The Masked [Part I]

Title                : The Masked [Part I]

Scripwriter     : Mrs. Heo

Cast                 :

  • Kim Taehyung [BTS]
  •  Heo Eun Soo [OC]

Support cast  : Kang Jiyoung, Kim Seokjin & Min Yoongi [BTS], Go Hara[KARA]

Genre              : Family, friendship, school life

Duration         : Twoshoot

Rating             : General

Cuap-cuap      : HAHAHAHAHA, ketawa dulu. Ini fanfiction absurd, ide cerita yang klise pasaran dan nggak ada yang spesial, juga judul yang nggak nyambung. Satu-satunya yang spesial cuma Kim Taehyung. Hohohoho, akhir-akhir ini lagi kesangkut sama anak BTS dan ff ini terinspirasi sama istilah yandere, kkk. Makasih buat yang masih berkenan baca ff absurd ini & komentarnya sangat dibutuhkan. Peringatan, ini ff bener-bener absurd. Makasih🙂

THE MASKED

Summary

Orang yang selalu tersenyum padamu

Yang selalu membuatmu nyaman

Apakah itu rasa sayang?

Bagaimana jika dia selalu mengacuhkanmu?

Apakah itu kebencian?

“Sudah ku bilang bukan aku yang salah!” Eun Soo menghentakkan kakinya dengan kesal. Tadinya ia begitu senang ketika kakaknya yang sedang menjalani wajib militer menelepon, jika tahu hal ini yang akan dibicarakan, ia tidak akan sudi mengangkatnya. “Ibu saja yang terlalu berlebihan!” Eun Soo berkacak pinggang. “Pokoknya aku tidak akan meminta maaf pada bocah itu. Tidak akan! Kalau tidak ingin bertanya kabarku, kututup.” Eun Soo langsung memutuskan sambungan. Ia merasa sangat kesal dengan sikap kakaknya yang juga ikut-ikutan membela anak itu.

Noona.”

Karena sibuk mengomeli kakaknya, ia tidak mendengar ketika seseorang memanggilnya.

Noona.” Panggil orang itu lagi. Kali ini ia memberanikan diri menyentuh pundak Eun Soo.

Refleks Eun Soo menoleh dan semakin kesal karena bocah yang membuatnya beradu mulut dengan Young Saeng sudah muncul di hadapannya, lengkap dengan senyum konyol yang sangat dibencinya.

“Ada apa?” Tanya Eun Soo kasar, ia bahkan belum menyadari kalau Taehyung tidak datang seorang diri. “Bukankah sudah kukatakan untuk bersikap berpura-pura tidak mengenalku di sekolah!” Hardik Eun Soo.

“Maaf.” Taehyung baru teringat perintah Eun Soo yang satu itu, berpura-pura tidak saling mengenal di sekolah, ia benar-benar lupa. “Tapi, bekal noona ketinggalan, jadi ibu memintaku untuk mengantarkannya.” Jawab Taehyung takut-takut. Sekarang ia bahkan tidak sanggup menatap Eun Soo yang benar-benar sedang kesal. Ia sudah mendengar semua pembicaraan Eun Soo dan Young Saeng ditelepon. Ia merasa bersalah karena sekarang Eun Soo pasti beranggapan bahwa kakak kesayangannya juga memihak padanya. Sebenarnya Taehyung sangat senang jika Young Saeng mau menerimanya, tapi melihat perasaan Eun Soo yang tidak suka, ia jadi merasa bersalah.

Eun Soo memicingkan mata. “Ibu?” Ibu siapa?” Tanya Eun Soo kesal.

Taehyung baru saja akan meminta maaf lagi saat Eun Soo mengambil bekalnya dengan kasar. “Aku peringatkan sekali lagi padamu agar berpura-pura tidak mengenalku.” Ujar Eun Soo dingin. Baru beberapa langkah ia meninggalkan Taehyung, ia baru sadar bahwa tidak jauh di belakang Taehyung berdiri beberapa teman barunya. Eun Soo melengos. “Pastikan mereka tidak ada yang tahu.” Ia kembali berujar dingin pada Taehyung.

Taehyung hanya mengangguk patuh.

Seok Jin menarik kursi dan duduk di dekat Taehyung. “Aku tidak tahu kalau Eun Soo bisa sekasar itu.”

“Eoh, dia hanya bersikap kasar padaku saja.” Taehyung berpikir sejenak. “Hyung, aku harap kalian bisa menyimpan rahasia.” Ia kembali teringat pesan Eun Soo untuk berpura-pura tidak mengenalnya.

“Tenang saja, pria selalu bisa menjaga rahasia.” Seok Jin terkekeh pelan.

“Gadis itu teman sekelasmu kan Jin?” Suga berteriak dari ujung ruangan. Mereka semua biasa memanggil Seok Jin dengan panggilan Jin.

“Ya, tapi kami tidak terlalu akrab.”

“Menyenangkan ya bisa terus bersama-sama dengan noona.” Ujar Taehyung pelan, namun Jin masih bisa mendengarnya. Ia merasa kasihan melihat Taehyung yang terlihat selalu tertekan jika berhubungan dengan Eun Soo. Tapi ia juga tidak bisa memberikan solusi yang tepat atas permasalahan mereka. Permasalahan mereka bersifat internal, orang luar jelas tidak boleh ikut campur. Lagipula ia yakin Eun Soo pasti punya alasan tersendiri mengapa begitu tidak menyukai Taehyung.

“Coba sekali-sekali kau berikan dia hadiah, mungkin hatinya akan sedikit mencair. Bukankah wanita selalu suka jika diberi hadiah.” Suga berteriak lagi dari ujung ruangan, entah apa yang sedang dilakukannya.

“Tapi tidak berlaku jika aku yang memberikannya. Eun Soo noona pasti akan langsung membuangnya, atau sebelum aku mendekat, mungkin ia sudah meneriakiku untuk segera enyah dari pandangannya.”

Seok Jin hampir saja tertawa mendengar penuturan Taehyung yang terlalu polos. “Tapi tidak ada salahnya mencoba.” Nasehat Seok Jin. Meskipun aku hanya sekedar teman sekelasnya, tapi aku sudah mengenalnya lebih lama darimu. Aku yakin sikap kasarnya padamu itu hanya karena ia terlalu terkejut, ia hanya butuh waktu untuk bisa menerima keberadaanmu.”

“Tidak. Ia hanya membenciku saja.” Taehyung menghela napas lelah. Baginya tidak butuh waktu untuk bisa menyayangi Eun Soo maupun Young Saeng. Perasaan itu muncul secara alamiah. Karena ia jelas merindukan sosok seperti Eun Soo dan Young Saeng dalam hidupnya. Tapi ternyata bayangan tentang bagaimana bahagianya bisa menjadi bagian dari Young Saeng dan Eun Soo tidak seperti yang ia pikirkan. Kebencian Eun Soo beralasan, dan ia memakluminya.

            Taehyung baru saja membuka pintu saat menemukan ibunya berteriak panik. “Eun Soo, kau kah itu?” Taehyung menatap ibunya bingung. Eun Soo? Apakah Eun Soo belum pulang.

   “Ahh, Taehyung. Kau tidak pulang bersama Eun Soo?” Ibunya menangkupkan kedua pipi Taehyung dan mencium keningnya sekilas.

“Eun Soo noona belum pulang?” Mendadak ia merasa khawatir. Di luar sedang hujan deras. Mungkin saja Eun Soo masih terjebak di sekolah karena tidak membawa payung. Sedangkan tadi ia diantar pulang oleh Jin yang dijemput oleh supirnya.

“Belum. Ponselnya juga tidak aktif.” Sekarang ibunya sudah mondar-mandir panik.

“Ibu, pinjamkan aku sepeda motor Young Saeng hyung, aku akan mencari Eun Soo noona. Mungkin ia tidak membawa payung jadi masih menunggu di sekolah sampai hujan reda. Jadi tenanglah!” Dengan gerakan cepat Taehyung mengambil payung yang ada di dekat pintu.

“Ini. Hati-hati!” Ibunya kembali mengecup kening Taehyung setelah mengambil kunci sepeda motor Young Saeng di kamarnya dan memberikannya kepada Taehyung. Ia yakin jika Eun Soo melihat hal ini, ia tidak akan mau berbicara dengan ibu selama beberapa hari.

“Pastikan ponselmu aktif terus.”

Taehyung mengangguk dan bergegas menuju bagasi. Jika Eun Soo tidak ada di sekolah ia benar-benar tidak tahu harus mencari kemana, jadi ia harus segera menemukan Eun Soo dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Sesampainya di sekolah, Taehyung memarkir motor asal dan bergegas menuju ruang kelas Eun Soo di lantai 3. Ia bahkan tidak mempedulikan tubuhnya yang sudah basah kuyup dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rambut Oranye yang selama ini membuat hampir seluruh siswa kelas 1 berteriak histeris setiap melihatnya sudah lepek karena basah. Ia membanting pintu kelas Eun Soo dan tidak mendapati ada siapa pun di sana. Sambil berlari ia berusaha menghubungi Seok Jin.

Sedetik setelah mendengar sapaan Seok Jin di ujung sana, Taehyung berujar panik. “Hyung, kirimkan nomor teman-teman dekat Eun Soo noona padaku, sekarang juga!” Perintah Taehyung sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.

“Kenapa? Sesuatu terjadi pada Eun Soo?”

“Aku tidak punya waktu menjelaskan, cepat kirimkan!”

Kalau Taehyung bukan temannya, ia akan memaki laki-laki itu karena berani berbicara tidak sopan padanya. “Baik, tunggu—“ Belum lagi Seok Jin menyelesaikan kata-katanya, Taehyung sudah memutuskan sambungan. “Bocah itu.” Gerutu Seok Jin kesal.

Karena tidak memperhatikan jalan, Taehyung jatuh tersungkur karena menabrak seseorang, ia harap orang itu adalah Eun Soo, tapi ternyata bukan setelah mendengar orang itu menanyakan keadaannya. Seorang Heo Eun Soo tidak akan pernah sudi menanyakan keadaannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya gadis itu sambil megulurkan tangan untuk membantu Taehyung berdiri.

Setelah memungut ponselnya yang terjatuh ia berniat meninggalkan gadis itu begitu saja sebelum melihat wajahnya sekilas. Ia yakin bahwa gadis ini adalah teman sekelas Eun Soo, karena ia beberapa kali melihat mereka makan bersama.

“Kau melihat Eun Soo? Eun Soo noona?” Taehyung bahkan tidak sadar bahwa ia setengah berteriak dan tidak mengabaikan keharusannya berkata sopan pada senior karena terlalu panik.

“Eun Soo?” Heo Eun Soo?” Gadis itu berusaha memastikan karena memang ada dua Eun Soo di sekolah.

Taehyung mengangguk bersemangat. Kemudian, ada pesan masuk dari Seok Jin. Taehyung mengabaikannya begitu saja. “Kau melihatnya?”

“Iya, dia bersamaku sejak sore.” Jawab gadis itu ragu. “Kau siapa?”

“Dimana dia?” Taehyung mengabaikan pertanyaan gadis itu.

“Dia di perpustakaan. Karena tidak membawa payung, kami menunggu di sana sampai hujan reda.” Gadis itu menatap payung yang dibawa oleh Taehyung.

“Baiklah, terima kasih sunbae.” Taehyung membungkuk dan baru saja akan berlari saat gadis itu menarik lengannya.

“Tunggu.” Ia merogoh sesuatu di dalam saku rok. “Setidaknya kau keringkan dulu wajahmu.” Ia memberikan sapu tangan miliknya kepada Taehyung. Selama beberapa detik Taehyung tidak memberikan respon karena terkejut dengan perhatian yang diberikan teman Eun Soo kepadanya. “Bukankah kau mencari Eun Soo?” Taehyung segera tersadar akan tujuan utamanya dan buru-buru mengambil sapu tangan gadis itu dan tersenyum. “Terima kasih sunbae.” Gadis itu membalas senyum Taehyung dan entah mengapa pipinya bersemu merah saat melihat gadis itu tersenyum.

Taehyung tidak mengindahkan penjaga perpustakaan yang melarangnya untuk masuk karena tubuhnya yang basah kuyup. Setiap langkahnya membuat lantai menjadi basah. Ia tersenyum lega saat melihat Eun Soo duduk di meja dekat jendela bersama tiga orang temannya. Ia segera menahan diri untuk berteriak memanggil Eun Soo karena itu dapat menimbulkan kecurigaan kepada teman-teman Eun Soo.

“Eun Soo noona, ayo kita pulang!” Taehyung berkata pelan saat sampai di sebelah Eun Soo. Eun Soo berjengit kaget sehingga menyebabkan ketiga temannya ikut menyadari keberadaan Taehyung.

“Eiiii, siapa dia? Pacarmu ya?” Jiyoung berkata heboh.

“Tentu saja bukan!” Jawab Eun Soo cepat. Ia buru-buru menarik tangan Taehyung yang dingin dan keriput karena terguyur hujan di sepanjang perjalanan menuju lorong yang sepi. Ia tidak ingin teman-temannya bertanya lebih banyak lagi tentang identitas Taehyung. Taehyung bahkan sedikit gemetar tapi Eun Soo mengabaikannya. Ia terlalu malas untuk mengkhawatirkan laki-laki berambut oranye di depannya ini.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau kemari?”

Taehyung menghela napas. “Aku datang untuk mengantarkan payung.” Taehyung menyodorkan payung pada Eun Soo. “Kenapa ponsel noona tidak aktif?”

“Baterainya habis, aku lupa membawa chargernya.” Jawab Eun Soo acuh tak acuh sambil mengambil payung yang dibawa Taehyung.

Noona seharusnya meminjam ponsel temanmu untuk mengabari ibu. Ibu sangat khawatir.”

Eun Soo tidak suka Taehyung menasehatinya. “Ya!” Ia mendorong Taehyung. “Kau pikir kau siapa menasehatiku seperti itu? Kau itu lebih muda dariku, haram bagimu untuk mengguruiku!”

Taehyung lelah. Ia juga kedinginan. “Maaf.” Hanya itu yang bisa ia katakan saat ini. Ia tidak berharap banyak dari Eun Soo. Setidaknya, gadis itu menghargai usahanya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. “Ibu sangat khawatir, segeralah cari bus, noona.” Taehyung membungkuk dan meninggalkan Eun Soo. Selama ini ia sudah terbiasa dengan perlakukan kasar Eun Soo. Tapi Eun Soo tidak pernah bermain tangan, ia tidak pernah mendorong sebelumnya. Tapi yang paling membuatnya terluka adalah perkataan Eun Soo yang masih menganggapnya orang asing. Bukankah sudah jelas siapa dia bagi Eun Soo. Apa salah jika ia memberi nasehat untuk kebaikannya sendiri.

“Aku pulang. Hati-hati di jalan.” Taehyung berbalik dan bergegas meninggalkan perpustakaan. Ia tersenyum ala kadarnya ketika melihat penjaga perpustakaan menatapnya sebal.

“Hey, sudah bertemu Eun Soo?”

Taehyung mengangkat kepala dan menemukan gadis yang memberikan sapu tangan kepadanya tadi berdiri di hadapannya.

“Sudah.” Jawab Taehyung ramah. Ia berusaha keras menutupi suasana hatinya yang sangat buruk karena perlakuan Eun Soo barusan.

“Kau mencarinya bukan untuk mengajaknya pulang bersama?”

“Tidak, hanya mengantarkan payung.”

Gadis itu mengangguk-angguk. Taehyung lega karena teman Eun Soo yang satu ini tidak menanyakan hubungannya dengan Eun Soo.

“Ini, pakailah!” Gadis itu menyodorkan jaket kepada Taehyung. “Kau kelihatannya sangat kedinginan.”

“Tidak usah, sunbae.” Tolak Taehyung. “Terima kasih. Aku merepotkan sunbae saja.”

“Aku tidak menerima penolakan. Pakailah!” Ujar gadis itu sambil tersenyum ramah dan menepuk-nepuk pundak Taehyung. “Aku duluan.” Ujarnya lagi sambil memasuki perpustakaan.

Taehyung masih menatap punggung gadis itu yang telah menjauh. Rasa hangat menjalar di tubuhnya. Tiba-tiba ia berharap Eun Soo bisa memberikan kehangatan yang sama seperti gadis itu karena dari dulu ia selalu ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. Tapi mungkin Eun Soo tidak akan sudi mengabulkan permintaannya yang satu itu.

Eun Soo masih berguling-guling di atas tempat tidur. Sebenarnya ia masih kesal karena ibu memarahinya karena Taehyung pulang dalam keadaan basah kuyup. Eun Soo mendengus, memangnya itu salahnya. Ia tidak meminta Taehyung untuk repot-repot mengantarkan payung kepadanya. Bocah itu saja yang cari perhatian. Tapi suara batuk Taehyung yang tiada henti benar-benar mengusiknya.

Setelah berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk melihat kondisi Taehyung. Kamar Taehyung berada tepat di sebelah kamarnya. Ia masih ragu untuk masuk saat lagi-lagi mendengar suara batuk bocah itu. “Sepertinya bocah itu sangat kesakitan.” Eun Soo mengurungkan niat untuk masuk dan menuruni tangga, menuju dapur. Ia membuatkan segelas susu hangat untuk Taehyung.

Setelah selesai membuatkan segelas susu, ia segera naik lagi. Tapi ia ragu apakah harus memberikan susu itu kepada Taehyung atau tidak. Setelah cukup lama berpikir, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Taehyung. Ia membatasinya dengan tiga ketukan. Jika Taehyung tidak menyahut juga itu artinya ia akan meminum susu ini untuk dirinya sendiri.

Eun Soo mengetuk pelan, dalam hati justru ia berharap Taehyung tidak mendengarnya. “Hey, kau sudah tidur?” Tanya Eun Soo ragu.

Hening, tidak ada jawaban. Eun Soo mengetuk untuk yang kedua kalinya.

Noona, itu kau?” Eun Soo terkejut saat mendengar suara parau Taehyung, kemudian terdengar suara batuknya.

“Boleh aku masuk?” Tanya Eun Soo ragu.

Tidak ada jawaban. Eun Soo berpikir bahwa mungkin Taehyung tidak mau diganggu saat pintu di depannya kini terbuka. Kepala Taehyung menyebul keluar. Wajahnya tampak kuyu dan terlihat jelas bahwa ia sakit. Tadi di tengah-tengah omelan ibunya, ia mendengar ibu menyebut-nyebut demam, tapi ia mengabaikannya.

“Kau demam?” Tanya Eun Soo ragu.

“Hanya sedikit batuk.” Taehyung berusaha bersikap ceria. Tapi suaranya yang parau malah berbanding terbalik dengan jawaban yang diberikannya.

Eun Soo membuka pintu lebih lebar dan masuk ke kamar Taehyung. Ini yang pertama baginya masuk ke kamar adik barunya tersebut. Kamar Taehyung jelas berbanding terbalik dengan kamar kakaknya yang super rapi. “Aku membuatkan segelas susu untukmu.” Ujar Eun Soo pelan, sambil meletakkan susu di atas meja belajar Taehyung yang dipenuhi komik.

Noona, membuatkan segelas susu untukku?” Tiba-tiba Taehyung melompat ke arahnya dengan wajah berbinar-binar.

Eun Soo terdiam beberapa saat dan mengangguk. “Minumlah!” Eun Soo berusaha untuk tetap acuh tak acuh.

Tanpa perlu diperintah untuk yang kedua kalinya, Taehyung segera duduk di pinggir tempat tidur dan mengambil susu buatan Eun Soo. Ia menatap segelas susu tersebut dengan tatapan seolah ia tidak pernah melihat minuman seperti itu sebelumnya. Ia meniup-niupnya terlebih dahulu sebelum menyesapnya perlahan.

“Kau sudah minum obat?” Butuh waktu yang lama bagi Eun Soo untuk mengatakan kalimat itu kepada Taehyung, ia khawatir Taehyung berpikir bahwa ia peduli padanya.

Taehyung langsung tersedak mendengar pertanyaan Eun Soo. Meskipun nada bicaranya masih saja dingin, tapi ia tahu bahwa Eun Soo mengkhawatirkannya.

“Suara batukmu mengganggu, jadi cepatlah sembuh!” Eun Soo berbalik dan berjalan cepat sebelum ia terlibat melodrama bersama Taehyung lebih lama lagi.

“Terima kasih karena telah membuatkanku segelas susu. Sudah lama tidak ada yang membuatkanku segelas susu.” Ujar Taehyung ceria.

“Ibu selalu membuatkannya untukmu.”

“Ibu membuatkannya untuk noona dan aku, tapi noona hanya membuatkannya untukku.”

Eun Soo terdiam. Tiba-tiba ia teringat cerita kakaknya, Young Saeng mengenai masa lalu Taehyung. Lagi-lagi ia mengabaikannya. Ia tidak menyukai Taehyung, dan sampai kapan pun hal itu tidak akan berubah. Eun Soo hanya melambaikan tangannya acuh tak acuh dan keluar dari kamar Taehyung yang masih tersenyum bahagia mendapati Eun Soo mau melihat keadaannya.

            Eun Soo sedikit terkejut saat melihat Taehyung sedang duduk bersama teman-temannya. Ia pikir hari ini Taehyung tidak masuk sekolah karena demam, lagipula tadi ia tidak melihat Taehyung di meja makan saat sarapan. Eun Soo masih terus memperhatikan meja Taehyung saat menyadari bahwa Hyerin berada di tengah-tengah mereka. Ia bertanya-tanya sejak kapan Hyerin dekat dengan Taehyung bahkan teman-temannya.

            “Kau tidak punya mata?” Eun Soo baru menghentikan langkahnya saat baru menyadari telah menabrak seseorang, dan Eun Soo malas berurusan dengan gadis berperawakan besar sok berkuasa ini.

“Maaf.” Eun Soo membungkuk, ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah dengan gadis drama ini.

“Kau memperhatikan kerumunan laki-laki tampan itu?”

“Tidak.” Eun Soo berusaha untuk pergi, tapi tangannya ditahan.

“Apa lagi sih? Aku kan sudah minta maaf.” Eun Soo mulai kesal.

Suaranya yang cukup keras membuat Taehyung menyadari keberadaan Eun Soo.

“Apa kau pikir dengan meminta maaf saja sudah cukup?”

Jiyoung yang takut terhadap Hyena tidak berani membela Eun Soo, ia hanya bersembunyi di balik lengan Eun Soo sambil berbisik agar Eun Soo tidak ikut tersulut emosi.

“Kenapa berdiri di sini saja. Ayo, di sana aja meja kosong!” Tiba-tiba Seok Jin muncul dan menuntun Eun Soo untuk ke meja mereka. Jiyoung mengekor perlahan sambil memperhatikan raut wajah Hyena yang kaget karena kemunculan Seok Jin yang tiba-tiba.

“Kalau kau tidak ingin Taehyung yang melakukannya, maka aku yang melakukannya.” Bisik Seok Jin.

Perlu waktu bagi Eun Soo untuk mencerna kata-kata teman sekelasnya itu. Ia terus mengulang ucapan Jin sampai tidak sadar Taehyung sudah menarik kursi untuknya.

“Eun Soo, cepat duduk!” Jiyoung berkata sebal karena Eun Soo yang tampak linglung.

Eun Soo menurut. Ia masih terus memikirkan ucapan Jin saat Hyerin bertanya padanya.

“Ada masalah apa kau dengan Hyena?”

Eun Soo mengibaskan tangannya sekali. “Hanya tidak sengaja menabrak. Kau taulah dia suka mencari masalah.”

“Karena kau terus memperhatikan Taehyung?” Tanya Suga sinis.

Eun Soo mendelik. Ia tidak terlalu kenal dengan teman-teman Taehyung. Satu-satunya yang ia kenal adalah Seok Jin, itu pun karena mereka sekelas. “Anio!” Jawab Eun Soo cepat.

“jelas-jelas aku melihatnya.” Cibir Suga sambil memasukkan ayam ke dalam mulutnya.

Eun Soo merasa sedikit risih karena makan di tengah teman-teman Taehyung. Ia yakin, orang-orang yang saat ini satu meja dengannya adalah teman Taehyung yang ia lihat ketika ia memarahi Taehyung beberapa hari lalu. Ia sadar bahwa Taehyung beberapa kali meliriknya dan Suga yang tanpa perlu mau repot-repot bersembunyi terus memandangnya tidak suka.

“Ada masalah apa temanmu itu denganku?” Eun Soo bertanya pada Seok Jin yang duduk di sebelahnya.

“Yang mana?” Jin memperhatikan teman-temannya satu persatu.

“Yang bermuka judes itu.”

“Oh.” Seok Jin membulatkan bibir. “Yoongi, kau cukup memanggilnya Suga.”

“Aku tidak perlu tahu namanya, aku hanya ingin tahu punya masalah apa dia denganku sampai terus memandangku seperti itu.”

Seok Jin tertawa pelan. “Ia memang begitu.”

“Eun Soo, aku duluan ya.” Tanpa mendengar jawaban Eun Soo, Jiyoung sudah berlari begitu saja sambil memegangi perutnya, mungkin sakit perut.

Tawa Taehyung kembali membuat Eun Soo penasaran hubungan apa yang Taehyung miliki dengan Hyerin.

“Sudah tertangkap basah, masih mengelak lagi.” Suga lagi-lagi memergokinya sedang memperhatikan Taehyung dan Hyerin yang asyik mengobrol.

“Eh?” Eun Soo menjadi salah tingkah.

“Hyerin adalah orang yang berusaha menjaga Taehyung tetap hangat dengan meminjamkan jaket miliknya semalam.” Ujar Suga sinis.

Hyerin tertawa. “Ketika mencarimu semalam dia dalam keadaan basah kuyup, jadi aku meminjamkannya jaket.”

Eun Soo mulai panik. Ia tidak peduli dengan sikap sinis Suga terhadapnya, ia juga tidak peduli dengan cerita betapa baik hatinya Hyerin karena sudah berusaha menjaga Taehyung agar tetap hangat— yang bagi Eun Soo kalimat itu terdengar salah. Ia khawatir jika orang-orang ini mengetahui hubungan apa yang ia miliki dengan Taehyung.

“Kau beruntung punya tetangga seperti Taehyung.” Imbuh Hyerin.

Eun Soo masih melongo saat Hyerin menyelesaikan kalimatnya. Tetangga?

“Senang sekali punya tetangga yang satu sekolah denganku.” Taehyung terkekeh. Eun Soo menghela napas lega, ternyata Taehyung masih cukup pintar untuk menyembunyikan rahasia mereka. Tapi ia masih penasaran bagaimana hanya karena sebuah jaket Taehyung bisa begitu akrab dengan Hyerin. Ia baru dua bulan di sini. Ia tampan, wajar jika mudah mendapatkan kenalan wanita. Ia sudah mendengar gosip bahwa Taehyung sangat populer di kalangan kelas satu. Tapi Hyerin? Ia memang pernah beberapa kali makan bersama Hyerin, tapi mereka tidak dekat.

“Setidaknya ia masih punya perasaan dengan membuatkan segelas susu.” Suga lagi-lagi menginterupsi pikiran-pikiran Eun Soo.

Seok Jin tertawa. “Ya, dan itu benar-benar membantu kesembuhannya.”

Eun Soo menatap kedua orang itu dengan bingung. Ia mulai curiga bahwa Taehyung telah memberitahukan status mereka pada teman-temannya.

“Lanjutkan makanmu.” Seok Jin menyenggol lengan Eun Soo sambil tersenyum jahil.

Lagi-lagi Eun Soo merasa terusik dengan suara Taehyung. Kali ini bukan suara batuk, melainkan suara tawanya. Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Karena penasaran Eun Soo melompat ke tempat tidur dan merapatkan diri ke tembok untuk memperjelas pendengarannya.

Hyung, kau kan ahlinya. Beritahu aku tipsnya!”

Eun Soo menebak-nebak tips apa yang diminta oleh Taehyung kepada orang yang dipanggil hyung tersebut.

Taehyung tertawa. Tiba-tiba hening, tidak terdengar apa-apa lagi. Eun Soo mendengus kesal, sepertinya Taehyung sudah memutuskan sambungan telepon.

“Sepertinya aku benar-benar menyukainya.” Taehyung terkekeh.

Eun Soo memiringkan kepala. Mencoba mengurutkan puzzle dari pembicaraan Taehyung. Tiba-tiba Eun Soo menepuk jidatnya. “Taehyung pasti sedang jatuh cinta. Hyerin?” Eun Soo bertanya pada dirinya sendiri. Eun Soo berdecak saat menyadari dirinya terlalu ingin tahu terhadap urusan Taehyung. Punggung Eun Soo menegak saat mendengar suara ibunya dari bawah.

“Taehyung, ada temanmu datang berkunjung.”

Eun Soo mematung. Teman Taehyung ke sini? Sial, beraninya bocah itu membawa temannya ke rumah. Bagaimana kalau temannya itu melihatnya dan curiga terhadap hubungan yang mereka miliki. Membayangkannya saja Eun Soo sudah pusing. Ibunya pasti akan memarahinya habis-habisan jika mengetahui ia memerintahkan Taehyung untuk berpura-pura tidak mengenalnya di sekolah. Kemudian Young Saeng akan meneleponnya lagi, menasehati agar bersikap lebih baik kepada Taehyung. Gosip akan beredar kemana-mana dan semua orang akan mempertanyakan kenapa selama ini dia menyembunyikannya.

“Mana kakakmu yang galak itu?” Eun Soo seperti mengenali suara itu.

“Dia sudah tidur. Cepat sekali hyung sampai ke sini.”

Eun Soo yakin Teman Taehyung sudah berada di depan pintu kamar Taehyung.

“Ini kamarnya?” Seok Jin! Eun Soo yakin itu suara Seok Jin. Eun Soo memijit-mijit dahinya. Bisa jadi Taehyung membawa teman satu gengnya itu ke sini.

“Cepat sekali dia tidur.” Oh, itu suara Suga. Eun Soo lemas. Jadi teman-teman Taehyung sudah tahu status mereka. Rasanya Eun Soo sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk memaki-maki Taehyung karena tidak menuruti perintahnya.

“Jangan berisik. Nanti noona terbangun.”

“Ahh, kau ini. Selalu saja membelanya.” Cibir Suga.

Ck, Eun Soo mendesis. “Dia itu hanya takut aku mendengar percakapan mereka sehingga mengetahui bahwa ia telah menceritakan status mereka kepada teman-temannya itu.” Gumam Eun Soo kesal. Ia pun bergegas kembali ke meja belajar dan mengerjakan tugas matematika yang masih setengah ia kerjakan.

Karena terlalu larut dalam tugas matematika, ia sampai lupa bahwa Seok Jin dan Suga sedang berada di rumahnya. Ia lupa untuk bersikap berhati-hati. Karena tidak tahan lagi untuk buang air kecil, Eun Soo bergegas ke luar kamar dan tepat ketika ia melewati kamar Taehyung untuk menuju toilet yang ada di ujung lorong, Seok Jin membuka pintu kamar diikuti kepala Suga yang menyembul ke luar.

Eun Soo mendadak blank. Ia lupa bahwa saat ini bukan hanya dia dan Taehyung yang sedang berada di lantai dua. Seok Jin menatap Eun Soo canggung dan Suga seperti biasa, menatap Eun Soo sinis. Taehyung ke luar kamar dan baru menyadari bahwa saat ini Eun Soo berada di depan kamarnya dan memergoki dirinya membawa Seok Jin dan Suga ke rumah.

Noona.” Taehyung berusaha menjelaskan kepada Eun Soo.

Eun Soo melengos tidak peduli dan bergegas ke toilet karena ia sudah tidak tahan lagi untuk buang air.

Noona pasti akan memarahiku lagi.” Panik Taehyung.

“Kalau dia berani memarahimu, aku juga akan memarahinya.” Jawab Suga.

“Jangan ikut campur.” Seok Jin menengahi. “Ini urusan keluarga. Ayo kita turun!”

“Bukankah kita juga keluarga?” Suga tidak setuju dengan Seok Jin.

Seok Jin mendorong-dorong Suga agar menuruni tangga. “Iya, tapi ini berbeda. Eun Soo pasti memiliki alasan tersendiri kenapa belum bisa menerima Taehyung.”

“Kau ini kenapa ikut-ikutan Taehyung selalu membela Eun Soo sih?” Suga bertanya kesal sambil menuruni tangga.

“Aku tidak membelanya, hanya berusaha meredam emosimu.” Seok Jin membela diri.

“Jangan bilang kau menyukainya!” Suga menunjuk-nunjuk Seok Jin.

Seok Jin tertawa lucu. “Ya! kau buang jauh-jauh pikiran negatifmu itu.” Seok Jin menjitak kepala temannya yang gampang sekali tersulut emosi tersebut.

“Berhenti membicarakan Eun Soo noona.” Taehyung menengahi perdebatan Seok Jin dan Suga yang membuat Suga bertambah kesal.

Tidak butuh waktu lama bagi Eun Soo untuk mengonfirmasi tebakannya mengenai Taehyung yang menyukai Hyerin. Gadis-gadis kelas satu penggosip itu sudah memberitahukan seantero sekolah. Baru tiga minggu, atau hanya tiga minggu bagi seorang Taehyung untuk mendapatkan Hyerin. Jiyoung menggamit lengan Eun Soo ketika Taehyung dan Seok Jin masuk ke dalam kelas. Sejak berita berpacarannya Taehyung dan Hyerin menyebar di kalangan kelas 1 dan 2, tingkat popularitas Taehyung naik satu level. Sekarang dia bukan hanya idola para gadis kelas 1, tapi siswi kelas 2 pun mulai banyak yang meliriknya.

Eun Soo berpura-pura acuh tak acuh saat Seok Jin sengaja menyenggolnya hanya untuk memberitahukan keberadaan mereka. Ia tidak peduli. Ia tidak peduli dengan hubungan Taehyung dan Hyerin. Ia tidak akan pernah peduli terhadap apapun yang berhubungan dengan bocah konyol bernama Kim Taehyung itu. Tidak akan!

Eun Soo teringat saat Young Saeng lagi-lagi menelepon hanya untuk memastikan bahwa Taehyung sudah memiliki kekasih. Demi Tuhan, ia tidak habis pikir bagaimana kakaknya itu bisa mengetahui kabar tersebut. Tapi dari semuanya, yang paling menjengkelkan adalah nasehat kakaknya untuk menjaga Taehyung agar tidak terlalu bebas dalam berpacaran dan mengganggu sekolahnya. Masa bodoh. Hyerin bahkan bisa menjaga Taehyung tetap merasa hangat sedangkan ia hanya membuat Taehyung terbatuk sepanjang malam.

Noona, mau makan bersama kami?”

Eun Soo mengangkat kepala malas ketika mendengar suara ceria Taehyung mengajaknya makan. Bocah itu benar-benar memanfaatkan status tetangga mereka untuk bisa bersikap akrab dengannya.

“Ayo!” Jawab Jiyoung ceria sambil berdiri.

Eun Soo menggeleng, menolak ajakan Taehyung. Ia tahu jika Jiyoung menyukai Seok Jin. Meski tidak pernah menceritakannya tapi semua tingkah laku Jiyoung sudah cukup. Sikap Taehyung yang selalu berusaha bersikap akrab dengannya akan selalu dimanfaatkan oleh Jiyoung agar selalu bisa berdekat-dekatan dengan Seok Jin. Tidak hanya Jiyoung, beberapa teman Eun Soo yang dulu hanya sekedar saling tatap ketika berpapasan mulai mendekatinya agar bisa terlihat oleh teman-teman Taehyung yang lainnya seperti Suga, Seok Jin dan Hoseok.

“Masih ada yang harus aku kerjakan.” Eun Soo beringsut dari kursi, bergerak secepat mungkin sebelum ada yang mencegahnya.

Jiyoung mendesis. “Kenapa sih dia. Biasanya dia akan menomorsatukan perut di atas segalanya.”

“Sudahlah, biarkan saja.” Ujar Seok Jin pasrah. Ia tahu, semakin keras usaha Taehyung untuk mendekati Eun Soo, semakin Eun Soo memperkuat pertahanannya.

   Suga menghentikan langkahnya yang membuat Eun Soo juga harus berhenti. Setelah kejadian di malam tiga minggu yang lalu, pagi-pagi sekali Seok Jin menghampiri mejanya dan menjelaskan segalanya. Tentang mereka yang sudah mengetahui statusnya dengan Taehyung sejak satu minggu Taehyung bergabung bersama kelompok mereka dan tentang janji mereka yang tidak akan memberitahukannya kepada siapapun.

Saat itu Eun Soo mengacuhkan Seok Jin dan Taehyung yang terus berusaha menjelaskan kepadanya. Ia hanya tidak tahu harus bereaksi bagaimana dan tidak percaya terhadap janji yang mereka katakan sampai Suga datang dan memaki-makinya karena menurutnya bersikap sangat kekanakan. Ia ingat saat mereka yang sama-sama lepas kontrol. Suga yang terus berteriak kasar dan ia yang hampir menangis menampar Suga, memaksanya untuk berhenti berteriak. Setelah insiden itu, bertambah pula list alasan kenapa ia harus membenci seorang Kim Taehyung.

“Kau tidak ke kantin?” Suga menunjuk kantin yang berlawanan arah dengan tujuan Eun Soo.

Eun Soo hanya mengendikkan bahu tak acuh. Salah satu alasan ia tidak mau berada di satu tempat bersama Taehyung dan teman-temannya adalah Suga. Setelah insiden tamparan itu Suga meminta maaf padanya. Tapi Eun Soo lagi-lagi mengacuhkan segala upaya yang dilakukan Suga dan teman-temannya agar mau memaafkan Suga.

Ia tidak akan pernah memaafkan Suga karena ia tidak merasa Suga bersalah. Mereka hanya lepas kontrol. Suga yang membela temannya dan Eun Soo yang tetap bertahan pada egonya. Ia tidak pernah berpikir mengenal Taehyung akan serumit ini. Ia pikir bisa hidup tenang jika semua orang berpura-pura tidak mengetahui bahwa ia adalah kakak tiri Taehyung. Tapi kenyataannya tidak.

“Kau masih marah padaku?” Suga memblokir jalan Eun Soo saat gadis itu akan melanjutkan langkahnya.

Eun Soo mendesah. Sebenarnya ia terlalu malas berurusan dengan Suga, untuk itu ia memutuskan untuk diam. “Aku tidak pernah marah padamu. Bukankah seharusnya aku yang minta maaf?”

“Tapi sikapmu menunjukkan kalau kau marah padaku.”

“Apa sebelumnya aku pernah bersikap baik padamu?” Sindir Eun Soo.

Suga sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Eun Soo tidak percaya. Dalam hati dirinya juga mengiyakan pertanyaan retoris Eun Soo. Apa pernah Eun Soo bersikap baik padanya? Sejak awal dialah yang memulai. Bersikap tidak suka atas kehadiran Eun Soo dan memaki-makinya hanya untuk membela Taehyung. Tapi, tidakkah walau hanya sekali gadis itu berpikir untuk berdamai dan menjalin pertemanan dengannya?

“Minggir.” Ujar Eun Soo dingin.

Eun Soo masuk ke dalam bilik toilet terakhir. Akhir-akhir ini kepalanya terasa berat karena terbebani masalah dengan Taehyung. Ia hanya duduk diam tanpa melakukan apapun saat derap langkah beberapa gadis memasuki toilet.

“Kau tahu Heo Eun Soo dari kelas 2-1?”

“Eun Soo yang sekelas dengan Jin?”

“Huumm, kabarnya dia bertetangga dengan Taehyung. Bukankah kita bisa menggunakannya untuk mendekati Taehyung?”

“Hey, apa kau tidak tahu kalau Taehyung sudah punya kekasih?”

“Gadis yang bernama Hyerin itu?” Gadis itu tertawa. “Selama mereka belum mengikat janji suci, Taehyung itu masih milik bersama.” Lagi-lagi gadis itu tertawa, diikuti oleh temannya.

“Tapi, gosip yang beredar si Eun Soo itu selalu mengacuhkan Taehyung. Sepertinya ia tidak suka jika Taehyung berada di dekatnya.”

“Mungkin dia juga menyukai Taehyung, tapi malah Hyerin yang mendapatkannya.”

“Bukankah kita bisa memanfaatkan gadis yang sedang cemburu—“

Kedua gadis yang sedang asyik bergosip itu langsung menutup mulut dan tersenyum canggung saat Eun Soo membuka pintu dan menatap mereka sinis. Eun Soo menarik ujung bibirnya. Ia mengenali kedua gadis tersebut. Teman satu angkatannya, siswa 2-3, kumpulan siswa berotak udang. Mereka berdua hanya gadis berkemampuan di bawah rata-rata yang banyak omong dan merasa dirinya cantik.

Eun Soo tidak mengatakan sepatah kata pun dan memutuskan untuk ke luar dari toilet. Ia tidak suka mendapati kenyataan orang-orang luar yang menarik kesimpulan tentang dirinya dan Taehyung tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Orang asing yang selalu sok tahu.

To Be Continued

One comment

  1. Ghaluh Arya Nandika Putri · May 8, 2014

    next thor >.< ceritanya seru ^^

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s