Unstoppable Marriage part 4

Title                : Unstoppable Marriage part 4

Scripwriter    : Mrs. Heo

Cast                : Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC] | Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre             : Romance, fluff, family

Duration        : Chapter

Rating            : General

Summary

  “Kau yang meninggalkannya, Eun Soo.”

“Tapi dia yang membukakan pintu lebar-lebar. Aku hanya keluar melalui pintu yang telah ia buka.”

4

4

I just Let it Go

Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies
(Let Her Go-The Passenger)

Segala pengambilan keputusan tentu ada resikonya, Young Saeng paham benar hal itu. Ia terbiasa mengambilkan keputusan untuk orang lain. Membela hak ini itu dengan konsep kebenaran yang dipegangnya. Sama halnya dengan menjual jiwanya kepada adik kurang warasnya, Heo Eun Soo. Ia tidak mengerti bagaimana adiknya bisa tampak begitu angkuh dihadapan orang lain dan benar-benar tidak waras jika sudah bersama dengannya. Eun Soo memang benar-benar mirip dengan dirinya tapi setidaknya ia masih bisa menekan tingkat ketidakwarasannya tapi adiknya. Hah!

            “Kau puas?” Young Saeng mencampakkan ponselnya dengan kesal ke atas meja dan menatap Eun Soo dengan tatapan jijik. “Sekarang menjauh dariku!” Ia mendorong Eun Soo yang masih memeluk pinggangnya.

            Eun Soo mengangguk-angguk senang. Ia tahu kelemahan kakaknya. Young Saeng sangat tidak suka jika ada yang menyentuhnya apalagi sampai melakukan skinship berlebihan semisal berpelukan meski itu adalah saudara sedarahnya sendiri.

            “Berani kau memelukku seperti itu lagi, aku akan menuntutmu atas tuduhan pelecahan!” Ia menendang-nendang kaki Eun Soo yang masih menempel di kakinya dan beranjak dari sofa. Ia memijit-mijit keningnya, tidak menduga secara tiba-tiba Eun Soo menerjangnya sampai tersungkur di atas sofa hanya karena dia menolak berpura-pura tidak bisa menemani Riyoung melihat undangan pernikahannya.

            “Riyoung juga adikku, kuperingatkan kau.” Young Saeng membersihkan kemejanya yang sedikit kotor akibat ulah gila adiknya.

            “Tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau, oppa.” Sebisa mungkin Eun Soo memasang tampang memelas meskipun gagal. Young Saeng malah membalasnya dengan lemparan bantal sofa tepat di wajahnya.

            “Riyoung sudah setuju kalau yang menemaninya melihat undangan pernikahan adalah Seokjin. Sekarang pulanglah!” Usir Young Saeng. Ia tidak tahu apakah semua yang dilakukannya ini adalah demi kebahagiaan Riyoung apa tidak. Apakah Yifan benar-benar tidak pantas untuk Riyoung hanya karena dia pernah berselingkuh dari Eun Soo? Ayolah, itu ketika mereka masih remaja labil berseragam SMA. Hal seperti itu bisa saja terjadi sesekali. “Aku bilang pulang!” Sekali lagi ia mengusir adiknya yang masih duduk manis sambil mengetik di ponselnya. Ia yakin Eun Soo sedang mengirimi pesan untuk Seokjin.

            Berstatuskan sebagai asisten Heo Young Saeng benar-benar membawa keuntungan bagi Seokjin karena Riyoung sepertinya benar-benar berpikir bahwa dia adalah seseorang yang bisa diajak berteman.

            “Maaf, menunggu lama.” Riyoung membuka pintu mobil dimana sudah ada Seokjin di dalamnya.

            “Tidak apa-apa.” Senyum Seokjin.

            “Yifan ada operasi, Eun Soo tidak bisa dihubungi, Young Saeng oppa ada rapat mendadak.” Keluh Riyoung sambil memasang sabuk pengaman.

            Seokjin terkekeh. “Mereka semua orang-orang yang sibuk, maklumi saja.”

            “Tidak apa-apa kalau kau yang menemaniku melihat undangan?” Tanya Riyoung sedikit tidak enak. Kalau bukan atas rekomendasi kakaknya, ia tidak akan melihat undangan pernikahannya bersama Seokjin. Kakaknya bukan tipikal orang yang mudah bergaul dan percaya pada orang yang baru dikenal. Ia benar-benar menyeleksi orang-orang yang berada dalam hidupnya dengan teliti. Jika kakaknya saja sudah mempercayai Seokjin, itu artinya Seokjin benar-benar orang yang bisa dipercaya. “Kau tidak sibuk? Oppa bahkan sering menginap di kantor.”

            “Karena aku masih anak magang, pekerjaanku belum terlalu banyak.” Jawab Seokjin sambil menjalankan mobil. “Jadi santai saja. Tidak perlu sungkan meminta bantuan kepadaku.”

            Seokjin mengeluarkan ponsel dari saku celana, memeriksa pesan dari Eun Soo. Biasanya gadis itu akan terus mengiriminya perintah apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan jika sedang bersama Riyoung. Ia mengernyit karena tumben sekali tidak ada notifikasi dari Eun Soo.

Jin

Aku sudah sampai di percetakan bersama Riyoung.

Seokjin semakin heran saat dengan cepat ada pemberitahuan bahwa Eun Soo sudah membaca pesannya. Itu artinya gadis itu tidak dalam keadaan benar-benar sibuk sehingga tidak sempat mengiriminya perintah ini itu seperti biasa.

Eun Soo

Oke

Hanya kata oke, dan Seokjin masih menunggu balasan selanjutnya, beranggapan bahwa Eun Soo sedang mengetik perintah yang cukup panjang sehingga membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menyelesaikan pesannya. Tapi sampai Riyoung menyentuh pundaknya untuk mengikutinya tidak ada tanda-tanda Eun Soo akan melanjutkan pesannya.

“Kekasihmu?” Tanya Riyoung saat melihat Seokjin terus-terusan memandangi ponselnya.

“Eoh?” Seokjin baru sadar bahwa ia sedang diperhatikan dan buru-buru menyimpan ponselnya lagi. “Tidak, hanya seorang teman.” Bohongnya.

Riyoung tersenyum lembut. “Laki-laki sepertimu tidak memiliki kekasih? Jangan bercanda.”

“Tidak selamanya laki-laki tampan sudah taken.” Seokjin membanggakan dirinya lagi, sengaja membuat lelucon agar Riyoung merasa nyaman bersamanya.

“Mau kuperkenalkan dengan adikku?”

Seokjin hampir saja tersandung kakinya sendiri saat mendengar penawaran Riyoung. Adiknya katanya? Adiknya yang bernama Heo Eun Soo itu? Ck, yang benar saja! “Justru dia yang memperkenalkan kita.” Gumam Seokjin. “Maksudmu Eun Soo?”

Riyoung mengangguk-angguk senang sambil mendorong pintu kaca di hadapannya. “Ya. Dia cantik dan masih single. Kalian cocok bukan?” Canda Riyoung.

“Apakah cantik harus selalu menjadi tolak ukur?” Seokjin mengumpat di dalam hati. Ia benar-benar kelepasan, tidak seharusnya ia mengatakan kata-kata seperti itu di hadapan Riyoung. Tapi jujur ia merasa sedikit kesal karena kedua kakak beradik ini selalu menjadikan cantik sebagai tolak ukur.

Riyoung menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya lagi. “Kau tidak suka gadis cantik? Eun Soo juga anak yang cerdas. Sejak di bangku sekolah dasar ia selalu berada di kelas unggulan.” Riyoung tampak berpikir. “Tapi dia tipe yang terlalu setia sehingga sangat sulit melupakan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.” Promosi Riyoung.

Seokjin tidak menjawab. Eun Soo bukan tipenya. Lagipula ia tidak pernah menjalin hubungan dengan rekan kerjanya.

“Maaf nona. Seharusnya Anda tidak datang secara langsung. Karena terlalu banyak pesanan sampai lupa mengabari Anda.” Seorang paruh baya dengan kacamata berbingkai tebal menghampiri Seokjin dan Riyoung. Ia melirik Seokjin yang berdiri di samping Riyoung. Ia pernah bertemu dengan calon suami Riyoung sebelumnya, dan laki-laki cantik di samping Riyoung jelas bukan Yifan.

“Yifan sedang ada operasi. Dia teman kakakku. Perkenalkan, Kim Seokjin.” Riyoung memperkenalkan Seokjin.

“Ahh, Kim Seokjin.”

Seokjin membalas jabatan tangan wanita tersebut. Ia menghitung sudah berapa banyak orang-orang dari keluarga Eun Soo yang memperkenalkan dirinya kepada para relasi mereka. Ia takut perannya akan semakin serius dan berbahaya.

“Mari kuperlihatkan desainnya.”

“Kau yakin sebelum memutuskan menikahi Riyoung si Yifan itu tidak memiliki mantan kekasih?” Eun Soo mencondongkan tubuhnya, berharap pendengarannya salah. Saat ini ia tidak punya banyak waktu untuk mengontrol Seokjin yang sedang pergi bersama Riyoung. Ia harus menemukan mantan kekasih Yifan untuk bisa dijadikan senjata.

“Ya.” Jawab Jihyun santai.

Eun Soo memperbaiki posisi duduknya. “Coba kau ingat-ingat lagi!” Paksa Eun Soo.

“Ada!”

Eun Soo dan Jihyun menoleh berbarengan saat Hana berteriak. “Heo Eun Soo. Sebelum memutuskan untuk menikah dengan Heo Riyoung, Wu Yifan berpacaran dengan Heo Eun Soo.

Hening, dan mendadak suasana menjadi canggung. Jihyun melirik Eun Soo yang menyandarkan tubuhnya pada kursi dan membuang muka. Ia menendang kaki Hana yang sepertinya belum menyadari letak kesalahannya. “Kau bisa memastikannya langsung pada Kyung Soo. Kau masih ingatkan dengan Do Kyung Soo? Teman dekat Yifan.” Setelah memutar otak akhirnya Jihyun menemukan solusi untuk menghilangkan suasana canggung di antara mereka. Sebenarnya tidak perlu bertanya pada Kyung Soo pun ia sudah yakin bahwa tidak ada mantan kekasih selain Eun Soo sebelum akhirnya Yifan memutuskan untuk menikah. Hanya saja Eun Soo tidak bisa diberi tahu tanpa sebuah bukti.

Jihyun dan Hana terlonjak kaget saat Eun Soo tiba-tiba menepuk meja. “Berikan aku alamatnya!”

Sejak dulu Eun Soo memang bukan tipikal yang terlalu memperhatikan penampilan. Jika sudah terlihat rapi dan bersih, itu sudah cukup baginya. Tidak perlu repot-repot menghabiskan waktu dengan memoleskan berlapis-lapis make up agar terlihat natural atau tampil seperti boneka. Terlalu membuang waktu dan melelahkan.

Tapi kali ini ia bahkan tidak sempat membuang waktu untuk merapikan anak-anak rambutnya yang mulai mencuat-cuat tidak beraturan atau sekedar mengelap peluh di wajahnya. Sudah satu minggu berlalu, hanya tiga minggu tersisa dan tidak ada tanda-tanda Riyoung mulai meragukan pernikahannya. Setelah keluar dari mobil, ia langsung berlari masuk ke dalam gedung apartemen tempat Kyung Soo tinggal. Ia berharap kali ini keberuntungan berpihak padanya. Semoga Kyung Soo berada di rumah karena tidak ada diantara mereka yang memiliki nomor telepon Kyung Soo. Kalau pun ada, siapa lagi kalau bukan Yifan dan laki-laki itu jelas bukan seseorang yang boleh ditanyai dalam kasus ini.

Dengan tidak sabar Eun Soo terus-terusan memencet bel. Sesekali mendekatkan telingan ke dekat pintu, berharap bisa mendengar langkah seseorang mendekat, tapi hasilnya tetap saja tidak ada, membuatnya semakin cemas dan terus-terusan memencet bel.

“Ada apa?” Seseorang dengan wajah— baru saja bangun tidur dan piyama yang kusut menyambut Eun Soo dengan penuh amarah. Ia bahkan tidak sempat melihat intercom untuk memastikan siapa makhluk tidak sopan yang terus-terusan memencet bel apartemennya dengan tidak sabaran. “Ada apa?” Kyung Soo memperhatikan gadis di hadapannya, mengingat-ingat siapa tamu tidak diundang ini.

“Halo.” Eun Soo tersenyum canggung. Ia merasa tidak enak karena telah mengganggu waktu tidur Kyung Soo. Tapi ia pikir dijam segini mungkin ia akan menemukan Kyung Soo tengah bersantai menikmati akhir pekan atau semacamnya.

Kedua alis Kyung Soo bertaut. Suara itu tidak asing baginya. Senyum dan wajah itu juga sepertinya sering ia lihat. “Ya Tuhan! Eun Soo?” Tanya Kyung Soo memastikan.

“Kau masih mengingatku?”

Kyung Soo tertawa. “Tentu saja. Masuklah!” Ajak Kyung Soo. Suasana hatinya menjadi lebih baik karena bukan orang tidak dikenal yang datang bertamu. “Maaf sedikit berantakan, aku tidak punya waktu untuk merapikannya.” Kyung Soo menyingkirkan majalah-majalah beserta bungkus makanan ringan yang berserakan di atas sofa untuk memberikan space agar Eun Soo bisa duduk.

“Makanya, cepat-cepatlah menikah agar ada yang mengurusmu.” Canda Eun Soo. Dulu, ia bisa terbilang cukup akrab dengan Kyung Soo. Sama seperti Yifan yang cukup akrab dengan kedua sahabatnya, ia juga memiliki hubungan yang baik dengan teman-teman Yifan.

Kyung Soo terkekeh pelan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu dan tidak lama kembali dengan wajah yang lebih segar dan segelas jus di tangannya. “Aku dengar setelah lulus kuliah kau langsung bekerja di Jepang. Datang kemari hanya untuk urusan pekerjaan atau menghadiri pernikahan kakakmu?” Kyung Soo mengambil tempat di samping Eun Soo. “Maaf, tidak banyak yang tersisa di rumah.” Ia menunjuk jus kotakan di atas meja.

“Boleh aku minum?”

“Tentu saja, kau tampak begitu kelelahan. Kau berlari-lari menuju ke sini?” Kyung Soo memperhatikan peluh di wajah Eun Soo.

“Keduanya. Urusan pekerjaan dan karena pernikahan kakak.” Bohong Riyoung. Memang benar setelah lulus ia langsung memutuskan untuk bekerja di Jepang karena tidak tahan lagi harus hidup dibawah tekanan betapa sempurnanya seeorang Heo Riyoung dimata ibunya. Namun, bukan baru-baru ini ia kembali ke Korea. Ia hanya betah selama enam bulan di Jepang dan memutuskan untuk kembali diam-diam ke Korea.

Kyung Soo tersenyum. Ia merasa cukup rindu melihat mantan kekasih sahabatnya ini. Mereka cukup akrab sebab pembicaraan mereka cukup nyambung karena Eun Soo memiliki wawasan yang cukup luas. “Ada apa kau memencet bel apartemenku seperti kesetanan?”

“Apa sebelum memutuskan menikah dengan kakak, Yifan menjalin hubungan dengan wanita lain?” Tanya Eun Soo tanpa basa-basi, lagipula Kyung Soo sudah paham akan sifatnya yang blak-blakan dan kurang pintar berbasa-basi.

Kyung Soo menopang dagu, berusaha mengingat-ingat. “Kau yang terakhir.” Jawabnya santai.

Eun Soo tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Bahkan Kyung Soo pun mengatakan hal yang sama dengan Jihyun dan Hana. Yang benar saja! Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi Yifan untuk hidup tanpa menjalin hubungan khusus dengan wanita.

“Aku bahkan sempat berpikir ia akan menjadi perjaka tua. Tapi, satu tahun yang lalu ia bertemu dengan kakakmu. Pilihannya tetap saja tidak jauh-jauh dari gen keluarga Heo.” Kyung Soo menepuk-nepuk punggung Eun Soo sambil tertawa. “Kau yang terakhir.” Tambah Kyung Soo menyadari bahwa Eun Soo tidak mempercayai ucapannya.

Kyung Soo menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa. “Aku yang paling tahu bagaimana ia melewati tiga tahun tanpamu. Itu salah satu masa-masa paling buruk baginya.”

“Sesulit itukah baginya?”

“Kau yang meninggalkannya, Eun Soo.”

“Tapi dia yang membukakan pintu lebar-lebar. Aku hanya keluar melalui pintu yang telah ia buka.”

Kyung Soo mendesah. Ia tahu keseluruhan cerita Yifan, tapi ia tidak tahu bagaimana kisah Eun Soo. Kedua orang itu memiliki pandangan yang berbeda tentang berakhirnya hubungan mereka. Yifan yang tidak pandai menebak-nebak dan Eun Soo yang terlalu tertutup. Ia bahkan tidak terlalu terkejut saat mengetahui empat tahun kebersamaan mereka berakhir tanpa ada diantara mereka yang berusaha mencegahnya.

“Sehebat itukah Riyoung sehingga hanya butuh satu tahun baginya untuk meyakinkan Yifan? Jika yang kau katakan itu adalah benar, bukankah itu artinya aku lebih unggul enam tahun darinya?”

Kyung Soo menatap Eun Soo yang menunduk. Intonasi gadis itu memang terdengar biasa saja, tapi ia yakin gadis itu merasa sangat terluka. Entah karena ia masih mengharapkan Yifan atau merasa harga dirinya terluka karena bagaimana bisa kakaknya hanya membutuhkan waktu satu tahun dan bertahun-tahun baginya. Kyung Soo juga tahu bagaimana Riyoung yang selalu dibanding-bandingnya dengannya. Mungkin akan lebih mudah baginya jika bukan Riyoung yang menggantikan posisinya.

“Cinta itu bukan masalah waktu.” Kyung Soo mengelus puncak kepala Eun Soo dengan lembut sambil tersenyum. “Bisa saja orang yang baru kau kenal selama satu bulan mampu menggantikan Yifan yang terus menantimu selama tujuh tahun.”

Hujan seharusnya berhubungan baik dengan kata romantis, setidaknya menurut beberapa orang, tapi tidak bagi Seokjin. Seokjin mengumpat, ia pikir masih sempat memperbaiki mobil tua Hosoek yang mogok di tengah perjalanan sebelum benar-benar turun hujan.

“Seokjin, masuklah!” Riyoung menyembulkan kepala dari balik kursi kemudi, mengisyaratkan Seokjin untuk masuk ke dalam mobil karena hujan yang semakin deras.

“Sebentar lagi.” Tolak Seokjin.

Seokjin masih sibuk mengotak-atik mesin saat merasakan sentakan di tangan kanannya. Ia menoleh, ternyata Riyoung. “Kau bisa sakit. Kita panggil taksi saja!” Riyoung menutup kap mobil dan menarik Seokjin dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.

“Sudah kubilang untuk masuk, kau malah ngeyel. Lihat, tubuhmu basah semua.” Riyoung mencari sesuatu di dalam tasnya, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengeringkan tubuh Seokjin.

“Sini, mendekat!” Perintah Riyoung. Entah kenapa Seokjin tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Dan di sinilah ia sekarang, mencondongkan tubuhnya kepada Riyoung. Mungkin untuk kali ini hujan memang selalu berhubungan baik dengan kata romantis. Riyoung membersihkan wajah Seokjin menggunakan sapu tangan miliknya. “Kau harus segera berganti pakaian.” Keluh Riyoung melihat penampilan Seokjin yang sudah basah kuyub.”

“Kau juga basah.” Seokjin mengambil beberapa lembar tissue yang terletak di atas dashboard dan mengeringkan wajah Riyoung. Seokjin sadar Riyoung mendadak kaku saat ia menyentuh wajah gadis itu, tapi apa pedulinya, memang itu tujuannya.

“Aku bisa sendiri.” Riyoung menjauhkan wajahnya dari Seokjin dan mengambil tissue baru untuk mengeringkan wajahnya sendiri.

Seokjin terkekeh. “Hal semacam itu belum bisa dianggap sebagai berselingkuh, tenang saja.”

“Cepat panggil taxi!” Perintah Riyoung untuk menutupi kegugupannya. Ketika ia mendekatkan wajahnya untuk mengeringkan wajah Seokjin ia masih yakin bahwa dirinya biasa saja, tapi ketika laki-laki itu mulai menyentuh wajahnya yang ia yakin Seokjin tidak memiliki maksud apa-apa selain membantunya ia merasa sedikit canggung. Bagaimana pun Seokjin adalah laki-laki. Tampan. Sentuhan laki-laki tampan seperti Seokjin tentu tidak bisa dianggap remeh.

Untuk yang kedua kalinya dalam satu hari Eun Soo berlari-lari hanya untuk menemui seseorang yang seharusnya tidak ditemui. Setelah hening yang cukup panjang antara dirinya dan Kyung Soo, tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal menghubunginya. Biasanya ia akan mengabaikannya begitu saja, tapi untuk menghilangkan suasana canggung antara dirinya dan Kyung Soo ia terpaksa mengangkatnya. Bahkan sebelum ia bisa memikirkan siapa seseorang yang berteriak memanggil kakak ipar di ujung sana, orang itu berteriak-teriak histeris. Ia baru ingat bahwa hanya Taehyung yang memanggilnya kakak ipar. Sebelum bisa menjawab ia menjadi panik saat mendengar Taehyung menyebut-nyebut patah tulang dan rumah sakit.

Eun Soo berhenti sebentar di koridor, mengatur napas sejenak dan menyempatkan diri mengeluh mengapa ia selalu tidak bisa menahan kepanikannya.

“Kakak ipar!”

Eun Soo baru saja masuk saat seseorang sudah berteriak heboh memanggilnya. Tanpa perlu berpikir panjang ia menuju ranjang Taehyung. “Apa yang terjadi padamu?” Tanya Eun Soo terengah-engah.

“Patah tulang!” Taehyung menunjuk kakinya yang diperban.

Eun Soo baru sadar kalau Taehyung masih memakai seragam basket. “Karena bermain basket?” Eun Soo menyingkap selimut yang menutupi kaki Taehyung.

“Jangan berlebihan. Kau hanya terkilir, tidak sampai patah tulang!” Ujar Yura sarkastis.

Eun Soo menoleh. Ternyata di sana juga ada Yura dan dua orang temannya.

“Kau tidak seharusnya meneleponnya!” Ujar Yura lagi.

Sebelumnya Eun Soo tidak pernah ambil pusing dengan kehadiran Taehyung dan Yura. Toh, Taehyung adalah adik Seokjin, apa salahnya jika ia berbaik-baik pada seseorang yang menolongnya. Yura juga sepertinya tidak mengganggu, tapi mendengar nada sinis yang terselip ketika gadis itu bicara, ia merasa bahwa Yura tidak menyukainya.

“Jungkook, berhenti melihat kakak iparku dengan tatapan seperti itu!” Teriak Taehyung yang hanya dibalas desisan tidak suka oleh Jungkook.

“Maaf, Anda walinya?” Seorang suster menghampiri Eun Soo.

Eun Soo mengangguk.

“Tolong diurus dulu administrasinya.” Tambah suster itu lagi sambil mengisyaratkan Eun Soo untuk mengikutinya. Tanpa banyak bicara Eun Soo mengekor di belakang sebelum melihat seseorang yang saat ini berada dalam list teratas orang-orang yang akan dibunuhnya jika ia menjadi peserta Hunger Games berlari-lari kecil menghampirinya.

“Ada apa? Sesuatu yang buruk terjadi padamu? Tadi aku melihatmu berlari-lari panik sepanjang koridor!”

Eun Soo mendesis tidak suka. Diantara semua rumah sakit yang ada di Seoul kenapa Taehyung harus dirawat di sini.

“Heo Eun Soo, jawab aku!”

Sebelumnya Eun Soo tidak pernah memiliki alasan untuk marah kepada Seokjin. Kalaupun ia memarahi laki-laki itu, itu hanya karena kesal saja dan tidak sampai seperti ini. Bahkan sepanjang perjalanan entah sudah berapa kali Seokjin dibunuh di dalam pikiran penuh amarahnya. Ia bahkan harus repot-repot menemui Hoseok untuk meminta alamat Seokjin karena laki-laki itu tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Hoseok bahkan mengatakan bahwa Seokjin tidak mengabari mereka tentang ketidakhadirannya hari ini.

“Kau mau melarikan diri ya?” Eun Soo masih berusaha menghubungi Seokjin dan memencet bel apartemen laki-laki itu. “Kim Seokjin, aku sudah di depan rumahmu!” Teriak Eun Soo. Kali ini kesabarannya sudah habis. Ia masih bisa memaklumi jika adik Seokjin terus-terusan memanggilnya kakak ipar, ia bahkan tidak keberatan harus mengurus Taehyung selama di rumah sakit bahkan mengantarnya pulang. Tapi yang paling tidak bisa ditolerir adalah ketika, ahh mengingatnya saja sudah membuat Eun Soo ingin merebus Seokjin hidup-hidup.

Eun Soo

Kau! Buka pintumu sekarang juga. Aku ada di depan rumahmu!

Eun Soo mengirimkan pesan kepada Seokjin, meneleponnya lagi dan berteriak-teriak agar segera dibukakan pintu. Lupakan tentang tata krama dan sopan santun, memaksa Seokjin untuk keluar adalah yang terpenting.

Jin

501***

Eun Soo mengernyit ketika Seokjin membalas pesannya dengan beberapa digit angka. Apakah itu password apartemennya? Tidak mau membuang waktu lagi ia mencobanya dan klik. Pintu terbuka.

“Kim Seokjin, dimana kau?” Teriak Eun Soo dari ambang pintu. Tidak mendapat jawaban membuat Eun Soo semakin emosi. Laki-laki itu memberikan password apartemennya tapi tidak menjawab panggilannya. “Aku akan masuk ke dalam!” Ia mencari-cari Seokjin sampai akhirnya menemukan sebuah kamar. Ia yakin Seokjin ada di dalam karena melihat cahaya dari bawah pintu. “Seokjin, keluar kau!” Ia menggedor-gedor pintu kamar yang ia yakini adalah kamar Seokjin karena memang tidak ada ruangan lain. Tiba-tiba ponselnya bergetar

Jin

Masuk

Hampir saja Eun Soo menendang pintu kamar Seokjin saat membaca pesan laki-laki itu. “Kau ingin mengerjaiku ya!” Teriak Eun Soo. Tidak ada respon, akhirnya Eun Soo memutuskan untuk masuk ke kamar laki-laki yang baru dikenalnya satu minggu terakhir ini. Ia tidak peduli sudah masuk kategori wanita macam apa dirinya karena masuk ke dalam kamar seorang laki-laki asing.

“Seokjin!” Ia menghampiri tempat tidur Seokjin. Rasanya ia benar-benar akan menguliti laki-laki itu karena dengan santainya masih tidur di bawah selimut. Apa karena alasan ini laki-laki itu tidak menjawab panggilannya dan membiarkan dirinya masuk ke dalam kamarnya.

Seokjin bergerak lemah dan menyingkap selimutnya perlahan. Ia menatap Eun Soo yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya dengan penuh kemarahan. Baru saja Eun Soo akan menyerangnya, Seokjin menunjuk segelas air putih yang ada di atas meja di dekat jendela. Eun Soo melotot namun tetap mengambilkannya juga karena ia harus segera membuat Seokjin berbicara padanya. Ketika ia kembali menghampiri tempat tidur Seokjin, laki-laki itu sedang berusaha untuk mendudukkan dirinya. Eun Soo berusaha keras untuk tidak menyiramkan air di dalam gelas yang saat ini sedang dibawanya kepada Seokjin.

“Hey, Kim Seokjin!” Buru-buru Eun Soo meletakkan gelas yang tadi dibawanya di atas nakas di samping tempat tidur saat Seokjin terhuyung dan hampir saja terjatuh dari tempat tidur.

To be continued…

3 comments

  1. mio · July 15, 2014

    ikutan nyesek kalo Kris sama Riyoung. Plz, Thor!! Jgn satukan mereka

  2. ssiskha · July 15, 2014

    Halo, makasih udah baca😉
    kenapa nyesek?

  3. JiChan · July 15, 2014

    Ffnya asik, apalagi kl ada bagiannya taehyung. Chapter selanjutnya ditunggu.. jgn lama” ya thor~

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s