siapa yang berani meneleponku! Masih sambil berlari aku mengangkat ponselku. Dengan napas yang terengah-engah baru saja aku akan memaki orang di seberang sana.

            “Pulanglah, Snegurochka telah kembali.”

            Sambungan telepon diputuskan. Aku berhenti berlari. Aku memperhatikan sekitarku. Aku baru sadar bahwa aku sudah berlari sejauh ini. Aku bahkan tidak tahu aku ada di mana. Snegurochka telah kembali. Kembali kemana si brengsek itu.

            Aku melempar ponsel dan buku sketsaku. Berteriak mengucapkan sumpah serapah, tidak peduli semua orang yang memarahiku. Aku tidak peduli dan aku tidak siap.

            Pernahkah kau mendengar dongeng tentang Snegurochka

            Tentang seorang putri dari pasangan Frost dan Spring

            Raja dan Ratu yang menyimbolkan musim dingin dan musim semi

            Seorang putri yang tahan akan segala musim, meleleh dan menghilang untuk

            selamanya  karena cinta seorang laki-laki biasa.

            Apa yang terjadi pada laki-laki biasa itu?”

            “Ia bunuh diri.” Jawab Riyoung tanpa mau menatapmu, terus menunduk.

            Aku memberikan payung pada Riyoung. Ia menerimanya ragu. Aku berjalan meninggalkan kerumunan. Aku tidak siap. Tahukan kau Myung Soo aku tidak siap. Aku berlari, berhenti di dekat sebuah pohon besar, tempat dimana tidak ada satu matapun yang mampu menangkap aku sedang menangis.

            Aku tidak ingat penyakit apa yang dikatakan oleh dokter muda itu. Ia hanya bilang bahwa Myung Soo tidak boleh merasakan emosi yang berlebihan, itu bisa membuat dadanya sesak. Penyakit apa itu. Aku tidak tahu bahwa ada penyakit aneh semacam itu.

            Sejak ibu tiriku membawaku dan Riyoung ke rumah itu, aku memang tidak pernah mengerti kenapa semua orang memperlakukan Myung Soo secara berlebihan. Aku tahu ada yang salah dengan dirinya, aku tahu itu, dan aku selalu tahu cepat atau lambat aku harus berada di tempat ini. Memakai pakaian serba hitam, mengantarkan laki-laki yang lebih muda dariku, berpura-pura tidak menangis dan berlagak sok kuat. Aku tahu tapi tidak pernah siap.

            “Kau brengsek Myung Soo”

            “Maaf, kau salah satu anggota keluarga laki-laki itu?” Seorang gadis menghampiriku bersama seorang laki-laki yang melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Tiba-tiba dadaku terasa sesak.

“Aku selalu suka melihat tawa gadis itu”

“Aku menemukan ini saat kecelakaan itu terjadi.” Gadis itu menyodorkan selembar kertas. Lembaran yang aku cari. Sketsa wajah Myung Soo. Dadaku semakin sesak.

“Tidak terlihat membuat dadaku semakin sesak.”

“Aku rasa ini punya laki-laki itu.”

“Aku tidak suka laki-laki yang melingkarkan tangannya di pinggang gadisku.” Aku memperhatikan tangan laki-laki itu yang masih melingkar dipinggang gadis ini. Brengsek kau Myung Soo!

“Dadaku selalu  merasa sesak, tapi aku menikmatinya.”

Dadaku semakin terasa sesak.

“Aku tahu ini sulit, tapi kau harus tahu tidak ada yang namanya hidup selamanya.” Laki-laki itu bersuara. Aku mengambil sketsa wajah Myung Soo. Memperhatikannya baik-baik. Harusnya aku manfaatkan kesempatan itu untuk memandangi wajahnya berlama-lama, bukannya buru-buru menyelesaikan gambar ini. Kini aku sudah tidak bisa melakukannya lagi. Myung Soo sudah pergi.

“Simpanlah, Myung Soo ingin kau menyimpannya.”

Gadis itu sedikit terkejut. “Ingat-ingatlah selalu namanya adalah Myung Soo.

Pernahkah kau mendengar dongeng tentang Snegurochka

Tentang seseorang yang meleleh karena cinta

Tentang seseorang yang menghilang dan tidak akan pernah kembali.

Sunday, 2013 April 21

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s