My Longing (3/3) END

POSTER FF MY LONGING

Title
My Longing (3/3) END
_______
Chapter
_______
Rating
Teen
_______
Genre
Drama, Romance
_______
Author
Song Eunsuk a.k.a Fahira Salsabila
_______
Main Cast
Byun Baekhyun, Kim Taeyeon
_______
Support Cast
Kim Jongdae, Tiffany Hwang

Orang bilang cinta pandangan pertama itu mustahil.
Tapi bagiku, cinta pandangan pertama begitu nyata
saat aku bertemu denganmu.
Tuhan mungkin mempertemukanku denganmu hari ini.
Tapi kenapa Tuhan tidak memberi kemudahan?
Haruskah cinta didapatkan bersama dengan
penantian?

Author Note/[A/N] Penting dibaca supaya ga
bingung._.
FF ini menggunakan sudut pandang Byun Baekhyun.
Tapi ditengah-tengah bakal ada perubahan tanpa
pemberitahuan. Readers teliti aja ya, soalnya ga ada
pemberitahuan POV nya. Buat info aja, kemarin di
coment ff pertama author ada yang nanya ttg fb,
twitter. Kalau mau kontak author: @_salssone_
(twitter), @salssonexo (instagram) .
Terakhir, maaf kalau ada typo dan segala macam
kesalahan di dalam cerita ini alur sepenuhnya
dateng dari kepala author. Kalau ada kesamaan cerita,
mohon dimaafkan u.u
Jangan lupa commentnya ya readers😉 . Comment dari kalian
sangat berarti bagi author baik itu comment yang berisi kritik
yang bersifat membangun atau
sekedar perasaan setelah membaca ff ini.

**

[Previous Story]
Dalam perjalanan pulang, aku kembali menggenggam tangannya. Sama seperti sebelumnya, Taeyeon menepisnya. Tapi kemudian aku memaksa.
Aku mengantar Tiffany lebih dulu ke halte bis dan memberikan nomor teleponku. Aku tidak mau kehilangan kontak dengannya. Dia merindukanku, begitupula denganku.
Gurat amarah masih terlihat di wajah Taeyeon bahkan ketika kami sampai di rumahnya. Ia dengan cepat melangkah masuk ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras sampai aku terlonjak kaget. Ini baru kali pertama ia marah padaku dan aku tidak tahu harus bagaimana. Di hari aku pindah ke rumahnya, inikah perlakuan yang kuterima?
.
.
.
Sudah lima hari ini Taeyeon tak seceria dulu terhadapku. Seminggu ini pula kami tidak menulis bersama. Kebanyakan dia menghabiskan waktu di halaman belakang rumahnya, tak mau diganggu. Entah apa yang ia lakukan disana. Yang jelas tak pernah sekalipun aku diajaknya bicara.
Bekerja pun, kami berangkat masing-masing. Tak ada mengantar-menjemput. Beberapa waktu ia keluar lebih dulu tanpa pamit. Untungnya kini kami punya kunci rumah ini masing-masing. Oh, aku masih ingat menit-menit sebelum ia merajuk padaku. Di saat ia memberi kunci duplikat rumahnya padaku.
“Jjan, ini kunci duplikat rumahku.” Taeyeon memberikan sebuah kunci padaku. Kami tengah berjalan berjalan menuju lantai tempat flat-ku berada.
“Wah, terimakasih.” Aku berkata padanya.
Tangannya masih dalam genggamanku, kadang saat menaiki tangga, ia menggenggam tanganku sangat erat. Tapi bahkan bukan sakit yang kurasakan.
“Jja… kita sampai di lantai tempat flat-ku berada. Kita tak perlu menaiki tangga lagi.”
Taeyeon tertawa. “Syukurlah.” Ia lalu merangkul tanganku. Aku sangat terkejut dengan perlakuannya. Sepertinya skinship kami sudah berkembang jauh.
Tapi saat kami tiba di flat lamaku, perlakuan manisnya berubah seratus delapan puluh derajat. Tanpa ada angin, badai, atau gempa sekalipun. Meninggalkan tanda tanya besar di kepalaku.
Aku pulang kerja dengan sempoyongan. Bukan karena lelah, melainkan karena Taeyeon. Lebih menyakitkan tinggal bersamanya tapi tak pernah dihiraukan dibanding tak tinggal bersamanya tapi bisa menghabiskan waktu berdua.
Saat aku masuk, seperti biasa, keadaan rumah gelap. Tapi ada yang berbeda kali ini. Biasanya satu-satunya cahaya yang ada adalah berasal dari kamar Taeyeon. Tapi sekarang malah berasal dari halaman belakang.
Pikiran dan hatiku berdebat: antara membiarkan dan menghampiri. Pikiranku berkata aku tidak perlu menghampirinya. Tapi hatiku berkata aku tidak boleh membiarkannya. Katanya ketidakbiasaan ini mungkin suatu pertanda. Pertanda bahwa ia mengharapkan akulah yang menghampirinya terlebih dulu.
Jadi dengan perlahan, aku melangkah menghampirinya. Seperti biasa ia duduk di bangku halaman menghadap ke arah belakang rumah. Aku duduk juga dengan perlahan. Tapi aku yakin ia merasakan kehadiranku. Terbukti saat aku duduk, ia menggeser menjauh.
“Taeyeon noona.”
“Baekhyun-ah.”
Oh? Ini kata pertama yang ia keluarkan setelah kepindahanku.
Aku melihat dirinya yang juga terkejut karena ia memanggilku bersamaan dengan aku memanggil dirinya.
“Kau mau bicara apa?” tanyanya padaku.
“Tidak. Kau saja duluan.”
Ia terdiam mendengar perkataanku. Wajahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu yang penting tapi ia juga ragu.
“Aku hanya ingin minta maaf.”
Angin malam berhembus kencang tepat saat ia tersenyum padaku. Rambutnya tertiup sehingga menutupi wajahnya. Ia tertawa keras karena malu saat aku merapikan rambutnya.
Aku ingin memeluknya erat. Permintaan maafnya tanda perdamaian kami bagaikan pernyataan cinta sepuluh ribu wanita cantik yang mempesona. Aku ingin berterimakasih padanya.
Kami berdua menghabiskan malam sambil bersenandung pelan. Aku ingin sekali bertanya apa penyebab ia merajuk padaku tempo hari yang lalu. Tapi kalau itu malah akan membuat kami bermusuhan lagi, sampai aku matipun aku tak akan pernah memaafkan diriku.
.
.
.
Akhirnya kami mulai menulis lagi
“Gadis itu berjalan sambil menangis. Air matanya jatuh mewakili ungkapannya pada Tuhan. Lalu dalam hati ia berkata ‘Tuhan, apakah Kau ada?’”
Itu kalimat terakhir untuk tulisannya hari ini. Aku jadi berpikir apakah itu yang juga terjadi pada Taeyeon saat Ibunya meninggal? Apakah tulisan-tulisan yang aku ketik selama ini benar terjadi pada dirinya, atau fiksi belaka yang ia buat? Kalau benar terjadi pada dirinya, andai aku bertemu lebih dulu dengannya, aku akan selalu ada di sampingnya. Tak akan pernah meninggalkan perempuan rapuh ini.
Hari ini Taeyeon berkata akan memasak Samgyetang untuk makan siang. Samgyetang adalah sup ayam dengan gingseng. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin memasak makanan yang berbeda dari biasanya. Biasanya kami hanya makan makanan standar: bibimbap, bokeumbap, ramyun instan, jajjangmyun instan, dan berbagai makanan umum lainnya.
Aku membantunya memasak. Aku kagum sekali melihat ia memasak padahal tak bisa melihat apapun. Sayangnya aku tidak diperbolehkan mencicipi saat masakannya jadi. Ia bilang aku harus mencicipinya saat makanan terhidang di meja makan.
“Sebelum makan, aku punya satu pertanyaan.”
Taeyeon yang sedang memegang sendok siap untuk melahap masakannya, menoleh pada asal suara. “Hm? Apa itu?”
“Kenapa kau masak samgyetang? Biasanya kita makan makanan yang sangat umum, bukan? Maksudku, samgyetang lebih spesial dari makanan-makanan di hari sebelumnya.”
Entah aku yang salah lihat, atau memang benar adanya, raut wajah Taeyeon tiba-tiba menegang. Mungkin karena mendengar pertanyaanku. Atau mungkin juga tidak suka dengan jawaban pertanyaanku. “Tiffany bilang, ini makanan kesukaanmu.” Jawabnya dengan nada sedih.
Aku mengernyit heran. “Lalu kenapa kau jadi sedih begitu?”
Taeyeon terdiam sejenak. Tapi kemudian perlahan-lahan bibirnya membentuk senyum. “Tidak. Ayo, kita makan.”
Aku sebenarnya tidak puas dengan jawaban Taeyeon. Mungkinkah hal ini berkaitan dengan kejadian selama sepekan kemarin? Tidak biasanya Taeyeon membuatku penasaran seperti ini. Biasanya ia selalu mau menceritakan apapun yang terjadi padanya.
Tapi kalau mengingat kejadian kemarin, aku sadar kalau hal itu malah membuat kami menjadi lebih dekat. Permusuhan kami bisa dikatakan fase tahap dua yang sudah kami lewati. Ia lebih bersikap terbuka padaku. Aku juga bisa merasakan bahwa ia kini sudah lebih nyaman bersamaku.
Inikah saatnya? Menyatakan perasaanku yang sebenarnya pada perempuan dihadapanku ini. Tapi bagaimana kalau ia menolaknya? Tapi bukankah dengan aku menjadi kekasihnya, kami bisa lebih saling mengenal?
Aku menatap Taeyeon yang sedang sibuk makan. Perempuan ini, yang sejak pertamakali aku lihat sudah mengambil hatiku. Perempuan ini, yang kisahnya membuatku terharu. Perempuan ini, yang selalu ada di setiap mimpiku. Dan perempuan ini, adalah mimpi terbesarku.
Sudah aku putuskan. Malam ini juga, aku akan mengatakan semua padanya.
Maka menit-menit sebelum kami berangkat kerja, kukatakan padanya, “Taeyeon noona. Maaf hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Ada urusan lain yang harus kutangani. Kau bisa jaga dirimu?”
“Tentu saja. Tapi jangan pulang terlalu larut.” Ia tersenyum padaku.
Kami berangkat bersama tiga puluh menit sebelum jadwal kerja kami. Seperti biasa aku mengantarkannya terlebih dahulu, setelah itu pergi menuju tempat kerjaku.
Entah kenapa saat hendak menaiki panggung, jantungku berdegup cepat. Tidak biasanya aku seperti ini. Terakhir kali aku gugup saat menyanyi di depan umum adalah saat pertamakali aku bekerja di sini.
Hasilnya nyanyianku kurang memuaskan.
“Byun Baekhyun. Ada apa denganmu?” Bosku menghampiri aku yang sedang duduk istirahat.
“Nde? Aku baik-baik saja.” Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Mungkinkah aku terlalu gugup dengan rencanaku nanti malam?
Bosku menggeleng tidak setuju. “Performa-mu berbeda dari biasanya. Kau sakit?”
Mendengarnya, aku pura-pura tertawa. “Bos perhatian sekali. Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.”
Biasanya aku akan menyanyi dua sampai empat kali. Tapi Bosku bilang, kalau pertunjukanku yang kedua tidak lebih bagus dari yang sebelumnya, maka lebih baik aku pulang.
Sejujurnya aku juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Mungkin juga aku memang sakit tapi tidak merasakan apa-apa.
Satu-satunya cara adalah membayangkankan hari dimana aku melihat Taeyeon duduk di meja sana. Aku masih ingat betapa aku hanya memikirkan perempuan itu. Dan juga memikirkan bahwa aku harus menampilkan yang terbaik di hadapannya.
Dan ternyata berhasil! Walaupun penampilanku tidak sempurna, tapi yang ini lebih baik dari yang sebelumnya. Akhirnya aku menyanyi lagi sampai jam kepulangan tiba.
Keluar cafe aku lekas-lekas pergi ke toko dua puluh empat jam. Itu satu-satunya toko yang masih buka pada jam malam seperti ini selain minimarket. Aku membeli berbagai peralatan dan bahan yang kubutuhkan untuk menyempurnakan rencanaku nanti.
Untungnya jalanan sepi. Aku tidak mau dianggap orang gila karena sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya tersenyum membayangkan rencanaku. Bagaimana aku mengatakannya, bagaimana wajahnya saat mendengarku bernyanyi. Ya, hari ini aku bertekad akan melaksanakan impian terbesarku disamping menyatakan cintaku: menyanyi untuknya.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perlahan. Sepertinya Taeyeon sedang ada di kamarnya. Aku hanya berharap ia belum tidur. Tapi aku juga berharap ia tidak menyadari kepulanganku.
Aku langsung menuju halaman belakang membawa perbelanjaanku. Aku menyiapkan meja kecil di tengah halaman. Menaruh gelas berkaki satu dan menuangkan sedikit anggur yang rendah alkohol. Lalu aku kembali ke dapur, menghangatkan sebentar spageti dingin yang kubeli di minimarket. Setelah itu kembali menyiapkan semuanya di halaman. Menyalakan lampu, dan berjalan menuju kamar Taeyeon.
Pintu terbuka tepat saat aku hendak mengetuknya.
“Oh, Taeyeon noona. Kau belum tidur?”
“Baekhyun-ah? Kau sudah pulang? Aku tidak mendengarmu masuk…”
Aku memang sengaja. “Aku sudah ada di sini sekarang. Kenapa noona belum tidur?” aku berbasa-basi. Dalam hati sebenarnya aku sangat gugup.
Taeyeon menggaruk hidungnya malu. “Aku lapar.”
“Oh! Pas sekali. Aku membeli spageti. Kau harus makan bersamaku.” Aku dengan cepat menarik tangannya menuju halaman belakang.
Aku mempersilahkannya duduk lebih dulu. Sementara aku duduk di hadapannya. Ia memasang raut wajah bingung.
“Baekhyun-ah, kita ada dimana? Ini bukan dapur, kan?”
“Memang bukan. Ini halaman rumahmu.”
“Oh? Kenapa kita ada di sini?”
“Kita akan makan spageti di sini.” Aku menyalakan lilin. Aku tahu Taeyeon tidak bisa melihatnya. Tapi setidaknya lilin ini akan menjadi saksi saat aku menyatakan perasaanku padanya nanti.
Kami makan bersama sambil mengobrol. Kebanyakan aku hanya merespon. Dan itupun hanya sebatas ‘iya’ dan bergumam saja. Kepalaku tidak sepenuhnya menangkap apa yang Taeyeon bicarakan. Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana aku berbicara padanya nanti.
“Wah, untung sekali kau membeli spageti. Kalau tidak, sepertinya terpaksa aku harus keluar dan membeli makanan instan.” Taeyeon mengelap mulutnya yang penuh dengan saus spageti.
Kami berdua telah menghabiskan spageti kami. Aku juga ikut merapikan diri dan beranjak dari kursiku, berjalan menuju Taeyeon. Aku berdiri di belakangnya dan menyentuh pelan pundaknya.
“Bersediakah kau mendengarku menyanyi?” aku berbisik di telinganya.
Taeyeon awalnya terkejut. Ia kemudian mengangguk dan tersenyum.
Aku berdiri tegak, bersiap untuk menyanyi.
I’ve been waiting for you. I’ve been looking for you. You, the person who took my heart yesterday. You, the person who mysterious for me. You, the person who I want to share my happiness.
My longing for you. My longing to see you. My longing.
Everyday I pray to God. I pray so I could to see you.
My happines for you. My happiness are ready for you. My happiness.
Everyday I pray to God. I pray so I could to see you. Then I can share my happiness.
Then I found you in that place. I run to you. I run to you, the person who took my heart. But suddenly you’re gone. When chance came to me, my luck was not on my side. One step more I can meet you. But you’re gone.
My longing for you. My longing to see you. My longing.
Everyday I pray to God. I pray so I could to see you.
My happines for you. My happiness are ready for you. My happiness.
Everyday I pray to God. I pray so I could to see you. Then I can share my happiness.
And then today I meet you. Today I found you. You, the person who took my heart. You, the person I love. You, the person who I want to share my hapiness.
And today I sing to you. Sing my confession to you.
Would you be mine?
“Taeyeon noona, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi milikku?”
“Taeyeon noona, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi milikku?”
Semua ini benar-benar tak ada dalam skenario yang aku inginkan.
Mendengar kalimat akhir setelah laguku selesai, Taeyeon seketika berdiri. Ia membalikan dirinya menghadap padaku. Aku bisa melihat jelas raut wajahnya yang bingung sekaligus tak terima. Ia menggeleng-geleng pelan, dan tiba-tiba berlari menuju dalam rumah. Sementara aku berdiri di sini, sendirian dan ditinggalkan.
Aku lalu memejamkan mata, mencegah airmata keluar dari mataku. Lalu aku ingat saat-saat ia meninggalkanku tadi—aku bisa melihat dia yang menangis sebelum sempurna menghilang dari pandanganku.
Apakah ini merupakan penolakan? Tapi mengapa ia harus berlari meninggalkanku? Berkata sepatah kata pun ia tidak lakukan. Kembali membuat tanda tanya besar di kepalaku.
Tapi apa arti menangis itu? Apakah ia terharu? Atau apakah itu bentuk emosi lain? Lalu apakah ia menerima cintaku?
Ya Tuhan. Ini benar-benar menyakitkan sekaligus membingungkan. Aku hanya terdiam mematung meratapi bayangan yang ditinggalkannya. Padahal aku bisa melihat wajahnya yang bahagia mendengar suara nyanyianku. Juga saat aku mengatakan kalimat itu.
Pagi datang, Taeyeon kembali menjadi dia yang menjauhiku. Bahkan ini lebih buruk. Ia tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Begitupula saat aku mengetuknya.
“Taeyeon noona, kau harus makan.”
“Tolong tinggalkan aku sendiri.” Itu selalu yang menjadi jawabannya setiap kali aku mengetuk pintu kamarnya.
Lambat laun tanda tanya itu berubah menjadi rongga besar di dadaku. Perlakuannya sama sekali tidak menunjukkan ia menerima cintaku, bukan? Ini jelas-jelas penolakan.
Matahari tenggelam, ia tak kunjung keluar dari kamarnya. Aku selalu duduk di depan pintu kamarnya. Sama seperti saat Tiffany duduk di depan pintu flat-ku.
Untungnya malam ini aku tak perlu pergi ke cafe. Malam ini bukan giliranku untuk menyanyi. Lagipula aku yakin aku tidak akan bisa melepaskan bayangan kejadian saat Taeyeon pergi berlari meninggalkanku saat aku menyanyi nanti.
Malam terlewati dengan aku yang tertidur menunggunya.
.
.
Aku memutuskan untuk pergi dari rumah ini.
Sudah dua hari dan Taeyeon tidak juga keluar dari kamarnya. Ini menunjukkan ia benar-benar tidak ingin berhadapan denganku. Jadi Taeyeon tak akan keluar selama aku masih ada di rumah ini.
Orang-orang sering bilang bahwa laki-laki harus berjuang terus untuk mendapatkan cintanya. Bahkan jika telah di tolak. Mereka bilang jika masih ada kesempatan, cinta jangan pernah dilepas begitu saja. Tapi aku tidak begitu yakin pada laki-laki yang satu ini. Jangankan kesempatan, harapanpun tak berpihak padaku. Laki-laki yang satu ini diibaratkan seperti gelas tembikar yang sangat panas tiba-tiba disiram oleh air yang dinginnya membekukan. Retak seketika. Hancur seketika.
Aku mengetuk pintu kamarnya setelah membereskan beberapa pakaianku. Barangku yang lainnya biarlah menjadi kenang-kenanganku untuknya.
“Taeyeon noona…”
“Tolong tinggalkan aku sendiri.”
“Tidak, tunggu. Aku tidak akan mengganggumu. Aku akan meninggalkanmu… sepenuhnya. Seperti yang selalu kau inginkan.” Aku terdiam sejenak. Menatap nanar pintu kayu yang ada di hadapanku ini.
“Aku akan pergi, Taeyeon noona. Mungkin juga tidak akan kembali. Aku minta maaf padamu atas kejadian dua hari yang lalu. Kejadian itu, bukan, yang membuatmu tak ingin berhadapan denganku lagi? Aku harap saat aku pergi nanti, kau bisa jaga dirimu baik-baik. Aku juga mengucapkan banyak terimakasih. Aku telah diperbolehkan tinggal di sisimu bahkan lebih dari yang kumau. Kau juga memperbolehkan aku menyanyi untukmu—salah satu impian terbesarku. Satu hal yang ingin kukatakan…” aku terdiam lagi.
Rasanya mataku sangat panas. Memikirkan aku akan meninggalkan impianku. Meninggalkan semuanya di belakang sementara aku melanjutkan hidup tanpa kepastian.
“Aku sangat mencintaimu, Kim Taeyeon.”
Dengan cepat aku berjalan menuju pintu rumah. Keluar dari tempat yang paling berkenang untukku. Tempat aku menghabiskan hari-hariku bersamanya. Mataku masih panas bahkan saat duduk di bis. Sore ini lengang sekali. Seakan semuanya juga merasakan apa yang kurasakan.
Aku sampai di cafe tempat aku bekerja saat malam sudah menjemput. Ini satu-satunya tempat yang bisa aku tumpangi sementara sampai aku mendapatkan flat lagi.
Untungnya Bosku baik hati mengijinkan aku bermalam di sini. Aku tidur di ruangan yang biasanya dipakai para pegawai untuk beristirahat.
Kini malam terlewati tanpa aku menunggunya.
.
.
“Satu hal yang ingin kukatakan. Aku sangat mencintaimu, Kim Taeyeon.”
Perempuan itu semakin menangis tertahan begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan laki-laki bernama Baekhyun. Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar isakannya tak terdengar oleh laki-laki itu.
Dengan cepat Taeyeon menghampiri pintu kamarnya dan membukanya. Ia memanggil-manggil orang yang ia cari, tapi semuanya sama. Tak ada jawaban. Ia juga telah mencari ke setiap sudut rumahnya. Tapi hasilnya sama. Baekhyun tak ada di sana.
Sedetik ia merasa menyesal. Ia menyesal telah menjauhi diri dari laki-laki itu. Ia menyesal telah meninggalkan Baekhyun hari itu. Tapi ia juga menyesal mengetahui dirinya yang ternyata juga mencintai Baekhyun. Tangisnya semakin pecah saat menyadari Baekhyun benar-benar pergi meninggalkannya. Sama seperti ia meninggalkan Baekhyun hari itu.
Dengan asal ia mengambil jaketnya dan lekas pergi ke luar rumah. Ia bahkan tak berpikir untuk naik bis saat mencari laki-laki itu. Yang ia pikirkan hanyalah jika ia berlari, ia bisa mengejar laki-laki itu.
Taeyeon mengingat-ingat letak tempat yang ada di kepalanya saat ini. Tempat yang memungkinkan Baekhyun ada untuk bermalam. Ia juga memikirkan bagaimana Baekhyun saat ini. Ia pasti sangat sedih. Mungkin juga laki-laki itu menangis dalam sepi.
Malam hampir terlewati dengan Taeyeon yang mengejarnya.
.
.
Aku benar-benar terkejut saat melihat Taeyeon yang terengah-engah memasuki cafe ini.
“Taeyeon noona?” aku menggenggam lengannya. Benarkah ia Taeyeon?
“Baekhyun-ah?” ia langsung mengalungkan lengannya di leherku. “Baekhyun-ah, maafkan aku. Maafkan aku.” Bisikannya terdengar parau sekali di telingaku.
Ya Tuhan, perempuan ini kembali kepadaku. Ia mencariku. Ia mengejarku. Biarkan takdir memihak padaku, Tuhan. Jadikan ini pertanda yang baik. Jadikan ia milikku seutuhnya.
Aku melepaskan pelukannya dan mengganggam tangannya erat. Lalu aku menuntunnya menuju salah satu meja di pojok ruangan. Pojok ruangan selalu menjadi tempat yang sepi. Para pengunjung selalu lebih memilih tempat yang dekat dengan panggung.
Aku duduk di hadapannya, menggenggam tangannya. “Kenapa kau datang ke sini, Taeyeon noona?”
Taeyeon menunduk. Aku bisa melihat matanya yang bengkak yang bahkan masih meneteskan air mata. “Aku minta maaf, Baekhyun. Dua hari yang lalu… saat kau bernyanyi untukku. Aku pergi meninggalkanmu begitu saja. Kau pasti bingung sekali.”
Aku tersenyum. “Aku tak hanya bingung, noona. Aku sakit.”
“Maafkan aku.”
“Tidak apa. Itu sudah lewat.”
“Tapi, biarkan aku jelaskan semuanya padamu.”
Awalnya aku ingin menolak. Biarlah kebenaran yang mungkin menyakitkan itu tertunda hanya sampai besok. Biarkan aku menghabiskan waktu bahagia bersama perempuan ini. Tapi aku tak bisa menolaknya lagi. Selalu ada kemungkinan lain ia akan meninggalkanku.
“Aku mendengarkan.”
Taeyeon memejamkan matanya, menahan tangisannya. “Malam itu aku tidak menduga hal itu terjadi. Sesungguhnya aku selalu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Tidak ada yang tahu cinta akan tumbuh kapan, bukan? Apalagi kita sudah cukup lama tinggal bersama.”
“Maafkan aku. Aku berpikir bahwa kau mencintaiku karena kau kasihan padaku. Kau sendiri tahu bagaimana keadaanku. Aku tak mau itu terjadi. Apalagi mengingat perhatianmu disaat kita berjalan bersama… dan segala bantuan yang kau berikan mengenai kekuranganku yang satu ini. Tapi dua hari berlalu, aku semakin menyesal. Sampai kau bilang akan pergi dariku, aku saat itu juga lupa akan kekuranganku. Aku tidak peduli kau mencintaiku karena apa. Yang jelas, aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun.”
Tidak ada yang lebih mengejutkan untukku daripada kata-kata itu terdengar di telingaku. Ketika aku berkata akan meninggalkannya, aku berharap ia akan menghentikanku. Ketika aku pergi meninggalkannya, aku berharap ia mengejarku. Ketika malam mulai menjemput, aku berharap perempuan itu hadir dan berkata bahwa ia juga mencintaiku. Dan sekarang semuanya sempurna terlaksana. Harapan itu muncul bahkan sebelum Taeyeon menjelaskannya.
“Aku mencintaimu bahkan sebelum kekurangan ini ada padamu. Kau mungkin tidak tahu, di hari saat kau meninggalkan buku diarimu, di situlah aku melihatmu. Itu pertama kalinya aku teralihkan oleh perempuan, Kim Taeyeon. Awalnya aku bingung dengan apa yang aku rasakan. Tapi hari demi hari, aku menunggumu, aku malah semakin merindukanmu. Dan semakin jelaslah bahwa aku mencintaimu. Mencintaimu dengan tulus.”
Aku berdiri dari dudukku dan menghampiri tubuhnya. Ia mengalungkan lengannya di leherku lagi. Aku membalas pelukannya. Ia kembali membisikkan kata maaf. Aku menggeleng pelan. “Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
Malam itu, aku mengerti arti kata harapan.
.
.
Epilog.
Aku dan Taeyeon duduk di halaman belakang rumah lagi, menikmati angin semilir. “Byun Baekhyun, apakah kau masih ingat saat hari kepindahanmu ke rumah ini?”
Aku memalingkan wajahku ke arah wanita yang tangannya sedang melingkar di tanganku. Wanita yang aku cintai. Wanita yang kini sempurna menjadi milikku.
Aku menikah dengan Taeyeon seminggu setelah pernyataan cintanya. Kami mengundang banyak kenalan kami, termasuk Jongdae dan Tiffany. Jongdae sangat kaget saat mendengar ceritaku. Bahwa aku akan menikah dengan perempuan yang tidak sengaja meninggalkan buku bersampul daun di tokonya. Sementara Tiffany tak ada henti-hentinya tersenyum saat acara berlangsung. Tak lupa, Yoochae ahjumma juga hadir di sana. Pernikahan kami adakan kecil-kecilan di halaman rumah Taeyeon yang kini menjadi rumahku juga.
Sementara tulisan Taeyeon kini sudah menjadi buku yang laris dimana-mana. Impiannya mengenai Ip kini terkabul. Aku juga ikut mengejar mimpiku. Aku membuat demo laguku dan memberinya pada studio rekaman. Kebanyakan lagu yang kutulis mengenai ceritaku bersama Taeyeon.
“Tentu saja aku masih ingat. Jadi, apa kau bermakud menjelaskan kenapa waktu itu kau menjauhiku selama seminggu?” aku menatap matanya.
“Kau ini tidak sadar? Aku cemburu pada Tiffany, tahu.” Jawabnya pura-pura kesal.
“Oh, benarkah?”
“Walaupun aku tidak melihatnya, aku bisa mendengarnya. Bagaimana ia memanggilmu dengan manja, bagaimana ia merajuk padamu seperti anak kecil, dan juga bagaimana ia menceritakan semua tentang dirimu seakan-akan bahwa hanya dialah perempuan yang kau milikki.”
Aku tertawa tertahan mendengar dan melihat Taeyeon. “Dulu memang hanya dia yang aku miliki. Tapi sekarang ada dirimu.” Aku mengecup pelan keningnya.
Ia tersenyum. Tangannya meraba-raba wajahku perlahan. “Tahukah kau, aku selalu penasaran dengan rupamu. Mendengar suaran nyanyianmu yang buruk itu saja tidak cukup.”
Aku terkekeh mendengar candaanya.
Tangannya semakin jauh menjelajahi wajahku. “Aku penasaran dengan matamu. Hidungmu. Dan mulutmu yang bisa menyanyi dengan merdu.”
“Katanya nyanyianku buruk.” Sindirku.
Ia tersenyum pelan.
“Aku berjanji suatu hari nanti kau akan bisa melihat dunia lagi. Beserta isinya, termasuk aku.”
Sudah kutetapkan detik itu juga. Mimpi terbesarku sekarang adalah membuatnya bisa melihat lagi. Membuatnya bisa melihat laki-laki yang mencintainya dengan tulus ini.

End

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s