Unstoppable Marriage part III

Title                 : Unstoppable Marriage part III

Scripwriter     : Mrs. Heo

Cast                 : Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC] | Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre              : Romance, fluff, family

Duration         : Chapter

Rating             : General

Summary

“Lantas kenapa kau tidak berusaha menghentikanku?”

   “Kenapa kau tidak pernah berusaha mempertahankanku?”

UNSTOPPABLE MARRIAGE III

3

You

Cause I should have known, right from the start

I’m deleting you right from my heart

Yeah it’s over, my last move is to unfriend you

(Unfriend you-Greyson Chance)

 

Seokjin buru-buru berlari dari dapur saat mendengar suara notifikasi chatting ponsel miliknya berbunyi beberapa kali. Sebelum meraih ponselnya di atas meja, Yoongi melirik sekilas ke layar ponsel dan berteriak heboh memerintahkan Seokjin buru-buru membalas pesan tersebut. Tanpa perlu menebak-nebak lagi, melihat reaksi berlebihan temannya itu sudahlah pasti pesan itu berasal dari client mahalnya, Eun Soo.

“Cepat, dia mengirimimu beberapa gambar!”

Seokjin langsung merebut ponsel miliknya dari Yoonggi. “Biar aku saja yang buka.” Gerutu Seokjin, ia sangat tidak suka jika ada orang yang membuka isi ponselnya, meski dia tahu bahwa pesan itu dari client mahal mereka.

“Hey, kau mau kemana?” Bahkan sebelum Yoongi sempat menahan lengan Seokjin, laki-laki berbahu lebar itu sudah pergi meninggalkannya. “Aku juga mau lihat pesan dari Eun Soo!”

Hoseok yang dari tadi sibuk menonton televisi di sebelah Yoongi memasukkan segenggam popcorn ke dalam mulut Yoongi dengan paksa untuk menghentikannya berteriak. “Seokjin itu tidak suka jika urusan pribadinya dicampuri.”

“Apa Eun Soo itu urusan pribadinya? Dia itu client kita!”

Hoseok memutar kepalanya dengan dramatis, sengaja membuat Yoongi semakin kesal. Ia suka sekali memanas-manasi temannya itu. Menurutnya, Yoongi yang kesal itu benar-benar lucu, persis seperti ibu-ibu yang kekurangan uang belanja. “Apa kau akan berbagi jika clientmu spesies seperti Heo Eun Soo?”

“Apa? Karena dia cantik? Ck, sudah ganti tipe dia? Aku bisa carikan yang lebih cantik dari Eun Soo!”

Hoseok mengendikkan bahu, “Tapi jika aku jadi Seokjin, aku juga akan menyimpan Eun Soo untuk diriku sendiri.”

Malas berdebat dengan Hoseok, Yoongi memutuskan untuk mengalah saja. Seokjin? Eun Soo? Sekali lihat juga ia sudah bisa memprediksi bahwa Seokjin dan Eun Soo bukan perpaduan yang bagus.

            Eun Soo

            Cantik?

            Seokjin memperbesar foto yang baru saja dikirimkan oleh Eun Soo. Ia tersenyum lucu melihat tingkah gadis itu. Iseng, ia sengaja membalasnya asal agar gadis itu merasa kesal.

            Jin

            Kirimkan fotomu juga! Lebih bagus kalau gaun pengantinnya berwarna merah muda.

            Seokjin langsung terbahak, belum sampai hitungan menit, id Eun Soo sudah tertera di layar ponselnya. Ia sudah menduga di sana gadis itu pastilah menggerutu dan menyiapkan kata-kata menjengkelkan untuk memarahinya. Entah kenapa ia suka sekali mempelajari perilaku Eun Soo. Ia tidak pernah mengira bahwa gadis itu bisa bersikap sabar saat tadi siang Taehyung selalu bergelayut manja dan mengoceh tanpa henti sedangkan baru ia goda sedikit saja ia akan langsung marah-marah.

            Omong-omong soal Taehyung, ia teringat kembali pertemuan tidak sengajanya dengan adik satu-satunya itu. Oh, jangan lupakan Yura, Han Yura. Dimana ada Taehyung pasti ada Han Yura. Bukan karena Yura yang selalu ingin berkeliaran di sekitar adiknya tapi karena gadis itu selalu berusaha terlihat olehnya. Bukannya ia tidak peka terhadap perasaan Yura, hanya saja ia terlalu peka terhadap perasaan adiknya, Taehyung. Seokjin sengaja tidak mengiyakan kepada kedua orang itu bahwa Eun Soo adalah kekasihnya tapi juga tidak membiarkan Eun Soo menyangkalnya. Ia tidak ingin memperkeruh hubungannya dengan Yura namun ia juga tidak ingin melibatkan orang baru seperti Eun Soo. Beruntung Taehyung langsung menarik Eun Soo ke sebuah restoran dan mengacuhkan segala tindak protes Eun Soo.

            Ia memang jarang sekali terlihat bersama gadis. Taehyung tahu betul bagaimana prinsipnya yang tidak suka terikat suatu hubungan karena sadar akan selalu dimanfaatkan oleh para gadis tersebut. Ia tidak akan pernah membiarkan seorang gadis yang secara jelas menaruh perasaan lebih kepadanya berkeliaran di sekitarnya, hanya saja yang dituduh oleh Taehyung adalah Eun Soo. Gadis itu jelas tidak tertarik padanya. Hubungan mereka hanya sebatas hubungan kerja. Ia adalah tumbal paling cocok untuk membuat Yura menyerah. Terlebih Eun Soo bukanlah tipikal yang terlalu peduli terhadap hal-hal kecil selama itu tidak merugikannya.

            “Kim Seokjin di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Ia benar-benar tidak bisa menahan tawa, bahkan sebelum gadis itu menjawab sapaannya ia yakin Eun Soo sedang memegang sesuatu yang siap dilemparkan kepadanya jika ia berada di hadapan gadis itu.

        “Kau sudah lihat fotonya? Cantik?” Tanya Eun Soo antusias di ujung sana. “Akan lebih mudah bagimu kan berurusan dengan gadis cantik seperti itu?” Reaksi Eun Soo benar-benar di luar dugaan Seokjin. Hilang sudah kebahagiannya menjahili Eun Soo.

            “Hmmb.”

            “Hanya hmmmb?”

            “Kau –“

            “Kututup. Kakakku sudah kembali dari toilet. Nanti kukirimi beberapa lagi. Bye!”

            “Bye?” Dari sekian banyak percakapan lewat telepon yang mereka lakukan tidak pernah sekali pun gadis itu berbasa-basi memberikan sapaan saat mengawali atau mengakhiri pembicaraan. “Apa moodnya sedang bagus? Tapi bukankah ia sangat kesal saat diminta bantuan memilihkan gaun pengantin?”

            Seokjin memperhatikan kembali beberapa foto Riyoung yang mengenakan gaun pengantin yang berbeda-beda. Kemudian, wajah Yifan muncul dalam ingatannya. Entah mengapa ia merasa Yifan lebih cocok berdampingan dengan Eun Soo. Meski ia belum pernah melihat Yifan secara langsung tapi melihat fisik laki-laki itu ia yakin ia tipikal yang tidak hanya melihat seorang gadis dari fisiknya saja, ia jelas menyukai gadis yang memiliki otak. Eun Soo, terlihat seperti seseorang yang terpelajar, tahu batasan dalam melanggar aturan dan dari caranya berbicara meski berteriak-teriak marah ia sama sekali tidak terlihat barbar. Riyoung? Jelas dia gadis yang cantik dan anggun. Melihat gesture dan cara berpakaian gadis itu ia juga yakin Riyoung adalah seorang yang terpelajar. Hanya saja entah mengapa menurutnya kepribadian Eun Soo sangat cocok dengan sosok mengintidasi seperti Yifan.

            “Dia belum mengabarimu?”

            Seokjin tersentak saat akhirnya Young Saeng membuka pembicaraan lagi. Terjadi kecanggungan diantara mereka sejak kedatangannya kemari, atau mungkin hanya ia saja yang merasa canggung karena sepertinya Young Saeng sama sekali tidak terlihat begitu. Laki-laki itu hanya menyambutnya sambil tersenyum, sudah paham akan rencana yang akan mereka jalankan dan diam sambil mengutak-atik ponselnya. Young Saeng benar-benar versi laki-laki Eun Soo. Ia bahkan sempat meragukan apakah Riyoung merupakan bagian dari keluarga ini. Kenapa diantara ketiganya hanya dirinya saja yang berbeda. Tapi jika dibandingkan dengan Eun Soo, fisik Riyoung memang yang paling mirip dengan Young Saeng.

            “Aku sudah beberapa kali menghubunginya, tapi tidak diangkat hyung.” Sedikit ragu Seokjin menambahkan embel-embel hyung di akhir kalimatnya. Terlalu cepat baginya untuk memanggil Young Saeng hyung tapi akan lebih aneh jika ia hanya menambahkan embel-embel –ssi, mengingat mereka akan bekerja sama untuk waktu yang tidak tergolong cepat. Sama halnya seperti Eun Soo, Young Saeng bukan tipikal yang akan mempermasalahkan hal-hal kecil selama itu tidak mengusiknya.

            Young Saeng mendesah. “Gadis itu benar-benar merepotkan.” Ia melirik Seokjin, kemudian terkekeh. “Tidak perlu merasa canggung denganku. Aku memang tidak bisa menjadi orang yang banyak bicara.” Ia sadar Seokjin yang selalu meliriknya sambil menginisialisasi orang macam apa dirinya. “Jika Eun Soo menyusahkanmu, tolong dimaklumi. Jika kau ingin meminta tambahan biaya tidak perlu sungkan. Aku tahu ini bukan pekerjaan mudah.”

            Satu lagi tambahan mengenai Eun Soo. Ia berasal dari keluarga yang tidak pernah mempermasalahkan uang. Tipikal yang mudah menginjak-injak orang lain.

            “Aku mengira dia adalah gadis yang pendiam, tapi saat marah-marah ia seperti kehilangan tombol off.

            Young Saeng terbahak. Hilang sudah kesan tidak bersahabat dari wajahnya. “Jika sudah akrab dengannya, kau akan menyesal pernah beranggapan bahwa ia adalah gadis pendiam.”

            “Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak masuk? Keluarga sudah mulai berkumpul di dalam.” Seseorang dengan setelan jas semi formal tiba-tiba keluar dari halaman. “Siapa dia?” Ia mengendus ada yang aneh di sini. “Kau tahu kan ini pertemuan keluarga. Kenapa membawa—“ Dengan heboh laki-laki itu menutup mulut dengan kedua tangannya, mengeluarkan ekspresi kaget sedramatis mungkin. “Sudah kuduga ada yang aneh denganmu. Perjaka tua sepertimu tidak pernah terlihat bersama wanita karena dia!” Lagi-lagi berteriak heboh, membuat Young Saeng mendadak ingin mengarungi sepupunya itu.

            “Aku normal, bodoh!” Young Saeng menedang kaki Sehun. Ia sudah terbiasa dengan ketidakwarasan Sehun dengan segala imajinasi berlebihnya. “Dia temanku. Masalah jika aku membawanya kemari?”

            Sehun masih belum mau mempercayainya, ia melirik Seokjin yang tersenyum canggung di sebelah Young Saeng. “Kalian terlihat cocok bersama!”

            “Oh Sehun, kau mau mati?”

            Sehun tertawa, senang karena selalu berhasil membuat Young Saeng kesal. “Makanya, sekali-sekali bawa kekasihmu ke rumah. Riyoung noona saja sudah mau menikah. Kau tidak malu didahului oleh adikmu?” Nada bicara Sehun sudah cukup menyebalkan bagi Young Saeng, ditambah lagi dengan ekspresi datarnya yang sangat menyebalkan. “Eun Soo datang kan?”

            “Menurutmu?” Young Saeng malas menanggapi pertanyaan Sehun. Seharusnya Eun Soo mengajak Sehun saja untuk menjadi partner in crime-nya dalam misi menggagalkan pernikahan Riyoung dan Yifan. Tingkat kegilaan mereka hampir setara. Mungkin jika Eun Soo dan Sehun bergabung, tanpa perlu bersusah-susah mencari seseorang seperti Seokjin mereka akan lebih memilih jalan pintas. Dengan kapasitas kegilaan Sehun dan rendahnya daya tahan Eun Soo untuk tidak terpengaruh provokasi, membakar gedung pernikahan adalah jalan terbaik.

            “Sudah lama aku tidak pergi ke club bersamanya.”

            “Memangnya apa peduliku.” Young Saeng membuka pagar rumah dan mengisyaratkan Seokjin untuk mengikutinya.

            “Dia kan selalu menempel padamu!” Sehun mengekor di belakang.

            Ketika pertama kali melihat foto Yifan Seokjin sudah merasa terintimidasi tapi melihatnya secara langsung membuatnya semakin terintimidasi. Terlebih ia baru mengetahui bahwa Yifan adalah seorang dokter bedah. Ia rasa Eun Soo memang sudah gila. Bibit, bobot dan bebet Yifan jelas tidak perlu dipertanyakan lagi. Gadis gila mana yang akan rela meninggalkan laki-laki seperti Yifan. Seokjin yakin alasan Yifan berselingkuh bisa saja hanya akal-akalan Eun Soo, alasan sebenarnya bisa jadi karena ia belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu.

            “Kau yang waktu itu kan?”

            Seokjin tersenyum ramah, lupakan tentang betapa mengintimidasinya calon suami gadis ini dan alasan utama client-nya ingin memisahkan kakaknya dengan laki-laki superior seperti Yifan. Ia dibayar untuk memisahkan mereka, bukan untuk menebak-nebak alasan Eun Soo melakukan semua rencana ini. “Halo. Kita bertemu lagi.” Semua rencana tetap harus dijalankan. Ia harus menjadi seseorang yang memiliki intensitas pertemuan yang tinggi dengan Riyoung, untuk itu ia berada di sini. Mencoba berbaur dengan mereka.

            “Kau mengenalnya?” Bersikap seolah tidak mengetahui apa-apa ia bertanya kepada Riyoung.

            “Beberapa hari yang lalu aku tanpa sengaja mengganggu makan siangnya, hyung.” Seokjin terkekeh.

            “Jadi aku tidak perlu memperkenalkannya lagi kan?” Tanya Young Saeng basa-basi.

            “Dia kekasih gelap Young Saeng!” Suara Sehun tiba-tiba terdengar lagi setelah sibuk mengotak-atik ponselnya.

            “Dia anak magang di kantorku. Saat ini ia menjadi asistenku.”

            “Ck, benar-benar suatu kebetulan ya.” Jawab Riyoung tanpa merasa curiga sama sekali.

            “Mana ada yang namanya kebetulan. Ini semua adalah ide adik gilamu, nona.” Gumam Seokjin.

            “Eun Soo tidak datang?” Yifan membenarkan posisi duduknya setelah bersalaman dengan Seokjin.

            “Mungkin pekerjaannya belum selesai.”

            “Wah, kalian benar-benar seperti pinang di belah dua. Sama-sama gila kerja.” Sahut Sehun lagi.

            Seokjin memperhatikan tingkah laku keluarga Eun Soo. Saat ini ia tengah duduk bersama Young Saeng, Sehun dan kedua calon pengantin yang menjadi titik fokusnya malam ini.

            “Di mana ayah dan ibu?”

            “Eoh, mereka masih di atas.”

            “Ibu sedang berhalangan untuk datang.” Sebelum ditanya Yifan sudah memberitahukan Young Saeng terlebih dahulu.

            “Jadi, untuk apa bocah ini datang juga?” Young Saeng melirik sepupunya yang sekarang sedang sibuk mengotak-atik kotak tisu di atas meja.

            “Yang jelas bukan untuk bertemu perjaka tua sepertimu.” Jawab Sehun acuh.

            “Aku memberitahukan kalau Eun Soo sedang berada di Korea. Jadi ia begitu bersemangat datang ke pertemuan keluarga malam ini.” Riyoung berusaha mencegah perdebatan tidak berarti antara kakaknya dan Sehun. Sehun memang begitu, selalu mencari masalah dengan Young Saeng dan perbedaan usia yang terpaut delapan tahun tidak membuat Young Saeng enggan untuk membalas tingkah absurd Sehun.

            “Bukankah kau yang lebih mencurigakan? Bukannya membawa wanita malah membawa laki-laki ke pertemuan keluarga semacam ini.” Sehun masih belum puas membuat Young Saeng kesal.

            “Aku membawanya karena sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Jadi tidak ada salahnya kan jika aku memperkenalkannya kepada keluarga sekalian.”

            “Sebulan kemudian kau akan membawanya lagi bersama undangan pertunangan kalian.” Ledek Sehun.

            “Oh Sehun, berhenti mengganggu kakakmu!” Ayah dan ibu Eun Soo muncul dari balik pundak Sehun. “Maafkan Sehun ya.” Ayah Eun Soo menepuk-nepuk pundak Seokjin. “Siapa tadi namamu?”

            Seokjin tersenyum canggung. “Kim Seokjin.” Seokjin membalas jabatan tangan ayah Eun Soo.

            “Seokjin. Teman anak-anakku adalah bagian keluarga juga.”

            Seokjin sama sekali tidak memprediksi akan sambutan hangat dari keluarga Eun Soo. Kini ia paham darimana keramahan Riyoung berasal. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayah Eun Soo saat mengetahui bahwa laki-laki yang baru saja diterimanya sebagai bagian dari keluarga adalah orang yang akan menghancurkan pernikahan anaknya sendiri.

            “Eun Soo tidak datang?”

            Young Saeng dan Sehun saling tatap. Tidak menyangka ibu duluan yang menanyai Eun Soo.

            “Maaf aku terlambat.” Baru saja dibicarakan Eun Soo sudah muncul dengan penampilan yang err, begitu berantakan. Rambutnya acak-acakan, bahkan jika melihat lebih jeli lagi lengan kemejanya sedikit robek. Ia memeluk ayahnya. Ini adalah pertemuan pertama setelah hampir setahun mereka tidak bertemu. Ia berusaha mengendalikan diri agar tidak menangis ketika ayahnya berbisik, “Selamat kembali ke rumah, sayang.” Ia baru saja akan memeluk ibu saat menyadari bagaimana situasi terakhir mereka bertemu. Ia belum cukup berbesar hati untuk berdamai. Jika bukan karena Riyoung yang memaksa ia tidak akan sudi muncul di hadapan ibunya dan Yifan.

            “Duduk di sini.” Sehun yang bisa dengan cepat membaca situasi menarik Eun Soo untuk duduk di sebelahnya sebelum situasinya menjadi lebih canggung atau dengan arogansi Eun Soo tidak menutup kemungkinan ia akan pergi begitu saja jika ibunya mulai berkata yang tidak mengenakkan hatinya.

            “Kenapa kau berantakan sekali? Kau menjadi buruh bangunan sekarang?” Seloroh Sehun.

            “Tidak usah dibahas, ini benar-benar menjengkelkan.” Bagaimana tidak berantakan ketika salah satu teman sekantornya berkelahi dengan kekasihnya di kantor tepat setelah ia memutuskan untuk pulang dan entah bagaimana caranya ia bisa berada di tengah-tengah mereka bersama beberapa orang lagi yang berusaha melerai perkelahian mereka. Ikut berteriak-teriak dan menjadi korban aksi jambak-jambakan temannya itu.

            “Baiklah, yang jelas banyak yang harus kau ceritakan kepadaku kemana saja kau selama satu tahun ini.” Sehun berpura-pura membersihkan pakaian Eun Soo dari debu dan menyeringai. “Omong-omong sudah lama kita tidak ke club bersama.” Sehun melingkarkan tangannya ke pundak Eun Soo.

            “Ck, bocah itu benar-benar ya.” Keluh Young Saeng melihat tingkah Sehun dan adiknya.

           Seokjin melirik Eun Soo. Club? Ia pikir Eun Soo bukan tipikal gadis yang suka bermain-main di club malam. Tapi memangnya apalagi yang bisa ia harapkan dari gadis cantik yang kaya? Pergaulan mereka tentu tidak jauh-jauh dari kehidupan malam.

            Eun Soo memperhatikan foto-foto Riyoung bersama Yifan yang tergantung di kamar. Melihat keadaannya yang berantakan, anak kesayangan ibu—Heo Riyoung memaksanya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu dan mengenakan pakaian miliknya. Ia tidak pernah membenci Riyoung ataupun menyalahkannya, tetapi mengingat bagaimana cara Riyoung memperlakukannya benar-benar membuatnya teringat semua perlakuan ibu kepadanya. Riyoung yang begitu lemah lembut, keibuan, ramah dan kebanggaan ibu mana saja begitu menjadi beban bagi Eun Soo.

            Semuanya terlalu tiba-tiba dan rumit. Ia pergi dari rumah pada hari itu, saat ia sudah terlalu lelah untuk bertahan. Tiba-tiba datang kabar bahwa kakaknya akan menikah dengan mantan kekasihnya. Sekarang ia berdiri di dalam kamar kakaknya yang bahkan kala malam itu dengan penuh emosi ia meninggalkan rumah dan berjanji tidak akan sudi menginjakkan kakinya ke rumah ini lagi. Ia bahkan tidak sanggup melirik kamarnya yang berada tepat di sebelah. Mungkin ibu sudah mengosongkannya beberapa minggu sejak kepergiannya dan membuang semua barang-barang miliknya. Atau mungkin namanya sudah dicoret dari daftar keluarga. Belum lagi ia selesai membenahi perasaannya terhadap ibunya, sekarang ia harus membenahi perasaannya kepada Yifan.

            “Sudah selesai?”

            Eun Soo melengos saat mendapati Yifan berdiri di depan pintu, menungguinya. Apalagi? Sebentar lagi ia pasti akan berdongeng menjelaskan tentang pernikahannya dengan Riyoung.

            Eun Soo mengacuhkan Yifan begitu saja.

            “Bisakah kita bicara sebentar?” Tanya Yifan.

            “Cepat, waktuku tidak banyak.”

            “Kau tidak menyetujui pernikahan kami?”

            Eun Soo melipat kedua tangan di depan dada, berusaha menguatkan diri menatap Yifan. “Kalau aku bilang tidak, apa kau akan membatalkannya?”

            “Kau pasti berpikir aku tidak pantas untuk kakakmu karena—“

            “Karena kau tukang selingkuh.” Potong Eun Soo. Ia ingat betul bagaimana hubungannya dan Yifan berakhir begitu saja. Tanpa peringatan dan kata-kata perpisahan, ia pergi begitu saja.

            “Kau salah paham, aku tidak berselingkuh. Aku hanya—” Yifan menggantung kalimatnya. Ia pikir alasan itu sudah tidak perlu lagi diketahui oleh Eun Soo.

            “Hanya apa? Bosan padaku?”

            “Kau yang paling tahu bagaimana sikapmu terhadapku.”

            “Aku kenapa? Setidaknya kau memutuskanku terlebih dahulu sebelum mencari gadis lain.” Eun Soo mengibaskan tangannya. “Ahh, sudahlah tidak perlu dibahas lagi!”

            “Waktu kau pergi meninggalkanku begitu saja, aku masih sangat mencintaimu.”

            “Lantas kenapa kau tidak berusaha menghentikanku?”

            Yifan menghela napas. Eun Soo bukanlah seseorang yang mau mempertahankan sesuatu jika ia tidak benar-benar menginginkannya. “Lantas, kenapa kau tidak pernah berusaha mempertahankanku?”

            “Apa yang harus aku pertahankan? Hubungan kita sudah kacau. Mau bagaimana lagi?”

            “Kau terlalu cuek, nona Heo!” Yifan memijit-mijit keningnya, ini akan menjadi pembicaraan yang alot. “Dan aku bukan tipe pembuat inisiatif. Kita tidak cocok. Kita terlalu mirip.”

            Eun Soo menyeringai, sudah mengerti pembicaraan ini mengarah kemana. Kemana pun ia pergi semuanya akan tetap menemukan titik temu untuk selalu membandingkan dirinya dengan Riyoung. “Yah, itu cukup menjawab. Untungnya kau bertemu Riyoung yang begitu perhatian dan akan selalu mempertahankanmu. Tidak akan ada yang memilihku jika Riyoung selalu berada di dalam pilihan. Aku paham itu. Sangat!”

            “Berhenti membandingkan dirimu dengan Riyoung!”

            “Aku? Kau yang melakukannya tuan Wu! Kau yang membandingkan aku dengan Riyoung!”

            “Kita putus jauh sebelum aku bertemu dengan Riyoung. Semuanya tidak ada hubungannya dengan kakakmu.”

            Eun Soo berusaha keras untuk tidak menangis. Menangis di hadapan orang lain adalah salah satu pantangan baginya. Terlebih jika ia harus menangis di hadapan Yifan, ia tidak akan sudi melakukannya.

            “Kau bahkan tidak pernah menangis di hadapanku.” Lirih Yifan. “Aku sering merasa tidak berguna di sampingmu. Aku selalu takut semua perlakuanku kepadamu hanya akan membuat harga dirimu terluka.”

            “Apakah jika aku menangis kau akan berinisiatif mempertahankanku?” Eun Soo menggigit bibir bagian bawahnya. Ia benar-benar akan menangis jika Yifan masih terus membahas celah-celah di dalam hubungan mereka saat itu.

            “Kalian sudah selesai?” Young Saeng sudah bisa menduga pasti akan ada sesuatu yang terjadi antara Yifan dan Eun Soo saat laki-laki berkebangsaan China itu mengatakan bahwa ponselnya tertinggal di lantai dua. “Kau sudah selesai berpakaian? Cepatlah turun, semua orang sudah kelaparan menunggumu.” Ia sama sekali tidak ingin membahas tentang pertengkaran Eun Soo dan Yifan. Selain Eun Soo, ia yang paling tahu bagaimana perasaan adiknya saat ini, ia tahu betapa kacaunya perasaan Eun Soo dengan semua kejadian di keluarganya dan tidak perlu ditambah lagi dengan pembahasan masa lalu bersama Yifan.

“Woah! Siapa ini?” Hoseok berdiri dan menghampiri Seokjin yang sedang berdiri di dekat jendela. “Kekasihnya?” Ia menyodorkan ponselnya kepada Seokjin.

Seokjin memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Hoseok. “Kau penguntit?”

“Ya! Stalker itu adalah bagian pekerjaan kita.” Hoseok tidak terima dengan nada meremehkan Seokjin.

“Bukan Eun Soo yang seharusnya kau stalking tapi kakaknya, Riyoung.”

“Apa bedanya. Eun Soo tetap saja client kita. Mengetahui latar belakang client juga penting. Siapa? Siapa laki-laki yang bersama Eun Soo di instagram itu? Bukankah kau semalam makan malam bersama keluarganya? Dia baru mengupdate instagramnya 8 jam yang lalu. Sepulang makan malam ia langsung berkencan?” Tanya Hoseok tidak sabaran.

“Ck. Itu sepupunya, Oh Sehun. Ia juga makan malam bersama kami semalam.” Seokjin mendadak pusing mendengar pertanyaan beruntun Hoseok. Sebegitu pentingnya kah mengetahui siapa-siapa yang berada di kehidupan client mahal itu.

“Kau tidak cemburu?” Hoseok mencoba melucu.

Seokjin mendelik. “Apa-apaan maksud pertanyaanmu itu tuan Jung?”

Hoseok terkekeh. “Aku pikir pagi-pagi begini kau berdiri di dekat jendela sambil melamun karena cemburu melihat Eun Soo berangkulan bersama laki-laki lain. Apalagi mereka pergi karoke berdua begitu, pasti ada hubungan lebih dari sekedar—“

“Candaanmu tidak lucu.” Seokjin menginterupsi Hoseok untuk berhenti menggodanya. Cukup Taehyung dan Yura yang berpikiran bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan Eun Soo, tidak perlu ditambah dengan teman-temannya sendiri. “Tapi bukankah semalam Sehun mengajaknya ke club malam? Apa Young Saeng melarang mereka?” Gumam Seokjin. “Ya! Kim Seokjin, kenapa kau ikut-ikutan penasaran seperti Hoseok!” Ia memukul-mukul kepalanya gemas.

Hyung! Apa yang kau lakukan terhadap kakak ipar!” Baru saja ia menempelkan ponsel di telinganya, menerima panggilan telepon dari Taehyung namun laki-laki itu sudah berteriak histeris di ujung sana.

“Kakak ipar? Siapa?” Seokjin meletakkan kopinya di atas meja dan duduk di meja kerjanya.

“Memangnya siapa lagi kakak iparku kalau bukan Eun Soo noona?” Taehyung masih saja berteriak di ujung sana.

“Ada apa dengannya?”

“Ya! Kau tidak melihat updetan instagram kakak ipar? Ia memposting foto bersama seorang laki-laki yang merangkulnya di tempat karoke. Kau tidak baca captionnya? I think it’s already over.” Jelas Taehyung dengan pengucapan bahasa inggris yang kacau. “Aku sudah mencarinya di kamus. Aku pikir semuanya sudah berakhir. Apalagi yang berakhir kalau bukan kau dan kakak ipar!” Tuduh Taeyung.

Seokjin mengangguk-angguk. “Itu bukan aku, lagipula kami tidak pernah memulai apapun.” Ia yakin yang dimaksud oleh Eun Soo adalah Yifan.

“Apakah dia orang yang membayarmu sebagai pacar sewaan?”

“Tidak.” Eun Soo memang membayarnya, tapi bukan sebagai pacar sewaan.

“Nah!” Taehyung berteriak heboh. “Kalau bukan pacar sewaan berarti kalian benar-benar pasangan kekasih kan. Kalau tidak bagaimana mungkin kau membiarkan wanita asing berkeliaran di sekitarmu. Waktu itu aku bahkan melihatmu memeluk pinggangnya. Kenapa ditutup-tutupi, cepat kenalkan kepada ayah dan ibu. Mereka pasti senang!”

Seokjin memikit-mijit keningnya. Taehyung selalu berpikiran semaunya. Tapi bagaimana ia harus menjelaskan status Eun Soo. Jika Taehyung mengetahui kebenarannya, ia pasti akan kecewa karena itu artinya posisinya akan semakin terancam. “Ngomong-ngomong, apakah kau menguntit Eun Soo?” Ia melirik Hoseok yang sudah sibuk mengotak-atik komputernya, mungkin melanjutkan pencarian info client mereka.

“Aku memfollow semua akun sosial media kakak ipar.” Jawab Taehyung polos.

“Ck, bocah ini.” Gumam Seokjin. Bahkan tidak pernah sedikit pun dibenaknya untuk mencari-cari akun media sosial Eun Soo. Terkadang ia lelah menghadapi tingkah Taehyung yang terkadang diambang batas normal.

To be continued…

7 comments

  1. popoku · July 6, 2014

    lama sekali baru posting..aq suka ceritanya.tp ini kurang panjaaaannggg.ditunggu selanjutnya yaaa..

  2. Rara · July 10, 2014

    Daebakkk!! Tapi lama banget thor, thor kalo boleh saran eun soo sama soekjin pura-pura pacaran terus kris oppa cemburu

    • ssiskha · July 14, 2014

      Hahaha, Kris nggak bakalan cemburu. lmao

  3. mio · July 13, 2014

    Thor, aku kok gak setuju ya kalo endingnya tu si Kris sama Riyoung. Plz jangan satukan mereka

    • ssiskha · July 13, 2014

      Bahahaha, kok bisa nggak setuju?

  4. mio · July 15, 2014

    terlalu nyesek deh, masa setelah pacaran sama adiknya, nikah sama kakaknya

  5. christiejaena480 · August 10, 2014

    firasatku pernikahan yifan akan gagal karna cemburu pada seokjin!

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s