Insomnia part I

Title                : Insomnia part I

Scripwriter     : Mrs. Heo

Cast                 : Heo Young Saeng [SS501] | Lee Seungyub [A-JAX]

Support Cast  : Oh Seungah [Rainbow] | Heo Eun Soo [OC]

Genre              : Thriller, Dark, Angst, Romance

Duration         : Twoshoot

Rating             : PG 17

Summary        : Tapi aku tetap manusia biasa yang bisa terluka ketika terjatuh

POSTER INSOMNIA

“Inspired by Hunger Games”

But I’m only human, and I bleed when I fall down

I’m only human, and I crash and I break down

(Human -Christina Perri)

Sama seperti malam-malam sebelumnya, tidak banyak yang bisa kulakukan untuk tidak mati bosan. Rumah sebesar ini hanya berpenghuni tiga kepala dan tidak akan ada satu pun yang masih terjaga pukul 02.00 seperti ini. Bahkan jika aku membangunkan Eun Soo dan memaksanya untuk menemaniku hanya akan bertahan selama tiga puluh menit. Tiga puluh menit ke depan gadis itu hanya akan berakhir dengan dengkuran.

Untuk yang kesekian kalinya aku mendesah. Melirik rak buku di sudut ruangan. Semua buku yang ada di sana tidak ada yang tersisa untuk dibaca, sudah ditamatkan di malam-malam sebelumnya. Kemudian mataku teralih pada remote televisi yang tergeletak di bawah tempat tidur. Apa yang bisa ditonton di jam segini? Lagipula aku sudah muak melihat wajahku yang akhir-akhir ini mendominasi layar televisi. Senyuman palsu, kata-kata bijak penuh petuah, aku sudah muak. Bahkan rasanya aku seperti akan muntah setiap melihat wajahku di televisi.

Dengan langkah terseok, aku mengambil sweater yang tergantung di balik pintu dan memakainya dengan gerakan lambat. Aku sudah terlalu malas untuk mengeluhkan keterbatasan fisikku saat ini. Beratus-ratus malam sebelumnya aku sudah mengeluhkannya, menangisinya bahkan mengumpati diriku sendiri yang dulu jarang sekali kulakukan.

Setelah itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan, mencari udara segar atau sesuatu yang bisa membuatku mengantuk. Setelah ke luar rumah aku melirik rumah bercat abu-abu di seberang. Mungkin Seungyub sudah teler berjam-jam lalu jadi aku memutuskan untuk tidak bertamu ke sana meski dalam keadaan setengah sadar sekalipun dia akan tetap membukakan pintu rumahnya jika tahu yang bertamu adalah aku. Seungyub? Dia adalah si brengsek yang lain, jika kau pikir kau perlu mengetahuinya.

Sambil sesekali menggosok-gosokan telapak tangan untuk menghangatkan diri, aku terus memperhatikan ke sekeliling. Hanya aku seorang yang berjalan tanpa tujuan tengah malam seperti ini. Bicara soal tujuan, aku sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi setelah permainan laknat itu. Permainan? Huh, mereka menyebutnya sebagai permainan hanya untuk memperhalus kata pembunuhan masal.

Mengingat saat-saat dramatis bersama Seungah sebelum aku pergi ke arena kadang masih membuatku merasa sedih. Masih jelas dalam ingatanku Seungah berteriak-teriak histeris untuk mengatakan bahwa aku harus tetap hidup—jangan lupakan air matanya juga. Aku yakin itu bukan air mata palsu. Tapi setelah aku pulang, tidak ada yang tersisa diantara kami. Bahkan tidak ada yang berniat memulai pembicaraan tentang kelanjutan hubungan kami. Semuanya dibiarkan terus mengalir tanpa arah sampai aku melihat Seungah berciuman dengan laki-laki lain. Sudahlah, memangnya aku bisa apa?

“Hey, kau punya rokok?”

Aku menoleh malas saat mendengar suara laki-laki yang seperti ditarik-tarik.

“Oh, kau rupanya.” Kata laki-laki itu lagi. “Kau punya rokok?” Ulangnya sambil mendekat ke arahku.

“Aku tidak merokok.”

“Bahkan tidak setelah membunuh bocah berusia 15 tahun?” Ia terkekeh. Aku berusaha memakluminya karena saat ini ia sedang mabuk. Aku menggeleng pelan. Oh iya, tanpa sengaja aku membuat seorang bocah berusia 15 tahun tewas karena berebut tali tambang. Demi Tuhan aku tidak tahu kalau sungai itu beracun. Dengan sekali dorong aku yang berniat hanya untuk menghindarinya saja malah membuat bocah itu tewas seketika dengan kulit yang mengelupas karena masuk ke dalam sungai beracun.

“Aku suka ekspresimu saat menebas laki-laki keparat itu dengan parang.” Omongannya semakin kacau.

“Kau bisa cepat mati kalau mabuk-mabukan seperti ini terus.” Aku berbalik badan dan melanjutkan langkahku yang terhenti, melanjutkan jalan-jalan malam yang tertunda karena pemabuk ini.

“Aku pikir kau adalah orang pertama yang akan mati.” Ia masih terus saja meracau sambil sesekali mengangkat botol minumannya ke udara.

“Kenapa begitu?”

“Karena kau terlalu baik untuk membunuh, tuan Heo.” Laki-laki itu tertawa keras.

“Begitukah?” Aku berbalik badan. Lagi. “Menurutmu aku tidak sanggup membunuh manusia?” Sekarang aku berjalan mendekati laki-laki itu. “Lalu, kenapa aku yang jadi pemenangnya?”

Laki-laki itu masih tertawa, tidak tahu apa yang ditertawakannya. Apakah membahas pembunuhan adalah perihal lucu baginya.

“Heo Young—“

&&&

Aku tersenyum lucu mendengarkan keluhan Eun Soo mengenai penuaan dininya akibat terus-terusan dipaksa oleh ibu untuk berkutik di dapur. Eun Soo dan dapur tidak akan pernah bisa menjadi teman. Gadis itu akan membuat siapa saja terluka jika berada di dapur bersamanya.

“Kau sudah dewasa. Setidaknya belajarlah masak untuk calon suamimu kelak.” Aku mengelus kepalanya lembut. Umur kami yang terpaut cukup jauh membuat Eun Soo benar-benar bergantung padaku. Kalau boleh jujur, dialah yang paling aku khawatirkan diantara semuanya ketika pergi ke arena.

“Kita bisa menyewa pembantu, bukankah kita jutawan sekarang?” Jawab Eun Soo asal-asalan.

Aku terkekeh. “Ada apa itu?” Aku menahan lengan Eun Soo saat gadis itu akan menyeberang. Ia menoleh dan mengikuti arah telunjukku. Tiba-tiba ia menjadi panik.

“Jangan bilang kalau kejadian yang sama terulang lagi.” Desis Eun Soo. “Kita pergi saja. Ayo!” Eun Soo menarik tanganku.

Aku menggeleng dan menariknya untuk mengikutiku.

“Kita pulang saja.” Protes Eun Soo sambil berusaha melepaskan diri dari genggamanku.

“Aku penasaran apa yang dikerumuni oleh orang-orang itu.” Jawabku santai.

“Tidak ada yang penting.” Eun Soo memaksa.

“Kau tahu bukan aku adalah tipikal yang semakin dilarang semakin penasaran?” Jawabku sambil terkekeh. Sekilas aku bisa melihat Eun Soo mengumpat.

Sesampainya di ujung gang tempat para warga berkumpul aku yang masih menarik Eun Soo berusaha menyempil di tengah-tengah kerumunan. Selama beberapa detik aku berusaha mencerna apa yang saat ini ada di hadapanku sampai aku tersadar bahwa masih ada Eun Soo di sampingku.

“Sudah kubilang jangan dilihat.” Desis Eun Soo sambil membuang muka.

“Maaf.” Aku merasa bersalah. Ini adalah pemandangan biasa bagiku, tapi tidak untuk Eun Soo. Selama satu minggu aku berusaha bertahan hidup agar tidak menjadi mayat seperti laki-laki di hadapan kami. Ia hanya khawatir aku akan lepas kendali jika melihat mayat. Lagi. Untuk yang kesekian kalinya.

“Hey!”

Dari kejauhan aku melihat Seungyub yang tergopoh-gopoh menghampiri kami sambil berteriak-teriak berusaha mengalihkan perhatianku.

“Kau di sini?” Tanya Seungyub setelah sampai di sampingku.

Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Bukankah ini mengerikan? Dalam seminggu sudah ada tiga orang yang menjadi korban.”

“Tidak usah dibahas.” Protes Eun Soo.

“Aku rasa ini ulah perampok.” Seungyub mengabaikan Eun Soo yang kesal karena arah pembicaraannya mengarah pada sesuatu yang selalu menjadi mimpi burukku belakangan ini.

“Ayo kita pulang.” Eun Soo menarik tanganku untuk meninggalkan Seungyub yang sekarang sudah sibuk memanjangkan kepala untuk mengintip kondisi mayat laki-laki tersebut.

“Wajahnya sampai tidak berbentuk seperti itu. Apakah dia benar-benar dihantam menggunakan batu?” Seungyub masih terus menyusun skenario pembunuhan laki-laki itu saat melihat batu berlumuran darah yang berada di dekat kepala mayat tersebut. “Ya! Hyung, tunggu aku!” Seungyub berteriak lagi saat melihat aku dan Eun Soo yang sudah berhasil keluar dari kerumunan. Aku hanya melambaikan tangan sambil tertawa dan menunjuk-nunjuk Eun Soo dengan tangan kiriku yang bebas. Seunngyub mendengus dan mulai menyibukkan diri bertanya pada warga perihal mayat tersebut.

&&&

Aku membersihkan sisa darah Nicole di wajahku. Aku tidak akan membalas jika bukan dia yang menyerangku terlebih dahulu. Hanya refleks tubuh untuk perlindungan diri. Nicole yang tiba-tiba datang dari balik punggungku lengkap dengan sebilah pisau di tangannya berlari penuh nafsu membunuh ke arahku. Ia tampak begitu kacau. Tentu saja, memangnya ada yang tidak kacau selama satu minggu saling memangsa?

Kejadiannya begitu cepat,

“Hanya tinggal kita bertiga, bajingan!” Nicole membuang ludah ketika jaraknya sudah agak dekat denganku.

Aku memasang posisi siaga, mempererat genggaman parang pada tanganku. Hanya tiga yang tersisa. Aku, dirinya dan yang terakhir adalah Hara. Hanya ada satu pemenang. Jika bukan aku yang mati maka Hara yang harus mati. Akan lebih mudah bagiku jika Hara tewas di tangan peserta lain. Bagaimana bisa aku membunuh teman satu teamku sendiri. Baiklah, tidak ada yang namanya teman, team atau semacamnya. Yang ada hanya sekutu. Jika aku berhasil membunuh Nicole, itu artinya selanjutnya aku harus berhadapan dengan Hara. Aku tidak ingin menjadi pengkhianat, tapi siapa yang ingin mati karena permainan laknat ini.

“Setelah menghabisimu, aku akan menghabisi temanmu!” Nicole tertawa pongah.

Semua yang melihatku hanya akan memandang rendah. Tidak ada satu pun bagian dari diriku yang mampu mengintimidasi mereka. Sekali pindai, semua akan terbaca. Lelaki kutu buku tanpa pengalaman ilmu bela diri atau pun penggunaan senjata tajam. Meski sudah dilatih selama dua minggu penuh sama sekali tidak bisa mengubahku menjadi seorang petarung secara ajaib.

Tiba-tiba Nicole tersandung, refleks aku mundur. Namun gerakannya yang cepat masih mampu menggapai kaki kiriku dan menariknya. Kini kami sama-sama tersungkur di tanah. Tanpa rela memberikanku waktu untuk bergerak ia menusuk-nusuk pisau ke kaki kiriku. Menambah bekas luka yang sebelumnya kuterima saat berhadapan dengan Jaehyung.

“Arghh!” Teriakku saat ia merobek kulit kaki kiriku dan mencongkel-congkel dagingnya dengan gemas. Gadis ini sudah gila, batinku. Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku mengangkat parang yang masih kupegang dan melemparkannya tepat di leher Nicole. Dengan terengah-engah aku beringsut, menjauhkan diri dari Nicole jika tahu-tahu ternyata parangku tidak membuatnya tewas seketika.

“Sial!” Aku melihat kakiku dengan tatapan nanar. Tidak ada harapan. Jika tidak segera diberi pertolongan, aku harus mengucapkan selamat tinggal pada kaki kiriku. Tidak ada jalan lain selain mengamputasinya. Setidaknya, pengetahuanku sebagai calon dokter membantu untuk mengetahui sampai sejauh mana batas ketahanan tubuhku.

“Young Saeng!” Hara muncul dari semak-semak tepat saat meriam yang menandakan kematian Nicole terdengar. Aku mendesah. Keadaannya tidak jauh berbeda dariku. Lengan baju sebelah kanannya bahkan sudah robek dan memperlihatkan luka di sekujur lengannya. Sekarang benar-benar hanya aku dan Hara yang tersisa. Hanya ada satu pemenang, tidak ada toleransi. Kalau bukan aku yang membunuh Hara, maka dia yang akan membunuhku. Tapi aku ingin pulang, merawat adikku.

Hara berlari menghampiri. Di punggungnya tersampir anak panah. Aku menatap senjata terakhir milikku yang masih menempel di leher Nicole. Kemudian mataku teralih pada kakiku yang mulai dilalati.

Aku masih ingat ketika Hara mengambil anak panah miliknya dan mengacungkannya padaku. Sekarang sudah ditentukan siapa yang akan pulang.

“Bruuk!”

Aku meringis saat menyadari lemparan bantal di wajahku. Belum lagi aku bisa membaca situasi, tercium bau alkohol yang begitu menusuk. Oh, rumah berbau seperti ini di mana lagi kalau bukan di tempat tinggal Seungyub.

“Mimpi buruk lagi?” Seungyub meletakkan segelas air putih di meja kecil samping sofa tempat aku tertidur.

Aku hanya mengangguk singkat dan berusaha mendudukkan diri. Tadi siang karena tidak ada kerjaan aku mengunjungi Seungyub. Setelah percakapan tidak berarti selama kurang lebih dua jam, aku tertidur di sofa. Entahlah, ketika bersama Seungyub aku sedikit bisa memejamkan mata walau hanya sejenak. Aku lupa jika bersama Seungyub tidak akan dibangunkan dengan cara baik-baik, hanya Eun Soo yang akan melakukannya untukku.

“Mau?” Seungyub menyodorkan botol minumannya.

Aku menepis botol minuman yang disodorkannya. “Jam berapa sekarang?”

“Masih sore. Jam 4.” Seungyub memerosotkan tubuhnya dari sofa dan duduk di lantai, mencari-cari remote televisi. Ketika ia hendak menghidupkan televisi aku langsung menahan tangannya.

“Jangan.” Larangku.

Seungyub awalnya tidak paham. “Oh, baiklah.” Ia mencampakkan remote ke atas sofa.

“Bagaimana jika suatu hari kau tidak ada? Atau aku yang tidak ada? Apa yang akan terjadi pada keluargamu?”

“Tidak tahu, otakku sudah tidak sampai lagi untuk bisa berpikir ke arah sana.”

“Aku sudah tidak memiliki keluarga lagi.”

Seungyub menjadi yatim piatu sejak hari pertama ia menjadi peserta. Orang tuanya dibunuh karena memberontak dan berusaha menghentikan kepergian Seungyub. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat peluru menembus kepala ayah dan ibunya. Tidak heran ia menjadi lepas kendali dan membunuh siapa saja di arena tanpa rasa canggung dan bersalah, meski itu adalah yang kali pertama baginya. Ia menjadi pemenang dua tahun yang lalu, di usia 16 tahun. Membawa kemenangan dengan rasa amarah dan rencana-rencana pembalasan dendam. Tapi lagi-lagi kami bisa apa? Kami hanya warga yang diperbudak. Butuh seorang revolusioner untuk memerdekakan kami.

“Malam sebelumnya, aku membuat janji dengan seseorang.” Sambung Seungyub.

Aku menaruh perhatian lebih kepada Seungyub. Jarang sekali dia mau membuka diri.

“Tapi setelah namaku disebut aku bahkan tidak berani menatap mata orang itu karena tahu aku tidak akan pernah bisa menepati janjiku padanya. Sekarang dia membenciku. Menatapku jijik, sama seperti tatapan keluarga yang anaknya telah aku bunuh dengan kejam ketika aku melakukan tur kemenangan. Aku tidak apa-apa selama bukan dia yang menatapku seperti itu, tapi sayangnya dia juga terlanjur merasa jijik kepadaku.” Seungyub menghela napas putus asa. “Bagaimana jika aku tidak ada?”

“Temanmu? Kekasihmu?”

“Bukan keduanya.”

Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela dekat pintu yang tirainya sedikit tersibak angin. Menjadi peserta, tidak peduli mati ataupun bertahan tidak ada lagi sisa-sisa orang yang boleh disayangi di dunia ini. Menjadi pembunuh untuk bertahan hidup tidak akan menjadikanmu normal ketika pulang ke kampung halaman. Jika punya keberanian lebih dan berniat melakukan perlawanan terhadap pemerintahan, bersiaplah satu persatu orang yang kau sayangi akan tewas secara misterius. Karena sejak namamu didaulat sebagai peserta, sesungguhnya kau sudah mati. Harapan? Itu hanya omong kosong!

“Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menjadi jahat di hadapannya.” Seungyub menangis. Aku hanya meliriknya, tidak melakukan apa-apa untuk menenangkan. Mungkin inilah yang selama ini ia sembunyikan dibalik morfin dan alkohol.

“Tidak apa-apa.” Ujarku pelan.

“Aku selalu senang saat melihatnya tersenyum, tapi aku selalu memalingkan wajah darinya.” Seungyub terisak.

Hanya suara tangis Seungyub yang mengisi rumah beraroma alkohol ini. Aku tahu persis bagaimana rasanya. Aku memang tidak perlu repot-repot menjadi jahat atau bersikap berpura-pura tidak peduli terhadap Seungah tapi berpura-pura tidak mencintainya sangat sulit bagiku.

“Sepertinya Hara memiliki janji kepada seseorang sebelum akhirnya akulah yang menjadi pemenang.”

“Kami memiliki janji kepada orang yang sama.” Jawab Seungyub lirih di sela-sela isakannya.

Aku menoleh cepat kepada Seungyub. Orang yang sama?

&&&

Aku masih bisa mendengar teriakan Eun Soo saat kesadaranku belum sepenuhnya hilang.

“Lee Seungyub! Apa yang kau lakukan pada ibuku?” Eun Soo mencampakkan barang belanjaannya ke sembarang arah dan berderap ke arah kami. Aku yang masih tergeletak tak berdaya di bawah Seungyub hanya mampu menatap Eun Soo dengan lemah.

“Ibu, kau baik-baik saja?” Teriak Eun Soo sambil mengguncang tubuh ibu yang berlumuran darah. “Ibu, jawab aku!” Eun Soo memeriksa detak jantung ibu, setelah itu ia mengambil selai yang tergeletak di sampingnya dan melemparkannya ke arah Seungyub. “Brengsek kau! Apa yang kau lakukan pada ibu dan kakakku!”

Seungyub hanya terpaku dan menatap pisau yang ada di tangannya dengan nanar. Ia sama sekali tidak menyangka akan tertangkap basah oleh Eun Soo. Aku berusaha bangkit, namun Seungyub lagi-lagi menahan tubuhku.

“Singkirkan dirimu dari tubuh kakakku, brengsek!” Eun Soo mendorong Seungyub yang masih duduk di atas perutku, namun ia sama sekali tidak bergeming. “Aku akan menelepon polisi sekarang juga.”

Eun Soo baru akan berjalan menuju telepon yang tergantung di dekat pintu dapur saat Seungyub menjatuhkan pisau yang daritadi masih dipegangnya dan beranjak dari tubuhku, mendekati Eun Soo yang sudah ketakutan karena melihat pergerakan Seungyub. “Jangan lakukan itu.” Seungyub menahan tangan Eun Soo “Tolong.”

“Kau sudah membunuh ibuku. Kenapa kau melakukan ini padaku Lee Seungyub, kenapa?” Bukankah kau dulu—“

“Bukan aku yang membunuh ibumu.” Jawab Seungyub datar.

“Ya! Pisau itu ada di tanganmu bodoh! Kau bahkan menduduki kakakku yang hampir kehilangan kesadarannya!”

“Apakah orang yang ditemukan sedang memegang pisau di tempat kejadian adalah selalu pembunuhnya?” Seungyub menarik Eun Soo menjauh dari telepon.

Eun Soo menangis sejadi-jadinya. Ia ingin mempercayai Seungyub, ia sangat ingin. Tapi untuk yang kesekian kalinya laki-laki ini membuatnya harus bersikap tidak mempercayainya.

Seungyub mendudukkan Eun Soo di meja makan dan menatap Eun Soo lembut. Ia bahkan merapikan rambut Eun Soo dan menyelipkannya di belakang telinga. Aku mendadak mulai khawatir. Apa yang akan dilakukan Seungyub terhadap adikku? Tapi aku segera menepis kemungkinan-kemungkinan buruk karena aku tahu Seungyub tidak mungkin mencelakai kami. Aku mempercayainya, sangat.

“Maafkan aku.” Seungyub bermaksud memeluk Eun Soo.

“Jangan sentuh aku!” Histeris Eun Soo.

Selama sedetik Seungyub terkesiap namun buru-buru mengontrol ekspresinya. “Baiklah.” Ia berdiri dan menjauh dari Eun Soo. “Aku akan menelepon ambulans, ini bukan pembunuhan, ini hanyalah sebuah kecelakaan.” Seungyub meraih gagang telepon, sambil menunggu pangilannya tersambung ia melirik Eun Soo lagi. Aku tidak pernah melihat Seungyub menatap adikku dengan tatapan seperti itu. Tidak, aku bahkan sering sekali menemukan Seungyub tidak mau melakukan kontak mata dengan Eun Soo. “Dan malam ini, kau menginap di rumahku.”

“Tidak mau!”

“Kau tidak punya pilihan.”

“Kau brengsek, Lee Seungyub.”

“Karena aku brengsek makanya aku memaksamu untuk menginap di rumahku malam ini.”

&&&

“Bunuh aku sekarang Young Saeng, bunuh!” Hara menjulurkan anak panah kepadaku. “Cepat selesaikan permainan ini!” Hara menggenggamkan anak panah itu dengan paksa, namun aku menjatuhkannya lagi. “Young Saeng, oppa!” rengek Hara. “Harus ada yang menjadi pemenang diantara kita.”

“Ya, dan kau pemenangnya. Kau jaga adikku baik-baik sampai dia menikah.” Sudah kuputuskan bukan aku yang pulang, tapi Hara. Ayahnya sudah tua dan tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dia, jadi karena hanya boleh ada satu pemenang, mau bagaimana lagi?

“Tidak! Aku tidak bisa menjaga adikmu sampai menikah!” Tolak Hara sambil memungut anak panah yang kujatuhkan dan menjulurkannya lagi padaku.

“Kau lihatlah bagaimana kondisiku sekarang! Aku bahkan hanya memiliki satu kaki, bagaimana bisa aku menjaga seorang gadis yang masih berusia 18 tahun sampai dia menikah?”

“Aku sudah berjanji pada seseorang.”

“Ye? Kalau begitu menjadi pemenanglah dan tepati janjimu.”

“Justru kalau aku pulang aku malah melanggar janjiku.”

Aku masih memandang Hara bingung saat gadis itu menghujam jantungnya sendiri dengan anak panah.

“Katakan padanya, dia harus berterima kasih dengan merawatmu dengan baik.”

Aku mendadak panik, sama sekali tidak menduga Hara akan melakukan hal seperti ini. Bunuh diri? Yang benar saja! Tidak pernah ada peserta yang membunuh dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkan orang lain. Dengan gemetar aku berusaha menarik anak panah yang menghujam jantungnya dan berteriak histeris saat meriam yang diikuti wajah Hara di langit muncul. Kemudian muncul suara yang mengumumkan bahwa Heo Young Saeng adalah pemenang permainan tahunan ini.

“Brengsek, brengsek! Dengan siapa kau membuat janji, bodoh!” Aku memeluk Hara sambil terus berteriak histeris. Pemenang katamu? Kenapa dia tidak membunuh semua anak domba ini daripada menyisakan satu anak domba yang menjadi satu-satunya pengingat akan pembunuhan masal tiap tahunnya? Hah!

&&&

“Jam besuk sudah berakhir, bersiaplah untuk pemakaman ibumu besok!” Seungyub menutup pintu ruangan Young Saeng dirawat sambil mendorong-dorong tubuh mungil Eun Soo.

Eun Soo menatap Seungyub tajam dan selama beberapa detik terjadi keheningan di antara mereka namun Seungyub langsung memalingkan wajahnya lagi. Tiba-tiba tangan Eun Soo terangkat dan mendaratkannya dengan kasar di pipi Seungyub.

“Lakukan lagi sampai kau merasa lebih baik.”

“Memangnya kau pikir siapa yang lebih sakit? Aku yang menamparmu atau kau yang ditampar?”

“Kau.”

“Bagus kalau kau tahu.”

“Ayo, kita pulang!” Seungyub menarik tangan Eun Soo dan memaksa untuk mensejajari langkahnya.

“Aku membencimu Seungyub, sangat membencimu.”

“Aku tahu.”

“Apa yang terjadi pada ibuku?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau berada di sana!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu.”

Eun Soo menghentakkan tangannya kasar. “Lee Seungyub!”

“Aku akan mencari tahu untukmu.” Seungyub mendesah, berusaha menahan kekesalannya.

“Kalau begitu biarkan aku menghubungi polisi!”

“Apa kau tidak sadar juga dengan posisimu, Heo Eun Soo? Kau tidak sadar atau berpura-pura tidak menyadarinya? Kakakmu adalah seorang pemenang, semua kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik. Jika muncul pemberitaan tentang pembunuhan ibumu, kau pikir siapa yang akan paling menderita? Apa kau pikir masih ada keadilan di kota ini? Bagaimana kalau yang melakukannya adalah orang pemerintahan?” Kali ini gantian Seungyub yang berteriak. Ia tidak suka berbicara panjang lebar seperti ini dengan Eun Soo.

“Tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang berbau pengkhianatan. Ia bahkan selalu kesulitan untuk tidur di malam hari, bagaimana bisa ia memiliki pemikiran untuk memberontak!”

Seungyub menghela napas. Lagi. “Makanya aku bilang, biar aku yang mencari tahu untukmu.”

“Bagaimana kalau kau yang membunuh ibuku?”

“Kalau aku yang melakukannya, aku tidak akan repot-repot membawa kakakmu ke rumah sakit dan merawat gadis kecil cerewet sepertimu. Aku akan langsung membantai kalian semua.”

“Kalau begitu biarkan aku pulang saja.”

Seungyub mengacak-acak rambutnya kesal. “Aku sudah lelah berbicara terus, sekarang diam dan menurut saja padaku.” Lagi-lagi Seungyub memaksa Eun Soo untuk mengikutinya dan mengabaikan teriakan gadis itu.

&&&

To be continued . . .

NOTE  : Hunger Games ia a movie about a televised fight to the death in which two teenagers from each of the twelve Districts of Panem are chosen at random to compete. But, in this fanfiction i made the age of participant is 15-23 yo.

If you don’t recognize who’s Heo Young Saeng from ss501 and Lee Seungyub from A-JAX, here they’re :

  • Heo Young SaengHEO YOUNG SAENG
  • Lee SeungyubLEE SEUNGYUB

4 comments

  1. realpinkpanda · June 11, 2014

    wah….. daebak thor critanya menegangkan bgt.
    sebenarnya sih q bingung awl2, tpi… trakhir2nya jdi gk.
    msh tbc kan??? ahhh… lbh enk tbc q kira ini tdi oneshoot

    • ichenaoi · June 15, 2014

      Makasih lho udah baca😄
      Iya, ini twoshoot masih ada kelanjutannya kkk😄

  2. froztymint · June 13, 2014

    Eh ada abang Saengi..

    • ichenaoi · June 15, 2014

      Ahahaha, iya. jarang-jarang kan abang itu main FF (?) lols

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s