My Longing (1/3)

POSTER FF MY LONGING

Title
My Longing (1/3)
_______
Chapter
_______
Rating
Teen
_______
Genre
Drama, Romance
_______
Author
Song Eunsuk a.k.a Fahira Salsabila
_______
Main Cast
Byun Baekhyun, Kim Taeyeon
_______
Support Cast
Kim Jongdae, Tiffany Hwang

Orang bilang cinta pandangan pertama itu mustahil.
Tapi bagiku, cinta pandangan pertama begitu nyata
saat aku bertemu denganmu.
Tuhan mungkin mempertemukanku denganmu hari ini.
Tapi kenapa Tuhan tidak memberi kemudahan?
Haruskah cinta didapatkan bersama dengan
penantian?

Author Note/[A/N] Penting dibaca supaya ga
bingung._.
FF ini menggunakan sudut pandang Byun Baekhyun.
Tapi ditengah-tengah bakal ada perubahan tanpa
pemberitahuan. Readers teliti aja ya, soalnya ga ada
pemberitahuan POV nya. Buat info aja, kemarin di
coment ff pertama author ada yang nanya ttg fb,
twitter. Kalau mau kontak author: @_salssone_
(twitter), @salssonexo (instagram) .
Terakhir, maaf kalau ada typo dan segala macam
kesalahan di dalam cerita ini alur sepenuhnya
dateng dari kepala author. Kalau ada kesamaan cerita,
mohon dimaafkan u.u
Jangan lupa commentnya ya readers😉 . Comment dari kalian
sangat berarti bagi author baik itu comment yang berisi kritik
yang bersifat membangun atau
sekedar perasaan setelah membaca ff ini.

**

Pagi ini, dengan pakaian serba sederhana, aku berjalan menuju salah satu tempat favoritku. Tempat yang biasanya kudatangi selepas mendapatkan honor menyanyiku di cafe. Tempat yang bisa membuatku lupa waktu hanya karena bimbang memilih. Memang pada dasarnya aku ini orang yang plin-plan. Sudah tahu punya uang terbatas, tapi malah menyimpan banyak pilihan. Lalu akhirnya bingung memutuskan yang mana. Awalnya memilih yang itu, kemudian memilih yang lain. Menimbang-nimbang mana yang lebih bagus dan lebih murah; aku orang yang punya selera tinggi terhadap kualitas seni. Dan ujung-ujungnya memilih buku bagus tapi mahal. Sayangnya begitu. Semua di dunia ini pasti memiliki harga yang sepantar.
Akhirnya sampai setelah sepuluh menit berjalan kaki dari flat sederhanaku. Membuka pelan pintu tempat itu dan tersenyum lebar. Mataku menjelalat kesana-kemari, mencari produk baru yang bagus. Hamparan buku di rak-rak itu-lah yang sedari tadi aku bicarakan. Mereka seakan menyambutku. Sekaligus meminta agar aku membacanya. Yang itu artinya aku harus membeli terlebih dulu sebelum membuka segelnya.
Beberapa langkah aku masuk, mataku makin jelas melihat buku-buku itu. Ternyata banyak buku keluaran baru. Biasanya buku-buku baru sekaligus berkualitas harganya selangit – diluar batas kemampuanku. Beruntung karena toko buku ini tidak mengambil banyak untung. Tapi sayangnya hukum tadi berlaku juga di sini: semua di dunia ini memiliki harga sepantar. Maka, jadilah kadang ada cacat di buku yang kubeli di sini. Tapi itu bukan masalah buatku. Karena yang terpenting adalah aku bisa membeli buku baru.
Karena menjual buku-buku tidak sempurna, toko ini biasanya dikunjungi orang-orang sederhana – kebanyakan para mahasiswa berpakaian lusuh yang tidak punya cukup uang jajan untuk membeli di tempat lain. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan orang-orang. Beberapa ada yang menyapaku – sama-sama pembeli langganan – lalu aku balas tersenyum dan kembali sibuk memperhatikan tumpukan tulisan bercetak itu. Tumpukan kertas ini bagai duniaku yang lain. Kalau sudah didepan mereka, jarum jam pun aku abaikan. Tak akan pernah ada yang bisa mengalihkanku dari dunia ini.
Sayangnya hari ini berbeda. Perempuan itu mampu mengalihkanku.
Pertemuan pertama itu sungguh mengejutkan. Perempuan itu berdiri di depanku – di depan rak yang tingginya hanya sampai dadaku. Di tangannya terselip buku dengan sampul berbahan daun yang dikeringkan yang sempat menarik perhatianku sejenak. Tapi lalu aku kembali memperhatikan dirinya, ia sedang sibuk meneliti buku-buku yang ada di rak sastra percintaan.
Apakah karena kecantikannyalah jantungku berdebar? Orang bilang jantung berdebar disaat jatuh cinta. Lalu bagaimana dengan cinta pandangan pertama? Tanpa tahu alasan apapun hatiku seakan direbut olehnya yang tak kukenal. Pesonanya seakan memenuhi seleraku yang bahkan tak punya kriteria perempuan idaman. Aku tatap matanya. Mata yang terlihat putus asa namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Mata yang menarik perhatianku selama tiga puluh detik penuh.
Semakin kuperhatikan, kutaksir ia berumur dua puluh lima tahun. Tapi aku tidak begitu yakin. Wajahnya memang terlihat dewasa – walau sebenarnya sangat imut. Tapi tubuhnya begitu mungil. Walau begitu, bagiku dia terlihat sempurna.
Enam puluh detik-ku sungguh teralihkan.
Perempuan itu akhirnya berjalan menuju kasir. Membawa satu buku pilihannya. Jelas-jelas sejak ia datang kemari, ia sudah menetapkan buku apa yang ingin dia beli. Terlihat dari berapa lama ia berdiam diri di hadapanku yang sedang memperhatikannya. Untungnya ia tidak menyadari kehadiranku sama sekali. Lalu tanpa sadar tanganku mengambil dengan asal buku yang paling dekat dan kakiku menuntunku untuk mengikuti perempuan itu. Tidak peduli buku apa itu, tidak peduli buku itu bagus atau tidak. Aku hanya tidak ingin ketahuan membuntuti perempuan itu.
Aku berdiri di belakangnya, pura-pura mengantri. Menghirup aroma khas – aku belum pernah mencium wangi seperti ini. Atau aku hanya sedikit berlebihan? Entahlah, yang jelas aku merasa aneh.
Dia akhirnya melangkah ke luar. Aku sempat berpikir untuk mengikutinya – menimbang-nimbang apa aku bisa berkenalan dengannya. Tapi bagaimana kalau dia malah mengira aku penguntit? Lebih baik jangan. Lebih baik aku bertanya pada Jongdae, kasir dan sekaligus pemilik toko ini. Sepertinya tadi aku lihat perempuan tadi bercengkerama dengan Jongdae. Jadi siapa tahu Jongdae kenal dengan perempuan itu.
Aku menghampiri Jongdae untuk yang kedua kalinya setelah mengambil buku yang benar-benar aku pilih. Ia menyapaku riang, bertanya kabarku. Aku menjawab seadanya, membayar buku, dan bertanya apakah dia mengenal perempuan tadi.
“Apa kau mengenalnya?” Jongdae bertanya balik.
Aku mengangkat bahu. “Begitulah.” Berbohong. Kalau aku tidak bilang begitu, aku yakin Jongdae malah akan curiga dan bertanya lebih lanjut. “Rasanya ia adalah teman kenalanku. Tapi aku belum pernah berkenalan dengannya. Kau tahu namanya?”
“Namanya Kim Taeyeon.” Jawab Jongdae.
Aku mengangguk mengerti sambil mengukir nama perempuan itu di kepalaku.
“Kalau kau mengenalnya,” Jongdae mengambil sesuatu dari loker mejanya. “bisa aku titip ini?” Ia menyerahkan sebuah buku dengan sampul daun yang dikeringkan. Buku yang digenggam perempuan tadi – Kim Taeyeon.
“Kau mengenalnya, bukan? Berarti perempuan itu termasuk pelanggan toko ini. Kenapa tidak kau saja yang menyimpannya?”
Jongdae menggaruk pelipisnya, rautnya terlihat ragu. “Sepertinya dia tidak akan kembali lagi ke sini. Kau lihat, ‘kan, penampilannya. Aku berpikir ia tipe orang yang sangat memperhatikan kualitas. Padahal kau tahu toko ini menjual buku cacat. Ia datang ke sini hanya karena rekomendasi temannya yang merupakan pelanggan toko ini juga. Mungkin satu-satunya yang orang itu katakan pada Kim Taeyeon adalah toko ini menjual buku murah.” Jongdae tertawa. “Karena itulah ia memperkenalkan dirinya; menceritakan semua yang kukatakan barusan.”
Aku mengangguk-angguk lagi, mengerti.
“Jadi kau mau mengambil ini, tidak? Akhir-akhir ini orang itu – pelanggan langganan dan teman Kim Taeyeon – sudah jarang datang.”
Aku menatap buku itu – yang diletakkan Jongdae di atas meja kasir. Sementara ia sibuk merapikan buku-buku yang biasanya tidak jadi dibeli pelanggan dan akhirnya hanya ditaruh di meja kasir. Kepalaku menimbang-nimbang… apa aku akan bertemu lagi dengannya? Berkenalan saja aku tak pernah. Tapi siapa tahu buku itu akan mempertemukan kami?
Setelah Jongdae bertanya lagi apa aku mau membawa pulang buku itu, aku akhirnya menerimanya. Lalu aku berjalan ke luar dan langsung pulang menuju flat-ku.
.
.
Buku yang baru kubeli tadi hanya aku letakkan di meja makan. Lebih tertarik dengan buku milik perempuan bernama Kim Taeyeon. Memperhatikan sampulnya. Jelas sekali itu buatan tanggan. Walau bagus, tapi buatku itu kurang rapi: ada beberapa ruang yang tidak tertutup daun. Menatap buku itu lagi, sepertinya buku itu adalah diari. Dan ternyata dugaanku benar.
Halaman pertama kubuka. Kubaca sekilas, hanya ada dua baris: Ini hari pertama aku menggoreskan tinta padamu. Kuberi kau nama Ip (daun). 9 Maret 2013.
Itulah yang tertulis. Aku membuka halaman selanjutnya.
Hari ini aku menyelesaikan buku yang diberikan ibuku. Sungguh menggunggah. Buku memang bisa memengaruhi apapun. 13 Maret 2013.
Aku sudah menetapkan mimpiku, Ip. Aku akan menjadi penulis. 20 Maret 2013.
Ip, aku sungguh jatuh cinta pada buku. Aku akan menjadi penulis. Tapi aku tidak tahu penulis apa. Aku mencintai semua jenis buku. 25 Maret 2013.
Halaman-halaman selanjutnya hampir sama – menceritakann mimpi-mimpi dan kecintaannya pada buku, juga dalam tulisan singkat. Walau singkat, tulisannya bisa membuatku merasa terharu. Sekaligus merasa lucu. Beginikah perempuan bernama Kim Taeyeon? Perempuan yang menuliskan: “Aku akan menjadi penulis.” Bukannya: “Aku ingin menjadi penulis.” Perempuan yang penuh keyakinan, kurasa.
Halaman selanjutnya kulihat secara singkat. Karena hampir semua isinya sama. Sampai aku menemukan halaman yang berbeda.
Pertama kalinya aku melihat selembar foto dan tulisan panjang setelah melihat-lihat banyak halaman dengan tulisan pendek. Foto itu terlihat kuno: ada dua orang perempuan di dalamnya. Yang satu adalah seorang gadis kecil, dan satu lagi seorang wanita dewasa. Mungkin gadis kecil itu adalah Kim Taeyeon karena matanya sama dengan perempuan yang tadi aku lihat. Dan mungkin orang dewasa itu Ibunya. Mungkin.
Aku mulai membaca tulisannya. Panjang sekali. Intinya bercerita tentang Ibunya yang pergi meninggalkannya. Tapi tidak se-simpel itu. Kata-katanya mengharukan dan indah. Beberapa berisikan keraguannya pada Tuhan, bertanya-tanya apa Tuhan menyayanginya, bertanya-tanya apa Tuhan itu ada. Bentuk emosi kesedihan yang umum, tapi disajikan berbeda. Membacanya seakan-akan ikut menyesal atas kepergian Ibunya.
Setelah tulisan-tulisan singkat berisi mimpi, kini tulisan derita-lah yang kubaca.
Selanjutnya tak ada tulisan lagi. Kosong hingga halaman terakhir. Seakan ia putus asa setelah kehilangan. Tuhan, benarkah kegembiraan hatinya hilang? Kalau begitu, berarti matanya yang barusan kulihat benar-benar putus asa?
Aku memang tak mengenal dirinya. Tapi lewat buku ini rasanya aku tahu siapa Kim Taeyeon. Aku sangat berharap aku bisa bertemu lagi dengannya, berbagi kebahagiaan yang kupunya. Menghilangkan dirinya yang putus asa. Mengembalikan keyakinannya pada sebuah buku dan tulisan.
Jadi karena tekadku, aku berusaha mencari-cari di setiap sudut buku ini, berharap ada data dirinya: alamat rumah, foto yang paling baru, tanggal dan tempat lahir, atau apa saja. Sehingga aku bisa dengan mudah mendatanginya. Tapi ternyata aku tidak menemukan apapun.
Aku mengempaskan tubuh ke sandaran kursi. Sepertinya akan sulit bertemu lagi dengan dririnya.

.

Sudah satu minggu sejak hari pertemuan itu. Dan setiap hari selama itu, aku masih menunggu. Menunggu bertemu dengan Kim Taeyeon.
“Sudahlah, lupakan saja Kim Taeyeon. Itu, ‘kan, hanya sekedar buku. Aku sungguh muak melihatmu di sini setiap hari, sepanjang hari.”
Keluhan Jongdae membuatku menoleh padanya. Aku yang sedang duduk di depan kasir membelakanginya pun memutar tubuh.
“Yak, bagaimanapun buku ini barang milik orang lain.” Dan buatku buku ini adalah harta karunnya.
Alis Jongdae mengernyit. “Baekhyun-ah? Apa yang terjadi padamu? Tak biasanya kau sebaik dan sepeduli ini pada orang.”
Dengan cepat aku membelakanginya lagi. Gawat, Jongdae mulai curiga dengan sikap tak biasaku.
“Memangnya aku tak boleh berbuat baik?”
“Bukan begitu…” Jongdae lalu mengangkat bahu. “ah, sudahlah.” Katanya, tak peduli.
Begitulah yang terjadi selama satu minggu terakhir dan dua pekan kedepan. Aku menunggu, Jongdae mengeluh, lalu curiga. Tapi bukan keluhan Jongdae yang membuatku kadang tak betah berlama-lama di toko buku itu. Melainkan perasaanku yang berkata bahwa aku tak akan bertemu lagi dengan perempuan itu.
Buku yang kemarin kubeli ternyata cukup bagus. Padahal aku mengambilnya agak terburu-buru. Tapi kadang di kala aku membaca buku itu, wajah Kim Taeyeon terbayang di lembaran kertas, membuatku tak bisa berkonsentrasi. Kalau begini terus, lama-lama aku semakin ingin bertemu dengannya. Walau hanya melihatnya untuk sekali saja.
Sore menjelang, matahari mulai menukik di barat. Penantianku untuk hari ini cukup sampai disini. Jadi aku memutuskan untuk pulang.
Sebenarnya aku ingin sekali pulang menaiki kendaraan umum. Kakiku rasanya lelah sekali karena tiap hari pulang-pergi ke dan dari toko ini selalu berjalan kaki. Tapi, ah, lagi-lagi masalah finansialku tak mendukung. Yak, Byun Baekhyun, kau harus bisa berhemat demi bertahan hidup. Makanan dan uang sewa flat lebih penting daripada menaiki kendaraan umum.
Jadi akhirnya aku kembali berjalan kaki menuju flat-ku. Kini aku sengaja memelankan jalanku, melihat-lihat sekeliling. Ternyata banyak juga yang berubah di wilayah ini. Beberapa toko yang kutahu melakukan renovasi kecil-kecilan: warna cat diganti, dinding ditambahkan dekorasi berat, pintu masuk diganti, dan sebagainya. Hingga mataku berhenti di satu titik di seberang jalan; toko alat musik. Tapi bukan toko itu yang menjadi fokusku. Melainkan seseorang yang keluar dari toko itu.
Kim Taeyeon.
Aku terus memperhatikannya, bersiap-siap untuk menyebrang. Sayangnya kepalaku tidak fokus. Antara otak dan kakiku tidak berkomunikasi dengan baik. Tapi mataku masih menatap perempuan itu. Ia berjalan menuju halte, dan aku mengikutinya ke arah yang sama di seberang jalan.
Harusnya aku tahu: orang yang pergi ke halte pasti hendak pergi menaiki bis. Tapi aku tak kunjung berhasil menyebrang. Setiap melangkahkan kaki, klakson mobil yang merasa terganggu akan gerakan sembronoku pasti terdengar. Aku tak bisa berkonsentrasi untuk menyebrang dengan baik. Mencari zebra cross pun aku tak berhasil.
Hingga akhirnya Kim Taeyeon masuk ke dalam sebuah bis.
Kakiku kini malah bergerak tanpa diminta. Berlari dengan nekat menyebrangi jalan dan mencoba menghentikan bis itu. Untung saat aku sampai, bis itu masih diam di tempat. Aku hendak masuk, lalu sedetik kemudian sadar bahwa aku tidak membawa uang sama sekali. Jadi otakku-lah kini yang bergerak cepat, berinisiatif mengelilingi bis untuk mencari Kim Taeyeon melalui jendela.
Aku sempat melihat beberapa pasang mata yang mengarah padaku – merasa aneh dengan perilakuku. Tapi aku tak peduli. Aku sungguh-sungguh ingin bertemu dengannya.
Akhirnya aku menemukannya, ia sedang duduk di dekat jendela. Tepat saat aku hendak memanggilnya, mesin bis mulai menyala. Kepanikkanku menjalar ke atas, menyuruh otakku untuk berpikir cepat lagi. Aku memanggilnya dengan keras di detik-detik terakhir. Jendelanya terbuka, tapi ia tak mendengarku. Aku memanggilnya lagi, bis sudah mulai berjalan. Aku melihat sejenak Kim Taeyeon merespon akan panggilanku— merasa ada yang memanggilnya. Ia menoleh keluar dan aku mulai berlari agar bisa tertangkap matanya. Aku berusaha memposisikan dan menyejajarkan tubuhku dengan posisi kursinya. Aku bisa melihat kepalanya yang menyembul keluar jendela sementara aku masih memanggil namanya. Aku yang berada lebih rendah dari kepalanya selalu berteriak bahwa aku ada disini, tepat dibawahmu.
Bis melaju makin cepat. Kim Taeyeon berusaha mencariku – aku bersumpah melihat kepalanya menghadap padaku. Sayangnya aku tak memperhatikan matanya. Tapi bukankah sungguh aneh bila ia tidak melihatku yang sedang berlari?
Bagai tak mempedulikan perjuanganku, bis akhirnya pergi. Entah aku yang melambat atau bis itu yang makin cepat. Aku tak tahu. Yang pasti akhirnya aku disini terduduk, dengan nafas tak teratur. Juga pikiran yang terus merutuk diri karena tak berhasil bertemu dengannya.
Sepuluh menit lagi tugasku harus kumulai. Sementara menunggu aku duduk di samping panggung, melamun – memikirkan kejadian kemarin disaat aku hampir bertemu dengan Kim Taeyeon. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin ia tak melihatku yang sedang berlari mengejar bis padahal kepalanya tepat menghadap kepadaku. Aku merasa ini semua tak adil. Tiga minggu aku menunggu dirinya, tapi disaat kesempatan datang keberuntungan tak memihak padaku. Hukum itu tak berpihak padaku; semua di dunia ini memiliki harga sepantar.
Bosku tiba-tiba memanggilku dan memberikan tanda. Sudah waktunya aku menaiki panggung dan memamerkan suaraku. Para pemain musik menyapaku, lalu bertanya lagu apa yang ingin kunyanyikan. Aku mengucapkan sebuah judul lagu yang isinya menggambarkan perasaanku tiga minggu terakhir. Lagu tentang penantian. Juga tentang kesempatan yang datang tapi keberuntungan tak memihak.
I’ve been waiting for you. I’ve been looking for you. You, the person who took my heart yesterday. You, the person who mysterious for me. You, the person who I want to share my happiness.
Aku mulai menyanyi. Para pengunjung mulai merapatkan mulutnya, hendak mendengar sang penyanyi cafe. Lalu aku memejamkan mataku, mencoba menghayati lagu.
My longing for you. My longing to see you. My longing.
Everyday I pray to God. I pray so I could to see you.
My happines for you. My happiness are ready for you. My happiness.
Everyday I pray to God. I pray so I could to see you. Then I can share my happiness.
Mataku terbuka kembali. Intro musik berjalan tanpa lirik. Mataku mengarah lurus ke depan, ke arah pintu cafe yang bergeming.
Then I found you in that place. I run to you. I run to you, the person who took my heart. But suddenly you’re gone. When chance came to me, my luck was not on my side. One step more I can meet you. But you’re gone.
Mataku masih terpaku pada pintu saat seorang perempuan masuk ke dalam cafe. Tubuhnya tak terlihat karena terhalang oleh pengunjung cafe yang duduk di meja masing-masing. Jadi aku melihat wajahnya.
Aku begitu terkesiap saat menyadari wajah yang sangat familiar dalam mimpi-mimpiku. Wajah yang kunanti-nanti. Wajah yang sudah mengambil hatiku tiga minggu yang lampau.
Pemain musik memainkan outro, sementara kepalaku masih terarah pada perempuan itu. Ia duduk perlahan di meja kosong. Kepalaku berputar-putar cepat. Benarkah perempuan itu Kim Taeyeon? Rasanya aku ingin cepat-cepat menghampiri perempuan itu sebelum ia pergi lagi. Tapi musik pengiring masih mengalun, tanda tugasku di atas panggung belum selesai.
Barulah saat lagu benar-benar berakhir, aku turun dari panggung. Berjalan dengan kecepatan diatas rata-rata, menuju meja Kim Taeyeon.
Ia sedang berbicara dengan seorang pelayan saat aku tiba dua meter dari mejanya. Mulutnya bergerak, mengucapkan pesanannya pada pelayan itu. Tapi kepalanya tetap menghadap ke depan, seakan ia tak berani untuk menatap mata pelayan itu. Selepas pelayan itu pergi, aku melangkah mendekat. Sambil berpikir apa yang akan aku katakan lebih dulu saat bertemu dengannya.
“Permisi, Kim Taeyeon-ssi?” aku berdiri di sampingnya.
Kim Taeyeon mendongkak ke arah suara, menghadapku seperti waktu itu. Mataku menelisik setiap sudut wajahnya. Betapa aku merindukan perempuan yang tak kukenal ini.
“Nde?” balasnya sopan dengan senyum ramah.
Aku masih memperhatikan wajahnya. Sampai aku melihat matanya tak terarah padaku. Aku merasa ganjil dengan hal itu. Bukankah seharusnya matanya melihat padaku, yang sedang diajak bicara?
Aku melambai ke arah pandangan matanya. Tapi tak ada respon. Mengedip-pun ia tidak. Sementara ia masih tersenyum, menunggu jawabanku. Jantungku berdebar cepat. Aku kebingungan dengan situasi ganjil ini. Ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan mata-nya?
“Maaf? Anda masih di situ?” mulutnya berbicara lagi. Dengan kalimat pertanyaan itu, semuanya menjadi jelas. Pertanyaan mengenai matanya. Karena jelas-jelas aku berdiri tepat dihadapannya tetapi ia tidak melihatku ada disitu.
Hampir sebulan yang lalu aku pertamakali bertemu dirinya yang sempurna. Dirinya yang bagiku adalah takdirku. Kini sesuatu hilang darinya. Aku memang pernah bilang matanya berisikan kekosongan. Tapi tak pernah sekalipun aku berharap mata indahnya pergi. Melihatnya begini membuat jantungku merasa perih. Bukan kecewa karena sesuatu hilang darinya. Aku bukan berhenti merindukan dan mencintainya. Justru karena ialah orang yang kucintai kini sudah tak bisa melihat lagi, rasanya sangat sakit.
Aku berusaha bersikap tenang dan pura-pura tidak menyinggung soal matanya. Aku menceritakan padanya maksud kedatanganku setelah aku memperkenalkan diriku. Aku menceritakan perihal buku diari miliknya yang sempat tertinggal di toko buku Jongdae. Wajahnya sempat terlihat cerah mendengar buku itu baik-baik saja bersamaku. Lalu pada akhirnya kami berdua bersepakat akan bertemu lagi di cafe lain besok siang. Dengan aku membawa diari bernama Ip miliknya.
“Baiklah,” aku bergumam. Kini aku sedang duduk di hadapannya, menemani ia meminum secangkir kopinya. “aku harus pergi. Ada tugas yang harus kujalani.”
“Tugas? Tugas apa?” Kim Taeyeon bertanya padaku.
“Lihat saja nanti. Kau juga akan tahu apa tugas yang harus kulakukan. Asalkan kau jangan pergi.” Aku tersenyum padanya. Lalu ia balas tersenyum, seakan melihatku yang barusan tersenyum padanya. “Aku pergi dulu.”
Kembalilah aku pada tempatku. Walau itu tempatku, tapi rasanya berat sekali melangkahkan kaki meninggalkan Kim Taeyeon. Aku berkali-kali menoleh ke belakang, mengecek apakah dia masih ada.
Aku mulai menyanyikan laguku. Mataku menangkap Kim Taeyeon yang melamun. Lalu sedetik kemudian ia tersadar akan suaraku yang sedang menyanyi. Aku tahu itu dari senyum jahilnya yang mengatakan bahwa ia mengerti. Ia mengerti tugas apa yang harus aku lakukan.
.
.
“Apa kabar?”
Suaraku ternyata sukses membuat Kim Taeyeon tersentak kaget. Ia tersenyum begitu mendengar suaraku.
“Boleh aku duduk?” tanyaku bergurau.
Kim Taeyeon menjawab dengan anggukan. Bibirnya masih menyunggingkan senyum.
Aku duduk dan memperhatikan wajahnya. Rasanya aku belum bisa percaya akan semua ini. Bahwa Tuhan mempertemukan aku dengan perempuan ini. Walau dalam kondisi yang sama sekali tak kuharapkan darinya. Tapi setidaknya kini aku bisa bersamanya.
Aku mulai membuka tasku dan mengeluarkan buku diari miliknya. Lalu kuletakkan buku itu di atas meja. “Ini. Sudah kubawakan buku diarimu.”
Aku meletakan buku itu tepat di tengah meja. Lalu menunggu Kim Taeyeon mengambil buku itu. Tapi aku lupa dengan keadaannya sekarang. Aku melihat tangannya sibuk mencari-cari. Ia pikir aku menjulurkan benda itu padanya, bukan diletakkan di atas meja. Jadi tanpa berpikir panjang aku membantu menuntun tangannya menuju letak buku itu.
Kim Taeyeon awalnya terkejut karena sentuhanku. Tapi aku berusaha menenangkannya.
“Ini tanganku.” Kataku sambil mengarahkan tangannya kepada buku miliknya. “Dan ini bukumu.”
Kim Taeyeon kembali tersenyum. Ia cepat-cepat mengambil buku itu dan menyimpannya di tas miliknya.
“Terimakasih.” Katanya tersenyum lagi.
Aku berdeham pelan, berusaha menenangkan diri. Untung saja dia tidak bisa melihat diriku yang salah tingkah bagai anak remaja jatuh cinta ini.
Kami berdua memesan makanan. Melahapnya sambil membicarakan obrolan ringan mengenai cuaca; mengenai buku. Ia sangat menyukai buku – tepat seperti apa yang dituliskannya dalam diari. Ia berkata bahwa mimpinya adalah menjadi seorang penulis. Kukatakan padanya bahwa aku juga mencintai buku disamping musik. Kukatakan padanya mimpiku menjadi penyanyi sudah tercapai.
“Tapi apa kau puas dengan hanya bernyanyi di cafe seperti itu?” tanyanya termengu.
Aku bergeming. Aku ingin berkata padanya bahwa mimpi terbesarku kini adalah menyanyikan lagu untuknya setiap hari. Aku tak perlu menjadi penyanyi terkenal. Yang ku mau hanya aku bisa memperdengarkan laguku padanya.
“Tentu saja tidak. Aku punya mimpi yang jauh lebih besar.”
Kim Taeyeon tersenyum mendengarnya. Senyum itu lagi. Senyum yang kini menjadi motivator terbesarku. Rasanya aku tak tahan untuk bilang bahwa aku mencintai dirinya.
“Aku suka melihatmu tersenyum, Kim Taeyeon-ssi.” Spontan saja kata itu keluar dari mulutku.
Seketika aku menutup mulutku yang barusan membuat masalah. Aku yang gugup hanya bisa melongo mendengarkan perkataanku sendiri. Begitupula dengan Kim Taeyeon. Ia terlihat bingung dengan perkataan bodohku tadi.
“B-bukan itu maksudku. A-aku hanya… m-maksudku…”
“Haha, tak apa.” Kim Taeyeon berujar, berusaha menghentikan kegugupanku. “Aku juga senang mendengar perkataanmu. Terimakasih. Dan, tolong panggil aku Taeyeon saja. Rasanya tidak nyaman kalau kau memanggilku terlalu formal.”
“A-ah… Tentu saja. Kau juga bisa memanggilku B-Baekhyun.”
“Baiklah, Baekhyun-ssi.”
Kami kembali melanjutkan acara makan kami dengan perasaan lebih ringan. Rasanya langkah awal sudah berhasil kulewati. Tinggal beberapa langkah lagi aku bisa berteman dengannya.
Taeyeon selesai makan terlebih dahulu, dan langsung izin untuk pulang.
“Biarkan aku mengantarmu.” Aku mendengar nada bicaraku dipaksakan agar terdengar tegas.
Taeyeon tersenyum. “Terimakasih, tapi aku bisa pulang sendiri.”
“Tidak, aku memaksa untuk mengantarmu. Kumohon?”
Taeyeon berpikir sejenak. “Apa kau mengkhawatirkanku?”
“Apa itu akan mengganggumu?” aku bertanya balik.
Taeyeon menggeleng pelan. “Tidak, hanya saja aku tidak mau merepotkanmu.”
Aku tertawa pelan. Perasaan gugupku kini sudah bisa mulai kuatasi. Aku hanya ingin bersikap santai padanya.
“Aku sama sekali tidak merasa kerepotan. Jadi, bis mana yang menuju rumahmu?” tanyaku tanpa basa-basi. Padahal Taeyeon belum mengizinkan aku untuk mengantarkannya.
Kini Taeyeon yang tertawa mendengar pertanyaanku. “Baiklah, aku terima tawaranmu. Tapi maaf, kita tidak akan pulang menaiki bis.”
Ternyata letak rumahnya tidak jauh dari cafe tempat kita makan tadi. Selama perjalanan aku terus merentangkan tanganku di belakang punggungnya tanpa menyentuhnya. Karena yang ingin kulakukan hanyalah menuntunnya, melindunginya. Tapi aku takut untuk menyentuhnya. Aku takut ia akan gelisah berada disampingku.
“Terimakasih untuk yang kesekian kalinya.” Kata Taeyeon tersenyum. Ia berdiri dihadapanku, membelakangi pintu rumahnya saat kami baru sampai tujuan.
“Aku tak keberatan.” Jika ini menyangkut dirimu.
“Kau mau masuk?”
Aku ingin sekali mengiyakan. Aku ingin lebih lama bersamanya. Tapi kutekan keinginanku itu. Hari ini cukup sampai disini.
“Maaf, tapi kau tahu aku harus kerja.”
“Oh,” Taeyeon mengangguk. “aku mengerti.”
“Nanti aku akan berkunjung ke rumahmu. Aku janji.”
Taeyeon tersenyum lagi. “Aku tunggu.”
“Baiklah, sampai jumpa.” Aku berjalan menjauh. “Rindukan aku,” bisikku padanya.
.
.
Sejak pertemuan di cafe itu, aku merasa lebih dekat dengan Taeyeon. Sudah dua minggu ini aku selalu bermain ke rumahnya. Kami mengobrol tentang kesukaan kami yang sama – tentang buku dan lagu. Ternyata pekerjaannya juga seorang penyanyi di sebuah cafe. Tapi kecintaannya pada buku-lah yang paling sering ia bicarakan.
Kecintaannya pada buku kembali mengingatkanku akan keadaannya. Bagaimana hatinya kini yang mencintai buku tapi tak bisa membaca?
“Taeyeon-ssi.” Panggilku seraya menghampirinya yang tengah duduk di bangku halaman belakang rumahnya.
Taeyeon menoleh kearahku dan menjawab, “Baekhyun-ah. Sudah dua minggu kita berkenalan. Setiap hari kau selalu menemaniku di rumah. Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan yang formal? Lagipula bukankah kau seharusnya memanggilku noona?” Taeyeon terkikik setelah menyelesaikan kalimatnya.
Aku hanya tersenyum membalasnya. “Baiklah, Taeyeon noona.” Kataku seraya duduk di sampingnya.
Kepala Taeyeon kini beralih ke arahku. Masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Aku menatap dirinya. Entah kenapa bayangan kejadian itu kembali terbayang di benakku. Saat dimana aku pertamakali bertemu dengannya. Saat dimana hatiku dicuri olehnya. Saat dimana ia sempurna mengalihkanku.
Ia yang mempesona, ia yang sempurna. Hingga tiga minggu kemudian semua berubah. Satu keindahannya lenyap dari dirinya. Satu yang sesungguhnya membuatku jatuh hati padanya. Matanya yang dulu begitu bening kini terlihat pucat. Matanya yang cerah namun terlihat putus asa itu kini malah terlihat semakin kosong. Lalu pertanyaan itu muncul dikepalaku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Angin semilir berhembus tepat saat aku bertanya padanya, “Taeyeon noona, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Raut wajahnya termengu. “Apa maksudmu? Aku baik-baik saja.”
Aku menggeleng, walau tahu ia takkan mengetahuinya. “Matamu. Apa yang terjadi pada matamu?”
Kini air wajahnya berubah mengeras. Tapi gugup-pun ia perlihatkan. Pertanyaanku bagai panah yang menusuk hatinya.
Angin berhembus untuk yang kesekian kalinya. Aku menyibak rambutku. “Bisakah kau ceritakan padaku, apa yang terjadi?”
Aku bisa melihat dengan jelas mukanya yang enggan menjawab pertanyaanku. Aku bisa melihat bahwa ia ingin berbagi padaku, tapi ia tak ingin kenangan buruknya berputar dikepalanya bagaikan film layar lebar. Keadaan menjadi lengang. Semakin tegang saat Taeyeon menutup erat bibirnya.
Aku tahu sebenarnya dia sudah siap. Aku tahu ia sudah menganggapku bukan sebagai orang asing lagi. Terbukti beberapa hari yang lalu saat aku berkata bahwa aku telah membuka buku diarinya, ia hanya tertawa. Tapi bungkam lagi saat aku membicarakan tentang tulisan kesedihannya.
Kini angin bahkan juga ikut berhenti. Membuat keadaan malah semakin terasa mencekam. Taeyeon kini malah melamun. Mungkin sedang mengingat-ingat jawaban pertanyaanku.
“Kalau kau tidak mau…”
“Aku melihat Ibuku, Baekhyun.”

To be continued…

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s