Unstoppable Marriage part 5

Title                : Unstoppable Marriage part 5

Scripwriter     : Mrs. Heo | @MrsHeo86

Cast                 : Kim Seokjin [BTS] | Heo Eun Soo [OC] | Wu Yi Fan | Heo Riyoung [OC]

Genre              : Romance, fluff, family

Duration         : Chapter

Rating             : General

Summary

Seokjin mulai meragukan pasangan yang ada di hadapannya ini. Apakah Yifan masih mencintai Eun Soo? Apakah Eun Soo dan Yifan masih saling mencintai? Apakah Yifan benar-benar serius dengan pernikahannya bersama Riyoung? Atau bagaimana?

UM-5


5

I’m so glad you made time to see me
How’s life, tell me how’s your family
I haven’t seen them in a while
(Back To December-Taylor Swift)

 

“Hey, Kim Seokjin!” Buru-buru Eun Soo meletakkan gelas yang tadi dibawanya di atas nakas di samping tempat tidur saat Seokjin terhuyung dan hampir saja terjatuh. “Kau sakit?” Untungnya ia tepat waktu menahan Seokjin, kalau tidak mungkin laki-laki itu sudah tersungkur di atas lantai dengan kepala yang mendarat terlebih dahulu.

Ia merasakan tubuh panas Seokjin di lengannya. Eun Soo menyibakkan poni Seokjin yang menutupi hampir seluruh wajahnya untuk memeriksa suhu tubuh laki-laki itu. “Kau demam?” Eun Soo mendadak panik menyadari Seokjin ternyata sedang demam tinggi. Ini alasan mengapa ia tidak berminat menjadi tim sars, dokter, suster atau semacamnya karena ia sangat tidak bisa menekan rasa panik yang membuatnya malah tidak mampu berbuat apa-apa jika dihadapkan dengan situasi darurat. Ia bukan tipikal yang bisa menjadi pertolongan pertama pada kecelakan. “Tubuhmu panas sekali!” Teriak Eun Soo sambil menidurkan Seokjin kembali. “Apa yang harus aku lakukan?” Eun Soo membenarkan posisi tidur Seokjin dan menutupinya dengan selimut. “Sebentar, aku akan menelepon dokter!” Eun Soo mengambil ponsel dan sedetik kemudian mengumpat karena baru menyadari dokter mana yang akan ia hubungi? Tidak ada satu pun diantaranya yang ia miliki nomor kontaknya. “Aku akan menelepon Young Saeng oppa!” Eun Soo berbicara pada dirinya sendiri.

Seokjin yang tadi hampir pingsan bertambah pusing melihat Eun Soo yang bergerak-gerak panik seperti cacing di hadapannya. Ia ingin menegur gadis itu tapi suaranya hilang dan tubuhnya pun sangat lemas bahkan hanya untuk mengangkat kepala.

Seokjin menggamit lengan Eun Soo.

“Ya! Jangan menatapku seperti itu! Aku sedang berusaha mencari bantuan. Apa perlu aku panggil ambulans?” Eun Soo semakin panik melihat wajah kuyu Seokjin. Ia khawatir kalau ini bukan demam biasa mengingat Seokjin bahkan hampir pingsan hanya karena dia berusaha untuk duduk, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Seokjin dan dia akan disalahkan oleh orang-orang karena tidak mampu menolong Seokjin. Ia tahu pemikiran ini berlebihan tapi melihat kondisi Seokjin yang begitu lemah dan hanya dia satu-satunya yang bersama Seokjin tidak mampu menghentikan pikiran-pikiran berlebihannya.

Seokjin mencari-cari ponselnya di atas tempat tidur, mengetikkan sesuatu dan menyodorkannya pada Eun Soo.

Cukup mengkompresku saja. Kau membuatku bertambah pusing berteriak-teriak heboh seperti itu.

            Eun Soo menautkan kedua alisnya, sebelah tangannya masih memegang telepon menunggu panggilan kepada kakaknya tersambung. “Apa dikompres saja cukup? Tidak perlu ambulans?”

            Seokjin menggeleng pelan. Ini semua akibat hujan romantis gagal antara dirinya dan Riyoung. Seharusnya kondisinya tidak separah ini, hanya saja karena beberapa hari ini ia begitu kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menjadi sangat lemah.

“Oke, baiklah. Kau tunggu di sini!” Eun Soo meletakkan ponsel Seokjin di atas nakas dan segera memutuskan sambungan teleponnya. “Jangan sampai pingsan!” Ancam Eun Soo sambil berlari keluar kamar. Ia bahkan sudah lupa apa tujuannya datang kemari. Memarahi Seokjin dan memberikan perhitungan adalah yang seharusnya ia lakukan, namun lagi-lagi ia malah melakukan bakti sosial kepada kakak beradik Kim ini.

Tanpa sadar Seokjin mengangkat kedua sudut bibirnya, merasa lucu melihat tingkah Eun Soo. Beberapa menit yang lalu gadis itu berteriak-teriak seperti akan membunuhnya, sekarang ia sudah panik hanya karena dia hampir saja pingsan.

            “Apa dikompres benar-benar cukup?” Eun Soo menjepit poni Seokjin menggunakan penjepit rambutnya dan meletakkan kain basah di kening laki-laki tersebut. Ketika ia kembali ke kamar Seokjin, ia melihat Seokjin sudah tertidur pulas. Ia hampir saja berteriak panik lagi karena berpikiran Seokjin pingsan sebelum membaca pesan yang sengaja dikirimkan Seokjin untuknya, mengatakan kalau dia hanya tidur dan tidak perlu berteriak heboh karena itu membuat kepalanya semakin pusing.

            Ponsel Eun Soo berdering. Tanpa perlu melihat idnya ia sudah tahu bahwa itu adalah Young Saeng karena ia membuat nada dering yang berbeda untuk kakaknya.

            “Ada apa?”

            “Seokjin demam tinggi, apa yang harus aku lakukan? Apa dikompres saja cukup? Apa aku perlu memanggil ambulans? Bisa kau panggilkan dokter ke sini?”

            Entah sudah berapa jam ia tertidur, tapi ia merasa keadaannya sudah sedikit membaik dari malam sebelumnya. Seokjin menyentuh kain kompres di atas kening, membuatnya teringat akan kehadiran Eun Soo. Ia memindai seluruh kamar, mencari keberadaan gadis itu. Seingatnya, mungkin tadi pagi karena sepertinya saat ini hari sudah menjelang tengah hari, gadis itu datang sambil berteriak-teriak marah kepadanya dan langsung berubah panik saat mengetahui kondisinya. “Apakah dia sudah pulang?” Gumam Seokjin sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Kali ini sensasi pusing yang ia rasakan tidak separah sebelumnya.

Ia tidak pernah membiarkan gadis mana pun memasuki apartemennya. Ia juga tidak pernah memberikan password apartemennya kepada siapapun, apalagi kepada seorang gadis. Asing. Ia bahkan tidak pernah mengundang gadis mana pun datang ke apartemennya. Tapi Eun Soo, membuatnya melakukan semua hal itu sekaligus di saat yang bersamaan.

Baiklah, itu hanya terpaksa. Ia tidak memiliki pilihan lain karena Eun Soo yang terus menghubunginya sedangkan ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk mengangkat telepon dan berbicara. Suaranya hilang total.

Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan melihat punggung seorang gadis berada di dapurnya. Dapur yang selama ini hanya tersentuh oleh tangannya saja. Entah atas dorongan darimana, Seokjin ingin menikmati pemandangan di hadapannya lebih lama. Ia selalu suka ketika melihat seorang gadis berkutat dengan pekerjaan dapur, gadis seperti itu adalah tipenya. Gadis cantik dan kaya tentu tidak akan mau menghabiskan waktu untuk berkutat dengan peralatan dapur, itu merupakan salah satu alasan mengapa ia tidak menyukai gadis-gadis seperti itu. Mereka adalah tipikal gadis manja, tidak akan mau direpotkan dengan pekerjaan dapur.

Sejak pertama kali mengenal Eun Soo, ia sudah tahu bahwa gadis itu adalah gadis manja. Pintar dalam akademis sehingga terlalu menganggap remeh pekerjaan dapur. Bukankah gadis modern memang selalu seperti itu. Seokjin terkekeh saat Eun Soo menghidupkan keran air wastafel terlalu kencang sehingga membuat wajahnya basah.

“Kau sudah bangun?” Eun Soo menoleh saat mendengar suara Seokjin.

Seokjin melongo, sedikit kecewa karena Eun Soo menghentikan aktivitas mencuci piringnya. Ia yakin satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh gadis seperti Eun Soo di dapur selain makan pastilah hanya mencuci piring.

“Sebaiknya kau duduk, nanti kau pingsan!” Cerocos Eun Soo dan menghampiri Seokjin yang masih berdiri di ambang pintu.

“Aku pikir kau sudah pulang.” Seokjin bergerak dan duduk di meja makan, tersenyum ke arah Eun Soo yang sepertinya masih berpikiran bahwa melakukan pergerakan sedikit saja maka ia akan langsung pingsan. “Kepalaku sudah tidak terlalu pusing, tidak perlu cemas.” Ujar Seokjin parau. Suaranya mulai muncul kembali meski terdengar sengau.

Cemas!

Entah kenapa Eun Soo tidak suka persepsi Seokjin tentang dirinya yang cemas. Ia memang cemas, tapi bukan karena itu adalah Seokjin, ia hanya takut dianggap tidak bertanggung jawab.

“Kau tidak perlu repot-repot mencuci piring.”

“Tadi aku mencari mangkuk tapi tidak ada satu pun yang bersih. Makanya sekalian saja aku cuci semua piringmu.” Eun Soo menarik bungkusan di atas meja dan menyodorkannya kepada Seokjin. “Ini, sudah kubelikan bubur. Makanlah!”

Seokjin mengerjap-ngerjapkan mata, menatap Eun Soo seolah gadis itu adalah sesuatu yang aneh. Memang tidak ada yang salah dengan kata-kata Eun Soo kecuali satu kata. Membeli. Bubur, membeli? Apa susahnya memasak bubur?

“Kakakku bilang kau harus makan bubur, makanya kubelikan.” Eun Soo salah paham terhadap tatapan Seokjin kepadanya.

“Kau membelinya?”

“Eoh, kata kakakku bubur di restoran ini sangat enak. Haruskah aku memanaskannya terlebih dahulu?”

Seokjin masih menatap Eun Soo tidak percaya. “Bukankah membuat bubur itu mudah?”

Eun Soo menatap Seokjin, berusaha mencerna kata-kata laki-laki itu. Ia tertawa dan mengibaskan tangan kanannya. “Aku tidak bisa memasak. Pekerjaan merepotkan begitu.”

“Tapi kau perempuan, bagaimana pun suatu hari nanti kau akan menjadi seorang istri yang membuatkan makanan untuk suamimu.”

“Ketika menikah tentu kami akan menyewa pembantu.” Jawab Eun Soo santai.

Seokjin semakin yakin bahwa Eun Soo tidak akan pernah menjadi tipe idealnya, bahkan untuk memperhitungkannya pun ia terlalu malas. Bagaimana bisa ia memiliki seorang isteri yang membiarkannya makan makanan pembantu setiap hari.

“Kau bertemu orang tuaku?” Di luar kendalinya Seokjin memukul meja dan berdiri secara tiba-tiba sampai-sampai kursi yang didudukinya terjatuh.

“Kenapa kau yang berteriak? Seharusnya aku yang meneriakimu! Apa yang kau katakan kepada orang tuamu? Apa?” Eun Soo balas meneriaki Seokjin.

“Aku tidak mengatakan apa-apa kepada mereka!”

“Kalau tidak kenapa ibumu ikut-ikutan seperti Taehyung dan memanggilku menantunya. Ia bahkan bertanya kapan kita akan menikah? kapan pertama kali kita bertemu? sudah berapa lama kita berpacaran dan bertanya apakah kita—“ Eun Soo menggantung kalimatnya karena terlalu malu jika harus mengatakannya kepada Seokjin.

Seokjin mendelik, khawatir ibunya mengatakan sesuatu yang membuatnya malu. “Apa yang ditanyakan ibuku?”

“Dia bertanya apakah kita sudah tinggal bersama! Kau gila! Kita bahkan baru kenal selama seminggu bagaimana bisa semua pertanyaan tidak senonoh seperi itu terlontar dari bibir ibumu yang jelas baru pertama kali bertemu denganku!” Teriak Eun Soo. Kini emosinya sudah tersulut. Inilah tujuannya datang kemari, memberikan perhitungan kepada Seokjin. “Apa yang sudah kau katakan pada ibumu?”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.” Seokjin duduk kembali, berusaha menenangkan diri sambil mengusap kepalanya yang mendadak pusing ketika ia berdiri tadi. “Bagaimana bisa kau bertemu dengan orang tuaku?”

“Adikmu meneleponku karena ia masuk rumah sakit akibat cidera ketika bermain basket. Setelah urusan di rumah sakit selesai ia memintaku untuk mengantarnya pulang, kemudian tidak sampai di situ ia juga memintaku untuk mampir sebentar untuk menemui orang tua kalian. Dan ya begitulah, ibumu terlihat tertarik sekali padaku, seolah ia sudah lama mengenal sosokku.” Dengus Eun Soo.

Seokjin mulai bisa membaca situasi, semua kekacauan ini adalah ulah Taehyung.

“Sejak awal aku sudah curiga karena adikmu terus memanggilku kakak ipar bahkan ketika aku baru pertama kali melihatnya!”

Seokjin menerawang. Saat itu ia membiarkan Taehyung beranggapan bahwa Eun Soo adalah kekasihnya hanya untuk menghindari Yura. Sama sekali tidak menyangka bahwa adiknya akan selalu ingin menjalin hubungan dengan Eun Soo. Taehyung bahkan tidak mengabarinya bahwa ia mengalami cidera, malah menghubungi Eun Soo yang notabene bukan siapa-siapa di keluarganya.

“Kau gay?” Eun Soo bahkan kaget sendiri mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. “Kau pasti gay! Adikmu tidak pernah melihatmu bersama wanita mana pun jadi ketika ia melihatku bersamamu ia langsung berpikiran bahwa kau sudah kembali ke jalan yang benar dan berhubungan denganku! Benar kan begitu!” Tuding Eun Soo sambil menunjuk-nunjuk Seokjin.

“Jangan gila, aku normal!”

“Kalau begitu kenapa keluargamu begitu antusias terhadapku. Pasti karena mereka tidak pernah melihatmu bersama gadis manapun!”

Seokjin menatap Eun Soo tidak suka, ia memang tidak pernah memperkenalkan satu pun gadis kepada orang tuanya. Tapi bukan karena ia gay, terlebih ia belum pernah sekalipun bertemu gadis yang benar-benar tulus kepadanya tanpa melihat latar belakang keluarganya.

“Apa kau melakukan pekerjaan ini agar kau terlihat normal?” Eun Soo masih kekeuh terhadap pemikirannya mengenai penyimpangan Seokjin.

“Apa aku harus menciummu agar kau percaya?” Ancam Seokjin karena sangat kesal terhadap tingkah Eun Soo. Rasanya ia bertambah sakit mendengar berita yang dibawa oleh Eun Soo. Mungkin Taehyung masih bisa dikontrol, tapi jika Eun Soo sudah sampai di hadapan kedua orang tuanya tentu masalahnya akan semakin rumit—mengingat Taehyung adalah titisan ibunya. Sifat mereka sama persis. Jika Taehyung saja bersikap seperti itu ketika bertemu dengan Eun Soo, apalagi ibunya yang jelas-jelas selalu memaksanya untuk segera membawa calon istri.

Eun Soo bercicit kesal. “Sepertinya Yura tidak menyukaiku.” Tambah Eun Soo.

Seokjin melirik Eun Soo. Yura tentu tidak pernah menyukai para gadis yang berkeliaran di sekitarnya. “Kau tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini. Kau tidak akan terbawa-bawa lagi.”

“Tentu saja kau harus menyelesaikannya dengan cepat. Lagipula kau yang kubayar untuk memisahkan Riyoung dan Yifan bukan aku yang kau manfaatkan untuk membuktikan bahwa kau—“

“Bicara sekali kau benar-benar tamat Heo Eun Soo!”

“Aku baik-baik saja, seseorang sudah merawatku.” Seokjin menepis tangan Yura yang baru saja akan memeriksa suhu tubuhnya dengan sopan. Ia mendengus, seharusnya ia cukup mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tidak perlu ditambah embel-embel seseorang sudah merawatnya.

Yura menatap Seokjin sinis. “Wanita bernama Heo Eun Soo itu?”

“Dia lebih tua darimu, tambahkan embel-embel eonni, eoh!” Seokjin mengusap puncak kepala Yura dengan lembut, biasanya hal itu selalu berhasil meredam emosi gadis itu.

“Cih, untuk apa aku repot-repot memanggilnya eonni. Dia bukan kekasihmu kan?”

Seokjin memilih tidak langsung menjawab. Ia harus berhati-hati menjawab semua pertanyaan Yura, gadis itu tahu benar siapa dirinya, salah sedikit saja semuanya akan semakin berantakan. Parahnya, jika selama ini yang terlibat hanyalah mereka dan Taehyung bisa-bisa sekarang Eun Soo ikut terseret-seret.

“Kau hanya memanfaatkannya untuk membuatku menjauh darimu kan?” Yura terus memojokkan Seokjin. “Kau boleh tidak menyukaiku, tapi kau tidak berhak melarangku untuk berhenti menyukaimu!”

Seokjin terus menatap Yura. Inilah alasan ia selalu menghindari Yura. Selalu hal ini yang akan dibahas oleh gadis itu dan ia merasa lelah. Bukannya ia tidak menghargai perasaan Yura tapi semuanya terlalu rumit bagi mereka bertiga. Salah satu diantara mereka harus pergi untuk setidaknya bisa meluruskan benang kusut diantara mereka. “Aku tidak melarangmu.”

“Membawa si Eun Soo itu apa yang namanya bukan melarangku? Cih, sekali lihat sudah bisa disimpulkan bahwa ia gadis kaya yang cantik, tipikal gadis pemanfaat. Bukankah kau tidak menyukai gadis seperti itu? Kenapa malah membiarkannya berkeliaraan di sekitarmu terus?”

Mendengar penuturan Yura membuat Seokjin teringat ketika Eun Soo mengeluh tentang Yura yang tidak menyukainya. Ia merasa tidak enak terhadap gadis itu. Ia tidak memiliki andil dalam kekacauan ini, ialah yang telah menyeret Eun Soo ke dalam masalahnya. “Apa aku pernah mengatakan bahwa Eun Soo adalah kekasihku?” Seokjin menghela napas. Kondisinya belum terlalu sehat tapi ia tidak ingin melihat kekhawatiran Yura jika melihatnya sakit. Ia berani bersumpah Yura akan memaksa untuk merawatnya dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Akan jauh lebih baik baginya melihat Eun Soo berteriak-teriak panik daripada membiarkan Yura mengetahui apartemennya dan merawat dirinya.

“Kau tidak menyangkalnya!”

“Apa yang harus aku sangkal?”

“Taehyung terus-terusan memanggilnya kakak ipar!”

“Kau tahu jelas bagaimana tabiat anak itu.”

“Paman dan bibi juga menyukainya. Bibi bahkan memanggilnya menantu!”

“Apakah kau lupa Taehyung itu kloningan ibu?”

“Tapi tetap saja paman dan bibi menyukai si Eun Soo itu.”

Seokjin lelah menjelaskan. “Tapi Eun Soo selalu menyangkalnya kan.”

Yura terdiam. Malam itu, ketika Taehyung mengenalkan Eun Soo kepada keluarganya, gadis itu memang mati-matian membantah bahwa ia adalah kekasih Seokjin tapi tidak ada yang berniat mempercayainya kecuali Yura sendiri.

“Wajar jika ayah dan ibu menyambut Eun Soo dengan hangat. Mereka selalu memaksaku untuk membawa kekasihku ke rumah. Meskipun bukan Eun Soo mereka akan tetap menyukai siapapun gadis yang kuperkenalkan kepada mereka.” Seokjin terbatuk, sepertinya flunya semakin memburuk.

“Benarkah? Tapi ia terlihat seperti menantu idaman.”

“Kau bilang dia bukan tipeku.”

“Tapi kenapa kau selalu membiarkan Eun Soo terus-terusan berkeliaran di sekitarmu? Kau nyaman bersamanya?”

Seokjin tidak langsung menjawab seperti yang sebelum-sebelumnya. Entah mengapa ia merasa pertanyaan Yura kali ini perlu dipikirkan matang-matang sebelum dijawab. “Kami rekan kerja.” Jawab Seokjin akhirnya.

“Tapi dia cantik.”

“Dia tidak bisa memasak.”

“Aku bisa memasak tapi kau tetap tidak menyukaiku.”

“Dia gadis cantik yang kaya, tipikal pemanfaat.”

“Tapi kau merasa nyaman bersamanya.”

“Dia membayarku.”

“Kalau begitu berhenti dari pekerjaan konyol ini.”

Seokjin tersenyum lembut dan mengacak-acak rambut Yura dengan gemas. Ia menyukai Yura tapi tidak dalam definisi yang sama dengan gadis itu. Ia menyukai Yura sebagai adiknya, tidak lebih. Mereka besar bersama-sama. Sejak awal dia hanyalah seorang yang berperan sebagai kakak laki-laki yang bertugas menjaga kedua adiknya, Taehyung dan Yura. Hanya itu.

“Sudah malam, kita pulang ya.”

Yura menyerah. Meski ia tidak menyukai bagaimana perdebatan mereka berakhir tapi ia cukup lega karena sudah mendengar konfirmasi langsung dari mulut Seokjin.

“Boleh aku mampir ke apartemenmu?”

            “Kau masih ingat Seokjin? Asisten Young Saeng oppa.” Riyoung meletakkan segelas cokelat panas di atas meja kerja Yifan.

            Yifan mendengarkan sambil masih melihat-lihat file beberapa pasiennya. Ini masih jam istirahat dan Riyoung datang mengunjunginya. Terkadang Yifan merasa sedikit bersalah pada calon isterinya itu. Ketika seharusnya ia membantu mengurusi persiapan pernikahan ia malah bergelut dengan pekerjaannya. “Yang waktu itu makan malam bersama kita?” Yifan berusaha meyakinkan, sebenarnya ia tidak terlalu ingat teman Young Saeng yang dibawa malam itu. Fokusnya benar-benar pada Eun Soo yang sudah lama tidak ia temui. Banyak hal yang ingin dibicarakan tetapi malah pertengkaran yang terjadi di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama tidak bertemu.

            Riyoung mengangguk dan duduk di atas meja, mengambil file-file yang masih ada di tangan Yifan. “Menurutku dia sangat cocok dengan Eun Soo.”

            Yifan mengernyit, mengalihkan perhatiannya kepada Riyoung. “Maksudmu?”

            “Ayo kita jodohkan mereka!”

            Yifan terdiam. Bagaimana pun ia tidak akan rela jika Eun Soo bersama laki-laki yang salah. “Bagaimana kau bisa yakin dia adalah laki-laki yang tepat bagi Eun Soo?”

            “Oppa sudah menganggapnya sebagai adik sendiri. Kau tahu sendiri kan bagaimana tabiat Young Saeng. Tidak gampang untuk bisa masuk ke dalam kehidupannya. Jika Ia mempercayai Seokjin bukankah itu berarti Seokjin laki-laki yang baik?”

            Di dalam hati Yifan mengiyakan, tapi tetap saja merasa ragu. Kepercayaan Young Saeng adalah tolak ukur yang akurat tapi tetap saja masih banyak pertimbangan yang harus diperhatikan untuk menarik kesimpulan bahwa laki-laki bernama Seokjin itu pantas untuk Eun Soo. “Sekedar baik saja tidak cukup.”

            “Tipikal seperti Eun Soo itu sangat cocok dengan laki-laki perhatian dan periang seperti Seokjin. Mereka akan saling melengkapi.” Seru Riyoung bersemangat sambil membayangkan betapa lucunya adiknya dan Seokjin menjadi pasangan. Eun Soo yang cuek dan Seokjin yang terus berusaha mencari perhatiannya karena merasa diabaikan. “Bukankah mereka sama seperti kita?” Riyoung menggenggam tangan Yifan.

            Yifan tersenyum. Ya, Eun Soo memang sama sepertinya. Ia harus mendapatkan seorang laki-laki dengan berkepribadian ceria seperti Riyoung. Tiba-tiba ia teringat tembok besar penghalang mereka selama ini. Sifat pasif, arogansi dan harga diri. “Tapi kau tidak bisa menarik kesimpulan secepat itu.”

            Riyoung tertawa. “Tentu saja, aku hanya merekomendasikan. Kita lihat apakah Seokjin memenuhi syarat.”

            Yifan ikut terkekeh. Setelah semua yang terjadi satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memastikan Eun Soo tidak memilih laki-laki yang salah. Cukup dirinya saja yang merupakan suatu kesalahan bagi gadis itu, ia tidak mau Eun Soo terluka lagi. Eun Soo terlalu baik untuk disia-siakan. Namun saat ini satu hal yang harus ia selesaikan adalah mengatakan semua yang dulu tidak sempat ia katakan untuk mengklarifikasi ingatan Eun Soo tentang hubungan mereka di masa lalu.

            “Eun Soo, duduk sini, duduk sini!” Riyoung buru-buru menarik Eun Soo yang baru saja sampai untuk duduk di sebelah Seokjin.

Eun Soo menatap Seokjin yang duduk manis di hadapan Yifan, memberikan tatapan membunuh kepada laki-laki itu. Setelah puas menatap Seokjin dengan penuh emosi kali ini pandangannya teralih kepada Yifan yang tampak biasa saja dan tidak merasa ada yang salah dengan pertemuan mereka kali ini.

“Kalian terlihat manis duduk berdampingan begitu.” Seru Riyoung sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.

Eun Soo yang masih belum bisa membaca situasi hanya mengacuhkan Riyoung dan terus menatap Yifan agar diberi penjelasan. Seingatnya Yifan mengatakan bahwa ia ingin bicara dengannya. Berdua. Bukan berempat. Terlebih kenapa harus ada Seokjin. Tidak mudah baginya untuk mengiyakan ajakan Yifan karena ia tahu pembahasan Yifan adalah sesuatu yang lebih baik ia simpan seorang diri. Tapi setelah mengesampingkan segala egonya malah pemandangan ini yang ia temui.

“Seokjin, Eun Soo!” Panggil Riyoung.

Mereka berdua menoleh bersamaan dan mendapati Riyoung sedang memotret mereka.

Eonni, apa yang kau lakukan?” Melihat tingkah Riyoung membuat mood Eun Soo semakin jelek.

“Mengabadikan moment kalian berdua.” Ia melihat hasil jepretannya dan tersenyum puas. “Kalian benar-benar menggemaskan.” Imbuh Riyoung.

Eun Soo melengos dan menatap Seokjin yang hanya tersenyum canggung. Jika tebakannya tepat maka saat ini yang sedang dilakukan kakaknya dan Yifan adalah berusaha menjodohkannya dengan Seokjin. Yang benar saja! Dia membayar mahal Seokjin untuk Riyoung, bukan untuk dirinya sendiri. Sial!

Setelah memesan makanan Eun Soo memutuskan untuk menyibukkan diri dengan ponselnya, mengabaikan Seokjin dan Riyoung yang terus mengobrol dan Yifan yang seperti biasa hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali hanya menanggapinya dengan senyuman dan anggukan. Eun Soo menarik sedikit lengan kemejanya, bermaksud melihat jam. Ia baru sadar bahwa ia lupa memakai jam.

“Kau terburu-buru datang kemari?” Eun Soo tidak sadar bahwa ternyata Yifan memperhatikan gerak-geriknya.

Eun Soo hanya mengendikkan bahu tak acuh. Seokjin melirik Eun Soo, mencari tahu apa yang menyebabkan Yifan tiba-tiba bertanya seperti itu. Jika hanya berbasa-basi seharusnya Yifan menanyakannya sejak awal kedatangan Eun Soo tadi.

Tidak berapa lama setelah itu pelayan datang membawa pesanan mereka.

“Tolong pesan segelas susu lagi!”

Seokjin menoleh cepat. Susu? Yifan memesan susu. Sadar sedang diperhatikan oleh Seokjin Yifan terkekeh. “Nona di sampingmu itu tidak bisa minum. Biasanya aku memesankannya susu sebagai pengganti anggur.” Yifan tertawa dan mendadak terdiam. Ia sadar bahwa informasi yang ia berikan terlalu banyak, seolah ia masih hapal segala kebiasaan Eun Soo, apa yang boleh dan tidak boleh untuk gadis itu. Ia memang masih mengingatnya tapi seharusnya ia berpura-pura melupakannya di hadapan Riyoung.

“Benarkah? Bukankah Eun Soo dan Sehun sering ke klub malam?”

Eun Soo melirik Seokjin melalui ujung matanya. Bagaimana bisa laki-laki itu tahu kalau ia dan Sehun sering pergi ke klub malam.

Kali ini Riyoung yang tertawa. “Mereka ke klub hanya untuk melepas penat. Eun Soo tidak pernah minum. Ia bisa langsung terkapar tidak berdaya bahkan jika itu hanya satu tegukan. Sehun biasanya menggunakan Eun Soo sebagai senjata terakhir jika ia tidak bisa mengendalikan gadis-gadis yang berebut mendekatinya dan mengurusinya jika ia mabuk berat. Bisa dibilang Sehun hanya menjadikan Eun Soo sebagai supirnya saja.” Terang Riyoung dengan penuh semangat seolah itu adalah informasi yang wajib diketahui oleh Seokjin.

Seokjin terperangah. Bukan karena cerita Riyoung tapi lebih karena betapa lengkapnya informasi yang diberikan kepadanya.

“Sekalian saja eonni memberitahunya hari apa saja kami pergi ke klub.” Sindir Eun Soo.

Sama sekali tidak merasa tersindir Riyoung malah menambahkan informasi tentang hobi Sehun dan Eun Soo. “Dulu mereka selalu pergi di hari minggu. Sebulan hampir dua kali. Tapi sejak Eun Soo bekerja di Jepang Sehun sudah jarang pergi ke klub.”

Seokjin terkekeh dan melirik Eun Soo yang berpura-pura tidak mendengar celotehan kakaknya. Iseng Seokjin menggoda Eun Soo. “Bagaimana kalau sekali-sekali kita pergi bersama?”

Eun Soo melotot.

“Sebaiknya kau jangan mengajak Eun Soo ke tempat yang aneh-aneh. Aku mempercayai Sehun karena dia adalah sepupunya. Aku tidak suka jika ada laki-laki yang mengajak Eun Soo ke klub malam.” Tegur Yifan.

Keadaan mendadak canggung.

Seokjin mulai meragukan pasangan yang ada di hadapannya ini. Apakah Yifan masih mencintai Eun Soo? Apakah Eun Soo dan Yifan masih saling mencintai? Apakah Yifan benar-benar serius dengan pernikahannya bersama Riyoung? Atau bagaimana? Hubungan mereka terlihat seperti benang kusut dimana tidak ada satu pun diantara mereka yang berusaha meluruskannya.

“Eun Soo, kau harus makan yang banyak. Tubuhmu sudah kurus begitu.” Akhirnya Riyoung yang memecah keheningan.

Eun Soo hanya mengangguk pelan. Mereka makan dalam diam. Eun Soo sama sekali tidak merasa terganggu karena biasanya ia memang tidak pernah memperhatikan hal-hal lain selain makanan yang ada di hadapannya ketika sedang makan. Seokjin melirik Eun Soo yang hanya diam. Sisi tidak peduli gadis itu terhadap sekitarnya muncul lagi. Seokjin akui ia merasa sedikit terharu ketika Eun Soo ,au repot-repot merawatnya. Baginya, seseorang yang terlihat acuh selalu terlihat mengagumkan ketika mulai menunjukkan rasa pedulinya.

Seokjin mengalihkan pandangannya saat Yifan menggamit lengannya. “Dia memang selalu begitu jika sedang makan.”

Eun Soo mengambil ponselnya yang berdering dari dalam tas. Melihatnya sekilas dan menyimpannya lagi. Perhatiannya teralih ketika melihat pelanggan yang memarahi salah satu pelayan restoran, namun setelah itu ia mengabaikannya lagi. Eun Soo menoleh kembali saat pelanggan yang sedang marah-marah itu menyebut-nyebut cacat. Eun Soo memperhatikan pelayan restoran yang hanya diam saja meskipun sudah dimaki-maki. Eun Soo menyipitkan matanya, berusaha memastikan bahwa ia tidak salah lihat. “Hongbin?” Gumam Eun Soo. Seokjin sampai kaget saat Eun Soo tiba-tiba berdiri dan berlari panik meninggalkan meja makan.

Seokjin terkejut saat Eun Soo disiram dengan segelas air, mungkin lebih tepatnya tersiram karena sasaran gadis itu bukanlah Eun Soo, melainkan pelayan yang entah melakukan kesalahan apa sampai dimaki-maki di depan umum.

“Kau sudah puas?”

“He-Heo E-Eun Soo?”

“Berapa yang harus aku bayar untuk membuatmu berhenti memakinya?” Tanya Eun Soo gusar.

“Ya! Kau pikir kau siapa? Gaun yang terkena tumpahan anggur ini, bahkan dengan penghasilannya selama satu tahun tidak akan cukup untuk membayarnya!”

“Kau tunggu di sini!” Eun Soo berjalan gusar dan menyambar dompetnya, kemudian kembali lagi menghampiri gadis itu. Ia mengeluarkan semua isi dompetnya dan menggenggamkannya kepada gadis itu. “Dengan uang itu kau bahkan bisa membeli sepuluh gaun lagi.”

Awalnya gadis itu merasa tersinggung, namun melihat uang yang diberikan Eun Soo kepadanya membuatnya memilih untuk tutup mulut.

“Sekarang kau minta maaf kepadanya.”

“Aku. Kenapa?”

“Kau tidak tahu dimana letak kesalahanmu, nona?”

“Oh, karena aku mengatainya cacat? Bukankah memang benar begitu? Berbicara saja masih tergagap-gagap, pergerakannya begitu lamban dan linglung. Jadi aku harus menyebutnya apa kalau bukan cacat?”

“E-Eun-So-Soo. Su-dahlah!” Hongbin berusaha menenangkan Eun Soo yang semakin tersulut emosi. Ia takut kata-kata kasar akan keluar dari bibir gadis itu dan malah semakin memperkeruh situasi.

Eun Soo berbalik. Menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya itu dengan geram. “Segera bereskan barang-barangmu! Mulai hari ini kau tidak bekerja di sini lagi!”

“Ta-tapi.” Hongbin berusaha menolak.

“Kau tahu aku tidak menerima penolakan bukan? Aku tunggu kau di luar!”

Akhirnya Hongbin menurut. Meski Eun Soo sering mengaturnya tapi ia tahu bahwa semua yang dilakukan oleh gadis itu hanya untuk melindunginya. Setelah Hongbin pergi Eun Soo memandang sinis gadis yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan menantang. “Sekali lagi kau berani mengatainya begitu akan kupastikan kau berurusan dengan pengacaraku.” Ia kembali ke mejanya. “Maaf, aku harus pulang duluan.” Pamit Eun Soo tanpa memberikan kesempatan kepada Seokjin, Yifan dan Riyoung untuk mengucapkan sepatah kata pun sambil menyambar tasnya di atas meja. Emosinya benar-benar tersulut saat ini. Hongbin, bukan seseorang yang boleh dihina di hadapannya.

“Tapi pakaianmu basah.” Seokjin menahan lengan Eun Soo.

“Bukan urusanmu!” Eun Soo menghempaskan tangan Seokjin dengan kasar dan berhambur ke luar restoran.

To be continued . . .

Mendadak suka Hongbin anak VIXX, jadi kadang nyempilin dia di mana-mana. Nggak ada maksud apa-apa sama karakter dia di sini, cuma karena kebutuhan aja. Semoga nggak ada yang tersinggung sama peran Hongbin di sini. Hehehehe ^^

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s