My Longing (2/3)

POSTER FF MY LONGING

Title
My Longing (2/3)
_______
Chapter
_______
Rating
Teen
_______
Genre
Drama, Romance
_______
Author
Song Eunsuk a.k.a Fahira Salsabila
_______
Main Cast
Byun Baekhyun, Kim Taeyeon
_______
Support Cast
Kim Jongdae, Tiffany Hwang

Orang bilang cinta pandangan pertama itu mustahil.
Tapi bagiku, cinta pandangan pertama begitu nyata
saat aku bertemu denganmu.
Tuhan mungkin mempertemukanku denganmu hari ini.
Tapi kenapa Tuhan tidak memberi kemudahan?
Haruskah cinta didapatkan bersama dengan
penantian?

Author Note/[A/N] Penting dibaca supaya ga
bingung._.
FF ini menggunakan sudut pandang Byun Baekhyun.
Tapi ditengah-tengah bakal ada perubahan tanpa
pemberitahuan. Readers teliti aja ya, soalnya ga ada
pemberitahuan POV nya. Buat info aja, kemarin di
coment ff pertama author ada yang nanya ttg fb,
twitter. Kalau mau kontak author: @_salssone_
(twitter), @salssonexo (instagram) .
Terakhir, maaf kalau ada typo dan segala macam
kesalahan di dalam cerita ini alur sepenuhnya
dateng dari kepala author. Kalau ada kesamaan cerita,
mohon dimaafkan u.u
Jangan lupa commentnya ya readers😉 . Comment dari kalian
sangat berarti bagi author baik itu comment yang berisi kritik
yang bersifat membangun atau
sekedar perasaan setelah membaca ff ini.

**

[Previous Story]
Ia yang mempesona, ia yang sempurna. Hingga tiga minggu kemudian semua berubah. Satu keindahannya lenyap dari dirinya. Satu yang sesungguhnya membuatku jatuh hati padanya. Matanya yang dulu begitu bening kini terlihat pucat. Matanya yang cerah namun terlihat putus asa itu kini malah terlihat semakin kosong. Lalu pertanyaan itu muncul dikepalaku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Angin semilir berhembus tepat saat aku bertanya padanya, “Taeyeon noona, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Raut wajahnya termengu. “Apa maksudmu? Aku baik-baik saja.”
Aku menggeleng, walau tahu ia takkan mengetahuinya. “Matamu. Apa yang terjadi pada matamu?”
Kini air wajahnya berubah mengeras. Tapi gugup-pun ia perlihatkan. Pertanyaanku bagai panah yang menusuk hatinya.
Angin berhembus untuk yang kesekian kalinya. Aku menyibak rambutku. “Bisakah kau ceritakan padaku, apa yang terjadi?”
Aku bisa melihat dengan jelas mukanya yang enggan menjawab pertanyaanku. Aku bisa melihat bahwa ia ingin berbagi padaku, tapi ia tak ingin kenangan buruknya berputar dikepalanya bagaikan film layar lebar. Keadaan menjadi lengang. Semakin tegang saat Taeyeon menutup erat bibirnya.
Aku tahu sebenarnya dia sudah siap. Aku tahu ia sudah menganggapku bukan sebagai orang asing lagi. Terbukti beberapa hari yang lalu saat aku berkata bahwa aku telah membuka buku diarinya, ia hanya tertawa. Tapi bungkam lagi saat aku membicarakan tentang tulisan kesedihannya.
Kini angin bahkan juga ikut berhenti. Membuat keadaan malah semakin terasa mencekam. Taeyeon kini malah melamun. Mungkin sedang mengingat-ingat jawaban pertanyaanku.
“Kalau kau tidak mau…”
“Aku melihat Ibuku, Baekhyun.”
—————————
Kini akulah yang tercengang. Bukankah dalam diarinya ia bilang Ibunya telah pergi? “B-bukankah…”
“Ibuku sudah meninggal. Ya, dua bulan yang lalu aku yang sedang berada dirumahku diberitakan oleh sanak saudara kalau Ibuku telah meninggal. Jelas sekali aku melihat wajahnya terbaring saat pemakaman. Aku pun menuliskannya di dalam diariku. Kau sudah membacanya, bukan.” Taeyeon tersenyum getir. Lalu angin semilir kembali berhembus seakan menyambut pernyataannya padaku.
“Lalu tiga minggu yang lalu aku… aku yang baru saja keluar dari cafe melihat Ibuku diseberang jalan. Tanpa aku katakanpun aku tahu kau bisa menebak apa yang kulakukan selanjutnya. Ibuku, Baekhyun. Satu-satunya orang yang aku miliki setelah Ayahku meninggal. Dua bulan yang lalu aku melihatnya dikubur, tapi tiga minggu yang lalu aku bisa melihatnya. Aku sendiri bahkan tak percaya pada mataku.”
“Aku menyebrang tanpa peduli yang lain. Betapa bodohnya aku. Lalu kecelakaan itupun terjadi….”
Untuk yang kedua kalinya angin semilir berutan berhembus kini tiba-tiba berhenti. Fakta tentang penyebab matanya buta kini sudah kutahu. Dan aku merasa sangat terpukul, seakan aku juga pernah mengalaminya.
“Dan kau kehilangan penglihatanmu.”
“Dan aku buta.” Koreksinya. Ia tertawa getir, berusaha melucu tapi kedengaran begitu pahit.
Awan putih diatas sana digantikan oleh awan kelabu. Walau tahu ia akan menangis, aku dan Taeyeon masih tetap dibawahnya, menunggu ia benar-benar menangis.
Dan ia menangis bersamaan dengan cintaku.
Aku menyuruhnya untuk masuk kedalam rumah bersamaku, tapi ia menolak. Aku tahu ia menangis. Mungkin ia ingin menangis dibawah hujan agar tak terlihat.
“Kumohon, nanti kau bisa sakit.”
“Aku sudah sakit, Baekhyun.”
Aku ragu apakah ia menangis karena matanya atau ibunya atau keduanya. Tapi yang aku tahu, kini aku memeluknya begitu erat.

.

Apa yang kukhawatirkan kemarin ternyata terbukti. Bahkan lebih buruk. Taeyeon sakit demam dan flu, begitupula denganku. Untungnya aku masih lebih baik darinya yang suhu tubuhnya begitu tinggi.
Akhirnya kemarin setelah Taeyeon sedikit tenang, aku membawanya masuk kedalam rumah dan menyuruhnya berganti baju. Ia keluar dari kamarnya dan memberikanku handuk, tapi tubuhnya begitu lemas. Wajahnya yang putih terlihat pucat. Aku tahu dia akan sakit.
Kini dia terbaring di ranjangnya dengan handuk basah di keningnya. Aku duduk disampingnya, melihatnya menggigil namun berkeringat. Aku yakin penyebab ia begini bukan hanya karena hujan. Tapi pikirannya. Dalam hati aku merasa bersalah telah mengungkit hal yang begitu menyakiti hatinya.
Ia masih tertidur saat jam menunjukkan pukul sebelas. Aku akhirnya memutuskan mengelilingi kamarnya. Aku melihat di meja riasnya ada beberapa sticky note berwarna-warni yang ia tempel. Beberapa mengenai jadwalnya. Lalu ada salah satu sticky note yang menarik perhatianku: Besok harus mulai menulis. Catatan singkat cerita ada di notebook. Jangan lupa!
Aku yakin catatan sticky note itu pasti dibuat sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan dia sudah merencanakan sesuatu untuk menulis. Aku penasaran apa tulisannya itu sudah selesai atau belum.
Tiba-tiba aku mendengar Taeyeon melenguh. Aku berjalan cepat menghampiri tepi kasurnya. “Noona?” panggilku. Lalu sedetik kemudian aku menyadari ada sesuatu yang menganjal diantara rongga hidung dan mulutku yang membuat suaraku terdengar serak.
“Baekhyun-ah? Kaukah itu?”
“Ya, ya, ini aku.”
“Tapi suaramu…”
“Aku juga demam, sepertimu.” Aku menyengir.
Seakan bisa melihat cengiranku, Taeyeon tersenyum sedih. “Maafkan aku. Gara-gara aku, kau juga ikut demam.”
“Tidak apa. Demammu jauh lebih mengkhawatirkan daripada punyaku.”
Taeyeon tersenyum senang. “Kau tidak pulang? Lebih baik kau istirahat dirumah.”
“Menurutku lebih baik aku di sini. Aku ingin bersamamu. Aku ingin menemanimu.”
“Aku hanya tidak ingin kau…”
“Jangan. Jangan katakan itu lagi.”
Taeyeon terdiam. “Baiklah.” Ia lalu bangkit duduk. Aku membantunya. “Apa kau sudah sarapan?”
“Apa? Aku… belum-“
“Kalau begitu tolong bantu aku berdiri.” Ujarnya tegas seakan memerintahku.
Aku tidak bisa menolaknya. Maka aku bantu dia berdiri. Aku merangkulnya, dan ia sempat terjatuh seakan lututnya terasa lemas.
“Kau belum pulih. Katakan, kau mau apa? Biar aku yang melakukannya.”
Taeyeon menggeleng. “Kau tidak tahu letak peralatan masakku, bukan?”
“Tapi aku bisa mencarinya.”
“Tolong jangan…”
“Kau tidur lagi saja biar aku…”
“Oke. Baiklah.” Taeyeon berujar dengan tegas. “Kau yang memasak, tapi aku harus ikut. Siapa tahu kau butuh aku. Bagaimana? Setuju?”
Aku bisa melihat wajahnya yang terlihat tak mau dibantah. Jadi tanpa jawaban aku membimbingnya keluar kamar. Awalnya ia menolak, tapi aku memaksa.
Aku membawa Taeyeon duduk di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Aku tanya padanya apa yang biasanya ia makan untuk sarapan. Ia bilang yang ia punya tinggal roti dan selai stroberi. Aku berkata itu lebih dari cukup.
Memang benar apa yang dikatakan Taeyeon. Aku membutuhkan bantuannya. Ia memberitahu padaku tempat pemanggang roti, letak roti dan selainya, pisau, piring, dan lainnya. Kami sarapan bersama dalam diam. Aku tak tahu, mungkin kami berdua terlalu lelah.
Setelah sarapan, aku mencuci semua peralatannya. Pada awalnya, seperti biasa, Taeyeon meminta agar ia saja yang melakukannya. Tapi aku memaksa untuk yang kedua kalinya. Lalu setelah pekerjaanku beres, aku menemaninya kembali ke kamar tidurnya.
“Apa yang biasanya kau lakukan di siang hari?”
“Aku membaca buku.”
Entak kenapa aku mendengarnya seperti “aku rindu membaca buku” alih-alih pernyataan yang sebenarnya.
“Berbicara tentang buku… aku membaca sticky note-mu yang mengingatkan kau harus menulis. Aku penasaran, apa tulisanmu sudah selesai?”
Taeyeon terdiam. “Catatan itu aku buat sehari sebelum kecelakaan itu terjadi. Dengan kata lain, tulisanku sama sekali belum dibuat.”
Matanya yang kosong itu kembali putus asa. Tapi bentuknya berbeda. Aku bertanya-tanya berapa banyak keputus-asaan dalam matanya?
“Notebook yang mana yang kau tuliskan cerita singkatmu?”
“Sesungguhnya, notebook itu adalah Ip.”
Aku lekas berdiri dan kembali mengelilingi kamarnya, mencari buku diarinya yang bernama Ip. Lalu kembali setelah menemukan buku itu.
“Dimana kau menuliskannya? Seingatku tulisanmu semuanya sangat singkat.”
Taeyeon tertawa. “Jadi kau benar-benar membacanya?”
“Sampai akhir.”
“Sampai akhir?”
“Ya.” Jawabku jujur.
Taeyeon tertawa lagi. “Baiklah, Byun Baekhyun. Karena aku rasa kau sudah sangat familiar dengan bukuku itu, maka aku akan memberitahu tempat dimana aku menuliskan alur cerita singkat yang sempat aku lupakan sampai kau mengingatkannya lagi padaku.”
“Kau masih ingat dengan tulisan panjang mengenai Ibuku?”
“Tentu saja.”
“Disana ada foto yang ditempel, bukan?”
“Ya…”
“Ambil foto itu dan lihat di baliknya.”
Aku segera membuka lembar demi lembar mencari halaman itu. Saat menemukannya, dengan perlahan aku melepaskan foto itu dari halaman dan membalikkannya.
“Tentang seorang anak yang ditinggal ibunya, kemudian buta. Benar?”
Aku kaget saat mendengar perkataan Taeyeon persis dengan apa yang ada di belakang foto itu.
“Bagaimana bisa…?” bagaimana bisa kalimat itu sama persis dengan apa yang terjadi pada Taeyeon padahal itu dibuat sebelum kecelakaan terjadi?
“Aku juga tidak mengerti.” Taeyeon tersenyum getir lagi. “Aku menulis itu beberapa hari sebelum kecelakaan terjadi. Rasanya aku seperti menuliskan takdirku sendiri.”
Apa yang dituliskannya di belakang foto itu kini menjadi nyata. Seorang anak yang ditinggal ibunya, kemudian buta.
Sejak hari itu, aku bertekad akan menulis untuknya. Aku bilang padanya bahwa aku akan menuliskan mimpinya. Ia bahagia sekali saat aku berkata dengan serius. Ia tidak lagi menolak bantuanku.
.
.
“Aku selalu penasaran. Kenapa daun?”
“Apa?”
“Yang menjadi nama buku diarimu. Pasti ada alasan lain disamping karena sampulnya dilapisi daun, bukan?”
Taeyeon menyeruput kopinya lagi. “Aku menyukai daun. Itulah mengapa aku membuat sampul buku diariku seperti itu. Juga mengapa aku menamakannya Ip (daun).”
“Kenapa?”
“Dulu aku punya pemikiran… daun itu bagaikan kertas, dan aku bagaikan pohon. Aku menulis diatasnya, dan menggantungkan semuanya di tubuhku sampai kemudian aku mati, daunku-pun mati. Mereka mengering, lalu kemudian angin menerpanya, membawa mereka pergi. Kau tahu bagaimana orang memperlakukan daun kering yang ada di tanah? Beberapa mungkin menyapunya lalu membuangnya. Tapi aku yakin, bagi orang-orang yang tepat, daun itu bisa berguna untuknya. Begitupula dengan tulisanku. Aku yakin setelah aku mati nanti, tulisanku bisa tetap berguna untuk orang lain.”
Betapa aku melihat wajahnya yang begitu cerah saat membicarakan soal mimpinya. Tapi saat ia mengakhirinya, ia kembali tersenyum getir.
“Tapi nyatanya tak ada satupun tulisan yang sudah kubuat.”
“Tidak. Tepatnya, tak ada satupun tulisan yang sudah selesai kau buat. Kau lupa kau sedang menulis bersamaku?”
Aku melihat senyum getirnya hilang diganti bahagia. Ia tersenyum bahagia. Tentu saja aku lebih bahagia karena aku membuatnya tersenyum lagi.
Aku dan Taeyeon masih betah berada di sini, di meja cafe yang letaknya dipinggir jalan. Beberapa kali Taeyeon memintaku untuk menggambarkan kejadian lucu disekitar kami, lalu ia tertawa puas.
Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, sampai tiba-tiba aku menemukan wajah yang rasanya familiar. Seorang wanita tua dengan sweater berwana putih cerah dan scarf di lehernya sedang berjalan menuju belokan di ujung. Aku berusaha mengingat-ingat dimana aku pernah melihat wajah itu. Aku mencari-cari potongan kejadian dimana mungkin aku bertemu dengan seorang wanita tua.
Lalu aku ingat foto didalam buku diari Taeyeon.
Reflek aku berdiri karena terkejut. Wanita itu… mungkinkah ia yang dilihat Taeyeon tempo hari? Aku berkata pada Taeyeon bahwa aku akan pergi sebentar. Aku bilang aku ingin ke kamar kecil. Padahal aku berlari mengejar wanita itu.
“Ahjuma! Tunggu!” Aku menepuk bahu wanita itu.
Wanita itu menoleh, dan benar saja. Wajah itu memang yang ada di foto milik Taeyeon.
“Ya?”
“Maaf sebelumnya jika aku lancang. Aku hanya merasa pernah melihat Anda. Apakah Anda..” aku terdiam sejenak mengingat-ngingat nama yang pernah Taeyeon bilang padaku. “Apa Anda Nam Yoohyun?”
Wanita itu seketika wajahnya menegang bingung. Aku yang melihatnya merasa khawatir. “Maaf, tapi…”
“Kau mengenalnya?”
“Maaf?”
“Apa kau mengenal Nam Yoohyun?”
Aku termengu. “Dia adalah Ibu dari temanku… jadi Anda bukan Nam Yoohyun.” Aku menunduk kecewa.
“Bukan.” Wanita itu menggeleng pelan. “Aku Nam Yoochae, adik kembar Nam Yoohyun.”
.
.
“Tidak mungkin! Bagaimana bisa aku tidak mengenal Bibiku sendiri?”
Aku bersama ahjuma tadi kembali ke tempat dudukku bersama Taeyeon. Aku bilang padanya bahwa aku bertemu seseorang, dan ahjuma tadi memperkenalkan dirinya pada Taeyeon.
“Noona, tapi bukankah ini semua jelas? Tentang orang yang kau lihat diseberang jalan – yang kau kira adalah Ibumu. Tenyata ahjuma ini lah yang kau lihat.”
“Tapi eomma tidak pernah bilang apa-apa soal…”
“Ibuku yang memintanya.” Ahjuma itu angkat bicara.
“Apa? Apa maksudmu?” tanya Taeyeon. Ia terlihat begitu emosi, namun penasaran.
“Sebelumnya, apa kau benar-benar anak Nam Yoohyun?” tanya ahjuma itu pada Taeyeon.
“Apa? Tentu saja!” Taeyeon membalasnya dengan emosi.
“Kalau begitu… aku harus menceritakan ini padamu.”
“Apa? Menceritakan apa?”
Ahjuma itu terdiam sejenak, menelan ludahnya bersiap untuk bercerita. “Dulu saat aku dan Ibumu masih berumur lima tahun, kami hidup bersama kedua orangtua kami – nenek dan kakekmu. Tapi lalu saat kami menginjak umur enam tahun, kedua orangtua kami bertengkar hebat. Singkatnya, mereka akhirnya bercerai. Aku dan Ibumu berpisah. Aku dibawa pergi oleh kakekmu sementara Ibumu dibawa pergi oleh nenekmu. Aku ingat sekali saat itu, menit-menit saat kami menangis meraung-raung tak ingin berpisah. Bertahun-tahun kami berpisah dan kehilangan kontak sama sekali. Kakekmu memintaku agar tak pernah bercerita tentang saudara kembarku, begitupula dengan nenekmu kepada Ibumu. Aku benar-benar tidak tahu kemana harus mencari Ibumu. Aku bahkan tak tahu kabar mengenai meninggalnya Ibumu sampai kemudian seorang kenalanku bercerita mengenai Ibumu. Begitulah, aku bertemu dengan Ibumu setelah bertahun-tahun dengan keadaannya yang kini sudah terkubur oleh tanah.”
Ahjuma itu berkaca-kaca sebentar, kemudian meneteskan air matanya, teringat akan saudara kembarnya. Aku memberikan tisu padanya dan ia menerimanya sambil tersenyum berterimakasih. Mataku beralih pada Taeyeon yang wajahnya kini sulit dijelaskan. Antara marah, tak percaya, juga sedih.
Lalu kemudian ahjuma itu mengelus lembut tangan Taeyeon yang ada disisi meja. “Maafkan aku. Seharusnya aku mencari Ibumu dari dulu. Aku baru tahu kalau ternyata ia hidup tak bekecukupan, sementara aku terlalu berlebihan. Seandainya aku bertemu lebih cepat dengan Ibumu, aku akan dengan sekuat tenaga menyembuhkannya. Maafkan aku.”
Kini Taeyeon mulai meneteskan air matanya. Ia menggeleng pelan. “Tidak, bukan. Ini bukan salah Bibi.”
Aku yang melihat dua orang wanita dihadapanku menangis bersama hanya bisa terdiam dan memberi mereka tisu.
Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, kami bertiga pulang. Kami mengantarkan Yoochae ahjuma – begitu panggilku setelah secara resmi berkenalan dengannya – ke halte bis. Setelah itu, aku dan Taeyeon kembali ke rumahnya.
“Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui kebenarannya?” tanyaku begitu kami sampai.
“Lega, tentu saja. Tapi rasanya sangat sedih mengetahui eomma punya saudara kembar yang berada jauh dari dirinya. Dia pasti sangat tersiksa.”
“Soal yang itu, lupakan saja. Bagaimana kalau kita mulai menulis?”
Senyum bahagia Taeyeon lagi-lagi muncul. Aku tidak berbohong kalau aku bilang bahwa wajahnya bersinar terang begitu kami berdua menulis – bahkan sebelum kami memulainya.
Sejak hari itu, dimana aku bertekad akan menulis untuknya, aku selalu tidur disini. Dari pagi kami menulis bersama, lalu pergi bekerja bersama, lalu pulang dan menulis lagi sampai larut malam. Taeyeon yang membuat tiap kata, dan aku mengetiknya. Aku sangat senang menyadari kenyataan bahwa kini aku terus berada disampingnya lebih dari yang kupercaya. Walau aku belum secara resmi tinggal di rumah ini.
.
.
Hari ini tepat satu minggu aku berada di rumah ini. Aku kembali menulis untuknya, lalu malam menjemput, kami pergi bekerja bersama. Aku mengantarkannya ke cafe tempatnya bekerja sebelum aku sendiri memulai pekerjaanku. Lalu menjemputnya kembali sekitar pukul delapan malam dan pulang bersama ke rumahnya.
“Bagaimana dengan flat-mu?” Taeyeon bertanya sambil berjalan menghampiri aku yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Eo? Baik-baik saja.” Jawabku singkat.
Taeyeon lalu ikut duduk di sebelahku. “Maksudku, kau sudah seminggu menginap di sini. Flat-mu tak pernah kau pakai dan tak pernah kau urus. Tapi kau tetap membayarnya, bukan?”
Aku mengernyit tak mengerti. “Jadi, maksudmu, sebaiknya aku pulang. Begitu?”
Taeyeon mendengus dan menggeleng. “Bukan itu maksudku…”
“Lalu?”
Taeyeon menggaruk lehernya. Wajahnya terlihat ragu untuk melanjutkan kata-kata, untuk menjawab tanyaku. “Kenapa kau tidak tinggal disini sampai bukuku selesai? Setidaknya kau tidak harus membayar flat yang sama sekali tak kau pakai.”
Aku tertawa pelan. Rasanya tubuhku melayang jauh ke atas sana. Ini adalah salah satu keinginanku, tinggal bersamanya. “Kau mengizinkanku?”
“Bukankah aku yang menawarimu?”
Aku tertawa lagi. Bodoh.
“Baiklah, kalau begitu, noona. Besok izinkan aku pergi ke flat-ku untuk membereskan semuanya.”
Taeyeon mengangguk semangat. “Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Aku ikut denganmu.”
“Untuk apa kau ikut?” aku bertanya dengan nada sinis.
Taeyeon mencibir kesal. “Tidak sopan.”
Aku terkekeh. “Maaf, noona. Ada perlu apa kau ikut denganku?”
Ia tersenyum mendengar permintaan maafku. “Alasannya sama seperti yang pernah kau katakan padaku. Aku ingin bersamamu. Aku ingin menemanimu.”
.
.
Pagi menjelang, aku bangun dengan semangat. Entah kenapa aku merasa begitu hidup. Mungkin setelah kemarin Taeyeon menawariku untuk tinggal bersamanya. Atau mungkin karena hari ini aku akan pergi dengannya tanpa aku ajak. Atau mungkin juga keduanya.
Taeyeon mengizinkanku untuk menggenggam tangannya. Karena hari ini ia akan pergi ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Aku tak ingin ia terpisah dariku.
Aku dan Taeyeon sampai di lantai pertama gedung sederhana tempat aku tinggal. Aku menyapa beberapa orang yang juga tinggal disitu, lalu kembali berjalan bersama Taeyeon. Di koridor dan tangga, kami tak ada hentinya mengobrol, dengan tangannya masih dalam genggamanku.
Kami akhirnya tiba di lantai tempat flat-ku berada. Taeyeon sempat mengeluh karena kelelahan, tapi aku membuatnya tertawa lagi. Kami membelok di koridor, dan aku sangat terkejut begitu melihat ada seorang perempuan di depan pintu kamarku sedang duduk tertidur.
Aku mendekatinya, mengamati wajahnya. Aku penasaran siapa perempuan ini. Kenapa dia bisa ada di depan pintu kamarku?
“Baekhyun-ah, ada apa? Kenapa kita tidak masuk? Apakah kita belum sampai?”
“Tidak, kita sudah sampai. Tapi ada seorang perempuan tertidur didepan pintu kamarku. Tunggu sebentar.” Aku melepaskan genggaman Taeyeon dan berjongkok dihadapan perempuan yang tertidur itu.
Perempuan itu ternyata sangat cantik. Berbeda dengan Taeyeon yang imut, wajah ini cantiknya sempurna. Sejenak aku merasa kenal dengan perempuan dihadapanku ini. Ia memakai baju serba merah muda: sweater, scarf, juga roknya.
Aku menyentuh pundaknya dan mengguncangnya pelan. “Chogiyo…”
Dengan cepat perempuan itu terbangun. Ia awalnya linglung, lalu kemudian melihat wajahku. “Byun Baekki!”
Dengan cepat ia meraih leherku, memelukku, membuat kami berdua terjatuh. Dia berada tepat diatasku. Aku kembali memperhatikan wajahnya. Cara berpakaiannya, caranya memanggil namaku… juga wajahnya yang rasanya sangat aku kenal walau berbeda. Mungkinkah dia…
“Tiffany?”
“Kyaa ternyata kau masih mengenaliku!” ujarnya riang. Sepertinya ia sama sekali tidak menyadari posisi kami.
“Oke,” aku berdeham. “tapi kau harus bangun sekarang juga.”
“Oh, maaf.”
Tiffany Hwang, teman masa remajaku yang sebenarnya adalah sunbae sekaligus noona ku. Tapi tak pernah ia sudi untuk aku panggil dengan dua sebutan. Mungkin karena aku dan dia terlalu dekat, sampai kedua orangtuanya selalu mengira bahwa aku adalah pacarnya. Aku dan Tiffany selalu bersama sampai kami lulus kuliah—kedua orangtuanya menyekolahkannya di Amerika, tempat dia lahir, juga tempat yang ia inginkan untuk kuliah. Awalnya ia menolak. Ia bahkan menangis minta semuanya dibatalkan. Aku berada di sampingnya saat ia berkata pada kedua orangtuanya bahwa ia tak mau berpisah denganku.
“Suatu hari aku akan bertemu lagi denganmu. Jangan sampai kau sia-siakan kesempatan ini. Bukankah kau sendiri yang bilang ingin kuliah di Amerika? Aku akan merasa bersalah seumur hidupku kalau kau membatalkan mimpimu hanya karena aku.”
Aku menatapnya yakin dan penuh janji. Ia membalas tatapanku dengan penuh harap. Ia memelukku sangat erat dan berbisik, “Kau harus menungguku, Byun Baekki.”
Aku mengangguk mantap. “Tentu.”
Lalu keesokan harinya ia pergi menuju negara asalnya. Dan aku menunggunya, setiap hari. Sampai saat ini.
“Baekhyun-ah?”
Aku menoleh ke arah yang memanggil. Astaga! Aku sampai lupa dengan Taeyeon. Ia pasti sangat kebingungan.
“Omo, maafkan aku noona. Perempuan ini ternyata temanku.”
“’Ternyata’? Jadi tadinya kau lupa padaku?” tanya Tiffany merajuk.
Aku mencibir padanya. “Itu tidak penting. Tiffany, ini Taeyeon noona. Dan noona, ini temanku, Tiffany.”
“Lebih tepatnya, sahabatnya.” Tiffany mengoreksi.
“Terserah.” Jawabku asal.
“Yak! Kau tidak merindukanku? Kalau begitu lebih baik aku pulang.” Lagi-lagi perempuan ini merajuk.
“Andwae! Hah, dasar kau ini. Sudah, lebih baik kita masuk dulu.” Aku kembali menggenggam tangan Taeyeon, mengajaknya masuk ke kamar flat-ku. Tapi entah kenapa tiba-tiba ia menepisnya.
Aku kaget dengan perlakuannya. Aku menatapnya wajahnya heran. “Lebih baik aku pulang.” Ujarnya.
“Apa? Tidak. Kau pulang bersamaku. Ayo kita masuk.” Aku kembali menarik tangannya ke dalam flat-ku. Lalu Tiffany menyusul dibelakangku.
Aku mempersilahkan mereka berdua duduk sementara aku ke dapur dan menyiapkan minuman. Aku terkejut saat mereka berdua secara bersamaan menawarkan bantuan.
Aku tertawa keras mendengarnya. Tiffany tersenyum, sementara Taeyeon malah cemberut. Aku sangat bingung dengan Taeyeon. Bukankah kami berdua baik-baik saja sebelumnya? Apa yang membuat mood nya tiba-tiba menghilang?
Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja sendiri. Lalu tiba-tiba Tiffany mengejutkanku.
“Yak! Gelas ini bisa-bisa pecah gara-gara kelakuanmu. Tidak bisakah kau bersikap manis kalau dihapanku?”
Tiffany menyengir. “Buat apa bertingkah manis padamu? Dasar bocah.”
Aku menatapnya sinis. Lalu kembali membuatkan minum.
“Yak,” kini Tiffany berbisik kepadaku. “perempuan itu pacarmu, ya?”
Keterkejutanku yang ini jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Untungnya aku sedang tidak memegang apapun.
“Bicara apa kau ini.”
“Benar, tidak?”
“Belum.”
“Belum? Wah, kalau begitu kau sedang mengincarnya, ya?” tanya Tiffany semangat.
Aku panik dengan suaranya yang keras. Aku takut Taeyeon mendengarnya dan berpikir macam-macam. “Lebih baik kau kembali ke sana. Awasi dia untukku. Aku tak mau dia pergi tanpa pamit.”
“Sebegitu khawatirnya kah kau?”
“Yak, kau tidak merasa aneh? Dia itu tidak bisa melihat. Bagaimana aku tidak khawatir?”
“Oh,” Tiffany membungkam mulutnya. “aku memang merasa janggal. Kalau begitu, aku akan kembali dan menemaninya.”
Aku kembali beberapa menit kemudian dan menemukan kedua perempuan itu sedang mengobrol. Lebih tepatnya, Tiffany-lah yang mengoceh. Taeyeon hanya mendengarkan. Itupun dengan wajah yang muram.
Aku mempersilahkan mereka berdua untuk minum. Tiffany mengambilnya, tapi Taeyeon diam saja. Aku lupa dia tidak bisa melihat. Jadi aku mengambil minumnya dan mengambil tangan Taeyeon. Dan lagi-lagi Taeyeon menepisnya.
“Aku bisa sendiri.”
Akhirnya ia dengan gerakan ragu mengambil minum di meja. Aku melihatnya minum dengan tatapan heran dan sedih. Sungguh, ada apa dengan dirinya? Aku sangat ingat ia pernah berjanji tak akan menolak bantuanku lagi.
Saat aku duduk bersama kedua perempuan itu, Tiffany kembali mengoceh pada Taeyeon. Kebanyakan isinya menceritakan tentangku, bagaimana rupaku saat kami masih kecil, apa saja yang aku suka dan tidak aku suka, dan berbagai macam hal lainnya. Karena merasa tak diacuhkan, akhirnya aku pergi ke kamarku untuk membereskan barang-barang.
Butuh waktu satu jam untuk memilah-milah mana barang yang perlu aku bawa ke rumah Taeyeon, mana yang bisa aku bawa sekarang, dan mana yang harus lewat pengiriman paket. Kebanyakan buku-buku yang kupunya aku putuskan untuk mengirimnya lewat paket karena tidak memungkinkan untuk dibawa sekarang.
Setelah semuanya beres, aku kembali ke ruang tamuku.
“Nah, Taeyeon noona. Semuanya sudah beres. Semua barang-barang yang aku perlukan sudah kukirim melalui paket ke rumahmu. Apakah kita mau pulang sekarang?”
“Apa? Pulang? Baekki-ya, bukankah ini rumahmu?” Tiffany berdiri dan berjalan mendekatiku.
“Ya, tapi aku akan pindah dan tinggal bersama Taeyeon noona.” Sejenak aku mengalihkan pandanganku pada Taeyeon dan tersenyum padanya.
Tiffany melongo tak percaya. “Jinjja? Uwaa daebak! Beruntung sekali kau Baek….”
Dengan cepat aku menutup mulutnya. Jangan sampai perempuan ini mengatakan hal yang tidak-tidak di depan Taeyeon.
Tiba-tiba Taeyeon berdiri. Wajahnya masih murung sama seperti sebelum kami masuk ke sini. “Kita pulang sekarang.”
Dalam perjalanan pulang, aku kembali menggenggam tangannya. Sama seperti sebelumnya, Taeyeon menepisnya. Tapi kemudian aku memaksa.
Aku mengantar Tiffany lebih dulu ke halte bis dan memberikan nomor teleponku. Aku tidak mau kehilangan kontak dengannya. Dia merindukanku, begitupula denganku.
Gurat amarah masih terlihat di wajah Taeyeon bahkan ketika kami sampai di rumahnya. Ia dengan cepat melangkah masuk ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras sampai aku terlonjak kaget. Ini baru kali pertama ia marah padaku dan aku tidak tahu harus bagaimana. Di hari aku pindah ke rumahnya, inikah perlakuan yang kuterima?

To be continued…

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s