Unstoppable Marriage part II

Title                 : Unstoppable Marriage part II

Scripwriter     : Mrs. Heo

Cast                 : Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC]

                           Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre              : Romance, fluff, family

Duration        : Chapter

Rating            : General

Summary

            Hal pertama yang harus dilakukan untuk menggoda seorang gadis adalah dengan senyuman yang memikat – Kim Seokjin
UNSTOPPABLE MARRIAGE II

2

Mr. Wu

Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts
(Don’t Speak-No Doubt)
 
 

­Segalanya sudah dipertimbangkan. Bukannya Wu Yifan tidak tahu bahwa ia akan menikahi kakak dari mantan kekasihnya, tapi apakah hal itu harus menjadi sebuah alasan untuk enggan melanjutkan kehubungan yang lebih serius?

Yifan baru saja akan mengambil meja di dekat pintu kafe saat melihat seseorang yang belakangan ini menjadi akrab dengannya di sudut ruangan, Heo Young Saeng.

“Boleh aku bergabung denganmu hyung?” Tanyanya setelah sampai di meja Young Saeng. Sudut ruangan, sama seperti adiknya, mereka berdua sangat menyukai makan di meja paling pojok.

Young Saeng terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengenali laki-laki jangkung yang ada di hadapannya saat ini. “Oh, kau. Silahkan!” Jawabnya ramah sambil merapikan posisi duduknya.

“Makan siang sendiri?” Tanya Yifan berbasa-basi. Ia sudah cukup mengenal Young Saeng, bahkan sejak ia masih berstatuskan kekasih Eun Soo. Young Saeng adalah seorang yang gila kerja. Ia lebih suka menghabiskan akhir pekan dengan mempelajari kasus clientnya daripada berpesta. Setiap melihat Young Saeng, Yifan selalu melihat refleksi Eun Soo di dalamnya. Young Saeng seperti versi pria dari Eun Soo. Pendiam, tidak terlalu mempedulikan keadaan sekitar dan sangat buruk dalam menunjukkan perasaannya. Tidak heran jika belum mengenal mereka akan buru-buru memberikan label arogant.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu.” Young Saeng terkekeh. “Tidak makan siang bersama Riyoung?” Tiba-tiba Ia teringat bahwa beberapa hari yang lalu sudah menjual dirinya kepada Eun Soo untuk membantu rencana liciknya terhadap pernikahan Yifan dan Riyoung.

“Setelah makan siang aku ada operasi, jadi tidak bisa berlama-lama.”

Young Saeng mengangguk-angguk paham dan berusaha menghindari percakapan mengenai Riyoung. Jujur saja ia merasa sangat bersalah mengingat apa yang telah ia lakukan di belakang orang ini.

Setelah memesan makanan, Yifan melirik Young Saeng yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya.

Hyung.” Panggil Yifan ragu.

“Hmm.”

Yifan tersenyum kecil. Melihat Young Saeng yang duduk bersandar dan hanya menjawab dengan nada acuh seperti itu benar-benar mengingatkannya pada Eun Soo, tipikal yang terlalu cuek. Kalau dipikir-pikir, selama empat tahun menjalin hubungan, ia merasa begitu nyaman bersama gadis itu. Hanya saja ia sadar bahwa dirinya dan Eun Soo terlalu mirip sehingga membuat mereka seperti tidak bisa saling menjangkau.

Setiap melihat Young Saeng tidak bisa dipungkiri mengurangi kerinduannya pada sosok Eun Soo. Eun Soo yang selalu menutupi dan ia yang menolak untuk berinisiatif. Yifan sadar bahwa ia butuh seorang gadis yang setidaknya akan menangis di hadapannya tanpa rasa malu. “Aku dengar Eun Soo sudah pulang ke Korea.”

Bang!

Menghindari percakapan mengenai Riyoung tapi sekarang Yifan malah membicarakan Eun Soo. “Apa?” Young Saeng berpura-pura tidak mengerti.

“Aku mendengarnya dari seorang teman. Apakah ia pulang ke rumah?”

Young Saeng hanya tersenyum kecut. Pulang ke rumah katanya? Bahkan mungkin Eun Soo sudah melupakan jalan pulang ke rumah. Sebenarnya Young Saeng tidak berniat memihak kepada siapa pun dari kedua adiknya. Ia sama-sama menyayangi kedua adik perempuannya itu, tapi perlakukan berlebihan ibu benar-benar membuatnya muak.

Ia tahu bahwa ia dan Eun Soo benar-benar mirip. Ia begitu memahami perasaan dan pola pikiran gadis itu. Eun Soo bukan tipikal yang akan menghabiskan tenaga untuk menjelaskan sesuatu yang hanya akan membuatnya terluka dan akan langsung pergi begitu saja tanpa memberikan peringatan ketika sudah benar-benar lelah bertahan. Secara pribadi, ia pikir itu adalah keputusan yang tepat. Terbukti ibunya sedikit menyesal tapi memang tidak terjadi banyak perubahan terhadap pandangan ibunya mengenai Eun Soo.

“Tidak.” Ia terlalu malas memberikan penjelasan lebih tentang Eun Soo kepada orang lain. Ia tidak suka orang lain membuat asumsi-asumsi tentang adiknya.

Mendengar hal itu membuat Yifan merasa sedikit bersalah. Empat tahun menjalin hubungan dengan Eun Soo tidak mungkin ia tidak mengetahui tabiat gadis itu.

“Ibu dan Riyoung bahkan belum mengetahuinya. Tolong kau rahasiakan dulu ya.”

“Err, untuk Riyoung—“

Young Saeng mendesah. Ia tahu Yifan akan selalu berbagi informasi mengenai Eun Soo kepada Riyoung. “Kalau begitu jangan berikan informasi tambahan jika temanmu itu menceritakan tentang Eun Soo.” Ada sedikit paksaan di dalam nada bicara Young Saeng. Sebenarnya Eun Soo sudah kembali ke Korea sejak empat bulan yang lalu, namun sengaja merahasiakannya karena tidak ingin dipaksa pulang ke rumah.

“Apa ia tahu bahwa kami akan menikah?” Tanya Yifan ragu. Ia baru mengenal Riyoung satu tahun, tapi sudah merasa begitu mantap untuk meminta gadis itu menikah dengannya, berbeda ketika bersama Eun Soo. Empat tahun yang mereka jalani tidak pernah membuatnya berpikir untuk menjadikan Eun Soo sebagai pendampingnya. Ditanya apakah ia mencintai Eun Soo? Tentu saja. Mungkin karena waktu itu mereka masih dibangku sekolah menengah, terlalu cepat untuk memikirkan pernikahan. Tapi ia tidak pernah membayangkan hubungan mereka akan berakhir dengan cara seorang Heo Eun Soo. Cara yang begitu angkuh dan tanpa peringatan gadis itu pergi begitu saja.

“Eoh, aku sudah memberitahunya. Tapi ia datang ke sini hanya untuk urusan pekerjaan.” Bohong Young Saeng.

Yifan mengangguk-angguk mengerti.

“Bisa kita lewati makan siang ini tanpa membahas kedua gadis itu?” Keluh Young Saeng.

Yifan mengangkat sebelah tangannya. “Baiklah, kita lalui makan siang ini dengan obrolan antar lelaki.”

Data tambahan mengenai Eun Soo.

Ia bisa menjadi begitu menyebalkan ketika mulai banyak bicara. Seokjin sengaja mengerem mendadak untuk membuat Eun Soo berhenti bicara.

“Ya!”

“Ya!” Seokjin balas berteriak dan melihat ke kursi belakang. “Namanya Heo Riyoung, sangat menyukai warna merah muda, tidak menyukai laki-laki yang banyak omong dan kasar! Aku sudah hapal, kenapa kau terus mengulanginya sepanjang perjalanan?” Seokjin berteriak kesal sambil memandang Eun Soo yang masih meringis kesakitan karena kepalanya terbentur kaca saat Seokjin mengerem mendadak.

Informasi yang diperoleh Hoseok adalah Riyoung saat ini sedang makan sendiri di restoran cepat saji dekat kantornya karena Yifan tidak bisa menemani gadis itu makan siang. Untuk itu saat ini mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju ke sana.

“Seokjin, jangan kasar begitu. Eun Soo kan hanya mengingatkan supaya kau tidak lupa.” Hoseok membela Eun Soo karena Yoongi sudah memperingatinya berkali-kali agar tidak mengecewakan client mahal seperti Eun Soo.

“Tapi aku sudah ingat!” Seokjin tidak mau kalah.

“Kau sudah melihat foto Yifan kan? Tentu kau paham kalau kau tidak boleh memiliki cacat sedikit pun di hadapan Riyoung, dia—“

“Angkat teleponmu!” Perintah Seokjin masih dengan nada kesal. Ia bersyukur karena ponsel Eun Soo berdering.

Eun Soo mengabaikan panggilan untuknya. “Kau—“

“Suaranya mengganggu nona Heo.”

Eun Soo baru saja akan menolak panggilan tersebut saat melihat id penelepon dan buru-buru mengangkatnya. Tepat setelah ia menerima panggilan Young Saeng, panggilan langsung terputus. “Sial!” Umpat Eun Soo. Ia baru sadar bahwa hal itu dilakukan kakaknya agar ia menyadari pesan line yang masuk.

“Apa kau tidak sadar bahwa dari tadi notifikasi chatmu berbunyi terus?” Seokjin bertanya sebal.

Eun Soo mengacuhkannya dan lebih memilih segera melihat isi pesan kakaknya. “Apa?” Tanpa sadar Eun Soo berteriak saat membaca pesan Young Saeng dan buru-buru mencari kontak Jihyun.

“Ada apa?” Tanya Hoseok panik. Ia khawatir Eun Soo akan membatalkan kontrak kerja mereka karena ulah Seokjin.

“Apa kau harus berteriak sekencang itu?” Seokjin semakin kesal karena Hoseok yang selalu membela Eun Soo dibandingkan dirinya.

Hoseok mendelik dan memukul kepala Seokjin. “Ck, apakah kau tidak bisa bersikap lebih sopan? Dia itu adalah tambang uang kita. Kau tahu kan akhir-akhir ini kita sepi orderan.” Bisik Hoseok.

Seokjin mencibir dan melirik Eun Soo dari kaca spion.

“Jihyun, kau yang memberitahu Yifan kalau kau bertemu denganku?” Setelah tersambung Eun Soo langsung memarahi Jihyun.

“Ya! Kenapa kau memberitahunya?”

“Ck, apa harus kau mengupdate status SNS seperti itu? Bertemu si bodoh Eun Soo katamu? Kenapa tidak sekalian memberi nomor ponselku kepadanya!”

“Ya! Berani kau melakukannya, aku akan meminta Young Saeng untuk menuntutmu atas perbuatan tidak menyenangkan.” Eun Soo masih terus memarahi Jihyun di seberang sana.

“Aku tidak tahu kalau dia begitu cerewet.” Seokjin mengadu kepada Hoseok yang kini sudah agak tenang karena dirinya dan Eun Soo sudah tidak berdebat lagi.

                Seokjin sudah terbiasa berhadapan dengan gadis cantik. Selalu banyak gadis cantik di sekelilingnya. Ia tidak pernah bersusah payah menarik perhatian para gadis karena mereka akan datang dengan sukarela. Seokjin akui bahwa Eun Soo lebih cantik daripada Riyoung, namun Riyoung jelas berada di kelas yang berbeda dengan adiknya yang membuatnya jauh lebih menarik sebagai wanita. Lagipula Riyoung terlihat jauh lebih bersahabat dibandingkan Eun Soo yang lebih sering memperlihatkan gesture tidak peduli terhadap sekitarnya.

Namun, seperti gadis lainnya, tidak ada yang akan mengabaikan ketampanannya. Dengan sengaja Seokjin yang berpura-pura sedang sibuk menelepon menabrak meja Riyoung.

“Ahh, maaf nona.” Seokjin membungkuk beberapa kali kepada Riyoung.

“Tidak apa-apa.” Jawab Riyoung sambil tersenyum ramah. Secara refleks Seokjin ikut tersenyum. Lihatlah kakak adik ini. Mereka benar-benar orang yang berbeda.

“Tapi aku benar-benar minta maaf karena telah mengganggu makan siangmu. Biar aku mentraktirmu. Bagaimana?” Seokjin menawarkan diri.

Riyoung terkekeh. “Tidak usah, aku sudah kenyang.” Riyoung menunjuk piringnya yang sudah kosong.

Seokjin sengaja memasang ekspresi memelas. Biasanya hal itu bekerja dengan baik. “Bagaimana di saat kau lapar aku mentraktirmu?” Paksa Seokjin.

Riyoung menatap Seokjin heran dan memperhatikan penampilan laki-laki itu. Dari penampilannya jelas ia terlihat seperti orang baik-baik. Tapi bukankah seseorang yang berpenampilan rapi akhir-akhir ini sering menjadi pelaku tindak kejahatan? Riyoung mulai merasa khawatir.

“Hey, aku bukan orang jahat.” Seokjin terkekeh. “Kim Seokjin. Kau bisa memanggilku Seokjin.” Seokjin mengulurkan tangannya.

Riyoung menatapnya ragu dan membalas uluran tangan Seokjin karena merasa tidak enak.

“Baiklah, jika kita bertemu lagi, ingatkan aku untuk mentraktirmu. Oke?” Seokjin tersenyum ramah dan berlalu meninggalkan Riyoung.

Dari kejauhan Eun Soo mencicit kesal melihat cara kerja Seokjin yang terlihat terlalu gampangan. Berpura-pura menabrak dan dengan penuh kepercayaan diri menawarkan diri untuk berkenalan, dia pikir mereka sedang syuting drama. Cih, murahan sekali.

Hoseok menggamit lengan Eun Soo untuk mengikutinya kembali ke mobil setelah melihat Seokjin sudah keluar dari restoran.

“Kenapa kau begitu gampangan?”

“Apa kau tidak mendapatkan pointnya?”

Point apa? Kau justru terlihat sedang mengobral dirimu.” Keluh Eun Soo.

“Senyuman nona Heo Eun Soo. Senyuman. Apakah kau tidak tahu bahwa senyuman adalah point utama dalam menggoda wanita?”

Eun Soo memutar bola matanya, tidak terima dengan jawaban Seokjin yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Ketika berusaha menarik perhatian seseorang tentu kesan pertama adalah yang terpenting, tapi Seokjin malah terlihat seperti laki-laki genit yang berusaha menarik perhatian Riyoung, sama sekali tidak keren. “Kau memberikan kesan pertama yang buruk.”

“Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatnya terpesona pada kesan pertama kami. Aku hanya ingin membuatnya mengingat senyumanku. Apa kau tidak tahu semua gadis tergila-gila pada bibirku?” Seokjin menunjuk bibir tebalnya penuh percaya diri.

“Hah?” Eun Soo tidak bisa menahan ekspresi sarkastiknya, tidak habis pikir dengan kepercayaan diri berlebih yang dimiliki oleh laki-laki ini terhadap parasnya. “Kau harus bekerja dengan efisien tuan Kim. Seperti halnya mengedit sebuah buku kau harus menguasai teknik membaca cepat dan menarik kesimpulan dengan baik. Sama halnya denganmu.” Eun Soo menunjuk Seokjin dengan gemas. “Kau harus memiliki teknik untuk membuat seseorang terkesan dengan cara yang cepat tapi tidak terkesan gampangan.”

“Aku bekerja dengan caraku sendiri. Suka tidak suka kau hanya perlu melihat perkembangannya.”

“Aku hanya punya waktu satu bulan. Caramu tadi benar-benar tidak efisien. Hanya sebuah senyuman? Seharusnya kau membicarakan sesuatu yang bisa membuatnya tertarik. Bukankah sudah aku katakan bahwa dia adalah penggemar berat Shinwa. Kau bisa memulai pembicaraan dengan berpura-pura kesulitan menemukan album Shinwa atau semacamnya—“

Seokjin berdecak kesal. “Apa aku harus melakukannya padamu juga agar kau percaya?”

“Melakukan apa?”

“Membuatmu jatuh cinta kepadaku pada pandangan pertama hanya karena seulas senyum.”

Eun Soo memijit kepalanya. Rasanya ia ingin pingsan saja menghadapi tingkah laku Seokjin.

Seokjin sedikit mencondongkan tubuhnya kepada Eun Soo dan meremas pundak gadis itu. “Seperti ini.” Seokjin menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum hangat kepada Eun Soo. Ia sadar bahwa senyum yang barusan itu hanya sebuah senyuman terkonsep, tapi melihat ekspresi terkejut Eun Soo membuat Seokjin secara tidak sadar mengangkat tangannya untuk mengacak rambut gadis itu.

Selama beberapa detik Eun Soo hanya bisa diam melihat Seokjin yang tersenyum kepadanya. Entah kenapa ia merasa pipinya sedikit memanas. Err, harus diakui senyum Seokjin benar-benar membuat wanita ingin mengenalnya lebih jauh. “Apa kau akan mengacak rambut gadis yang baru pertama kali kau temui?” Tanya Eun Soo sinis sambil menarik tangan Seokjin dari kepalanya dengan kasar setelah berhasil mengendalikan diri.

Seokjin berdeham karena baru menyadari apa yang barusan ia lakukan. Tapi ia cukup yakin bahwa wajah Eun Soo sedikit memerah. “Hanya berimprovisasi. Tapi tadi wajahmu memerah.” Seokjin mulai menyerang Eun Soo.

“Memerah? Aku? Hah, yang benar saja.”

“Aku benar-benar melihatnya.”

“Tidak!” Teriak Eun Soo tidak mau kalah.

“Wajahmu memerah!”

“Jangan fitnah!”

“Aku benar-benar melihatnya!”

“Terserah padamu saja.” Merasa perdebatan ini tidak akan ada akhirnya, Eun Soo memilih untuk mengalah saja. ”Yang jelas kalau dalam satu bulan kau tidak berhasil membuat Riyoung jatuh cinta padamu kau tahu akibatnya, bukan?” Eun Soo melirik Hoseok yang daritadi hanya menonton perdebatan mereka.

“Santai saja Eun Soo. Ini baru percobaan pertama, masih pemanasan.” Hoseok menepuk-nepuk pundak Seokjin. Seharusnya sejak awal Hoseok harus menghentikan Yoongi untuk menerima kasus Eun Soo. Gadis ini ternyata begitu berbahaya.

Eun Soo melengos. Ia tidak punya banyak pilihan selain mempercayakan semuanya kepada kedua orang itu. Eun Soo melirik ponselnya malas saat suara Rihanna mengalun memberitahukan ada panggilan masuk. Nomor tidak dikenal, Ia paling malas jika ada nomor tidak dikenal menghubunginya.

“Apakah sudah menjadi kebiasaanmu mengabaikan panggilan telepon?” Cibir Seokjin dari balik kemudi.

“Dari nomor tidak dikenal.” Eun Soo memperhatikan digit-digit nomor yang tertera di layar, berusaha mengenali nomor tersebut namun hasilnya nihil.

“Angkat saja, siapa tahu penting.” Menyadari bagaimana reaksi Eun Soo terhadap sesuatu yang tidak dikenalnya cukup membuat Seokjin paham mengapa gadis itu selalu membalas pesannya dengan singkat-singkat dan cenderung datar.

“Jangan mengatur-aturku.” Tandas Eun Soo sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

Hoseok terkikik tertahan. Ia tahu kalau Seokjin tidak terbiasa diperlakukan seperti itu oleh para gadis.

“Riyoung siapa?” Tanya Eun Soo datar pada lawan bicaranya saat orang tersebut mengatakan bahwa dirinya bernama Riyoung.

“Heo Riyoung?” Eun Soo mengulang nama tersebut dengan bingung. Sedetik kemudian ia tersentak saat menyadari bahwa itu adalah kakaknya sendiri. “Oh, Eonni.” Eun Soo melembutkan suaranya. Tamat sudah riwayatnya jika Riyoung sudah mengetahui nomor ponselnya. Jika bukan ulah Jihyun dan Kris ini pasti ulah kakak tertuanya, Young Saeng. Siapa pun yang melakukannya diantara orang-orang itu ia tidak akan melepaskan mereka begitu saja. “Ye? Memilih gaun pernikahan?” Tanya Eun Soo kaget. Sedetik kemudian ia tersenyum kecut saat mendengar kekehan Riyoung di ujung sana.

Seokjin yang mencuri dengar pembicaraan Eun Soo di telepon sudah bisa membaca situasi. Melihat perubahan ekspresi Eun Soo saat mengatakan memilih gaun pernikahan membuatnya berasumsi bahwa penyebab Eun Soo berusaha mati-matian menggagalkan pernikahan kakaknya adalah karena ia masih belum bisa merelakan hubungan empat tahun yang pernah ia jalin bersama laki-laki bersana Yifan tidak berakhir dengan dirinya yang menjadi pengantin laki-laki itu. Menurutnya begitu. “Kalau begitu kenapa dia tidak membayarku untuk menjadi kekasihnya saja?” Tanpa sadar Seokjin tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Eun Soo jika ia bersikap manis padanya. Baru diberi senyuman sedikit saja wajahnya sudah memerah apalagi jika ia melakukan sesuatu lebih dari seulas senyum.

“Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?” Hoseok bertanya dengan nada jijik saat melihat Seokjin.

“Tidak ada yang bisa mengelak dari ketampananku bukan?” Tanya Seokjin pongah. “Bahkan seorang Heo Eun Soo tidak bisa menyembunyikan kegugupannya karena melihat ketampananku.”

Sudah hal yang biasa bagi Hoseok menghadapi kepercayaan diri berlebih yang dimiliki temannya itu. Ia akui Seokjin memang sangat menarik bagi wanita tapi ia tidak yakin client mahal mereka yang bahkan terkadang seperti tidak menyadari keberadaan orang lain di sekitarnya akan luluh juga kepada Seokjin. “Apa kau pikir dia akan menurunkan standarnya dari seorang Wu Yifan menjadi Kim Seokjin?” Tepat setelah Hoseok menyelesaikan kalimatnya, Seokjin mendaratkan sebuah cubitan di perutnya.

“Lagipula dia bukan tipe idealku.”

Selain gadis cantik yang kaya, tidak banyak hal yang tidak disukai oleh Seokjin. Namun diantara beberapa hal, yang paling tidak sukainya adalah makan seorang diri. Meskipun tinggal sendiri, ia selalu berusaha mengajak Hoseok atau Yoongi untuk makan bersama. Tapi kali ini rasa laparnya sudah tidak bisa ditolerir lagi dan terlalu lama jika meminta Hoseok ataupun Yoongi untuk menyusulnya.

Sesosok yang beberapa hari ini mulai tidak asing membuatnya menghentikan langkah tidak tentu arahnya. Setelah memastikan bahwa ia tidak salah lihat, dengan penuh semangat ia menyeberang untuk menghampiri Eun Soo yang baru saja keluar dari sebuah toko buku.

“Wah, coba kita lihat apa saja bacaanmu.”

Sifat alami Eun Soo yang terlalu cuek dan menunduk ketika berjalan mempermudah Seokjin mengagetkan gadis itu. Eun Soo hampir saja berteriak ketika seseorang mengambil kantung belanjaannya secara paksa jika tidak segera menyadari bahwa orang itu adalah Seokjin.

“Kembalikan!” Pinta Eun Soo.

Bukannya mengembalikannya, Seokjin malah sengaja mengangkat tinggi-tinggi kantung belanjaan Eun Soo. “Akan kukembalikan setelah kau menemaniku makan siang.”

“Apa katamu?” Eun Soo tidak paham bagian mananya dari Seokjin yang disebut-sebut sebagai aset perusahaan oleh Yoongi. Apa mereka tidak memiliki pasokan laki-laki berwajah tampan yang normal? Baiklah, Seokjin memang tampan tapi kelakuan laki-laki itu benar-benar membuat Eun Soo lelah karena harus selalu menghela napas setiap kali menghadapinya.

“Aku tidak suka makan sendirian. Jika menelepon Hoseok dan Yoongi memakan waktu yang cukup lama. Aku sudah sangat lapar.”

“Lalu?”

“Lalu aku secara tidak sengaja melihatmu, itu artinya siang ini temanku makan siang adalah kau.”

“Kembalikan, aku sedang banyak urusan.” Tidak mempedulikan usaha Seokjin dengan memberikan tatapan memelas, Eun Soo berusaha meraih kantung belanjaannya. Tingginya yang hanya sebahu Seokjin dan tanpa bantuan sepatu berhak membuatnya kesulitan menggapai belanjaan miliknya. “Aku sedang tidak ingin bercanda.” Eun Soo mulai jengah karena Seokjin menghalanginya menggapai kantung belanjaan.

“Aku tahu kalau kau juga belum makan siang. Ayo makan bersama, sekaligus membicarakan kakakmu.”

Eun Soo mendesis. Hari ini sudah cukup sial baginya karena sore nanti terpaksa harus menemui kakaknya. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengingatkannya tentang Riyoung. Seharusnya masalah rencana penggagalan pernikahan Riyoung dan Yifan berjalan lebih mulus jika Jihyun tidak memberitahu Yifan mengenai keberadaannya. “Lain kali saja.” Eun Soo mulai tidak sabar dan lebih agresif berusaha meraih kantung belanjaannya.

“Hanya sebentar saja, aku benar-benar tidak suka makan sendirian.” Seokjin mundur beberapa langkah untuk semakin mempersulit Eun Soo.

“Kembalikan, Kim Seokjin!” Eun Soo yang mulai kesal, melompat-lompat kecil untuk bisa menyamakan tingginya dengan Seokjin, namun tetap saja tidak membuahkan hasil. Eun Soo semakin kesal melihat ekspresi bahagia Seokjin karena berhasil mengerjainya.

“Hey, hati-hati!” Tiba-tiba Seokjin menarik pinggang Eun Soo saat menyadari bahwa mereka sudah berada di pinggir jalan dan Eun Soo hampir saja tertabrak oleh pengendara sepeda yang kebetulan lewat.

“Kakak ipaaar!”

Seokjin dan Eun Soo menoleh bersamaan ke sumber suara. Dari arah yang berlawanan seorang berambut oranye terang tengah berlari-lari menghampiri mereka. Eun Soo bahkan tidak sempat melakukan perlawanan saat laki-laki aneh itu menarik dirinya yang—ia baru sadari juga bahwa Seokjin masih merangkul pinggangnya dan memeluknya secara tiba-tiba. Sekali lagi, tanpa memberikan Eun Soo kesempatan untuk protes laki-laki itu melepaskan pelukannya dan memutarinya. “Suka, aku suka kakak ipar.” Sekarang laki-laki itu berteriak-teriak heboh sambil menarik-narik tangan Eun Soo seolah mengajaknya menari.

“Kau siapa?” Sudah cukup dengan pertemuannya dengan Seokjin sebelum bertemu dengan Riyoung, tidak perlu ditambah dengan laki-laki aneh yang tiba-tiba muncul dan terus-terusan memanggilnya kakak ipar.

“Aku?” Laki-laki aneh itu menunjuk dirinya sendiri. “Aku adik iparmu, noona.” Sekarang ia malah bergelayut manja di lengan Eun Soo.

“Hey, lepaskan!” Tukas Eun Soo, merasa risih terhadap perlakuan manja laki-laki tersebut kepadanya. Kalau ia tidak bisa menahan diri lagi ia benar-benar akan menampar bocah oranye kurang ajar tersebut.

Hyung, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kakak ipar semanis ini.”

Hyung? Kau mengenalnya?”

“Di-dia adikku.” Seokjin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Benarkah dia kekasihmu, oppa?”

Sejujurnya Seokjin merasa senang terhadap pertemuan secara kebetulan dengan adiknya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan adiknya. Seingatnya dulu saat terakhir kali mereka bertemu Taehyung masih berambut cokelat. Tapi satu hal yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman adalah seseorang yang akan selalu ada bersama Taehyung dimana dan kapan pun ia berada.

“Aku? Tentu saja—” Sebelum terjadi kesalahpahaman Eun Soo buru-buru mengklarifikasi identitas dirinya tapi Seokjin membuat ucapannya terhenti dan menggantung saat laki-laki itu menarik dirinya dari Taehyung. Bahkan Seokjin tidak sadar bahwa saat ini ia telah menggenggam tangan Eun Soo.

“Ahh, kalian berdua benar-benar manis.” Sekarang Taehyung bertepuk tangan heboh. Eun Soo rasanya ingin berpura-pura mati saja. Satu Kim Seokjin yang terlalu percaya diri saja sudah membuatnya hampir pingsan tidak perlu ditambah dengan Kim Taehyung yang selalu berteriak heboh seperti idiot.

Oppa!”

Seokjin tidak berniat melibatkan Eun Soo, tapi ia juga tidak ingin memberikan harapan kepada gadis yang sejak tadi terus menatapnya, menuntut jawaban siapa Eun Soo sebenarnya.

“Tentu saja dia adalah kakak ipar kita, Yura-a.”

To be continued…

Note : Sebenernya ide cerita ini salah satu project batal aku sama beberapa temen yang original castnya itu Kyung Soo. Jadi daripada idenya sia-sia jadi project solo aja (?) HAHAHAHA. Kritik & sarannya ditunggu😄

5 comments

  1. auliaandani24 · June 16, 2014

    Next ya thor

  2. VaL · June 17, 2014

    Huaaa, ada apalagi niii

    Penasaranmodeon

    Next partnya ditunggu yahhh

    Gomawooo

  3. mio · July 13, 2014

    masih agak bingung, Thor

  4. christiejaena480 · August 10, 2014

    ini keadaannya jadi berbalik ya. kurasa itu akan membuat yifan cemburu. setuju sama rencana seokjin, trus yura siapa dia?

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s