[FREELANCE] The Darkness Myth (Prolog)

untitled

Title : The Darkness Myth
Author : Candide Angevine
Cast :
– Krystal Jung as Krystal Jung | Keira Anderson
– Oh Sehun as Sebastien Oh
– Kim Jongin as Jason Kim
– Etc,.
Genre : Fantasy/Supernatural
Rating : PG-14 [Teen]
Length : Chapter
Disclaimer : All story is mine. Don’t be plagiat!

PROLOG
Suatu tempat, 1956.

“Kita sudah sampai, Lady…”
Mendengar perkataan dari kusirnya, seorang gadis muda dengan tubuh berbalut jubah hitam melompat keluar dari kereta kuda. Dia berjalan tegap, mengambil langkah-langkah mantap ke arah sebuah kastil megah yang berdiri kokoh tak jauh dari tempat kereta kuda yang mengantarnya terhenti. Tangan kanannya menyusup masuk ke dalam jubah, menyentuh dadanya, menggenggam sebuah liontin bertahtakan batu sewarna darah yang menggantung disana selama beberapa saat sambil menggumamkan kalimat penyemangat dalam hati untuk meneguhkan niatnya.
“Lady Anderson!” seorang pemuda memanggil si gadis dengan suaranya yang lantang. Dia seharusnya adalah sosok pemuda yang tampan, dengan rambut hitam legam juga kulit tan yang pas, namun mengingat pakaian yang ia kenakan saat itu dilapisi oleh noda-noda darah juga sobekkan dimana-mana, serta langkahnya yang pincang dan terseok—juga sebuah cakaran dalam yang terdapat dari bagian pelipis kanan hingga sudut bibirnya, situasi saat itu tidak membuat dia kelihatan tampan sama sekali, dia malah kelihat mengenaskan dengan kondisi seburuk itu. Namun dalam kondisi seperti itu, dia masih berusaha berlari agar bisa menyamakan langkah dengan Keira Anderson—si gadis yang tadi ia panggil dengan sebutan Lady.
“Pergilah, Jason. Aku bisa mengatasinya sendirian.” Keira berkata dengan nada dingin. Seraya tetap menjaga langkahnya agar terlihat mantap, dia menaikkan tudung jubahnya, membuat seluruh rambut coklat gelap dan sebagian wajahnya tertutup. Ketika langkahnya membawanya tepat di hadapan gerbang kastil yang terbuat dari besi-besi bercat hitam, dia berhenti sejenak untuk memandang pemuda bernama Jason yang kini sudah berada di sebelahnya. Dia memandang pemuda itu dari ekor matanya, berusaha agar tidak terjadi kontak mata di antara mereka, karena dia tahu pemuda itu datang untuk menahannya.
“Kau butuh istirahat sekarang. Luka yang ditimbulkan anjing-anjing itu tidak akan bisa sembuh secepat biasanya. Pergi, temui Marshall, minta dia mengobati luka-lukamu.”
Jason menggeleng keras kepala. “Kau ini gila atau apa? Menyuruhku untuk kembali sementara kau akan mengumpankan dirimu pada manusia jadi-jadian itu? Aku akan kembali bila kau kembali, dan akan masuk bila kau tetap bersikeras.”
Keira menghela napasnya, kemudian menolehkan kepala seutuhnya pada Jason. Ekspresinya tampak begitu keras. “Sebastien membutuhkanku saat ini. Jangan mempersulitnya. Kau tahu ini satu-satunya cara.”
“Omong kosong! Sebastien bahkan bisa hidup selama seribu tahun lagi sekalipun kau tidak masuk ke dalam sana. Jangan gegabah. Kau mempertaruhkan semuanya, tahu. Sebastien itu hanya umpan, mereka menginginkanmu.” Jason meneriakkan kalimat itu keras-keras, membiarkan sudut bibirnya yang terluka menyalurkan rasa perih yang menyakitkan pada bagian wajahnya.
Keira tidak menyahutinya, dia tahu berdebat dalam keadaan seperti ini tidak ada untungnya, paling-paling, dia hanya akan menerima kekalahan karena Jason selalu punya alasan untuk membabatnya. Jadi, tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Jason di depan gerbang.
Takut, Keira sadar bahwa perasaan itu sudah menggerogoti hatinya sejak dia turun dari kereta kuda, tapi dia tetap tidak bisa berbalik. Jantungnya berdegup kencang, dua kali lebih cepat dari biasanya, seakan benda itu bisa melompat keluar dengan tiba-tiba, sementara napasnya yang bisa mencium anyir darah jadi pendek-pendek tak beraturan. Namun, sebesar apapun rasa takut itu, dia tidak berhenti selangkahpun, terus maju hingga matanya bisa menangkap keberadaan pintu masuk kastil yang besar dan terbuat dari kayu-kayu tua. Dia terus membawa langkahnya, hingga secara sepihak sebuah tangan kekar menahan lengannya.
“Kau harus mempertimbangkan yang lain, Keira. Kami membutuhkanmu.” Jason mengeluarkan suaranya, menahan lengan Keira dengan cengkramannya yang kuat. Dia memandang gadis dengan tubuh mungil di depannya dengan tatapan memelas, penuh permohonan.
“Aku sudah mempertimbangkan yang lain. Dan aku tahu aku memang harus melakukan ini.”
“Kau tidak harus melakukannya. Kau hanya kalut—kalut karena kekasihmu menjadi sandera. Tapi coba pikirkan sekali lagi. Kembalilah… kembali bersamaku.” Jason kembali memohon, kali ini suaranya terdengar begitu pilu, seakan benar-benar ketakutan. “Untuk semuanya… untuk orang-orang yang percaya padamu…”
Keira menghela napas berat. “Kau tahu itu semua tidak akan mengubah apapun.”
“Kalau begitu, untukku… kau harus kembali… bersamaku… kita bisa menyusun rencana sekali lagi…”
Keira menggelengkan kepalanya, tapi wajahnya mendadak pilu. Dia menyentuh pundak Jason, kemudian memandang ke dalam sepasang manik pekat pemuda itu lama. “Kau tahu sekalipun aku ingin, aku tetap tidak bisa. Ini bukan tentang kita, Jason… ini tentang Sebastien. Orang-orang membutuhkannya—lebih dibanding aku. Kunci semuanya ada padanya. Dan ini tenggat waktu yang diberikan para anjing—atau manusia jadi-jadian—atau apalah nama mereka.”
“Tapi kenapa harus kau?” Jason berbisik, rendah dan lemah. Sebelah tangannya merengkuh pinggang Keira, membuat jarak mereka nyaris terhapuskan, sementara tangannya yang lain menyentuh tangan yang berada di bahunya dan meremasnya melembut—berusaha meluapkan perasaannya.
Keira tidak menyahut, perasaannya juga pilu, melakukan hal ini seperti tengah memberi salam perpisahan secara tidak langsung pada Jason juga teman-temannya yang lain, sekalipun mereka tidak berada disini. Perasaannya mulai goyah, tapi seraya meyakinkan kembali hatinya akan niat juga mental yang sudah ia persiapkan, dia kemudian balas menggenggam tangan Jason, menyelipkan jari-jari rampingnya di antara jemari pemuda itu. Lamat-lamat, dia memandang manik pekat Jason, kemudian berjinjit agar wajahnya bisa sepadan dengan pemuda itu. Beberapa saat kemudian, dia melepaskan genggaman Jason dan melingkarkan lengannya di belakang bahu pemuda itu, memperpendek jarak diantara mereka.
Keira masih terus mempersempit jarak diantara wajahnya dan Jason, hingga akhirnya ketika hidung mereka bersentuhan, dia memejamkan mata dan memiringkan kepalanya agar bisa menggapai bibir lelaki itu. Mereka berciuman. Ciuman lembut yang terasa asam dan asin karena bercampur darah di sudut bibir Jason juga air matanya yang tiba-tiba luruh. Itu ciuman pertamanya, seharusnya dia menyesal karena itu tidak dilakukan bersama kekasih atau orang yang dicintainya dalam momen romantis, tapi pada kenyataan, tidak ada sedikitpun rasa sesal di dadanya. Itu tetap mengesankan, begitu tulus dan tanpa hasrat. Benar-benar… memabukkan.
“Aku tahu yang kau pikirkan,” Jason berbisik disela ciuman mereka. “Ini sempurna. Aku juga merasa begitu.”
Keira tidak menyahut, hanya mendengarkan sambil terus menyesapi kelembutan yang diberikan Jason dalam tautan mereka.
“Pergilah sekarang,” Tiba-tiba pemuda itu dengan melepaskan tautan bibir mereka juga lingkaran lengan Keira di bahunya. Dia mengambil satu langkah mundur, berusaha menjauh dari gadis itu. “Aku tidak bisa melepasmu lagi bila lebih lama dari ini.”
Keira mengangguk pelan. Dia mengusap air matanya yang mulai mengering akibat embusan angin malam dengan cepat. Kemudian, sebelum benar-benar pergi dan meninggalkan Jason sendirian disana, dia memeluk pemuda itu sekilas dan mengeluarkan suaranya yang kini terdengar parau.
“Aku akan mati,” dia memberi jeda beberapa saat. “Dan kau harus berjanji untuk menjaga Sebastien. Jangan biarkan anjing-anjing ini, atau siapapun, melukainya, sehelai rambutpun…”
Jason mendesis pelan—ada rasa pilu yang menyusup ke hatinya, tapi pada akhirnya dia mengangguk. Dan kemudian, bersamaan dengan gerakan kepalanya yang terakhir, Keira berbalik dan langsung menerjang ke dalam pintu masuk kastil. Gadis itu kelihatan begitu kuat, tapi Jason tahu, dia tidak benar-benar tampak seperti yang terlihat. Dan dia juga sadar, sebentar lagi, dia akan mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodoh melepas gadis itu masuk.
Dan benar, tak sampai sepuluh menit, terdengar suara lolongan panjang serigala yang bersahut-sahutan di dalam kastil—lolongannya terdengar begitu bahagia dan puas, kemudian, beberapa saat setelah lolongan-lolongan itu mereda, dua sosok berjubah hitam keluar dari dalam kastil. Keduanya bisa dia kenali dengan cepat, yang tengah berdiri tegap dengan kulit seputih porselen adalah Sebastien, sementara sosok mungil yang berada dalam dekapan Sebastien adalah gadis yang beberapa saat lalu berbagi ciuman dengannya, Keira Anderson.
Napasanya tercekat ketika melihat Sebastien meletakkan tubuh mungil itu ke tanah, dalam pengendalian diri yang tidak bisa dibilang baik, dia berusaha agar tidak meninju pemuda berkulit putih yang berdiri tak jauh di depannya hingga babak belur. Pelan-pelan, sambil berusaha bernapas seperti biasanya, dia membungkuk, membuka tudung hitam yang dikenakan oleh sosok mungil tanpa nyawa yang kini terkulai di tanah, dan beberapa saat setelahnya, dia bisa melihat sebuah wajah elok yang kelihatan begitu tenang dalam bingkai pucat. Dia menghembuskan napasnya, berat dan tersendat-sendat, kemudian menyentuh pipi mulus yang kini tampak pasi itu dengan tangannya, membiarkan suhu dingin yang berasal dari sana langsung menjalar ke tangannya yang tiba-tiba terasa kebas.
“Dia… mati…” Sebastien menggumam pilu.

•••

2 comments

  1. DiahDaris · June 19, 2013

    sukaaa ff nya!!! bisa buat berimajinasi dilanjut donk author hehe bisa tidak ya??
    tpi krys nya mati, idupin lagi deh biar bisa bikin kai galau mhehhe :))

  2. amyrose · March 22, 2014

    seru loh beneran
    d lanjut gak sih?

    tpi knapa bru d prolog udh ada korban T_T
    sedih bacanya

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s